• Tidak ada hasil yang ditemukan

Koefisien Determinasi

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH. Emilia Sri Wulandari (Halaman 67-0)

BAB III METODE PENELITIAN

3.8. Metode Analisis

3.8.4 Pengujian Hipotesis

3.8.4.3 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2016).

Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai 1. Semakin besar R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut dan semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan variabel dependen (Sulaiman, 2004), Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2016).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi Linear Berganda untuk menguji seberapa jauh hubungan dan pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat. Data-data terlebih dahulu dianalisis dengan menggunakan Microsoft Excel, dan kemudian pengujian dilakukan dengan menggunakan software pengolah data SPSS versi 17. Proses pengolahan data dimulai dengan input variabel-variabel penelitian ke Program SPSS dan menghasilkan output sesuai dengan metode analisis data yang telah ditentukan.

Objek penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten/Kota tahun 2014, 2015 dan 2016. Total populasi adalah 514 yang terdiri 98 pemerintah kota secara nasional dan 416 pemerintah kabupaten secara nasional. Sampel penelitian ditentukan dengan purposive sampling. Jumlah sampel yang dianalisis dalam penelitan ini adalah 165 sampel.

4.2 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi, dari variabel dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah, ukuran legislatif dan kinerja keuangan.

Tabel 4.1

Statistik Deskriptif berdasarkan Variabel Dana Perimbangan, Pendapatan Pajak Daerah, Ukuran Pemerintah, Ukuran Legislatif dan Kinerja

Keuangan

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Dana Perimbangan 165 11828 2692167 1069225,42 480253,26

Pendapatan Pajak Daerah 165 4839 3000152 267259,19 475773,23

Ukuran Pemerintah 165 814013 38985392 5217573,04 6835827,70

Ukuran Legislatif 165 3 10 6.84 1.99

Kinerja Keuangan 165 603365 12301986 2544179,51 2255178,71

Valid N (listwise) 165

Sumber: Hasil dari olahan software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dideskripsikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Dana Perimbangan

Hasil analisis deskriptif variabel Dana Perimbangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2014-2016 memiliki nilai minimum adalah sebesar 11828 atau Rp 11.828.258.734 diperoleh dari Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2016 dan nilai maksimum sebesar 2692167 atau Rp 2.692.167.023.139 diperoleh dari Kabupaten Bogor tahun 2016. Nilai rata-rata (mean) sebesar 1069225,42 atau Rp1.069.225.425.456.30 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 480253,26 atau Rp 480.253.263.411.04.

2. Pendapatan Pajak Daerah

Hasil analisis deskriptif variabel Pendapatan Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2014-2016 memiliki nilai minimum adalah sebesar 4839 atau Rp 4.839.643.402 diperoleh dari Kota

Pariaman tahun 2014 dan nilai maksimum sebesar 3000152 atau Rp 3.000.152.384.487 diperoleh dari Kota Surabaya tahun 2016. Nilai rata-rata (mean) sebesar 267259,19atau Rp 267.259.197.534.15 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 475773,23atau Rp 475.773.238.097.76.

3. Ukuran Pemerintah

Hasil analisis deskriptif variabel Ukuran Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2014-2016 memiliki nilai minimum adalah sebesar 814013 atau Rp 814.013.824.616.01 diperoleh dari Kota Pariaman tahun 2015 dan nilai maksimum sebesar 38985392 atau Rp 38.985.392.674.262 diperoleh dari Kota Surabaya tahun 2014. Nilai rata-rata (mean) sebesar 5217573,04 atau Rp 5.217.573.042.387.70 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 6835827,70 atau Rp 6.835.827.705.339.28

4. Ukuran Legislatif

Hasil analisis deskriptif variabel Ukuran Legislatif Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2014-2016 memiliki Nilai minimum adalah sebesar 3 diperoleh dari Kota Gorontalo dan Kabupaten Manokwari tahun 2014-2016 dan nilai maksimum sebesar 10 diperoleh dari beberapa kota di Indonesia yaitu Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Tanggerang, Kota Surabaya, Kota Mataram dan Kota Jayapura tahun 2014-2016. Nilai rata-rata (mean) sebesar 6.84 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 1.99.

5. Kinerja Keuangan

Hasil analisis deskriptif variabel Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2014-2016 memiliki nilai minimum adalah sebesar 603365 atau Rp 603.365.955.000 diperoleh dari Kota Pariaman tahun 2015 dan nilai maksimum sebesar 12301986 atau Rp 12.301.986.512.000 diperoleh dari Kota Jambi tahun 2015. Nilai rata-rata (mean) sebesar 2544179,51atau Rp 2.544.179.519.727.27 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 2255178,71 atau Rp 2.255.178.711.634.44.

4.3 Uji Asumsi Klasik

4.3.1 Uji Asumsi Normalitas

Dalam penelitian ini, uji normalitas terhadap residual dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Tingkat signifikansi yang digunakan . Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas , dengan ketentuan sebagai berikut (Ghozali, 2016). Jika nilai probabilitas 0,05, maka asumsi normalitas terpenuhi. Jika probabilitas < 0,05, maka asumsi normalitas tidak terpenuhi.

Tabel 4.2 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 165

Normal Parametersa,,b Mean .0000000

Std. Deviation .40314393

Most Extreme Differences Absolute .102

Positive .102

Negative -.074

Kolmogorov-Smirnov Z 1.312

Asymp. Sig. (2-tailed) .064

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Sumber: Hasil dari olahan software SPSS 17.0 (2018)

Perhatikan bahwa berdasarkan Tabel 4.2, diketahui nilai probabilitas atau Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,064. Karena nilai probabilitas , yakni 0,064, lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05. Hal ini berarti asumsi normalitas terpenuhi.

Pengujian asumsi normalitas dapat juga digunakan pendekatan analis grafik. Pada pendekatan normal probability plot, jika titik-titik (dots) menyebar jauh (berliku-liku pada garis diagonal) dari garis diagonal, maka diindikasi asumsi normalitas error tidak dipenuhi. Jika titik-titik menyebar sangat dekat pada garis diagonal, maka asumsi normalitas dipenuhi.

Gambar 4.1

Uji Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability Plot

Berdasarkan hasil uji normalitas dengan normal probability plot (Gambar 4.1) titik-titik cenderung menyebar dekat dengan garis diagonal. Hal ini berarti asumsi normalitas dipenuhi.

Gambar 4.2

Uji Normalitas dengan Pendekatan Histogram

Berdasarkan hasil uji normalitas dengan histogram, terlihat kurva membentuk kurva normal dengan menunjukkan suatu pola yang tidak melenceng baik ke kanan maupun ke kiri. Hal ini berarti data berdistribusi normal.

4.3.2 Uji Multikolinearitas

Untuk memeriksa apakah terjadi multikolinearitas atau tidak dapat dilihat dari nilai variance inflation factor (VIF). Nilai VIF yang lebih dari 10 diindikasi suatu variabel bebas terjadi multikolinearitas (Ghozali, 2016).

Ketentuan dalam uji multikolinearitas:

- Jika nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas pada penelitian tersebut.

- Jika nilai Tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka dapat diartikan bahwa terjadi gangguan multikolinearitas pada penelitian tersebut.

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

Dana Perimbangan (X1) .668 1.496 Pendapatan Pajak Daerah (X2) .331 3.024 Ukuran Pemerintah (X3) .294 3.403 Ukuran Legislatif (X4) .907 1.102

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.3, nilai VIF dari variabel dana perimbangan adalah 1,496, nilai VIF dari variabel pendapatan pajak daerah adalah 3,024, nilai VIF dari variabel ukuran pemerintah 3,403 dan nilai VIF dari variabel ukuran legislatif adalah 1,102. Diketahui seluruh nilai VIF < 10, maka disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas.

4.3.3 Uji Heteroskedastisitas

Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara SRESID pada sumbu Y, dan ZPRED pada sumbu X. (Ghozali, 2016). Ghozali (2016) menyatakan dasar analisis adalah jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas

Perhatikan bahwa berdasarkan Gambar 4.3, tidak terdapat pola yang begitu jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.3.4 Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2016:107) uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah terjadi korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji Durbin-Watson. Berikut hasil berdasarkan uji Durbin-Watson.

Tabel 4.4

Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson

Model Durbin-Watson

1 1.978

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi. Berdasarkan Tabel 4.4, nilai dari statistik Durbin-Watson adalah 1,978. Perhatikan bahwa karena nilai statistik Durbin-Watson terletak di antara 1 dan 3, yakni 1 < 1,978 < 3, maka asumsi non-autokorelasi terpenuhi. Dengan kata lain, tidak terjadi gejala autokorelasi.

4.4 Analisis Regresi Linier Berganda

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda.

Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Berikut hasil regresi linear berganda.

Tabel 4.5

Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 12.177 1.866 6.524 .000

Dana Perimbangan (X1) .210 .073 .174 2.855 .005 Pendapatan Pajak Daerah

(X2)

.195 .036 .462 5.339 .000

Ukuran Pemerintah (X3) .183 .074 .226 2.460 .015 Ukuran Legislatif (X4) .011 .017 .034 .651 .516

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.5, diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut.

Y = 12,177 + 0,210X1 + 0,195X2 + 0,183X3 + 0,011X4

Keterangan :

1. Diketahui nilai koefisien regresi dari dana perimbangan adalah 0.21, yakni bernilai positif. Dana perimbangan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

2. Diketahui nilai koefisien regresi dari pendapatan pajak daerah adalah 0.195, yakni bernilai positif. Pendapatan pajak daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

3. Diketahui nilai koefisien regresi dari ukuran pemerintah adalah 0.183, yakni bernilai positif. Ukuran pemerintah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

4. Diketahui nilai koefisien regresi dari ukuran legislatif adalah 0.011, yakni bernilai positif. Ukuran legislatif berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

4.5 Uji Hipotesis

4.5.1 Analisis Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi ( ) merupakan suatu nilai (nilai proporsi) yang mengukur seberapa besar kemampuan variabel-variabel bebas yang digunakan dalam persamaan regresi, dalam menerangkan variasi variabel tak bebas.

Tabel 4.6 Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

1 .777a .604 .594

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.6, diketahui nilai koefisien determinasi (Adjusted R-Square) adalah 0.594. Nilai tersebut dapat diartikan variabel dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara bersama-sama atau simultan mampu menjelaskan kinerja keuangan sebesar 59,4%, sisanya sebesar 40,6% dijelaskan oleh variabel yang tidak masuk dalam penelitian ini.

4.5.2 Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji )

Uji F bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel tak bebas.

Tabel 4.7

Uji Pengaruh Simultan Uji

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 40.637 4 10.159 60.984 .000a

Residual 26.654 160 .167

Total 67.291 164

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.7, diketahui nilai F hitung 60,984 dan nilai Sig.

adalah 0,000. Nilai F Tabel, dengan df1 = 4 (X1, X2, X3, X4), df2 = 165 – 5 (X1, X2, X3, X4, Y) = 160 dan tingkat signifikansi 0,05 adalah F tabel = 2,428. F hitung 60,984 > nilai F tabel 2,428 (F tabel tersaji di lampiran). Nilai Sig. 0,000 < 0,05.

Maka dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.

4.5.3 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)

Tabel 4.8 menyajikan nilai koefisien regresi, serta nilai statistik t untuk pengujian pengaruh secara parsial.

Tabel 4.8

Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji )

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 12.177 1.866 6.524 .000

Dana Perimbangan (X1) .210 .073 .174 2.855 .005 Pendapatan Pajak Daerah

(X2)

.195 .036 .462 5.339 .000

Ukuran Pemerintah (X3) .183 .074 .226 2.460 .015 Ukuran Legislatif (X4) .011 .017 .034 .651 .516

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.8, diketahui:

1. Nilai t hitung dana perimbangan berada pada daerah signifikan dan nilai Sig 0.005 < 0.05, maka dana perimbangan berpengaruh signifikan.

2. Nilai t hitung pendapatan pajak daerah berada pada daerah signifikan dan nilai Sig 0.000 < 0.05, maka pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan.

3. Nilai t hitung ukuran pemerintah berada pada daerah signifikan dan nilai Sig 0.015 < 0.05, maka ukuran pemerintah berpengaruh signifikan.

4. Nilai t hitung ukuran legislatif berada pada daerah tidak signifikan dan nilai Sig 0.516 > 0.05, maka ukuran legislatif tidak berpengaruh signifikan.

4.6 Pembahasan

4.6.1 Pengaruh Dana Perimbangan terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah dana perimbangan berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel dana perimbangan menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.005, dan |t hitung = 2,855| > |t tabel = 1,974|, maka dana perimbangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dana perimbangan secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H1 diterima.

Berpengaruhnya dana perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia masih sangat bergantung kepada pemerintah pusat guna memenuhi kebutuhan daerahnya. Sehingga dengan adanya bantuan dana dari pemerintah pusat akan membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2017) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasasti (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan.

Dana perimbangan yang meliputi dana bagi hasil pajak dan bukan pajak serta DAU dan DAK merupakan dana transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan tujuan membiayai kelebihan belanja daerah.

Apabila realisasi belanja daerah lebih tinggi dari pada pendapatan daerah maka akan terjadi defisit. Oleh karena itu untuk menutupi kekurangan belanja daerah maka pemerintah pusat akan mentrasfer dana dalam bentuk dana perimbangan kepada pemerintah daerah.

4.6.2 Pengaruh Pendapatan Pajak Daerah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel pendapatan pajak daerah menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.000 dan |t hitung = 5,339| > |t tabel = 1,974|, maka pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan pajak daerah secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja

keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H2 diterima.

Berpengaruhnya pendapatan pajak daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia selalu meningkatkan pendapatan pajak daerahnya. Sehingga membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sesotyaningtyas (2012) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan pajak daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hamzah (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan pajak daerah tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Didalam penelitian ini menunjukkan semakin tinggi pendapatan pajak daerah, maka semakin baik kinerja keuangan daerah pemerintah. Hal ini menunjukkan baiknya kinerja keuangan suatu daerah. Kinerja keuangan pemerintah daerah sendiri ditunjukkan dengan perbandingan total PAD yang meliputi pajak daerah. Apabila total penerimaan daerah sebagian besar berasal dari PAD maka kinerja keuangan pemerintah dapat dikatakan baik dalam mengoptimalkan pendapatan. Jika sebaliknya, maka dapat dikatakan kinerja keuangan pemerintah daerah belum baik atau belum optimal.

4.6.3 Pengaruh Ukuran Pemerintah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah Ukuran Pemerintah berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel ukuran pemerintah menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.015 dan |t hitung = 2,460| > |t tabel = 1,974|, maka ukuran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran pemerintah secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H3 diterima.

Berpengaruhnya ukuran pemerintah terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia selalu melakukan peningkatkan sumber daya yang dimiliki untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Achmad (2017) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran pemerintah daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Minarsih (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran pemerintah tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Total aset dapat mempengaruhi besar kecilnya ukuran pemerintah daerah tersebut. Artinya semakin besar total aset maka semakin besar pula

ukuran pemerintah daerahnya dan begitu juga sebaliknya, semakin kecil total aset maka semakin kecil pula ukuran pemerintah daerahnya. Hal ini akan berdampak pada kinerja pemerintah. Semakin besar ukuran pemerintah daerah maka akan semakin besar pula tuntutan terhadap pemerintah dalam peningkatan sumber daya yang dimiliki untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah tersebut.

4.6.4 Pengaruh Ukuran Legislatif terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah ukuran legislatif berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel ukuran legislatif menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.516 dan |t hitung

= 0,651| > |t tabel = 1,974|, maka ukuran legislatif berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran legislatif secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H4 diterima.

Berpengaruhnya ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia selalu melakukan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga terjadi peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan pemerintah

daerah. Sehingga membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novianti, dkk (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran legislatif berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran legislatif tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Lembaga legislatif atau DPRD merupakan lembaga yang memiliki potensi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah.

Peranan dari lembaga legislatif terdapat dalam pembuatan kebijakan publik, termasuk penganggaran daerah. Lembaga legislatif harus memperhatikan seberapa besar pengeluaran pemerintah daerah yang akan dilakukan dan berapa pemasukan yang akan diterima. Pemerintah daerah yang menghasilkan pendapatan yang besar dengan pengeluaran yang kecil maka dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah tersebut memiliki kinerja yang baik. Oleh karena itu, semakin banyak anggota legislatif diharapkan semakin dapat meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga terjadi peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan pemerintah daerah.

4.6.5 Pengaruh Dana Perimbangan, Pendapatan Pajak Daerah, Ukuran Pemerintah dan Ukuran Legislatif terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif

berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hipotesis kelima yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa setelah dilakukan pengujian hipotesis secara simultan, berdasarkan tabel 4.7 terlihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai signifikan sebesar 0.000 yang lebih kecil dari signifikansi 0.05. Hasil dari Uji F menunjukkan bahwa dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen menggambarkan kinerja keuangan maka dilakukan uji koefisien determinasi, dan hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel independen yaitu dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif mampu mempengaruhi kinerja keuangan sebesar 59,4%, sisanya 40.6%, dipengaruhi oleh variabel yang tidak masuk dalam penelitian ini.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari pembahasan, dapat disimpulkan bahwa hasil uji simultan dengan menggunakan uji f dan uji parsial dengan menggunakan uji t, dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hanya terdapat 55 sampel dalam penelitian ini karena disebabkan kurangnya ketersediaan data sehingga tidak terlalu cukup menggambarkan kondisi keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia secara keseluruhan.

2. Penulis melakukan penelitian hanya dengan jangka waktu 3 tahun yaitu dari tahun 2014-2016.

3. Alat ukur kinerja keuangan tidak cocok dengan rasio efisiensi.

5.3 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan bagi peneliti selanjutnya agar menambah variabel independen yang berkaitan dengan kinerja keuangan, agar dapat diketahui lebih banyak lagi, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Abu. 2017. “Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, Intergovernmental Revenue dan Hasil Audit BPK terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung”. Skripsi Akuntansi, Departen Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Afiah, Nunuy Nur. 2009. Pengaruh Kompetensi Anggota DPRD Dan Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah Terhadap Pelaksanaan System Informasi Akuntansi. Working Paper In Accounting And Finance Padjajaran University.

Bastian, Indra. 2006, Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintahan Daerah di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta

Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta:

Erlangga.

Black, B. S., H. Jang, dan W. Kim. (2006). Predicting Firm’s Corporate

Elmi, Bachrul. 2002. Kebijakan Desentralisasi Fiskal Kaitannya dengan Hutang Luar Negeri Pemerintah Daerah Otonom. Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 6 No. 4.

Elmi, Bachrul. 2002. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia.

Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Erlina, 2011. Metodologi Penelitian. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam terbitan (KTD). Medan

Florida, Asha. 2007. “Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah PAD Terhadap Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Kabupaten dan Kota Di Propinsi Sumatera Utara”. Skripsi Akuntansi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Sumatera Utara, Medan.

Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS 23.

Semarang: BPFE Universitas Diponegoro.

Halachmi, Arie. 2005. Performance measurement is only one way of managing performance. International Journal of Productivity and Performance Management. Vol. 54: 502-516.

Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah.

Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah.

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH. Emilia Sri Wulandari (Halaman 67-0)

Dokumen terkait