• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimanakah Latar Belakang Berdirinya GKKI Ditengah-tengah Masyarakat Muslim dan Mengapa Para Ulama Setempat Seolah-olah

C. Pembahasan Hasil Penelitian

2. Bagaimanakah Latar Belakang Berdirinya GKKI Ditengah-tengah Masyarakat Muslim dan Mengapa Para Ulama Setempat Seolah-olah

Melegalisasi Keberadaan Gereja Ilegal tersebut

Sebagaimana terungkap dalam deskripsi hasil wawancara, berdirinya gereja tersebut mendapat restu para tokoh Islam dan dukungan masyarakat karena memang sosok seorang Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda yang berjiwa sosial tinggi terhadap masyarakat setempat, walaupun pendiriannya tidak didasari dengan keperluan nyata, jumlah umat beragama Nashrani jauh lebih sedikit dari ketentuan yang harus dipenuhi menurut peraturan yang berlaku, tentang prosedur pendirian rumah ibadah serta tidak memenuhi semua aturan hukum lainnya, seperti surat keputusan kegiatan keagamaan, izin mendirikan bangunan (IMB) serta izin lingkungan yang harus ditandatangani oleh 60 masyarakat sekitar, dan 90 pengguna gereja tersebut yang disahkan oleh lurah/kepala desa setempat.

Merujuk pada Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No: 8 Tahun 2006 (Tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadah) pasal 13 ayat (1), ayat (2), ayat (3), pasal 14 ayat (1), ayat (2), pasal 15, pasal 16 ayat (1), ayat (2), dan pasal 17 memuat klausal tentang prosedur pendirian rumah ibadah sebagai berikut yang berbunyi:

Pasal 13

1) Pendirian rumah ibadah didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa.

2) Pendirian rumah ibadah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundang-undangan.

3) Dalam hal keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak terpenuhi, pertimbangan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota atau provinsi.

Pasal 14

1) Pendirian rumah ibadah wajib memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung.

2) Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan khusus meliputi: a. daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadah

paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (3);

b. dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa;

c. rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota; dan

d. rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota.

3) Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terpenuhi sedangkan persyaratan huruf b belum terpenuhi, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah Ibadah.

Pasal 15

Rekomendasi FKUB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf d merupakan hasil musyawarah dan mufakat dalam rapat FKUB, dituangkan dalam bentuk tertulis.

Pasal 16

1) Permohonan pendirian rumah ibadah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadah kepada bupati/walikota untuk memperoleh IMB rumah ibadah

2) Bupati/walikota memberikan keputusan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonan pendirian rumah ibadah diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 17

Pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan lokasi baru bagi bangunan gedung rumah ibadah yang telah memiliki IMB yang dipindahkan karena perubahan rencana tata ruang wilayah.

Berdirinya gereja tersebut memang dikarenakan oleh longgarnya kontrol dari para aparatur Desa Campakamekar pada masa kepemimimpinan Lurah Momo Satyan Iskandar, mantan kepala desa ke-2 Desa Campakamekar. Merujuk pada Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No: 9 Tahun 2006

(Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama) pasal 6 ayat 3 dan pasal 7 ayat 2 dijelaskan secara tegas, tugas camat dan kepala desa dalam memelihara kerukunan umat beragama sebagai berikut:

Pasal 6

1. Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c di wilayah kecamatan dilimpahkan kepada camat dan di wilayah Kelurahan/Desa dilimpahkan kepada Kepala lurah/ kepala desa melalui camat.

Pasal 7

2. Tugas dan kewajiban lurah/kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) meliputi:

a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di wilayah kelurahan/ desa; dan

b. menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama;

Selain itu, lemahnya mekanisme kontrol para ulama yang keliru dalam menerapkan prinsip toleransi beragama di Desa Campakamekar juga menjadi faktor utama berdirinya gereja tersebut. Hal tersebut bertentangan dengan pandangan Hasyim (1979:22) yang mengemukakan pengertian toleransi sebagai berikut:

Pada umumnya, toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing, selama di dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat azas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berdirinya gereja tersebut dikarenakan oleh lemahnya mekanisme kontrol dari pihak aparatur Desa

Campakamekar sebagai pemegang kebijakan hukum setempat dan hal ini diperkuat pula oleh kurang pahamnya para ulama setempat dalam menjalankan prinsip toleransi antar umat beragama.

Keberadaan gereja tersebut diperkuat lagi dengan ekonomi masyarakat Desa Campakamekar yang terbilang lemah, sehingga pihak gereja bisa membantu mereka dan mendapatkan hati serta restu pendirian gereja dari masyarakat setempat. Hal ini diperkuat dengan adanya bukti izin lingkungan yang diberikan oleh lebih dari 90 (sembilan puluh) masyarakat Desa Campakamekar yang beragama Islam dan disebarkan oleh RT dan RW setempat yang beragama Islam pula.

Hal tersebut senada dengan pendapat dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990:691) yang menyatakan bahwa “perilaku sosial adalah gerakan sikap yang ditunjukkan dalam masyarakat oleh individu dalam berinteraksi dengan individu lainnya”.

Selain hal tersebut di atas, keberadaan gerejapun dinilai tidak membahayakan dan tidak berkembang. Penyiaran agama yang dilakukan oleh Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda tidak aktif, artinya beliau sibuk dengan urusannya sebagai pensiunan veteran perang kemerdekaan dan pensiunan Polri daripada membesarkan dan menyiarkan agama Kristen di Desa Campakamekar. Hal ini dibuktikan dengan tidak bertambahnya pemeluk agama Kristen di Desa Campakamekar.

Ada alasan lain mengapa gereja tersebut berdiri, yaitu perjanjian antara anak dan keluarga besar Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda yang beragama

Islam dengan para tokoh Islam setempat, MUI Desa Campakamekar, Kepala Desa Campakamekar, tokoh masyarakat Desa Campakamekar, MUI Kecamatan Padalarang, KUA Kecamatan Padalarang, Pemerintah Kecamatan Padalarang, serta gerakan ormas Islam bahwa apabila beliau meninggal maka gereja akan di tutup oleh keluarga besar Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda yang beragama Islam.

Dengan hasil perjanjian tersebut, ulama Islam setempat menerima dengan lapang dada dan akan menunggu sampai beliau meninggal untuk kemudian gereja akan ditutup, bahkan apabila ormas-ormas Islam kembali menyerang dan memaksa GKKI untuk ditutup, maka masyarakat muslim dan para tokoh Islam setempat akan membuat gerekan Front Pembela Bapak Aing untuk melawan siapa saja yang berani menutup gereja, sebelum Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda meninggal. Fenomena di atas agaknya senada dengan pendapat Skinner (Sarlito Wirawan, 2000:17) yang menyatakan bahwa:

Tingkah laku manusia berkembang dan dipertahankan oleh anggota-anggota masyarakat yang memberi penguat pada individu untuk bertingkah laku secara tertentu. Dengan demikian maka tidak dapat dihindarkan bahwa perilaku sosial muncul pada situasi terjadi interaksi sosial dalam upaya individu menyesuaikan dirinya dalam suatu lingkungan.

Selain itu, faktor yang menyebabkan mengapa para ulama setempat membiarkan atau seolah-olah melegalisasi keberadaan gereja tersebut di tengah-tengah masyarakat Muslim Desa Campakamekar yaitu faktor ingin mendapat simpatik masyarakat, faktor balas jasa dan balas budi serta menghormati veteran atau pejuang kemerdekaan, yang tiada lain adalah pimpinan GKKI yaitu Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda, karena menurut masyarakat dan ulama setempat

beliau memiliki peran dan jasa menolong masyarakat dan banyak membantu kehidupan ekonomi masyarakat. Selain itu, sifat dan budi pekerti beliau tidak pernah jahat dan selalu menolong masyarakat setempat tanpa membeda-bedakan agama.

Akan tetapi, yang menjadi alasan pokok mengapa ulama setempat membiarkan atau seolah-olah melegaliasi gereja tersebut yaitu menghormati Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda yang sudah lanjut usia serta sebagai sosok seorang pejuang 45 yang berjasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain, para ulama di Desa Campakamekar mengembangkan sikap dan perilaku toleransi antar umat beragama.

Fenomena di atas senada dengan pendapat Soerjono Soekanto (1990:67) yang menyebutkan bahwa masyarakat berperilaku berbeda-beda dalam berinteraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:

1. Faktor Kekayaan

Individu yang memiliki kekayaan banyak, termasuk lapisan atas, dan biasanya dalam interaksi di masyarakat juga berbeda.

2. Ukuran Kekuasaan

Individu yang memiliki kekuasaan di masyarakat, biasanya masyarakat selalu patuh dan taat pada perilaku yang dicontohkan oleh individu tersebut.

3. Ukuran Kehormatan

Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan. Individu yang paling disegani dan dihormati mendapat tempat yang teratas. Biasanya golongan ini adalah orang yang pernah berjasa dalam kehidupan masyarakat.

4. Ukuran Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah ukuran yang dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan, dimana mereka mencontoh individu yang memiliki pengetahuan yang tinggi, padahal itu belum tentu dalam kehidupan di masyarakat pada saat ini.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan hasil wawancara, terungkap bahwa sikap dan perilaku para ulama Desa Campakamekar yang cenderung lunak dan salah menerapkan konsep toleransi umat beragama tersebut menjadi patokan atau contoh bagi masyarakat Desa Campakamekar untuk melakukan sikap dan perilaku yang sama pula yang dicontohkan oleh para ulama tersebut. Hal tesebut senada dengan pendapat Koentjaraningrat (1990:9) yang mengemukakan bahwa: “tingkah laku dalam masyarakat merupakan hasil interaksi antara hubungan saling mempengaruhi antara para anggotanya”.

Dampak dari sikap dan perilaku para ulama tersebut terhadap masyarakat adalah tidak ada sosok atau figur yang dijadikan patokan atau bimbingan tentang bagaimana seharusnya menyikapi keberadaan gereja di Desa Campakamekar, sehingga mereka cenderung menggantungkan hidupnya dan mencari jalan penyelesaian atas masalah ekonomi yang masyarakat derita kepada pihak GKKI. Merujuk pada pendapat Sarlito Wirawan (1987:74) yang menyatakan bahwa “tingkah laku pada hakikatnya merupakan tanggapan atau balasan (respon) terhadap stimulus (rangsangan) karena itu sangat mempengaruhi tingkah laku sehinga tingkah laku tersebut diatur oleh rangsangan”.

Jika dibiarkan, hal ini akan menimbulkan rasa tidak percaya kepada para ulama itu sendiri. Sebaliknya, pihak gereja dalam hal ini Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda akan mendapat simpati dan kepercayaan masyarakat karena dianggap berjiwa sosial tinggi dan peduli terhadap masyarakat tanpa membeda-bedakan agama. Hal ini menjadi sangat berbahaya, karena bisa saja gara-gara

benci atau tidak suka terhadap para ulama di Desa Campakamekar, menjadi tidak suka pula terhadap Islam secara keseluruhan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat setempat kecewa terhadap para ulama setempat yang bersikap dan berperilaku yang tidak sesuai dengan aturan hukum Islam maupun hukum positif dengan melegalisasi keberadaan gereja tersebut. Hal ini menjadi semacam rangsangan terhadap masyarakat untuk melakukan hal yang sama dan mendukung keberadaan gereja tersebut, karena para tokoh Islam sebagai figur yang harus memberi contoh kepada masyarakat tidak bisa menjalankan perannya sebagai ulama yang harus memberikan bimbingan kepada masyarakat.

Kesimpulan di atas senada dengan pendapat Gerungan (2004:78) yang menjelaskan proses terjadinya hubungan interpersonal, sebagai berikut:

a. Tindakan seseorang terhadap yang lainnya berfungsi sebagai stimulus, dan pada saat yang sama reaksi dari pihak lainnya berfungsi sebagai respon. b. Suatu respon terhadap stimulus tertentu akan selalu dikendalikan atau

dikontrol oleh suatu respon dan juga sebaliknya.

c. Tindakan dari kedua belah pihak pada hakekatnya tidak lain dari suatu sebab dan suatu akibat.

3. Bagaimana Reaksi (Respon) Para Ulama di Luar Wilayah Desa