• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Reaksi (Respon) Para Ulama di Luar Wilayah Desa Campakamekar terhadap Keberadaan Gereja Ilegal tersebut

C. Pembahasan Hasil Penelitian

3. Bagaimana Reaksi (Respon) Para Ulama di Luar Wilayah Desa Campakamekar terhadap Keberadaan Gereja Ilegal tersebut

Dari deskripsi hasil wawancara, terungkap bahwa keberadaan GKKI di Desa Campakamekar sudah menjadi suatu kenyataan bahkan sikap dan perilaku para ulama setempat sudah diketahui oleh masyarakat luas. Sampai pada tanggal 13 Januari 2008, konflik menjurus ke arah penghancuran gerejapun terjadi. Ada desakan dari gerakan ormas Islam, antara lain: Gerakan Pemuda Persatuan Islam (PERSIS), Gerakan Pemuda Nahdatul Ulama (NU) dan Gerakan Pemuda

Muhammadiyah bahkan Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Bandung untuk menghancurkan dan menutup GKKI. Gerakan ormas Islam tersebut berasal dari luar Desa Campakamekar. Ada beberapa hal yang mendorong mereka untuk bertindak dan ingin menutup kegiatan gereja antara lain:

1. Status gereja secara hukum tidak ada izin formal, artinya keberadaan gereja tersebut tidak dilengkapi dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), hanya mengantongi izin lingkungan dari sekitar 90 masyarakat Muslim, itupun masih diragukan keabsahannya.

2. Daftar nama dan kartu tanda penduduk pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah belum terpenuhi. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pengguna gereja GKKI yang tidak lebih dari 20 orang warga asli Desa Campakamekar, kebanyakan mereka merekrut jemaat untuk kebaktian berasal dari masyarakat luar Desa Campakamekar. Jadi, kesimpulannya adalah pendirian rumah ibadah tidak didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa.

3. Kegiatan gereja dianggap mengganggu ketertiban dan kerukunan umat beragama, artinya pendirian rumah ibadah dan penyiaran agama yang dilakukan oleh pihak GKKI tidak mencerminkan semangat kerukunan umat beragama, bahkan cenderung memicu konflik antar umat beragama di Desa Campakamekar.

4. Menurut ormas Islam, Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda telah melakukan pelecehan agama. Hal ini dikarenakan beliau pernah menjadi Mubaligh Islam dan kemudian berpindah menjadi Pendeta Nashrani.

5. GKKI dianggap melakukan bujukan dan rayuan materi kepada masyarakat yang sudah beragama Islam untuk berpindah ke agama Nashrani. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan bakti sosial.

Dari program-program yang dilakukan oleh GKKI, para tokoh Islam (ormas Islam) di luar Desa Campakamekar menyimpulkan bahwa pola penyiaran agama yang mereka lakukan tidak memperhatikan dan menjaga stabilitas nasional serta tegaknya kerukunan antar umat beragama. Selain itu, pengembangan dan penyiaran agama tidak dilaksanakan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, tepo seliro, saling menghargai, hormat menghormati antar umat beragama sesuai jiwa Pancasila. Hal ini senada dengan Keputusan Menteri Agama No. 70 Tahun 1978 (Tentang Pedoman Penyiaran Agama) dalam diktum pertama dan diktum ketiga yang memuat klausal tentang cara-cara penyiaran agama yang dibolehkan oleh perundang-undangan yang berlaku sebagai berikut:

Pertama:

Untuk menjaga stabilitas nasional dan demi tegaknya kerukunan antar umat beragama, pengembangan dan penyiaran agama supaya dilaksanakan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, tepo seliro, saling menghargai, hormat menghormati antar umat beragama sesuai jiwa Pancasila.

Ketiga:

Bilamana ternyata pelaksanaan pengembangan dan penyiaran agama sebagaimana yang dimaksud diktum kedua menimbulkan terganggunya kerukunan hidup antar umat beragama akan diambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu, GKKI juga melakukan penyiaran agama yang ditujukan terhadap orang-orang yang telah memeluk sesuatu agama lain. Serta dilakukan dengan menggunakan bujukan/pemberian materi uang, pakaian, makanan/minuman, obat-obatan dan lain-lain supaya orang tertarik untuk memeluk suatu agama. Selain itu, mereka melakukan penyiaran agama dengan cara-cara masuk keluar dari rumah kerumah orang yang telah memeluk agama lain.

Maka merujuk pada alasan di atas, ormas Islam di luar Desa Campakamekar berkeyakinan pula bahwa pelaksanaan pengembangan dan penyiaran agama yang dilakukan oleh GKKI Desa Campakamekar menimbulkan terganggunya kerukunan hidup antar umat beragama di Desa Campakamekar. Maka dengan alasan dan kesimpulan tersebut, ormas Islam di luar Desa Campakamekar dirasa perlu melakukan tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan cara memaksa pihak gereja untuk menutup dan menghentikan kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh GKKI Desa Campakamekar.

Setelah mendapat reaksi dari ormas Islam, pihak GKKI dengan dimotori oleh Pimpinan GKKI Pendeta Eyang Yusac Ahmad Supanda melaporkan masalah ini ke Dewan Gereja Indonesia (DGI). Dengan bantuan DGI tersebut, masalah penutupan gereja dapat ditunda untuk sementara waktu. Hal ini dikarenakan DGI memberikan jaminan bahwa GKKI tidak akan membahayakan masyarakat Muslim Desa Campakamekar. Selain itu, DGI mengabulkan tuntutan yang diinginkan oleh ormas Islam, dengan cara mengurus perizinan gereja, sehingga

keberadaan gereja tersebut tidak menjadi sebuah kontroversi dan sumber konflik umat beragama di Desa Campakamekar maupun di wilayah Kecamatan Padalarang.

Sejak penelitian ini dimulai, pihak bahwa GKKI masih belum mempunyai izin resmi perihal status hukum gereja. Faktor-faktor penyebab konflik antar umat beragama di Desa Campakamekar, senada dengan pendapat Kasman Singodimejo (Hasyim 1979:337), yang menyatakan bahwa ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya bentrokan antar umat beragama, yaitu:

1. Dangkalnya pengertian dan kesadaran beragama 2. Fanatisme yang negatif

3. Cara dakwah dan propaganda yang salah 4. Obyek dakwah dan propaganda agama 5. Subversi sisa G30S/PKI

6. Karena perlakuan yang tidak adil terhadap agama lain 7. Karena perebutan kekuasaan

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa GKKI telah melakukan pola penyiaran agama yang salah dan tidak dibenarkan oleh peraturan hukum yang berlaku tentang penyiaran agama di Indonesia. Hal ini sangat perlu diambil tindakan bahkan dikenai sanksi tegas sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku. Selain itu, pendirian GKKI pun tidak memenuhi regulasi yang berlaku sesuai dengan peraturan pedoman pendirian rumah ibadah. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin lingkungan masyarakat setempat serta surat keputusan mengadakan penyiaran agama yang dikeluarkan oleh Departemen Agama. Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi “bom waktu sosial” yang sangat potensial meledak serta melebar menjadi konflik antar agama.

4. Bagaimana Bentuk Upaya yang Dilakukan oleh MUI Desa