TESIS
PEMANFAATAN SEMPADAN TUKAD BADUNG SEBAGAI SETTING KEGIATAN REKREASI PUBLIK
KOTA DENPASAR
NYOMAN GEMA ENDRA PERSADA
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA
2014
i
TESIS
PEMANFAATAN SEMPADAN TUKAD BADUNG SEBAGAI SETTING KEGIATAN REKREASI PUBLIK
KOTA DENPASAR
NYOMAN GEMA ENDRA PERSADA NIM 1191861013
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
ii
PEMANFAATAN SEMPADAN TUKAD BADUNG SEBAGAI SETTING KEGIATAN REKREASI PUBLIK
KOTA DENPASAR
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Arsitektur,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
NYOMAN GEMA ENDRA PERSADA NIM 1191861013
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
iii
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI TANGGAL 13 OKTOBER 2014
Mengetahui Pembimbing I
Prof. Ir. Ngakan Putu Sueca, MT., PhD NIP. 19601204 198803 1 003
Pembimbing II
I Nym Widya Paramadhyaksa, ST., MT., Ph.D NIP. 19740911 200012 1 001
Ketua Program Studi Magister Arsitektur Program Pascasarjana
Universitas Udayana
G.A.M. Suartika, ST., MengSc., Ph.D NIP. 19691018 199412 2 001
Direktur Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Prof.Dr.dr.A.A. Raka Sudewi, Sp. S(K) NIP. 19590215 198510 2 001
iv
Tesis Ini Telah Diuji pada Tanggal 18 September 2014
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana, Nomor 3529/UN14.4/HK/2014, Tanggal 17 September 2014
Ketua:
Gusti Ayu Made Suartika, ST., MengSc., Ph.D Anggota :
1. Prof. Ir. Ngakan Putu Sueca, MT., PhD
2. I Nyoman Widya Paramadhyaksa, ST., MT., Ph.D 3. Gusti Ayu Made Suartika, ST., MengSc., Ph.D 4. Dr.Ir.I Made Adhika,MSP
5. Ni Ketut Pande Dewi Jayanti, ST., MEngSc., PhD
v
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
NAMA : Nyoman Gema Endra Persada
NIM : 1191861013
PROGRAM STUDI : Pascasarjana/Program Studi Arsitektur
JUDUL TESIS : Pemanfaatan Sempadan Tukad Badung sebagai Setting Kegiatan Rekreasi Publik Kota Denpasar
Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah tesis bebas plagiat.
Apabila dikemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai Peraturan Mendiknas RI No. 17 tahun 2010 dan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.
Denpasar, 13 Oktober 2014 Yang membuat pernyataan,
Nyoman Gema Endra Persada
vi
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya, tesis ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Proposal tesis ini mengetengahkan judul “Pemanfaatan Sempadan Tukad Badung sebagai setting Kegiatan Rekreasi Publik Kota Denpasar”.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor Universitas Udayana Bapak Prof. Dr. dr.
Ketut Suastika, Sp. PD (K.EMD), atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang dijabat oleh Ibu Prof. Dr. dr.
A.A. Raka Sudewi, S.p.S(K), atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program Magister di Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Gusti Ayu Made Suartika, ST., MengSc., Ph.D selaku Ketua Program Magister Arsitektur dan dosen penguji yang dengan penuh perhatian telah memberikan dorongan, bimbingan, arahan dan saran selama penulis mengikuti program magister Terima kasih pula sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Ir. Ngakan Putu Sueca, MT., PhD dan Bapak I Nyoman Widya Paramadhyaksa, ST., MT., Ph.D selaku pembimbing I dan II yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan, saran, semangat, serta motivasi yang besar kepada penulis.
Penulisan dan penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan maupun saran dari para penguji tesis. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. I Made Adhika, MSP dan ibu Ni Ketut Pande Dewi Jayanti, ST., MEngSc., PhD, sebagai dosen penguji yang turut
vii
memberikan masukan dan koreksi terhadap penyusunan tesis, sehingga tesis ini dapat terselesaikan walapun jauh dari kata sempurna.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua Nyoman Sumendra dan I Gusti Ayu Aryani dan juga saudara Ni Putu Endrayani dan Made Ayu Megayani yang senantisa memberi dorongan, semangat, fasilitas, serta doa yang tulus untuk kelancaran tesis ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Akhir kata penulis ucapkan, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada penulis sekeluarga beserta kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian tesis ini.
Denpasar, 13 Oktober 2014 Penulis
Nyoman Gema Endra Persada Nim. 1191861013
viii ABSTRAK
PEMANFAATAN SEMPADAN TUKAD BADUNG SEBAGAI SETTING KEGIATAN REKREASI PUBLIK KOTA DENPASAR
Rekreasi masyarakat kota merupakan salah satu bentuk penyegaran yang wajib diakomodasi pemerintah dalam ruang-ruang publik kota. Kota Denpasar, yang merupakan Ibukota Propinsi Bali memiliki perkembangan yang pesat dengan industri pariwisatanya. Ruang publik di Kota Denpasar ramai digandrungi pada taman-taman kota dan pesisir pantai timur. Diluar fenomena umum tersebut, muncul fenomena unik berupa pemanfaatan areal Sempadan Tukad Badung sebagai ruang rekreasi. Dari temuan awal tersebut dilakukanlah penelitian untuk menemukan berbagai penyebab, potensi dan kecenderungan dari fenomena tersebut dengan melihat tipe dasar pola penyusun ruang, proses dan pihak yang terkait dalam fenomena pemanfaatan tersebut.
Batasan yang digunakan dalam penentuan objek penelitian adalah keberadaan jalan tepi sungai. Berdasarkan batasan tersebut ditentukan tiga objek penelitian yaitu Bendungan Gerak Tukad Badung (Objek 1), Jalan Taman Pancing (objek 2) hingga Waduk Muara (objek 3). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengamatan dan observasi langsung pada setting dan juga wawancara kepada sumber yang relevan dan kompeten. Proses terbentuknya setting dijabarkan melalui beberapa klasifikasi terhadap setting dan aktivitas yang terjadi pada objek penelitian. Analisis proses terbentuknya setting digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan hubungan perilaku dan setting serta pihak- pihak yang terkait dalam fenomena tersebut.
Temuan penelitian yang pertama melihat dari tipe dasar pola penyusun setting pada objek yaitu fixed feature space (ruang berbatas tetap). Semifixed feature space (ruang berbatas semitetap) yaitu perlengkapan pedagang tetap dan kendaraan pengunjung yang diparkir pada setting. Informal space pada objek penelitian yaitu ruang yang terbentuk dari aktivitas duduk-duduk, mengobrol dan bermain. Temuan kedua yaitu beberapa klasifikasi dalam penjabaran proses terbentuknya. Aktivitas yang terjadi pada objek yaitu duduk-duduk, memancing, berjualan (menetap dan keliling) jajan, beristirahat kerja. Klasifikasi setting berlandaskan teori lanskap Burton (1995) yaitu : Bentang alam berupa wilayah sungai, vegetasi berupa tanaman hias dan vegetasi perindang, sedangkan binatang adalah populasi ikan pada sungai. Penggunaan lahan pada objek yaitu terencana (fungsi utama dan rekreasi) dan tidak terencana (ruang sisa dan ruang terbengkalai). Aspek Sosial pada objek yaitu adanya peran komunitas yaitu komunitas warga, hobi dan profesi. Adapun pola hubungan setting-perilaku pada proses terbentuknya setting adalah setting yang mempengaruhi perilaku, perilaku yang mempengaruhi dan perilaku yang melanggar setting. Pihak-pihak yang terkait dalam terbentuknya setting yaitu masyarakat dimana keterlibatannya adalah sebagai pelaku utama yang melakukan aktivitas rekreasi baik pada ruang tertata, ruang sisa maupun ruang terbengkalai. Badan pemerintah yang terkait yaitu : Disparda Kota Denpasar, PemKot Denpasar, PU Provinsi Bali, PU Kota Denpasar hingga pemerintah desa yang memiliki variasi keterlibatan dalam
ix
menangani operasional sungai, pengadaan fasilitas dan penyelenggaraan acara seremonial.
Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan kebersihan sungai dengan tidak membuang limbah ke sungai dan pemanfaatan yang menaati peraturan yang berlaku. Masyarakat perlu untuk ikut proaktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam rangka menghidupkan ruang-ruang pada areal sempadan Tukad Badung. Pemerintah perlu lebih peka terhadap kegiatan pemenuhan kebutuhan rekreasi masyarakat yang dilakukan di Sempadan Tukad Badung. Perencanaan dibuat terintegrasi dengan lembaga yang terkait. Status dari ruang-ruang publik areal sempadan perlu diperjelas. Apresiasi layak dilayangkan kepada BWS Bali Penida dan Pemkot Denpasar atas upayanya meningkatkan kualitas kebersihan Sungai Badung sekaligus mempromosikan sebagai suatu daya tarik atau objek wisata Kota.
Kata kunci : Sempadan Tukad Badung, rekreasi publik
x ABSTRACT
UTILIZATION OF BADUNG RIPARIAN AS SETTING FOR DENPASAR CITY’S PUBLIC RECREATIONAL ACTIVITIES
Urban recreational activities is one of refreshment form that must be accommodated by local government in its urban public spaces. As a capital of Bali Province, Denpasar City is rapidly growing with its tourism industry. Public spaces that commonly visited in Denpasar namely city’s parks and beach (east coast). Beyond this, the utilization of Tukad Badung (Badung river) river border area as a setting for recreational activities appears as a unique phenomenon and leads to a research to find the causes and tendencies of this phenomenon based on fundamental types of layout pattern, process and parties involved.
Object of this research is determinated by river bank street and three objects (setting) are selected, namely : Bendungan Gerak Tukad Badung (object 1), Jalan Taman Pancing/Taman Pancing street (object 2) and Waduk Muara/estuary dam (object 3). This research conducted based on qualitative research methods which include observation in related object/setting and interview with relevant and competent sources. Formation process of a setting is described through some setting classification and activities that occurs on the object of research. This formation analysis is used to identify tendencies of the relationship between behavior and its setting as well as parties involved.
The first finding of this research based on the fundamental types of layout pattern which are fixed feature space; Semi fixed feature space included utilities of fixed seller and visitor vehicle which is parked on the setting; Informal space, space that is formed by the activity of sitting around, chatting, and playing. The second finding of this research are some classifications in formation process of a setting. Activities that are occur on object/setting including sitting around, fishing, food seller (fixed and mobile), take a rest (from work). Setting clasification based on Burton’s landscape teory (1995) : a landscape of river areas, vegetation such as ornamental plants and shade trees, while the animal is a fish population in the river. In land use, there are planned space (for main function and recreational) and unplanned space (residual space and abandoned space). And the role of local community, hobby group as well as profession group has formed the social aspect on object/setting. Meanwhile, setting-behavior relationship in formation process of a setting : behavior is determined by setting, setting is determined by bahavior and behaviors that violate the setting. Parties involved is community as the prime party for recreational activities on designed space, residual space as well as abandoned space. Some goverment agencies which are related, namely : Disparda Kota Denpasar, Pemerintah Kota Denpasar, Badan Wilayah Sungai Bali-Penida (BWS-BP), PU Kota Denpasar as well as village authorities, will be involved in variated activities such as river operational/manajement, set up facilities, official or public ceremonial.
Community need to raise awareness of river cleanliness by preventing waste dumping into the river and utilization that comply with related regulations.
Proactive participate from community is needed in supporting government effort
xi
to revitalize the area of Tukad Badung river border. In other hand, The government needs to increased sensitivity towards the phenomenon of fullfilling the needs of recreation by community. It is needed to set up a synergetic plan among stakeholders and government agencies. And, status of public spaces on the area of Tukad Badung river border needs to be clarified. Highly appreciation are addressed to BWS Bali Penida and Pemerintah Kota Denpasar for their efforts to improve the cleanliness quality of Badung river and promote it as one of the tourist attraction or city tour object.
Keywords : Badung Riparian, Public Recreational
xii
RINGKASAN
Kota memiliki aktivitas yang sangat padat dan berperan sebagai pusat aktivitas dimana masyarakatnya cenderung bekerja tanpa mengenal waktu, persaingan ketat dan tingkat stress yang tinggi. Masyarakat kota merupakan elemen pembentuk kota yang memiliki sisi humanis sebagai manusia yang memerlukan penyegaran (refreshing). Rekreasi merupakan salah satu bentuk penyegaran yang wajib diakomodasi pemerintah dalam ruang-ruang publik kota.
Kota Denpasar, yang merupakan Ibukota Propinsi Bali memiliki perkembangan yang pesat dengan industri pariwisatanya. Ruang publik ramai digandrungi pada taman-taman kota dan pesisir pantai timur. Diluar fenomena umum tersebut, ternyata muncul fenomena unik berupa pemanfaatan areal Sempadan Tukad Badung sebagai ruang rekreasi. Dari temuan awal tersebut dilakukanlah penelitian untuk menemukan berbagai penyebab potensi dan kecenderungan dari fenomena tersebut dengan melihat elemen penyusun, proses dan pihak yang terkait dalam fenomena pemanfaatan tersebut.
Batasan yang digunakan dalam penentuan objek adalah keberadaan jalan tepi sungai. Berdasarkan batasan tersebut ditentukan tiga objek penelitian yaitu Bendungan Gerak Tukad Badung (Objek 1), Jalan Taman Pancing (objek 2) hingga Waduk Muara (objek 3). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengamatan dan observasi langsung pada setting dan juga wawancara kepada sumber yang relevan dan kompeten. Setting yang terbentuk direkam dengan metode place oriented mapping dan menganalisis tipe dasar pola penyusun setting pada objek. Proses terbentuknya setting dijabarkan melalui beberapa klasifikasi terhadap setting dan aktivitas yang terjadi pada objek penelitian.
Analisis proses terbentuknya setting digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan hubungan perilaku dan setting serta pihak-pihak yang terkait dalam fenomena tersebut.
Temuan penelitian yang pertama yaitu tipe dasar pola penyusun setting pada objek.yaitu fixed feature space (ruang berbatas tetap) yang dikelompokkan lagi menjadi dua yaitu hardscape dan softscape element. Hardscape element yaitu berbagai fasilitas fisik pendukung fungsi sungai dan juga beberapa bangunan air.
Softscape element pada objek adalah berbagai vegetasi yang tumbuh pada objek.
Semifixed feature space (ruang berbatas semitetap) yaitu perlengkapan pedagang tetap dan kendaraan pengunjung yang diparkir pada setting. Informal Space pada objek penelitian yaitu ruang yang terbentuk dari aktivitas civitas saat melakukan aktivitas seperti aktivitas duduk-duduk, mengobrol dan bermain. Temuan kedua yaitu beberapa klasifikasi dalam penjabaran proses terbentuknya setting.
Berdasarkan kelompok kegiatan secara umum, kegiatan pada sempadan terdiri dari kegiatan fungsi utama dan kegiatan fungsi rekreasi. Kegiatan pada objek juga ada yang terlarang dan ada yang tidak. Aktivitas pada objek yaitu duduk-duduk, memancing, berjualan (menetap, keliling) jajan, beristirahat kerja. Berbagai elemen fisik yang ada pada setting yang berlandaskan teori lanskap yang membagi elemen lanskap menjadi 3 (Burton, 1995) yaitu : Bentang alam berupa wilayah sungai. Vegetasi berupa tanaman hias dan vegetasi perindang, sedangkan binatang adalah populasi ikan pada sungai. Penggunaan lahan pada objek yaitu terencana
xiii
(fungsi utama dan rekreasi) dan tidak terencana (ruang sisa dan ruang terbengkalai).Aspek Sosial pada objek yaitu adanya peran komunitas yaitu komunitas warga, hobi dan profesi. Adapun pola hubungan setting-perilaku pada proses terbentuknya setting adalah setting yang mempengaruhi perilaku yang terdiri dari setting yang mendorong terjadinya berbagai perilaku dan yang merubah perilaku. Hubungan yang kedua yaitu perilaku yang mempengaruhi setting yang dikelompokkan juga menjadi dua yaitu perilaku yang mendorong terbentuknya setting baru secara tidak langsung dan secara langsung. Hubungan yang ketiga yaitu perilaku yang melanggar setting yang dikelompokkan menjadi dua yaitu perilaku dalam setting yang dilarang dan perilaku yang membentuk setting yang mengganggu fungsi setting utama. Pihak-pihak yang terkait dalam terbentuknya setting yaitu masyarakat dan pemerintah yaitu : Disparda Kota Denpasar, PemKot Denpasar, PU Provinsi Bali, PU Kota Denpasar. Keterlibatan masyarakat adalah sebagai pelaku utama yang melakukan aktivitas rekreasi baik pada ruang tertata, ruang sisa maupun ruang terbengkalai. Aktivitas pada ruang tertata (dengan fungsi utama/bukan untuk rekreasi) merupakan tanda fenomena affordances. Selain adanya affordanes, ada pula yang menjadi suatu pelanggaran baik dalam bentuk perilaku maupun sudah membentuk setting baru. Aktivitas masyarakat pada ruang sisa dan terbengkalai membentuk settting baru yang bersifat semifixed feature space seperti pada pedagang tetap dan setting parkir kendaraan. Aktivitas masyarakat pada ruang sisa dan terbengkalai juga menjadi stimulus bagi pemerntah untuk melakukan penataan fisik yang mewadahi kegiatan rekreasi. Operasional sungai dijalankan oleh PU Kota Denpasar dan PU Propinsi Bali (BWS-Bali Penida). Pengadaan fasilitas oleh PU Kota Denpasar dan PU Propinsi Bali (BWS-Bali Penida). penyelenggaraan acara seremonial oleh Pemkot Denpasar, Disparda Kota Denpasar, Pemerintah desa dan mendapatkan dukungan tenaga kebersihan dari PU Kota Denpasar.
Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan kebersihan sungai dengan tidak membuang limbah ke sungai. Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan ruang sempadan dengan tetap menaati peraturan yang berlaku. Masyarakat perlu untuk ikut proaktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam rangka menghidupkan ruang-ruang pada areal sempadan Tukad Badung baik melalui pengadaan fisik maupun kegiatan seremonial.Pemerintah perlu menyadari pentingnya areal sempadan Tukad Badung sebagai wadah rekreasi publik masyarakat diluar berbagai upaya yang hanya sebatas mementingkan citra sungai yang bersih. Perencanaan berbagai pengadaan fasilitas maupun acara seremonial pada areal sempadan Tukad Badung dibuat terintegrasi dengan instansi yang terkait serta pemerintah desa. Status dari ruang-ruang publik areal sempadan perlu diperjelas mengenai areal yang dilarang dan areal yang bebas diakses oleh umum.
Pemerintah perlu meningkatkan kepekaan terhadap fenomena kegiatan rekreasi yang terjadi pada areal sempadan Tukad Badung.Apresiasi layak dilayangkan kepada BWS Bali Penida dan Pemkot Denpasar atas upayanya meningkatkan kualitas kebersihan Sungai Badung sekaligus mempromosikan sebagai suatu daya tarik atau objek wisata Kota.
xiv
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM... i
PERSYARATAN GELAR ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv
LEMBAR SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v
UCAPAN TERIMAKASIH ... vi
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... x
RINGKASAN... xii
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xix
DAFTAR TABEL ... xxiv
DAFTAR ISTILAH ... xxv
DAFTAR LAMPIRAN ... xxvi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA,KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka ... 10
2.1.1 Pemanfaatan Ruang Kawasan Tepi Pantai Untuk Rekreasi dalam Mendukung Kota Tanjungpinang Sebagai Waterfront City ... 10
2.1.2 Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Sungai Badung Sebagai Objek Wisata “City Tour” Di Kota Denpasar ... 11
2.1.3 Potensi Pengembangan Situ di Bogor sebagai Objek Wisata ... 12
xv
2.1.4 Kajian Pemanfaatan Tukad Badung sebagai Sarana Wisata Tirta
untuk mendukung Program City Tour di Kota Denpasar ... 13
2.1.5 Media Time vs Active Time: Leisure Time among the Youth in Disadvantaged Community (Media Waktu vs Waktu Aktif : Waktu luang diantara Pemuda pada Komunitas Tertinggal ... 14
2.2 Kerangka Berpikir ... 17
2.3 Konsep ... 19
2.3.1 Kawasan Sempadan Sungai ... 18
2.3.2 RTH Sempadan Sungai ... 19
2.3.3 Peraturan Sungai ... 20
2.3.4 Ruang Terbuka Hijau Pada Areal Sempadan Sungai Sebagai Potensi Wisata ... 22
2.3.5 Hubungan Manusia dengan Lingkungan Binaan (Desain Arsitektur) ... 23
2.3.6 Kegiatan Rekreasi ... 25
2.3.7 Ciri Rekreasi ... 27
2.3.8 Maksud dan Tujuan Rekreasi ... 29
2.3.9 Jenis-Jenis Rekreasi ... 30
2.4 Landasan Teori ... 31
2.4.1 Teori Setting ... 31
2.4.2 Teori Setting Perilaku ... 33
2.4.3 Teori Unsur Pembentuk Lanskap ... 34
2.4.4 Teori Affordance ... 35
2.4.5 Teori Sosial (Komunitas dan Modal Sosial) ... 37
2.5 Model Penelitian ... 38
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 39
3.2 Lokasi Penelitian ... 39
3.3 Jenis dan Sumber Data ... 42
3.4 Instrumen Penelitian ... 44
3.5 Teknik Pengumpulan Data` ... 45
xvi
3.5.1 Wawancara (interview) ... 45
3.5.2 Observasi ... 46
3.5.3 Dokumentasi ... 47
3.6 Analisis Data ... 47
3.6.1 Reduksi Data ... 48
3.6.2 Pengklasifikasian data ... 49
3.6.3 Kesimpulan /verifikasi data ... 49
3.7 Penyajian Hasil Analisis Data ... 49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Setting... 50
4.1.1 Objek 1(Bendungan Gerak Tukad Badung) ... 50
4.1.2 Objek 2(Jalan Taman Pancing) ... 67
4.1.3 Objek 3(Waduk Muara Nusa Dua) ... 75
4.2 Tipe Dasar Pola Penyusun Setting ... 81
4.2.1 Pola Penyusun Objek 1(Bendungan Gerak Tukad Badung) ... 82
4.2.1.1 Pola Penyusun setting A (Dermaga Wahana Air) ... 82
4.2.1.2 Pola Penyusun setting B (Warung Rujak) ... 83
4.2.1.3 Pola Penyusun setting C (dua bale bengong) ... 83
4.2.1.4 Pola Penyusun setting D (gerbang masuk pintu air) ... 84
4.2.1.5 Pola Penyusun setting E (bangunan pintu air) ... 85
4.2.1.6 Pola Penyusun setting F (jalan lingkungan) ... 86
4.2.1.7 Pola Penyusun setting G (Warung bakso) ... 87
4.2.1.8 Pola Penyusun setting H (Sandaran sungai) ... 88
4.2.2 Pola Penyusun Objek 2(Jalan Taman Pancing) ... 88
4.2.2.1 Pola Penyusun setting A (Jembatan Lama) ... 88
4.2.2.2 Pola Penyusun setting B (Jalan Taman Pancing) ... 89
4.2.2.3 Pola Penyusun setting C (Kanalisasi Jalan Taman Pancing) 90 4.2.3 Pola Penyusun Objek 3(Bendungan Muara Nusa Dua) ... 91
4.2.3.1 Pola Penyusun setting A (Tempat Duduk-Duduk) ... 91
4.2.3.2 Pola Penyusun setting B (Areal Operator Waduk) ... 92
4.2.3.3 Pola Penyusun setting C (Areal Pintu Air Waduk Muara) ... 93
xvii
4.2.3.4 Pola Penyusun setting D (Areal Tepi Waduk Muara) ... 93
4.3 Pola Penyusun Setting dalam Mendukung Aktivitas ... 94
4.4 Identifikasi Tipologi dalam Proses Terbentuknya Setting ... 96
4.4.1 Elemen Penyusun Lanskap ... 96
4.4.2 Kelompok kegiatan ... 97
4.4.3 Terencana-tidaknya kegiatan ... 98
4.4.4 Terlarang Tidaknya Kegiatan ... 98
4.4.5 Jenis Kegiatan ... 98
4.4.6 Aspek Sosial ... 99
4.5 Penjabaran Proses terbentuknya Setting ... 99
4.5.1 Proses terbentuknya Objek 1 ... 99
4.5.1.1 Proses terbentuknya Setting A (Bale Tunggu) ... 99
4.5.1.2 Proses terbentuknya Setting B (Warung Rujak) ... 100
4.5.1.3 Proses terbentuknya Setting C (Dua buah Bale Bengong) . 101 4.5.1.4 Proses terbentuknya Setting D ( Areal Barat Pintu Air) .... 102
4.5.1.5 Proses terbentuknya Setting E (Pintu air Bendungan ) ... 103
4.5.1.6 Proses terbentuknya Setting F ( Jalan Barat bendungan) ... 104
4.5.1.7 Proses terbentuknya Setting G (Areal Barat Pintu Air) ... 105
4.5.1.8 Proses terbentuknya Setting H (Sandaran Tanggul Sungai)106 4.5.2 Pola yang Terjadi pada Proses terbentuknya Objek 1 ... 106
4.5.3 Proses terbentuknya Objek 2 ... 108
4.5.3.1 Proses terbentuknya Setting A (Areal Jembatan Lama) .... 108
4.5.3.2 Proses terbentuknya Setting B (Jalan Taman Pancing) ... 109
4.5.3.3 Proses terbentuknya Setting C (Areal Jalan Tepi Sungai) 110 4.5.4 Pola yang Terjadi dari Proses terbentuknya Objek 2 ... 111
4.5.5 Proses terbentuknya Objek 3 (Waduk Muara Nusadua) ... 113
4.5.5.1 Proses Terbentuknya Setting A (Areal Bangku Beton) ... 113
4.5.5.2 Proses terbentuknya Setting B (Areal Pengelola Waduk) .. 114
4.5.5.3 Setting C (Areal sekitar Pintu Air Waduk Muara) ... 115
4.5.5.4 Proses Terbentuknya Setting D (Areal Tepi Waduk) ... 115
4.5.6 Pola yang Terjadi dari Proses Terbentuknya Objek 3 ... 116
xviii
4.6 Pola Hubungan Setting- Perilaku pada Proses Terbentuknya Setting 117
4.6.1 Setting yang Mempengaruhi Perilaku ... 118
4.6.2 Perilaku yang Mempengaruhi Setting ... 119
4.6.3 Perilaku yang Melanggar Setting ... 121
4.7 Analisis Tipologi dalam Proses Terbentuknya Setting ... 122
4.7.1 Elemen Penyusun Lanskap ... 122
4.7.1.1 Bentuk permukaan bumi ... 122
4.7.1.2 Hewan dan vegetasi yang menempati ... 127
4.7.1.3 Penggunaan lahan ... 133
4.7.2 Aspek Sosial ... 139
4.7.3 Terencana-tidaknya kegiatan ... 140
4.8 Peran-peran Pihak yang Terlibat dalam pemanfaatan sempadan tukad Badung sebagai setting ruang rekreasi publik 4.8.1 Masyarakat ... 141
4.8.2 Pemerintah ... 141
4.8.2.1 Disparda Kota Denpasar ... 142
4.8.2.2 Pengelolaan Bendungan Gerak (DAM Buagan) ... 144
4.8.2.3 Banjar Gelogor Carik Desa Pemogan ... 146
4.8.2.4 Badan Wilayah Sungai Bali-Penida ... 146
4.8.2.5 PU Kota Denpasar ... 148
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 154
5.1.1 Tipe Dasar Pola Penyusun Setting pada Objek ... 154
5.1.2 Proses Terbentuknya Setting ... 154
5.1.3 Pihak-pihak yang terkait dalam terbentuknya setting ... 156
5.2 Saran ... 156
5.2.1 Masyarakat ... 156
5.2.2 Pemerintah ... 156
DAFTAR PUSTAKA ... 158
LAMPIRAN ... 162
xix
DAFTAR GAMBAR
1.1 Peta Lokasi Tukad Badung di Kota Denpasar ... 5
2.1. Diagram Kerangka Berpikir ... 16
2.2 Diagram Hubungan Ilmu-ilmu Perilaku dengan Arsitektur ... 25
2.3 Model Penelitian ... 38
3.1 Peta Lokasi Tukad Badung di Kota Denpasar ... 40
3.2 Peta Lokasi Objek-Objek Penelitian ... 42
3.3 Diagram teknik analisis data ... 48
4.1Peta Lokasi Proyek Sodetan Tukad Mati ... 51
4.2 Foto Kondisi Objek Wisata Tirta dan Wahana Air yang Terbengkalai (Dilihat dari Dermaga) ... 52
4.3 Pembagian Setting pada Objek 1 ... 53
4.4 Foto bale tunggu dermaga dari seberang jalan ... 53
4.5 Potongan arsitektural setting A ... 54
4.6 Potongan arsitektural setting B ... 55
4.7 Foto warung rujak dengan kondisi bangunan yang semipermanen ... 56
4.8 Potongan arsitektural setting C ... 57
4.9 Foto dua buah bale bengong di pinggir sungai ... 57
4.10 Potongan arsitektural setting D ... 58
4.11 Foto suasana subsetting ruang D dari tepi jalan ... 59
4.12 Foto Setting yang Terbentuk oleh Pedagang Minuman dan mi ayam . 59 4.13 Foto pengunjung yang parkir didalam areal pengelola pintu air ... 60
4.14 Bangunan pintu air bendungan ... 61
4.15 Pemanfaatan lain dimana mesin pintu air mekanis dimanfaatkan menjadi fungsi baru sebagai meja dan kursi ... 61
4.16 Pemanfaatan lain pada ruang kontrol pintu air mekanis menjadi tempat tidur dan tempat untuk mengobrol oleh pengunjung ... 62
4.17 Pemancing yang masih memperhatikan kenyamanan dan keselamatan dalam beraktivitas ... 63
4. 18 Potongan Arsitektural Setting E... 63
xx
4.19 Potongan arsitektural setting F ... 64
4. 20 Foto jalan lingkungan di sebelah utara ... 64
4.21 Foto suasana setting yang terbentuk oleh pedagang bakso di sisi sungai ... 65
4.22 Potongan arsitektural setting G ... 66
4.23 Potongan arsitektural setting ruang H objek... 66
4. 24 Foto Tukad Badung diambil dari jembatan lama dengan kanalisasi di kedua sisi ... 68
4.25 Foto PKL di pinggir jalan inspeksi dan foto pengunjung yang duduk-duduk di pinggir kanal berumput ... 68
4.26 Pembagian Objek 2 menjadi 3 setting ... 69
4.27 Foto situasi setting A ... 70
4.28 Setting yang dibentuk oleh pedagang kopi dan pedagang umpan ... 70
4.29 Potongan arsitektural objek 2 setting A ... 71
4.30 Foto pemancing dan pengunjung lain pada kanal rumput ... 72
4.31 PKL menetap yang membentuk setting dan menunjukkan areal teritorinya ... 72
4.32 Warung semi permanen di sisi barat jalan inspeksi ... 73
4.33 Potongan arsitektural objek 2 setting B ... 73
4.34 Berbagai pemanfaatan lain pada kanalisasi Tukad Badung ... 74
4.35 Pengunjung yang parkir sekaligus duduk-duduk di atas sepeda motor ... 74
4.36 Potongan arsitektural setting C objek 2 ... 75
4.37 Foto udara Waduk Muara Nusa Dua pada tahun 2003 ... 75
4.38 Pembagian objek 3 menjadi 4 setting... 76
4.39 Foto penataan yang dilakukan pada objek... 76
4.40 papan tanda pemberlakuan retribusi parkir pada objek ... 77
4.41 Setting yang terbentuk karena aktivitas awal ( kiri) dan Aktivitas yang semakin berkembang akibat setting yang dibentuk (kanan) ... 78
4.42 Potongan arsitektural objek 3 setting A ... 78
4.43 Foto Warung didalam areal waduk ... 79
xxi
4.44 Potongan arsitektural objek 3 setting b ... 79 4.45 Foto didepan pintu masuk areal pintu air (kiri) larangan masuk
areal pengelola (tengah) dan sepeda motor yang parkir didalam
areal pengelola (kanan) ... 80 4.46 Suasana lingkungan di selatan pintu air yang berhadapan dengan
hutan mangrove ... 80 4. 47 Potongan Arsitektural Objek 3 Setting C ... 81 4.48 Potongan arsitektural setting D objek 3 ... 81 4.49 Layout setting A objek 1 ... 82 4.50 Layout setting B objek 1 ... 83 4.51 Layout setting C objek 1 ... 84 4.52 Layout setting D pada objek 1 ... 85 4.53 Layout setting E pada objek 1 ... 86 4.54 Layout setting F pada objek 1 ... 86 4.55 Layout setting G pada objek 1 ... 87 4.56 Layout setting H objek 1 ... 88 4.57 Layout Setting ruang A objek 2 ... 89 4.57 Layout setting B objek 2 ... 90 4.58 Layout Setting C objek 2 ... 90 4.59 Layout Setting A objek 3 ... 91 4.60 Layout Setting B objek 3 ... 92 4.61 Layout Setting C objek 3 ... 93 4.62 Layout setting D objek 3 ... 94 4.63 Diagram setting yang mendorong terjadinya berbagai perilaku ... 95 4.64 Diagram setting yang merubah perilaku ... 119 4.65 Diagram setting yang mendorong terjadinya setting baru ... 120 4.66 Diagram setting yang mendorong terjadinya setting baru ... 120 4.67 Diagram perilaku dalam setting yang dilarang ... 121 4.68 Diagram perilaku yang membentuk setting yang mengganggu
fungsi setting utama ... 122 4.69 Peta pembagian panorama objek 1 ... 123
xxii
4.70 Panorama V1, V2 dan V3 pada objek 1 ... 123 4.71 Foto panorama V4, V5 dan V6 pada objek 1 ... 124 4.72 Peta panoramabentang objek 2 ... 124 4.73 Foto panorama V1 dan V4 pada objek 2 ... 125 4.74 Foto panorama V2 pada objek 2 ... 125 4.75 Foto panorama V3 pada objek 2 ... 125 4.76 Peta panorama pada objek 3 ... 126 4.77 Panorama V1, V2 dan V3 pada objek 3 ... 126 4.78 Diagram pengaruh bentang alam pada objek ... 127 4.79 Pemetaan populasi ikan pada objek 1 ... 128 4.80 Peta Populasi ikan Pada Objek 2 ... 128 4.81 Peta Populasi ikan Pada Objek 3 ... 129 4.82 Diagram pengaruh populasi ikan pada objek ... 129 4.83 Pemetaan pohon perindang dan bangunan peneduh pada objek 1 ... 130 4.84 Pemetaan pohon perindang dan bangunan peneduh pada objek 2 .... 131 4.85 Foto pemetaan perindang dan bangunan peneduh pada objek 3 ... 132 4.86 Diagram pengaruh Pohon perindang pada objek ... 132 4.87 Diagram pengaruh Bentang alam, ikan dan vegetasi pada objek ... 133 4.88 Peta penggunaan lahan pada objek 1 ... 133 4.89 Peta penggunaan lahan pada objek 2 ... 136 4.90 Peta penggunaan lahan pada objek 3 ... 137 4.91Diagram berbagai aktivitas yang terjadi pada areal terencana (fungsi
utama) pada objek ... 137 4.92 Diagram berbagai aktivitas yang terjadi pada areal terencana (fungsi
rekreasi) pada objek ... 138 4.93 Diagram berbagai aktivitas pada ruang sisa dan terbengkalai pada
objek ... 138 4.94 Diagram Terencana tidaknya kegiatan pada objek ... 140 4.95 Jadwal Acara (kiri) dan Desain Panggung (kanan) Konser Musik
Nanoe Biru dalam Rangka Hari Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia ... 143
xxiii
4.96 Baliho kegiatan (kiri) dan Setting Tukad Badung (tengah dan
kanan) dalam Rangka Ulang Tahun Kota Denpasar ... 144 4.97 Diagram struktur pengelolaan DAM Buagan Sebagai Wisata Tirta . 145 4.98 Sekretariat KUB Segara Guna Batu Lumbang ... 147 4.99 Foto pembersihan Sungai Oleh BWS-BP (kiri) dan Foto Sandaran
rusak yang akan diperbaiki oleh BWS-BP (Kanan) ... 147 4.100 Foto pembersihan manual di Tukad Badung dengan
menggunakan perahu ... 150 4.101 Peta Wilayah Administratif dan Wewewang tiap Instansi ... 152 4.102Diagram Hasil Penelitian ... 153
xxiv
DAFTAR TABEL
2.1 Kedudukan Penelitian Kini dan Penelitian Terdahulu ... 16 2.2Affordance Gibson dan Norman ... 37 3.1 Luas Lahan di Kota Denpasar Dirinci per Kecamatan (hektar) ... 40 3.2 Data Primer Penelitian ... 43 3.3 Data Sekunder Penelitian ... 44 4. 1 Tabel pola dasar penyusun setting di ketiga objek ... 95 4.2 Tabel Proses terbentuknya setting A objek 1 ... 100 4.3 Tabel Proses terbentuknya setting B objek 1 ... 101 4.4 Tabel Proses terbentuknya setting C objek 1 ... 102 4.5 Tabel Proses terbentuknya setting D objek 1 ... 103 4.6 Tabel Proses terbentuknya setting E objek 1 ... 104 4.7 Tabel Proses terbentuknya setting F objek 1 ... 104 4.8 Tabel Proses terbentuknya setting G objek 1 ... 105 4.9 Tabel Proses terbentuknya setting H objek 1 ... 106 4.10 Tabel Proses terbentuknya setting A objek 2 ... 109 4.11 Tabel Proses terbentuknya setting B objek 2 ... 110 4.12 Tabel Proses terbentuknya setting C objek 2 ... 111 4.13 Tabel Proses terbentuknya setting A objek 3 ... 113 4.14 Tabel Proses terbentuknya setting B objek 3 ... 114 4.15 Tabel Proses terbentuknya setting C objek 3 ... 115 4.16 Tabel Proses terbentuknya setting D objek 3 ... 116
xxv
DAFTAR ISTILAH
Bendungan : Bangunan penahan atau penimbun air untuk irigasi (pembangkit listrik dsb)
Bale : Bangunan tradisional bali dengan lantai yang tinggi menyerupai panggung (gazebo)
DAS : Daerah Aliran Sungai
Fixed Feature Space : Merupakan elemen berbatas tetap dan sangat sulit dirubah
Ground Tour : Observasi awal dalam suatu penelitian untuk melihat fenomena yang ada di lapangan.
Grassblok : Jenis paving yang
Hardscape : Elemen keras pada taman (outdoor)seperti batu kerikil, perkerasan, dll.
Informal Space : Ruang yang terbentuk secara informal dari interaksi antar individu pada kegiatan tertentu.
Jalan Inspeksi : Jalan yang dibuat untuk memeriksa keadaan suatu objek pada waktu-waktu tertentu
Kanalisasi : Sistem untuk mengalirkan air hujan, dimana di tengah sungai dikeruk dan diperdalam, sementara tanah kerukan digeser ke samping kanal, sehingga terlihat ada sungai kecil di tengah sungai besar dan lahan hijau di kedua tepi kanal mengapit sungai kecil tersebut.
Muara : tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau, atau sungai lain; sungai yg dekat dng laut
Pintu Air : Pintu pada bendungan yang berfungsi mengatur besar kecil debit air
Responden : Penjawab (atas pertanyaan yang diajukan untuk penilaian)
Retribusi : Pungutan uang oleh pemerintah sebagai balas jasa
xxvi
Sandaran : Dinding pembatas permukaan sungai berupa perkerasan dengan kemiringan tertentu
SemiFixed Feature Space : Merupakan elemen-elemen berbatas tetap tapi tetap berkisar dari susunan dan tipe elemen, Perubahannya cukup cepat dan mudah.
Sempadan Sungai : Areal tepi sungai
Setting : Tata letak dari suatu interaksi antara manusia dengan lingkungannya
Setting perilaku : Suatu kombinasi yang stabil antara aktivitas, tempat dan waktu
Sodetan : Kanal tambahan untuk membagi debit air pada sungai
Softscape : Elemen lunak pada taman berupa tanaman
Tukad : Sungai
Wisata Tirta : Wisata yang mengambil tempat di perairan
xxvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. (Warga sekitar, PKL, Pemerintah) ... 162 Lampiran 2. Panduan Observasi Tipe Dasar Pola Penyusun Ruang ... 163 Lampiran 3. Panduan Observasi Elemen Lanskap dan Aspek Sosial ... 164 Lampiran 4. Data Informan ... 165
1
BAB I PENDAHULUAN
Bab pendahuluan menguraikan tetang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Pada latar belakang dipaparkan secara singkat mengenai munculnya fenomena unik pada areal sempadan Sungai Badung di Kota Denpasar yang akan dijadikan objek penelitian.
Dalam rumusan masalah diformulasikan tiga pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini yakni target yang akan dicapai dalam rangka menemukan jawaban dari rumusan masalah.
1.1 Latar Belakang
Kota merupakan pusat pertemuan/simpul dari banyak aktivitas yang padat di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Kota secara alami menjadi tempat berkumpulnya penduduk karena ketersediaan barang, jasa serta lapangan pekerjaan. Dari aspek ketenaga-kerjaan, kaum pekerja di kota cenderung bekerja lebih keras, tanpa mengenal waktu. Tingkat persaingan kerja di kota sangat ketat, selain itu kehidupan di kota lebih keras. Ada pula kenyataan lain yang harus dihadapi masyarakat kota adalah lalu lintas yang sangat padat hingga sering mengalami kemacetan serta angka kriminalitas yang tinggi. Berbagai pencemaran lingkungan yang terjadi di perkotaan selain mengganggu kesehatan juga mengganggu kenyamanan psikis yang meningkatkan angka stress masyarakat kota. Dalam artikel Kompasiana.com berjudul Tingkat Stress di Metropolitan Lebih Tinggi (9 April 2011), seorang psikolog bernama Sake Pramawisakti berpendapat bahwa banyak faktor yang memicu stres bagi masyarakat
2
metropolitan (kota besar). Masyarakat metropolis berasumsi bahwa waktu itu amat berharga dan jika hanya tinggal diam menyia-nyiakan waktu, maka akan tersingkir. Orang metropolis berlomba-lomba bekerja keras sehingga pola hidup menjadi tidak terjaga. Masyarakat kota bekerja melebihi batas kemampuan, kemudian daya saing di kota lebih besar dengan kesibukan yang menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran. Pola makan tidak terjaga, kurangnya istirahat, yang bila dibiarkan terus menerus akan menyebabkan berbagai gangguan psikologis yang ringan hingga depresi.
Masyarakat kota merupakan elemen pembentuk kota yang memiliki sisi humanis sebagai manusia. Manusia secara alami akan merespon segala tekanan yang didapatkan secara terus menerus dengan keluar dari situasi tersebut dan melakukan kegiatan yang menyegarkan pikiran. Penyegaran pikiran dilakukan untuk menghilangkan segala kejenuhan yang berpotensi stress dalam bentuk kegiatan rekreasi. Aktifitas rekreasi merupakan aktivitas yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan produktifitas masyarakat kota.
Samsudin A. Rahim dkk, (2011) menyatakan pengaruh signifikan antara
minimnya waktu luang yang digunakan untuk kegiatan rekreasi oleh pemuda di pemukiman kota tertinggal (dipinggiran Kota Kuala Lumpur, Malaysia) terhadap tingginya angka perilaku negatif seperti perusakan fasilitas umum (vandalism), balapan liar, pencurian, penyalahgunaan narkoba serta tingginya angka pemuda yang merokok. Tingginya angka perilaku negatif tersebut secara psikologis berawal dari tekanan mental yang dialami oleh pemuda di pinggiran Kota Kuala Lumpur akibat rendahnya intensitas kegiatan rekreasi yang dilakukan. Temuan
3
tersebut membuktikan bahwa penyediaan akomodasi untuk aktivitas rekreasi pada masyarakat kota tidak dapat dipandang sebelah mata oleh pemerintah selaku pemangku kebijakan dalam memanfaatan ruang-ruang publik kota.
Moritz Lazarus, dalam Richard Kraus (1996), seorang filsuf Jerman, menyatakan bahwa kegiatan rekreasi bermanfaat untuk mengembalikan atau mengisi ulang energi mental. Lazarus membedakan energi menjadi dua yaitu energi fisik dan mental. Saat melakukan aktivitas rekreasi, orang dewasa akan menggunakan energi fisik yang surplus karena tidak pernah dipakai namun akan mengisi energi mental yang habis karena pikiran yang lelah setelah bekerja.
Dengan kata lain, manusia yang secara fisik terlihat segar tidak menjamin bahwa manusia tersebut segar juga secara mental. Keseimbangan antara energi fisik dan mental diperlukan oleh manusia agar lebih produktif dalam beraktifitas.
Setiap manusia yang beraktifitas sebagai masyarakat kota pun memerlukan suatu penyegaran seperti kegiatan rekreasi. Tingkatan pemenuhan kebutuhan rekreasi masyarakat kota akan dipengaruhi kemampuan ekonominya. Kebutuhan rekreasi masyarakan kota wajib diakomodasi pemerintah dalam ruang-ruang publik kota.
Kota Denpasar sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibukota Provinsi Bali dengan masyarakat sebanyak 629.588 jiwa (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar tahun 2010) mengalami perkembangan yang pesat dengan industri utama di bidang pariwisata. Kota Denpasar memiliki beberapa ruang terbuka publik yang banyak digandrungi oleh masyarakatnya. Ruang terbuka publik taman-taman kota yang ada seperti
4
Lapangan Niti Mandala Renon, Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung , dan Taman Kota Lumintang.
Ditinjau secara historis, (Stephen Carr, dkk, 1992), tipologi ruang terbuka publik adalah: taman-taman publik, lapangan plaza, taman peringatan, pasar, jalan, lapangan bermain, ruang terbuka pemukiman, jalan hijau dan jalan taman, atrium/pasar, pasar pusat kota (swalayan), ruang-ruang sisa dan ruang-ruang tepi air.
Berdasarkan tipologi tersebut, istilah ruang tepi air/daerah sempadan tepi air termasuk dalam ruang terbuka yang dapat diakses bebas oleh masyarakat umum untuk mewadahi berbagai aktivitas (sosial). Daerah sempadan sungai merupakan ruang terbuka publik (Car,1992) yang dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya juga sebagai ruang terbuka hijau lainnya seperti fungsi ekologis, fungsi sosial, budaya, ekonomi, estetika (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05 Tahun 2008).
Merujuk pada kondisi geografis Kota Denpasar yang memiliki wilayah perairan berupa pantai dan sungai. Wilayah pantai Kota Denpasar yang berhadapan dengan Laut Bali di timur yaitu Pantai Matahari Terbit, Sanur, Mertasari, Sindhu, dll. Daerah sempadan pantai yang ada, walaupun sudah terdesak oleh keberadaan akomodasi wisata komersil (hotel, restaurant, cafe dll), ternyata masih cukup tertata sebagai ruang terbuka publik yang ramai dikunjungi masyarakat umum terutama pada hari-hari libur.
Wilayah perairan berupa sungai yang terbesar di Kota Denpasar yaitu Tukad (sungai) Badung. Tukad Badung mengalir pada wilayah Kabupaten Badung dan
5
membelah jantung Kota Denpasar. Di Denpasar, Tukad Badung memiliki peran sentral dan strategis dimana daerah aliran sungai (DAS) Tukad Badung mencakup sebagian besar wilayah Kota Denpasar. Tukad Badung ternyata tidak mengalami perkembangan pesat seperti yang terjadi pada wilayah pesisir. Pencemaran limbah dan pemukiman kumuh merupakan permasalahan utama yang sempat menghambat perkembangan areal sempadan Tukad Badung. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam meningkatan kualitas kebersihan di wilayah sempadan Tukad Badung akhirnya menunjukkan hasil, kondisi kebersihan Tukad Badung pun makin membaik.
Gambar 1.1 Peta Lokasi Tukad Badung di Kota Denpasar Sumber : Google maps 2013
Tukad Badung memiliki jalan inspeksi (jalan kontrol) yang dinamakan Jalan Taman Pancing. Jalan yang menyusuri badan sungai ini dibangun oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan dan menjaga kebersihan Tukad Badung. Jalan inspeksi tersebut juga dapat menjadi jalan alternatif yang menghubungkan
6
wilayah strategis di Denpasar Selatan dengan wilayah Kuta. Kebersihan yang meningkat kemudian memunculkan fenomena unik berupa kegiatan rekreasi pada areal sempadan Tukad Badung.
Pada jalan inspeksi inilah kemudian dilakukan ground tour untuk melihat tanda-tanda adanya kegiatan rekreasi publik di sempadan Tukad Badung.
Pengamatan awal menemukan fenomena unik dimana ada sejumlah masyarakat yang berdiam pada ruang-ruang sekitar sempadan Tukad Badung pada waktu- waktu tertentu. Berbagai kegiatan juga dapat ditemukan termasuk yang bersifat rekreatif. Hal tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda kecenderungan masyarakat yang mulai memanfaatkan setting yang ada di sempadan Tukad Badung untuk kegiatan rekreasi. Kegiatan-kegiatan tersebut terlihat terjadi dengan spontan dan alamiah. Walaupun dengan situasi dan kondisi yang terlihat seadanya, fenomena tersebut terjadi secara konsisten.
Fenomena unik tersebut terjadi pada areal sempadan sungai yang termasuk dalam ruang terbuka hijau publik. Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) publik di tengah kota dengan proporsi tertentu merupakan suatu keharusan karena fungsinya yang sangat vital. Tukad Badung yang memiliki DAS yang mencakup Kota Denpasar dan sekitarnya berperan krusial dalam menopang kehidupan masyarakat Kota Denpasar. Pengelolaan wilayah sekitar Tukad Badung untuk kepentingan masyarakat telah lama dilakukan pemerintah dengan melibatkan berbagai instansi terkait. Pengelolaan areal sempadan Tukad Badung untuk kegiatan rekreasi juga telah banyak dilakukan oleh pemerintah kota, namun hingga saat ini gaungnya belum terlalu terdengar oleh masyarakat luas. Selain itu,
7
berbagai upaya pengadaan setting rekreasi pada areal sempadan Tukad Badung yang dilakukan oleh pemerintah terlihat seperti terpisah-pisah dan kurang kontekstual dengan fenomena-fenomena unik yang telah berkembang sejak lama disana.
Fenomena-fenomena unik yang berkembang pada areal sempadan terjadi menyebar terutama pada areal kanalisasi sungai. Banyak setting yang terbentuk dengan tingkat ke-permanen-an yang berbeda-beda. Pemanfaatan yang berkembang secara sporadis tersebut layaknya pisau bermata dua, dimana di satu sisi mungkin dapat menguntungkan bagi masyarakat sekitar, namun di sisi lain, dampak kegiatan tersebut dapat mengganggu fungsi utama dari setting hingga mendesak keberlanjutan ekologis di Sungai Badung. Perkembangan perilaku masyarakat yang lepas dari pengawasan dan kontrol pemerintah dalam memanfaatkan setting sempadan Tukad Badung menimbulkan berbagai kemungkinan buruk seperti terjadinya berbagai perilaku-perilaku negatif yang menyebabkan permasalahan sosial yang berkaitan dengan minuman keras, obat- obatan terlarang, seks bebas dan perilaku kriminal lainnya.
Dengan demikian, Fenomena tersebut sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian akan menelusuri berbagai komponen yang mempengaruhi perkembangan setting yang terbentuk pada areal sempadan Tukad Badung, seperti elemen penyusun setting, proses terbentuknya, hingga pihak-pihak yang terkait dalam fenomena tersebut. Temuan-temuan yang didapatkan pada penelitian ini diharapkan nantinya dapat memberi suatu rekomendasi yang berharga dalam memberikan pertimbangan kepada pemangku kebijakan agar dapat menghasilkan
8
kebijakan penataan ruang publik di areal Sempadan Tukad Badung yang kontekstual dan bermanfaat bagi masyarakat Kota Denpasar.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana tipe dasar pola penyusun setting kegiatan rekreasi publik pada areal sempadan Tukad Badung di Kota Denpasar?
1.2.2 Bagaimana proses terbentuknya setting kegiatan rekreasi publik pada areal sempadan Tukad Badung?
1.2.3 Bagaimana peran pihak terkait dalam pemanfaatan Tukad Badung sebagai setting kegiatan rekreasi publik Kota Denpasar?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.3.1 Untuk mengidentifikasi tipe dasar pola penyusun setting kegiatan rekreasi publik pada areal sempadan Tukad Badung di Kota Denpasar.
1.3.2 Untuk dapat menganalisa proses terbentuknya setting kegiatan rekreasi publik pada areal sempadan Tukad Badung dan menyimpulkan pola kecenderungan yang terjadi dan berbagai tipologi yang ada.
1.3.3 Untuk dapat mengetahui peran pihak terkait dalam pemanfaatan sempadan Tukad Badung sebagai setting kegiatan rekreasi publik Kota Denpasar.
9
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1.4.1 Praktis
Untuk dapat memberikan pandangan dan rekomendasi mengenai gambaran pemanfaatan ruang untuk tempat-tempat rekerasi pada ruang publik di Kota Denpasar kepada perencana kota dan stakeholder
1.4.2 Akademis
Sebagai salah satu referensi penelitian mengenai pemanfaatan ruang untuk tempat-tempat rekreasi pada ruang publik khususnya pada areal sempadan sungai yang merupakan satu elemen penting dalam urban planning
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN
Pada bab ini akan data berupa literatur-literatur berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini, yang meliputi : kajian pustaka, konsep, landasan teori, dan model penelitian. Kajian pustaka menguraikan tentang penelitian-penelititan terdahulu terkait dengan penelitian yang akan dilakukan. Landasan teori dan konsep berperan sebagai background knowledge. Model penelitian merupakan pola pikir dalam penelitian ini yang disajikan dalam bentuk skema
2.1 Kajian Pustaka
Telah banyak dilakukan penelitian tentang aktivitas rekreasi pada waterfront sebagai ruang publik, baik berupa jurnal, thesis, maupun desertasi oleh para peneliti didalam maupun luar negeri. Penelusuran dilakukan untuk dapat membandingkan dan juga mengetahui posisi dari penelitian yang sudah dilakukan terhadap penelitian kali ini.
2.1.1 Pemanfaatan Ruang Kawasan Tepi Pantai Untuk Rekreasi dalam Mendukung Kota Tanjungpinang Sebagai Waterfront City,
Penelitian ini merupakan thesis dari M. Tahir (2005) mahasiswa Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Semarang. Tahir meneliti mengenai potensi Kota Tanjung pinang yang memiliki karakteristik sebagai kota tepi pantai yang bisa dimanfaatkan sebagai daerah rekreasi alam. Permasalahan yang diangkat adalah mengenai belum optimalnya
11
pemanfaatan potensi kawasan pesisir Kota Tanjungpinang terutama kawasan tepi pantai sebagai kawasan rekreasi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis SWOT karena output yang diharapkan berupa strategi pemanfaatan ruang kawasan untuk mengoptimalkan karakteristik Kota Tanjungpinang sebagai kota tepi pantai berupa strategi.
2.1.2 Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Sungai Badung Sebagai Objek Wisata “City Tour” Di Kota Denpasar
Penelitian yang dilakukan oleh I Made Dony Hartayasa (2002) merupakan thesis saat menempuh Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang.
Penelitian ini mengemukakan tentang upaya pemerintah dalam mengatasi sampah/limbah di Tukad Badung serta perencanaan untuk menjadikan Sungai Badung sebagai salah satu objek wisata City Tour.
Penelitian mencari tahu peranan dan partisipasi masyarakat bantaran dalam merencanakan, mengelola dan menjaga Sungai Badung dari pencemaran.
Penelitian dilakukan dengan mengadakan survey terhadap instansi dan masyarakat di bantaran sungai menggunakan kuisioner. Data dianalisis dengan metode kualitatif dan menggunakan uji beda antara tokoh masyarakat dengan masyarakat bantaran sungai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kota Denpasar dengan membuat program-program perencanaan dan telah dilaksanakan. Partisipasi masyarakat bantaran sungai tidak sekuat partisi tokoh masyarakatnya dalam menyusun perencanaan Sungai Badung.
12
2.1.3 Potensi Pengembangan Situ di Bogor sebagai Objek Wisata
Penelitian ini merupakan thesis dari Arofa A. Rahman (2010) mahasiswa Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Semarang. Rahman dalam penelitiannya mengemukakan potensi dari situ yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata yang tetap mempertimbangkan faktor ekologis dan hidrologis. Sebaliknya, situ yang ada di Bogor justru mengalami kondisi yang memprihatinkan,pendangkalan, penyusutan dan pemanfaatan secara liar oleh penduduk sekitar.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai potensi situ di Kota Bogor sebagai objek wisata. Adapun sasaran dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting situ di Kota Bogor dan menganalisis kualitas situ serta menganalisis potensi situ di Kota Bogor sebagai objek wisata serta menganalisis pengembangan situ di Kota Bogor menjadi objek wisata agar dapat dirumuskan arahan pengembangan situ di Kota Bogor sebagai objek wisata.
Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, sedangkan metode analisis yang dilakukan pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis skoring untuk mengukur kualitas situ berdasarkan aspek penyusutan luasan, kedalaman musim hujan, penurunan muka air, batas situ, keberadaan bangunan air, tutupan vegetasi air/gulma dan kualitas air dan mengukur potensi situ sebagai objek wisata di Kota Bogor berdasarkan komponen pariwisata dari aspek ketersediaan atraksi, transportasi, infrastruktur, sarana fasilitas penunjang pariwisata dan promosi serta menganalisis pengembangan situ menjadi objek wisata di Kota Bogor.
13
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka kualitas situ di Kota Bogor terbagi menjadi tiga yaitu situ dengan kualitas baik, kualitas terganggu dan kualitas rusak
2.1.4 Kajian Pemanfaatan Tukad Badung sebagai Sarana Wisata Tirta untuk mendukung Program City Tour di Kota Denpasar
Merupakan thesis yang disusun oleh Putra Lanang Dwija, mahasiswa Magister Manajemen Kota ITS pada tahun 2003. Lanang dalam penelitiannya mengangkat potensi yang masih dapat dikembangkan oleh tuntutan akan perkembangan Kota khususnya Kota Denpasar yaitu pengembangan disektor pariwisata dengan paket City Tour sebagai program Andalan. Sesuai dengan konsep dasar pengembangan obyek wisata City Tour di Kota Denpasar, salah satu obyek wisata yang dikaitkan dengan rencana program City Tour di Kota Denpasar sebagai bahan penelitian ini adalah adalah Obyek Kawasan Wisata Alam yang memanfaatkan Kawasan Tukad (Sungai) Badung sebagai sarana wisata tirta, dengan alokasi wilayah pemanfaatan sepanjang 5,7 Km yang berawal dari Jembatan Jalan Maruti (Kampung Jawa) sampai dengan Bendung Gerak (Banjar Abian Tegal Desa Dauh Puri Kauh). Dalam penelitian ini digunakan penelitian secara kualitatif dengan alat analisis deskriptif kualitatif dan Teknik Delphi.
Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk melihat faktor kecenderungan yang terjadi (Trend Oriented) dari masing-masing segmen di sepanjang aliran sungai dari wilayah pemanfaatan sungai, dengan unit yang diteliti adalah Kondisi Fisik Sungai, Wisata Yang Ada, Lingkungan Sosial Budaya di Sekitar DAS, dan Kondisi Lahan Yang Ada di Daerah DAS. Sedangkan Teknik Delphi diperlukan
14
untuk mendapat masukan dari beberapa pakar (Expert) dan organisasi masyarakat dalam hal rencana strategis dan prioritasnya untuk pemanfaatan Tukad Badung sebagai sarana wisata tirta Dari keterpaduan analisa deskriptif kualitatif, yang melihat kecenderungan yang terjadi di masing-masing segmen aliran sungai dan Teknik Delphi, maka Tukad Badung dapat dikembangkan dan memberikan manfaat untuk kegiatan wisata tirta dengan beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan yaitu melalui pembenahan lingkungan, baik yang ada di dalam sungai maupun yang ada di luar sungai, dan juga peran partisipasi masyarakat yang ada di sekitar Tukad Badung, melalui rencana strategis yang telah diprioritaskan untuk masing-masing segmen, sehingga pemanfaatan Tukad Badung sebagai sarana wisata tirta dapat berlangsung.
2.1.5 Media Time vs Active Time: Leisure Time among the Youth in Disadvantaged Community (Media Waktu vs Waktu Aktif : Waktu luang
diantara Pemuda pada Komunitas Tertinggal
Penelitian ini terdapat di dalam jurnal International Journal of Human and Social Sciences 6:3 2011 penelitian dilakukan oleh Samsudin A. Rahim, dkk, dimana Rahim merupakan direktur di Pusat Pemberdayaan Pemuda di Universitas Kebangsaan Malaysia, dengan rekan-rekannya yang merupakan dosen di Universitas yang sama dari Jurusan Psikologi dan Pengembangan Manusia dan Jurusan Media dan Komunikasi.
Rahim,dkk meneliti bagaimana para pemuda pada permukiman kota tertinggal menggunakan waktu luangnya (waktu senggang diluar rutinitas harian).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan melibatkan 695
15
responden yang rentan umurnya 15-25 tahun yang tinggal di apartemen berbangunan tinggi dengan penduduk kelas ekonomi menengah kebawah pada pinggiran Kota Kuala Lumpur, Malaysia
Penelitian Rahim menemukan suatu pengaruh signifikan antara minimnya waktu luang yang digunakan untuk kegiatan rekreasi oleh pemuda di pemukiman kota tertinggal (dipinggiran Kota Kuala Lumpur,Malaysia) terhadap tingginya sifat antisosial dan angka perilaku negatif seperti perusakan fasilitas umum (Vandalism), balapan liar, pencurian, penyalahgunaan narkoba serta tingginya angka pemuda yang merokok. Tingginya angka perilaku negatif tersebut secara psikologis berawal dari tekanan mental yang dialami oleh pemuda di Pinggiran Kota Kuala Lumpur akibat rendahnya intensitas kegiatan rekreasi yang dilakukan.
16
Tabel 2.1 Kedudukan Penelitian Kini dan Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Topik Penelitian Metode Hasil Kedudukan Penelitian
1 M. Tahir, 2005
Pemanfaatan Ruang Kawasan Tepi Pantai Untuk Rekreasi dalam Mendukung Kota Tanjung-pinang Sebagai Waterfront City,
Kajian potensi dan permasalahan Kota Tanjungpinang menjadi waterfront city
Kualitatif Temuan pada zona inti, kawasan penyangga,potensi daya tarik,aktivitas, fasilitas pelayanan,
permasalahan,Strategi perencanaan, pemanfaatan dan pengedalian
Persamaan:objek mengenai ruang rekreasi pesisir pada di kota
Perbedaan:Mengarah kepada industri rekreasi komersil
(Mengarah kepada rekreasi publik/umum)
2 I Made
Dony Hartayasa (2002)
Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Sungai Badung Sebagai Objek Wisata “City Tour”
Di Kota Denpasar
Kajian peran serta masyarakat dan upaya pemerintah alam merencanakan Sungai Badung sebagai objek wisata “city tour”
kuantitatif Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kota Denpasar dengan membuat program-program perencanaan dan telah dilaksanakan. Partisipasi masyarakat bantaran sungai tidak sekuat partisi tokoh masyarakatnya dalam menyusun perencanaan Sungai Badung.
Persamaan: Faktor penting dalam perencanaan Tukad Badung sebagai objek wisata
Perbedaan: Belum ada kajian setting perilaku dalam pemanfaatan sebagai ruang rekreasi publik.
3 Arofa A.
Rahman, (2010)
Potensi Pengembangan Situ di Bogor sebagai Objek Wisata
Kajian potensi dan
permasalahan Pengembangan Situ di Bogor sebagai Objek Wisata
Kuantitatif Identifikasi kualitas situ-situ di Bogor, potensi sebagai objek wisata dan arahan pengembangan situ
Persamaan: kegiatan rekreasi pada waterfront
Perbedaan : meneliti secara teknis /kuantitatif
(meneliti segi sosiologi-perilaku/ kualitatif) 4 Putra
Lanang Dwija
Kajian Pemanfaatan Tukad Badung sebagai Sarana Wisata Tirta untuk mendukung Program City Tour di Kota Denpasar
Telaah fisik dan sosial DAS Tukad Badung untuk pemanfaatan sebagai objek wisata
Kuantitatif kualitatif
Analisa kecenderungan yang terjadi pada masing-masing segmen dan
Strategi pengembangan menjadi objek wisata tirta
Persamaan :
Analisa potensi wisata dan rekreasi di Tukad Badung
Perbedaan : Objek penelitian pada Segmen sungai yang berbeda, Belum ada kajian mengenai setting yang terbentuk 5 Samsudin
A. Rahim, dkk
Media Time vs Active Time:
Leisure Time among the Youth in Disadvantaged Community
Analisa bagaimana para pemuda pada permukiman kota tertinggal (pinggiran Kota Kuala Lumpur, Malaysia)
menggunakan waktu luangnya (waktu senggang diluar rutinitas harian) apakah dengan media ataupun aktivitas
kuantitatif pengaruh antara minimnya waktu luang yang digunakan untuk kegiatan rekreasi oleh pemuda di pemukiman kota tertinggal (dipinggiran Kota Kuala Lumpur,Malaysia) terhadap tingginya sifat antisosial dan angka perilaku negatif
Persamaan : fenomena yang terjadi akibat minimnya aktivitas rekreasi masyarakat kota Perbedaan :
Kajian dengan analisa statistik (kajian secara natural/fenomenologi )
6 Nym
Gema Endra Persada
pemanfaatan sempadan sungai badung sebagai setting kegiatan rekreasi publik kota denpasar
Fenomena kegiatan rekreasi yang terjadi pada areal sempadan sungai Badung oleh masyarakat di Kota Denpasar
Kualitatif Beberapa temuan mengenai setting- setting yaang terbemtuk pada sempadan Sungai Badung untuk kegiatan rekreasi oleh masyarakat Kota Denpasar
17
2.2 Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan hasil abstraksi dan sintetis dari teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi untuk menjawab dan memecahkan masalah penelitian. Kerangka berpikir terdiri dari tahapan-tahapan suatu penelitian mulai dari latar belakang untuk menentukan fokus/masalah penelitian, merumuskan tujuan dan sasaran penelitian, menentukan teori-teori yang digunakan sebagai dasar terkait dengan penelitian yang dilakukan, tahap mengumpulkan data, kemudian menganalisis data, hingga memperoleh suatu hasil penelitian, dan terakhir merumuskan kesimpulan, rekomendasi studi dan saran.