HASIL PENELITIAN
B. Pendapatan dan Beban Sistem Syariah pada PT Amanah Finance
PT. Amanah Finance dalam Annual Report 2012 menyatakan kepatuhannya terhadap Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Penyusunan laporan keuangan telah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.101 (revisi 2011) tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah berdasarkan PSAK No. 102. Diantaranya Akuntansi Murabahah berdasarkan PSAK No. 101, dimana akuntansi murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Akuntansi Istishna berdasarkan PSAK No.105, dimana akuntansi istishna dapat diartikan sebagai akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat). Akuntansi Mudharabah berdasarkan PSAK No.106, yang mengartikan akuntansi mudharabah sebagai suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan kepercayaan. kepercayaan merupakan unsur terpenting dalam akuntansi mudharabah,yaitu kepercayaan
dari pemilik dana kepada pengelola dana. Akuntansi Musyarakah berdasarkan PSAK No. 107, dimana akuntansi musyarakah diartikan sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana setiap pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko (kerugian) akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Akuntansi Ijarah berdasarkan PSAK No.110, Ijarah dapat diartikan sebagai akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa,dalam waktu tertentu dengan pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri.
Berikut contoh transaksi mudharabah dan musyarakah yang dilakukan oleh PT. Amanah Finance membeli mobil untuk disewakan dengan cost (biaya) Rp. 200. 000. 000 maka dicatat sebagai berikut :
1. Maret 2012
Aktiva yang diperoleh untuk mudharabah Kas
Rp 200. 000. 000
Rp 200. 000. 000
Apabila mobil di atas dibeli untuk transaksi mudharabah, diperkirakan mempunyai umur ekonomis 6 tahun dengan nilai sisa 10 % dari cost. Maka beban penyusutan per tahun menurut metode garis lurus :
Penyusutan per tahun :
= Rp 180. 000. 000 : 6 = Rp 30. 000. 000 Penyusutan tahun 2013 :
10 x Rp. 30. 000. 000 = Rp. 25. 000. 000 12
Adjustment per 31 Desember 2012 :
Beban penyusutan aktiva mudharabah Akumulasi penyusutan aktiva
Mudharabah
Rp 25. 000. 000
Rp 25. 000. 000
Beban penyusutan akan dilaporkan rugi laba dan akumulasi
penyusutan akan mengurangi aktiva musyarakah di neraca, hasilnya adalah sebagai berikut :
Nilai buku aktiva musyarakah :
PT. Amanah Finance Neraca Per 31 Desember 2012
AKTIVA PASIVA
Aktiva mudharabah Rp 200. 000. 000 Akumulasi Penyusutan Rp 25. 000. 000 –
Rp 175. 000. 000
Transaksi mudharabah . Besarnya penyusutan aktiva mudharabah tergantung masa sewa, misal masa sewa 4 tahun nilai sisa diperkirakan 30 % maka penyusutan per tahun :
= Rp 200. 000. 000 x (30 % x Rp 200. 000. 000 = Rp 60. 000. 000) 4
= Rp 35. 000. 000
Jadi penyusutan tahun 2012 adalah 10 bulan : 10 x Rp. 35. 000. 000 = Rp. 29. 166. 667 12
Adjustment per 31 Desember 2012 :
Beban penyusutan aktiva mudharabah
Akumulasi penyusutan aktiva mudharabah
Rp 29. 166. 667
Pendapatan Mudharabah
Misal, mobil yang dibeli 1/ 2 2012 kemudian disewakan dengan sewa per bulan Rp 8.000.000 dan dibayar setiap tanggal 5 bulan berikutnya maka pengakuan pendapatan mudharabah akan dicatat sebagai berikut :
1 Maret – Desember 2012
Piutang mudharabah
Pendapatan mudharabah
Rp 8. 000. 000
Rp 8. 000. 000
Pendapatan mudharabah akan dilaporkan di laporan laba rugi. Dalam hal ini untuk contoh di atas pendapatan mudharabah sebesar Rp 80.000.000 (10 bulan x Rp 8.000.000), sedangkan piutang pendapatan mudharabah akan dilaporkan di neraca sebesar Rp 80. 000. 000. Untuk penyesuaian pendapatan yang belum diterima pada Januari 2012 dapat dibuatkan jurnal pembalik untuk memudahkan dalam pencatatan penerimaan pendapatan mudharabah setiap bulan, yaitu :
` Pada akhir periode pencatatan penerimaan kas
Kas
Piutang mudharabah
Rp 80. 000. 000
Pada saat pembayaran Kas
Piutang mudharabah
Rp 19. 000. 000
Rp 19. 000. 000
Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan Setiap laporan laba rugi dimulai dengan total pendapatan, karena itu diperlukan suatu pengakuan dan pengukuran pendapatan, karena ada pendapatan yang dapat direalisasi dan ada pendapatan yang masih dalam proses. Agar dapat dilaporkan pada laporan keuangan, maka diperlukan suatu pengakuan dan pengukuran pendapatan. Untuk itu, ada dua macam pengakuan pendapatan yang umum dikenal, yang pertama yakni pengakuan dengan metode accrual basic yakni pendapat yang dicatat atau diakui pada saat pendapatan dihasilkan tanpa memperhatikan kapan pendapatan itu diterima, yang kedua yakni pengakuan dengan metode
cash basic yaitu pendapatan yang dicatat atau diakui pada saat diterima dan
beban diakui pada saat dibayar.
Permasalahan utama dalam Akuntansi adalah menentukan saat pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir keperusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan andal, pendapatan diakui bila:
b. Proses untuk memperoleh pendapatan sudah selesai (earned).
Dari kedua unsur tersebut pendapatan direlisasi ketika perusahaan menerima kas atau barang dan jasa yang dijual, selanjutnya pedapatan dihasilkan ketika perusahaan secara mendasar menyelesaikan semua yang harus dilakukan perusahaan agar dikatakan menerima manfaat dari pendapatan yang terkait. Prinsip dasar untuk pengakuan pendapatan adalah bahwa pengakuan harus diakui ketika diperoleh.
Perolehan pendapatan terjadi apabila syarat-syarat yang berikut ini terpenuhi, diantaranya:
a. Perusahaan harus sudah mendapatkan hak untuk menerima pendapatan tersebut.
b. Harus ada kewajiban dipihak lain untuk mengirim sejumlah tertentu atau yang bisa ditentukan kepada bank,
c. Jika belum tertagih, jumlah pendapatan harus diketahui dan harus bisa ditagih dengan tingkat kepastian yang cukup
Secara prinsip terjadi beberapa perbedaan yang mendasar, akuntansi kon-vensional lebih memberi kelonggaran penilaian laporan keuangan dengan menilai hanya terbatas pada kewajaran (kebenaran relatif) yang merujuk pada standar yang berlaku, sedangkan akuntansi syari’ah tuntutannya adalah kebenaran hakiki (al-h
aq) atau kebenaran moral yang harus dipertanggungjawabkan
dihadapan Allah, walaupun di satu sisi akuntansi syari’ah juga harus merujuk pada standar tetapi standar tidak dimaksudkan sebagai pembenaran, artinya laporan yang dibuat sesuai dengan standar tidak selalu benar menurut syari’ah, bila secara substansi laporan menyimpang dari prinsip-prinsip syari’ah (Hidayat, 2002a:88-89).
Akuntansi konvensional lebih pada pemenuhan ketentuan standar-standar yang dibuat oleh manusia, sedangkan akuntansi syari’ah, mencoba menemukan apa yang seharusnya dibuat sesuai dengan anjuran Tuhan (wahyu), dalam tataran ini akuntansi syari’ah tidak hanya diikat agar berada pada koridor standar akun-tansi tetapi diikat pula dengan pertanggungjawaban dihadapan Tuhan (normatif religius).
Dari segi tujuan, antara akuntansi konvensioanal dengan akuntansi syari’ah memiliki kemiripan yang hampir sepadan, karena beberapa poin tujuan memang sama, seperti dalam hal laporan keuangan sebagai pemasok informasi, hanya pada titik tekan tertentu akuntansi konvensional memberikan laporan kinerja historis yang memberikan informasi bagi
pihak-pihak yang membutuhkan sebagai alat dalam pengambilan keputusan bisnis, sedangkan akuntansi syari’ah bukanlah merupakan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan yakni pemenuhan kewajiban zakat secara benar, hal ini menjadikan akuntansi syari’ah memiliki titik tekan tujuan pada pertanggungjawaban (akuntabilitas) dihadapan Tuhan. Dengan kata lain laporan keuangan akuntansi konvensional titik tekan tujuan pada pemberian informasi, sedangkan laporan keuangan akuntansi syari’ah titik tekannya pada pertanggungjawaban (akuntabilitas).
Laporan keuangan pokok akuntansi konvensional yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, dan laporan arus kas, sedangkan pada akuntansi syari’ah masih ditambah lagi laporan keuangan lainnya yang harus disampaikan yaitu laporan zakat. Bahkan ada beberapa laporan keuangan yang dibutuhkan oleh bank syari’ah antara lain laporan investasi tidak bebas penggunaan, laporan sumber dan penggunaan dana qardh (Media Akuntansi, 2000:21).
Perbedaan secara umum antara Akuntansi Konvensional dan Akuntansi Syari’ah dapat dilihat dalam gambar 3.1.
Gambar 5.2
Perbedaan Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syari’ah (Laporan Keuangan) LAPORAN