• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEUANGAN

Dalam dokumen A. MUHAMMAD ZULFADLI (Halaman 67-75)

AKUNTANSI KONVENSIONAL AKUNTANSI SYARI'AH PRINSIP-PRINSIP DASAR

Kebenaran Rel ati f (Waj ar) Pemenuhan Standar yang Di buat/ Di rumuskan ol eh Manusi a Kebenaran Haki ki (al -Haq) Mencoba Mene-mukan yang Seharusnya/Di bu-at Di dasarkan pada Ketentuan T uhan (Wahyu) TUJUAN Menekankan pada Informasi sebagai Al at dal am Pengambi l an Keputusan Bi sni s Laporan Keuangan Bukan T uj uan, T etapi Sarana untuk Mencapai T uj uan, yakni : Pertanggung-j awaban Di hadapan T uhan JENIS LAPORAN Laporan Keuangan T ambahan Di saj i kan Sesuai dengan Kebutuhan,

mi sal nya:Pengungk apan T i ngkat Infl asi , Catatan Atas

Laporan Keuangan, dan Koreksi Fi skal

Laporan Keuangan T ambahan Mel i puti : Laporan Dana ZIS, Pengungkapan Aspek-aspek Syari 'ah, dan Perhi tungan Zakat

Perbedaan Postulat antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah, yang meliputi: (1) Entitas, akuntansi konvensional mengakui adanya pemisahan antara entitas bisnis dan pemilik, dalam akuntansi syari’ah entitas tidak memiliki kewajiban yang terpisah dari pemilik. (2) Going concern, bisnis terus beroperasi sampai dengan tujuan tercapai (akuntansi konvensional), kelangsungan usaha tergantung pada kontrak dan kesepakatan yang didasari oleh saling

ridha (akuntansi syari’ah). (3) Periode akuntansi, meskipun ada

kesamaan dalam menentukan periode akuntansi selama 12 bulan (satu tahun) namun akuntansi konvensional periode dimaksudkan mengukur kesuksesan kegiatan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi syari’ah periodisasi bertujuan untuk penghitungan kewajiban zakat. (4) Unit pengukuran, akuntansi konvensional menggunakan unit moneter sebagai unit pengukuran, akuntansi syari’ah menggunakan harga pasar untuk barang persediaan, dan emas sebagai alat ukur dalam penghitungan zakat. (5) Pengungkapan penuh (menye-luruh), pengungkapan ini ditujukan sebagai alat dalam pengambilan keputusan, dalam akuntansi syari’ah pengungkapan penuh ditujukan untuk memenuhi kewajiban kepada Allah swt., kewajiban sosial, dan kewajiban individu. (6) Obyektivitas, bebas dari bias subyektif, dalam akuntansi syari’ah obyektivitas dimaknai dengan konsep ketakwaan, yaitu pengeluaran materi maupun non-materi untuk memenuhi

kewajiban, (7) Meterialitas, ukuran materialitas dihubungkan dengan kepentingan relatif mengenai informasi terhadap pengambilan keputusan, sedangkan akuntansi syari’ah mengakui materialitas berkaitan dengan pengu-kuran yang adil dan pemenuhan kewajiban kepada Allah, sosial, dan individu. (8) Konsistensi, yang dimaksudkan adalah pencatatan dan pelaporan secara konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima oleh umum, dalam akuntansi syari’ah konsistensi dimaknai dengan pencatatan dan pelaporan secara konsisten sesuai dengan prinsip syari’ah. (9) Konservatisme, akuntansi konvensional memilih teknik akuntansi yang paling memberikan pengaruh kecil terhadap pemilik, sedangkan akuntansi syari’ah memilih teknik akuntansi yang paling mengun-tungkan (berdampak posistif) bagi masyarakat. Secara jelas perbandingan dapat diamati dalam tabel 5.1.

Perbedaan Postulat antara Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari'ah

No. Postulat Akuntansi Konvensional Akuntansi Syari'ah 1 Entitas Pemisahan antara entitas

bisnis dan pemilik

Entitas didasarkan pembagian laba Entitas tidak memiliki kewajiban terpisah dari pemilik. 2 Going Concern

(Kesi- nambungan)

Bisnis terus beroperasi sampai ter- capai tujuan dan semua asset terjual.

Kelangsungan usaha tergantung pada kontrak persetujuan anatar pihak yang terlibat dalam kegaiatan bagi hasil.

3 Periode Akuntansi Akuntansi tidak dapat menunggu sampai akhir kehidupan perusahaan untuk mengukur sukses- tidaknya kegiatan perusahan

Tahun hijriyah untuk perhitungan zakat, kecuali untuk sektor pertanian berdasarkan musim panen

4 Unit Pengukuran Pengukuran nilai moneter Kuantitas atau harga pasar untuk ternak, barang pertanian, dan emas untuk memenuhi kewajiban zakat.

5 Pengungkapan Penuh

(Menyeluruh)

Untuk tujuan pengambilan keputusan.

Untuk menunjukkan pemenuhan kewajiban kepada Allah,

kewajiban sosial, dan kewajiban individu.

6 Obyektivitas Kepercayan terhadap pengukuran yaitu bebas dari bias subyektif

Berhubungan erat dengan konsep ketaqwaan, yaitu pengeluaran mate-ri maupun non-materi untuk ri maupun non-materi untuk meme nuhi kewajiban. 7 Materialitas Dihubungkan dengan

kepentingan relatif mengenai informasi terhadap

pengambilan keputusan

Berkaitan dengan pengukuran yang adil dan pemenuhan

kewajiban ke- pada Allah, sosial, dan individu.

8 Konsistensi Dicatat dan dilaporkan secara kon sisten sesuai GAAP

Dicatat dan dilaporkan secara kon sisten sesuai dengan prinsip syari'ah

9 Konservatisme Memilih teknik akuntansi yang paling memberikan pengaruh kecil terhadap Pemilik

Memilih teknik akuntansi yang paling menguntungkan (dampak posistif) bagi masyarakat. bagi masyarakat.

Perbedaan postulat akuntansi syari’ah tersebut di atas karena secara karakteristik antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah juga memiliki perbedaan. Memetakan perbe-daan karakteristik akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah sebagai berikut:

1. Sistem akuntansi, akuntansi konvensioanal berdasarkan ekonomi yang rasional, sedangkan akuntansi syari’ah berdasarkan pada ketauhidan. 2. Prinsip, prinsip akuntansi konvensional yang sekuler, individualis,

memaksimalkan keuntungan, dan penekanan pada proses, akuntansi syari’ah berdasarkan pada prinsip syari’ah, kepentingan umat, keuntungan yang wajar, persamaan, dan rahmatan li al-‘alamin.

3. Kriteria, akuntansi konvensional berdasarkan pada hukum perdagangan masyarakat kapitalis modern, penyajian informasi yang sangat terbatas, informasi yang diajukan atau pertanggungjawaban kepada pemilik, dalam akuntansi syari’ah kriteria berdasarkan pada etika yang bersumber pada hukum Al-Qur’an dan Sunnah, pengungkapan yang menyeluruh (full

disclosure) untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan yang sesuai

dengan syari’ah dan memenuhi kebutuhan Islamic Finance Report User, pertanggungjawaban kepada umat (masyarakat luas) [khususnya dalam memanfaatkan sumber daya] (lihat tabel 3.2)

Tabel 5.2

Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari'ah No. Karakteristik Akuntansi Konvensional Akuntansi Syari'ah 1 Sistem

Akuntansi

Ekonomi yang rasional Ketauhiddan (unity of God)

2 Prinsip Akuntansi

Sekuler Individualis

Memaksimalkan keuntungan Survival of the fittest Penekanan pada proses

Syari'ah Kepentingan umat Keuntungan yang wajar

Persamaan Rahmatan li alalamin

3 Kriteria Berdasarkan pada hukum perdaga- ngan masyarakat kapitalis modern

Berdasarkan pada etika yang ber- sumber pda hukum Al-Qur'an dan Sunnah

Penyajian informasi yang sangat Terbatas

Full disclosure untuk memenuhi ketuhan informasi keuangan yang sesuai dengan syari'ah dan memenuhi kebutuhan Islamic

Financial Report User

Informasi yang ditujukan pada per- tanggungjawaban kepada pemilik modal

Pertanggungjawaban kepada umat/ masyarakat luas

(khususnya dalam memanfaatkan sumberdaya).

Baydoun dan Willet (1994:82); Harahap (2001:216)

Segi-segi perbedaan antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syari’ah dalam menyajikan laporan keuangan dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Akuntansi konvensional menganut sistem penilaian aktiva dan modal dengan prinsip historical cost, sedangkan akuntansi syari’ah lebih menghendaki konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku

(current value), hal ini didasari oleh keinginan melindungi modal pokok yang hakiki dari kemampuan produksi di masa akan datang dalam ruang lingkup perusahaan dan kontinuitas.

2. Akuntansi konvensional membagi modal (aktiva) dalam dua golongan yakni, aktiva lancar (modal yang beredar) dan aktiva tetap (modal tetap). akuntansi syari’ah membedakan modal yang terdiri dari harta berupa uang tunai (cash), dan harta berupa barang, harta dalam bentuk barang ini kemudian dibagi lagi menjadi barang milik dan barang dagangan.

3. Konsep akuntansi syari’ah menilai mata uang seperti emas, perak, dan barang-barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah merupakan tujuan, melainkan hanya sebagai alat tukar, perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai.

4. Konsep akuntansi konvensioanal mempraktikkan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian (conservatisme), dan mengabaikan laba-laba yang belum direalisasi. Perbedaannya akuntansi syari’ah sangat memperhatikan hal-hal cara menentukan harga dengan berdasarkan pada nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan-kemungkinan bahaya dan risiko.

5. Akuntansi konvensional menerapkan laba secara menyeluruh, yang terdiri dari laba usaha, laba dari modal pokok, dan lain sebagainya. Konsep akuntansi syari’ah membedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari modal. Juga wajib memberikan penjelasan

pendapatan-pendatan yang diperoleh yang tidak sesuai dengan syari’ah laba dari aktivitas ini tidak boleh dibagikan kepada mudharib dan musyarik (stakeholder) atau dicampurkan pada modal pokok.

6. Konsep akuntansi konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli (aktivitas usaha berjalan), sedangkan konsep akuntansi syari’ah mengakui laba apabila nilai barang mengalami perkembangan atau pertambahan, baik hal itu terjadi karena adanya proses jual-beli maupun tidak. Akan tetapi, jual-beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba dan laba itu tidak boleh dibagi kecuali setelah nyata laba itu diperoleh.

Adanya perbedaan-perbedaan dalam kaidah dan prinsip-prinsip antara akuntansi syari’ah dengan akuntansi konvensional sangat menyentuh pada aspek-aspek pokok dan inti dari persoalan akuntansi, artinya meskipun perbedaan tersebut dilihat dari luarnya hampir tidak tampak namun dari substansi perbedaan ini jauh lebih berarti, karena menyangkut masalah-masalah pokok dan inti.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen A. MUHAMMAD ZULFADLI (Halaman 67-75)

Dokumen terkait