• Tidak ada hasil yang ditemukan

: CHAIRUNISA LUBIS NIM.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ": CHAIRUNISA LUBIS NIM."

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

GEOGRAFIS (STUDI KASUS PASAR PALANGKARAYA MEDAN)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

CHAIRUNISA LUBIS NIM. 160200304

DEPARTEMEN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020

(2)
(3)

PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :Chairunisa Lubis

Nim :160200304

Judul :Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing Ditinaju dari Undang-Undang No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis (Studi Kasus di Pasar Palangkaraya Medan)

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi ini benar merupakan hasil penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri, bebas dari peniruan terhadap karya orang lain. Kutipan pendapat dan tulisan orang lain saya akan mencantumkan sumber yang jelas dan sesuai dengan cara-cara penulisan karya ilmiah yang berlaku.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, dan bentuk-bentuk peniruan lain yang di anggap melanggar peraturan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Medan, Januari 2020 Yang membuat pernyataan

(Chairunisa Lubis)

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul

“Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing DiIndonesia Ditinjau Dari UU No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis ( Studi Kasus di Pasar Palangkaraya Medan ) “

Secara khusus saya ingin mengucapkan terimakasi kepada Drs.H. Ahmad Fuad Lubis, M.si. selaku orangtua saya yang selalu memberikan doa, dukungan, kasih sayang, bimbingan serta semangat yang luar biasa. Penulis menyadari bahwa penelitian ini dapat terselesaikan atas bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih, terutama kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum , selaku Rektor Universitas Sumatera Utara ;

2. Prof. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ;

3. Dr.H. OK Saidin, S.H., M.Hum , selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ;

4. Ibu Puspa Melati, S.H., M.Hum , selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ;

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum , selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ;

6. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum , selaku Ketua Departemen Hukum Perdata ;

(5)

7. Dr.H. OK Saidin, S.H., M.Hum , selaku Dosen Pembimbing I. Terima kasih banyak atas saran, arahan, dan masukan yang membangun dalam setiap bimbingan, serta waktu yang bapak berikan sehingga saya menyelesaikan skripsi ini ;

8. Bapak Syamsul Rizal, S.H., M.Hum , selaku Dosen Pembimbing II.

Terima kasih atas bimbingan, saran, nasihat, dan ilmu yang bapak berikan selama ini disetiap bimbingan dengan penuh kesabaran sehingga skripsi ini selesai ;

9. Seluruh Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan ilmu , serta membimbing penulis selama menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ;

10. Seluruh staf pegawai dan tata usaha di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam urusan administrasi ;

11. Kepada Rivki Fathin yang selalu ada dan mendukung saya serta memberikan banyak bantuan hingga akhirnya skripsi ini dapat selesai.

12. Kepada sahabat kampus saya yaitu Salsa, Winda, Cindy, Imam, Kiki, Sony. Mamud dll yang banyak sekali memberikan dukungan dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini .

13. Kepada Dita Shahnaz dan Faradiba juga yang banyak memberikan dukungan dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

14. Kepada sahabat SMA saya Karin, Diba, Kiki yang juga memberikan dukungan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

15. Terimakasih kepada semua pihak-pihak yang bersedia menjadi responden dalam penyelesaian skripsi ini.

(6)

Demikian skripsi ini penulis buat agar dapat berfmanfaat dan semoga skripsi ini dapat menambah wawasan bagi kita semua.

Medan , Februari 2019

Chairunisa Lubis NIM. 160200304

(7)

ABSTRAK

Chairunisa Lubis* OK Saidin**

Syamsul Rizal***

Merek sebagai salah satu karya Intelektual manusia yang akrab hubungannya dengan kegiatan ekonomi dan perdagangan yang memegang peranan sangat penting. Kebutuhan untuk melindungi hak merek, termasuk merek terkenal menjadi hal yang sangat penting, perlindungan hukum merek hanya akan berlangsung apabila hal tersebut dilakukan pendaftaran, dan bagi seorang pengusaha pendaftaran merek sangat dianjurkan karena tanpa terdaftarnya suatu merek yang diperdagangkan akan menimbulkan akibat hukum. Adapun dalam skripsi ini akan dibahas tentang : tinjauan yuridis tentang merek di Indonesia, perlindungan terhadap pemalsuan merek terkenal asing yang berada di Pasar Palangkaraya Medan, dam akibat hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain melalui metode kepustakaan berupa buku-buku, peraturan perundang-undangan, literatur-literatur, dan sumber lainya berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Metode pengumpulan data lainya yang digunakan adalah mencari dan mempelajari data melalui wawancara berupa tanya jawab yang dilakukan secara lansung dengan para pedagang Pasar Palangkaraya Medan, menyebarkan atau membagikan daftar pertanyaan yang telah di buat sebelumnya oleh penulis kepada konsumen (pembeli) di Pasar Palangkaraya Medan.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini antara lain bahwa perdagangan barang palsu dengan menggunakan merek terkenal yang dilakukan oleh para pedagang di Pasar Palangkaraya dapat dikatakan sebagai pelanggaran merek yang telah memenuhi unsur-unsur sesuai ketentuan pasal 100 Undang-Undang No.20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Sehingga perlindungan hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2016 yang berada di Pasar Palangkaraya belum berjalan secara efekti dikarenakan masih kurangnya kesadaran pedagang akan sebuah pelanggaran merek. Dari hasil penelitian ini diharapkan kedepan ada proses untuk mengoptimalkan upaya-upaya perlindungan hukum dengan cara meningkatkan kesadaran hukum terhadap merek kepada pedagang dan konsumen untuk memperdagangkan dan membeli barang-barang palsu.

Kata Kunci :pendaftaran merek, perlindungan hak atas merek, merek terkenal.

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 12

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 13

D. Keaslian Penulisan ... 13

E. Tinjauan Kepustakaan ... 14

F. Metode Penelitian... 15

G. Sistematika Penulisan... 17

BAB II TINJAUAN YURIDIS HAK MEREK DI INDONESIA ... 22

A. Tinjauan Umum Tentang Hak Kekayaan Intelektual... 22

B. Tinjauan Umum tentang Merek ... 29

1. Sejarah dan Pengertian Merek di Indonesia ... 29

2. Jenis Merek ... 31

3. Prosedur Pendaftaran Merek ... 32

4. Tinjauan Umum Tentang Merek terkenal Asing ... 38

5. Barang Palsu... 40

C. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis ... 41

(9)

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMALSUAN MEREK

DAGANG DI INDONESIA ... 44

A. Pengertian Perlindungan Hukum ... 44

B. Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang ... 48

C. Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing yang ada di Pasar Palangkaraya Medan ... 58

BAB IV AKIBAT HUKUM TERHADAP PEMALSUAN MEREK DAGANG TERKENAL ASING DI INDONESIA ... 66

A. Pengaturan Merek dalam Tindakan Pemalsuan Merek Dagang di Indonesia ... 66

B. Sanksi Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia ... 71

C. Upaya Hukum Penyelesaian Tindak Pidana Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia ... 75

BAB V PENUTUP ... 80

A. Kesimpulan ... 80

B. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap orang atau organisasi perusahaan yang ada, akan sangat peduli akan pentingnya sebuah nama dan simbol yang digunakan dalam menjalankan bisnis dan pemasaran barang dan jasa. Simbol-simbol ini akan membantu untuk menunjukkan asal barang dan/atau jasa, serta perusahaan komersial yang bergerak dalam bidang dan menyediakan barang dan jasa. Dalam pangsa pasar, nama-nama dan simbol-simbol tersebut dikenali sebagai merek (trademark), nama usaha (business name), dan nama perusahaan (company name).1

Merek adalah sesuatu (gambar atau nama) yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu produk atau perusahaan di pasaran. Pengusaha biasanya berusaha mencegah orang lain menggunakan merek mereka karena dengan menggunakan merek, para pedagang memperoleh reputasi baik dan kepercayaan dari para konsumen serta dapat membangun hubungan antara reputasi tersebut dengan merek yang telah digunakan perusahaan secara regular, semua hal di atas tentunya membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan uang.

Merek menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Pasal 1 tentang Merek Dan Indikasi Geografis adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (

1 Rahmi Jened, Hukum Merek dalam Era Global & Integrasi Ekonomi (Jakarta:

Prenadamedia Group, 2015) hal.3

(11)

dua ) dimensi dan/atau 3 ( tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 ( dua ) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan / jasa.

Hak atas merek adalah hak khusus yang diberikan pemerintah kepada pemilik merek, untuk menggunakan merek tersebut atau memberikan izin untuk menggunakannya kepada orang lain (Pasal 3). Berbeda dengan hak cipta, merek harus didaftarkan terlebih dahulu di dalam Daftar Umum Merek (Pasal 3).

Merek sangat penting dalam dunia periklanan dan pemasaran karena publik sering mengaitkan suatu image, kualitas atau reputasi barang dan jasa dengan merek tertentu. Sebuah merek dapat menjadi kekayaan yang sangat berharga secara komersial. Merek juga berguna untuk konsumen, mereka membeli produk tertentu (yang terlihat dari mereknya) karena menurut mereka, merek tersebut berkualitas tinggi atau aman untukdikonsumsi dikarenakan reputasi dari merek tersebut. Jika sebuah perusahaan menggunakan merek perusahaan lain, para konsumen mungkin merasa tertipu karena telah membeli produk dengan kualitas yang lebih rendah.2

Latar belakang lahirnya Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis antara lain didasari munculnya arus globalisasi di segenap aspek kehidupan umat manusia, khususnya dibidang perekonomian dan perdagangan. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan transportasi mendorong tumbuhnya intergritas pasar perekonomian dan perdagangan global.Kebutuhan, kemampuan

2 Tim Lindsey dkk, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar (Bandung: PT. Alumni, 2011) hal. 131

(12)

dan kemajuan teknologi atas suatu produk sekarang ini merupakan pasar bagi produksi-produksi pengusaha pemilik merek dagang dan jasa.Semuanya ingin produk mereka memperoleh akses yang sebebas-bebasnya ke pasar. Oleh karena itu perkembangan di bidang perdagangan dan industri yang sedemikian pesatnya memerlukan peningkatan perlindungan terhadap teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan. Apabila kemudian produk tersebut beredar di pasar dengan mengunakan merek tertentu, maka kebutuhan melindungi produk yang dipasarkan dari berbagai tindakan melawan hukum pada akhirnya merupakan kebutuhan untuk melindungi merek tersebut. Dalam hubungan ini hak-hak yang timbul dari Kekayaan Intelektual, khususnya hakatas merek suatu produk akan menjadi sangat penting yaitu dari segi perlindungan hukum sebab mendirikan dan mengembangkan merek produk barang atau jasa dilakukan dengan susah payah, mengingat juga dibutuhkan waktu yang lama dan biaya yang mahal untuk mempromosikan merek agar dikenal dan memperoleh tempat dipasaran.

Setelah Undang-Undang tersebut berlaku, pemerintah pun segera melakukan tindakan pembenahan dalam setiap hal yang berkaitan dengan merek.Hal ini untuk memberikan pelayanan bagi para pengusaha atau pedagang agar dalam mengembangkan usahanya, Mereka memperoleh perlindungan hukum atas tenaga, pikiran, waktu dan biaya yang telah mereka korbankan dalam rangka membangun suatu reputasi perusahaan dalam wujud merek.Adanya pengaturan tentang merek dapat mencegah persaingan usaha tidak sehat.Dengan merek, produk barang atau jasa sejenis dapat dibedakan asal muasalnya, kualitasnya, serta keterjaminan bahwa produk itu original.Kadangkala yang membuat harga suatu produk menjadi mahal bukan produknya, tetapi mereknya. Merek adalah sesuatu

(13)

yang di tempelkan atau dilketkan pada suatu produk, tetapi ia bukan produk itu sendiri.3

Selain perlindungan terhadap merek dagang dan merek jasa, dalam Undang-Undang Merek baru diatur juga perlindungan terhadap Indikasi Geografis, yaitu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang karena faktor lingkungan geografis , termasuk faktor alam atau faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Selain itu juga diatur mengenai indikasi asal.

Mengingat merek merupakan bagian dari kegiatan perekonomian / dunia usaha, penyelesaian sengketa merek memerlukan badan peradilan khusus, yaitu Pengadilan Niaga sehingga diharapkan sengketa merek dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif cepat. Sejalan dengan itu, harus pula diatur hukum secara khusus untuk menyelesaikan masalah sengketa merek seperti juga bidang hak kekayaan intelektual lainnya. Adanya peradilan khusus untuk masalah merek dan bidang-bidang hak kekayaan intelektual lain juga dikenal di beberapa negara lain, seperti Thailand. Dalam Undang-Undang Merek baru pun pemilik merek diberi upaya perlindungan hukum yang lain, yaitu dalam wujud Penetapan Sementara Pengadilan untuk melindungi mereknya guna mencegah kerugian yang lebih besar. Disamping itu untuk memberikan kesempatan yang lebih luas dalam penyelesaian sengketa, dalam Undang-Undang Merek baru dimuat ketentuan tentang arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.4

3 Saidin,Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual ( Intellectual Property Rights), ( PT Raja Grafindo Persada , Jakarta, 2004, hlm. 392.

4Ahmadi Miru, Hukum Merek (cara mudah mempelajari undang-undang Merek) , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005 , hal. 3

(14)

Ketentuan terkait perlindungan merek terkenal utamanya diatur dalam Paris Convention for the Protection of Industrial Property (“Paris Convention”) dan juga dalam the Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (“TRIPS Agreement”). Dalam Pasal 6bis ayat (1) Paris Convention diatur bahwa:

The countries of the Union undertake, ex officio if their legislation so permits, or at the request of an interested party, to refuse or to cancel the registration, and to prohibit the use, of a trademark which constitutes a reproduction, an imitation, or a translation, liable to create confusion, of a mark considered by the competent authority of the country of registration or use to be well known in that country as being already the mark of a person entitled to the benefits of this Convention and used for identical or similar goods. These provisions shall also apply when the essential part of the mark constitutes a reproduction of any such well- known mark or an imitation liable to create confusion therewith.

Pada umumnya, negara-negara dengan sistem hukum Civil Law termasuk Indonesia, menganut sistem First to file dalam memberikan hak atas merek.

Berdasarkan sistem First to file tersebut, pemilik merek, termasuk merek terkenal, harus mendaftarkan mereknya di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (“DJKI”) untuk memperoleh hak eksklusif atas mereknya dan perlindungan hukum. Hak eksklusif tidak dapat diperoleh pemilik merek hanya dengan menunjukan bukti-bukti bahwa ia adalah pemakai pertama merek tersebut di Indonesia. First-to-file system berarti bahwa pihak yang pertama kali mengajukan

(15)

permohonan pendaftaran diberi prioritas untuk mendapatkan pendaftaran merek dan diakui sebagai pemilik merek yang sah.

Secara eksplisit prinsip ini diatur pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (“UU MIG”) yang menentukan bahwa hak atas merek diperoleh setelah merek tersebut terdaftar. Yang dimaksud dengan "terdaftar" adalah setelah permohonan melalui proses pemeriksaan formalitas, proses pengumuman, dan proses pemeriksaan substantif serta mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (“Menteri”) untuk diterbitkan sertifikat.

Perlu dipahami bahwa hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Di Indonesia, perlindungan merek terdaftar diberikan selama jangka waktu 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan, dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama.

World Intellectual Property Organizations (WIPO) memberikan batasan mengenai merek terkenal sebagaimana disepakati dalam Joint Recommendation Concerning Provisions on the Protection of Well-Known Marks bahwa faktor- faktor ini dapat digunakan untuk menentukan apakah Merek tersebut masuk kategori terkenal, yaitu:

1. tingkat pengetahuan atau pengakuan merek di sektor yang relevan dengan masyarakat;

2. durasi, tingkat dan wilayah geografis dari pemakaian Merek;

3. durasi, tingkat dan wilayah geografis dari promosi Merek;

(16)

4. durasi dan wilayah geografis dari segala pendaftaran atau permohonan pendaftaran Merek;

5. catatan keberhasilan pemenuhan hak atas Merek tersebut;

6. nilai Merek;

Bagi pemilik merek terkenal tetapi mereknya tidak terdaftar yang dapat menunjukkan bukti-bukti keterkenalan mereknya, UU MIG menyediakan mekanisme gugatan pembatalan merek terdaftar melalui Pengadilan Niaga, apabila merek terkenal mereka terlanjur didaftarkan atau diajukan permohonan pendaftarannya di Indonesia oleh pihak lain yang beriktikad buruk. Gugatan tersebut dapat diajukan setelah mengajukan permohonan kepada Menteri. Dengan pengajuan permohonan, pemilik merek terkenal dianggap memiliki iktikad baik untuk mengikuti peraturan yang berlaku dengan mendaftarkan dan memakai mereknya di Indonesia. UU MIG juga memungkinkan pemilik merek terkenal berdasarkan putusan pengadilan untuk mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang dan/atau jasa yang sejenis berupa:

a. gugatan ganti rugi; dan/atau

b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut.5

Merek sebagai salah satu karya intelektual manusia yang erat hubungannya dengan kegiatan ekonomi dan perdagangan memegang peranan

5 hukumonline.com/klinik/ ( diakses pada 11Oktober 2019, pukul 12.25)

(17)

yang sangat penting bagi perekonomian dan perdagangan suatu bangsa. Salah satu perkembangan di bidang merek adalah munculnya pelindungan terhadap tipe merek baru atau yang disebut sebagai merek nontradisional. Dalam UU Merek dan IG, lingkup merek yang dilindungi meliputi pula merek suara, merek tiga dimensi, merek hologram, yang termasuk dalam kategori merek nontradisional tersebut. UU Merek dan IG juga mengatur indikasi geografis. Potensi produk indikasi geografis Indonesia sangat besar, karena memiliki keunikan tersendiri akibat pengaruh faktor alam, cuaca dan altitude. Indikasi geografis berupa produk- produk bermutu tinggi dan memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh produk serupa di tempat yang lain tersebut dapat dijumpai pada Ubi Cilembu, Kopi Kintamani, Kopi Gayo, Kopi Flores Bajawa, Kopi Toraja, Pala Banda, Vanili Alor, Beras Adan Krayan, Lada Putih Muntok, dan Garam Amed. Oleh karenanya pelindungan HKI melalui sertifikasi Indikasi Geografis, produk-produk yang telah terdaftar tidak hanya terlindungi secara hukum, tetapi juga membuka pintu persaingan produk di pasar dunia internasional.6

Dalam perkembangannya merek hanyalah sebuah tanda agar konsumen dapat membedakan produk barang/jasa satu dengan yang lainnya. Melalui merek konsumen lebih mudah mengingat sesuatu yang dibutuhkan, dan dengan cepat dapat menentukan apa yang akan dibelinya.

Secara filosofis merek dapat membangun image baik dan buruk sebagai bagian dari nilai good-will perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa pesatnya

6 jurnal.dpr.go.id/ ( diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 20.35)

(18)

pertumbuhan dalam bidang perekonomian terutama dalam bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah banyak menghasilkan berbagai variasi barang dan jasa termasuk berbagai jenis produk dengan berbagai jenis merek yang beredar di tengah masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Hal ini menimbulkan kebebasan dalam hal memilih berbagai jenis merek produk tertentu dan kualitasnya sesuai dengan kemampuan serta keinginan konsumen.

Dalam perkembangannya posisi seorang konsumen selalu lebih lemah dibandingkan posisi seorang produsen. Salah satu faktor utama lemahnya kedudukan seorang konsumen adalah masih rendahnya tingkat pendidikan atau pengetahuan masyarakat dalam bidang perlindungan konsumen sehingga konsumenkurang mencermati merek dari suatu produk tertentu yang dikonsumsinya.7

Mengingat krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti saat sekarang ini, banyak produsen yang menyiasatinya dengan cara mengkombinasikan barang- barang bermerek yang asli dengan barang menggunakan merek yang palsu tersebut yang secara fisik benar-benar mirip dengan yang asli. Banyaknya peminat dari barang-barang palsu ini disebabkan oleh harganya yang relatif murah dibandingkan dengan harga barang aslinya. Apalagi di kalangan masyarakat ada dikenal barang kualitas super yang menurut mereka barang yang palsu tersebut kualitasnya hampir sama dengan yang asli dan harganya tentu saja terjangkau dan menguntungkan bagi para produsen. Dengan memanfaatkan merek terkenal, produsen yang illegal tidak perlu mengurus nomor pendaftaran ke Dirjen HKI atau mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membangun citra produknya ( brand

7 fhukum.unpatti.ac.id/hkm-pidana/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 12.52)

(19)

image ). Mereka tidak perlu membuat divisi riset dan pengembangan untuk dapat menghasilkan produk yang selalu up to date, karena mereka tinggal menjiplak produk orang lain. Secara ekonomi memang memanfaatkan merek terkenal mendatangkan keuntungan yang cukup besar dan fakta di lapangan membuktikan hal tersebut. Selain itu juga didukung oleh daya beli konsumen yang pas-pasan namun tetap ingin tampil bergaya masa kini. Salah satu daya tarik produk bermerek palsu memang terletak pada harganya yang sangat murah dari harga asli barang tersebut. Berbagai barang yang sering kali dipalsukan misalnya tas, baju, celana, jaket dan juga berbagai barang elektronik yang sangat mudah didapat dan ditemukan di kota-kota besar Khususnya Kota Medan. Peredarannya pun cukup luas dimulai dari pedagang kaki lima sampai pusat pertokoan bergengsi.

Sengketa merek yang melibatkan merek terkenal di Indonesia bukan suatu hal yang baru. Kasus-kasus berkaitan dengan hal tersebut sudah kerap terjadi.

Kasus yang menyangkut merek terkenal dalam tiga tahun terakhir yang diadili di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hingga ke tahap kasasi yaitu seperti Kasus Pierre Cardin. Pierre Cardin adalah seorang perancanng busana terkenal asal Perancis yang menggunakan namanya dalam berbagai macam produk busana. Tim hukumnya pernah mengajukan gugatan merek melawan Alexanter Satryo Wibowo yang merupakan pengusaha lokal asal Indonesia. Pada pengadilan tingkat pertama, majelis hakim menolak gugatan yang dilayangkan oleh Pierre Cardin. Salah satu alasannya adalah majelis hakim mengakui adanya merek Pierre Cardin milik Alexander yang telah didaftarkan terlebih dahulu pada 29 Juli 1977. Tidak berhenti sampai disitu, Pierre Cardin melanjutkan perkara tersebut sampai tingkat Kasasi. Namun, upaya ini lagi-lagi

(20)

kandas. Hal ini ditegaskan lebih lanjut oleh Mahkamah Agung dalam putusan perkara Nomor 557/K/Pdt.Sus-HKI/2015 bahwa Alexander sebagai pemilik merek Pierre Cardin lokal memiliki pembeda dalam produknya. “Termohon memiliki pembeda dengan selalu mencantumkan kata-kata Product by PT.Gudang Rejeki sebagai pembeda, disamping keterangan lainnya sebagai produk Indonesia.

Sehingga dengan demikian menguatkan dasar pemikiran bahwa merk tersebut tidak mendompleng keterkenalan merk lain,” demikian bunyi pertimbangan majelis.

Satu lagi merek yang cukup ramai diperbincangkan adalah perkara antara Inter IKEA System yang merupakan perusahaan dari Belanda melawan IKEA milik lokal. Dalam putusan nomor 264 K/Pdt.Sus-HKI/2015, majelis hakim memenangkan pihak IKEA lokal yang berasal dari Surabaya. Hakim menyatakan bahwa majelis hakim dalam pengadilan tingkat pertama tidak salah dalam menerapkan hukum. “Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah tepat dan benar serta tidak salah menerapkan hukum,” demikian kutipan dalam putusan tersebut. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan diantaranya bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek (yang berlaku saat itu), dimana merek yang tidak digunakan oleh pemiliknya selama 3 (tiga) tahun berturut turut dapat dihapus dari Daftar Umum Merek, hal mana telah terbukti adanya dalam perkara a quo yaitu bahwa sesuai hasil pemeriksaan terbukti bahwa merek dagang IKEA untuk kelas barang/jasa 21 dan 20 terdaftar atas nama Tergugat masing-masing telah tidak digunakan oleh Tergugat selama 3

(21)

(tiga) tahun berturut-turut sejak merek dagang tersebut terdaftar pada Direktorat Merek.8

Dengan adanya bukti diatas dapat disimpulkan bahwa banyak sekali permasalahan HKI khususnya merek yang terjadi di seluruh dunia khususnya Indonesia. Bahkan sekalipun Undang-Undang Merek sudah ada tetapi dalam kenyataan masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang terus terjadi. Padahal dengan adanya Undang-Undang yang mengatur diharapkan terciptanya kepastian dan keadilan bagi semua pihak.

Melihat maraknya pelanggaran akan merek terkenal serta menimbang pentingnya perlindungan hukum bagi pemilik merek terkenal dan dalam rangka mewujudkan penegakan hukum merek, idealnya sudah melindungi para pencipta.

Namun pada kenyataanya di lapangan implementasi perlindungan hak cipta masih tidak terbukti. Dari sedikit pemaparan di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul : Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia Ditinjau Dari UU No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis ( Studi Kasus di Pasar Palangkaraya Medan )

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Tinjauan Yuridis tentang merek di Indonesia ?

2. Bagaimana Perlindungan Hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia yang berada di Pasar Palangkaraya Medan ?

8 kliklegal.com/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 13.19)

(22)

3. Apa akibat hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia ?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat mendapat gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Namun berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak di capai dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan mengkaji Yurisprudensi tentang Merek di Indonesia .

2. Untuk mengetahui Bagaimana Perlindungan Hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia yang berada di Pasar Palangkaraya Medan

3. Untuk mengetahui bagaimana akibat hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Indonesia.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penelitiaan ini adalah :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bagi Pembaca dalam penerapan ketentuan Undang-Undang Merek, guna terwujudnya pelaksanaan Undang-Undang Merek di tengah-tengah masyarakat.

2. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pemikiran-pemikiran serta informasi secara nyata pelaksanaan Undang- Undang No.20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

(23)

E. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia Ditinjau Dari UU No.20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis ( Studi Kasus di Pasar Palangkaraya Medan )” merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum dan oleh karena itu, sudah seharusnya bahwa penulisan skripsi ini didasarkan pada ide dan pemikiran secara pribadi dengan mengambil panduan dari buku-buku yang penulis baca dan sumber-sumber lain serta bantuan dari berbagai pihak, kemudian penulis juga berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing untuk mengangkat judul dari penulisan skripsi ini terlepas dari segala bentuk peniruan (plagiat) .

Berdasarkan pengamatan dan penelusuran kepustakaan yang dilakukan, khususnya pada lingkungan Departemen Keperdataan Program KEKHUSUSAN Hukum Perdata BW Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, penulisan skripsi dengan judul yang telah disebutkan diatas belum pernah dilakukan dengan pendekatan yang sama. Namun terdapat beberapa judul skripsi di Perpustakaan Fakultas Hukum yang telah mengulas masalah tentang merek yang sama, misalnya:

1. Pelaksanaan UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Gografis terhadap Perdagangan Barang Tiruan yang Menggunakan Merek Terkenal (Studi Pasar Petisah dan Pasar Central).

(24)

2. Akibat Hukum Merek Tidak Terdaftar berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis (Studi Pada Masday Shoes Indonesia di Kota Medan).

Yang kemudian pihak perpustakaan mengeluarkan surat pada tanggal 12 September 2019 yang menyatakan bahwa telah diperiksa dan tidak ada judul yang sama terkait judul yang diangkat oleh penulis. Jika ada terdapat judul skripsi yang hampir sama di luar Universitas Sumatera Utara mengenai judul yang penulis angkat maka kajiannya berbeda karena tulisan ini diangkat agar dapat diketahui lebih lanjut bagaimana perlindungan hukum pemalsuan merek terkenal dalam rangka untuk mewujudkan penegakan hukum Merek. Apabila dikemudian hari terdapat judul skripsi yang hampir sama dengan judul yang penulis angkat maka itu diluar pengetahuan penulis.

F. Tinjauan Kepustakaan

Merek menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Pasal 1 tentang Merek Dan Indikasi Geografis adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan / jasa.

Merek terkenal mengandung makna “terkenal” menurut pengetahuan umum masyarakat. Merek terkenal yaitu merek yang dikenal luas oleh sektor- sektor relevan di dalam masyarakat. Promosi merupakan sarana paling efektif

(25)

untuk membangun reputasi (image). Reputasi tidak harus diperoleh melalui pendaftaran, melainkan dapat diperoleh melalui actual use in placing goods or service into the market (penggunaan secara aktual dengan cara meletakkan barang dan jasa di pasar).9 Perlindungan Merek terkenal di Indonesia diatur di dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b dan Pasal 21 ayat (3) di dalam UU Nomor 20 Tahun 2016. Di dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b dijelaskan bahwa Permohonan harus ditolak oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, apabila Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau sejenisnya..Pasal 21 ayat (3) menjelaskan bahwa suatu merek tidak dapat didaftar atas dasar Permohonan yang diajukan oleh Pemohon yang beritikad tidak baik.

Produk tiruan di Indonesia dikenal juga dengan istilah kwalitet ( KW ). “ Barang KW” adalah sebuah barang yang di produksi sebagai tiruan, replica, atau imitasi dari barang lain. “Barang KW” ini bukan hanya diproduksi sebagai tiruan atau replica merek tyerkenal saja, tetapi juga untuk semua merek. “Barang KW”

diproduksi tenpa mengunakan hak merek yang bersangkutan, para produsen membuatnya dengan cara seperti meniru saja. Oleh karena itu secara sederhana dapat dikatakan bahwa “barang KW” adalah barang palsu. Tingkatan paling umum “barang KW” adalah “KW super”, “KW 1”, dan “KW 2”, dan harga barang KW yang paling mahal memiliki kemiripan dengan aslinya adalah KW super.10

9 Rahmi Jened, Op.cit, hal.241

10 E-journal.uajy.ac.id (diakses pada 5 Oktober 2019, pukul 14.30)

(26)

G. Metode Penelitian 1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam menjawab permasalahan pembahasan skripsi ini adalah Penelitian Yuridis Normatif, yakni mengacu kepada teori hukum yang memberikan pemahaman terhadap permasalahan norma yang dialami oleh ilmu hukum dogmatik dalam kegiatannya mendeskripsikan norma hukum, merumuskan norma hukum (membentuk peraturan perundang- undangan), dan menegakkan norma hukum (praktik yudisial).11 Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan dengan melakukan penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu dengan memberikan penjelasan yang selengkap-lengkapnya tentang merek, khususnya merek terkenal dan untuk mengetahui sejauh mana perlindungan akan pelanggaran merek terkenal yang terjadi di Pasar Palangkaraya Medan. Selanjutnya akan dianalisa untuk mencari permasalahannya serta jawaban dari permasalahan tersebut. Penelitian deskriptif yang dimaksud untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan dan gejala lainnya.

2. Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh informasi atau data yang akurat, yang berkaitan dengan permasalahan dari penyelesaian penulisan skripsi ini maka penelitian dilakukan di Pasar Palangkaraya Medan. Diadakan di Pasar Palangkaraya Medan karena di Pasar Palangkaraya perdagangan barang-barang palsu cukup pesat

11 I Made Pasek Diantha, Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum (Jakarta Timur: Prenadamedia Group, 2019) hal. 84

(27)

dikarenakan keinginan masyarakat yang tinggi untuk memiliki barang bermerek dengan harga yang relatif lebih murah dari harga asli barang bermerek tersebut.

3. Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini penulis menggunakan populasi yang berada di Kota Medan. Sampel yang digunakan adalah pedagang dan pembeli di Pasar Palangkaraya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 10 (sepuluh) orang pedagang dan 20 (dua puluh) orang pembeli. Alasan peneliti melakukan penelitian di Pasar Palangkaraya Medan, karena di Pasar Palangkaraya Medan banyak terdapat barang dengan Merek dagang terkenal Asing tetapi barang tersebut kebanyakan barang palsu. Sehingga Pasar Palangkaraya Medan menjadi objek yang tepat untuk peneliti melakukan penelitian.

4. Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:

a. Data Primer, yaitu data yang langsung diperoleh berdasarkan proses wawancara terhadap sampel dan narasumber dalam hal ini adalah para pedagang di Palangkaraya Medan.

b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui kepustakaan beberapa buku-buku, jurnal, dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan merek.

5. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode library research (penelitian kepustakaan), yakni dengan

(28)

mempelajari peraturan perundang-undangan, buku, situs internet, putusan pengadilan yang berkaitan dengan judul skripsi yang bersifat teoritis ilmiah yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan penganalisisan masalah- masalah yang dihadapi.

Metode lain yang dilakukan selain library research yakni field research artinya mencari dan mempelajari data melalui wawancara berupa Tanya jawab yang dilakukan secara lansung dengan responden. Responden yang dimaksud dalam hal ini adalah pedagang di Pasar Palangkaraya. Selanjutnya dengan memanfaatkan kuesioner yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan atau membagikan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelum oleh penulis kepada responden. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, guna meperoleh informasi sedetail dan seakurat mungkin.

6. Analisa Data

Metode pengolahan dan analisis data pada penelitian ini adalah dengan metode analisis kualitatif dengan cara pengolahan yang deskriptif. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif, yakni data yang didapat dari rekaman, pengamatan, wawancara, atau bahan tertulis, dan data ini tidak berbentuk angka.12 Analisis dalam penelitian ini bersifat deskriptif, yakni penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik dengan angka-angka maupun kata-kata. Atau metode pelaporan

12 Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris (Depok: Prenadamedia Group, 2018) hal. 178

(29)

dalam penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan menyusun, menjelaskan, kemudian ditarik kesimpulan dari permasalahan yang ada.

H. Sistematika Penulisan

Adapun yang menjadi sistematika penulisan skripsi yang digunakan secara garis besar dapat di uraikan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang pokok-pokok latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penelitian, keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Yuridis Tentang Merek di Indonesia

Pada bab ini penulis akan meninjau merek secara kepustakaan, yakni defenisi dan perkembangan hukum merek di Indonesia, jenis dan bentuk merek di Indonesia, prosedur pendaftaran merek, tinjauan umum tentang merek terkenal asing, dan barang palsu, serta UU No.20 Tahun 2016

Bab III Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang di Indonesia

Pada bab ini penulis akan meminjau merek terkenal secara kepustakaan, yakni tentang pengertian

(30)

perlindungan hukum, perlindungan hukum terhadap pemalsuan merek dagang, dan perlindungan hukum terhadap pemalsuan merek dagang terkenal asing di Pasar Palangkaraya Medan.

Bab IV Akibat Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal Asing di Indonesia

Bab ini berisikan mengenai hasil dari penelitian yang dilakukan penulis yakni , pengaturan merek dalam tindakan pemalsuan merek dagang asing di Indonesia, sanksi terhadap tindak pidana pemalsuan merek dagang asing di Indonesia, serta upaya hukum tindak pidana pemalsuan merek dagang asing di Indonesia

Bab V Kesimpulan dan Saran

Merupakan Bab terakhir dari keseluruhan tulisan yang disampaikan penulis. Dimana pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya yang memungkinkan berguna bagi orang-orang yang membacanya dan saran-saran yang mungkin berguna dan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan skripsi ini.

(31)

BAB II

TINJAUAN YURIDIS HAK MEREK DI INDONESIA

A. Tinjauan Umum Tentang Hak Kekayaan Intelektual

prof. Mahadi ketika menulis buku tentang Hak Milik Immateril mengatakan, tidak diperoleh keterangan jelas tentang asal usul kata “hak milik intelektual”. Kata “intelektual” yang digunakan dalam kalimat tersebut tak diketahui ujung pangkalnya. Namun demikian dalam kepustakaan hukum Anglo Saxon ada dikenal sebutan Intellectual Property Right. Kata ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi “Hak Milik Intelektual”, yang sebenarnya menurut hemat penulis lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi hak kekayaan intelektual.13

Hak Kekayaan Intelektual, disingkat “HKI” atau adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul bagi hasil olah pikir yang menghasikan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia pada intinya HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya- karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.14

Setiap hak yang digolongkan ke dalam HaKI harus mendapat kekuatan hukum atas karya atau ciptannya. Untuk itu diperlukan tujuan penerapan HaKI.

Tujuan dari penerapan HaKI yang Pertama, antisipasi kemungkinan melanggar

13 Saidin, op.cit, hal. 7

14 https://penelitian.ugm.ac.id/pengertian-hki/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 15.24)

(32)

HaKI milik pihak lain, Kedua meningkatkan daya kompetisi dan pangsa pasar dalam komersialisasi kekayaan intelektual, Ketiga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan strategi penelitian, usaha dan industri di Indonesia. Secara garis besar Haki dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

1. Hak Cipta

Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya. Termasuk ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni. Hak cipta diberikan terhadap ciptaan dalam ruang lingkup bidang ilmu pengetahuan, kesenian, dan kesusasteraan. Hak cipta hanya diberikan secara eksklusif kepada pencipta, yaitu

“seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

2. Hak Kekayaan Industri a. Paten

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Pasal 1 Ayat 1, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Paten hanya diberikan negara kepada penemu yang telah menemukan suatu penemuan (baru) di bidang teknologi. Yang dimaksud dengan penemuan adalah kegiatan pemecahan masalah tertentu di bidang teknologi yang

(33)

berupa : Proses, hasil produksi, penyempurnaan dan pengembangan proses, penyempurnaan dan pengembangan hasil produksi.

b. Merek

Merek menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 Pasal 1 tentang Merek Dan Indikasi Geografis adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan / jasa.

Terdapat beberapa istilah merek yang biasa digunakan, yang pertama merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya.

Merek jasa yaitu merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya.

Merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang atau jasa sejenis lainnya.

(34)

Hak atas merek adalah hak khusus yang diberikan negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu, menggunakan sendiri merek tersebut atau memberi izin kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakannya.

c. Desain Industri

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Desain Industri, bahwa desain industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan.

d. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu bahwa, Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang di dalamnya terdapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik.

(35)

e. Rahasia Dagang

Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang bahwa, Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.

f. Indikasi Geografis

Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Pasal 56 Ayat 1 Tentang Merek bahwa, Indikasi-geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.15

Jadi, HKI pada umumnya berhubungan dengan perlindungan penerapan ide dan informasi yang memiliki nilai komersial. HKI adalah kekayaan pribadi yang dapat dimiliki dan diperlakukan sama dengan bentuk-bentuk kekayaan lainnya. Misalnya, kekayaan intelektual dapat diperjualbelikan seperti sebuah buku, HKI dapat juga disewakan selam kurun waktu tertentu dimana pihak penyewa membayar sejumlah uang kepada pihak yang menyewakan hak tersebut untuk menggunakan kekayaan intelektual tersebut. Perjanjian seperti ini disebut lisensi. Berdasarkan hukum Indonesia dan Undang-Undang di banyak negara,

15 duniadosen.com/hak-atas-kekayaan-intelektual-haki/ (diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 18.03)

(36)

ciptaan dan investasi hanya akan dilindungi jika ciptaan dan investasi tersebut memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah diatur oleh Undang-Undang.16

Kata “hak milik” (baca juga: hak kekayaan ) atau “property” yang digunakan dalam istilah tersebut diatas, sungguh menyesatkan, kata Mrs. Noor Mout – Bouwman. Oleh karena itu kata harta benda / property mengisyaratkan adanya suatu benda nyata. Pada hal hak kekayaan intelektual itu tidak ada sama sekali menampilkan benda nyata, ia bukanlah benda materil. Ia merupakan hasil kegiatan berdaya cipta pikiran manusia yang diungkapkan ke dunia luar dalam suatu bentuk, baik materil maupun immateril. Bukan bentuk penjelmaannya yang dilindungi akan tetapi daya cipta itu sendiri. Daya cipta itu dapat berwujud dalam bidang seni, industri dan ilmu pengetahuan atau paduan ketiga-tiganya.17

Meskipun sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun regulasi tersebut menjadi tanpa makna jika produk-produk ekraf tidak didaftarkan hak kekayaan intelektualnya. Hal ini menunjukan bahwa pelindungan HKI oleh undang-undang berfokus pada pendaftaran. Pada kenyataannya, kesadaran akan HKI di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya HKI ekraf yang didaftarkan dan maraknya pembajakan dan plagiat karya kreatif di Indonesia yang sangat merugikan pelaku ekraf. Data statistik dan hasil survei ekraf hasil kerjasama Badan Ekraf dan Badan Pusat Statistik yang diluncurkan pada Maret 201710 menunjukan rendahnya pendaftaran HKI bidang ekraf, yaitu 11,05%. Dengan demikian 88,95% produk ekraf belum mendapatkan pelindungan

16 Tim Lindsey dkk, op.cit, hal. 3-4

17 Saidin, op.cit, hal. 9

(37)

HKI. Data tersebut merupakan data indikator makro ekraf tahun 2010-2015 dan hasil survei khusus ekraf (SKEK) 2016.

Seperti diketahui, HKI merupakan hak yang berasal dari hasil kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang diekspresikan kepada khalayak umum dalam berbagai bentuknya yang memiliki manfaat serta berguna dalam menunjang kehidupan manusia, juga mempunyai nilai ekonomi. HKI sebagai suatu hak milik yang timbul dari karya, karsa, cipta manusia, atau disebut sebagai HKI yang timbul karena kemampuan intelektualitas manusia. Hasil kreasi tersebut dalam masyarakat diakui bahwa yang menciptakan boleh menguasai untuk tujuan yang menguntungkannya. Kreasi sebagai milik berdasarkan postulat hak milik dalam arti seluas-luasnya yang juga meliputi milik yang tidak berwujud.

Salah satu bentuk pengaturan hukum hak kekayaan intelektual adalah Trade Related Aspects of Intellectual Property Right (TRIPs) yang dibahas dalam putaran Uruguay. TRIPs merupakan kesepakatan internasional yang paling lengkap berkenaan dengan perlindungan HKI. TRIPs Agreement juga mengadopsi konvensi-konvensi di bidang HKI yaitu Paris Convention dan Berne Convention (dua konvensi utama di bidang copyright dan industrial property). Sejarah terbentuknya TRIPs menunjukkan bahwa HKI mempunyai peranan penting dalam perdagangan khususnya untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Secara normatif, tujuan TRIPs Agreement terdapat dalam artikel 7 yaitu untuk memberi pelindungan HKI dan prosedur penegakan hukum dengan menerapkan tindakan- tindakan yang menciptakan perdagangan yang sehat, untuk memacu invensi baru di bidang teknologi dan memperlancar alih teknologi serta penyebaran teknologi dengan tetap memperhatikan kepentingan produsen dan pengguna pengetahuan

(38)

yang dilakukan untuk menunjang kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta keseimbangan antara hak dan kewajiban.18

B. Tinjauan Umum Tentang Merek

1. Sejarah dan Pengertian Merek di Indonesia

sejarah Merek dapat ditelusuri bahkan mungkin berabad-abad sebelum Masehi. Sejak jaman kuno, misalnya periode Minoan, orang sudah memberikan tanda untuk barang-barangmiliknya, hewan bahkan manusia.

Penggunaan merek dagang dalam pengertian yang kita kenal sekarang ini mulai dikenal tidak lama setelah Revolusi Industri pada pertengahan abad XVIII.

Pada saat itu sistem produksi yang berasal dari abad pertengahan yang lebih mengutamakan keterampilan kerja tangan, berubah secara radikal sebagai akibat digunakannya mesin-mesin dengan kapasitas produksi yang tinggi.19

Dalam sejarah perundang-undangan merek di Indonesia dapat dicatat bahwa pada masa kolonial Belanda berlaku Reglement Industriele Eigendom (RIE) yang dimuat dalam stb. 1912 No. 545 Jo. Stb. 1913 No. 214.20

Sebelum tahun 1961, UU Merek Kolonial tahun 1912 tetap berlaku sebagai akibat dari penerapan pasal-pasal peralihan dalamUUD 1945 dan UU RIS 1949 serta UU sementara 1950. UU Merek 1961 kemudian menggantikan UU Merek Kolonial. Namun, UU 1961 tersebut sebenarnya hanya merupakan ulangan

18 jurnal.dpr.go.id/index.php/hukum/article/download/1001/pdf ( diakses pada 11 Oktober 2019, pukul 20.42)

19 Rahmi Jened, op.cit, hal.1

20 Saidin, op.cit, hlm. 249.

(39)

dari UU sebelumnya. Tahun 1992 UU Merek Baru diundangkan dan berlaku mulai tanggal 1 April 1993, menggantikan UU Merek tahun 1961.21

Adapun alasan dicabutnya UU Merek Tahun 1961 itu adalah karena UU Merek No. 21 Tahun 1961 dinilai tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan masyarakat dewasa ini. Memang jika dilihat UU Merek Tahun 1962 ini ternyata memang banyak mengalami perubahan-perubahan yang sangat berarti jika dibandingkan dengan UU Merek No. 21 Tahun 1961, antara lain adalah mengenai sistem pendaftaran, lisensi, merek kolektif, dan sebagainya.22

Defenisi autentik mengenai merek dapat kita temukan didalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Merek No. 15 Tahun 2001 sebagai berikut :

“Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.”23

Menurut Kotler dan Keller (2009:172), merek adalah nama, istilah, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendiferensiasikan mereka dari pesaing.

Menurut Alma (2007:147) memberikan definisi bahwa merek adalah suatu tanda atau simbol yang memberikan identitas suatu barang atau jasa tertentu yang dapat berupa kata-kata, gambar ataukombinasi keduanya.

Berdasarkan ketiga definisi diatas, maka merek adalah suatu dimensi (nama kata, huruf, warna, lambang atau kombinasi dari dimensi-dimensi tersebut)

21 Tim Lindsey dkk, op.cit, hal. 132.

22 Saidin , Op.Cit., 250.

23 Hery Firmansyah, Perlindungan Hukum Terhadap Merek, Yogyakarta, Penerbit Pustaka Yustisia, 2011, hal. 31

(40)

yang mendiferensiasikan barang atau jasa dari para pesaingnya yang dirancang sebagai identitas perusahaan.24

Merek digunakan untuk membedakan barang atau produksi satu perusahaan dengan barang atau jasa produksi perusahaan lain yang sejenis.

Dengan demikian merek adalah tanda pengenal asal barang atau jasa yang bersangkutan dengan produsennya, dengan demikian menggambarkan jaminan kepribadian (individuality) dan reputasi barang dan jasa hasil usahanya tersebut sewaktu diperdagangkan.25

2. Jenis Merek

Pembagian Merek menurut UUM ( Undang-Undang Merek) ada dua yaitu (Pasal 2 ayat 2) :

1. Merek dagang

Merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya. Contoh : KFC, Yamaha, Tupperware, dll.

2. Merek jasa

Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya. Contoh : BRI, TUV Rheinland (jasa sertifikasi), AKAS (jasa transportasi), dll.

Selain dua jenis merek yang dikenal di dalam UUM, ada juga yang disebut dengan Merek Kolektif yaitu merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa

24 Repository.widyatama.ac.id ( diakses pada 30 Oktober 2019, pukul 09.54)

25 Erma Wahyuni dkk, Kebijakan dan Manajemen Hukum Merek, Yogyakarta, Yayasan Pembaharuan Administrasi Publik Indonesia, hal. 134

(41)

dengan karakteristik yang sama mengenai sifat, ciri umum, dan mutu barang atau jasa serta pengawasannya yang akan diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya (diatur juga didalam pasal 1 UUM). Contoh : melinda Collective Marks, merek ini digunakan oleh 5200 anggota dari 16 koperasi yang beroperasi di Valle di Non dan Valle di Sole, Italia.26

3. Prosedur Pendaftaran Merek

Dalam memproses suatu permohonan atau permintaan pendaftaran merek terdapat 2 (dua) syarat yang harus dilakukan yaitu: 1) syarat administratif dan 2) syarat permintaan pendaftaran merek karena merek sebagai objek yang dapat didaftar dan syarat itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam mengajukkan permintaan pendaftaran merek. Merek yag diajukan permintaan pendaftarannya tidak akan dapat diterima pendaftarannya jika syarat pertama tidak dipenuhi. Syarat pertama merupakan syarat administatif yang berupa kelengkapan dokumen, misalnya: mengisi formulir pendaftaran, mencantumkan dan menyertakan beberapa etiket merek, dan membayar biaya permohonan pendaftaran merek. Persyaratan ini harus depenuhi pada awal pengajuan permintaan pendaftaran merek tersebut. Ketentuan persyaratan administratif itu diatur dalam pasal 4 Undang-Undang Merek. Dan filter kedua yang harus dilalui dalam mengajukan permintaan pendaftaran merek, dan merupakan persyaratan kedua yang harus dilewati adalah Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-Undang Merek.

Tidak semua permohonan pendaftaran merek dikabulkan oleh Direktorat Hak

26 Khoirul Hidayah, Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Malang, setara Press, 2017. Hal.

55-56

(42)

Kekayaan Intelektual (selanjutnya disebut Direktorat Jenderal) karena permohonan pendaftaran merek dapat menghadapi tiga kemungkinan, yaitu : a. tidak dapat didaftarkan

b. harus ditolak pendaftarannya c.diterima/didaftar.27

Di samping itu, permohonan juga harus ditolak oleh Direktorat Jenderal apabila terdapat hal-hal berikut yang pengaturannya terdapat di Pasal 21 Undang- Undamg No.20 Tahun 2016. Yaitu sebagai berikut:

1. Permohonan ditolak jika Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:

a) Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

b) Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;

c) Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang

d) memenuhi persyaratan tertentu; atau 2. Permohonan ditolak jika Merek tersebut:

a) merupakan atau menyerupai nama atau singkatan nama orang terkenal, foto, atau nama badan hukum yang dimiliki orang lain, kecuali atas persetujuan tertulis dari yang berhak;

b) merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambang atau simbol atau emblem suatu negara, atau

27 Ahmad Miru, op.cit, hal.13

(43)

lembaga nasional maupun internasional, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang; atau

c) merupakan tiruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yang digunakan oleh negara atau lembaga Pemerintah, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

d) Permohonan ditolak jika diajukan oleh Pemohon yang beriktikad tidak baik

e) Ketentuan lebih lanjut mengenai penolakan Permohonan Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan c diatur dengan Peraturan Menteri.

Adapun prosedur pendaftaran merek yaitu : 1. Pengumuman

Yang pertama yang ditempuh Kantor Merek pada prosedur pendaftaran merek adalah melakukan pengumuman tentang permintaan pendaftaran merek.

Pengumuman tersebut dilakukan Kantor Merek paling lambat 14 hari sejak filling date. Tujuan diadakannya pengumuman ini agar permintaan pendaftaran tanah dapat diketahui oleh masyarakat dan bagi yang merasa dirugikan dapat mengajukan keberatan kepada Kantor Merek.

Sesuai maksud dan tujuan di atas, maka Pasal 20 ayat (1) Undamg-undang No. 19 Tahun 1992 telah mengatur cara melakukannya, yaitu dengan :

a. Menempatkan pada papan pengumuman yang khusus disediakan untuk itu dan dapat dengan mudah serta jelas dilihat oleh masyarakat ;

b. Menempatkan dalam Berita Resmi Merek yang diterbitkan secara berkala oleh Kantor Merek.

(44)

Untuk kepentingan administrasi Kantor Merek, tanggal mulai diumumkannya permintaan pendaftaran merek dilakukan pencatatan, sehingga jangka waktu pengumuman selama enam bulan dapat berlangsung dengan baik.

2. Keberatan

Bahwa bagi yang merasa dirugikan dengan adanya pengumuman permintaan pendaftaran merek dapat dapat mengajukan keberatan.keberatan ini bukan ditujukan kepada pihak yang mengajukan permintaan pendaftaran merek, tetapi ditujukan kepada Kantor Merek sebagai instansi yang menyelenggarakan pendaftaran merek.

Siapakah yang dapat mengajukan keberatan ini? Jawabannya tentu pemilik merek yaitu orang atau badan hukum. Dalam hal ini bukan saja pemilik merek terdaftar, tetapi termasuk pula pemilik merek yang tidak terdaftar. Syaratnya, pemilik merek yang tidak terdaftar telah menggunakan mereknya sebagai pemakai pertama untuk barang atau jasa yang termasuk dalam satu kelas.

Cara mengajukan keberatan harus dilakukan secara tertulis, dengan alasan yang cukup disertai bukti bahwa merek yang dimintakan pendaftaran adalah merek yang berdasarkan ketentuan Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-undang No.19 Tahun 1992 tidak dapat didaftar atau harus ditolak. Jadi jika dalam keberatan itu didalilkan terdapat persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya, pihak yang mengajukan keberatan dapat melampirkan bukti misalnya surat tanda pendaftaran merek (yang diterbitkan berdasar Undang-undang No. 21 Tahun 1961), etiket merek, sertifikat merek, dan surat-surat lainnya yang berhubungan dengan mereknya.

(45)

3. Pemeriksaan Substantif

Pemeriksaan substantif terhadap permintaan pendaftaran merek untuk memeriksa merek apakah sesuai dengan Pasal 5 tentang merek yang tidak dapat didaftar dan Pasal 6 tentang merek yang ditolak permintaan pendaftarannya.

Selain itu juga memeriksa bila ada pihak yang mengajukan keberatan dan sanggahan. Kantor Merek melakukan pemeriksaan substantif sudah ditentukan waktunya, yaitu dimulai setelah berakhirnya jangka waktu pengumuman permintaan pendaftaran merek. Apabila terdapat keberatan selama jangka waktu pengumuman, maka pemeriksaan substantif dilakukan setelah Kantor Merek menerima sanggahan. Kalau sanggahan tidak diajukan, maka pemeriksaan itu dilakukan setelah tanggal berakhirnya jangka waktu untuk menyampaikan sanggahan.

Mengenai berapa lama Kantor Merek melakukan pemeriksaan substantif, Undang-undang telah membatasi waktunya paling lambat selama sembilan bulan sejak dimulainya pemeriksaan itu (Pasal 26).

Kemudian setelah pemeriksaan substantif dilakukan dalam tenggang waktu yang diberikan seperti diatas, maka mengenai hasilnya terdapat kemungkinan permintaan pendaftaran merek dapat disetujui atau ditolak oleh Kantor Merek. Sebaliknya apabila dari hasil pemeriksaan Pemeriksa Merek berkesimpulan bahwa permintaan pendaftaran merek tidak dapat didaftar atau harus ditolak, maka Kantor Merek menetapkan keputusan tentang penolakan permintaan tersebut.

(46)

4. Sertifikat Merek

Bahwa salah satu tugas Kantor Merek dalam hal permintaan pendaftaran merek disetujui adalah menerbitkan sertifikat merek. Sertifikat ini merupakan surat tanda bukti pendaftaran merek. Selain itu jika dihubungkan dengan Pasal 3 Undang-undang No. 19 Tahun 1992, sertifikat merek juga merupakan tanda bukti hak atas merek yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang namanya tercantum didalamnya.

Dengan diterbitkannya sertifikat merek, maka dalam waktu paling lambat 30 hari sejak merek didaftarkan ke dalam daftar umum Kantor Merek diwajibkan memberikan sertifikat tersebut kepada pihak yang mengajukan permintaan pendaftaran merek.

5. Kewajiban Mencantumkan Nomor pendaftaran Merek

Bagi merek yang telah terdaftar di Kantor merek, setiap penggunaannya menurut Pasal 30 Undang-undang no. 19 Tahun 192 wajib mencantumkan nomor pendaftaran merek. Maksud dari pencantuman nomor tersebut untuk menunjukkan bahwa merek bersangkutan telah terdaftar.

Meskipun ketentuan pasal ini bersifat imperatif, tetapi jika tidak dituruti tidak ada sanksi hukumnya. Hanya saja kelalaian tidak mencantumkan nomor pendaftaran merek dapat merugikan pemilik merek sendiri dlam memperdagangkan produknya karena disangka mereknya tidak terdaftar. Hal ini

Referensi

Dokumen terkait

Berikut hasil eksperimen download/transfer file, waktu yang dibutuhkan dalam proses download mulai dari awal proses “Simpan Berkas” sampai proses download-nya berakhir dihitung

Setelah aktivitas-aktivitas tersebut dikelompokkan, maka selanjutnya dapat dilakukan eliminasi dan perbaikan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah, hal ini

x rata - Rata Daerah n Pengeluara Daerah Kebutuhan = + + + A r t i n y a , Kebutuhan daerah merupakan perkalian dari pengeluaran rata-rata daerah dengan berbagai indeks

ZALORA memberikan seller dengan sistem seller center untuk mengatur produk, stok dan pesanan ZALORA melakukan investasi besar di banyak channel mareting online dan

Desain perancangan ini menghubungkan antar kantor cabang karang anyar dan kantor pusat yang terletak di rambutan (gambar 2), menghubungkan kedua device/router

- Jumlah Surat Tagihan Pajak Daerah (Non PBB) yang tersampaikan; - Jumlah Surat Peringatan Pajak Daerah (Non PBB) yang tersampaikan; - Jumlah Wajib Pajak Bandel Pajak Daerah

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif untuk mengetahui hubungan tingkat stress dengan

Dalam rangka pembinaan terhadap GPAI, maka Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam akan melaksanakan program