BAB IV PENEMUAN DAN PEMBAHASAN
DAFTAR LAMPIRAN
A. Latar Belakang
Mencuatnya konsep manajemen risiko (risk management) tidak hanya menjadi sebuah antiklimaks dari perjalanan panjang dunia bisnis, namun sesungguhnya juga titik balik kesadaran akan pentingnya mengelola risiko, agar terhindar dari hal-hal yang bisa merusak tujuan yang ingin dicapai. Meski, sesungguhnya secara substansial manajemen risiko adalah juga substansi manajemen bisnis yang umum. Hanya saja, terjadi pergeseran dan penekanan fokus. Yakni, fokus pada mengenali risiko dan kemudian mengelolanya, itulah yang menjadi titik utama. (Dewanto Fadjar Ari, 2003).
Konsep manajemen risiko mestinya tidak terkait dengan profil karakter manajer. Ada tiga profil karakter manajer utama: risk seeker, risk averter, risk taker. Apapun dan bagaimanapun profilnya, manajer harus melihat dan memperlakukan risiko sebagai urat nadi dan denyut jantung dalam suatu organisasi bisnis. Identifikasi risiko sebagai tahap awal manajemen risiko adalah tahap krusial, karena dilakukan penilaian risiko yang potensial, secara mutlak harus ditindaklanjuti dengan mengelola atau mengendalikan risiko yang teridentifikasi melalui pengurangan kemungkinan terjadinya risiko sampai titik terendah (residual risk). Mengingat setiap tindakan mengendalikan risiko akan berhadapan dengan risiko lain, oleh karena itu,
tahap ini memerlukan kajian intensif dan intranspeksi sejujurnya untuk setiap kemungkinan terburuk yang mungkin timbul. (Dewanto Fadjar Ari, 2003).
Selain itu, pengalaman dan pelajaran selama masa krisis telah menyadarkan industri perbankan terhadap kebutuhan perubahan yang mendasar dalam penerapan prinsip kehati-hatian melalui pengelolaan risiko secara menyeluruh. Selanjutnya, dalam rangka menyempurnakan pengelolaan risiko secara lebih menyeluruh dan mendalam, kemudian dibentuk satuan kerja manajemen risiko yang tidak hanya bertujuan terhadap pengelolaan, namun juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko yang ada. (Bank Mandiri, 2004).
Mengingat betapa pentingnya peranan internal auditor dalam manajemen risiko maka, pendekatan risk based internal auditing ini penting pula yaitu bahwa internal auditor sepatutnya memiliki pemahaman yang baik terhadap proses manajemen risiko, teknik dan perangkat kerja, dan keahlian dasar internal auditing dalam hal komunikasi, wawancara dan analisa. Peranan internal auditor dalam suatu organisasi terhadap manajemen risiko berubah sepanjang waktu, dan peranan internal auditor antara satu organisasi dengan organisasi lainnya bisa berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena tidak semua organisasi atau institusi memandang risiko dengan cara yang sama atau tidak semua organisasi memiliki kompleksitas manajemen risiko pada level yang sama. Karena kondisi perusahaan yang satu dengan yang lainnya juga berbeda-beda. (Dewanto Fadjar Ari, 2003).
Oleh karena itu, agar manajemen risiko yang dimiliki oleh organisasi dapat berjalan secara efektif maka auditor internal harus menentukan peranan yang sesuai dengan kondisi manajemen risiko yang ada pada organisasinya. Internal auditor harus memperhatikan persyaratan profesi agar tetap independen dan objektif, dan internal auditor harus juga merasa yakin bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan peranan tersebut. (Dewanto Fadjar Ari, 2003).
Di sisi lain, suatu perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya baik perusahaan yang bergerak dibidang industri bisnis maupun jasa akan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Satu hal yang harus diperhatikan bersama yaitu bahwa keberhasilan berbagai aktivitas didalam perusahaan dalam mencapai tujuan bukan hanya tergantung pada keunggulan teknologi, dana operasi yang tersedia, sarana ataupun prasarana yang dimiliki, melainkan juga tergantung pada aspek sumber daya manusia. Manusia sebagai salah satu sumber daya dalam perusahaan mempunyai peranan penting dibandingkan dengan sumber daya lainnya, karena faktor penggerak utama dari seluruh kegiatan perusahaan. Jadi manusia dapat dipandang sebagai faktor penentu karena ditangan manusialah segala inovasi akan direalisir dalam upaya mewujudkan tujuan perusahaan. (Grand Textile, 2007)
Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan menyalurkan dan memelihara perilaku manusia. Motivasi bukan hanya satu-satunya faktor yang memperngaruhi tingkat prestasi seseorang. Dua faktor lainnya yang terlibat adalah kemampuan individu dan pemahaman tentang perilaku yang diperlukan
untuk mencapai prestasi yang tinggi atau disebut persepsi peranan. Motivasi, kemampuan, dan persepsi peranan adalah saling berhubungan. Jadi, bila salah satu faktor rendah, maka tingkat prestasi akan rendah. Walaupun faktor-faktor lainnya tinggi. (Handoko Hani T, 2003: 251).
Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang-orang yang melaksanakan upaya substansial guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya dan organisasi di mana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi hanya akan memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi merupakan sebuah konsep penting dalam studi tentang kinerja kerja individual. Karena motivasi berkaitan erat dengan perilalu, maka dapat dikatakan bahwa terdapat macam-macam faktor yang berbeda dan yang mempengaruhinya. (Winardi, 2004: 2).
Motivasi merupakan hal penting pula untuk diperhatikan karena dengan motivasi, seseorang akan memiliki semangat yang tinggi dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Tanpa motivasi, seseorang tidak dapat memenuhi tugasnya sesuai standar atau bahkan melampaui standar karena apa yang menjadi motif dan motivasinya dalam bekerja tidak terpenuhi. Sekalipun orang tersebut memiliki kemampuan operasional yang baik bila tidak memiliki motivasi dalam bekerja, hasil akhir dari pekerjaannya tidak akan memuaskan. (Kusumawati Arie, 2007).
Penelitian yang berkaitan dengan judul penulis telah beberapa kali dilaksanakan. Penelitian mengenai tingkat keahlian auditor diantaranya
dan independensi audit internal terhadap kemampuan mendeteksi indikasi fraud. Hasil penelitian tersebut menerangkan bahwa keahlian dan independensi internal auditor ketika mendeteksi indikasi fraud memiliki pengaruh yang signifikan.
Penelitian lain mengenai motivasi auditor internal diantaranya dilakukan oleh Arie Kusumawati (2006) meneliti tentang pengaruh faktor-faktor motivasi terhadap prestasi kerja karyawan wajik kletik dibungkus klobot Blitar. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa faktor motivasi sangat berpengaruh dengan prestasi kerja seseorang.
Penelitian lain yang ikut mendukung judul diatas dilakukan oleh Departemen R&D PT. Grand Textile untuk kepentingan perusahaan yakni mengenai peranan motivasi dalam upaya meningkatkan disiplin kerja karyawan pada PT. Grand Textile. Dari hasil penelitian tersebut terlahir indikator-indikator motivasi karyawan terhadap disiplin kerja dan semakin memperkuat teori bahwa motivasi sangat berpengaruh terhadap hasil kerja seseorang.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Khairul Bariyyah (2007). Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah:
1. Ruang lingkup peneliltian
Ruang lingkup penelitian sebelumnya menggunakan seluruh perusahaan perbankan konvensional yang memiliki auditor internal dan manajemen
risiko. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan perusahaan perbankan syari’ah yang memiliki auditor internal dan risk management. 2. Metode penentuan sampel
Metode penentuan sampel penelitian sebelumnya menggunakan sampel populasi. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling.
3. Variabel yang digunakan
Variabel penelitian sebelumnya menggunakan satu variabel independen yaitu auditor internal. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan dua variabel independen yaitu tingkat keahlian dan motivasi auditor internal. 4. Uji hipotesis
Uji hipotesis penelitian sebelumnya tidak menggunakan uji normalitas, heteroskedastisitas, dan multikoliniearitas tetapi langsung menggunakan motode statistik. Sedangkan dalam penelitian ini dilakukan uji normalitas, heteroskedastisitas, dan multikoliniearitas terlebih dahulu baru dilakukan pengujian analisis statistik.
5. Pengujian analisis statistik
Pengujian analisis statistik penelitian sebelumya menggunakan regresi linier sederhana. Sedangkan dalam peneltian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan penambahan uji t (uji parsial) yang tidak terdapat pada penelitian sebelumnya.
6. Operasional variabel penelitian
Operasional variabel penelitian sebelumnya dalam mengukur efektivitas manajemen risiko menggunakan sub variabel strategi pengelolaan risiko dan minimalisasi biaya. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan sub variabel risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional.
Atas dasar landasan diatas, penulis merasa tertarik untuk mengajukan skripsi yang berjudul “Pengaruh Tingkat Keahlian dan Motivasi Auditor Internal Terhadap Risk Management BankSyari’ah”.