• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. MUHAMMAD ZULFADLI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "A. MUHAMMAD ZULFADLI"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PERLAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BEBAN BERBASIS AKUNTANSI SYARIAH KHUSUSNYA TRANSAKSI MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH PADA PT AMANAH FINANCE MAKASSAR

A. MUHAMMAD ZULFADLI

10573 02026 10

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

(2)

PERLAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BEBAN BERBASIS AKUNTANSI SYARIAH KHUSUSNYA TRANSAKSI MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH PADA PT AMANAH FINANCE MAKASSAR

SKRIPSI

A. MUHAMMAD ZULFADLI

10573 02026 10

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah Makassar Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

2015

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

Pembimbing yang ditunjuk berdasarkan surat persetujuan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar No. ………2015 untuk membimbing saudara:

Nama : A. Muhammad Zulfadli NIM : 10573 02026 10

Jurusan : Akuntansi

Fakultas : Ekonomi

Judul Skripsi : “PERLAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BEBAN BERBASIS AKUNTANSI SYARIAH KHUSUSNYA TRANSAKSI MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH PADA PT AMANAH FINANCE MAKASSAR “

Menyatakan bahwa Skripsi ini telah diperiksa dan dapat diujikan di depan Panitia pembimbing Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 2015

Pembimbing I Pembimbing II

H.Andi Arman,S.E, M.Si.Ak Abd. Salam,HB,S.E,M.Si.AK Mengetahui :

Universitas Muhammadyah Makassar

Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Jurusan Akuntansi

Dr.H.Mahmud Nuhung ,M.A Ismail Badollahi,S.E,M.Si.Ak NBM : 497 794,- NBM : ,- 1073 428

(4)

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : A.Muhammad Zulfadli

NIM : 10573 02026 10

Tempat/Tanggal Lahir : Makassar 07 08 1991

Fakultas : Ekonomi

Jurusan : Akuntansi

Perguruan Tinggi : Universitas Muhammdiyah Makassar Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

“PERLAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BEBAN BERBASIS AKUNTANSI SYARIAH KHUSUSNYA TRANSAKSI MUDHARABAH

DAN MUSYARAKAH PADA PT AMANAH FINANCE MAKASSAR” 1. Benar-benar hasil penelitian /karya sendiridan bukan merupakan

pelanggaran Hak Karya Cipta (PLAGIAT) atau saduran dari karya tulis/paper/jurnal/tesis/disertasi orang lain

2. Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain ,kecuali secara tertulis dengan jelas telah dicantumkan dalam daftar pustaka

3. Apabila saya melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal tersebut di atas ,baik sengaja maupun tidak disengaja ,dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini,yang berarti GELAR SEBAGAI SARJANA EKONOMI (SE) DAN IJAZAH YANG TELAH DIBERIKAN OLEH UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR BATAL SAYA TERIMA ATAU TIDAK SAH .

4. Sebagaimana angka 3 di atas ,apabila dikemudian hari surat pernyataan yang saya buat ini terbukti tidak benar ,maka saya bersediah menerima sanksi akademik maupun sanksi pidana /yuridis atas pelanggaran Hak Karya Cipta (PLAGIAT) atau penipuan sesuai peraturan /undang –undang yang berlaku.

Makassar, 2015 Diketahui oleh:

Ketua Jurusan Akuntansi Yang membuat pernyataan

Ismail badollahi ,S.E.,M.Si.Ak A.Muhammad Zulfadli

NBM. - 1073 428 NIM. 10573 02026 10

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah Makassar.

Skripsi ini disusun secara sistematis yang terdiri dari lima bab. Bab I pendahuluan terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Bab II Landasan teori , kerangka pemikiran,dan Hipotesis Bab III metode penelitian, terdiri dari variabel dan desain penelitian, definisi operational variabel dan pengukuran variabel, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, metode analisis data,sistematika pembahasan. Bab IV gambaran umum perusahaan tem pat penelitian. Bab V terdiri pembahasan hasil penelitian. Bab VI terdiri dari kesimpulan dan saran.

Dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat terselesaikan berkat bimbingan, arahan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

(6)

1. Bapak H.Andi Arman,S.E, M.Si, selaku pembimbing I dan Bapak Ak Abd. Salam,HB,S.E,M.Si.AK, selaku pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan dan petunjuk bagi penulis dalam rangka penulisan skripsi ini.

2. Bapak Ismai Badollahi,S.E,M.Si.Ak, Ketua Program Studi/ Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah Makassar, yang dengan tulus memberikan nasehat, bimbingan, semangat serta petunjuk selama penulis menempuh pendidikan di Universitas Muhammadyah Makassar ini sampai pada penyusunan dan penulisan skripsi ini.

3. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi/Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah Makassar yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama penulis duduk di bangku kuliah.

4. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung , M.A.,selaku Dekan dan para Pembantu Dekan serta staf Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah Makassar yang telah membantu dalam kelengkapan administrasi penelitian.

5. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammdyah Makassar yang telah memberikan pengarahan selama penulis menempuh proses pendidikan.

6. Bapak Kepala Pimpinan Amanah Finance Makassar Tbk , serta segenap pegawai yang telah membantu penulis selama penelitian ini berlangsung. 7. Keluarga besarku tercinta yang selama ini memberikan dukungan moril dan

materil, khususnya orang tua

(7)

8. Kepada Saudaraku , Fio sotta, Bunda, Wati gile, Khudriah, Emha, Irma, Cua Racunk, Evan, Eko, irah, Tepenk, Afil, Irham, Andi, dan teman-teman angkatan 2010 yang tidak sempat saya sebutkan namanya satu persatu. Semoga pertemanan ini akan tetap hadir dan melekat dalam hati kita masing-masing dan terima kasih atas semua bantuannya serta pengalaman berharga yang kalian berikan padaku selama ini.

9. Semua pihak yang telah membantu penulis, karena keterbatasan tempat sehingga tidak dapat dituliskan namanya, namun tidak mengurangi rasa terima kasih penulis. Semoga segala bantuan yang diberikan walau sekecil apapun memperoleh ganjaran di sisi-Nya.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait, dan semoga semua bantuan dan partisipasi yang diberikan kepada penulis bernilai ibadah di sisi Allah SWT, Amin Ya Rabbal Alamin.

Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Makassar, ...2015

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Pokok ... 4

C. Tujuan dan Manfaat penelitian... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pendapatan ... 6

B. Sumber dan Penggolongan Pendapatan .. ... 10

C. Pengakuan Pendapatan ... 12

D. Metode Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan ... 20

E. Pengertian Beban ... 23

F. Kerangka PIikir ... 25

G. Hipotesis ... 26

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

B. Metode Pengumpulan Data ... 27

C. Jenis dan Sumber Data ... 28

(9)

D. Metode Operasional ... 28

E. Metode Analisis ... 29

F. Definisi Operasional ... 29

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT.Amanah Finance ... 31

B. Visi dan Misi PT. Amanah Finance ... 32

C. Struktur Organisasi PT. Amanah Finance ... 35

D. Uraian Tuga-tugas PT. Amanah Finance ... 37

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengakuan dan Pendapatan dan Beban Akuntansi ... 42

B. Pendapatan dan Beban Sistem Syariah PT. Amanah Finance ... 48

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66 DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1.1. Tabel Neraca PT. Amanah Finance ... 49

1.2. Tabel Pendapatan Ijarah ... 50

1.3. Tabel Perbandingan akuntansi syariah dan akuntansi konfensional ... 53

1.4. Tabel potsulat antara akuntansi syariah dan akuntansi konfensional... 60

1.5. Tabel Perbandingan karakteristik ... 62

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1.1 Skema kerangka pemikiran ... 25 1.2 Struktur Organisasi ... 35

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Zona Ekonomi Islam–Akuntansi secara umum mempunyai fungsi sebagai alat untuk menyajikan informasi khususnya yang bersifat keuangan dalam kaitannya dengan kegiatan sosial ekonomi dalam suatu komunitas masyarakat tertentu.Sebagaimana yang berlaku sekarang bahwa aturan main atau standar yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan – yang disebut sebagai Generally Accepted Accounting

Principles – tidak bisa terlepas dari cara pandang masyarakat ( dimana

kegiatan ekonomi itu diselenggarakan ) terhadap nilai-nilai kehidupan sosialnya. Ini terbukti dari tidak mudahnya melakukan harmonisasi standar akuntansi secara internasional meskipun upaya kearah sana selalu diusahakan dengan adanya International Accounting Standard, dimana PSAK kita sebagaian juga menggunakan IAS sebagai acuan atau referensi.

Implikasi dari hal tersebut diatas menyebabkan adanya upaya yang keras dari para cendekiawan muslim khususnya dibidang ekonomi dan akuntansi untuk merumuskan sistim ekonomi dan akuntansi yang sesuai dengan tuntunan Syariah Islam.

Kewajiban setiap pribadi muslim untuk menyelenggarakan pencatatan harta kekayaannya serta hutang dan kewajibannya nyata-nyata termuat dalam Al-Quran dengan berbagai dimensinya ,hal mana

(13)

mencerminkan tertib administrasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim sehingga memungkinkan seorang muslim dengan mudah dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya seperti zakat , penyelesaian hutang piutang , perhitungan harta waris dsb.

Oleh sebab itu standarisasi akuntansi keuangan yang berbasis pada Syariah Islam menjadi obsesi yang realistic bagi komunitas cendekiawan dan praktisi bisnis muslim diseluruh dunia meskipun umat islam tidak pada posisi yang kuat dan berpengaruh secara significant dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik untuk ukuran global yang bahkan akhir-akhir ini sedang menghadapi ujian yang sangat berat.

Menurut Undang-undang nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syari’ah, yang dimaksud Bank Syari’ah adalah Bank yang menyalurkan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syari’ah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syari’ah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah. Sedangkan pengertian Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah ialah Bank Syari’ah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran.

Sejak diundangkannya Undang-undang tersebut, menurut jenisnya bank digolongkan menjadi dua yaitu, Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum diartikan dalam dua pengertian yaitu Bank Konvensional dan Bank Syari’ah, keduanya melaksanakan kegitan bank yaitu melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dan

(14)

menyalurkannya kepada masyarakat dan ditambah dengan memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran. Sedangkan untuk Bank Perkreditan Rakyat Konvensioanal maupun Syari’ah,dalam kegiatannya menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat tidak memberikan jasa dalam lalulintas pembaaran. Sehingga munculnya perbankan Islam (syariah) dewasa ini bukan mrupakan gejala baru dalam dunia perbankan. Hal ini ditandai dengan semangat tinggi dari berbagai kalangan, yaitu ulama, akademisi, dan praktisi untuk mengembangkan perbankan tersebut dari sekitar pertengahan abad 20 Masehi. Lembaga keuangan ini usaha pokoknya memberikan kredit dan jasajasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariat Islam yang mengacu pada ajaran Al-Qur’an dan Hadits, serta pemahaman bahwa bunga bank adalah riba.

PT. Amanah Finance awalnya didirikan dengan nama PT. Central Tiffins Leasing berdasarkan Akte Notaris No. 279 tanggal 28 Desember 1984. Yang dibuat dihadapan Musjaffak sebagai pengganti Notaris Misahardi Wilamarta, SH di Jakarta, dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan surat keputusan No. C2–4256-HT.01.01.TH’85 tanggal 15 Juli 1985.

Kemudian berdasarkan Akte No. 108 tanggal 14 Juni 1990 yang dibuat dihadapan Notaris R. Arie Sutardjo, SH nama perseroan diubah menjadi PT. Ayumas Finance yang telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan surat keputusan No. 02-4475.HT.01-04.THN 1990.

(15)

Sehubungan dengan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan hukum yang berkaitan dengan judul : Perlakuan Akuntansi Pendapatan dan Beban pada PT Amanah Finance Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis dapat merumuskan sebuah permasalahan yaitu:

“Bagaimana Perlakuan Akuntansi Pendapatan dan Beban atas pembiayaan syariah khususnya transaksi mudharabahah dan musyarakah pada PT Amanah Finance Makassar?

C. Tujuan dan Manfaat a. Tujuan

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah dimana berbagai data dan informasi dikumpulkan, dirangkai dan dianalisa yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan juga dalam rangka pemecahan masalah-masalah yang dihadapi.

b. Tujuan penelitian merupakan sasaran yang ingin dicapai sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapi (tujuan obyektif) maupun untuk memenuhi kebutuhan (tujuan subyektif).

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Tujuan Obyektif

(16)

Untuk mengetahui Perlakuan Akuntansi Pendapatan dan Beban atas pembiayaan syariah pada PT Amanah Finance Makassar

2. Tujuan Subyektif

a. Untuk memperoleh data sebagai bahan utama penyusunan penulisan hukum guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan di bidang ilmu ekonomi Islam b. Untuk menambah wacana dalam rangka mendukung

pengembangan hukum perbankan pada umumnya dan perbankan Islam pada khususnya.

c. Kegunaan

Suatu penelitian tentunya diharapkan akan memberikan manfaat yang berguna, khususnya bagi ilmu pengetahuan bidang penelitian tersebut.

3. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain: a. Kegunaan Teoritis

Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu ekonomi Islam khususnya di bidang hukum perbankan mengenai Perlakuan Akuntansi Pendapatan dan Beban pada sistem syariah

b. Kegunaan Praktis

1. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti. 2. Membantu memberikan pemahaman mengenai pelaksanaan

(17)

3. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para pihak yang berkepentingan dalam penelitian atau bidang ini.

(18)

BAB II

TINJAUN PUSTAKA A. Pendapatan

1. Pengertian Pendapatan

Untuk lebih menjelaskan pengertian pendapatan kiranya perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang pendekatan konsep pendapatan. Pada dasarnya ada dua pendekatan terhadap konsep pendapatan yang dapat ditemukan dalam literature akuntansi.

a. Pendekatan yang memusatkan pada arus masuk (inflow) aktiva yang ditimbulkan oleh kegiatan operasional perusahaan, di mana pendapatan akan diakui pada saat itu juga atau pada saat terjadinya penjualan, yaitu pada saat terjadinya arus masuknya aktiva baru sebagai akibat dari hasil akhir kegiatan operasional dan besarnya pendapatan itu dapat diukur menurut nilai dari aktiva yang masuk tersebut.

b. Pendekatan yang memusatkan perhatian pada penciptaan barang dan jasa serta penyalurannya kepada konsumen atau produsen lainya, misalnya kepada para perusahaan kontraktor di mana dalam mengerjakan kontrak jangka panjang dengan menggunakan persentase penyelesaian dalam mengakui pendapatannya, maka pendapatan akan diakui sesuai dengan besarnya jasa yang telah dikerjakan atau juga pekerjaan yang telah diselesaikan dan harus diakui pada saat itu.

(19)

Secara etimologis pendapatan adalah terjemahan dari bahasa inggris yaitu income yang kemudian oleh S. Wojowaskito dan W.J.S. Poerwadarminta dalam "Kamus Lengkap" (1980 : 83) diterjemahkan sebagai "Pendapatan, Penghasilan".

2. Konsep – Konsep Pendapatan

Pengertian dan penafsiran yang berkelainan dengan pendapatan disebabkan oleh adanya latar belakang yang berbeda dalam penyusunan konsep pendapatan itu sendiri. Dari berbagai literatur teori akuntansi dapat diketahui bahwa terdapat berbagai konsep mengenai pendapatan. Walaupun setiap konsep pendapatan yang ada akan menimbulkan pengertian dan penafsirannya masing-masing, namun sebenarnya konsep-konsep pendapatan tersebut memiliki dasar yang sama. Secara garis besar konsep mengenai pendapatan dapat ditinjau dari dua segi pandang :

1. Pendapatan Menurut Ilmu Ekonomi 2. Pendapatan Menurut Ilmu Akuntansi

Hendriksen (2002: 163), menyatakan ada 2 (dua) pendekatan terhadap konsep pendapatan yang ditemui dalam literatur – literatur akuntansi yaitu :

1. Konsep Arus Masuk (Inflow Concept)

ISSN 2303-1174 Valen A. Lumingkewas, Pengakuan Pendapatan dan 202 Jurnal EMBA Vol.1 No.3 Juni 2013, Hal. 199-206

(20)

Konsep arus masuk adalah sebuah pandangan yang menekankan pada arus masuk atau peningkatan aktiva yang timbul sebagai akibat dari aktifitas operasional perusahaan, atau arus masuk menegaskan bahwa

pendapatan ada karena dilaksanakan kegiatan usaha. 2. Konsep Arus Keluar (Out Flow Concept)

Konsep Arus keluar adalah sebuah pandangan yang menganggap pendapatan sebagai arus keluar dalam arti bahwa dasar timbulnya pendapatan adalah diawali dengan proses penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan melalui factor- factor produksi selama masa tertentu.Barang atau jasa tersebut akan keluar dari perusahaan melalui penjualan atau penyerahan barang atau jasa yang kemudian menimbulkan pendapatan bagi perusahaan.

Pengertian pendapatan menurut Zaki Baridwan (1992 : 30) adalah sebagai berikut.

Pendapatan adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya selama suatu periode tertentu yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.

Menurut Theodorus M. Tuanakotta dalam bukunya Teori Akuntansi I (1984 : 153), definisi-definisi yang menganut inflow concept biasanya merupakan definisi yang masih bersifat tradisional, yaitu

(21)

menyatakan bahwa revenue adalah inflow assets atau net assets ke dalam perusahaan sebagai akibat penjualan barang atau jasa. Dalam praktek tradisional aktiva pada umumnya meningkat atau hutang berkurang pada saat penjualan atau penyerahan barang atau jasa. Padahal tidak selalu meningkatnya aktiva atau berkurangnya sejumlah hutang disebabkan oleh pendapatan tetapi bisa disebabkan oleh alasan-alasan lain, walaupun pendapatan memang merupakan salah satu alasan mengapa jumlah aktiva bertambah dan sejumlah hutang berkurang. Kelemahan lain dari inflow

concept adalah timbulnya masalah penetapan waktu bagi pendapatan pada

saat penjualan atau saat pengiriman barang atau jasa padahal penetapan waktu bagi pendapatan dimungkinkan dapat terjadi tidak hanya pada saat penjualan atau saat pengiriman barang atau jasa.

Pendapatan merupakan penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga, deviden, royalti dan sewa. Sebaliknya aktiva yang diperoleh dari pembelian, hasil pinjaman dan tambahan modal tidak bisa dikatakan sebagai menaikkan pendapatan. Pengertian pendapatan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut.

1. Menurut M. Munandar (2001 : 16)

Pendapatan adalah suatu pertambahan asset yang mengakibatkan bertambahnya owner's equity, tetapi bukan karena penambahan modal baru dari pemiliknya dan bukan pula merupakan pertambahan asset yang disebabkan karena bertambahnya liabilitas.

(22)

2. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2001 : 23).

Yang dimaksudkan pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.

3. Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan pasal 4 ayat (1)

Pendapatan adalah setiap tambahan ekonomis yang diterima atau diperoleh baik untuk konsumsi maupun untuk menambah kekayaan wajib pajak (Liberty Pandiangan dan Jimmy Lumban Goal, 1995 : 130).

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendapatan (revenue) adalah hasil operasional perusahaan, berupa penambahan assets yang mengakibatkan bertambahnya owner equity dan diukur berdasarkan barang atau jasa yang diserahkan pada pembeli atau pelanggan serta dinyatakan dengan satuan uang dan dilaporkan dalam laporan keuangan untuk suatu periode tertentu. Pendapatan juga sering dikenal dengan sebutan berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, deviden royalti dan sewa.

B. Sumber dan Penggolongan Pendapatan

Dalam Standart Akuntansi Keuangan (SAK) dijelaskan bahwa pendapatan didefinisikan sebagai arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan. Selama suatu periode bila

(23)

arusmmasuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi modal.

Dalam PSAK No. 23 paragraf 36 pernyataan ini harus ditetapkan dalam akuntansi untuk pendapatan timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi sebagai berikut.

1. Penjualan barang. 2. Penjualan jasa.

3. Penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan deviden.

Pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan, menurut M. Munandar (2001 : 17) pada dasarnya dapat dibedakan dalam dua klasifikasi, yaitu sebagai berikut.

1. Penghasilan dari operasi utama perusahaan (Operating Revenues). Merupakan penghasilan yang diterima oleh perusahaan, yang ada hubungan secara langsung dengan usaha (operasi) pokok/utama perusahaan tersebut. Adapun yang berkaitan langsung dengan penghasilan operasional adalah berikut ini.

a. Penjualan (Sales).

b. Potongan pembelian tunai (Purchase Discount).

c. Penerimaan tambahan dari pembelian (Purchase Allowance). d. Penghasilan di luar operasi utama perusahaan (Non Operating

(24)

Merupakan penghasilan yang diterima perusahaan yang tidak ada hubungan secara langsung dengan usaha (operasi) pokok perusahaan tersebut. Adapun yang termasuk dalam Non Operating Revenues adalah berikut ini.

a. Penghasilan bunga (Interest Earned). b. Penghasilan sewa (Rent Earned).

c. Penghasilan deviden kas (Cash Devident Earned). d. Laba (Provit)

Dengan demikian pendapatan perusahaan yang timbul dari penjualan atau transaksi yang merupakan usaha pokok perusahaan dan merupakan kegiatan yang didukung oleh seluruh sumber dan dana yang dimiliki perusahaan dikatagorikan ke dalam pendapatan operasi. Sedangkan pendapatan yang timbul dari kegiatan usaha sampingan dan bukan merupakan usaha pokok perusahaan dimasukkan dalam pendapatan non operasi.

C. Pengakuan Pendapatan

Kegiatan operasi perusahaan adalah proses yang terus-menerus mulai dari pembelian bahan mentah, pengolahan bahan mentah yang diproses dengan menggunakan tenaga kerja dan peralatan mesin, penjualan produk, penagihan dan penerimaan uang sebagai akibat dari proses penjualan. Semua kegiatan yang berlangsung terus menerus tersebut merupakan langkah-langkah untuk memperoleh pendapatan.

(25)

Financial Accounting Standart Board (FASB) memberikan dua

criteria pengakuan pendapatan seperti yang disadur Suwardjono (1989) adalah berikut.

1. Pendapatan baru diakui bila jumlah rupiah pendapatan telah direalisasikanatau cukup pasti akan segera terrealisasi. Pendapatan dikatakan telah terjadi transaksi pertukaran produk atau jasa hasil kegiatan perusahaan dengan kas atau klaim untuk menerima kas. Pendapatan dapat dikatakan cukup pasti akan segera terrealisasi bila barang penukar yang diterima dapat dengan mudah untuk dikonversi menjadi sejumlah kas atau setara kas yang cukup pasti. Untuk dapat memenuhi persyaratan mudah dikonversi barang penukar (aktiva) yang pasti tidak dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran barang dan mudah dijual belikan tanpa memerlukan biaya yang berarti.

2. Pendapatan dapat diakui bilamana pendapatan tersebut sudah terhimpun/ terbentuk. Untuk memperoleh pendapatan perusahaan harus melakukan kegiatan memproduksi barang atau jasa yang menjadi sumber utama pendapatan. Pendapatan dapat dikatakan telah terhimpun bilamana kegiatan telah menghasilkan pendapatan tersebut telah berjalan dan secara substansional telah selesai sehingga suatu unit usaha berhak menguasai manfaat yang terkandung dalam pendapatan. Sedangkan menurut Standar Akuntansi Keuangan (1994, PSAK No : 23, paragraf 19), bila hasil suatu transaksi yang meliputi penjualan jasa dapat diestimasikan dengan andal, pendapatan yang sehubungan

(26)

dengan transaksi tersebut diakui dengan acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca. Hasil suatu transaksi dapat diestimasikan dengan andal bila seluruh kondisi berikut dipenuhi.

a. Jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal.

b. Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan.

c. Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur dengan andal.

d. Biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur dengan andal.

Menururt Theodorus Tuanakotta (1984 : 159), kalau dilihat dari kegiatan peristiwa yang mendukung terjadinya pendapatan (revenue), maka secara teoritis ketepatan waktu pengakuan pendapatan bisa pada pelbagi saat seperti.

a. Selama berlangsungnya produksi : ini terlihat pada kontrak-kontrak pembangunan yang bersifat jangka panjang, pada proses peningkatan nilai secara alamiah (accretion), dan accruals.

b. Pada saat penjualan ini adalah timing dari revenue untuk kebanyakan barang yang dijual.

c. Pada saat diterimanya uang tunai : misalnya, terjadi pada penjualan dengan cicilan.

(27)

d. Sesudah produksi selesai : misalnya, dapat dijumpai dalam produksi logam mulia dan komoditi-komoditi pertanian.

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang hasil usaha suatu perusahaan, maka harus ditentukan berapa pendapatan yang dicapai perusahaan dengan seksama, oleh karena itu untuk tujuan pencatatan dan pelaporan dalam akuntansi, diperlakukan pembatas yang jelas mengenai kapan suatu pendapatan sudah harus diakui sebagai pendapatan, karena jika tidak ini akan dapat merugikan beberapa pihak, misalnya jika suatu perusahan belum mengakui adanya suatu pendapatan atas kontrak-kontrak jangka panjang sebelum bangunan selesai dibuat, maka hal ini akan dapat merugikan para pemegang sahamnya jika misalnya para pemegang saham tersebut ingin menjual sahamnya pada saat itu juga.

Sebagai ketentuaan umum, pendapatan diakui pada saat realisasinya, atau dapat dijabarkan sebagai berikut.

1. Pendapatan dari penjualan produk diakui pada tanggal penjualan, biasanya merupakan tanggal penyerahan produk kepada langganan. 2. Pendapatan atas jasa yang diberikan oleh perusahaan jasa diakui pada

saat jasa tersebut telah dilakukan dan dapat dibuat fakturnya.

3. Imbalan yang diperoleh atas penggunaan aktiva/sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain, seperti pendapatan sewa, bunga, dan

(28)

royalty diakui sejalan dengan berlakunya waktu atau pada saat digunakan aktiva tersebut.

Pendapatan dari penjualan aktiva di luar barang dagangan seperti : penjualan aktiva tetap atau surat berharga, diakui pada tanggal penjualannya. Sebagai aturan umum pelaporan pendapatan dalam akuntansi meliputi.

a. Bukti Obyektif yang dapat diperiksa. Transaksi pertukaran antara 2 (dua) pihak merupakan peristiwa ekonomi yang nyata dan umumnya selalu diikuti dengan bukti yang tertulis, karena itu harga pertukaran sudah dapat ditentukan dengan pasti.

b. Konvensi. Produk yang dijual kepada pembeli dan menjadi resiko pembeli yang bersangkutan, sedang penjual menerima suatu aktiva tertentu atau hak untuk menagih atau berupa pencairan sejumlah hutang tertentu.

c. Kepastian. Sejumlah biaya yang berhubungan dengan produk tersebut dan telah dapat ditentukan dengan mudah. Namun demikian masih ada ketidakpastian, seperti kemungkinan adanya retur penjualan atau pembelian tidak melunasi hutangnya, juga biasanya ada garansi setelah penjualan. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan biasanya melakukan taksiran mengenai penjualan retur, potongan-potongan, taksiran-taksiran piutang yang tidak tertagih dan sebagainya berdasarkan pengalaman tahun yang lalu.

(29)

Dalam hal tertentu, dimungkinkan untuk melakukan penyimpangan dalam pencatatan pendapatan dari ketentuan umum seperti dikemukakan di atas, antara lain.

1. Pendapatan diakui pada saat pembayaran diterima atau sesudah terjadinya penjualan. Sebenarnya tidak dibenarkan untuk menunda pengakuan pendapatan, karena sudah jelas menyimpang dari ketentuan yang ada, yaitu bahwa pendapatan sudah harus dilaporkan pada saat terjadinya penjualan, tetapi jika keadaan tidak memungkinkan untuk mengakui pendapatan tersebut sampai pada saat penjualan terjadi memang dapat dibenarkan, misalnyakarena.

- Tidak adanya dasar yang cukup untuk menentukan kolektibilitas dari piutang, yang nantinya dapat menyulitkan perkiraan mengenai berapa jumlah nilai aktiva yang akan dicatat.

- Apabila diperkirakan masih ada biaya-biaya yang cukup material untuk diperhitungkan, dan biaya tadi tidak dapat ditaksir jumlahnya secara tepat.

Jadi hanya dalam keadaan yang tidak menentu sajalah cara tersebut di atas boleh dilakukan, atau karena tidak adanya kepastian mengenai basarnya pendapatan yang akan diterima.

2. Pengakuan pendapatan pada penjualan konsinyasi. Konsinyasi merupakan perjanjian di mana pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak tertentu untuk dijual

(30)

dengan memberikan komisi kepada penjualnya. Dalam penjualan konsinyasi ini, penyerahan barang pada pihak penjual yang menerima titipan, belumlah merupakan pendapatan, meskipun sudah terjadi perpindahan barang. Pendapatan baru diakui setelah barang-barang tersebut benar-benar telah terjual oleh consignee.

3. Pengakuan pendapatan pada saat selesai produksi.

Pengakuan pendapatan pada saat selesai produksi ini dapat dibenarkan jika nilai dari barang tersebut sudah dapat ditentukan dengan pasti, dan untuk memasarkan barang tersebut sudah bukan merupakan persoalan lagi, karena pemasaran barang-barang tersebut dapat dijamin atau juga produk yang sudah dipastikan terjual karena kontrak penjualan, dan juga mengenai biaya pemasaran menurut periode-periode sebelumnya. 4. Pengakuan pendapatan selama produksi atau pengakuan secara

proporsional dengan tahapan produksi.

Pada pengakuan pendapatan semacam ini, kriteria dasar dari pengakuan pendapatan sudah terlihat agak jelas di mana pendapatan seharusnya sudah dilaporkan. Pengakuan pendapatan semacam ini lazimnya dijumpai pada perusahaan-perusahaan kontraktor, yang umumnya memerlukan waktu beberapa periode akuntansi. Jasa-jasa yang telah diberikan atau pekerjaanpekerjaan yang telah diselesaikan, akan dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan besarnya pendapatan yang harus diakui. Pendapatan membutuhkan pengetahuan mengenai kepastian bahwa ia dapat diakui, dan bukan sekedar

(31)

pengetahuan bahwa nilai tambah sudah terjadi. Oleh karena hal-hal yang berkaitan dengan ketidakpastianlah, maka akuntan mulai mencari dan menciptakan kaidah-kaidah mengenai timing daripada pendapatan. Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan oleh perusahaan.

Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomis sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh perusahaan. Namun, bila suatu ketidakpastian timbul mengenai kolektibilitas suatu jumlah yang telah termasuk dalam pendapatan, jumlah yang tidak tertagih, atau jumlah yang pemulihannya tidak lagi besar kemungkinannya, diakui sebagai suatu beban dari pada penyesuaian jumlah pendapatan yang diakui semula. Biasanya perusahaan perlu mempunyai sistem anggaran dan pelaporan keuangan intern yang efektif. Perusahaan tersebut menelaah dan bila perlu merevisi estimasi pendapatan sewaktu jasa diberikan. Kebutuhan revisi tersebut tidak perlu mengindikasikan bahwa hasil transaksi tersebut tidak dapat diestimasi dengan layak.

(32)

5. Pengukuran Pendapatan

Cara terbaik mengukur pendapatan adalah dengan menggunakan nilai tukar (exchange value) dari barang atau jasa. Nilai tukar ini menunjukkan ekuivalen kas atau nilai sekarang dari pendiskontoan tagihan uang yang akhirnya akan diterima dari transaksi pendapatan. Pernyataan yang dimuat dalam Standar Akuntansi Keuangan (1998 : 9) adalah jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pemakai aktiva tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan oleh perusahaan. Selain pernyataan tersebut Theodorus M. Tuanakotta, (2001 : 155) menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengukur pendapatan adalah dengan menggunakan nilai tukar atas barang dan jasa. Dalam banyak kasus, nilai tukar bisa diekuivalenkan dengan harga yang telah disepakati dalam transaksi dengan pelanggan. Tetapi harus ada perhitungan lebih yang dibuat waktu menunggu hingga tagihan dibayar.

D. Metode Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan yang Lazim Digunakan pada Perusahaan Industri Konstruksi

Sistem akuntansi perusahaan industri konstruksi merupakan suatu hal yang menarik karena mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan perusahaan dagang atau perusahan industri

(33)

lainnya. Perbedaan ini disebabkan oleh dua hal pokok, yaitu lokasi serta lamanya dari pekerjaan yang dilaksanakan oleh perusahaan industry konstrusi. Perusahaan industri konstruksi biasanya bekerja atas dasar kontrak, dimana harga jualnya telah ditentukan lebih dahulu sebelum produksi dimulai, dan dilaksanakan di tempat proyek serta penyelesaiannya juga berbulan-bulan dan bahkan lebih dari satu atau dua periode pembukaan. Walaupun perusahaan industri konstruksi bekerja atas dasar pesanan, namun tidak dapat disamakan dengan " Job Order

Manufacturing " yang produksinya dilakukan di pabrik serta proses

produksi pada umumnya tidak lebih dari satu tahun. Masalah yang timbul bagi perusahaan industri kontruksi adalah dalam rangka penyajian laporan keuangan perusahaan pada setiap akhir tahun, yang meliputi pelaporan pendapatan maupun biaya untuk proyek-proyek yang tergolong sebagai kontrak pembangunan jangka panjang.

Untuk perhitungan hasil dari suatu kontrak pembangunan, Ikatan Akuntansi Indonesia menganut dua metode yaitu berikut ini.

1. Metode persentase penyelesaian

Dalam metode ini, pengakuan pendapatan atas suatu proyek didasarkan pada tingkat kemajuan penyelesaian pekerjaannya, dalam arti bahwa laba atau rugi suatu proyek dapat dihitung walaupun proyeknya belum selesai dikerjakan. Untuk mengukur tingkat penyelesaian pekerjaan suatu proyek sampai suatu saat tertentu atau pada saat penyusunan laporan keuangan, biasanya didasarkan pada berikut.

(34)

2. Perbandingan antara biaya-biaya yang sudah menjadi beban sampai akhir masa penetapan hasil yang dimaksud dan taksiran biaya seluruhnya untuk menyelesaikan kontraknya dengan menggunakan data-data yang paling baru, atau

3. Pengukuran secara lain atas kemajuan pekerjaan dalam rangka penyelesaian keseluruhan atas kontrak dengan memperhatikan pekerjaan yang telah dilakukan.

Dengan kata lain, untuk menghitung tingkat kemajuan penyelesaian suatu proyek harus dilakukan penaksiran.

1. Penaksiran biaya penyelesaian (cost estimation)

Persentase penyelesaian pekerjaan dihitung dengan membandingkan biaya-biaya yang telah dibebankan sampai dengan saat ini (costs to

date), dengan biaya-biaya yang telah dibebankan tersebut (costs to date) ditambah dengan taksiran biaya penyelesaian pekerjaan (costs to complete).

Perhitungan ini dapat diformulasikan sebagai berikut.

costs to date

––––––––––––––––––––––––––– x 100 % = ... %

costs to date + costs to complete

Jadi titik tolak dalam perhitungan tersebut adalah taksiran total biaya untuk menyelesaikan pekerjaan secara keseluruhan. Dari taksiran total biaya tersebut akan dapat ditaksir laba atau rugi proyek secara keseluruhan serta laba atau rugi untuk tahun berjalan.

(35)

2. Penaksiran secara teknis (engineering or architectural estimation) Dengan cara ini, persentase penyelesaian pekerjaan didasarkan pada taksiran tingkat kemajuan penyelesaian secara fisik. Pandangan ini lahir karena ada anggapan bahwa jumlah pengeluaran biaya belum tentu akan mencerminkan tingkat kemajuan pelaksanaan pekerjaan. Untuk dapat melakukan penaksiran kemajuan pelaksanaan pekerjaan berdasarkan perhitungan tehnis dengan tingkat kecermatan dan ketepatan yang memadai, diperlukan bantuan orang yang ahli di bidangnya seperti Insinyur atau Arsitek. Langkah pertama yang ditempuh dalam melakukan penaksiran secara tehnis ini adalah dengan memisah-misahkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan dalam suatu proyek. Kemudian dihitung atau ditaksir tingkat penyelesaian tiap jenis pekerjaan, yang biasanya dinyatakan dalam suatu presentasi.

E. Pengertian Beban

Kiesso dan Jerry (2002: 153) mendefinisikan beban adalah “Arus keluar penurunan lainnya dalam aktivitas sebuah entitas atau penambahan kewajiban selama suatu periode yang ditimbulkan oleh pengiriman dan produksi barang. Horngren (2006: 54) menyatakan beban akan menghabiskan atau menimbulkan kewajiban dalam jalur operasi bisnis serta memiliki pengaruh yang terbalik dari pendapatan.

Pengakuan beban Hendriksen (1988:182) menyatakan beban terjadi barang atau jasa dikonsumsi atau digunakan dalam proses memperoleh pendapatan. Saat pelaporan beban dilakukan dengan mencatat

(36)

kegiatan di dalam perkiraan atau memasukkannya di dalam laporan keuangan. Beban diakui dalam laporan laba rugi dimana laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung anatara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh.Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2007) bahwa beban segera diakui dalam laporan laba rugi jika memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan diperoleh.

2. Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi yang rasional dan sistematis. Ini berarti jika manfaat ekonomi masa depan diharapkan timbul selama beberapa periode akuntansi dan hubungannya dengan penghasilan hanya dapat diterima secara luas atau tidak langsung.

3. Beban diakui dalam laporan laba rugi atas jika pengeluaran tidak menghasilkan manfaat ekonomi masa depan atau jika tidak memenuhi syarat maka diakui dalam neraca sebagai aset.

(37)

F. Kerangka Pikir Gambar Kerangka PT AMANAH FINANCE MAKASSAR PENGAKUAN AKUNTANSI PENDAPATAN BEBAN MASALAH HASIL

(38)

G. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka penulis mencoba menyusun hipotesis sebagai berikut: Diduga bahwa Pengakuan Akuntansi terhadap Pendapatan dan Beban sesuai prinsip Akuntansi yang berlaku umum dalam Penyusunan Laporan pada PT. Amanah Pinance Makassar.

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat Penelitian

Dalam penulisan laporan ini telah mengadakan penelitian pada Kantor Pusat Operasional : Wisma Kalla Lantai 3 Makassar Sulawesi Selatan Kontak Email : [email protected] No Telpon/No Fax : 0411853210 /0411855636 Twitter : @amanahfinance Facebook : PT. Amanah Finance. Pelaksanaan penelitian itu sendiri dilaksanakan selama 2 (dua) minggu.

B. Metode pengumpulan data

Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka penulisan menggunakan dua motode, yaitu :

1. Metode lapang (Field Researh)

Dalam pelaksanaan kegiatan penelitian, penulis melaksanakan pengamatan secara langsung mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Perlakuan Akuntansi Pendapatan Dan Beban dan melakukan tanya jawab secara langsung dengan Karyawan pada PT Amanah Finance Makassar. Untuk mendapatkan data dalam proses pembuatan laporan ini.

2. Metode pustaka (Field Library)

Metode dimaksudkan menemukan teori-teori yang membahas masalah Perlakuan Akuntansi Pendapatan dan Beban dis Amanah Finance

(40)

Makassar. Sumber tersebut beresal dari buku-buku, leteratur dan bahan-bahan lain yang releven.

C. Jenis Penelitian

Dalam rangka mempermudah perolehan data yang diperlukan dilokasi penelitian, maka peneliti menggunakan instrument penelitian berupa alat bantu untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan. Instrumen yang dimaksud peneliti adalah wawancara dengan beberapa staf kantor PT Amanah Finance Makassar, untuk memudahkan penulis dalam mendapatkan data tentang bagaimana Perlakuan Akuntansi Pendapatan Dan Beban pada PT Amanah Finance Makassar dengan mengacu kepada langkah-langkah yang ditempuh oleh pihak Staf kantor PT Amanah Finance Makassar dalam Perlakuan Akuntansi Pendapatan Dan Beban

Sedangkan untuk data-data penelitian instrument yang digunakan peneliti adalah berupa instrument pertanyaan dari peneliti untuk dijawab responden berdasarkan kenyataan yang terjadi atau berdasarkan pengalaman masing-masing.

D. Metode pengumpulan data

Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah penelitian pustaka dengan jenis data kulitatif yaitu mengupulkan data bagi hasil system syariah atau sumber lainnya yang mendukung dan mempunyai kaitan dengan pembahasan.

(41)

Pengumpulan data yang dilakukan penulis bersumber dari data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara dengan beberapa subjek dalam penelitian yang bertujuan untuk meminimalkan kesalahan pengumpulan data. Sedangkan untuk mendapatkan data sekunder digunakan fasilitas perpustakaan, dan sebagainya.

E. Analisis Data

Data yang kumpulkan selanjutnya diolah, baik diskusi maupun informasi tambahan lainnya selanjutnya diinterprestasikan dengan berpikir:

1. Induktif, yaitu data yang bersifat khusus dinilai lalu dianalisa dengan penarikan kesimpulan yang bersifat umum.

2. Deduktif, yaitu data yang bersifat umum dinilai, lalu dianalisa dengan penarikan kesimpulan

3. Komparatif, yaitu membandingkan data yang telah dianalisa dan diinterprestasikan kedalam satu pembahasan dan akhirnya menjadi kesimpulan yang utuh.

F. Defenisi Operasional

Untuk memudahkan menyusun dan menghindari terjadinya penafsiran yang keliru dalam memahami maksud yang terkandung, maka perlu memberiakan pengertian dan definisi dari kata-kata yang dianggap penting dalam judul skripsi ini yaitu “Perlakuan Akuntansi Pendapatan dan Beban pada PT Amanah Finance Makassar”

(42)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat PT Amanah Finance

Perusahaan didirikan dengan nama PT. Central Tifins Leasing berdasarkan Akte Notaris No. 279 tanggal 28 Desember 1984, dibuat dihadapan Musjaffak, sebagai pengganti Notaris Misahardi Wilamarta, S.H., di Jakarta, dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan surat keputusan No.C2-4256-HT. 01.01.TH 1985 tanggal 15 Juli1985.

Berdasarkan akte No. 108 tanggal 14 Juni 1990 yang dibuat dihadapan Notaris R. Arie Soetardjo, S.H., nama perseroan berubah menjadi PT. Ayumas Finance dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan surat keputusan No. 02-4475.HT.01.04.TH 1990 tanggal 31 Juli 1990.

Akte tersebut telah dirubah lagi dengan akte Notaris Nyoman Kamajaya, S.H., No. 7 tanggal 29 Oktober 2003 yang merubah anggaran dasar perseroan dan nama perseroan dari PT. Ayumas Finance menjadi PT. Asia International Finance, dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dan HAM Republik Indonesia No.C-00315 HT.01.04.TH.2004 tanggal 7 Januari 2004. Terakhir Akta perusahaan dirubah dengan akte No.2 tanggal 7 Maret 2005 yang dibuat dihadapan

(43)

Notaris Ny.Thilma Djohan, S.H., yang merubah susunan pemegang saham dan Direksi/Komisaris serta nama perusahaan menjadi PT. Amanah Finance yang memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia No. C-10386 HT.01.04.TH.2005 tanggal 15 April 2005. Izin operasi telah diperoleh dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan No. Kep-172/KM.5/2005 tanggal 17 Juni 2005 tentang pemberian izin usaha Lembaga Pembiayaan. Rekomendasi Pembiayaan Syariah dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. U- 147/DSN-MUI/VI/2006 tanggal 27 Juni 2006.

B. Visi dan Misi Perusahaan

Sejak awal berdirinya, PT. Amanah Finance telah menetapkan visi dan misi perusahaan yaitu:

a. Visi dari PT. Amanah Finance yaitu “Menjadi perusahaan pembiayaan syariah yang terbaik, dominan dan dikagumi masyarakat”.

b. Misi dari PT. Amanah Finance yaitu Menjadi perusahaan pembiayaan syariah yang istiqamah dalam menjalankan prinsipprinsip syariah; Menjadi perusahaan pembiayaan yang paling sehat dan inovatif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat; dan Menjadi perusahaan pembiayaan syariah yang dikelola secara profesional.

Legalitas dan Manajemen PT. Amanah Finance

(44)

1) Akta Notaris Ny. Thilma Djohan SH No. 2 tanggal 7 Maret 2005 dan disetujui oleh Menkeh & Ham dengan SK No. C-10386 HT.01.04.TH.2005 tanggal 15 April 2005 Tentang perubahan susunan Pemegang Saham, Pengurus dan Nama Perusahaan menjadi PT. Amanah Finance.

2) Akte Notaris Ny. Thilma Djohan No. 5 tanggal 16 januari 2006 3) Tentang perubahan Susunan Saham dan Perubahan Pengurus. 4) Akte Notaris Ny. Thilma Djohan No. 4 tanggal 20 April 2006

Tentang Peningkatan Modal Dasar.

5) Surat Rekomendasi Dewan Syariah Nasional, No. U-147/DSNMUI/VI/2006 tanggal 22 Juni 2006, yang merekomendasikan PT. Amanah Finance sebagai perusahaan pembiayaan yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah.

b. Pengurus/ manajemen perusahaan terdiri atas: 1) Dewan Komisaris / Board Of Commisioner

Hj. Musjwirah J. Kalla KomisarisUtama/President ommisioner Ir. Cipto Wibowo Komisaris / Commisioner

2) Dewan Pengawas Syariah / Board Of Syariah Supervisory K. H. Sanusi Baco LC Ketua / Chairman

Prof. DR. H. Halide Ir. H. Agus Haryadi FSAI

(45)

H. Dicky Syarief Hidayat SE Direktur Utama/ President Director H. Drs. Adnan Bintang MM Direktur / Director

4) Pemegang Saham / Share Holders (Des 2007) Hj. Musjwirah J. Kalla 78,5%

H. Dicky Syarief Hidayat 21,5% 5) Jenis Usaha / Type Of Bussines

6) Lembaga Pembiayaan Syariah / Multifinance Syariah 7) Captive Dealers

a) Dealer Toyota H. Kalla, Sulawesi Selatan

b) Dealer Toyota Hasjrat Abadi, Sulawesi Tengah dan Gorontalo c) Dealer Honda PT. Auto Daya Keisindo Jakarta

(46)

C. Stuktur Perusahaan Struktur Organisasi BOARD OF DIRECTORS Internal Audit Corporate Secr. 1. Bussiness Dev. 2. Legal 3. Secretariat MARKETING DIVISION FINANCE DIVISION Sales & Marketing Financing Risk Manage ment HRD & General Affair Finance Accounting Promotion & Event Credit Process

Survey H R D Treasury General

Ledger Marketing Support Marketing Plan Branch 1. Jakarta 2. Makassar 3. Palu 4. Kendari 5. Balikpapan Financing Adm. Collection Internal Control Unit General Affair A/R Collateral & Inventory Insurance Tax Manage ment Reporting IT Develop ment

(47)

Gambar 4.2 Struktur Organisasi PT. Amanah Finance di Makassar Kepala Cabang Spv. Collector Kepala Administrasi Spv. Sales Credit Analist Surveyor Collector Soft Coll Adm. Collection Kasir Adm. Pembiayaan FRO Sales Stay

(48)

D. Uraian Tugas

1. Koordinator Wilayah / Kepala Cabang

Kepala Cabang bertugas agar terlaksananya Strategi dan Kebijakan Perusahaan dalam bentuk pelaksanaan Program kerja Cabang, untuk mencapai target Perusahaan.Uraian tugasnya antara lain yaitu Merencanakan dan mengevaluasi pelaksanaan, program kerja cabang; Memonitor dan mengevaluasi pencapaian target penjualan & penagihan secara berkelanjutan; Memantau & menerima laporan perkembangan serta melakukan pembinaan karyawan dibawah jajarannya; Menjalankan tugas-tugas terkait lainnya dalam upaya pencapaian target cabang.

2. Kepala Administrasi (ADH) Cabang

Jabatan ini bertujuan agar terwujudnya ketertiban administrasi dan pelaporan yang akurat dan tepat waktu untuk mendukung pencapaian kinerja terbaik dan tercapainya target Cabang. Uraian tugasnya antara lain yaitu Menerima berkas aplikasi dari Sales (FRO) mengajukan permintaan survey ke Supervisor Kolektor/Kolektor, memverifikasi, meregistrasi aplikasi dan memasukkan data (upload) berkas ke system, mengajukan aplikasi ke komite pembiayaan cabang, mencetak dan mendistribusikan Persetujuan Pembiayaan (PO) ke dealer melalui Sales (FRO); Mengontrol dan melakukan tindak lanjut kekurangan berkas ke Sales (FRO); Melakukan rekonsiliasi data penjualan Dealer dengan Penerbitan persetujuan pembiayaan serta mengkomunikasikan hasil rekonsiliasi Unit

(49)

Kerja Marketing di kantor Pusat; Menyiapkan akad pembiayaan dan melakukan aktivasi akad, memverifikasi akad yang telah ditandatangani kemudian mendistribusikan akad ke Kantor Pusat dan Customer melalui Sales (FRO); Mengontrol pernyataan kesanggupan (covernote) yang dikirim oleh Bagian Administrasi Dealer ke kantor pusat serta umur jatuh tempo covernote untuk pembayaran dealer; Menyiapkan SP1, SP2, SP3 nasabah menunggak untuk didistrbusikan oleh PIC; Memberikan pelayanan purnajual terhadap nasabah (asuransi, BPKB, pemberian informasi).

3. Supervisor Penagihan

Jabatan ini bertujuan agar pencapaian dan kinerja penagihan cabang/wilayah dapat memenuhi target yang ditetapkan Perusahaan.Uraian tugasnya antara lain yaitu

a. Melakukan inventarisasi nasabah berdasarkan klasifikasi tunggakan dan alamat penagihan;

b. Mengontrol pelaksanaan penagihan lunak (soft collection) dan penagihan keras (hard collection) cabang dan mengevaluasi laporan kemajuannya;

c. Menjadwalkan kunjungan lapangan kolektor; Mengklasifikasikan nasabah bermasalah berdasarkan penyebab masalah kemudian merencanakan penyelesaian;

(50)

d. Menjalankan fungsi Penagihan Keras (Hard Collection), jika di Cabang tidak terdapat orang yang ditunjuk (PIC) Penagihan Keras (Hard Collection).

4. Kolektor

Jabatan ini bertujuan untuk memperlancar aktifitas penagihan piutang nasabah, yang dilaksanakan secara terprogram dan terukur sesuai ketentuan agar target penagihan dapat tercapai. Uraian tugasnya antara lain yaitu

a. Melakukan inventarisasi nasabah yang jatuh tempo tiap har

b. Melakukan penagihan kepada nasabah yang telah menunggak pembayaran;

c. Menerima pembayaran angsuran nasabah pada saat melakukan penagihan, dan menyerahkan hasil tagihan tersebut ke kasir, baik secara langsung (tunai) maupun dengan transfer via bank;

d. Membuat laporan progress atas hasil-hasil penagihan yang dilakukan – harian, mingguan, dan bulanan ke risk ke ADH untuk dilakukan pengcocokan data.

5. Finance Relation Officer (FRO) / Sales

Jabatan ini bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang efektif dan efisien sesuai target yang ditetapkan oleh Supervisor Sales/Kepala Cabang.Uraian tugasnya antara lain yaitu Menerima pengajuan pembiayaan nasabah baik dari jajaran sales dealer, maupun dari nasabah

(51)

langsung; Mengajukan Permohonan Survey melalui Register Permohonan dan diajukan pada hari yang sama, dapat melalui e-mail apabila petugas survey berjauhan dokumen fisik akan disampaikan kemudian, melakukan akad dengan nasabah dan menyampaikan bahwa akad yang ditandatangani efektif berlaku pada saat nasabah menerima kendaraan.

6. Counter Sales

Jabatan ini bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang efektif dan efisien sesuai target yang ditetapkan oleh Supervisor/Kepala Cabang. Uraian tugasnya antara lain yaitu menghubungi calon-calon nasabah dengan cara menelpon, bersurat atau mengunjungi kantor-kantor atau potensi-potensi pasar yang ada di wilayahnya, mengumpulkan data base nasabah dan Calon Nasabah, membuat rincian akad hasil negosiasi dengann nasabah, memeriksa kelengkapan dokumen nasabah dan meminta untuk dilengkapi bila ada yang kurang, membuat laporan pembiayaan (penjualan) secara periodik atas target yang diberikan, menerima calon nasabah yang berkunjung ke kantor, memperbaharui data nasabah bila terjadi perubahan.

7. Kasir Wilayah

Jabatan ini bertujuan mengurus penerimaan dan pembayaran semua transaksi keuangan di kantor cabang maupun wilayah. Uraian tugasnya antara lain yaitu menerima pembayaran angsuran nasabah, melakukan pembayaran kepada pihak lain (vendor, refund, incentif) atau

(52)

mengeluarkan biaya-biaya sesuai limit yang ditetapkan atau sesuai wewenang yang diberikan oleh Kepala Cabang dan Kantor Pusat, Menyetorkan dana penerimaan angsuran ke Bank Cabang atau melakukan transfer setiap hari ke Bank Kantor Pusat, Membuat Kas Harian dan melakukan pencocokan kas setiap hari.

8. Administrasi Kolektor

Jabatan ini bertujuan agar seluruh dokumen penagihan yang meliputi piutang dan data base piutang, piutang yang belum selesai (Outstanding piutang), tunggakan tagihan menurut umur (AR Aging Report) dan piutang yang sudah di cocokkan (AR Reconsiliasi) dapat di laporkan secara akurat dan tepat waktu. Uraian tugasnya antara lain yaitu menyiapkan data base Piutang (AR) dan Laporan Tunggakan menurut umurnya (Aging Report) dan target penerimaan untuk didistribusikan kejajaran kolektor, Mengontrol hasil kunjungan harian Kolektor, memastikan bahwa nasabah telah terkunjungi dan telah dimasukkan laporannya ke dalam computer system (Sistem Aplikasi Pembiayaan Syariah – SAPS Online), Membuat dan mendistribusikan laporan kinerja Piutang, kunjungan harian, penerimaan piutang, konfirmasi titipan angsuran, unit tarikan, putus akad, Surat Peringatan secara periodik.

(53)

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Klasifikasi Produk pada PT. Amanah Finance Makassar

Pendapatan premi perusahaan dapat dilihat dari beberapa produk yang ada pada perusahaan. Produk-produk yang dimaksud, yaitu:

1. Pendapatan Premi Netto

a. Prulink Investor Account (PIA)

Merupakan produk unit link dengan pembayaran premi sekaligus yang menawarkan berbagai pilihan dana investasi. Produk ini juga akan memberikan perlindungan yang komprehensif terhadap resiko kematian atau resiko menderita cacat total dan tetap. Produk ini memberikan keleluasaan bagi Pemegang Polis untuk memilih investasi yang memungkinkan optimalisasi tingkat pengembalian investasinya, sesuai dengan kebutuhan dan profil resiko Pemegang Polis. Premi yang ditentukan dalam produk ini, yaitu minimum premi sebesar Rp 12.000.000,-/US$ 1,500 dan tidak ada maksimum premi.

b. PRUlink Assurance Account (PAA)

Adalah produk unit link dengan premi berkala dimana nasabah dapat memilih kombinasi antara kebutuhan proteksi dan investasi dalam satu polis. Premi berkala dapat di bayarkan sampai usia 99 tahun.

(54)

2. Pendapatan Investasi

Hasil investasi ditentukan dari penerimaan bagi hasil deposito, laba (rugi) penjualan saham, pendapatan sewa gedung, dan selisih kurs, pendapatan bunga dan deviden, dimana pada pendapatan bunga dan deviden, keduanya diakui pada saat terjadinya transaksi, bukan pada saat penerimaan kas.

3. Pendapatan Lain – Lain

Pendapatan lain-lain disini diartikan sebagai pendapatan asuransi yang bukan berasal dari investasi, umumnya terdiri dari premi dan klaim asuransi. Dari keterangan diatas, perusahaan menghitung pendapatan premi dengan mengurangkan premi bruto atas premi reasuransi dan dikurangi (ditambah) penurunan (kenaikan) premi yang belum merupakan pendapatan.

4. Kebijakan Pengakuan Pendapatan dan Beban pada PT. AmanahFinance a. Kebijakan Pengakuan Pendapatan dan Beban Perusahaan

1. Pengakuan Pendapatan

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, yang menjadi unsur utama dalam Laporan Laba Rugi adalah pendapatan dan beban. Pada dasarnya pendapatan utama dari suatu perusahaan terdiri dari :

a) Pendapatan Premi b) Pendapatan Investasi c) Pendapatan lain-lain

(55)

Pendapatan ditentukan berdasarkan jumlah tagihan-tagihan atas premi, disaat itulah premi diakui sebagai pendapatan, yang dimulai sejak kontrak awal disetujui dan premi pertama dibayarkan, dan juga pada setiap pembayaran premi selanjutnya.Masalah pelunasannya didasarkan/ diserahkan kepada agen untuk kontak awal (pembayaran premi pertama), dan kepada kolektor untuk setiap pembayaran premi selanjutnya, untuk penagihan dalam bentuk kwitansi-kwitansi.

2. Pengakuan Beban

Pengakuan beban untuk perkiraan-perkiraan beban PT. Amanah Finance diakui pada saat nasabah memberikan premi awal untuk menjadi tertanggung.Nasabah menandatangani SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa) dan disinilah terjadinya beban.Dimana premi nasabah tersebut merupakan pembayaran untuk biaya awal, biaya asuransi, biaya administrasi dan beban klaim jika terjadi klaim asuransi. Nasabah mengikat kontrak asuransi, disini klaim tersebut diakui sebagai beban.

(56)

Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil penelitian diatas, penulis akan melakukan pembahasan atas hasil analisis tersebut sebagai berikut :

PT. Amanah Finance menganut prinsip pengakuan pendapatan yang secara mendasar telah sesuai dengan PSAK No.101, dimana daftar nama-nama perusahaan yang masuk dalam kategori pembiayaan sebagai berikut:

1. Adira Finance

a. Adira Dinamika Multifinance b. Adira Quantum Multifinance 2. Astra Auto Finance

a. Astra Auto Finance b. Astra Sedaya Finance c. Astra Multi finance

d. Federal International Finance e. Pratama Sedaya Finance f. Staco Estika Finance g. Toyota Astra Finance h. Komatsu Astra Finance 3. Oto Group

a. Oto Multi Artha b. Summit Oto Finance

(57)

4. Bussan Auto Finance a. Bussan Auto finance

5. Wahana Ottomitra multiartha Finance a. Wahana Ottomitra multiartha Finance

Adapun Komposisi Jumlah Nasabah Pembiayaan sebagai berikut: Jenis Pembiayaan Jumlah Nasabah Persentase (%)

Mudharabah dan Musyarakah 13 2,07 %

Dalam pembahasan skripsi ini, penulis membatasi cakupan penelitian pada transaksi mudharabah dan musyarakah, dimana mudharabah merupakan suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan kepercayaan, yaitu kepercayaan dari pemilik dana kepada pengelola dana. Dan musyarakah diartikan sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana setiap pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko (kerugian) akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Adapun jenis pembiayaan yang kami teliti pada PT. Amanah Finance yakni mudharabah dan musyarakah yang memiliki jumlah nasabah sebanyak 13 dan persentase 2,07 %.

(58)

1. Asumsi harga mobil Rp 200.000.000, OTR Biaya (Adm,cek fisik) TDP (Uang muka) Tenor Angsuran per bulan Rp 200.000.000 Rp 2.000.000 Rp 60.000.000 12 Rp 8.500.000 24 Rp 6.500.000 36 Rp 4.500.000 48 Rp 2.500.000

B. Pendapatan dan Beban Sistem Syariah pada PT Amanah Finance

PT. Amanah Finance dalam Annual Report 2012 menyatakan kepatuhannya terhadap Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Penyusunan laporan keuangan telah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.101 (revisi 2011) tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah berdasarkan PSAK No. 102. Diantaranya Akuntansi Murabahah berdasarkan PSAK No. 101, dimana akuntansi murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Akuntansi Istishna berdasarkan PSAK No.105, dimana akuntansi istishna dapat diartikan sebagai akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat). Akuntansi Mudharabah berdasarkan PSAK No.106, yang mengartikan akuntansi mudharabah sebagai suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan kepercayaan. kepercayaan merupakan unsur terpenting dalam akuntansi mudharabah,yaitu kepercayaan

(59)

dari pemilik dana kepada pengelola dana. Akuntansi Musyarakah berdasarkan PSAK No. 107, dimana akuntansi musyarakah diartikan sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana setiap pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko (kerugian) akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Akuntansi Ijarah berdasarkan PSAK No.110, Ijarah dapat diartikan sebagai akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa,dalam waktu tertentu dengan pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri.

Berikut contoh transaksi mudharabah dan musyarakah yang dilakukan oleh PT. Amanah Finance membeli mobil untuk disewakan dengan cost (biaya) Rp. 200. 000. 000 maka dicatat sebagai berikut :

1. Maret 2012

Aktiva yang diperoleh untuk mudharabah Kas

Rp 200. 000. 000

Rp 200. 000. 000

Apabila mobil di atas dibeli untuk transaksi mudharabah, diperkirakan mempunyai umur ekonomis 6 tahun dengan nilai sisa 10 % dari cost. Maka beban penyusutan per tahun menurut metode garis lurus :

Penyusutan per tahun :

(60)

= Rp 180. 000. 000 : 6 = Rp 30. 000. 000 Penyusutan tahun 2013 :

10 x Rp. 30. 000. 000 = Rp. 25. 000. 000 12

Adjustment per 31 Desember 2012 :

Beban penyusutan aktiva mudharabah Akumulasi penyusutan aktiva

Mudharabah

Rp 25. 000. 000

Rp 25. 000. 000

Beban penyusutan akan dilaporkan rugi laba dan akumulasi

penyusutan akan mengurangi aktiva musyarakah di neraca, hasilnya adalah sebagai berikut :

Nilai buku aktiva musyarakah :

PT. Amanah Finance Neraca Per 31 Desember 2012

AKTIVA PASIVA

Aktiva mudharabah Rp 200. 000. 000 Akumulasi Penyusutan Rp 25. 000. 000 –

Rp 175. 000. 000

(61)

Transaksi mudharabah . Besarnya penyusutan aktiva mudharabah tergantung masa sewa, misal masa sewa 4 tahun nilai sisa diperkirakan 30 % maka penyusutan per tahun :

= Rp 200. 000. 000 x (30 % x Rp 200. 000. 000 = Rp 60. 000. 000) 4

= Rp 35. 000. 000

Jadi penyusutan tahun 2012 adalah 10 bulan : 10 x Rp. 35. 000. 000 = Rp. 29. 166. 667 12

Adjustment per 31 Desember 2012 :

Beban penyusutan aktiva mudharabah

Akumulasi penyusutan aktiva mudharabah

Rp 29. 166. 667

(62)

Pendapatan Mudharabah

Misal, mobil yang dibeli 1/ 2 2012 kemudian disewakan dengan sewa per bulan Rp 8.000.000 dan dibayar setiap tanggal 5 bulan berikutnya maka pengakuan pendapatan mudharabah akan dicatat sebagai berikut :

1 Maret – Desember 2012

Piutang mudharabah

Pendapatan mudharabah

Rp 8. 000. 000

Rp 8. 000. 000

Pendapatan mudharabah akan dilaporkan di laporan laba rugi. Dalam hal ini untuk contoh di atas pendapatan mudharabah sebesar Rp 80.000.000 (10 bulan x Rp 8.000.000), sedangkan piutang pendapatan mudharabah akan dilaporkan di neraca sebesar Rp 80. 000. 000. Untuk penyesuaian pendapatan yang belum diterima pada Januari 2012 dapat dibuatkan jurnal pembalik untuk memudahkan dalam pencatatan penerimaan pendapatan mudharabah setiap bulan, yaitu :

` Pada akhir periode pencatatan penerimaan kas

Kas

Piutang mudharabah

Rp 80. 000. 000

Gambar

Gambar 4.2 Struktur Organisasi PT. Amanah Finance di Makassar Kepala Cabang Spv. CollectorKepala Administrasi Spv

Referensi

Dokumen terkait

Ismail Sianipar: Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No... Ismail Sianipar: Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi

Riando Sembiring: Pengakuan pendapatan menurut standar akuntansi keuangan..., 2001... Riando Sembiring: Pengakuan pendapatan menurut standar akuntansi

Fatmasari Siregar: Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No... Fatmasari Siregar: Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi

Sirait: Penerapan Pernyataan standar Akuntansi Keuangan (PSAK No... Sirait: Penerapan Pernyataan standar Akuntansi Keuangan

Miliana: Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No... Miliana: Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

Muhammad Irham: Penerapan pernyataan standar akuntansi keuangan no... Muhammad Irham: Penerapan pernyataan standar akuntansi

Pengungkapan keuangan ditentukan oleh pengakuan dan pengukuran transaksi keuangan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku (Puskas Baznas, 2019). Untuk sebuah lembaga zakat,

Selain itu, Ikatan Akuntansi Indonesia atau IAI (2014) dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 1 (revisi 1998) paragraf sembilan secara implisit