• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses pemaknaan dan merupakan puncak penelitian. Analisis data sering disebut sebagai kunci penelitian sastra karena itu teknik analisis yang digunakan perlu mewadahi keadaan yang diperlukan dalam penelitian (Endraswara, 2011:112).

Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik deskriptif kualitatif yaitu dengan melihat dan meneliti data-data yang sudah ada terutama film Snow Flower

and the Secret Fandan mendeskripsikan bagian-bagian yang menunjukkan

ketidaksetaraan yang terjadipada tokoh perempuan dan juga bagaimana peruangan tokoh perempuan dalam menghadapi ketidaksetaraan yang ada dalam film.

Berikut adalah teknik analisis yang penulis pakai :

1. Mengumpulkan data yang diperlukan seperti film, buku, jurnal, dan skripsi 2. Menonton film yang akan diteliti

3. Menentukan rumusan masalah yang akan dikupas

4. Menonton film berulangkali untuk menemukan ketidaksetaraan pada tokoh perempuan dalam film

5. Menganalisis data (film) sesuai rumusan masalah

6. Mencantumkan hasil penelitian dari film yang sesuai dengan rumusan masalah dengan teori Karl Marx melalui setiap adegan yang berkaitan dalam film dengan memasukkan gambar hasil tangkapan layar tiap adegan dan dialog dalam film.

Bagan 1. Tenik analisis data yang penulis gunakan Pengumpulan Data

Menonton Film Berulang Kali (Meneliti Film)

Hasil Penelitian

(Pembahasan) Menganalisis data

Mencari Rumusan Masalah

Menonton Film

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam

Film Snow Flower and The Secret Fan

Terdapat beberapa ketidaksetaraan yang dialami oleh kaum perempuan di dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Ketidaksetaraan itu dapat dilihat dari perbedaan beban kerja dan perbedaan kelas sosial karena pemikiran masyarakat patriarkhi. Berikut adalah hasil yag sudah diperoleh setelah menganalisis film yang akan disajikan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 4.1.1 Proses Analisis Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan

NO. Ketidaksetaraan Scene

dalam Film Data Dialog Monolog 1.

Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga dan untuk Kepentingan Laki-laki

5.

4.1.2 Proses Analisis Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi

ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow Flower and The Secret

Fan

Pada rumusan masalah pertama telah dibahas bentuk ketidaksetaraan yang dialami oleh Xue Hua dan Bai He, yaitu ada 5 hasil analisis yang membuktikan adanya ketidaksetaraan yang dihadapi. Xue Hua dan Bai He mengambil tindakan dalam menghadapi ketidaksetaraan tersebut. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil analisis bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan dalam film Snow Flower and The Secret Fan:

Tabel 4.1.2 Proses Analisis Bentuk perjuangan kaum perempuan menghadapi ketidaksetaraan digambarkan dalam film Snow

Flower and The Secret Fan

NO. Ketidaksetaraan Scene

dalam Film Data Dialog Monolog

Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga dan untuk Kepentingan Laki-laki

00:10:57 8 

00:30:45 9 

00:31:38 10 



Mengerjakan Pekerjaan

4.2.1 Ketidaksetaraan Terhadap Kaum Perempuan dalam Film Snow Flower and The Secret Fan

Hampir semua kalangan masyarakat patrialis mengetahui bahwa perempuan selalu mendapat tempat kedua dibanding dengan seorang laki-laki. Dalam praktek kehidupan patrialis bahkan masih ada sampai sekarang, contohnya saja keberadaan anak laki-laki dalam sebuah keluarga sebagai pembawa nama keluarga dan penerus bagi keluarga berbeda dengan seorang perempuan yang akan hidup dengan orang lain selepas menikah.

Hal inilah yang akhirnya memunculkan banyak perbedaan perlakuan masyarakat terhadap kaum perempuan :

4.2.1.1 Perbedaan Beban Kerja dan Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin

Perbedaan fisik laki-laki dan perempuan telah mampu membentuk pola pikir pada masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang hanya dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Seberat apapun pekerjaan itu, pekerjaan rumah tangga hanya dianggap sebagai pekerjaan “non-produktif” yang tidak menghasilkan produksi apapun sehingga pekerjaan ini diremehkan. Sebaliknya, seorang laki-laki yang pekerjaannya menghasilkan upah untuk memenuhi

kebutuhan keluarga dianggap “produktif”. Perempuan sering dianggap sebagai anak tiri yang akan terus dibutuhkan bekerja tanpa dibayar dan hal ini terjadi karena terjadinya peremehan terhadap pekerjaan perempuan. Pekerjaan itu contohnya seperti memasak, mengandung, membersihkan, dan mengasuh anak merupakan pekerjaan yang sewajarnya dilakukan oleh seorang perempuan. Dalam pandangan masyarakat kapitalis sendiri perempuan hanyalah pekerja yang akan mendapat upah sangat rendah. Saat ada perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka tetap harus mengerjakan pekerjaan di dalam rumah dan bahkan masyarakat kapitalis memiliki pandangan jika harus ada yang berhenti bekerja maka orang itu adalah perempuan, karena upah perempuan dianggap lebih rendah.

Berikut adalah hasil analisis dalam film Snow Flower and The Secret Fan yang menunjukkan adanya perbedaan beban kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan :

4.2.1.1.1 Perempuan Tidak Dapat Mengambil Keputusan dalam Keluarga Data 1:

Gambar 4.01

Keputusan ditangan laki-laki

Dialog yào gànshénme jiù gànshénme ba!

Tuan Lu : Matahari, air dan kayu bakar gratis. Tapi garam adalah barang dagangan.

Nyonya : Pemberontak Taiping membuat kekacauan dimana-mana. Aku khawatir dengan anak kita yang berdagang di tempat yang jauh..

Tuan Lu : Apa yang wanita ketahui tentang hal- hal seperti itu?Dalam rumah ini, aku yang membuat keputusan!

Nyonya : Patuh… Patuh…. Patuh !Ia akan lakukan apa yang ia inginkan.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:27:25)

Pada adegan dan dialog diatas, Bai he sedang mendengarkan percakapan orangtua suaminya secara diam-diam. Dalam percakapan itu mertua laki-laki Bai

he bercerita tentang bisnis dan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh putra

mereka.Mertua perempuan dari Bai he menyampaikan pendapatnya kepada suaminya, tetapi laki-laki itu justru membentak istrinya dan mengatakan bahwa hal-hal seperti itu perempuan tidak akan tahu dan bukan merupakan urusan

perempuan, dan perempuan tidak berhak membuat keputusan didalam rumah mereka.

Dalam hal ini perempuan hanya dapat menghindar dan tidak membantah,

Bai he yang menyaksikan pembicaraan tersebut juga hanya bisa diam dan

menunduk.Percakapan kedua mertua Bai he menunjukkan bahwa hak perempuan dalam keluarga sangat dibatasi, perempuan tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan. Bai he memikirkan suaminya yang akan pergi jauh untuk berdagang seperti apa yang telah didengarnya dari kedua mertuanya. Oleh karena itu, Bai he mengkhawatirkan suaminya yang akan pergi ke tempat jauh untuk waktu yang lama. Tetapi bahkan untuk khawatir saja perempuan tidak boleh merasakannya, hal ini menunjukkan batasan-batasan dalam “kepemilikan” dan “siapa yang memiliki” di dalam keluarga.Di bawah ini adalah adegan yang menjadi bukti bahwa perempuan dalam film juga memiliki batasan bukan hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam pemikiran yang harus disampaikan kepada orang lain.

Data 2 :

Gambar 4.02 Batasan untuk perempuan

Dialog

百吅丈夫 : 我和爹商量过了想用家里的。储蓄到

桂林去买盐。

百吅 : 那地方很远的安全吗?

百吅丈夫 : 女人不用操心外面的事情。

Bǎihé zhàngfū : Wǒ hé diē shāngliángguòle xiǎng yòng jiālǐ de. Chúxù dào guìlín

Suami Bai he : Ayahku telah memberiku ijin untuk pergi ke Guilin untuk membeli garam.

Bai he : Tempat itu sangat jauh, apa aman?

Suami Bai he : Bukan urusan wanita untuk khawatir.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:28:00)

Dalam dialog diatas menunjukkan bahwa perempuan memiliki batasan- batasan di dalam rumah tangga. Suami Bai He mengatakan kepada Bai He “Bukan urusan wanita untuk khawatir” yang artinya seorang istri tidak diijinkan memiliki pemikiran yang tidak disetujui oleh suami mereka bahkan ketika pemikiran itu lebih tepat sekalipun. Perempuan menjadi pihak pekerja yang harus patuh dan mengikuti semua keputusan dari majikan, dan dalam hal ini menunjukkan bahwa laki-laki menjadi pihak majikan dan perempuan lebih tepat dikatakan sebagai budak dalam keluarga nya. Maka, ketika pihak majikan mengeluarkan keputusan, pihak pekerja yang merupakan kepemilikan majikan tidak boleh menentang.

Pendapat dan suara dari pekerja juga jarang dan hampir tidak didengar sebagai seuatu yang harus dipertimbangkan untuk diterapkan. Ketidaksetaraan dalam hal ini lah yang penulis temukan di dalam film Snow Flower and The Secret Fan ini.

Selain dari pengaruh pemikiran sosial ini dan juga pemikiran ingin menguasai yang diterapkan kepada perempuan, hal ini juga disebabkan oleh budaya masyarakat Patriarkhi yang masih sangat melekat dan hidup digambarkan di dalam film ini. Jika ingin melihat dampaknya terhadap perempuan yang ada dalam film ini tentang bagaimana perasaan mereka dan respon mereka ketika mendapatkan perlakuan ini kita dapat sama-sama melihat pada pembahasan selanjutnya, namun perempuan-perempuan dalam film menunjukkan rasa tertekan dan tidak bebas mengekspresikan dirinya di dalam keluarga. Semua yang dikerjakan oleh perempuan dalam film merupakan kendali dari suami dan keluarga dari suaminya, bahkan ketika mereka diatur untuk melahirkan anak laki- laki sebagai penerus keluarga.

4.2.1.1.2 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik dari Budaya dan Keluarga Data 3 :

Gambar 4.03

Tradisi pengikatan kaki (Chan tui)

Dialog yīshuāng wánměi de xiǎotuǐ, méiréncái gěi nǐ zhǎodào hǎo pójiā.

Bai he : Ibu, kapan aku bisa bermain?

Ibu Bai he : Lily, ini lebih penting. Kita harus membuat kakimu sempurna agar pencari jodoh bisa mencarikanmu suami yang baik.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:13:57)

Kehidupan masyarakat dalam sosial tidak lepas juga dengan adanya kebudayaan terutama yang melekat pada masyarakat itu sendiri, contohnya yaitu budaya patriarkhi. Dengan adanya perbedaan kelas yang terbentuk dalam masyarakat sehingga status dari seorang perempuan pun memiliki kriteria sendiri agar dapat mencapai kriteria dari pihak kelas yang lebih tinggi yaitu laki-laki.

Ketika status perempuan dalam masyarakat menurun dan menempati posisi bawahan dari laki-laki, maka banyak hal yang dilakukan oleh perempuan untuk dapat dipertimbangkan. Salah satu contoh yang diambil dalam film ini yaitu tradisi pengikatan kaki (Chan tui) yang dialami oleh Xue hua dan Bai he bahkan ketika usia mereka masih sangat belia.

Masa bermain Xue hua dan Bai he harus lenyap oleh karena kaki mereka harus terikat dan dipatahkan untuk mendapat bentuk kecil yang sempurna agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dalam film mengalami kekerasan fisik akibat mengikuti tradisi, dan bahkan dari

informasi yang penulis baca dalam buku novel yang menjadi sumber adaptasi film ini novel Snow Flower and The Secret Fan dikatakan bahwa risiko dari pengikatan kaki ini adalah “kematian”. Penerima perlakuan pengikatan kaki ini dapat saja mengalami infeksi akut karena kaki yang dipatahkan dengan cara paksa dan bahkan tidak ada tenaga atau alat medis yang memadai paa zaman itu untuk membantu pemulihan kaki yang sudah dipatahkan menambah risiko kematian terjadi. Maka dari hal ini lah didapati ketidaksetaraan yang dialami perempuan yang merasakan kekerasan fisik yang disengaja dan diwajibkan.

Di dalam film, tradisi ini dilaksanakan hanya pada perempuan saja.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena laki-laki yang merupakan kelas “majikan”

yang menempati tempat tertinggi dibanding perempuan layak untuk mendapatkan keindahan dan keinginan mereka. Dalam tradisi masyarakat Tiongkok pada abad ke 19 ini, kaki yang kecil merupakan sebuah kebahagiaan, mengangkat derajat perempuan, dan menjadikan perempuan layak untuk mendapat suami yang baik dan bermartabat pula.

Perempuan dengan kaki besar dan tidak terikat sebelumnya merupakan golongan pelayan yang hidupnya sudah dipastikan akan menjadi pelayan dari orang lain serta tidak mendapat suami yang kaya, berhasil, bermartabat ataupun tersohor. Sehingga pengikatan kaki ini dianggap seperti sebuah kewajiban yang harus perempuan lakukan untuk dapat mencapai kriteria dari kelas “ukuran cantik”

bagi laki-laki dan dapat dipertimbangkan untuk menjadi istri.Bahkan keluarga dari anak perempuan pun akan melakukan pengikatan kaki ini supaya martabat

keluarga mereka terangkat dan tidak menjadi buah bibir dari orang-orang sekitar dengan putrinya mendapatkan suami yang baik dan hebat.

Data 4 :

Gambar 4.04 Kesadaran kelas perempuan

Dialog

百吅妈妈 : 痛苦中才能发现美。苦难中才能找到真正的

平静。虽然给你裹脚让你受点苦。可是真正 受益的还是你。

Bǎihé māmā : Tòngkǔ zhōng cáinéng fāxiàn měi. Kǔnàn zhōng cáinéng zhǎodào zhēnzhèng de píngjìng.

Suīrán gěi nǐ guǒjiǎo ràng nǐ shòu diǎn kǔ.

Kěshì zhēnzhèng shòuyì de háishì nǐ.

Ibu Bai he : Hanya lewat rasa sakit kau akan temukan keindahan.Hanya lewat penderitaan kau akan temukan kedamaian. Ibu membungkus, ibu mengikat, tapi kau yang akan mendapat hadiah.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:15:01)

Xue hua dan Bai he sewaktu kecil harus mengalami kesakitan karena kaki

yang diikat dan dipatahkan agar berhenti bertumbuh serta ukurannya kecil.

Pemikiran ini muncul dalam struktur sosial masyarakat terkhususnya seorang ibu dalam rumah tangga yang memikirkan kebahagiaan anak perempuannya nanti

setelah mereka beranjak dewasa. Sudah menjadi kebiasaan atau sudah seperti kesadaran kelas yang tercipta dalam kalangan masyarakat sehingga membentuk pola pikir perempuan yang mendambakan kehidupan lebih baik kedepannya.

Begitu juga keluarga Xue hua dan Bai he yang menginginkan keduanya mendapat hidup yang lebih baik, mendapat suami yang berkelas, dan dapat diperhitungkan oleh laki-laki karena memiliki kaki yang indah. Meskipun, mereka harus melewati rasa sakit yang amat sangat karena jari-jari yang dipaksa menyatu hingga ke tumit kaki. Mereka percaya bahwa hanya melalui kesakitan yang mereka alami maka akan memperoleh keindahan untuk memenuhi keinginanpihak laki-laki yang akan menjadi suami mereka.

Dalam hal ini sangat terlihat ketidaksetaraan yang dialami oleh tokoh perempuan dalam film Snow Flower and The Secret Fan. Tokoh perempuan selalu menjadi objek yang akan menuruti setiap apa yang menjadi ukuran laki-laki dalam kebudayaan, sosial, maupun pola pikirnya. Laki-laki tidak perlu menjalani tradisi pengikatan kaki atau tradisi lainnya yang akan membawanya kepada perempuan terbaik untuk menjadi istrinya, tetapi sebaliknya perempuanlah yang harus mengubah dan mengusahakan dirinya agar diperhitungkan oleh laki-laki.

Pola pikir perempuan terhadap kesadaran akan perbedaan kelas dengan laki- laki mengharuskan perempuan mengalami penderitaan untuk mendapat kedamaian. Laki-laki memperoleh kedamaian dalam hidupnya karena dia memang sudah menjadi laki-laki yang merupakan harta yang paling berharga di dalam keluarga dan dijunjung didalam masyarakat. Tetapi, bagi seorang perempuan

kebahagiaan dan kedamaian adalah sesuatu yang sangat mahal dan butuh pengorbanan untuk mendapatkannya.

Di bawah ini adalah gambar dimana Xue hua dan Bai he mengalami penderitaan dan kesakitan karena kaki mereka yang terikat :

Data 5 :

Gambar 4.05 Bai he menahan sakit

Monolog

百吅和雪花忍受着绑腿过程中的痛苦。百吅和雪花不得不经历 一个绑腿的时期,这是女性为了更好的生活必须经历的最重要 的事情。

Kǔnàn zhōng cáinéng zhǎodào zhēnzhèng de píngjìng. Suīrán gěi nǐ guǒjiǎo ràng nǐ shòu diǎn kǔ. Kě bǎihé hé xuěhuā rěnshòuzhe bǎngtuǐ guòchéng zhōng de tòngkǔ. Bǎihé hé xuěhuā bu dé bù jīnglì yīgè bǎngtuǐ de shíqí, zhè shì nǚxìng wèile gèng hǎo de shēnghuó bìxū jīnglì de zuì zhòngyào de shìqíng. Shì zhēnzhèng shòuyì de háishì nǐ.

Bai he dan Xue hua menahan rasa sakit saat melalui proses pengikatan kaki. Bai he dan Xue hua harus melewati masa-masa pengikatan kaki yang menjadi hal terpenting yang harus perempuan alami agar mendapat kehidupan yang lebih baik.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:13:40)

Data diatas sudah cukup membuktikan bahwa perempuan merasakan ketertindasan atas ketidaksetaraan yang dialami. Perempuan teropresi karena adanya pengaruh pemikiran sosial dari masyarakat patrialisme. Perempuan harus menanggung penderitaan dan kesakitan hanya untuk memperoleh pengakuan atas status mereka untuk memenuhi kebutuhan laki-laki. Sementara, laki-laki sudah otomatis memiliki kelegaan dalam menjalani kehidupan karena mereka berada pada posisi kelas yang lebih tinggi.

Data 6 :

Gambar 4.06

Suami Xue hua memukul Xue hua

Dialog

百吅 :别打了!别打了!

Bǎihé : Bié dǎle! Bié dǎle!

Bai he : Jangan pukul ! Jangan Pukul !

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011.01:02:32)

Dalam adegan ini, Bai he bersama Xue hua dan keluarganya melarikan diri dari pemberontak.Mereka beristirahat di atas bukit setelah lama berjalan kaki, sementara suami Xue hua pergi mengambil sapi yang mereka tinggalkan. Saat suaminya kembali kepada mereka, dia menemukan salah satu anak mereka tewas karena kedinginan. Dalam kondisi ini, suami Bai he sangat terguncang dan berduka.Bai he sebagai seorang ibu juga tidak kalah sedihnya dengan suaminya, tetapi Xue hua harus menerima kepalan tangan kekar suaminya melayang dan menghajar wajahnya sehingga Xue hua harus menderita memar.

Laki-laki dengan kekuatan yang dimiliki, termasuk karena embel-embel maskulinitas yang melekat pada laki-laki sebagai pengartian dari “laki-laki itu kuat, berkarisma, berotot, gagah, dan berani” maka segala kebalikannya dibebankan kepada pemilik feminim yaitu “lemah, tidak berdaya, sensitif, dan penakut”. Melalui hal ini perempuan acap kali menjadi objek pelampiasan kekuatan laki-laki disaat emosi laki-laki tidak stabil.

Data 7 :

Gambar 4.07 Objek pelampiasan emosi

Dialog

雪花 : 他这是没说孩子埋在那里。他把悲伤都

握在他的拳头里。

百吅 :我们分开了这十几年,发生了太多事情。

命运让我知道做一个女人是多么的软弱。

Xuěhuā : Tā zhè shì méi shuō háizi mái zài nàlǐ. Tā bǎ bēishāng dōu wò zài tā de quántóu li.

Bǎihé : Wǒmen fēnkāile zhè shí jǐ nián, fāshēngle tài duō shìqíng. Mìngyùn ràng wǒ zhīdào zuò yīgè nǚrén shì duōme de ruǎnruò.

Xue hua : Ia takkan memberitahuku dimana putra kami dikuburkan.

Suamiku melampiaskan kesedihan dan masalahnya dengan tinjunya.

Bai he : Banyak hal yang terjadi di tahun-tahun kita terpisah. Takdir telah mengajariku bahwa kau hanyalah wanita biasa.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011.01:14:39)

Xue hua juga dapat merasakan kebiasaan suaminya yang selalu

melampiaskan emosi kepada dirinya dengan kekerasan fisik. Hal ini membuktikan bahwa di dalam film ini, tokoh utama perempuan mendapat ketidaksetaraan perlakuan terhadapnya karena dampak dari “kepemilikan” laki-laki terhadap istrinya yang merupakan objek bagi suami.

4.2.1.1.3 Perempuan adalah Penghasil Keturunan dan untuk Kepentingan Laki-laki

Data 8 :

Gambar 4.08

Pernikahan untuk kepentingan laki-laki

Dialog

què shì nǚrén zìjǐ de xuǎnzé, wèile xiāngbàn, lǐjiě hé kuàilè.

.

Sophia Liao : Ia bicara tentang ibu dari ibu buyutku, kurasa aku benar, kan?

Bibi Sophia : Saudari yang di sumpah seumur hidup, Lao tong.

Sophia Liao : Saudari...

Bibi Sophia : Kalian harus banyak belajar tentang perjanjian Laotong. Pernikahan dulu digunakan untuk kepentingan laki- laki. Untuk membentuk jaringan bisnis, mengatur rumah tangga, menghasilkan anak. Dan itu adalah kewajiban.

Perjanjian Lao tong untuk wanita merupakan pilihan. Untuk persahabatan, pengertian dan kebahagiaan.

(Snow Flower and The Secret Fan, 2011. 00:10:57)

Dalam dialog diatas menunjukkan bahwa pada masa Xue Hua hidup, pernikahan bagi seorang laki-laki adalah untuk kepentingan pribadinya. Hal ini dapat terlihat dari dialog pada adegan diatas “pernikahan dulu digunakan untuk

kepentingan laki-laki”. Seorang perempuan memang diperuntukkan bagi laki-laki

dalam pengembangan bisnis contohnya kerjasama dua keluarga, menghasilkan keturunan yang akan meneruskan keluarga, dan mengatur rumah tangga dalam hal pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan beban kerja yang terlihat, bahwa seorang perempuan hanya diberikan tugas yang dianggap tidak perlu dikerjakan oleh laki-laki. Sementara laki-laki diberi beban yang dianggap lebih sesuai dengan norma laki-laki dan mengesampingkan keunggulan perempuan yang mungkin saja dimiliki oleh seorang perempuan. Legitimasi perempuan sebagai seseorang yang harus mengikuti norma laki-laki di dalam menentukan pekerjaan apa yang harus dikerjakan (Jizhen, 2 019:142).

Bahkan dari dialog yang diucapkan tokoh pada awal film menggambarkan kehidupan Xue Hua dan Bai he pada masa itu, perempuan hanya dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah tangga, mendukung suami dalam mengerjakan bisnis, dan menghasilkan anak. Oleh karena itu, di dalam film ini perempuan tidak ada yang memiliki pekerjaan untuk menghasilkan uang. Bagi

Bahkan dari dialog yang diucapkan tokoh pada awal film menggambarkan kehidupan Xue Hua dan Bai he pada masa itu, perempuan hanya dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah tangga, mendukung suami dalam mengerjakan bisnis, dan menghasilkan anak. Oleh karena itu, di dalam film ini perempuan tidak ada yang memiliki pekerjaan untuk menghasilkan uang. Bagi

Dokumen terkait