BAB I PENDAHULUAN
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Tinjauan Yuridis tentang merek di Indonesia ?
2. Bagaimana Perlindungan Hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia yang berada di Pasar Palangkaraya Medan ?
8 kliklegal.com/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 13.19)
3. Apa akibat hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat mendapat gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Namun berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak di capai dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan mengkaji Yurisprudensi tentang Merek di Indonesia .
2. Untuk mengetahui Bagaimana Perlindungan Hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia yang berada di Pasar Palangkaraya Medan
3. Untuk mengetahui bagaimana akibat hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penelitiaan ini adalah :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bagi Pembaca dalam penerapan ketentuan Undang-Undang Merek, guna terwujudnya pelaksanaan Undang-Undang Merek di tengah-tengah masyarakat.
2. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pemikiran-pemikiran serta informasi secara nyata pelaksanaan Undang-Undang No.20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.
E. Keaslian Penulisan
Penulisan skripsi berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia Ditinjau Dari UU No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis ( Studi Kasus di Pasar Palangkaraya Medan )” merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum dan oleh karena itu, sudah seharusnya bahwa penulisan skripsi ini didasarkan pada ide dan pemikiran secara pribadi dengan mengambil panduan dari buku-buku yang penulis baca dan sumber-sumber lain serta bantuan dari berbagai pihak, kemudian penulis juga berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing untuk mengangkat judul dari penulisan skripsi ini terlepas dari segala bentuk peniruan (plagiat) .
Berdasarkan pengamatan dan penelusuran kepustakaan yang dilakukan, khususnya pada lingkungan Departemen Keperdataan Program KEKHUSUSAN Hukum Perdata BW Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, penulisan skripsi dengan judul yang telah disebutkan diatas belum pernah dilakukan dengan pendekatan yang sama. Namun terdapat beberapa judul skripsi di Perpustakaan Fakultas Hukum yang telah mengulas masalah tentang merek yang sama, misalnya:
1. Pelaksanaan UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Gografis terhadap Perdagangan Barang Tiruan yang Menggunakan Merek Terkenal (Studi Pasar Petisah dan Pasar Central).
2. Akibat Hukum Merek Tidak Terdaftar berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis (Studi Pada Masday Shoes Indonesia di Kota Medan).
Yang kemudian pihak perpustakaan mengeluarkan surat pada tanggal 12 September 2019 yang menyatakan bahwa telah diperiksa dan tidak ada judul yang sama terkait judul yang diangkat oleh penulis. Jika ada terdapat judul skripsi yang hampir sama di luar Universitas Sumatera Utara mengenai judul yang penulis angkat maka kajiannya berbeda karena tulisan ini diangkat agar dapat diketahui lebih lanjut bagaimana perlindungan hukum pemalsuan merek terkenal dalam rangka untuk mewujudkan penegakan hukum Merek. Apabila dikemudian hari terdapat judul skripsi yang hampir sama dengan judul yang penulis angkat maka itu diluar pengetahuan penulis.
F. Tinjauan Kepustakaan
Merek menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Pasal 1 tentang Merek Dan Indikasi Geografis adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan / jasa.
Merek terkenal mengandung makna “terkenal” menurut pengetahuan umum masyarakat. Merek terkenal yaitu merek yang dikenal luas oleh sektor-sektor relevan di dalam masyarakat. Promosi merupakan sarana paling efektif
untuk membangun reputasi (image). Reputasi tidak harus diperoleh melalui pendaftaran, melainkan dapat diperoleh melalui actual use in placing goods or service into the market (penggunaan secara aktual dengan cara meletakkan barang dan jasa di pasar).9 Perlindungan Merek terkenal di Indonesia diatur di dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b dan Pasal 21 ayat (3) di dalam UU Nomor 20 Tahun 2016. Di dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b dijelaskan bahwa Permohonan harus ditolak oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, apabila Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau sejenisnya..Pasal 21 ayat (3) menjelaskan bahwa suatu merek tidak dapat didaftar atas dasar Permohonan yang diajukan oleh Pemohon yang beritikad tidak baik.
Produk tiruan di Indonesia dikenal juga dengan istilah kwalitet ( KW ). “ Barang KW” adalah sebuah barang yang di produksi sebagai tiruan, replica, atau imitasi dari barang lain. “Barang KW” ini bukan hanya diproduksi sebagai tiruan atau replica merek tyerkenal saja, tetapi juga untuk semua merek. “Barang KW”
diproduksi tenpa mengunakan hak merek yang bersangkutan, para produsen membuatnya dengan cara seperti meniru saja. Oleh karena itu secara sederhana dapat dikatakan bahwa “barang KW” adalah barang palsu. Tingkatan paling umum “barang KW” adalah “KW super”, “KW 1”, dan “KW 2”, dan harga barang KW yang paling mahal memiliki kemiripan dengan aslinya adalah KW super.10
9 Rahmi Jened, Op.cit, hal.241
10 E-journal.uajy.ac.id (diakses pada 5 Oktober 2019, pukul 14.30)
G. Metode Penelitian 1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam menjawab permasalahan pembahasan skripsi ini adalah Penelitian Yuridis Normatif, yakni mengacu kepada teori hukum yang memberikan pemahaman terhadap permasalahan norma yang dialami oleh ilmu hukum dogmatik dalam kegiatannya mendeskripsikan norma hukum, merumuskan norma hukum (membentuk peraturan perundang-undangan), dan menegakkan norma hukum (praktik yudisial).11 Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan dengan melakukan penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu dengan memberikan penjelasan yang selengkap-lengkapnya tentang merek, khususnya merek terkenal dan untuk mengetahui sejauh mana perlindungan akan pelanggaran merek terkenal yang terjadi di Pasar Palangkaraya Medan. Selanjutnya akan dianalisa untuk mencari permasalahannya serta jawaban dari permasalahan tersebut. Penelitian deskriptif yang dimaksud untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan dan gejala lainnya.
2. Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh informasi atau data yang akurat, yang berkaitan dengan permasalahan dari penyelesaian penulisan skripsi ini maka penelitian dilakukan di Pasar Palangkaraya Medan. Diadakan di Pasar Palangkaraya Medan karena di Pasar Palangkaraya perdagangan barang-barang palsu cukup pesat
11 I Made Pasek Diantha, Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum (Jakarta Timur: Prenadamedia Group, 2019) hal. 84
dikarenakan keinginan masyarakat yang tinggi untuk memiliki barang bermerek dengan harga yang relatif lebih murah dari harga asli barang bermerek tersebut.
3. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini penulis menggunakan populasi yang berada di Kota Medan. Sampel yang digunakan adalah pedagang dan pembeli di Pasar Palangkaraya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 10 (sepuluh) orang pedagang dan 20 (dua puluh) orang pembeli. Alasan peneliti melakukan penelitian di Pasar Palangkaraya Medan, karena di Pasar Palangkaraya Medan banyak terdapat barang dengan Merek dagang terkenal Asing tetapi barang tersebut kebanyakan barang palsu. Sehingga Pasar Palangkaraya Medan menjadi objek yang tepat untuk peneliti melakukan penelitian.
4. Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
a. Data Primer, yaitu data yang langsung diperoleh berdasarkan proses wawancara terhadap sampel dan narasumber dalam hal ini adalah para pedagang di Palangkaraya Medan.
b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui kepustakaan beberapa buku-buku, jurnal, dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan merek.
5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode library research (penelitian kepustakaan), yakni dengan
mempelajari peraturan perundang-undangan, buku, situs internet, putusan pengadilan yang berkaitan dengan judul skripsi yang bersifat teoritis ilmiah yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan penganalisisan masalah-masalah yang dihadapi.
Metode lain yang dilakukan selain library research yakni field research artinya mencari dan mempelajari data melalui wawancara berupa Tanya jawab yang dilakukan secara lansung dengan responden. Responden yang dimaksud dalam hal ini adalah pedagang di Pasar Palangkaraya. Selanjutnya dengan memanfaatkan kuesioner yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan atau membagikan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelum oleh penulis kepada responden. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, guna meperoleh informasi sedetail dan seakurat mungkin.
6. Analisa Data
Metode pengolahan dan analisis data pada penelitian ini adalah dengan metode analisis kualitatif dengan cara pengolahan yang deskriptif. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif, yakni data yang didapat dari rekaman, pengamatan, wawancara, atau bahan tertulis, dan data ini tidak berbentuk angka.12 Analisis dalam penelitian ini bersifat deskriptif, yakni penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik dengan angka-angka maupun kata-kata. Atau metode pelaporan
12 Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris (Depok: Prenadamedia Group, 2018) hal. 178
dalam penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan menyusun, menjelaskan, kemudian ditarik kesimpulan dari permasalahan yang ada.
H. Sistematika Penulisan
Adapun yang menjadi sistematika penulisan skripsi yang digunakan secara garis besar dapat di uraikan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang pokok-pokok latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penelitian, keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Yuridis Tentang Merek di Indonesia
Pada bab ini penulis akan meninjau merek secara kepustakaan, yakni defenisi dan perkembangan hukum merek di Indonesia, jenis dan bentuk merek di Indonesia, prosedur pendaftaran merek, tinjauan umum tentang merek terkenal asing, dan barang palsu, serta UU No.20 Tahun 2016
Bab III Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang di Indonesia
Pada bab ini penulis akan meminjau merek terkenal secara kepustakaan, yakni tentang pengertian
perlindungan hukum, perlindungan hukum terhadap pemalsuan merek dagang, dan perlindungan hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Pasar Palangkaraya Medan.
Bab IV Akibat Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia
Bab ini berisikan mengenai hasil dari penelitian yang dilakukan penulis yakni , pengaturan merek dalam tindakan pemalsuan merek dagang asing di Indonesia, sanksi terhadap tindak pidana pemalsuan merek dagang asing di Indonesia, serta upaya hukum tindak pidana pemalsuan merek dagang asing di Indonesia
Bab V Kesimpulan dan Saran
Merupakan Bab terakhir dari keseluruhan tulisan yang disampaikan penulis. Dimana pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya yang memungkinkan berguna bagi orang-orang yang membacanya dan saran-saran yang mungkin berguna dan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan skripsi ini.
BAB II
TINJAUAN YURIDIS HAK MEREK DI INDONESIA
A. Tinjauan Umum Tentang Hak Kekayaan Intelektual
prof. Mahadi ketika menulis buku tentang Hak Milik Immateril mengatakan, tidak diperoleh keterangan jelas tentang asal usul kata “hak milik intelektual”. Kata “intelektual” yang digunakan dalam kalimat tersebut tak diketahui ujung pangkalnya. Namun demikian dalam kepustakaan hukum Anglo Saxon ada dikenal sebutan Intellectual Property Right. Kata ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi “Hak Milik Intelektual”, yang sebenarnya menurut hemat penulis lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi hak kekayaan intelektual.13
Hak Kekayaan Intelektual, disingkat “HKI” atau adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul bagi hasil olah pikir yang menghasikan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia pada intinya HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.14
Setiap hak yang digolongkan ke dalam HaKI harus mendapat kekuatan hukum atas karya atau ciptannya. Untuk itu diperlukan tujuan penerapan HaKI.
Tujuan dari penerapan HaKI yang Pertama, antisipasi kemungkinan melanggar
13 Saidin, op.cit, hal. 7
14 https://penelitian.ugm.ac.id/pengertian-hki/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 15.24)
HaKI milik pihak lain, Kedua meningkatkan daya kompetisi dan pangsa pasar dalam komersialisasi kekayaan intelektual, Ketiga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan strategi penelitian, usaha dan industri di Indonesia. Secara garis besar Haki dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Hak Cipta
Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya. Termasuk ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni. Hak cipta diberikan terhadap ciptaan dalam ruang lingkup bidang ilmu pengetahuan, kesenian, dan kesusasteraan. Hak cipta hanya diberikan secara eksklusif kepada pencipta, yaitu
“seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.
2. Hak Kekayaan Industri a. Paten
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Pasal 1 Ayat 1, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Paten hanya diberikan negara kepada penemu yang telah menemukan suatu penemuan (baru) di bidang teknologi. Yang dimaksud dengan penemuan adalah kegiatan pemecahan masalah tertentu di bidang teknologi yang
berupa : Proses, hasil produksi, penyempurnaan dan pengembangan proses, penyempurnaan dan pengembangan hasil produksi.
b. Merek
Merek menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Pasal 1 tentang Merek Dan Indikasi Geografis adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan / jasa.
Terdapat beberapa istilah merek yang biasa digunakan, yang pertama merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya.
Merek jasa yaitu merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya.
Merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang atau jasa sejenis lainnya.
Hak atas merek adalah hak khusus yang diberikan negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu, menggunakan sendiri merek tersebut atau memberi izin kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakannya.
c. Desain Industri
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Desain Industri, bahwa desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan.
d. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu bahwa, Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang di dalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik.
e. Rahasia Dagang
Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang bahwa, Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.
f. Indikasi Geografis
Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Pasal 56 Ayat 1 Tentang Merek bahwa, Indikasi-geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.15
Jadi, HKI pada umumnya berhubungan dengan perlindungan penerapan ide dan informasi yang memiliki nilai komersial. HKI adalah kekayaan pribadi yang dapat dimiliki dan diperlakukan sama dengan bentuk-bentuk kekayaan lainnya. Misalnya, kekayaan intelektual dapat diperjualbelikan seperti sebuah buku, HKI dapat juga disewakan selam kurun waktu tertentu dimana pihak penyewa membayar sejumlah uang kepada pihak yang menyewakan hak tersebut untuk menggunakan kekayaan intelektual tersebut. Perjanjian seperti ini disebut lisensi. Berdasarkan hukum Indonesia dan Undang-Undang di banyak negara,
15 duniadosen.com/hak-atas-kekayaan-intelektual-haki/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 18.03)
ciptaan dan investasi hanya akan dilindungi jika ciptaan dan investasi tersebut memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah diatur oleh Undang-Undang.16
Kata “hak milik” (baca juga: hak kekayaan ) atau “property” yang digunakan dalam istilah tersebut diatas, sungguh menyesatkan, kata Mrs. Noor Mout – Bouwman. Oleh karena itu kata harta benda / property mengisyaratkan adanya suatu benda nyata. Pada hal hak kekayaan intelektual itu tidak ada sama sekali menampilkan benda nyata, ia bukanlah benda materil. Ia merupakan hasil kegiatan berdaya cipta pikiran manusia yang diungkapkan ke dunia luar dalam suatu bentuk, baik materil maupun immateril. Bukan bentuk penjelmaannya yang dilindungi akan tetapi daya cipta itu sendiri. Daya cipta itu dapat berwujud dalam bidang seni, industri dan ilmu pengetahuan atau paduan ketiga-tiganya.17
Meskipun sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun regulasi tersebut menjadi tanpa makna jika produk-produk ekraf tidak didaftarkan hak kekayaan intelektualnya. Hal ini menunjukan bahwa pelindungan HKI oleh undang-undang berfokus pada pendaftaran. Pada kenyataannya, kesadaran akan HKI di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya HKI ekraf yang didaftarkan dan maraknya pembajakan dan plagiat karya kreatif di Indonesia yang sangat merugikan pelaku ekraf. Data statistik dan hasil survei ekraf hasil kerjasama Badan Ekraf dan Badan Pusat Statistik yang diluncurkan pada Maret 201710 menunjukan rendahnya pendaftaran HKI bidang ekraf, yaitu 11,05%. Dengan demikian 88,95% produk ekraf belum mendapatkan pelindungan
16 Tim Lindsey dkk, op.cit, hal. 3-4
17 Saidin, op.cit, hal. 9
HKI. Data tersebut merupakan data indikator makro ekraf tahun 2010-2015 dan hasil survei khusus ekraf (SKEK) 2016.
Seperti diketahui, HKI merupakan hak yang berasal dari hasil kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang diekspresikan kepada khalayak umum dalam berbagai bentuknya yang memiliki manfaat serta berguna dalam menunjang kehidupan manusia, juga mempunyai nilai ekonomi. HKI sebagai suatu hak milik yang timbul dari karya, karsa, cipta manusia, atau disebut sebagai HKI yang timbul karena kemampuan intelektualitas manusia. Hasil kreasi tersebut dalam masyarakat diakui bahwa yang menciptakan boleh menguasai untuk tujuan yang menguntungkannya. Kreasi sebagai milik berdasarkan postulat hak milik dalam arti seluas-luasnya yang juga meliputi milik yang tidak berwujud.
Salah satu bentuk pengaturan hukum hak kekayaan intelektual adalah Trade Related Aspects of Intellectual Property Right (TRIPs) yang dibahas dalam putaran Uruguay. TRIPs merupakan kesepakatan internasional yang paling lengkap berkenaan dengan perlindungan HKI. TRIPs Agreement juga mengadopsi konvensi-konvensi di bidang HKI yaitu Paris Convention dan Berne Convention (dua konvensi utama di bidang copyright dan industrial property). Sejarah terbentuknya TRIPs menunjukkan bahwa HKI mempunyai peranan penting dalam perdagangan khususnya untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Secara normatif, tujuan TRIPs Agreement terdapat dalam artikel 7 yaitu untuk memberi pelindungan HKI dan prosedur penegakan hukum dengan menerapkan tindakan- tindakan yang menciptakan perdagangan yang sehat, untuk memacu invensi baru di bidang teknologi dan memperlancar alih teknologi serta penyebaran teknologi dengan tetap memperhatikan kepentingan produsen dan pengguna pengetahuan
yang dilakukan untuk menunjang kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta keseimbangan antara hak dan kewajiban.18
B. Tinjauan Umum Tentang Merek
1. Sejarah dan Pengertian Merek di Indonesia
sejarah Merek dapat ditelusuri bahkan mungkin berabad-abad sebelum Masehi. Sejak jaman kuno, misalnya periode Minoan, orang sudah memberikan tanda untuk barang-barangmiliknya, hewan bahkan manusia.
Penggunaan merek dagang dalam pengertian yang kita kenal sekarang ini mulai dikenal tidak lama setelah Revolusi Industri pada pertengahan abad XVIII.
Pada saat itu sistem produksi yang berasal dari abad pertengahan yang lebih mengutamakan keterampilan kerja tangan, berubah secara radikal sebagai akibat digunakannya mesin-mesin dengan kapasitas produksi yang tinggi.19
Dalam sejarah perundang-undangan merek di Indonesia dapat dicatat
Dalam sejarah perundang-undangan merek di Indonesia dapat dicatat