• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka bertujuan untuk melihat apakah objek yang diteliti sudah pernah diteliti sebelumnya agar tidak terjadi peniruan. Dalam hal ini akan dicantumkan beberapa penelitian sebelumnya yang menjadi bahan acuan dan referensi untuk mengerjakan penelitian ini baik itu berkaitan dengan maskulinitas maupun feminimisme. Berikut adalah daftar penelitian yang menjadi tinjauan pustaka :

Zubaidah(2016) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Feminisme Pada

Novel Impian di Bilik Merah 1 Karya Cao Xueqin” yang mendeskripsikan struktur

cerita yang terdapat dalam novel Impian di Bilik Merah Karya Cao Xueqin dan mendeskripsikan kandungan feminisme yang terkandung dalam novel Impian di

Bilik Merah karya Cao Xueqin. Penelitian ini membantu dalam hal mempelajari

teori karena menggunakan teori yang sama dansama-sama meneliti tentang feminisme.

Silalahi (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Interaksi Sosial Tokoh

Utama Dalam Novel Xue Hua Mi ShanKarya Lisa See: Tinjauan Sosiologi Sastra”. Skripsi ini memang tidak meneliti film tetapi meneliti novel yang

menjadi dasar adaptasi dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan interaksi sosial tokoh utama dalam novel Xue

Hua Mi Shan karya Lisa See. Penelitian ini juga tidak meneliti feminisme,

penelitian ini meneliti tentang interaksi sosial antar tokoh utama saja sedangkan yang penulis teliti adalah feminisme yang terkandung dalam film dengan judul yang sama.

Arumi (2017) dalam skripsi nya yang berjudul “Feminisme Dalam Novel

Mawar Jepang Karya Rei Kimura”. Dalam skripsi ini dideskripsikan pokok

pikiran feminisme yang terdapat dalam novel Mawar Jepang karya Rei Kimura dan pengungkapan pokok-pokok pikiran feminisme dalam novel Mawar Jepang karya Rei Kimura. Oleh karena itu, skripsi ini sangat membantu penulis dalam memahami lebih dalam mengenai pemikiran-pemikiran feminism.

Lubis (2017) dalam skripsinya yang berjudul “Peran Dan Posisi Serta

Perjuangan Perempuan Pada Novel Liang Shanbo Yu Zhu Yingtai Karya Zhang Henshui”. Dalam skripsi ini mendeskripsikan peran dan posisi perempuan pada

novel Liang Shanbo yu Zhu Yingtai karya Zhang Henshui dan perjuangan tokoh anak perempuan pada novel Liang Shanbo yu Zhu Yingtai karya Zhang Henshui.

Skripsi ini member sumbangsih kepada penulis untuk lebih mengerti dalam mendeskripsikan peran dan posisi perempuan serta perjuangan tokoh perempuan yang termasuk kedalam gerakan feminisme.

Pratiwi (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Feminisme Tokoh

Utama Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami”. Dalam

skripsi ini meneliti tentang watak tokoh A dalam novel Pengakuan Eks Parasit

Lajang dan sikap tokoh A untuk menentang ketidakadilan yang ia anggap

menimpa kaum perempuan. Ada persamaan yang terdapat dalam skripsi ini dengan penelitian, yaitu watak dan sikap tokoh dalam menentang ketidakadilan sehingga membantu penulis dalam memahami kajian tersebut.

Jizhen (2019) dalam jurnalnya yang berjudul “女性创业者吅法性的构建与 重 塑 过 程 研 究”.Li Jizhen dari 工 商 管 理 menuliskan tentang legitimasi pengusaha perempuan, didalamnya juga dicantumkan mengenai peran feminis dalam mengolah usaha. Penjelasan mengenai pembedaan pekerja laki-laki dengan perempuan yang biasa dalam masyarakat juga di cantumkan dalam jurnal ini.

Jurnal ini membantu penulis dalam mengerjakan pembahasan yaitu melihat dan membandingkan apa yang ada di dalam jurnal dengan apa yang ada di dalam film yang sedang penulis teliti.

Jun (2019) dalam jurnalnya yang berjudul “女性主义地理学观及其思想史 意义” (Feminist views on geography and its role in disciplinary intellectual history). Sun Jun bersama teman-temannya menuliskan tentang konstruksi pandangan geografi feminis dari tiga aspek ontologi, epistemologi dan metodologi. Menjelaskan mengenai bagaimana hubungan perempuan dengan laki- laki, masyarakat dan keluarganya di dalam kehidupan sosial.Jurnal ini memberi sumbangsih kepada penulis dalam menulis pembahasan.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah tahap dimana peneliti memperoleh data untuk diteliti dan langkah-langkah apa yang dipakai untuk meneliti suatu objek penelitian. Dalam hal ini penulis memakai metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang tidak menggunakan perhitungan atau diistilahkan dengan penelitian ilmiah yang menekankan pada karakter alamiah sumber data (Moleong, 2002 : 2).

3.1 Data dan Sumber Data 3.1.1 Data

Penelitian ini mengambil data dari dialog dan lakon yang terdapat dalam film Snow Flower and the Secret Fan yang dirilis pada tahun 2011.

3.1.2 Sumber Data

Sumber data untuk penelitian ini adalah film Snow Flower and The Secret

Fan karya sutradara dengan data sebagai berikut :

Judul:Snow Flower and The Secret Fan Sutradara :Wayne Wang

Pemeran :Gianna Jun, Li Bingbing, Archie Kao, Vivian Wu, dan Hugh Jackman Rilis : 13 Oktober 2011

Durasi : 1 Jam 44 Menit 16 Detik

Produksi :IDG China Media

Gambar 3.01 Cover Film

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang dikerjakan penulis dalam mengumpulkan data adalah yang pertama menontonfilm Snow Flower and the Secret Fan secara keseluruhan untuk mengetahui detail cerita dan kehidupan tokoh dalam film tersebut. Setelah itu maka film tersebut akan ditonton berulang kali dan memahami peran tokoh-tokoh perempuan di dalam film tersebut. Langkah selanjutnya adalah mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan judul dan mengupas satu persatu adegan yang dianggap menarik dan sesuai dengan pembahasan.

3.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses pemaknaan dan merupakan puncak penelitian. Analisis data sering disebut sebagai kunci penelitian sastra karena itu teknik analisis yang digunakan perlu mewadahi keadaan yang diperlukan dalam penelitian (Endraswara, 2011:112).

Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik deskriptif kualitatif yaitu dengan melihat dan meneliti data-data yang sudah ada terutama film Snow Flower

and the Secret Fandan mendeskripsikan bagian-bagian yang menunjukkan

ketidaksetaraan yang terjadipada tokoh perempuan dan juga bagaimana peruangan tokoh perempuan dalam menghadapi ketidaksetaraan yang ada dalam film.

Berikut adalah teknik analisis yang penulis pakai :

1. Mengumpulkan data yang diperlukan seperti film, buku, jurnal, dan skripsi 2. Menonton film yang akan diteliti

3. Menentukan rumusan masalah yang akan dikupas

4. Menonton film berulangkali untuk menemukan ketidaksetaraan pada tokoh perempuan dalam film

5. Menganalisis data (film) sesuai rumusan masalah

6. Mencantumkan hasil penelitian dari film yang sesuai dengan rumusan masalah dengan teori Karl Marx melalui setiap adegan yang berkaitan dalam film dengan memasukkan gambar hasil tangkapan layar tiap adegan dan dialog dalam film.

Bagan 1. Tenik analisis data yang penulis gunakan Pengumpulan Data

Menonton Film Berulang Kali (Meneliti Film)

Hasil Penelitian

(Pembahasan) Menganalisis data

Mencari Rumusan Masalah

Menonton Film

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam

Film Snow Flower and The Secret Fan

Terdapat beberapa ketidaksetaraan yang dialami oleh kaum perempuan di dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Ketidaksetaraan itu dapat dilihat dari perbedaan beban kerja dan perbedaan kelas sosial karena pemikiran masyarakat patriarkhi. Berikut adalah hasil yag sudah diperoleh setelah menganalisis film yang akan disajikan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan

NO. Ketidaksetaraan Scene

dalam Film Data Dialog Monolog 1.

Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga dan untuk Kepentingan Laki-laki

5.

4.1.2 Proses Analisis Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi

ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret

Fan

Pada rumusan masalah pertama telah dibahas bentuk ketidaksetaraan yang dialami oleh Xue Hua dan Bai He, yaitu ada 5 hasil analisis yang membuktikan adanya ketidaksetaraan yang dihadapi. Xue Hua dan Bai He mengambil tindakan dalam menghadapi ketidaksetaraan tersebut. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil analisis bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan dalam film Snow Flower and The Secret Fan:

Tabel 4.1.2 Proses Analisis Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow

Flower and The Secret Fan

NO. Ketidaksetaraan Scene

dalam Film Data Dialog Monolog

Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga dan untuk Kepentingan Laki-laki

00:10:57 8 

00:30:45 9 

00:31:38 10 



Mengerjakan Pekerjaan

4.2.1 Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan

Hampir semua kalangan masyarakat patrialis mengetahui bahwa perempuan selalu mendapat tempat kedua dibanding dengan seorang laki-laki. Dalam praktek kehidupan patrialis bahkan masih ada sampai sekarang, contohnya saja keberadaan anak laki-laki dalam sebuah keluarga sebagai pembawa nama keluarga dan penerus bagi keluarga berbeda dengan seorang perempuan yang akan hidup dengan orang lain selepas menikah.

Hal inilah yang akhirnya memunculkan banyak perbedaan perlakuan masyarakat terhadap kaum perempuan :

4.2.1.1 Perbedaan Beban Kerja dan Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin

Perbedaan fisik laki-laki dan perempuan telah mampu membentuk pola pikir pada masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang hanya dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Seberat apapun pekerjaan itu, pekerjaan rumah tangga hanya dianggap sebagai pekerjaan “non-produktif” yang tidak menghasilkan produksi apapun sehingga pekerjaan ini diremehkan. Sebaliknya, seorang laki-laki yang pekerjaannya menghasilkan upah untuk memenuhi

kebutuhan keluarga dianggap “produktif”. Perempuan sering dianggap sebagai anak tiri yang akan terus dibutuhkan bekerja tanpa dibayar dan hal ini terjadi karena terjadinya peremehan terhadap pekerjaan perempuan. Pekerjaan itu contohnya seperti memasak, mengandung, membersihkan, dan mengasuh anak merupakan pekerjaan yang sewajarnya dilakukan oleh seorang perempuan. Dalam pandangan masyarakat kapitalis sendiri perempuan hanyalah pekerja yang akan mendapat upah sangat rendah. Saat ada perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka tetap harus mengerjakan pekerjaan di dalam rumah dan bahkan masyarakat kapitalis memiliki pandangan jika harus ada yang berhenti bekerja maka orang itu adalah perempuan, karena upah perempuan dianggap lebih rendah.

Berikut adalah hasil analisis dalam film Snow Flower and The Secret Fan yang menunjukkan adanya perbedaan beban kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan :

4.2.1.1.1 Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan dalam Keluarga Data 1:

Gambar 4.01

Keputusan ditangan laki-laki

Dialog yào gànshénme jiù gànshénme ba!

Tuan Lu : Matahari, air dan kayu bakar gratis. Tapi garam adalah barang dagangan.

Nyonya : Pemberontak Taiping membuat kekacauan dimana-mana. Aku khawatir dengan anak kita yang berdagang di tempat yang jauh..

Tuan Lu : Apa yang wanita ketahui tentang hal- hal seperti itu?Dalam rumah ini, aku yang membuat keputusan!

Nyonya : Patuh… Patuh…. Patuh !Ia akan lakukan apa yang ia inginkan.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:27:25)

Pada adegan dan dialog diatas, Bai he sedang mendengarkan percakapan orangtua suaminya secara diam-diam. Dalam percakapan itu mertua laki-laki Bai

he bercerita tentang bisnis dan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh putra

mereka.Mertua perempuan dari Bai he menyampaikan pendapatnya kepada suaminya, tetapi laki-laki itu justru membentak istrinya dan mengatakan bahwa hal-hal seperti itu perempuan tidak akan tahu dan bukan merupakan urusan

perempuan, dan perempuan tidak berhak membuat keputusan didalam rumah mereka.

Dalam hal ini perempuan hanya dapat menghindar dan tidak membantah,

Bai he yang menyaksikan pembicaraan tersebut juga hanya bisa diam dan

menunduk.Percakapan kedua mertua Bai he menunjukkan bahwa hak perempuan dalam keluarga sangat dibatasi, perempuan tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan. Bai he memikirkan suaminya yang akan pergi jauh untuk berdagang seperti apa yang telah didengarnya dari kedua mertuanya. Oleh karena itu, Bai he mengkhawatirkan suaminya yang akan pergi ke tempat jauh untuk waktu yang lama. Tetapi bahkan untuk khawatir saja perempuan tidak boleh merasakannya, hal ini menunjukkan batasan-batasan dalam “kepemilikan” dan “siapa yang memiliki” di dalam keluarga.Di bawah ini adalah adegan yang menjadi bukti bahwa perempuan dalam film juga memiliki batasan bukan hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam pemikiran yang harus disampaikan kepada orang lain.

Data 2 :

Gambar 4.02 Batasan untuk perempuan

Dialog

百吅丈夫 : 我和爹商量过了想用家里的。储蓄到

桂林去买盐。

百吅 : 那地方很远的安全吗?

百吅丈夫 : 女人不用操心外面的事情。

Bǎihé zhàngfū : Wǒ hé diē shāngliángguòle xiǎng yòng jiālǐ de. Chúxù dào guìlín

Suami Bai he : Ayahku telah memberiku ijin untuk pergi ke Guilin untuk membeli garam.

Bai he : Tempat itu sangat jauh, apa aman?

Suami Bai he : Bukan urusan wanita untuk khawatir.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:28:00)

Dalam dialog diatas menunjukkan bahwa perempuan memiliki batasan- batasan di dalam rumah tangga. Suami Bai He mengatakan kepada Bai He “Bukan urusan wanita untuk khawatir” yang artinya seorang istri tidak diijinkan memiliki pemikiran yang tidak disetujui oleh suami mereka bahkan ketika pemikiran itu lebih tepat sekalipun. Perempuan menjadi pihak pekerja yang harus patuh dan mengikuti semua keputusan dari majikan, dan dalam hal ini menunjukkan bahwa laki-laki menjadi pihak majikan dan perempuan lebih tepat dikatakan sebagai budak dalam keluarga nya. Maka, ketika pihak majikan mengeluarkan keputusan, pihak pekerja yang merupakan kepemilikan majikan tidak boleh menentang.

Pendapat dan suara dari pekerja juga jarang dan hampir tidak didengar sebagai seuatu yang harus dipertimbangkan untuk diterapkan. Ketidaksetaraan dalam hal ini lah yang penulis temukan di dalam film Snow Flower and The Secret Fan ini.

Selain dari pengaruh pemikiran sosial ini dan juga pemikiran ingin menguasai yang diterapkan kepada perempuan, hal ini juga disebabkan oleh budaya masyarakat Patriarkhi yang masih sangat melekat dan hidup digambarkan di dalam film ini. Jika ingin melihat dampaknya terhadap perempuan yang ada dalam film ini tentang bagaimana perasaan mereka dan respon mereka ketika mendapatkan perlakuan ini kita dapat sama-sama melihat pada pembahasan selanjutnya, namun perempuan-perempuan dalam film menunjukkan rasa tertekan dan tidak bebas mengekspresikan dirinya di dalam keluarga. Semua yang dikerjakan oleh perempuan dalam film merupakan kendali dari suami dan keluarga dari suaminya, bahkan ketika mereka diatur untuk melahirkan anak laki- laki sebagai penerus keluarga.

4.2.1.1.2 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga Data 3 :

Gambar 4.03

Tradisi pengikatan kaki (Chan tui)

Dialog yīshuāng wánměi de xiǎotuǐ, méiréncái gěi nǐ zhǎodào hǎo pójiā.

Bai he : Ibu, kapan aku bisa bermain?

Ibu Bai he : Lily, ini lebih penting. Kita harus membuat kakimu sempurna agar pencari jodoh bisa mencarikanmu suami yang baik.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:13:57)

Kehidupan masyarakat dalam sosial tidak lepas juga dengan adanya kebudayaan terutama yang melekat pada masyarakat itu sendiri, contohnya yaitu budaya patriarkhi. Dengan adanya perbedaan kelas yang terbentuk dalam masyarakat sehingga status dari seorang perempuan pun memiliki kriteria sendiri agar dapat mencapai kriteria dari pihak kelas yang lebih tinggi yaitu laki-laki.

Ketika status perempuan dalam masyarakat menurun dan menempati posisi bawahan dari laki-laki, maka banyak hal yang dilakukan oleh perempuan untuk dapat dipertimbangkan. Salah satu contoh yang diambil dalam film ini yaitu tradisi pengikatan kaki (Chan tui) yang dialami oleh Xue hua dan Bai he bahkan ketika usia mereka masih sangat belia.

Masa bermain Xue hua dan Bai he harus lenyap oleh karena kaki mereka harus terikat dan dipatahkan untuk mendapat bentuk kecil yang sempurna agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dalam film mengalami kekerasan fisik akibat mengikuti tradisi, dan bahkan dari

informasi yang penulis baca dalam buku novel yang menjadi sumber adaptasi film ini novel Snow Flower and The Secret Fan dikatakan bahwa risiko dari pengikatan kaki ini adalah “kematian”. Penerima perlakuan pengikatan kaki ini dapat saja mengalami infeksi akut karena kaki yang dipatahkan dengan cara paksa dan bahkan tidak ada tenaga atau alat medis yang memadai paa zaman itu untuk membantu pemulihan kaki yang sudah dipatahkan menambah risiko kematian terjadi. Maka dari hal ini lah didapati ketidaksetaraan yang dialami perempuan yang merasakan kekerasan fisik yang disengaja dan diwajibkan.

Di dalam film, tradisi ini dilaksanakan hanya pada perempuan saja.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena laki-laki yang merupakan kelas “majikan”

yang menempati tempat tertinggi dibanding perempuan layak untuk mendapatkan keindahan dan keinginan mereka. Dalam tradisi masyarakat Tiongkok pada abad ke 19 ini, kaki yang kecil merupakan sebuah kebahagiaan, mengangkat derajat perempuan, dan menjadikan perempuan layak untuk mendapat suami yang baik dan bermartabat pula.

Perempuan dengan kaki besar dan tidak terikat sebelumnya merupakan golongan pelayan yang hidupnya sudah dipastikan akan menjadi pelayan dari orang lain serta tidak mendapat suami yang kaya, berhasil, bermartabat ataupun tersohor. Sehingga pengikatan kaki ini dianggap seperti sebuah kewajiban yang harus perempuan lakukan untuk dapat mencapai kriteria dari kelas “ukuran cantik”

bagi laki-laki dan dapat dipertimbangkan untuk menjadi istri.Bahkan keluarga dari anak perempuan pun akan melakukan pengikatan kaki ini supaya martabat

keluarga mereka terangkat dan tidak menjadi buah bibir dari orang-orang sekitar dengan putrinya mendapatkan suami yang baik dan hebat.

Data 4 :

Gambar 4.04 Kesadaran kelas perempuan

Dialog

百吅妈妈 : 痛苦中才能发现美。苦难中才能找到真正的

平静。虽然给你裹脚让你受点苦。可是真正 受益的还是你。

Bǎihé māmā : Tòngkǔ zhōng cáinéng fāxiàn měi. Kǔnàn zhōng cáinéng zhǎodào zhēnzhèng de píngjìng.

Suīrán gěi nǐ guǒjiǎo ràng nǐ shòu diǎn kǔ.

Kěshì zhēnzhèng shòuyì de háishì nǐ.

Ibu Bai he : Hanya lewat rasa sakit kau akan temukan keindahan.Hanya lewat penderitaan kau akan temukan kedamaian. Ibu membungkus, ibu mengikat, tapi kau yang akan mendapat hadiah.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:15:01)

Xue hua dan Bai he sewaktu kecil harus mengalami kesakitan karena kaki

yang diikat dan dipatahkan agar berhenti bertumbuh serta ukurannya kecil.

Pemikiran ini muncul dalam struktur sosial masyarakat terkhususnya seorang ibu dalam rumah tangga yang memikirkan kebahagiaan anak perempuannya nanti

setelah mereka beranjak dewasa. Sudah menjadi kebiasaan atau sudah seperti kesadaran kelas yang tercipta dalam kalangan masyarakat sehingga membentuk pola pikir perempuan yang mendambakan kehidupan lebih baik kedepannya.

Begitu juga keluarga Xue hua dan Bai he yang menginginkan keduanya mendapat hidup yang lebih baik, mendapat suami yang berkelas, dan dapat diperhitungkan oleh laki-laki karena memiliki kaki yang indah. Meskipun, mereka harus melewati rasa sakit yang amat sangat karena jari-jari yang dipaksa menyatu hingga ke tumit kaki. Mereka percaya bahwa hanya melalui kesakitan yang mereka alami maka akan memperoleh keindahan untuk memenuhi keinginanpihak laki-laki yang akan menjadi suami mereka.

Dalam hal ini sangat terlihat ketidaksetaraan yang dialami oleh tokoh perempuan dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Tokoh perempuan selalu menjadi objek yang akan menuruti setiap apa yang menjadi ukuran laki-laki dalam kebudayaan, sosial, maupun pola pikirnya. Laki-laki tidak perlu menjalani tradisi pengikatan kaki atau tradisi lainnya yang akan membawanya kepada perempuan terbaik untuk menjadi istrinya, tetapi sebaliknya perempuanlah yang harus mengubah dan mengusahakan dirinya agar diperhitungkan oleh laki-laki.

Pola pikir perempuan terhadap kesadaran akan perbedaan kelas dengan laki- laki mengharuskan perempuan mengalami penderitaan untuk mendapat kedamaian. Laki-laki memperoleh kedamaian dalam hidupnya karena dia memang sudah menjadi laki-laki yang merupakan harta yang paling berharga di dalam keluarga dan dijunjung didalam masyarakat. Tetapi, bagi seorang perempuan

kebahagiaan dan kedamaian adalah sesuatu yang sangat mahal dan butuh pengorbanan untuk mendapatkannya.

Di bawah ini adalah gambar dimana Xue hua dan Bai he mengalami penderitaan dan kesakitan karena kaki mereka yang terikat :

Data 5 :

Gambar 4.05 Bai he menahan sakit

Monolog

百吅和雪花忍受着绑腿过程中的痛苦。百吅和雪花不得不经历 一个绑腿的时期,这是女性为了更好的生活必须经历的最重要 的事情。

Kǔnàn zhōng cáinéng zhǎodào zhēnzhèng de píngjìng. Suīrán gěi nǐ guǒjiǎo ràng nǐ shòu diǎn kǔ. Kě bǎihé hé xuěhuā rěnshòuzhe

Kǔnàn zhōng cáinéng zhǎodào zhēnzhèng de píngjìng. Suīrán gěi nǐ guǒjiǎo ràng nǐ shòu diǎn kǔ. Kě bǎihé hé xuěhuā rěnshòuzhe

Dokumen terkait