• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FEMINISME PADA FILM SNOW FLOWER AND THE SECRET FAN OLEH WAYNE WANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS FEMINISME PADA FILM SNOW FLOWER AND THE SECRET FAN OLEH WAYNE WANG"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

2020

ANALISIS FEMINISME PADA FILM SNOW FLOWER AND THE SECRET FAN OLEH WAYNE WANG

王颖对《雪花秘扇》电影中女性主义分析

(wáng yǐng duì “xuěhuā mì shàn” diànyǐng zhōng nǚxìng zhǔyì fēnxī)

SKRIPSI

OLEH :

SANTI KRISTINA MARITO HUTAGALUNG NIM. 160710013

PROGRAM STUDI BAHASA MANDARIN FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

THE SECRET FAN OLEH WAYNE WANG

王颖对《雪花秘扇》电影中女性主义分析

(wáng yǐng duì “xuěhuā mì shàn” diànyǐng zhōng nǚxìng zhǔyì fēnxī)

SANTI KRISTINA MARITO HUTAGALUNG 160710013

ABSTRAK

Feminisme adalah gerakan yang diciptakan oleh kaum perempuan untuk memperjuangkan hak dan kesetaraan perlakuan dalam masyarakat dan keluarga.

Gerakan feminisme ini sendiri ditunjukkan dengan adanya tindakan-tindakan dan pemikiran perempuan dalam menghadapi ketidaksetaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketidaksetaraan terhadap kaum perempuan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret Fan dan bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow Flower and The

Secret Fan. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode deskriptif

kualitatif

yang menyajikan data dalam bentuk kalimat. Penelitian menggunakan teori feminisme Marxis yang menyatakan bahwa perempuan teropresi oleh perbedaan beban kerja dan perbedaan kelassosial, ekonomi, budaya, dan politik dalam masyarakat dan keluarga sehingga perempuan memiliki tindakan untuk memperjuangkan hak dan kesetaraan.Xue hua dan Bai he yang hidup dalam masyarakat patriarkhi mendapatkan perlakuan sesuai adat istiadat didalam keluarga mereka. Kedua perempuan ini mengalami berbagai ketidaksetaraan yang mengakibatkan keduanya teropresi dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Xue hua dan Bai he melalui Nu shu dan juga perjanjian Lao tong sangat menonjol sehingga mereka tetap mendapat ketenangan dalam keadaan teropresi. Xue hua dan Bai he dalam menyikapi ketidaksetaraan yang terjadi adalah dengan tetap mempertahankan tugas dan tanggungjawab yang mereka emban serta mengerjakannya dengan lebih baik lagi agar dapat diperhitungkan.

Ketidaksetaraan yang dialami oleh Xue hua dan Bai he adalah dalam bagian pembagian beban kerja dan kesadaran kelas, dalam menghadapi ini mereka tetap mempertahankan hak yang seharusnya mereka terima.

Kata kunci : Feminisme, Ketidaksetaraan,Wayne Wang , Lao tong, Snow Flower

and The Secret Fan

(7)

THE SECRET FAN OLEH WAYNE WANG

王颖对《雪花秘扇》电影中女性主义分析

(wáng yǐng duì “xuěhuā mì shàn” diànyǐng zhōng nǚxìng zhǔyì fēnxī)

SANTI KRISTINA MARITO HUTAGALUNG 160710013

ABSTRACT

Feminism is a movement created by women to fight for the rights and equality of treatment in society and family. The feminism movement itself is shown by the actions and thoughts of women in dealing with inequality. This study aims to determine the inequality of women depicted in the film Snow Flower and The Secret Fan and the forms of struggle of women facing inequality depicted in the film Snow Flower and The Secret Fan. The research method that I use is a qualitative descriptive method that presents data in the form of sentences. The research uses the theory of feminism Marxist which states that women are oppressed by differences in workloads and differences in social, economic, cultural and political classes in society and family so that women have actions to fight for rights and equality. Xue hua and Bai he who live in a patriarchal society are treated according to the customs in their families. Both of these women experienced various inequalities which resulted in both being oppressed in the family and community environment. The struggle of Xue hua and Bai he through Nu shu and also the Lao tong agreement is so prominent that they still get peace in the state of oppression. Xue hua and Bai he in addressing the inequality that occurs is by continuing to maintain the duties and responsibilities they entail and do it better in order to be calculated. The inequality experienced by Xue Hua and Bai He was in the division of the workload and class consciousness, in facing this they retained the rights they should have received.

Keywords: Feminism, Inequality, Wayne Wang, Lao tong, Snow Flower and The

Secret Fan

(8)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Tritunggal pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Allah yang telah memberikan keselamatan kepada penulis adalah Allah yang sama yang memelihara kehidupan penulis. Allah yang begitu hebat dan dahsyat dengan kasih karunia-Nya dalam kehidupan penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Feminisme pada Film Snow Flower and The Secret Fan oleh Wayne Wang”.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah memberikan dorongan, semangat, bimbingan serta doa kepada penulis. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis berterima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya dan pembantu Dekan I, II, III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Mhd. Pujiono, M.Hum., Ph.D. selaku ketua Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Ibu Niza Ayuningtia, S.S., MTCSOL selaku sekretaris Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Parlindungan Purba, M.Hum. selaku dosen pembimbing I dan ibu Intan Erwany, S.S., M.Hum. selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing, memeriksa, memotivasi, mendukung, serta member 一 masukan kepada penulis selama mengerjakan skripsi ini.

(9)

4. Bapak/Ibu staf pengajar dan Administrasi Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah dengan sabar mendidik dan memberikan pengajaran kepada penulis selama berkuliah di Program Studi Bahasa Mandarin.

5. Kepada orang tua penulis, Marhaposan Hutagalung dan Tuti Pujiati yang telah dengan sabar dan penuh kasih sayang telah merawat penulis dan memenuhi kebutuhan penulis, memberi dukungan, doa, nasehat, dan juga banyak pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis baik dalam mengerjakan perkuliahan sampai kepada penulisan skripsi ini.Kepada kedua adik kandung penulis, Ade Krismiati Hutagalung dan Agus Ferdinan Hutagalung yang menjadi semangat bagi penulis selama menjalani perkuliahan dan selama proses penulisan skripsi ini. Skripsi ini penulis persembahkan secara khusus kepada kalian.

6. Kepada paman dan bibi penulis, Lek Suselo dan Bik Mar yang telah senantiasa mau membantu baik dalam materi dan doa serta mendukung dan menyemangati dalam proses perkuliahan.

7. Kepada keluarga besar penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas doa, dukungan, motivasi, dan perhatian yang telah diberikan selama mengerjakan perkuliahan dan penulisan skripsi. Kepada sepupuku Friska Samosir, dan masih banyak lagi.

8. Kepada Kelompok Tumbuh Bersama Ekklesia yaitu Restuima Situmeang, Yanti Laura Pasaribu, dan Sonataria Silalahi. Kepada kakak Pemimpin Kelompok Kecil penulis yaitu kak Siska Napitupulu dan kak

(10)

Devi Rayuli H. Siahaan. Terima kasih kalian telah menemani penulis selama kurang lebih empat tahun di kampus USU, belajar firman Tuhan, melewati suka duka bersama, dan mendukung dalam doa. Berada dalam KTB Ekklesia merupakan hal terbaik yang pernah penulis rasakan, mengenal Dia sang Juruselamat dan semakin mengenal-Nya bersama kalian.

9. Kepada adik-adik Kelompok Kecil penulis yaitu Joyful Agave (Dian Gabrella, Senta Sinaga, Yolanda Pratiwi, dan Oktoberyani) dan Gratia Shelamim (Niskar Ziraluo, Dewi Sandora, Libra Lase, dan Andi Marthin) terima kasih telah hadir dalam kehidupan penulis, mengajarkan penulis arti kesabaran, dan kasih sayang, serta membagikan keselamatan itu pada kalian. Terima kasih atas dukungan doa, tawa, canda, dan kejujuran serta terbuka saat bersama dengan kalian. Kasih Tuhan yang selalu menyertai kalian dalam perkuliahan kalian. Penulis mengasihi kalian karena Tuhan terlebih mengasihi kalian.

10. Keluarga kedua bagi penulis yaitu UKM KMK USU, serta Unit Pelayanan Fakultas Ilmu Budaya yang telah membina saya untuk menjadi teladan dan tetap sebagai garam dan terang bagi setiap orang.

Terima kasih kepada Koordinasi UP FIB 2018 (Bang Agus Situmorang, Kak Agnesia Sihombing, Kak Entina Manalu, Kak Sari Tampubolon, Kak Ellis Siregar, Bang Hokhop, Sarah, dan KTB penulis yaitu Yanti).

Terima kasih kepada Koordinasi UP FIB 2019 (Kak Sri, Kak Moni, Bang Hokhop, Sarah, Putri Malau, Putri Simatupang, Kevin, Hendri, Tini

(11)

Hutabarat, dan Yanti). Terima kasih kepada Tim Regenerasi UP FIB 2019. Atas doa, dukungan, motivasi, pengajaran, dan kebahagiaan yang tercipta selama menjadi teman sekerja dalam pelayanan serta memotivasi penulis dalam mengerjakan perkuliahan.

11. Kepada Komisi Doa dan Komisi Keuangan Se-USU tahun 2018, kepada Koordinasi UKM dan KWK se-USU 2019, serta Tim Regenerasi UKM 2019. Terima kasih kepada Koordinasi UKM, tim 7 yaitu Sarah Pangaribuan, Josepri Padang, Ervina uli Habeahan, Susanna Kristina Silalahi, Novia Santa Lucia Simamora, dan Janri Ferdinan Sihite untuk setiap doa, motivasi dukungan, dan semua yang telah kita lewati sampai saat ini bersama-sama menghadapi kesulitan dalam melayani dan menerima hadiah dari kesulitan yang kita lalui bersama Tuhan. Terima kasih juga kepada KWK se-USU 2020, serta Tim Regenerasi 2020 (Kak Lily, Kak Afni, Kak Fanidia, Kak Sintike).

12. Terima kasih kepada Sado penulis, yaitu Nadya, Kak Clarisha, Della, dan Roberto yang telah mendukung di dalam doa, motivasi, semangat, nasihat dan perhatian yang diberikan.

13. Terima kasih kepada sahabat-sahabat penulis, dari kos Galaxy dan Koro Squad (Juli Susanti Ndraha, Regina Vicfalent, Sri Elkana, Sutri Sumi, Indah Krisnawati, Dessry Yanty, dan Gracia Simamora) untuk waktu yang telah dijalani selama empat tahun ini canda tawa, tangis, doa, motivasi, semangat, dukungan, dan perhatian yang telah diberikan.

(12)

14. Terima kasih kepada Y-Gen Are Miracle, Yeni ashari dan Tukmaida Sari Lase yang sudah mendukung, memotivasi, memberi perhatian, dan doa untuk penulis.

15. Terima kasih kepada seluruh teman-teman Bahasa Mandarin stambuk 2016 atas kasih sayang, kekompakan, kebahagiaan, keberanian, kebersamaan, dan masa-masa belajar yang telah dilewati bersama.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga penulis mengharapkan kritikan, saran, dan masukan untuk semakin meningkatkan penulisan kedepannya.Penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat terkhususnya bagi Program Studi Bahasa Mandarin.

Medan, Juli 2020 Penulis,

SANTI KRISTINA MARITO HUTAGALUNG NIM. 160710013

(13)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

PRAKATA ... viii

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR BAGAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah ...8

1.3 Batasan Masalah ...9

1.4 Tujuan Penelitian ...9

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 10

1.5.2 Manfaat Praktis ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Konsep... 11

2.1.1 Sastra ... 11

2.1.2 Film ... 12

2.1.3 Tokoh ... 13

2.1.4 Alur ... 14

2.1.5 Feminisme ... 14

2.2 Landasan Teori ... 15

2.2.1 Aliran Dalam Feminisme ... 15

2.2.2 Teori Feminisme Karl Marx ... 20

2.3 Tinjauan Pustaka ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Data dan Sumber Data ... 25

3.1.1 Data ... 25

3.1.2 Sumber Data ... 25

(14)

3.3 Teknik Analisis Data ... 26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 28

4.1 Hasil ... 28

4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film ... 28

4.1.2 Proses Analisis Bentuk Perjuangan Kaum Perempuan

Menghadapi Ketidaksetaraan Digambarkan dalam Film Snow

Flower and The Secret Fan ... 29

4.2 Pembahasan ... 30

4.2.1 Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalm Film Snow

Flower and The Secret Fan ... 30

4.2.1.1 Perbedaan Beban Kerja dan Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin ... 30

4.2.1.1.1 Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan dalam Keluarga ... 31

4.2.1.1.2 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik dari Budaya Dan Keluarga ... 35

4.2.1.1.3 Perempuan adalah Penghasil Keturunan dan Untuk ke- Pentingan laki-laki ... 44

4.2.1.1.4 Perempuan Hanya Mengerjakan Pekerjaan Domestik Yang Tidak Diperhitungkan ... 50

4.2.1.1.5 Perempuan Terkekang Karena Perbedaan Kelas dalam Keluarga ... 54

4.2.2 Bentuk Perjuangan Kaum Perempuan Menghadapi Ketidakseta- raan Digambarkan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan . 57 4.2.2.1 Perjuangan dalam Ruang Sosial ... 59

4.2.2.1.1 Memiliki Lao tong (老同) ... 59

4.2.2.1.2 Bersosialisasi di Luar Lingkup Keluarga ... 62

4.2.2.2 Perjuangan dalam Pekerjaan ... 64

4.2.2.3 Perjuangan dalam Mengekspresikan Diri Melalui Nu Shu .... 67

(15)

BAB V PENUTUP ... 77

5.1 Simpulan ... 77

5.2 Saran ... 79

Daftar Pustaka ... 81

Lampiran ... 84

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.01 Cover Film ... 26

Gambar 4.01 Keputusan di Tangan Laki-Laki ... 31

Gambar 4.02 Batasan Untuk Perempuan... 33

Gambar 4.03 Tradisi Pengikatan Kaki (Chan tui) ... 35

Gambar 4.04 Kesadaran Kelas Perempuan ... 38

Gambar 4.05 Bai He Menahan Sakit ... 40

Gambar 4.06 Suami Xue Hua Memukul Xue Hua ... 41

Gambar 4.07 Objek Pelampiasan Emosi ... 42

Gambar 4.08 Pernikahan Untuk Kepentingan Laki-laki ... 44

Gambar 4.09 Kelahiran Seorang Putri adalah Kekecewaan ... 46

Gambar 4.10 Kewajiban untuk Melahirkan Putera ... 48

Gambar 4.11 Para Perempuan muda diajari Menyulam ... 50

Gambar 4.12 Xue Hua dan Bai He sedang Memasak ... 51

Gambar 4.13 Xue Hua sedang Mencuci Pakaian ... 52

Gambar 4.14 Bai He sedang Melipat Pakaian ... 53

Gambar 4.15 Perempuan Ditakdirkan untuk Meninggalkan Keluarga ... 54

Gambar 4.16 Kewajiban Melahirkan Putera ... 56

Gambar 4.17 Bai He dan Xue Hua sebagai Lao Tong ... 59

Gambar 4.18 Bai He dan Xue Hua tumbuh bersama ... 60

Gambar 4.19 Sekelompok Perempuan Bersosialisasi Sebelum Menikah ... 62

Gambar 4.20 Sekelompok Perempuan Bersosialisasi Setelah Menikah ... 63

Gambar 4.21 Bai He sedang menyulam ... 64

Gambar 4.22 Bahasa Rahasia antara Perempuan ... 67

Gambar 4.23 Bentuk Nu Shu ... 68

Gambar 4.24 Xue Hua Kecil Hendak Melarikan Diri ... 70

Gambar 4.25 Bai He dilarang Bertemu Xue Hua ... 71

Gambar 4.26 Bai he Berencana Menemui Xue Hua Diam-diam ... 73

Gambar 4.27 Bai He dan Xue Hua Bertemu Secara Diam-diam ... 74

Gambar 4.28 Bai He Dihukum ... 75

(17)

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

Bagan 3.1 Tenik analisis data yang penulis gunakan ... 27 Tabel 4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan

dalam Film ... 28 Tabel 4.1.2 Proses Analisis Bentuk Perjuangan Kaum Perempuan

Menghadapi Ketidaksetaraan Digambarkan dalam Film

Snow Flower and The Secret Fan ... 29

(18)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra adalah bentuk representatif dari kehidupan manusia karena melalui sastra dapat mencerminkan bagaimana kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya. Sastra adalah karya yang sangat indah baik secara imajinatif ataupun tidak. Melalui sastra banyak hal bisa kita dapatkan dan bisa kita berikan, oleh karena itu sastra sering disebut sebagai ungkapan perasaan manusia yang diwujudkan dalam banyak hal yaitu karya sastra.

Keberadaan sastra tidak dapat dianggap remeh, karena sastra adalah suatu bentuk nyata dari kehidupan masyarakat yang dapat dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan. Berbagai ilmu pengetahuan bahkan dapat dihubungkan dengan sastra. Contohnya seperti ilmu psikologi yang diterapkan menjadi sebuah sastra maka akan menghasilkan suatu bidang sastra yaitu Psikologisastra yaitu suatu karya sastra yang menceritakan kejiwaan, perasaan, hati, dan kepribadian dari masyarakat. Ilmu sosiologi yang dihubungkan dengan sastra maka akan menghasilkan suatu bidang sastra yang disebut Sosiologisastra, yaitu sastra yang menceritakan dan berkaitan dengan kebudayaan, kehidupan sosial, interaksi, perekonomian, dan adat istiadat atau kebiasaan dalam masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra. Dan masih banyak lagi ilmu-ilmu yang dihubungkan dengan sastra seperti Antropologisastra, Politiksastra, dan lain

(19)

sebagainya. Semua hal diatas disebut sastra dengan adanya sebuah karya yang dihasilkan yaitu disebut dengan karya sastra.

Karya sastra merupakan sebuah fenomena dan produk sosial sehingga yang terlihat dalam karya sastra adalah sebuah identitas masyarakat yang bergerak, baik yang berkaitan dengan pola, struktur, fungsi maupun aktivitas dan kondisi sosial budaya sebagai latar belakang kehidupan masyarakat pada saat karya sastra itu diciptakan (Fananie, 2002: 193). Jadi dari penjelasan sebelumnya membuktikan bahwa sastra tidak lepas dari pengaruh kebudayaan, kehidupan sosial, ataupun kebiasaan dalam masyarakat.

Karya sastra sendiri ada tiga bentuk yaitu prosa, puisi, dan drama. Prosa yaitu karya sastra yang berupa karangan dalam bentuk cerita yang di ungkapkan dalam tulisan dan menggunakan bahasa yang tidak terikat oleh aturan-aturan (Sumaryanto, 2019:4). Drama termasuk juga dalam genre sastra yaitu dilihat dari cerita yang digambarkan melalui dialog-dialog antar tokoh dan juga terdapat naskah drama.Namun, drama juga termasuk kedalam bidang seni yaitu seni sastra karena memiliki nilai estetika baik itu dari naskah drama ataupun lakuan tokoh drama (Sumaryanto, 2019:1). Puisi adalah bentuk karya sastra yaitu ungkapan perasaan ataupun pengalaman seseorang yang di sampaikan dengan bahasa- bahasa kiasan, makna kias, dan pelambangan (Sumaryanto, 2019:4).

Film didefinisikan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai

“kisah gambar hidup”, sedangkan drama didefinisikan dalam KBBI sebagai

“kisah yang dipentaskan”. Perbedaan yang mencolok dari kedua definisi yang disarikan itu ialah terletak kepada komplemen atau pelengkap predikatif-nya,

(20)

yakni “gambar hidup” dan “yang dipentaskan”, yang disebut pertama dipertunjukkan dalam bentuk teknologi visual (film), yang disebut belakangan ditampilkan di atas panggung (drama).

Film merupakan suatu karya yang memiliki kesamaan dengan drama yaitu memiliki naskah, dialog, dan lakon. Film adalah sebuah seni yang dilihat dari estetika peran atau yang sering disebut dengan seni peran. Namun, film merupakan karya sastra ditinjau dari teks skenario dan cerita yang digambarkan melalui dialog-dialog antar tokoh nya yang akhirnya dengan segala macam mode presentasi film sesuai dengan fitur-fitur teks sastra dan dapat pula dijelaskan dalam kerangka tekstual. Oleh karena itu, film ialah pergerakan kontemporer dari mode sastra tekstual ke mode sastra visual.Oleh karena itu film juga merupakan salah satu jenis dari karya sastra namun dalam bentuk audio-visual yang tentu saja dikemas dengan lebih menarik.

Film memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan karya sastra yang lain seperti, seseorang tidak perlu berimajinasi mengenai cerita yang sedang dipertontonkan. Berbeda dengan novel, ketika membaca novel maka pembaca akan dituntut untuk menghayalkan hal-hal yang sedang dibacanya dengan tokoh- tokoh yang diciptakan pikiran sendiri, maka hayalan satu orang akan berbeda dengan orang lainnya. Sementara dalam film, penonton tidak perlu lagi sulit untuk mendapat kan imajinasi yang tepat untuk semakin meresapi cerita karena penonton tinggal melihat dan mendengarkan lalu merasakan. Film juga tidak membosankan karena bentuknya dibuat sama dengan kehidupan masyarakat sehari-hari seolah kita berada dalam cerita tersebut.

(21)

Film yang akan dikaji oleh penulis adalah Snow Flower and The Secret Fan di sutradarai oleh Wayne Wangyang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Lisa See, namun dalam film membawa cerita yang sedikit mengalami penambahan yaitu berawal dari zaman modern lalu menceritakan zaman tradisional dengan alur campuran. Judul film ini menyampaikan inti film secara implicit, Snow Flower adalah nama dari tokoh perempuan utama dalam film yang dalam bahasa Mandarin disebut Xue hua (雪花) dan Secret Fan mengarah kepada

Nu shu yang merupakan alat komunikasi rahasia yang digunakan oleh perempuan

pada zaman itu.Film ini bercerita dalam dua zaman, yaitu zaman modern dengan tokoh Sophia(索菲亚)dan Nina(尼娜)yang mengambil latar Shanghai (上海)dan zaman tradisional pada tahun 1829 mengambil latar Provinsi Hunan(湖南).Dalam film menceritakan ada dua orang perempuan yaitu Xue hua (雪花) dan Bai he(百 吅) pada masa tradisional yang dalam tradisi dipersatukan dengan janji yang disebut Laotong(老同) yaitu saudara sehati. Cerita yang dikemas menarik dengan latar abad ke-19 dengan tradisi pengikatan kaki kepada gadis-gadis kecil sebelum akhirnya mereka dipertemukan dengan Laotong nya untuk melalui hari-hari bersama dan belajar tentang nilai-nilai kehidupan bersama.Dalam film ini juga sangat menggambarkan bagaimana perempuan diperlakukan dengan banyak penindasan, mulai dari kaki diikat atau disebut dengan Chantui ( 缠 腿 ) sehingga tulang-tulangnya patah untuk mendapat bentuk kaki semungil mungkin.Hal ini dilakukan agar nantinya mendapat laki-laki mapan yang memandang keindahan melalui ukuran kaki.

(22)

Dalam film ini juga diceritakan bagaimana kehidupan perempuan dalam keluarga nya sendiri maupun ketika sudah menikah dan memiliki anak.Kedudukan yang tidak setara dengan laki-laki sangat terlihat dari setiap adegan dan peranan tokoh di dalam film ini. Hal ini lah yang melatarbelakangi penulis mengkaji film Snow Flower and The Secret Fan. Kehidupan perempuan dalam film ini memperlihatkan adanya ketidaksetaan gender.Terlihat dari bagaimana seorang permepuan diperlakukan di dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pergaulan.

Gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dapat diciptakan oleh kebudayaan dan faktor keluarga yang mendidik sedari kecil.Gender dan kelamin adalah dua hal yang jauh berbeda, kelamin adalah kodrat yang diberikan oleh Yang Maha Esa kepada manusia yang biasa kita sebut sebagai laki-laki dan perempuan, sementara gender bukanlah hal kodrati tetapi terbentuk dengan sendiri nya setelah manusia lahir. Gender ini sendiri dapat dibagi dua yaitu Feminim dan Maskulin, feminism lebih sering dikaitkan dengan perempuan karena feminim adalah sifat yang lemah lembut, penyayang, elegan, dan lentik seperti pada perempuan. Sementara maskulin lebih sering dikaitkan dengan laki-laki karena sifatnya yang kuat, rasionalis, perkasa, dan lainnya.

Feminim yang melekat pada diri perempuan membuat perempuan ditempatkan pada posisi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan laki- laki.Perempuan dianggap tidak dapat berbuat lebih, perempuan lebih lemah, lebih sedikit tahu dalam berbagai ilmu, lebih terbatas dalam segala hal, dan lebih penurut.Hal-hal tersebut akhirnya yang membentuk seorang perempuan menjadi

(23)

pribadi yang sering diremehkan, harus dilindungi, tetapi juga harus tunduk dibawah kepemimpinan laki-laki. Feminim sangat berbanding terbalik dengan maskulin, perbandingannya dapat dilihat dari :

-

Lebih pasif >< Lebih aktif,

-

Berorientasi ke rumah >< Lebih mendunia,

-

Kurang terampil berbisnis >< Lebih terampil berbisnis,

-

Lebih sering menangis >< Jarang menangis,

-

Tidak umum tampil sebagai pemimpin >< Umumnya selalu tampil sebagai pemimpin

-

Kurang ambisi >< Lebih ambisi

-

Kurang merdeka >< Lebih merdeka

-

Kurang bebas berbicara >< Lebih bebas berbicara

dan masih banyak hal lainnya. Pemikiran-pemikiran ini sebenarnya timbul karena didikan, budaya, dan kebiasaan (Handayani, 2008:8).

Dalam budaya contohnya pada masyarakat yang menganut Patriarkhi, yaitu laki-laki dianggap sebagai kepala, yang paling utama, yang paling di hormati, dan yang paling dapat diandalkan dalam memimpin. Sementara dalam patriarkhi sendiri perempuan dianggap hanya bawahan dari suami, perempuan adalah sosok yang harus menurut dan menghormati setiap keputusan suami ataupun laki-laki.

Oleh karena itu, salah satu contoh suku di Indonesia yang menganut Patriarkhi adalah suku Batak akan merasa sangat terpukul dan sengsara jika tidak memiliki anak laki-laki sebagai penerus marga dan kehormatan dalam keluarga.

(24)

Ketidaksetaraan yang terjadi antara perlakuan kepada perempuan dan laki- laki inilah yang akhirnya membuat munculnya gerakan Feminisme.Feminisme yaitu sebuah gerakan dari kaum perempuan untuk memperjuangkan kedudukannya dan memperjuangkan perlakuan terhadap perempuan itu sendiri yang dianggap tidak pantas.

Demikian hal nya apa yang akan penulis bahas dari film ini yaitu bagaimana perempuan dalam film yang diperlakukan tidak setara dengan laki-laki dan mereka harus menanggung banyak kesakitan karena harus menerima kodrat nya sebagai seorang perempuan yang terlahir dalam masyarakat yang menganut patriarkhi. Perempuan-perempuan dalam film ini juga memiliki kedudukan dan perannya dalam keluarga dan masyarakat yang menempatkan perempuan kedalam keadaan tidak dapat memilih harus menjadi apa karena kebiasaan dan adat yang berkembang menempatkan perempuan sebagai seseorang yang dapat ditindas untuk kepentingan pribadi. Seperti kutipan dari dialog yang ada di film :

Data:

我们都是女人,生下来注定是要离开家的。

Wǒmen dōu shì nǚrén, shēng xiàlái zhùdìng shì yào líkāi jiā de.

Kita ini wanita, kita dilahirkan untuk meninggalkan keluarga kita.

Hal ini lah yang akhirnya membuat perempuan dalam film ini memiliki keinginan melawan ketidakadilan yang dirasakan seperti menggunakan

Laotong( 老 同 ) dan berkomunikasi menggunakan Nu Shu ( 女 书 ) untuk

mendapatkan kasih sayang dan kepuasan bersosialisasi walaupun perlawanan itu tidak dapat di pertimbangkan oleh orang-orang disekeliling mereka sebagai pihak- pihak yang terlibat.

(25)

Penindasan yang dialami tokoh perempuan dalam film juga berdampak kepada cara berpikir mereka terhadap kehidupan. Penindasan yang mereka alami juga sudah dimulai sejak mereka kecil contohnya seperti tradisi “Pengikatan

Kaki” 缠 腿 (Chán tuǐ) pada perempuan di masyarakat Tiongkok pada zaman

itu.Dalam film ini sendiri diceritakan bahwa, tradisi Chantui ini merupakan cara bagi seorang perempuan dianggap berharga sehingga akan mendapat jodoh serta kehidupan yang lebih baik.Tradisi itu masih awal dari tradisi-tradisi lainnya yang digambarkan dengan jelas di dalam film ini bahkan ketika maish awal durasi film.

Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti mengenai kehidupan perempuan dalam film Snow Flower and The Secret Fan yang mengalami ketidaksetaraan dalam perlakuan dalam keluarga dan masyarakat.

Tokoh perempuan dalam film ini juga menunjukkan perasaan mereka terhadap penindasan dan ketidaksetaraan itu sendiri dengan mengungkapkan pendapat mereka.Salah satu contohnya dengan keberadaan Laotong dan Nu Shu.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka permasalahan dalam penelitian ini dapat di rumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah ketidaksetaraan terhadap kaum perempuan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret Fan?

2. Bagaimanakah bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret Fan?

(26)

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah ini bermanfaat agar penulis lebih memfokuskan kajian pada satu kajian saja yang akan menjawab apa yang akan dibahas dalam rumusan masalah dan pembahasan tidak melebar kemana-mana. Oleh karena itu penulis membatasi pembahasan yaitu hanya pada tokoh perempuan yang hidup pada masa dinasti saja terkhususnya Xue hua danBai he dalam hal-hal berikut :

1. Ketidaksetaraan terhadap kaum perempuan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret Fan

2. Bentuk

perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film S now Flower and The Secret Fan

1.4 Tujuan Penelitian

Sudah dijelaskan di dalam latar belakang bahwa karya sastra bukan hanya bersifat menghibur, memberi informasi ataupun hanya sebagai suatu karya yang indah saja.Karya sastra juga merupakan cerminan fenomena kehidupan yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri. Termasuk juga film yang merupakan representasi kehidupan masyarakat pada umumnya.

Penelitian ini pun ada dengan tujuan untuk mengetahui :

1.

Ketidaksetaraan terhadap kaum perempuan digambarkan dalam film Snow

Flower and The Secret Fan.

2.

Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film S now Flower and The Secret Fan.

(27)

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoritis

Menambah pengetahuan mengenai bagaimana feminisme digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret fan.Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai tinjauan pustaka untuk penelitian berikutnya.

1.5.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan memberikan dampak positif bagi pembaca yaitu mengetahui bagaimana peran seorang perempuan pada zaman yang dikisahkan di dalam film, membandingkannya dengan zaman sekarang, dan bagaimana eksistensi perempuan itu sendiri di dalam film.

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Dalam bab ini akan di bahas mengenai konsep yaitu gagasan-gagasan yang merupakan gambaran dari apa yang penulis kaji. Dalam konsep ini dijelaskan dan dipaparkan apa yang menjadi maksud dari judul skripsi ini yang akan menuntun penulis untuk membahas rumusan masalah. Di bawah ini adalah penjelasan mengenai Sastra, Film, Tokoh, Alur, dan Feminisme.

2.1.1 Sastra

Sastra, sebagai bidang pengetahuan merupakan sesuatu yang paling cocok dengan pengalaman-pengalaman manusia, oleh karena itu karya sastra sering disebut sebagai cermin masyarakat (Endraswara, 2017:73). Sastra merupakan suatu bidang yang berasal dari hasil pemikiran manusia, sastra mencerminkan bagaimana kehidupan nyata dari masyarakat itu sendiri melalui hasil karya sastra.

Meskipun sastra bersifat fiksi yaitu dengan cerita yang merupakan imajinatif, namun dalam porsinya mencakup tentang kehidupan sebenarnya.

Seorang filsuf terkenal bernama Plato berasumsi bahwa sastra adalah refleksi dari masyarakat yang merupakan bentuk realitas dunia yang terbagi menjadi dua yaitu dunia ide dan dunia benda-benda (Anwar, 2015:2). Perspektif Marxis yaitu : (1) sastra bersifat epiphenomenon (fenomena zaman); (2) sastra adalah refleksi kehidupan pengarang pada masanya; (3) sastra adalah produk

(29)

eksternal yang dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan sosial tertentu (Anwar, 2015:103).

Ada tiga hal yang saling memiliki keterkaitan yaitu sastrawan, sastra, dan masyarakat sehingga ketiganya memiliki hubungan timbal balik dan memiliki hubungan sangat erat satu sama lain (Suaka, 2014:16).

2.1.2 Film

Film adalah salah satu media komunikasi dan hiburan dalam bentuk audio visual yang menawarkan tontonan berupa lakon mengenai kehidupan masyarakat yang ada. Berbeda dengan drama atau teater yang dipentaskan diatas panggung, film tampil di layar kaca televisi dan di zaman modern ini bisa kita tonton melalui berbagai wahana. Film, secara umum dibagi atas dua unsur utama pembentuknya yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif merupakan bahan atau materi yang akan diolah, sedangkan unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis pembentuk film (Harahap, 2019:2)

Menurut Dewojati (2012:2), unsur penayangan film yang berupa adegan merupakan sebuah karya seni, sedangkan unsur naratif yang berupa teks merupakan karya sastra. Unsur naratif ini sendiri yaitu kalimat-kalimat yang tersusun dengan baik sebagai bagian dari film itu sendiri yaitu dialog antar tokoh yang akhirnya menciptakan alur cerita yang baik. Sedangkan karya seni nya yaitu bagaimana hasil dari audio visual yang akhirnya ditayangkan dan dinikmati oleh komsumen dan memiliki nilai estetika (Harahap, 2019:2).

(30)

2.1.3 Tokoh

Tokoh dalam novel adalah pemeran yang ambil bagian dalam cerita di novel.Tokoh berperan secara penuh dalam membentuk suatu cerita yang dinamis dan runtut. Menurut Panuti-Sudjiman, Cerita rekaan pada dasarnya bercerita mengenai seorang individu atau kelompok yang di sebut tokoh. Yang dimaksud tokoh cerita ialah inividu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita.Sebagai subjek yang berperan aktif dalam cerita, maka tokoh-tokoh memiliki watak dan karakteristik tertentu (Sugihastuti, 2017:50).

Penulis tertarik mengkaji lebih kepada tokoh perempuan, tokoh perempuan tentu saja adalah tokoh-tokoh yang berperan di dalam cerita berjenis kelamin perempuan. Hal ini menarik karena:

1. Kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra masih di dominasi oleh kaum laki-laki

2. Secara anggapan banyak orang bahwa perempuan adalah kaum yang tertinggal daripada laki-laki baik itu dalam pendidikan, pekerjaan, peran, dan juga ekonomi. (Sugihastuti, 2017:15)

Tokoh perempuan juga sering menjadi korban dari perbedaan gender yang membuat perempuan tidak mempunyai kekuatan untuk lebih daripada laki-laki.

Perbedaan gender ialah perbedaandari atribut-atribut sosial, karakteristik, perilaku, penampilan, dan banyak aspek lainnya (Sugihastuti, 2017:24).

(31)

2.1.4 Alur

Menurut Nurgiyantoro (2005: 113), alur adalah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.

Alur adalah unsur pembangun cerita yang dilihat dari awal sampai akhir, yaitu adalah jalan cerita. Kita dapat melihat cerita dengan beruntut sampai kepada penyelesaiannya yaitu dengan adanya alur. Jika alur tidak ada maka cerita akan berjalan dengan tidak teratur sehingga awalan dan akhiran tidak akan memiliki keterkaitan satu sama lain.

Menurut Stanton (2012: 28), alur merupakan tulang punggung cerita, karena tidak ada cerita yang dapat dimerngerti seutuhnya tanpa adanya alur yang merupakan peristiwa-peristiwa yang saling berkait, berhubungan saatu sama lain, dan saling berpengaruh, selain itu alurhendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, menciptakan perasaan penasaran yang dimiliki oleh konsumen.

Oleh karena itu, penelitian ini juga dilihat dari alur berjalannya cerita dalam film sehingga dapat ditemukan dimanakah letak setiap pembahasan dari rumusan masalah terdapat.

2.1.5 Feminisme

Feminim atau feminitas lebih erat kaitannya dengan kepribadian dan gender, sementara feminisme adalah gerakan yang mengedepankan para kaum feminitas sendiri.

(32)

Gerakan feminis sendiri berasal dari analisis, ideologi, paradigma, serta teori yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu memperjuangkan nasib kaum perempuan dan kesetaraan manusia (Hanum, 2018:71).

2.2 Landasan Teori

Teori adalah pisau bedah yang digunakan untuk menemukan permasalah yang ada dan akhirnya dapat memecahkan permasalahan tersebut dalam penelitian.

Landasan teori yang digunakan adalah landasan teori feminisme yang akan mengupas rumusan masalah dalam film Snow Flower and The Secret Fan.

2.2.1 Aliran dalam Feminisme

a. Gerakan Feminis Gelombang Pertama

Gerakan feminis gelombang pertama ini dimulai pada akhir abad ke-17 yang diawali dengan adanya karya Mary Wollstonecraft dengan judul

VindicationRights of Woman pada tahun 1972. Karya ini sendiri berisi tentang

kekacauan social dan juga politik yang dikarenakan oleh revolusi Perancis.Gerakan feminis gelombang pertama lebih menekankan kepada perjuangan kaum perempuan dalam hal pengetahuan atau juga sering kita sebut dengan intelektual dan juga rasionalitas.Pada gerakan feminis gelombang pertama ini juga memperjuangkan hak dan kesetaraan hak perempuan terkhususnya dalam bidang hak pilih dalam politik dan pada bidang ekonomi (Hanum, 2018:72).

(33)

Adapun beberapa aliran feminisme pada gerakan feminis gelombang pertama adalah sebagai berikut :

o Feminisme Liberal

Perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dalam hal pendidikan, intelektual, serta rasionalitas.Perbedaan antara laki-laki dan perempuan juga terletak pada kemampuan kerja dan tanggungjawab.Pada akhirnya kaum perempuan menjadi tersubordinasi dan tertindas dalam kehidupan sosial dan kebudayaan. Para penganut feminisme liberal memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan terutama dalam mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, mendapatkan kesempatan kerja dalam rangka perkembangan ekonomi dan tanggungjawab yang sama (Hanum, 2018:72).

o Feminisme Radikal

Dalam pandangan aliran ini, perempuan dan laki-laki dibatasi dengan adanya budaya patriarkhi yang dianut oleh masyarakat.Sehingga kaum perempuan termarginalisasi dan tertindas oleh karena adanya system patriarkhi ini sendiri.Laki-laki dianggap sebagai kaum yang paling berkuasa dan paling utama terutama dalam menentukan kebijakan-kebijakan.Oleh karena itu, kaum feminisme radikal memperjuangkan hak dan diakui nya keberadaan perempuan dalam mengambil kebijakan-kebijakan serta perempuan juga memiliki kekuatan yang dapat dipertimbangkan dalam masyarakat.Dalam pandangan feminisme

(34)

radikal juga berusaha memperjuangkan hak perempuan yang tertindas oleh karena sistem patriarkhi.

o Feminisme Marxis

Aliran ini memiliki pandangan bahwa perempuan tertindas oleh karena adanya eksploitasi kelas dalam cara produksi.Perempuan dan laki-laki dibedakan oleh kelas sosial dan juga beban kerja serta peran, sehingga perempuan tersubordinat.Dalam aliran ini laki-laki mendapatkan kedudukan lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hanya dianggap sebagai buruh dan tidak memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi.Jadi aliran Marxis berusaha untuk memperjuangkan perempuan dalam melawan kelas-kelas yang sudah tercipta dan memperjuangkan hak perempuan untuk keluar dari ketertindasan oleh karena perbedaan kelas dan beban kerja (Hanum, 2018:73-74).

o Feminisme Sosialis

Aliran ini memiliki pandanga bahwa perempuan bukan hanya tertindas oleh karena pertentangan kelas tetapi juga ditambah dengan sistem patriarkhi.Dalam aliran ini perempuan hanya dianggap sebagai pihak yang mengerjakan hal-hal di rumah seperti mengurus anak, mengurus dapur, mengurus suami, dan pekerjaan- pekerjaan domestik saja.Aliran feminis sosial memperjuangkan perempuan dalam hal meningkatkan kesadaran kelas dan meningkatkan kualitas dan kuantitas keterlibatan perempuan dalam mengambil keputusan (Hanum, 2018:74).

(35)

b. Gerakan Feminis Gelombang Kedua

Pada gerakan feminis gelombang kedua ini memperjuangkan pembebasan perempuan dengan cara yang bersifat kolektif dan revolusioner agar memberikan dorongan kepada perempuan untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, memiliki identitas, dan keutuhan diri. Maka dari itu perempuan akan beranjak dari aktifitas yang sifatnya praktis menuju kepada kegiatan yang lebih teoritis (Hanum, 2018:76-77).

Di bawah ini adalah beberapa aliran feminis pada gelombang kedua yaitu : o Feminis Psikoanalis

Dalam aliran ini memiliki pemikiran bahwa perempuan dalam bertindak ditentukan oleh cara berpikir dan juga psike perempuan. Kaum laki-laki menganggap bahwa perempuan memiliki kecemburuan secara fisik terhadap laki- laki yaitu dikarenakan memiliki dan tidak memiliki.Hal yang dikatakan disini adalah penis envy atau kecemburuan terhadap penis.Kaum laki-laki memiliki pandangan bahwa kaum perempuan memiliki rasa ingin memiliki hal yang ada pada laki-laki.Aliran feminis psikoanalis ini menolak doktrin determinasi biologis.

o Feminis Eksistensialis

Gerakan ini berawal dari dua karya dari filsuf Perancis yaitu Being and

Nothingness karya Jean Paul Sartre dan The Second Sex karya Simone De

Beauvouir.Dari kedua karya ini menggambarkan keadaan dimana perempuan dianggap sebagai Liyan, dan keberadaannya harus disesuaikan dengan laki- laki.Keberadaan perempuan berbeda dengan keberadaan laki-laki sehingga hal ini

(36)

membuat laki-laki harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya.Aliran ini memperjuangkan eksistensial feminis (Hanum, 2018:77-78).

c. Gerakan Feminis Gelombang Ketiga

Feminis gelombang ketiga juga disebut dengan postfeminisme.Adanya feminisme gelombang ketiga ini bukan mengartikan perkembangan pemikiran tentang femisnis berakhir, pemikiran feminis berkembang hingga sekarang ini.

Beberapa aliran feminis gelombag ketiga adalah sebagai berikut :

o Feminis Posmodern

Feminis postmodern ini sendiri memberikan suatu penjesalan mengapa perempuan menjadi pihak yang teropresi dan langkah-langkah yang dapat perempuan ambil untuk memperoleh kebebasan.Pemikiran feminis ini dipengaruhi oleh sebuah gagasan Sang Liyan Simone de Beauvoir, Dekonstruksi Jacques Derida, dan Psikoanalisis acques Lacan.Dalam pemikiran feminis ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan seperti “mengapa perempuan menjadi the

second sex?” dan mengapa “perempuan disebut sebagai Liyan?” (Hanum,

2018:81).

o Feminis Multikultural dan Global

Feminis Multikultural dan Global ini memiliki pemikiran menentang

“esensialisme perempuan” yang berkaitan dengan ras dan kelas, sehingga feminis ini memperjuangkan perempuan dalam kedudukannya agar mendapatkan identitas

(37)

yang lain yang menyangkut dengan ras dan kelas yang mendominasi (Hanum, 2018:82).

o Ekofeminisme

Salah satu tokoh ekofeminisme yaitu Karen J. Warren yang mengungkapkan cara berpikir patriarkis dan hierarkis yaitu perempuan telah dinaturalisasi dan alam telah difeminisasi. Pandangan ini dapat diungkapkan bahwa perempuan sudah disamakan dengan alam.Maka ketika laki-laki menjadi penguasa alam berarti juga laki-laki menguasai perempuan.Sedangkan pemikiran dari ekofeminis juga menyatakan bahwa perempuan lebih memahami alam sehingga memiliki rasa peduli yang tinggi sebagai makhluk ekologi yang unik (Hanum, 2018:82).

2.2.2 Teori Feminisme Karl Marx

Feminis Marxis meyakini bahwa tindakan ataupun opresi terhadap perempuan dipengaruhi oleh produk dari struktur politik, sosial, dan ekonomi dimana tempat ia hidup. Laki-laki dan perempuan diibaratkan seperti majikan dan pekerja. Dimana hubungan keduanya dibedakan oleh alat-alat produksi, yaitu beban kerja yang berbeda sehingga perempuan teropresi. Dalam hal produksi berbicara tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang menguntungkan.

Majikan sebagai pihak yang memiliki alat produksi mempunyai monopoli terhadap alat produksi. Oleh karena itu, pekerja tidak memiliki alat produksi harus bekerja pada yang memiliki alat produksi(Tong, 1998:139-143).

(38)

Feminis Marxis juga memandang adanya kesadaran kelas yang akhirnya menyebabkan orang-orang tereksploitasi bahwa mereka bebas melakukan sama seperti orang-orang yang mengeksploitasinya. Dan dalam pemikiran feminis Marxis ini perempuan bisa saja memiliki kesadaran kelas sebagai pekerja, contohnya pekerjaan rumah tangga sudah dianggap sebagai pekerjaan. Feminis Marxis juga memiliki pemikiran untuk menciptakan dunia dimana perempuan memiliki nilai dan juga mengalami dirinya sebagai manusia secara utuh sehingga tidak menjadi pihak yang terfragmentasi(Tong, 1998:144-147).

Feminis Marxis juga memiliki pandangan bahwa melihat adanya perbedaan kelas antara majikan dan pekerja, maka suatu saat akan ada yang menjadi budak untuk yang lainnya. Menghindari hal ini maka feminis Marxis memiliki tujuan menjadikan perempuan dan laki-laki dapat bersama-sama membangun struktur sosial dan menjadikan perempuan sebagai manusia yang bebas dan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beban kerja dan tanggung jawab. Friedrich Engels merupakan sahabat Karl Marx yang memiliki pemikiran yang sama dalam bukunya yang berjudul The Origin of the Family, Private Property an the State mengatakan bahwa semakin pentingnya pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki maka status perempuan dalam masyarakat juga menurun. Laki-laki mengambil alih rumah tangga dan seorang istri hanya dianggap sebagai sesuatu yang merupakan kepemilikan laki-laki. Perempuan hanyalah pekerja yang menyewakan tubuhnya dan sekadar alat produksi anak-anaknya. Engels mengatakan bahwa perempuan dibebani pekerjaan rumah tangga sementara laki-laki mendapat pekerjaan yang lebih produktif. Perempuan dipercayakan mengerjakan pekerjaan

(39)

rumah tangga yang pada umumnya tidak dianggap sebagai pekerjaanyang sungguh-sungguh (Tong, 1998:151-155).

Feminis marxis memperjuangkan agar tidak ada pembagian tugas beban kerja berdasarkan jenis kelamin dan feminis Marxis aktif dalam gerakan nilai setara. Sehingga perempuan tidak hanya dianggap sebagai orang yang tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan, pekerjaan yang besar, ataupun tidak diperhitungkan sebagai pihak yang penting. Feminis Marxis berusaha untuk menghilangkan perbedaan kelas dan penindasan karena kelas yang berbeda.

2.3 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka bertujuan untuk melihat apakah objek yang diteliti sudah pernah diteliti sebelumnya agar tidak terjadi peniruan. Dalam hal ini akan dicantumkan beberapa penelitian sebelumnya yang menjadi bahan acuan dan referensi untuk mengerjakan penelitian ini baik itu berkaitan dengan maskulinitas maupun feminimisme. Berikut adalah daftar penelitian yang menjadi tinjauan pustaka :

Zubaidah(2016) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Feminisme Pada

Novel Impian di Bilik Merah 1 Karya Cao Xueqin” yang mendeskripsikan struktur

cerita yang terdapat dalam novel Impian di Bilik Merah Karya Cao Xueqin dan mendeskripsikan kandungan feminisme yang terkandung dalam novel Impian di

Bilik Merah karya Cao Xueqin. Penelitian ini membantu dalam hal mempelajari

teori karena menggunakan teori yang sama dansama-sama meneliti tentang feminisme.

(40)

Silalahi (2018) dalam skripsinya yang berjudul “Interaksi Sosial Tokoh

Utama Dalam Novel Xue Hua Mi ShanKarya Lisa See: Tinjauan Sosiologi Sastra”. Skripsi ini memang tidak meneliti film tetapi meneliti novel yang

menjadi dasar adaptasi dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan interaksi sosial tokoh utama dalam novel Xue

Hua Mi Shan karya Lisa See. Penelitian ini juga tidak meneliti feminisme,

penelitian ini meneliti tentang interaksi sosial antar tokoh utama saja sedangkan yang penulis teliti adalah feminisme yang terkandung dalam film dengan judul yang sama.

Arumi (2017) dalam skripsi nya yang berjudul “Feminisme Dalam Novel

Mawar Jepang Karya Rei Kimura”. Dalam skripsi ini dideskripsikan pokok

pikiran feminisme yang terdapat dalam novel Mawar Jepang karya Rei Kimura dan pengungkapan pokok-pokok pikiran feminisme dalam novel Mawar Jepang karya Rei Kimura. Oleh karena itu, skripsi ini sangat membantu penulis dalam memahami lebih dalam mengenai pemikiran-pemikiran feminism.

Lubis (2017) dalam skripsinya yang berjudul “Peran Dan Posisi Serta

Perjuangan Perempuan Pada Novel Liang Shanbo Yu Zhu Yingtai Karya Zhang Henshui”. Dalam skripsi ini mendeskripsikan peran dan posisi perempuan pada

novel Liang Shanbo yu Zhu Yingtai karya Zhang Henshui dan perjuangan tokoh anak perempuan pada novel Liang Shanbo yu Zhu Yingtai karya Zhang Henshui.

Skripsi ini member sumbangsih kepada penulis untuk lebih mengerti dalam mendeskripsikan peran dan posisi perempuan serta perjuangan tokoh perempuan yang termasuk kedalam gerakan feminisme.

(41)

Pratiwi (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Feminisme Tokoh

Utama Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami”. Dalam

skripsi ini meneliti tentang watak tokoh A dalam novel Pengakuan Eks Parasit

Lajang dan sikap tokoh A untuk menentang ketidakadilan yang ia anggap

menimpa kaum perempuan. Ada persamaan yang terdapat dalam skripsi ini dengan penelitian, yaitu watak dan sikap tokoh dalam menentang ketidakadilan sehingga membantu penulis dalam memahami kajian tersebut.

Jizhen (2019) dalam jurnalnya yang berjudul “女性创业者吅法性的构建与 重 塑 过 程 研 究”.Li Jizhen dari 工 商 管 理 menuliskan tentang legitimasi pengusaha perempuan, didalamnya juga dicantumkan mengenai peran feminis dalam mengolah usaha. Penjelasan mengenai pembedaan pekerja laki-laki dengan perempuan yang biasa dalam masyarakat juga di cantumkan dalam jurnal ini.

Jurnal ini membantu penulis dalam mengerjakan pembahasan yaitu melihat dan membandingkan apa yang ada di dalam jurnal dengan apa yang ada di dalam film yang sedang penulis teliti.

Jun (2019) dalam jurnalnya yang berjudul “女性主义地理学观及其思想史 意义” (Feminist views on geography and its role in disciplinary intellectual history). Sun Jun bersama teman-temannya menuliskan tentang konstruksi pandangan geografi feminis dari tiga aspek ontologi, epistemologi dan metodologi. Menjelaskan mengenai bagaimana hubungan perempuan dengan laki- laki, masyarakat dan keluarganya di dalam kehidupan sosial.Jurnal ini memberi sumbangsih kepada penulis dalam menulis pembahasan.

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah tahap dimana peneliti memperoleh data untuk diteliti dan langkah-langkah apa yang dipakai untuk meneliti suatu objek penelitian. Dalam hal ini penulis memakai metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang tidak menggunakan perhitungan atau diistilahkan dengan penelitian ilmiah yang menekankan pada karakter alamiah sumber data (Moleong, 2002 : 2).

3.1 Data dan Sumber Data 3.1.1 Data

Penelitian ini mengambil data dari dialog dan lakon yang terdapat dalam film Snow Flower and the Secret Fan yang dirilis pada tahun 2011.

3.1.2 Sumber Data

Sumber data untuk penelitian ini adalah film Snow Flower and The Secret

Fan karya sutradara dengan data sebagai berikut :

Judul:Snow Flower and The Secret Fan Sutradara :Wayne Wang

Pemeran :Gianna Jun, Li Bingbing, Archie Kao, Vivian Wu, dan Hugh Jackman Rilis : 13 Oktober 2011

Durasi : 1 Jam 44 Menit 16 Detik

(43)

Produksi :IDG China Media

Gambar 3.01 Cover Film

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang dikerjakan penulis dalam mengumpulkan data adalah yang pertama menontonfilm Snow Flower and the Secret Fan secara keseluruhan untuk mengetahui detail cerita dan kehidupan tokoh dalam film tersebut. Setelah itu maka film tersebut akan ditonton berulang kali dan memahami peran tokoh-tokoh perempuan di dalam film tersebut. Langkah selanjutnya adalah mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan judul dan mengupas satu persatu adegan yang dianggap menarik dan sesuai dengan pembahasan.

3.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses pemaknaan dan merupakan puncak penelitian. Analisis data sering disebut sebagai kunci penelitian sastra karena itu teknik analisis yang digunakan perlu mewadahi keadaan yang diperlukan dalam penelitian (Endraswara, 2011:112).

(44)

Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik deskriptif kualitatif yaitu dengan melihat dan meneliti data-data yang sudah ada terutama film Snow Flower

and the Secret Fandan mendeskripsikan bagian-bagian yang menunjukkan

ketidaksetaraan yang terjadipada tokoh perempuan dan juga bagaimana peruangan tokoh perempuan dalam menghadapi ketidaksetaraan yang ada dalam film.

Berikut adalah teknik analisis yang penulis pakai :

1. Mengumpulkan data yang diperlukan seperti film, buku, jurnal, dan skripsi 2. Menonton film yang akan diteliti

3. Menentukan rumusan masalah yang akan dikupas

4. Menonton film berulangkali untuk menemukan ketidaksetaraan pada tokoh perempuan dalam film

5. Menganalisis data (film) sesuai rumusan masalah

6. Mencantumkan hasil penelitian dari film yang sesuai dengan rumusan masalah dengan teori Karl Marx melalui setiap adegan yang berkaitan dalam film dengan memasukkan gambar hasil tangkapan layar tiap adegan dan dialog dalam film.

Bagan 1. Tenik analisis data yang penulis gunakan Pengumpulan Data

Menonton Film Berulang Kali (Meneliti Film)

Hasil Penelitian

(Pembahasan) Menganalisis data

Mencari Rumusan Masalah

Menonton Film

(45)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam

Film Snow Flower and The Secret Fan

Terdapat beberapa ketidaksetaraan yang dialami oleh kaum perempuan di dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Ketidaksetaraan itu dapat dilihat dari perbedaan beban kerja dan perbedaan kelas sosial karena pemikiran masyarakat patriarkhi. Berikut adalah hasil yag sudah diperoleh setelah menganalisis film yang akan disajikan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan

NO. Ketidaksetaraan Scene

dalam Film Data Dialog Monolog 1.

Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan dalam Keluarga

00:27:25 1 

00:28:00 2 

2.

Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga

00:13:57 3 

00:15:01 4 

00:13:40 5 

01:02:32 6 

01:14:39 7 

3.

Perempuan adalah Penghasil Keturunan dan untuk Kepentingan Laki-laki

00:10:57 8 

00:30:45 9 

00:31:38 10 

4.

Perempuan Hanya Mengerjakan Pekerjaan Domestik yang Tidak

00:22:13 11 

00:54:26 12 

01:17:47 13 



(46)

5.

Perempuan Terkekang Karena Perbedaan Kelas dalam Keluarga

00:23:34 15 

00:31:38 16 

4.1.2 Proses Analisis Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi

ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret

Fan

Pada rumusan masalah pertama telah dibahas bentuk ketidaksetaraan yang dialami oleh Xue Hua dan Bai He, yaitu ada 5 hasil analisis yang membuktikan adanya ketidaksetaraan yang dihadapi. Xue Hua dan Bai He mengambil tindakan dalam menghadapi ketidaksetaraan tersebut. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil analisis bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan dalam film Snow Flower and The Secret Fan:

Tabel 4.1.2 Proses Analisis Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow

Flower and The Secret Fan

NO. Ketidaksetaraan Scene

dalam Film Data Dialog Monolog 1.

Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan dalam Keluarga

00:27:25 1 

00:28:00 2 

2.

Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga

00:13:57 3 

00:15:01 4 

00:13:40 5 

01:02:32 6 

01:14:39 7 

3.

Perempuan adalah Penghasil Keturunan dan untuk Kepentingan Laki-laki

00:10:57 8 

00:30:45 9 

00:31:38 10 



(47)

Mengerjakan Pekerjaan Domestik yang Tidak Diperhitungkan

00:54:26 12 

01:17:47 13 

00:27:43 14 

5.

Perempuan Terkekang Karena Perbedaan Kelas dalam Keluarga

00:23:34 15 

00:31:38 16 

4.2 Pembahasan

4.2.1 Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan

Hampir semua kalangan masyarakat patrialis mengetahui bahwa perempuan selalu mendapat tempat kedua dibanding dengan seorang laki-laki. Dalam praktek kehidupan patrialis bahkan masih ada sampai sekarang, contohnya saja keberadaan anak laki-laki dalam sebuah keluarga sebagai pembawa nama keluarga dan penerus bagi keluarga berbeda dengan seorang perempuan yang akan hidup dengan orang lain selepas menikah.

Hal inilah yang akhirnya memunculkan banyak perbedaan perlakuan masyarakat terhadap kaum perempuan :

4.2.1.1 Perbedaan Beban Kerja dan Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin

Perbedaan fisik laki-laki dan perempuan telah mampu membentuk pola pikir pada masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang hanya dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Seberat apapun pekerjaan itu, pekerjaan rumah tangga hanya dianggap sebagai pekerjaan “non-produktif” yang tidak menghasilkan produksi apapun sehingga pekerjaan ini diremehkan. Sebaliknya, seorang laki-laki yang pekerjaannya menghasilkan upah untuk memenuhi

(48)

kebutuhan keluarga dianggap “produktif”. Perempuan sering dianggap sebagai anak tiri yang akan terus dibutuhkan bekerja tanpa dibayar dan hal ini terjadi karena terjadinya peremehan terhadap pekerjaan perempuan. Pekerjaan itu contohnya seperti memasak, mengandung, membersihkan, dan mengasuh anak merupakan pekerjaan yang sewajarnya dilakukan oleh seorang perempuan. Dalam pandangan masyarakat kapitalis sendiri perempuan hanyalah pekerja yang akan mendapat upah sangat rendah. Saat ada perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka tetap harus mengerjakan pekerjaan di dalam rumah dan bahkan masyarakat kapitalis memiliki pandangan jika harus ada yang berhenti bekerja maka orang itu adalah perempuan, karena upah perempuan dianggap lebih rendah.

Berikut adalah hasil analisis dalam film Snow Flower and The Secret Fan yang menunjukkan adanya perbedaan beban kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan :

4.2.1.1.1 Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan dalam Keluarga Data 1:

Gambar 4.01

Keputusan ditangan laki-laki

(49)

Dialog

陆先生 : 太阳,水和柴火,我们都可以不出去

买,可这盐巴就不一样了。

夫人 : 现在世道这么乱,我这也是为了我们

儿子。他去那么老远的地方。

陆先生 : 妇道人家,你懂什么!这个家还得我

说了算!

夫人 : 顺从顺从顺从!想要干什么就干什么

吧!

Lù xiānshēng : Tàiyáng, shuǐ hé cháihuǒ, wǒmen dōu kěyǐ bù chūqù mǎi, kě zhè yánbā jiù bù yīyàngle.

Fūrén : Xiànzài shìdào zhème luàn, wǒ zhè yěshì wèile wǒmen er zi. Tā qù nàme lǎo yuǎn dì dìfāng.

Lù xiānshēng : Fùdào ren jiā, nǐ dǒng shénme! Zhège jiā hái dé wǒ shuōle suàn!

Fūrén : Shùncóng shùncóng shùncóng! Xiǎng yào gànshénme jiù gànshénme ba!

Tuan Lu : Matahari, air dan kayu bakar gratis. Tapi garam adalah barang dagangan.

Nyonya : Pemberontak Taiping membuat kekacauan dimana-mana. Aku khawatir dengan anak kita yang berdagang di tempat yang jauh..

Tuan Lu : Apa yang wanita ketahui tentang hal- hal seperti itu?Dalam rumah ini, aku yang membuat keputusan!

Nyonya : Patuh… Patuh…. Patuh !Ia akan lakukan apa yang ia inginkan.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:27:25)

Pada adegan dan dialog diatas, Bai he sedang mendengarkan percakapan orangtua suaminya secara diam-diam. Dalam percakapan itu mertua laki-laki Bai

he bercerita tentang bisnis dan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh putra

mereka.Mertua perempuan dari Bai he menyampaikan pendapatnya kepada suaminya, tetapi laki-laki itu justru membentak istrinya dan mengatakan bahwa hal-hal seperti itu perempuan tidak akan tahu dan bukan merupakan urusan

(50)

perempuan, dan perempuan tidak berhak membuat keputusan didalam rumah mereka.

Dalam hal ini perempuan hanya dapat menghindar dan tidak membantah,

Bai he yang menyaksikan pembicaraan tersebut juga hanya bisa diam dan

menunduk.Percakapan kedua mertua Bai he menunjukkan bahwa hak perempuan dalam keluarga sangat dibatasi, perempuan tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan. Bai he memikirkan suaminya yang akan pergi jauh untuk berdagang seperti apa yang telah didengarnya dari kedua mertuanya. Oleh karena itu, Bai he mengkhawatirkan suaminya yang akan pergi ke tempat jauh untuk waktu yang lama. Tetapi bahkan untuk khawatir saja perempuan tidak boleh merasakannya, hal ini menunjukkan batasan-batasan dalam “kepemilikan” dan “siapa yang memiliki” di dalam keluarga.Di bawah ini adalah adegan yang menjadi bukti bahwa perempuan dalam film juga memiliki batasan bukan hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam pemikiran yang harus disampaikan kepada orang lain.

Data 2 :

Gambar 4.02 Batasan untuk perempuan

(51)

Dialog

百吅丈夫 : 我和爹商量过了想用家里的。储蓄到

桂林去买盐。

百吅 : 那地方很远的安全吗?

百吅丈夫 : 女人不用操心外面的事情。

Bǎihé zhàngfū : Wǒ hé diē shāngliángguòle xiǎng yòng jiālǐ de. Chúxù dào guìlín qù mǎi yán.

Bǎihé : Nà dìfāng hěn yuǎn de ānquán ma?

Bǎihé zhàngfū : Nǚrén bùyòng cāoxīn wàimiàn de shìqíng.

Suami Bai he : Ayahku telah memberiku ijin untuk pergi ke Guilin untuk membeli garam.

Bai he : Tempat itu sangat jauh, apa aman?

Suami Bai he : Bukan urusan wanita untuk khawatir.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:28:00)

Dalam dialog diatas menunjukkan bahwa perempuan memiliki batasan- batasan di dalam rumah tangga. Suami Bai He mengatakan kepada Bai He “Bukan urusan wanita untuk khawatir” yang artinya seorang istri tidak diijinkan memiliki pemikiran yang tidak disetujui oleh suami mereka bahkan ketika pemikiran itu lebih tepat sekalipun. Perempuan menjadi pihak pekerja yang harus patuh dan mengikuti semua keputusan dari majikan, dan dalam hal ini menunjukkan bahwa laki-laki menjadi pihak majikan dan perempuan lebih tepat dikatakan sebagai budak dalam keluarga nya. Maka, ketika pihak majikan mengeluarkan keputusan, pihak pekerja yang merupakan kepemilikan majikan tidak boleh menentang.

Pendapat dan suara dari pekerja juga jarang dan hampir tidak didengar sebagai seuatu yang harus dipertimbangkan untuk diterapkan. Ketidaksetaraan dalam hal ini lah yang penulis temukan di dalam film Snow Flower and The Secret Fan ini.

(52)

Selain dari pengaruh pemikiran sosial ini dan juga pemikiran ingin menguasai yang diterapkan kepada perempuan, hal ini juga disebabkan oleh budaya masyarakat Patriarkhi yang masih sangat melekat dan hidup digambarkan di dalam film ini. Jika ingin melihat dampaknya terhadap perempuan yang ada dalam film ini tentang bagaimana perasaan mereka dan respon mereka ketika mendapatkan perlakuan ini kita dapat sama-sama melihat pada pembahasan selanjutnya, namun perempuan-perempuan dalam film menunjukkan rasa tertekan dan tidak bebas mengekspresikan dirinya di dalam keluarga. Semua yang dikerjakan oleh perempuan dalam film merupakan kendali dari suami dan keluarga dari suaminya, bahkan ketika mereka diatur untuk melahirkan anak laki- laki sebagai penerus keluarga.

4.2.1.1.2 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga Data 3 :

Gambar 4.03

Tradisi pengikatan kaki (Chan tui)

(53)

Dialog

百吅 : 妈妈,我什么时候可以去玩?

百吅妈妈 : 这比玩重要多了。你必须缠一双完美的小腿,

媒人才给你找到好婆家。

Bǎihé : Māmā, wǒ shénme shíhòu kěyǐ qù wán?

māmā : Zhè bǐ wán zhòngyào duōle.Nǐ bìxū chán yīshuāng wánměi de xiǎotuǐ, méiréncái gěi nǐ zhǎodào hǎo pójiā.

Bai he : Ibu, kapan aku bisa bermain?

Ibu Bai he : Lily, ini lebih penting. Kita harus membuat kakimu sempurna agar pencari jodoh bisa mencarikanmu suami yang baik.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:13:57)

Kehidupan masyarakat dalam sosial tidak lepas juga dengan adanya kebudayaan terutama yang melekat pada masyarakat itu sendiri, contohnya yaitu budaya patriarkhi. Dengan adanya perbedaan kelas yang terbentuk dalam masyarakat sehingga status dari seorang perempuan pun memiliki kriteria sendiri agar dapat mencapai kriteria dari pihak kelas yang lebih tinggi yaitu laki-laki.

Ketika status perempuan dalam masyarakat menurun dan menempati posisi bawahan dari laki-laki, maka banyak hal yang dilakukan oleh perempuan untuk dapat dipertimbangkan. Salah satu contoh yang diambil dalam film ini yaitu tradisi pengikatan kaki (Chan tui) yang dialami oleh Xue hua dan Bai he bahkan ketika usia mereka masih sangat belia.

Masa bermain Xue hua dan Bai he harus lenyap oleh karena kaki mereka harus terikat dan dipatahkan untuk mendapat bentuk kecil yang sempurna agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dalam film mengalami kekerasan fisik akibat mengikuti tradisi, dan bahkan dari

Gambar

Gambar 3.01  Cover Film
Tabel 4.1.1  Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan  dalam Film Snow Flower and The Secret Fan
Tabel  4.1.2  Proses  Analisis  Bentuk  perjuangan  kaum  perempuan  menghadapi  ketidaksetaraan  digambarkan  dalam  film  Snow  Flower and The Secret Fan
Gambar 4.02  Batasan untuk perempuan
+5

Referensi

Dokumen terkait