• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN KETERLIBATAN ORANG MUDA KATOLIK

B. Penelitian mengenai Keterlibatan Hidup Menggereja

2. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian Keterlibatan

Wonsari Gunung Kidul.

Pada bagian ini penulis akan menjabarkan hasil penelitian berdasarkan pada penelitian yang dilaksanakan pada 21 Maret sampai 21 April 2018 untuk 20 responden Orang Muda Katolik di paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari. Bagian ini mencakup laporan hasil penelitian yang terdiri dari identitas responden, laporan hasil kuisioner terbuka, laporan hasil wawancara, laporan hasil observasi, dan laporan studi dokumen.

Penelitian ini menggunakan kuisioner terbuka dan wawancara a. Identitas Responden

Dari 20 responden yang ditemui penulis hanya 15 responden yang menuliskan identitas diri. Oleh karena itu lima responden yang tidak menuliskan identitas diri dianggap abstain oleh penulis dan tidak digunakan sebagai data kuisioner tebuka.

Responden penelitian katekese umat keterlibatan Orang Muda Katolik paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari Gunungkidul terdiri dari 11 orang muda laki-laki dan 4 orang muda perempuan. Usia responden yang penulis temui 14 sampai dengan 28 tahun. Usia responden laki-laki berkisar pada usia 14 sampai dengan 28 tahun. Sedangkan usia responden perempuan yang penulis temui berkisar pada 18 sampai dengan 24 tahun.

Responden Orang Muda Katolik paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari yang berusia 14 tahun berjumlah satu orang, responden yang berusia 17 tahun berjumlah satu orang, responden yang berusia 18 tahun berjumlah dua orang, responden yang berusia 19 tahun berjumlah dua orang, responden berusia 20 tahun berjumlah dua orang, responden berusia 21 tahun berjumlah satu orang, responden yang berusia 22 berjumlah dua orang, responden yang berusia 23 tahun berjumlah dua orang, respoden yang berusia 24 tahun berjumlah satu orang, dan responden yang berusia 28 tahun berjumlah satu orang. Semua responden berasal dari paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari Gunungkidul.

Pada bagian ini penulis menggolongkan jenis pekerjaan para responden yang telah penulis temui. Dari 15 responden yang mengisi kuisioner dapat penulis golongkan menjadi empat golongan yakni: pelajar, mahasiswa, guru dan karyawan swasta. Responden yang bestatus sebagai pelajar berjumlah tiga orang. Responden Orang Muda Katolik yang berstatus sebagai mahasiswa berjumlah Sembilan orang. Responden yang berstatus sebagai guru berjumlah satu orang dan responden yang bekerja sebagai karyawan swasta berjumlah dua orang.

b. Laporan Hasil Kuisioner Terbuka

Jika angket lebih bersifat membatasi jawaban responden pada pilihan tertentu dan kurang membuka peluang bagi responden untuk menjawab dengan rinci, maka kuisioner terbuka digunakan untuk mengumpulkan data secara luas. Pada kuisioner terbuka yang telah dipersiapan oeh penulis, responden bebas menjawab sesuai dengan pengalamannya, oleh karena itu bisa jadi jumlah jawaban yang terkumpul tidak sama dengan jumlah responden (15 orang). Ada pula kemungkinan-kemungkinan jawaban yang tidak tepat sasaran atau keluar dari pokok pertanyaan yang diajukan. Hal tersebut karena sifat kuisioner terbuka yang tidak memiliki batasan pilihan jawaban dan seoarng responden bisa menjawab satu pertanyaan dengan beberapa jawaban. Berikut ini laporan hasil kuisioner terbuka.

Pada pertanyaan nomor 1, mengenai pemahaman responden tentang hidup mengereja, sebanyak enam responden menjawab bahwa hidup menggereja adalah aktif dalam kegiatan Gereja, dengan melayani atau ambil bagian dalam organisasi Gereja misalnya kegiatan misdinar, lektor, paduan suara, tata tertib, guna melayani umat. Sedangkan 9 responden lainnya menjawab pertanyaan nomor 1 dengan jawaban bahwa pemahaman tentnag hidup menggereja adalah pelayanan terhadap Tuhan dan sesama serta mengembangkan Gereja.

Pada pertanyaan nomor 2, mengenai pemahaman tentang kegiatan katekese sebanyak 8 responden menjawab bahwa kegiatan katekese adalah pendalaman iman yang terlaksana dalam banyak kegiatan Gereja contohnya adalah sembahyangan atau doa lingkungan, pendalaman Kitab Suci baik dalam masa Adven atau Pra Paskah, dan lain sebagainya. Sedangkan 7 responden menjawab

bahwa mereka kurang mengetahui apa yang dimaksud dengan kegiatan katekese. Bahkan tidak memahami arti dari katekese itu sendiri.

Pada pertanyaan nomor 3, mengenai keterlibatan dalam kegiatan menggereja semua responden menjawab pernah terlibat dalam kegiatan menggereja.

Pada pertanyaan nomor 4, mengenai pengaruh katekese terhadap keterlibatan hidup menggereja sebanyak 10 responden menjawab bahwa katekese yang dilakukan membantu mereka untuk semakin aktif dalam kegiatan Gereja, sedangkan 5 responden yang lain menjawab bahwa katekese lingkungan tidak membuat mereka semakin aktif terlibat dalam kegaitan hidup menggereja tetapi justru semakin mengerti tentang ajaran Gereja.

Pada pertanyaan nomor 5, mengenani keterlibatan dalam hidup menggereja, responden yang selalu aktif terlibat berjumlah 8 orang, sedangkan 7 orang responden menjawab kadang-kadang terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

Pada pertanyaan nomor 6, mengenai alasan keterlibatan dalam hidup menggereja sebanyak 5 responden menjawab alasan terlibat dalam hidup menggereja karena dorongan orang tua, sebanyak 8 responden menjawab alasan terlibat dalam hidup menggereja karena kemauan pribadi dan 2 responden menjawab alasan terlibat dalam kehidupan menggereja karena ikut-ikutan teman.

Pada pertanyaan nomor 7, mengenai apa saja kegaitan yang diikuti oleh responden dalam kegaitan Orang Muda Katolik sebanyak 3 responden mengikuti kegiatan rekoleksi, 4 responden mengikuti kegaitan malaem keakraban, 3 orang responden mengikuti kegiatan pendampingan iman anak, dan 5 orang responden mengikuti kegiatan retret dan camping rohani serta paduan suara.

Pada pertanyaan nomor 8, mengenai tingkat intesitas mengikuti kegiatan dalam hidup menggereja, sebanyak 8 responden menjawab bahwa mereka tidak selalu atau tidak terlalu aktif dalam kehidupan menggereja dan 7 responden terlibat secara aktif atau berkala aktif dalam mengikuti kegiatan hidup menggereja.

pada pertanyaan nomor 9, mengenai hambatan yang ditemui selama terlibat aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik, semua responden menjawab kendala atau hambatan utama adalah mengatur waktu atau menyesuaikan waktu dengan kegiatan sekolah, kuliah, atau pekerjaan.

Pada pertanyaan nomor 10, mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengikuti kegiatan orang mendukung untuk katolik, semua responden mengutarakan bahwa tantangan yang dialami adalah mengajak teman-teman lain untuk ikut aktif dalam kegiatan hidup menggereja.

Pada pertanyaan nomor 11, mengenai faktor apa saja yang tetap mendukung untuk ikut aktif terlibat dalam kehidupan menggereja, sebanyak 5 responden menjawab bahwa faktor pendukung untuk tetap aktif dalam kegiatan menggereja adalah teman-teman, sebanyak 5 responden menjawab orang tua menjadi faktor pendukung untuk tetap aktif, dan 5 responden menjawab fasilitas dan sarana prasana yang membuat mereka terlibat aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik.

Pada pertanyaan nomor 12, megenai faktor yang tidak mendukung kaum muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan Gereja semua responden menjawab bahwa yang menjadi hambatan utama untuk mengikuti kegitan orang muda adalah menyesuaikan kegiatan gereja dengan kegaitan atau aktivitas harian lainnya.

Pada pertanyaan nomor 13, mengenai kegiatan yang memotivasi untuk mengikuti kegiatan Orang Muda Katolik, sebanyak 8 responden menjawab

kegiatan yang bersifat santai atau jalan-jalan seperti ziarah, camping rohani, dan futsalan, sedangkan 7 responden menjawab kegiatan yang bersifat rutin seperti latihan untuk paskahan dan natalan.

Pada pertanyaan nomor 14, mengenai usulan kegiatan yang diharapkan agar dilaksanakan oleh Orang Muda Katolik, sebanyak 8 responden menjawab kegiatan sosial seperti bakti sosial, atau anjangsana ke paroki-paroki lain, sedangkan 7 responden menjawab kegiatan ziarah, camping rohani, rekoleksi, retret dan kegiatan pendalaman ajaran Gereja yang lain.

Pada pertanyaan nomor 15, mengenai usulan responden guna meningkatkan keterlibatan orang muda dalam keterlibatan hidup menggereja, sebanyak 10 responden mengusulkan agar Orang Muda Katolik harus sealalu kompak, bersinergi dan bekerja sama agar apabila terdapat perbedaan pendapat OMK tetap utuh dan tidak terpecah. Sedangkan 5 responden mengusulkan agar kegiatan hidup menggereja misalnya kegiatan Orang Muda Katolik dipersiapkan dengan sungguh-sungguh sehingga para anggota atau kaum muda, dapat menyesuaikan waktu antara kegiatan sekolah, kuliah dan bekerja dengan kegiatan hidup menggereja.

c. Laporan Hasil Wawancara

Data yang diperoleh dari kuisioner terbuka, OMK belum cukup terlibat aktif. Guna melengkapi dan memantapkan data kuisioner tersebut, penulis menggunakan metode wawancara. Menurut Sutrisno Hadi (1989:218), metode wawancara digunakan untuk menguji kebenaran dan kemantapan suatu data yang

diperoleh dengan cara lain. Data hasil wawancara ini digunakan untuk menguatkan pembahasan data kuisioner pada bagian selanjutnya.

Narasumber wawancara ini adalah Orang Muda Katolik paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari yakni Maria Virgina Rahma Yuniar, Ardefian Roman R, dan Athanasia Wenhing Dewanti.

Ada empat hal yang menjadi fokus pertanyaan dalam wawancara ini. Empat hal tersebut adalah: (a) apakah saudara/saudari terlibat dalam kegiatan Orang Muda Katolik paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari, (b) apa yang menjadi motivasi untuk terlibat dalam kegiatan Orang Muda Katolik, (c) hambatan apa yang seringkali ditemui dalam mengikuti kegaitan Orang Muda Katolik, (d) harapan apa yang dapat diberikan untuk kegiatan Orang Muda Katolik.

Hal pertama, apakah saudara-saudari terlibat dalam kegiatan hidup menggereja terutama dalam kegiatan Orang Muda Katolik. Menurut ketiga narasumber di atas mereka terlibat aktif dalam mengikuti kegiatan Orang Muda Katolik.

Pernyataan ini selaras dengan keterangan dari saudari Maria Virginia : Saya terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja terutama dalam kegiatan Orang Muda Katolik. Dalam kegiatan Orang Muda Katolik, saya menjabat sebagai bendahara OMK. Sebagai salah satu pengurus OMK saya terlibat dalam berbagai macam kegiatan OMK misalnya malam keakraban OMK, rekoleksi, dan retret.

{lampiran…..}

Pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu, pukul 17.00 WIB jika tidak dalam masa ujian untuk anggota OMK yang sedang ujian diadakan kumpul OMK untuk membahas program-program kerja yang akan dilakukan. Kegiatan kumpul OMK dilakukan setiap dua minggu sekali selain guna untuk membahas

program-program kerja atau latihan mempersiapkan masa Natal dan Paskah, juga untuk meningkatkan keakraban antara anggota OMK.

Pernyataan ini diperoleh dari keterangan saudara Ardefian:

Biasanya, kita kumpul OMK seminggu dua kali pada hari Rabu dan Sabtu jam 5 sore sampai selesai. Ya, biasanya kita ngomongin program-program kerja, mana yang mau dibuat, atau kadang-kadang latihan-latihan buat Natal atau Paskah. Kalau pas musim ujian itu, libur dulu, soalnya banyak anggota OMK yang focus belajar buat ujian. {lampiran……}

Hal kedua yang ditanyakan adalah mengenai motivasi untuk terlibat dalam kegiatan Orang Muda Katolik. Motivasi untuk terlibat dalam kegiatan Orang Muda Katolik berasal dari keluarga, dan teman. Dukungan orang tua menjadi motivasi tersendiri bagi Orang Muda Katolik karena dengan dukungan dari orang tua, Orang Muda Katolik merasa bahwa pilihan mengikuti kegiatan hidup menggereja bukanlah pilihan yang salah. Selain dukungan, hal lain yang menjadi motivasi adalah relasi dengan teman-teman sebaya atau sepermainan. Relasi pertemanan menjadi motivasi yang menguatkan karena melalui kebersamaan tersebut Orang Muda Katolik dapat saling berbagi pengalaman serta mempererat persaudaraan.

Pernyataan ini diperoleh dari keterangan saudari Maria Virginia Rahma: Bersama teman-teman dapat sharing pengalaman, mempererat persaudaraan serta dapat semakin menjalin relasi dengan teman-teman separoki, selain itu dukungan dari keluarga membuat saya semakin yakin bahwa terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja bukan pilihan yang salah. {lampiran……}

Hal ketiga yang ditanyakan oleh penulis adalah hambatan apa yang seringkali ditemui dalam proses terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja.

Hambatan yang ditemui adalah kesulitan untuk mengumpulkan dan mengajak teman-teman lain untuk terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja karena mereka memiliki kegiatan dan kesibukkan masing-masing. Menurut penulis, belakangan ini, kehidupan orang muda memang dituntut oleh tuntutan yang lebih kompleks. Tuntutan itu berubah seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern. Jadi tidak heran jika kesulitan atau hambatan yang ditemui oleh orang muda yang aktif dalam kegiatan hidup menggereja adalah mengajak teman lain untuk mengikuti kegiatan yang serupa.

Pernyataan ini diperoleh dari keterangan saudari Athanasia Wenhing:

Hambatan yang seringkali saya temui dalam mengikuti kegiatan Orang Muda Katolik adalah mengumpulkan dan mengajak anggota serta teman lain untuk ikut aktif dalam kegiatan hidup menggereja khususnya kegaitan Orang Muda Katolik karena mereka masing-masing memiliki kesibukan dan kegiatan sendiri. {lampiran……}

Hal keemapat menjadi pertanyaan penulis selanjutnya adalah mengenai harapan narasumber terkait kegiatan Orang Muda Katolik. Harapan yang terucap dari ketiga narasmuber secara garis besar adalah harapan yang sama yakni mereka berharap agar kegiatan Orang Muda Katolik dapat menjadi salah wadah bagi Orang Muda Katolik dalam mengekspresikan hidup dan panggilannya. Mereka berharap bahwa Gereja maupun dewan Gereja mampu mengakomodir kreatifitas mereka dengan melihat potensi-potensi yang ada dalam diri setiap anggota Orang Muda Katolik di paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari.

Pernyataan ini diperoleh dari keterangan saudari Athanasia Wenhing: Harapan saya tentang kegiatan Orang Muda Katolik adalah semoga kegiatan Orang Muda Katolik dapat menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk mengekspresikan dirinya berserta dengan seluruh potensi dan

bakat-bakat mereka. Oleh karena itu perlu ada dukungan dari Gereja dan dewan paroki dalam bentuk pendampingan dan pembinaan. {lampiran……}

Demikianlah hasil wawacara dengan narasumber yang dapat penulis jabarkan. Dari keterangan ketiga narasumber tersebut penulis semakin yakin bahwa pembinaan dan pendampingan terutama keterlibatan hidup menggereja kaum muda paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari perlu ditingkatkan.

Dokumen terkait