• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISTILAH

DAFTAR LAMPIRAN

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Bab pendahuluan menguraikan tetang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Pada latar belakang dipaparkan secara singkat mengenai munculnya fenomena unik pada areal sempadan Sungai Badung di Kota Denpasar yang akan dijadikan objek penelitian.

Dalam rumusan masalah diformulasikan tiga pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini yakni target yang akan dicapai dalam rangka menemukan jawaban dari rumusan masalah.

1.1 Latar Belakang

Kota merupakan pusat pertemuan/simpul dari banyak aktivitas yang padat di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Kota secara alami menjadi tempat berkumpulnya penduduk karena ketersediaan barang, jasa serta lapangan pekerjaan. Dari aspek ketenaga-kerjaan, kaum pekerja di kota cenderung bekerja lebih keras, tanpa mengenal waktu. Tingkat persaingan kerja di kota sangat ketat, selain itu kehidupan di kota lebih keras. Ada pula kenyataan lain yang harus dihadapi masyarakat kota adalah lalu lintas yang sangat padat hingga sering mengalami kemacetan serta angka kriminalitas yang tinggi. Berbagai pencemaran lingkungan yang terjadi di perkotaan selain mengganggu kesehatan juga mengganggu kenyamanan psikis yang meningkatkan angka stress masyarakat kota. Dalam artikel Kompasiana.com berjudul Tingkat Stress di Metropolitan Lebih Tinggi (9 April 2011), seorang psikolog bernama Sake Pramawisakti berpendapat bahwa banyak faktor yang memicu stres bagi masyarakat

2

metropolitan (kota besar). Masyarakat metropolis berasumsi bahwa waktu itu amat berharga dan jika hanya tinggal diam menyia-nyiakan waktu, maka akan tersingkir. Orang metropolis berlomba-lomba bekerja keras sehingga pola hidup menjadi tidak terjaga. Masyarakat kota bekerja melebihi batas kemampuan, kemudian daya saing di kota lebih besar dengan kesibukan yang menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Pola makan tidak terjaga, kurangnya istirahat, yang bila dibiarkan terus menerus akan menyebabkan berbagai gangguan psikologis yang ringan hingga depresi.

Masyarakat kota merupakan elemen pembentuk kota yang memiliki sisi humanis sebagai manusia. Manusia secara alami akan merespon segala tekanan yang didapatkan secara terus menerus dengan keluar dari situasi tersebut dan melakukan kegiatan yang menyegarkan pikiran. Penyegaran pikiran dilakukan untuk menghilangkan segala kejenuhan yang berpotensi stress dalam bentuk kegiatan rekreasi. Aktifitas rekreasi merupakan aktivitas yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan produktifitas masyarakat kota.

Samsudin A. Rahim dkk, (2011) menyatakan pengaruh signifikan antara

minimnya waktu luang yang digunakan untuk kegiatan rekreasi oleh pemuda di pemukiman kota tertinggal (dipinggiran Kota Kuala Lumpur, Malaysia) terhadap tingginya angka perilaku negatif seperti perusakan fasilitas umum (vandalism), balapan liar, pencurian, penyalahgunaan narkoba serta tingginya angka pemuda yang merokok. Tingginya angka perilaku negatif tersebut secara psikologis berawal dari tekanan mental yang dialami oleh pemuda di pinggiran Kota Kuala Lumpur akibat rendahnya intensitas kegiatan rekreasi yang dilakukan. Temuan

3

tersebut membuktikan bahwa penyediaan akomodasi untuk aktivitas rekreasi pada masyarakat kota tidak dapat dipandang sebelah mata oleh pemerintah selaku pemangku kebijakan dalam memanfaatan ruang-ruang publik kota.

Moritz Lazarus, dalam Richard Kraus (1996), seorang filsuf Jerman, menyatakan bahwa kegiatan rekreasi bermanfaat untuk mengembalikan atau mengisi ulang energi mental. Lazarus membedakan energi menjadi dua yaitu energi fisik dan mental. Saat melakukan aktivitas rekreasi, orang dewasa akan menggunakan energi fisik yang surplus karena tidak pernah dipakai namun akan mengisi energi mental yang habis karena pikiran yang lelah setelah bekerja.

Dengan kata lain, manusia yang secara fisik terlihat segar tidak menjamin bahwa manusia tersebut segar juga secara mental. Keseimbangan antara energi fisik dan mental diperlukan oleh manusia agar lebih produktif dalam beraktifitas.

Setiap manusia yang beraktifitas sebagai masyarakat kota pun memerlukan suatu penyegaran seperti kegiatan rekreasi. Tingkatan pemenuhan kebutuhan rekreasi masyarakat kota akan dipengaruhi kemampuan ekonominya. Kebutuhan rekreasi masyarakan kota wajib diakomodasi pemerintah dalam ruang-ruang publik kota.

Kota Denpasar sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibukota Provinsi Bali dengan masyarakat sebanyak 629.588 jiwa (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar tahun 2010) mengalami perkembangan yang pesat dengan industri utama di bidang pariwisata. Kota Denpasar memiliki beberapa ruang terbuka publik yang banyak digandrungi oleh masyarakatnya. Ruang terbuka publik taman-taman kota yang ada seperti

4

Lapangan Niti Mandala Renon, Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung , dan Taman Kota Lumintang.

Ditinjau secara historis, (Stephen Carr, dkk, 1992), tipologi ruang terbuka publik adalah: taman-taman publik, lapangan plaza, taman peringatan, pasar, jalan, lapangan bermain, ruang terbuka pemukiman, jalan hijau dan jalan taman, atrium/pasar, pasar pusat kota (swalayan), ruang-ruang sisa dan ruang-ruang tepi air.

Berdasarkan tipologi tersebut, istilah ruang tepi air/daerah sempadan tepi air termasuk dalam ruang terbuka yang dapat diakses bebas oleh masyarakat umum untuk mewadahi berbagai aktivitas (sosial). Daerah sempadan sungai merupakan ruang terbuka publik (Car,1992) yang dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya juga sebagai ruang terbuka hijau lainnya seperti fungsi ekologis, fungsi sosial, budaya, ekonomi, estetika (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05 Tahun 2008).

Merujuk pada kondisi geografis Kota Denpasar yang memiliki wilayah perairan berupa pantai dan sungai. Wilayah pantai Kota Denpasar yang berhadapan dengan Laut Bali di timur yaitu Pantai Matahari Terbit, Sanur, Mertasari, Sindhu, dll. Daerah sempadan pantai yang ada, walaupun sudah terdesak oleh keberadaan akomodasi wisata komersil (hotel, restaurant, cafe dll), ternyata masih cukup tertata sebagai ruang terbuka publik yang ramai dikunjungi masyarakat umum terutama pada hari-hari libur.

Wilayah perairan berupa sungai yang terbesar di Kota Denpasar yaitu Tukad (sungai) Badung. Tukad Badung mengalir pada wilayah Kabupaten Badung dan

5

membelah jantung Kota Denpasar. Di Denpasar, Tukad Badung memiliki peran sentral dan strategis dimana daerah aliran sungai (DAS) Tukad Badung mencakup sebagian besar wilayah Kota Denpasar. Tukad Badung ternyata tidak mengalami perkembangan pesat seperti yang terjadi pada wilayah pesisir. Pencemaran limbah dan pemukiman kumuh merupakan permasalahan utama yang sempat menghambat perkembangan areal sempadan Tukad Badung. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam meningkatan kualitas kebersihan di wilayah sempadan Tukad Badung akhirnya menunjukkan hasil, kondisi kebersihan Tukad Badung pun makin membaik.

Gambar 1.1 Peta Lokasi Tukad Badung di Kota Denpasar Sumber : Google maps 2013

Tukad Badung memiliki jalan inspeksi (jalan kontrol) yang dinamakan Jalan Taman Pancing. Jalan yang menyusuri badan sungai ini dibangun oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan dan menjaga kebersihan Tukad Badung. Jalan inspeksi tersebut juga dapat menjadi jalan alternatif yang menghubungkan

6

wilayah strategis di Denpasar Selatan dengan wilayah Kuta. Kebersihan yang meningkat kemudian memunculkan fenomena unik berupa kegiatan rekreasi pada areal sempadan Tukad Badung.

Pada jalan inspeksi inilah kemudian dilakukan ground tour untuk melihat tanda-tanda adanya kegiatan rekreasi publik di sempadan Tukad Badung.

Pengamatan awal menemukan fenomena unik dimana ada sejumlah masyarakat yang berdiam pada ruang-ruang sekitar sempadan Tukad Badung pada waktu-waktu tertentu. Berbagai kegiatan juga dapat ditemukan termasuk yang bersifat rekreatif. Hal tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda kecenderungan masyarakat yang mulai memanfaatkan setting yang ada di sempadan Tukad Badung untuk kegiatan rekreasi. Kegiatan-kegiatan tersebut terlihat terjadi dengan spontan dan alamiah. Walaupun dengan situasi dan kondisi yang terlihat seadanya, fenomena tersebut terjadi secara konsisten.

Fenomena unik tersebut terjadi pada areal sempadan sungai yang termasuk dalam ruang terbuka hijau publik. Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) publik di tengah kota dengan proporsi tertentu merupakan suatu keharusan karena fungsinya yang sangat vital. Tukad Badung yang memiliki DAS yang mencakup Kota Denpasar dan sekitarnya berperan krusial dalam menopang kehidupan masyarakat Kota Denpasar. Pengelolaan wilayah sekitar Tukad Badung untuk kepentingan masyarakat telah lama dilakukan pemerintah dengan melibatkan berbagai instansi terkait. Pengelolaan areal sempadan Tukad Badung untuk kegiatan rekreasi juga telah banyak dilakukan oleh pemerintah kota, namun hingga saat ini gaungnya belum terlalu terdengar oleh masyarakat luas. Selain itu,

7

berbagai upaya pengadaan setting rekreasi pada areal sempadan Tukad Badung yang dilakukan oleh pemerintah terlihat seperti terpisah-pisah dan kurang kontekstual dengan fenomena-fenomena unik yang telah berkembang sejak lama disana.

Fenomena-fenomena unik yang berkembang pada areal sempadan terjadi menyebar terutama pada areal kanalisasi sungai. Banyak setting yang terbentuk dengan tingkat ke-permanen-an yang berbeda-beda. Pemanfaatan yang berkembang secara sporadis tersebut layaknya pisau bermata dua, dimana di satu sisi mungkin dapat menguntungkan bagi masyarakat sekitar, namun di sisi lain, dampak kegiatan tersebut dapat mengganggu fungsi utama dari setting hingga mendesak keberlanjutan ekologis di Sungai Badung. Perkembangan perilaku masyarakat yang lepas dari pengawasan dan kontrol pemerintah dalam memanfaatkan setting sempadan Tukad Badung menimbulkan berbagai kemungkinan buruk seperti terjadinya berbagai perilaku-perilaku negatif yang menyebabkan permasalahan sosial yang berkaitan dengan minuman keras, obat-obatan terlarang, seks bebas dan perilaku kriminal lainnya.

Dengan demikian, Fenomena tersebut sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian akan menelusuri berbagai komponen yang mempengaruhi perkembangan setting yang terbentuk pada areal sempadan Tukad Badung, seperti elemen penyusun setting, proses terbentuknya, hingga pihak-pihak yang terkait dalam fenomena tersebut. Temuan-temuan yang didapatkan pada penelitian ini diharapkan nantinya dapat memberi suatu rekomendasi yang berharga dalam memberikan pertimbangan kepada pemangku kebijakan agar dapat menghasilkan

8

kebijakan penataan ruang publik di areal Sempadan Tukad Badung yang kontekstual dan bermanfaat bagi masyarakat Kota Denpasar.

Dokumen terkait