• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII PENUTUP 325 8.1 Simpulan

DAFTAR ARTI LAMBANG

1.1 Latar Belakang

Rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti, Dusun Batu Pandang, Desa Sapit, Kecamatan Swela, Lombok Timur di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), di Mataram, Lombok merupakan sebuah kegiatan seni dan budaya. Kegiatan itu muncul di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Mataram, Lombok yang multikultur. Kehidupan masyarakat multikultur Mataram, Lombok dibentuk atas dasar pergulatan identitas yang diproduksi oleh kepentingan budaya wetu telu

danagama Islam. Dalam pergulatan identitas itu budaya wetu telu dikonstruksi dan direpresentasikan melalui berbagai cara yang bermakna, antara lain dalam bentuk pertunjukan wayang orang. Wayang orang sebagai simbol untuk menyampaikan pesan tentang nilai tradisi direkonstruksi dan direpresentasikan sebagai sebuah identitas.

Wayang orang sebagai warisan budaya dibangun melalui proses sejarah yang cukup panjang. Di dalamnya terdapat percampuran nilai budaya dan ajaran agama antaretnis, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Sasak. Sebagai bagian budayawetu telu, pertunjukan wayang orang saat ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat Mataram, Lombok. Banyak warga masyarakat Mataram, Lombok tidak mengetahuai pertunjukan wayang orang secara pasti.

2

Beberapa orang Lombok yang pernah diwawancarai, seperti Mustahin mahasiswa S-3 Kajian Budaya, Salman Alfarisi mahasiswa S-3 Kajian Budaya dan seniman teater, Yuspianal dan Ayu Mulyasari mahasiswa ISI Denpasar mengatakan tidak pernah mendengar bahwa di Lombok terdapat pertunjukan wayang orang. Menurut mereka pertunjukan wayang kulit memang ada di Lombok yang disebut dengan wayang menak. Informasi itu membuktikan bahwa wayang orang dipinggirkan oleh kondisi sosial yang multietnis dan pergulatan identitas. Untuk melestarikan wayang orang seniman, budayawan dan pihak UPTD Taman Budaya Mataram, Lombok melakukan rekonstruksi terhadap Wayang Orang Darma KertiDusun Batu Pandang, Lombok Timur.

Menurut Ulfi, nama Darma Kerti pada kesenian Wayang Orang Dusun Batu Pandang digunakan karena cerita pokok yang sering dipentaskan adalah kisah Prabu Darma Kerti (Wawancara, 10 Oktober, 2015). Wayang Orang Darma Kerti, Dusun Batu Pandang itu dipilih untuk direkonstruksi karena masih ada penari dan tokoh-tokoh yang dapat memberikan penjelasan tentang cerita, bentuk pertunjukan, tari, dan kondisinya saat ini. Di Desa Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah juga pernah ada wayang orang, tetapi saat ini telah punah tanpa ada bekas yang dapat dijadikan petunjuk rekonstruksi (Fathurrahman, 2009: 4).

Dari hasil pengamatan terhadap gejala hampir punahnya Wayang Orang

Darma Kerti Dusun Batu Pandang, dapat diketahui bahwa gamelannya telah di

gampil dalam sebuah ruangan dengan kondisi yang kurang dirawat. Penari- penarinya kebanyakan mencari pekerjaan ke luar daerah, bahkan ke luar negeri

3

sehingga sulit mencari penari. Generasi muda di Dusun Batu Pandang tidak ada yang berkeinginan mempelajari wayang orang karena dialog-dialognya berbahasa Jawa Kuno dianggap sulit untuk dipelajari. Mereka juga telah dicekoki oleh pemikiran baru tentang ajaran Islam yang dianggap benar (syariah).

Ulfi, salah seorang penari Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang juga mengatakan bahwa Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang sudah tidak pernah pentas lagi sejak Amaq Marni meninggal pada tahun 2010. Akan tetapi, pentas gamelan masih dilakukan atas permintaan orang yang mempunyai hajatan, hal itupun sangat jarang, paling banyak setahun sekali (Wawancara, 10 Oktober 2015).

Menurut Ulfi, Amaq Marni sebagai pimpinan grup Kesenian Darma Kerti Dusun Batu Pandang terus menerus mengajak para pendukung wayang orang agar bersabar dan tetap mempertahankan seni wayang orang. Artinya terus menerus mencari jalan agar dapat pentas dan memproleh perhatian dari pemerintah. Ini dimaksudkan agar generasi muda tetap tertarik untuk mempertahankan wayang orang (Wawancara, 10 Oktober 2015). Menurut Kantun, prerjuangan Amaq Marni bersama dengan seniman dan budayawan Mataram, Lombok agar wayang orang itu tetap dapat dilestarikan telah mendorong munculnya program kegiatan UPTD Taman Budaya Mataram, Lombok untuk melestarikan kesenian tradisional Sasak. Melalui program itu, maka perjuangan seniman dan budayawan Sasak dapat diakomodasi agar Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang direkonstruksi dan dipentaskan pada 14 November 2009.

4

Sumber cerita rekonstruksi wayang orang itu adalah Serat Menak, sebuah karya sastra yang mengandung nilai agama Islam dan nilai lokal Sasak. Salah satu lakon yang diambil dari Serat Menak adalah Jayengrana Merariq.

Lakon ini dipilih karena mengandung nilai agama, nilai estetik, dan nilai tradisi, yang perlu diregenerasikan dan dilestarikan sebagaikearifan lokal (Faturrahman, 2009:6). Regenerasi dapat diartikan sebagai usaha untuk mempertahankan wayang orang karena wayang orang mengimplementasikan ajaran agama Islam dan nilai lokal Sasak, yang bersifat integratif.

Menurut Rusmadi, penggunaan kata wayang orang, dalam rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti, Dusun Batu Pandang di UPTD Taman Budaya Mataram, Lombok tidak berbeda dengan kata wayang wong. Akan tetapi, dalam masyarakat Lombok pada umumnya istilah wong kurang lumrah karena kata wong merupakan bahasa Jawa Kuno (Wawancara, 12 November 2013). Dikatakan pula, bahwa kata wong hanya dikenal di lapisan dalang dan tokoh- tokoh adat yang memiliki toleransi terhadap kebudayaan Jawa dan Bali yang berkembang di Lombok.

Penggunaan kata orang dalam rekonstruksi wayang orang memberikan kesan tersendiri tentang Sasak. Dikatakan demikian karena kata wong dalam pertunjukan wayang wongdi Jawa dan Bali menunjukan adanya kesan pengaruh Majapahit. Di Dusun Batu Pandang, Desa Sapit, Kecamatan Swela, Lombok Timur, juga disebut wayang wong, namun penonton sering menyebutnya pertunjukan wayang orang. Rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti Dusun

5

Batu Pandang itu, dilihat dari gerak tarinya merupakan gerak-gerak wayang sedangkan yang di stilirisasi, sedangkan musik pengiringnya adalahlelinyikan.

Menurut Kantun, lelinyikan berarti musik untuk menghibur yang tidak terikat dengan jumlah instrument. Artinya, musik yang sangat sederhana dan gending-gendingnya adalahtawaq-tawaq, bebatelan, dan tangkilan,(Wawancara, 9 Oktober 2015). Penggunaan sumber cerita Serat Menak sangat sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Mataram, Lombok yang mayoritas beragama Islam.

Menurut Kantun, serat menak di Mataram, Lombok ada dua jenis yaitu,

Serat Menak Bel dan Serat Menak Parigan.Serat Menak Bel adalahserat menak

yang telah dibukukan sehingga tokoh penting yang telah meninggal dapat hidup kembali sesuai dengan alur lakon (misalnya: hanya dengan diperciki air atau dengan mantra-mantra tokoh itu bisa hidup kembali). Serat Menak Parigan

adalah serat menak pokok dalam bentuk lontar, tokoh apa pun kalau sudah meninggal dalam pertunjukan tidak dapat hidup lagi sesuai dengan alur lakon (Wawancara, 9 Oktober 2015). Dalam hal ini wayang termasuk wayang orang merupakan warisan budaya tak benda, memiliki nilai kemanusian yang sangat mulia, dilihat dari sumber cerita yang digunakan.

Sebagai warisan budaya yang memiliki nilai kemanusiaan universal telah diakui oleh dunia, sehingga wayang mendapatkan perlindungan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO) sebagai warisan budaya tak benda yang ditetapkan pada 7 November 2003 (Matsuura, 2003). Perlindungan ini dilakukan oleh UNESCO supaya wayang dipelihara,

6

dipertahankan, dan dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda untuk menjadi sumber moral dalam mengembangkan nilai kemanusiaan.

Perlindungan itu diharapkan dapat mendorong agar semangat seniman dan budayawan Sasak untuk mempertahankan seni budaya lokal lebih besar, terutama mereka yang ingin menjadikan budayawetu telusebagai identitas Sasak. Semangat ini terhalang karena adanya pengaruh yang sangat kuat dari Islam

Waktu Limasebagai Islam modern yang ingin menolak budayawetu telu. Sebagai wahana perjuangan untuk mempertahankan seni dan budaya Sasak muncullah Majelis Adat Sasak (MAS). Menurut Prima, salah seorang pengurus MAS, penolakan terhadap tradisi termasuk kesenian itu merupakan pengingkaran terhadap sejarah perkembangan Islam di Lombok (Wawancara, 12 November, 2013).

Prima juga mengatakan bahwa membangkitkan budaya wetu telu untuk berperan dalam percaturan global sangat penting. Pemikiran itu merangsang kelompok agama Islam Sasak yang semula menolak kesenian tradisional mulai menyadari bahwa membangkitkan seni dan budaya tradisional merupakan upaya untuk membangun identitas Sasak (Wawancara, 12 November 2013). Tuan Guru Haji (TGH) yang berasal dari kelompok Nahlatul Ulama (NU), Nahlatul Wathan (NW), dan Muhamadyah, sudah mulai memberikan sumbangan terhadap kebangkitan kesenian tradisional sejak tahun 2013.

Atas perjuangan masyarakat Sasak melalui MAS, yang didukung oleh para seniman untuk mengingatkan pemerintah tentang pentingnya budaya

7

NTB, Tuan Guru Haji (TGH) Muhamad Zainul Majdi, mulai membuat program pembangunan Lombok berdasarkan visi, beriman, berbudaya, kreatif dan,

sejahtera. Melalui konsep berbudaya dan kreatif ini pemerintah mulai mengulurkan tangan untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisi termasukwayang orang.

Berbagai jenis seni pertunjukan yang saat ini berkembang di Lombok, khususnya di Mataram didominasi oleh seni pertunjukan Bali. Jenis-jenis kesenian Bali tersebut adalah Tari Joged Bumbung, Tari Pendet, Tari Candrametu, Tari Panji Semirang, Tari Mergepati, Tari Wiranata, Tari Kebyar Duduk, Tari Oleg Temulilingan, Tari Legong Kraton, Tari Tenun, Tari Nelayan, Tari Trunajaya, Sendratari, Topeng, Arja, Rejang, Sanghyang, dan yang lainnya. Untuk mengimbangi berbagai jenis kesenian Bali yang ada, maka rekonstruksi wayang orang menjadi sangat penting sebagai ciri khas Sasak supaya identitas Sasak muncul di Mataram, Lombok.

Wayang orang, termasuk golongan seni pertunjukan drama dan tari (Monografi NTB Jilid II, 1977:137), merupakan salah satu bentuk tradisi yang tidak dibenarkan oleh firkoh-firkoh baru Islam untuk dipentaskan pada saat perayaan agama Islam. Pandangan itu didasarkan atas pemahaman bahwa seni pertunjukan tradisional Sasak merupakan warisan tradisi yang melekat dengan budayawetu telu, dan bernapaskan budaya Hindu. Warisan budaya Hindu yang melekat pada budaya wetu telu tidak benar dikembangkan oleh orang yang beragama Islam. Hal ini menunjukan adanya sentimen lokal dan konflik etnis di Lombok semakin menguat, dan merupakan sumberpergulatan identitas.

8

Pergulatan identitas telah dimulai sejak Gajah Mada mengirimkan pasukannya untuk menaklukan Selepawis atau Selesuwung (artinya=Lombok) pada tahun 1344. Melalui penaklukan itu telah tertanam nilai-nilai Majapahit yang bersifat sinkeritisme Hindu dan Budha (Bunyamin, 2011:5).Selepawis atau

Selesuwung adalah bahasa Kawi yang digunakan oleh pengarang dengan berpedoman pada bahasa Jawa Kuno. Menurut Anggawa, bahasa Kawi berbeda dengan bahasa Jawa Kuna karena bahasa Kawi adalah bahasa komunikasi antar wilayah di Nusantara sehingga merupakan bahasa campuran antara Jawa, Bali, dan Sasak, sedangkan bahasa Jawa Kuno adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa, pada jaman kejayaan kerajaan Hindu Jawa (Wawancara, 12 November 2013).

Kedatangan Islam ke Lombok pada sekitar abad XVI yang dibawa oleh Sunan Giri dan Pangeran Sangupati telah menyebar luaskan nilai-nilai Islam. Selain itu, masuknya usaha dagang Belada yaitu Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) ke wilayah timur yaitu ke Makasar tahun 1633 menyebabkan terjadinya perang antara VOC dan kerajaan Goa di Makasar. Perang antara VOC dan Makasar berimplikasi terhadap kehidupan masyarakat Lombok karena perdagangan di Lombok berada di bawah pengaruh Makasar (Bunyamin, 2011:9). Mundurnya supremasi Makasar di Lombok menyebabkan kerajaan Seleparang mengakui kekuasaan VOC di Lombok sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1675 di Benteng Ritterdam Makasar (Bunyamin, 2011: 9). Keadaan Lombok yang kacau-balau, dimanfaatkan oleh Raja Karangasem Bali untuk menyerang Lombok pada tahun 1677. Pada waktu itu

9

kekuatan Raja Karangasem Bali dapat dihalau oleh kerajaan Seleparang, Lombok, bahkan penyerangan pada tahun 1678 pun juga gagal (Bunyamin, 201:9).

Pada tahun 1692 kerajaan Karangasem Bali kembali menyerang Lombok dengan bantuan Banjar Getas untuk menaklukkan Pejanggik. Kerajaan Pejanggik dapat ditaklukan dan secara berangsur-angsur kerajaan Karangasem Bali berkuasa di Lombok. Hal ini menyebabkan nilai budaya Bali yang bernapaskan Hindu sangat kuat di Lombok (Bunyamin, 2011: 9--10). Kekuasaan kerajaan Karangasem Bali di Lombok dianggap sebagaipenjajah. Hal itu menyebabkan munculnya perlawanan-perlawanan dari orang Sasak.

Perlawanan itulah kemudian menyebabkan terjadinya konflik yang berkepanjangan sampai sekarang. Proses sejarah itu telah diwariskan sebagai budaya Sasak yang bersifat sinkeritisme antara budaya asli sebelum masuknya pengaruh Majapahit dan nilai Islam yang masuk pada sekitar abad XVI. Warisan sejarah itulah yang dikenal dengan budaya wetu telu. Ketika penganut budaya Sasak yang beragama Islam meneruskan konsep wetu telu, maka mereka disebut denganIslam Wetu Telu.

Sejak tahun 1968 terjadi konsolidasi Islam karena semua Islam adalah Islam Waktu Lima sehingga tidak ada lagi istilah Islam Wetu Telu (Supratno, 1996:141). Masyarakat yang tidak memahami asal-usul wetu telu, sering menyebutnya Islam Waktu Telu. Menurut Anggawa, kelompok yang mempertahankan budaya wetu telu disebut dengan Islam Kultural, sedangkan Islam yang tidak mempertahankan budayawetu telu disebut dengan IslamWaktu

10

Lima yang berorientasi Syariah. Anggawa, mengatakan bahwa konsolidasi Islam itu terjadi sebagai dampak dari G. 30. S pada tahun 1965. Kelompok yang mempertahankan budaya wetu telu pada waktu itu dikafirkan, sehingga banyak yang terbunuh (Wawancara, 15 Oktober, 2015).

Konsolidasi Islam ini telah menempatkan Islam Waktu Lima dengan mayoritas pengikutnya, dan doktrin-doktrinnya menganggap warisan budaya

wetu telu itu tidak perlu dipertahankan. Implikasi dari konsulidasi itu, maka pementasan kesenian tradisional Sasak sempat dilarang pada tahun 1970-an (Supratno, 1996:315). Menurut Anggawa, Islam Kultural, adalah Islam yang bersifat adaptif dengan budaya luar sehingga antarbudaya di Mataram, Lombok dapat hidup berdampingan dengan damai. Kelompok Islam Sasak yang tidak dapat menerima pertunjukan kesenian tradisional termasuk wayang orang adalah kelompok Islam Sasak yang berorientasi pada budaya Arab, yang saat ini disebut

Islam Syariah. Kedua kelompok tersebut di Mataram, Lombok berasal dari Islam

Waktu Lima (Wawancara, 10 Oktober 2015). Hal itu menunjukkan ada kelompok Islam Waktu Lima yang masih mempertahankan budaya lokal sebagai warisan budayawetu teludan ada IslamWaktu Limayang beraliransyariah.

Bagi penganut agama Islam Waktu Lima yang beraliran syariah

berorientasi pada budaya Arab, sangat fanatik pada simbol agama berdasarkan budaya Arab. Menurut tokoh-tokoh agama Islam Syariah, melakukan hal-hal yang tidak diwajibkan dianggap larangan oleh agama Islam. Tokoh-tokoh adat Sasak yang menganut Islam Kulturalmenganggap bahwa tidak diwajibkanoleh

11

agama, bukan dilarang karena tradisi merupakan kearifan lokal yang harus dipelihara dengan baik sebagai identitas.

Prima dan Ibrahim mengatakan bahwa kalau tradisi, termasuk seni pertunjukan wayang orang tidak dipelihara dengan baik oleh orang yang mengaku dirinya orang Sasak, maka siapa lagi yang harus mempertahankan dan memelihara tradisi tersebut (Wawancara, 12 November, 2013). Memang disadari bahwa saat ini ada kecendrungan masyarakat untuk meninggalkan tradisi. Hal itu terkait dengan perkembangan global mengarah pada kepentingan universalisme dan homoginitas, yang cendrung mengaburkan nilai-nilai lokal sehingga memicu munculnya perjuangan untuk membangun identitas (Turner, 2002: 102).

Wayang Kulit Bali dan Wayang Kulit Jawa pernah berkembang di Lombok dengan cerita Mahabharata dan Ramayana yang disebut dengan Wayang

Lelendong (Supratno, 1996: 5), saat ini tidak berkembang lagi. Meskipun Wayang Lelendong tidak berkembang, pengaruhnya juga nampak pada wayang orang di Lombok. Pengaruh Wayang Wong Parwa Bali nampak pada Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang karena semua penari tidak menggunakantapel.

Menurut Darmatif, pengaruh Wayang Wong Ramayana, yang sering disebut dengan wayang wong saja tampak pada wayang wong atau wayang orang, Desa Sembalun, Lombok Timur. Pengaruh itu tampak pada penari yang hampir semuanya menggunakan tapel (topeng) sama seperti Wayang Wong Bali. Menurut Darmatif, tapel-tapel wayang wong itu dibawa oleh leluhurnya dari Majapahit ke Desa Sembalun. Kemudian mereka mendirikan pertunjukan

12

wayang wong di Desa Sembalun, Lombok Timur (Wawancara, 12 November 2013).

Wayang orang umumnya di Lombok, dan Wayang Orang Darma Kerti

Dusun Batu Pandang khususnya, merupakan pertunjukan wayang orang yang ceritanya bersumber dari Serat Menak. Sebagai sumber cerita Serat Menak

merupakan hasil perpaduan antara Hikayat Amir Hamzah dan cerita Panji. Hikayat Amir Hamzah merupakan hikayat Melayu yang berasal dari kitab

Qissai Emr Hamza sebuah karya sastra Persia (Soekmono, 1981:97). Menurut Reid (1992:270), hikayat Melayu merupakan karya sastra yang menggambarkan keberanian pahlawan Persia. Di pihak lain cerita Panji adalah karya sastra yang berkembang pada zaman Majapahit, mengisahkan Panji Inu Kertapati dengan Candra Kirana. Menurut Kantun, salah satu lakon yang diambil dari Serat Menak Parigan dalam rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang di UPTD Taman Budaya Mataram, Lombok adalah Jayengrana Merariq(Wawancara, 9 Oktober 2015)

Rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang itu dilakukan oleh para seniman dan budayawan Lombok yang difasilitasi oleh UPTD Taman Budaya Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam proses rekonstruksi itu ditampilkan seniman-seniman Lombok, baik yang berasal dari etnis Jawa beragama Islam, etnis Bali beragama Hindu, maupun etnis Sasak, yang memahamiSerat Menak, seni pewayangan, dan gerak-gerak wayang Rekonstruksi wayang orang itu merupakan sebuah bangunan seni budaya yang menggabungkan antara nilai-nalai agama IslamWaktu Limadengan budaya

13

wetu telu, menjadi kearifan lokal Sasak. Kearifan lokal yang terdapat dalam wayang orang sesungguhnya telah menjadi praktik budaya dalam kehidupan masyarakat Sasak sehari-hari dan diwarisi secara turun-temurun sebagai pedoman perilaku.

Saat ini perubahan-perubahan terjadi dalam skala dan kecepatan yang sangat tinggi, telah menyebabkan perubahan struktural dan kultural tidak sejalan sehingga terjadilah anomie perangkat nilai (Kuntowijoyo, 1999:10--11).

Anomie terjadi karena terdapat kesenjangan nilai antara struktur sosial dan nilai budaya yang diwarisi sebagai sebuah tradisi. Sebagai reaksi terhadap perubahan yang terjadi saat ini, maka masyarakat Sasak di Mataram-Lombok berjuang untuk menemukan kembali jati diri dan identitas yang terpinggirkan oleh proses sejarah dan ideologi kekuasaan.

Doktrin agama Islam modern dengan firkoh-firkoh baru di Mataram, Lombok telah memengaruhi ideologi kekuasaan sehingga tradisi yang dipertahankan oleh penganut budaya wetu telu kurang mendapatkan perhatian. Usaha-usaha untuk membangkitkan kembali nilai-nilai lokal ini dilakukan dengan mengadakan rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang, oleh para seniman dan budayawan Sasak. Dengan membangkitkan seni dapat dimunculkan semua potensi secara penuh untuk mendobrak situasi lingkungan itu sendiri (Turner, 2002:165).

Menurut Prima dan Ibrahim, T.G.H. Muhamad Zainul Majdi yang sering dikenal dengan T.G.H. Bajang sama sekali tidak memperhatikan seni tradisi pada periode pertama jabatannya sebagai gubernur. Sebagai T.G.H. dan

14

menjabat sebagai gubernur tetap menganggap bahwa agama Islam tidak wajib melestarikan tradisi. Tokoh T.G.H. lainnya yang menganggap tradisi wetu telu tidak perlu dipertahankan adalah, T.G.H. Hasanain Juaini, T.G.H. Makhali Fikri, T.G.H. Subki Sasaki, dan T.G.H. Muhid Al Lapaki (Wawancara, 12 November, 2013).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ideologi kekuasaan yang diterapkan dalam sistem pemerintahan di NTB kurang memperhatikan keragaman budaya. Keragaman nilai budaya merupakan ciri integritas nasional sebagai tanda persatuan Indonesia yang telah dijadikan lambang negara Indonesia dan dikenal dengan Bhineka Tunggal Ika. Keragaman budaya dijadikan landasan untuk menciptakan integritas bangsa, sehingga melahirkan konsep persatuan dan

kesatuan.Konsep ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bersifat multikultural.

Nilai persatuan dan kesatuan yang muncul akibat tekanan kolonialisme dan impresialisme merupakan cerminan kebersamaan. Hal itu dapat dijadikan kekuatan untuk menangkal pengaruh global yang menyebabkan terjadinya sentimen lokal dan konflik etnis. Nilai-nilai kebersamaan yang berakar pada tradisi, sering ditampilkan melalui seni pertunjukan. Salah satu seni pertunjukan yang dapat menampilkan nilai kebersamaan dan dijadikan objek kajian dalam tulisan ini adalah Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang yang direkonstruksi di UPTD Taman Budaya Mataram.

Rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang merupakan sebuah bentuk penggalian dan pelestarian seni tradisi yang kemudian

15

dapat dikembangkan sebagai identitas Sasak. Pengembangan identitas melalui seni dan budaya menjadi sangat penting untuk menyambut kepentingan pemerintah Indonesia yang mencanangkan Lombok sebagai daerah tujuan wisata. Wisatawan yang datang pada umumnya ingin mencari kekhasan lokal, baik untuk dinikmati sebagai sajian estetik maupun untuk diteliti dan dikaji sebagai kajian ilmiah.

Untuk kepentingan pembangunan dan pengembangan Lombok sebagai daerah wisata yang direncanakan oleh pemerintah Indonesia, masih banyak kelompok Islam Sasak yang bersifat moderat dapat menerima budaya wetu telu

termasuk pertunjukan wayang orang. Kelompok Islam Sasak yang dapat menerima budaya wetu telutermasuk pertunjukan wayang orang sebagian besar berada di Mataram pada khususnya, dan di Lombok Barat pada umumnya.

Perkembangan Islam di Lombok memiliki akar yang kuat pada tradisi dan budaya Sasak, sehingga terjadi jalinan antara Islam dan tradisi seni budaya. Rekonstruksi ini menumbuhkan jalinan tersebut sebagai identitas sasak, bukan identitas yang lain seperti Jawa, Bali, Bugis, atau Barat. Sebagai wujud dari jalinan antara Islam dan tradisi seni budaya Sasak, Wayang Orang Darma Kerti, Dusun Batu Pandang yang direkonstruksi di UPTD Taman Budaya Mataram, Lombok tidak menggunakan cerita Mahabharata dan Ramayana seperti wayang wong Bali dan di Jawa.

Rekonstruksi Wayang Orang Darma Kerti Dusun Batu Pandang itu merupakan persoalan budaya dalam hubungannya dengan masyarakat untuk menciptakan sistem nilai sebagai identitas budaya. Persoalan budaya sangat erat

Dokumen terkait