BAB II TINJAUAN YURIDIS HAK MEREK DI INDONESIA
B. Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang
Merek sebagai salah satu wujud karya intelektual memiliki peranan penting bagi bagi kelancaran dan peningkatan perdagangan barang atau jasa dalam kegiatan perdagangan dan investasi. Merek dengan (brand image-nya) dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan tanda pengenal atau daya pembeda yang teramat penting dan merupakan jaminan kualitas produk atau jasa dalam persaingan bebas. Oleh karena itu, merek adalah set ekonomi bagi pemiliknya, baik perorangan maupun perusahaan (badan hukum) yang dapat menghasilkan keuntungan besar, tentunya bila didayagunakan dengan memperhatikan aspek bisnis dan proses manajemen yang baik. Demikian pentingnya peranan merek ini maka terhadapnya diletakkan perlindungan hukum, yakni sebagai objek terhadapnya terkait hak-hak perseorangan atau badan hukum.43
Perlindungan hukum merupakan salah satu jaminan untuk memproses jika terdapat pelanggaran terhadap merek terkenal. Sebagai suatu jaminan maksudnya disini adalah jika terjadi pelanggaran maka pemilik merek terkenal dapat mengajukan upaya hukum karena status dirinya sebagai pemilik merek yang sah dan wajib mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah.44
42 Philipus M Hadjono, Perlindungan Hukum bagi HAKI di Indonesia edisi khusus, Penerbitan Perdapan, 2007, hal.38
43 Adrian Sutedi, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Jakarta, Sinar Grafika, 2009, hal.91
44 Ida Ayu Windhari Pratiwi, Pelanggaran Merek Terkenal dan Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Hak dalam Persfektif Paris Convention, TRIPs, Agreement dan UU Merek Indonesia, Denpasar,2014, hal.431
Ciri dari merek terkenal adalah bahwa perlindungan diberikan dalam hubungan pemakaian secara umum dan tidak hanya berhubungan dengan jenis barang-barang dimana merek tersebut didaftarkan.45 Perlindungan ini dijamin dalam pasal 6 dari UU Merek2001 dan pasal 21 UUMerek 2016.Pada pasal 6 UUMerek 2001 yaitu :
1. Permohonan harus ditolak oleh Direktorat Jendral apabila merek tersebut : a. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan
merek milik pihak lain yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis;
b. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau sejenisnya;
c. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi-geografis yang sudah dikenal;
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat pula diberlakukan tehadap barang dan/atau jasa yang tidak sejenis sepanjang memenuhi persyaratan tertentu yang akan ditetapkan lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
3. Permohonan juga harus ditolak oleh Direktorat Jendral apabila merek tersebut :
a. Merupakan atau menyerupai nama orang terkenal, foto atau nama badan hukum yang dimiliki orang lain, keuali atas persetujuan tertulis yang berhak;
45 Ibid
b. Merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambang atau simbol atau emblem negara atau lembaga nasional maupun internasional, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang;
c. Merupakan tiruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yang digunakan oleh negara atau lembaga pemerintah, kecuali atas persetujuan tertulis daripihak yang berwenang.
Perlindungan yang diberikan oleh Undang-undang merek terhadap merek terkenal merupakan pengakuan terhadap keberhasilan pemilik merek dalam menciptakan image eksklusif dari produknya yang diperoleh melalui pengiklanan atau penjualan produk-produknya secara langsung. Teori mengenai “pencemaran”
merek terkenal (dilution theory) tidak mensyaratkan adanya bukti telah terjadi kekeliruan dalam menilai sebuah pelanggaran merek terkenal. Perlindungan didasarkan pada nilai komersial atau nilai jual dari merek dengan cara melarang pemakaian yang dapat mencemarkan nilai eksklusif dari merek atau menodai daya tarik merek terkenal tersebut.46
Dalam praktek banyak dijumpai kasus pelanggaran merek terkenal yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan dalam waktu singkat dengan cara memalsukan atau meniru merek terkenal tersebut. Pemilik merek terkenal dalam hal ini sudah tentu sangat dirugikan karena dapat mengurangi omzet penjualan serta mengurangi kepercayaan konsumen terhadap kualitas merek terkenal tersebut. Di Indonesia banyak dijumpai kasus pelanggaran merek terkenal seperti kasus antara produsen sepatu Aerosoles International Inc dengan produsen lokal
46 Tim Lindsey, Op.cit, hal. 151
PT Matahari Duta Prima, kasus antara PT Tossa Shakti produsen sepeda motor Tossa dengan PT Astra Honda Motor produsen sepeda motor Honda dan lain-lain.47 Paris Convention, TRIPs Agreement dan UU No 15 tahun 2001 (UU Merek Indonesia) telah mengatur sistem perlindungan terhadap merek terkenal, namun pada prakteknya masih banyak terjadi pelanggaran terhadap merek terkenal.
Perlindungan terhadap merek terkenal diatur dalam Pasal 6 bis Paris Convention sebagai berikut:
a. Negara anggota Union secara ex officio jika legislasinya mengizinkan atau atas permintaan pihak yang berkepentingan membatalkan atau menolak pendaftaran dan melarang penggunaan merek yang merupakan imitasi, terjemahan atau reproduksi yang dapat menciptakan kebingungan atas satu merek yang menurut pihak berwenang dari negara pendaftar atau pengguna sebagai merek terkenal di negara tersebut sebagaimana yang secara sah diberikan kepada orang yang berhak berdasarkan konvensi ini serta digunakan untuk barang yang mirip atau identik. Hal ini dapat juga berlaku apabila bagian esensial dari merek terkenal atau imitasi yang dapat menciptakan kebingungan.
b. Permintaan pembatalan merek dapat dilakukan dalam jangka waktu setidaknya lima tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran.
c. Permintaan pendaftaran merek tidak ada batas waktu apabila pendaftaran dilakukan dengan itikad tidak baik/buruk.
Perlindungan terhadap merek terkenal diatur dalam Pasal 6 bis Paris Convention yang mewajibkan seluruh anggotanya untuk melindungi merek
47Tim Redaksi Tata Nusa, 2004, Himpunan Putusan-putusan Pengadilan Niaga dalam Perkara Merek, PT. Tatanusa, Jakarta, hal.319
terkenal warga negara lainnya untuk barang yang menyerupai atau sama.
Ditambahkan lagi dalam Pasal 4A Ayat (1) mengenai hak prioritas yang menentukan bahwa merek terkenal harus mendapat perlindungan hukum di negara yang termasuk dalam anggota Paris Convention sejak merek tersebut didaftar dinegara peserta Paris Convention atau negara asal. Negara anggota secara ex officio permohonan pendaftaran merek menurut peraturan negara yang bersangkutan serta mengabulkan permohonan pembatalan dari pihak lain. Dalam Paris Convention juga mengatur mengenai perlindungan dapat ditolak apabila : merek yang bersangkutan tidak memiliki karakter pembeda atau secara eksklusif mengandung syarat-syarat deskriptif; pendaftaran di negara yang bersangkutan melanggar hak pihak ketiga terdahulu dan merek tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ketertiban umum atau moralitas.48
Hal yang sangat mendasar dalam perlindungan merek ini adalah bahwa merek tidak dapat didaftar atas dasar permohonan yang diajukan oleh pemohon yang beritikad tidak baik.49 Ukuran itikad baik ini menjadi sulit untuk diukur secara kasat mata, bahkan sering kali sengketa muncul karena niat buruk untuk mendaftarkan merek dengan ciri-ciri yang mirip atau bahkan sama dengan cara memalsukan merek dan desain bungkusnya. Oleh karena itu, pendaftaran dengan itikad baik ini merupakan salah satu upaya melindungi Merek dagang terkenal.
Lebih lanjut UU Merek juga telah berupaya untuk memberikan perlindungan terhadap merek terkenal yang mengatur bahwa permohonan harus ditolak oleh Direktorat Jenderal apabila Merek tersebut :
48 Cita Citrawinda, 2007, Sekilas Tentang Tindak Pidana dalam Bidang Merek, http://lib.law.ugm.ac.id/ojs/index. php/jli/article/view/654, Diakses 26 Desember 2013, h.1-2
49 Pasal 4 UUM
a. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek pihak lain yang sudah terdaftar terlebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis ;
b. Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan Merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis.50
Ketika jumlah permintaan pendaftaran merek terkenal yang diajukan oleh pihak yang tidak berwenang mulai bertambah, dan isu tentang perlunya perlindungan merek terkenal (asing) semakin gencar, serta terlihat kecenderungan adanya peningkatan perkara merek terkenal di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, kemudian Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No : M.02-HC.01 TAHUN 1987 (KEPMEN 1987) tentang PENOLAKAN PERMOHONAN PENDAFTARAN MEREK YANG MEMPUNYAI PERSAMAAN DENGAN MEREK TERKENAL MILIK ORANG LAIN pada tanggal 15 Juni 1987. Dalam KEPMEN tersebut terdapat 2 (dua) alasan yang menjadi dasar pertimbangan, yaitu :
1. Karena pemakaian merek terkenal milik orang lain akan menyesatkan masyarakat tentang asal-usul secara kualitas barang ; dan
2. Untuk melindungi masyarakat dari kekeliruan memilih barang yang bermutu baik, maka permohonan pendftaran merek yang mempunyai
50 Pasal 6 UUM
persamaan pada pokoknya maupun keseluruhannya dengan merek terkenal milik orang lain ditolak dalam Daftar Umum.51
Perlindungan hukum atas merek semakin menjadi hal yang penting mengingat pesatnya perdagangan dunia dewasa ini. Imbasnya menjadi sulit untuk dapat membedakan satu produk dengan produk yang lain untuk diberikan perlindungan merek dengan perlindungan desain produk.52 Di Indonesia, hak atas merek didasarkan atas pemakaian pertama dari merek tersebut. Bagi mereka yang mendaftarkan mereknya dianggap oleh Undang-Undang sebagai pemakai merek pertama dari merek tersebut kecuali kalau dapat dibuktikan lain dan dianggap sebagai yang berhak atas merek yang bersangkutan. Tujuan dari pendaftaran merek adalah memberikan perlindungan untuk pendaftaan merek tersebut yang oleh Undang-Undang dianggap sebagai pemakai pertama terhadap pemakaian tidak sah oleh pihak-pihak lain.53
Perlindungan hukum berlaku bagi hak kekayaan intelektual yang sudah terdaftar dan dibuktikan dengan sertifikat pendaftaran. Perlindungan hukum berlangsung selama jangka waktu yang ditentukan menurut bidang dan klasifikasinya.54 Apabila orang ingin menikmati manfaat ekonomi dari hak kekayaan intelektual orang lain, dia wajib memperoleh izin dari orang yang berhak. Penggunaan hak kekayaan intelektual orang lain tanpa izin tertulis dari pemiliknya, atau pemalsuan/menyerupai hak kekayaan intelektual orang lain, hal itu merupakan suatu pelanggaran hukum. Perlindungan hukum merupakan upaya
51 Insan Budi Maulana, Perlindungan Merek Terkenal di Indonesia Dari Masa ke Masa, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 1999, hal.85
52 Hery Firmansyah, op.cit 2011, hal.35
53 Ibid , hal.36
54 Ibid
yang diatur oleh Undang-Undang guna mencegah terjadi pelanggaran hak kekayaan intelektual oleh orang yang tidak berhak.55
Undang-Undang No.19 Tahun 1992 secara umum juga melindungi merek yang berasal dari luar negeri yang beredar di Indonesia. Pada prinsipmnya Undang-Undang tidak memperbolehkan seseorang atau badan hukum melakukan penjiplakan atau peniruan merek orang lain, apakah merek tersebut berasal dari dalam negeri atau luar negeri, karena yang diutamakan adlah pemilikan merek dengan itikad baik. Dalam Undang-Undang juga dikehendaki bahwa merek asing dilakukan pendaftarannya di Indonesia, dan sebagaimana telah dibicarakan dimuka, pemilik merek asing diberi kesempatan mengajukan permintaan pendaftaran merek dengan hak prioritas. Namun prosedur ini hanya diperuntukkan bagi merek asing yang baru, karena syaratnya diajukan dalam tenggang waktu enam bulan sejak filling date yang pertama kali diluar negeri yang ikut dalam Konvensi Paris 1883.56
Perlindungan merek di Indonesia dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Perlindungan Merek Preventif
Merek terdaftar adalah merek yang telah didaftarkan di Dirjen HAKI. Oleh karena itu merek yang telah didaftarkan akan memperoleh nomor register. Dengan Nomor register tersebut terdaftar di Dirjen HAKI maka merek tersebut adalah merek yang sah. Pemilik merek tersebut memperoleh perlindungan hukum secara preventif dari Negara melalui undang-undang yaitu UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Perlindungan hukum terhadap merek terdaftar secara preventif
55 Ibid
56 Gatot Supramono, op.cit, hal. 80
diatur dalam Pasal 4, 5, 6 ayat (1,3) UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
Sesuai dengan pasal 4 UU No.15 tahun 2001 adalah Merek tidak dapat didaftar atas dasar Permohonan yang diajukan pemohon yang beretikad tidak baik.
Kemudian Perlindungan preventif sesuai dengan pasal 5 UU No 15 tahun 2001 yaitu Merek yang tidak dapat didaftarkan atau permintaan pendaftaran merek yang ditolak. Merek yang tidak dapat didaftarkan apabila mengandung salah satu unsur di bawah ini:
a. bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum b. tidak memiliki daya pembeda
c. telah menjadi milik umum atau
d. merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimintakan pendaftaran . Perlindungan merek preventif berdasarkan Pasal 6 UU ayat (1) No.15 Th.2001, Merek yang ditolak permintaan pendaftaran oleh Kantor merek apabila :
1.mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek milik orang lain yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang atau jasa sejenis
2.mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek milik orang lain yang sudah terkenal milik orang lain untuk barang atau jasa sejenis
3.mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi –geografis yang sudah dikenal.
Perlindungan merek preventif dalam Pasal 6 ayat (3) UU No.15 Th. 2001, Permohonan juga harus ditolak oleh Kantor Direktorat Jendaral apabila Merek :
1. merupakan atau menyerupai nama orang terkenal, foto,merek dan nama badan hukum yang dimiliki orang lain yang sudah terkenal, kecuali atas persetujuan tertulis dari yang berhak.
2. merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singklatan nama bendera, lambang atau simbol atau emblem negara atau lembaga nasional maupun internasional, kecuali atas persetujan tertulis dari pihak yang berwenang ; 3. merupakan tiruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yang
digunakan oleh negara atau lembaga pemerintah, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.
b. Perlindungan Merek Represif
Merek yang sah atau merek yang terdaftar harus dilindungi Negara melalui UU No. 15 tahun 2001 dari pihak-pihak yang merugikan. Bentuk perlindungan represif jika terjadi pelanggaran terhadap merek yang terdaftar diatur dalam Pasal 90 sampai dengan Pasal 95 UU No 15 Tahun 2001.57
Permasalahan mengenai perlindungan merek terkenal di dunia menjadi suatu perbuatan melawan hukum yang sering dibahas oleh karena semenjak adanya perbuatan dimana adanya pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab secara tidak sah menggunakan merek atas suatu barang dan jasa tanpa izin dari pemilik yang sah di wilayah yang bukan merupakan negara asal dari merek yang digunakan secara tidak sah tersebut.58
57 Jurnal Hukum Samudra Keadilan Volume 11
58 O.C Kaligis, op.cit, hal.195
C. Perlindungan Hukum Terhadap Pemalsuan Merek Dagang Terkenal