• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENEMUAN DAN PEMBAHASAN

DAFTAR LAMPIRAN

A. Tingkat Keahlian Auditor Internal 1. Definisi Keahlian

Sampai saat ini masih belum terdapat definisi operasional yang tepat untuk menguraikan pengertian keahlian. Webster’s Ninth New Collegiate Dictionay (1983) mendefinisikan keahlian (expertise) adalah keterampilan dari seorang ahli. Ahli (experts) didefinisikan seseorang yang memiliki tingkat keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subjek tertentu yang diperoleh dari pelatihan atau pengalaman. Trotter (1986) mendefinisikan ahli adalah orang yang dengan keterampilannya mengerjakan pekerjaan lapangan dengan cara mudah, cepat, intuisi, dan sangat jarang atau tidak pernah membuat kesalahan. Hayes-Roth, et al (1983) mendefinisikan keahlian sebagai keberadaan dari pengetahuan tentang suatu lingkungan tertentu, dan keterampilan untuk memecahkan permasalahan tersebut. (Gudono dan Murtanto, 1999).

Waller dan Felix (1984) menambahkan bahwa di dalam beberapa studi auditing juga belum terdapat kesepakatan dalam mendefinisikan keahlian dan masih sering menggunakan variabel pengalaman sebagai surrogate keahlian. Tentunya variabel ini tidak memadai bagi seseorang untuk membuat pertimbangan-pertimbangan keputusan yang baik dan

menjadi lebih ahli, karena pada dasarnya manusia memiliki sejumlah unsur lain disamping pengalaman. (Gudono dan Murtanto, 1999).

Pengertian keahlian menurut Bedard (1986) adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan prosedural yang luas yang ditunjukkan dalam pengalaman audit. Beberapa peneliti selanjutnya telah memasukkan unsur kemampuan (ability), pengetahuan (knowledge), dan pengalaman (experience) kedalam penelitian mereka (Bonner dan Lewis, 1990; Libby dan Luft, 1993; Libby dan Tan, 1994; Libby, 1995). Dalam praktek, definisi keahlian sering ditunjukkan dengan pengakuan resmi (official recognition) seperti pengakuan terhadap seorang spesialis pada industri tertentu, tanpa adanya suatu daftar resmi dari atribut-atribut keahlian. Dalam hal ini, Shanteau (1987) memberikan definisi operasional seorang ahli adalah seseorang yang telah diakui dalam profesinya sebagai orang yang memiliki ketrampilan dan kemampuan yang penting untuk menilai pada derajat yang tinggi. (Gudono dan Murtanto, 1999).

Metode indentifikasi keahlian dari praktek memberi suatu pengantar untuk menyelidiki berbagai karakteristik keahlian. Hal ini merupakan suatu konsekuensi karena belum terdapat deskripsi yang jelas tentang keahlian. Akibatnya konsep keahlian harus dioperasionalisasikan dengan melihat beberapa variabel. (Gudono dan Murtanto, 1999).

2. Komponen-Komponen Keahlian Auditor

Dalam Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi (2005) keahlian seorang auditor terdiri dari lima komponen sebagai berikut:

a. Ciri-ciri psikologis (Psychological Traits)

Komponen ini meliputi kemampuan di dalam berkomunikasi, kreativitas, kemampuan bekerjasama dengan orang lain, dan kepercayaan kepada keahlian. Pentingnya kemampuan ini dalam membentuk keahlian audit ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan Larocque’ pada tahun 1990.

1) Kemampuan komunikasi

Auditor internal harus memiliki kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi baik lisan maupun tertulis secara efektif karena auditor internal harus senantiasa berhubungan dengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal. (Prima Consulting Group, 2000).

a) Komunikasi dengan auditee

Auditor internal harus senantiasa menjaga komunikasi dan interaksi yang baik dan wajar dengan auditee sehingga pelaksanaan tugasnya dapat berjalan dengan lancar, selain itu audior internal juga harus mampu melaksanakan komunikasi lisan dan tertulis sehingga dapat menyampaikan masalah-masalah audit, seperti tujuan, penilaian, kesimpulan audit dan rekomendasi hasil audit, yang diberikan secara jelas dan efektif.

b) Komunikasi dengan auditor eksternal

Auditor internal harus mampu melakukan komunikasi lisan atau tertulis dengan auditor eksternal sesuai dengan batas kewenangan masing-masing auditor eksternal tersebut.

2) Kreativitas

Menurut Lawrence B. Sawyers, et al (2005) kreativitas auditor internal dapat dipupuk melalui:

a) Skeptimisme. Menolak untuk menerima praktik-praktik yang berjalan saat ini sebagai cara yang paling baik dan selalu mencoba untuk meraih sesuatu yang baik.

b) Analisis. Menganalisis aktivitas dan operasi untuk menentukan komponen-komponen dan dinamika yang terdapat didalamnya. c) Penyatuan. Mengkombinasikan informasi untuk

mentranformasikan konsep-konsep yang terpisah menjadi sesuatu yang baru dan lebih baik.

3) Kemitraan (kemampuan bekerjasama) dalam pemecahan permasalahan

Kemitraan akan sangat efektif dalam menjadikan auditor internal sebagai seorang mitra kerja dan sumber daya yang berharga, dan bukan sebagai seorang musuh atau kritikus. Saling menghargai,

mempercayai, dan kerjasama tim adalah suatu keharusan. (Lawrence B. Sawyers et al, 2005: 47).

4) Keahlilan auditor internal profesional

Audit internal profesional membutuhkan seorang staf yang profesional. Lingkup yang luas dari audit internal moderen mensyaratkan pengetahuan yang luas mengenai metode dan teknik audit. Persyaratan ini menetapkan standar yang tinggi pula dalam audit internal – standar yang sudah tidak bisa dikompromikan lagi. Oleh karena itu, direktur audit internal harus mempertimbangkan beberapa atribut tertentu, seperti pengetahuan professional, kemampuan, dan kualitas karakter, dalam melakukan pengambilan keputusan pemilihan karyawan dan mempertahankannya. Pendidikan mampu mengembangkan kemampuan professional; pengalaman di dunia nyata kemudian masalahnya. Pendidikan akan mengembangkan pengetahuan, keahlian, dan disiplin yang penting dalam kinerja audit internal professional. (Lawrence B. Sawyers et al, 2005: 48-49).

b. Strategi penentuan keputusan (Decision Strategies)

Kemampuan seorang auditor dalam membuat keputusan secara sistematis baik formal maupun informal akan membantu dalam mengatasi keterbatasan manusia, begitu pula dengan membuat

keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain turut serta dalam membentuk keahlian audit.

c. Komponen pengetahuan (Knowledge Component)

Komponen pengetahuan meliputi pengetahuan terhadap fakta, prosedur, dan pengalaman. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Murtanto (1998) komponen ini menempati urutan terpenting dalam membentuk keahlian seorang auditor.

d. Kemampuan berfikir (Cognitive Abilities)

Kemampuan berfikir merupakan kemampuan untuk mengakumulasi dan mengolah informasi beberapa karakter yang dapat dimasukkan ke dalam mengolah informasi. Beberapa karakter yang dapat dimasukkan ke dalam komponen ini antara lain kemampuan beradaptasi pada situasi yang baru, kemampuan untuk memfokuskan pada fakta yang relevan dan kemampuan untuk mengabaikan fakta yang tidak relevan, serta kemampuan untuk dapat menghindari tekanan yang menganggu objektivitas hasil audit.

e. Analisis tugas (Task Analysis)

Kemampuan dalam melakukan analisis tugas akan berpengaruh terhadap penentuan keputusan yang dipengaruhi oleh tingkat pengalaman auditor.

Penelitian yang dilakukan oleh Murtanto (1999) menunjukkan rangking kelima komponen keahlian auditor. Dari tabel 2. 1 di bawah ini

dapat dilihat bahwa ciri-ciri psikologis menempati urutan pertama dalam komponen keahlian, stategi penentuan keputusan, komponen pengetahuan, kemampuan berfikir, dan analisa tugas menempati urutan berikutnya.

Tabel 2. 1

Rangking Komponen Pembentuk Keahlian Auditor

Penelitian Sekarang Penelitin Terdahulu Komponen Keahlian Factor

Loading Ranking

Factor

Loading Rangking

Ciri-ciri psikologis 4,234 1 4,501 1

Strategi Penentuan Keputusan 3,663 2 4,499 2

Komponen Pengetahuan 2,576 3 1,167 3

Kemampuan Berfikir 2,474 4 2,589 4

Analisa Tugas 0,4 5 0,365 5

(Sumber: Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi, “Tinjauan

Terhadap Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik”, Vol. 5 No. 1, April, 2005).

Sumber lain yang terdapat pada buku Sawyer’s, Internal auditing: 2003, mengatakan bahwa:

a. Setiap auditor internal hendaknya memiliki pengetahuan dan keahlian tertentu sebagai berikut:

1) Kecakapan dalam menerapkan standar, prosedur, dan teknik audit internal diperlukan dalam setiap penugasan. Kecakapan berarti kemampuan untuk menetapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam situasi yang memungkinkan akan dihadapi dan mengatasi

situasi tersebut tanpa membutuhkan bantuan dan riset teknis yang mendalam.

2) Kecakapan dalam prinsip dan teknik akuntansi diperlukan bagi seorang auditor yang banyak bekerja dengan laporan dan catatan keuangan.

3) Pemahaman akan prinsip manajemen juga diperlukan untuk mengenali dan mengevaluasi besarnya materialitas dan signifikansi dari penyimpangan yang terjadi dan praktik bisnis yang baik. Pemahaman ini berarti kemampuan untuk menetapkan pengetahuan yang dimilikinya pada situasi yang kemungkinan akan dihadapi, mengenali penyimpangan yang signifikan, dan kemudian mampu melaksanakan riset yang diperlukan untuk mencapai solusi yang masuk akal atas penyimpangan.

b. Auditor internal hendaknya memiliki keahlian dalam berhubungan dengan orang lain dan mampu berkomunikasi dengan efektif. Disamping mengerti hubungan antarmanusia dan mampu membina hubungan yang memuaskan dengan klien.

Melihat betapa beratnya tugas seorang auditor baik ditinjau secara moril maupun materil, maka sebaiknya untuk menjabat sebagai auditor khususnya di perusahaan perbankan perlu dituntut suatu kualifikasi yang tinggi, baik mengenai kecakapan teknisnya maupun moralitasnya. Secara

konkrit auditor dituntut harus mempunyai pengetahuan yang lengkap dan up to date mengenai Banking Operation yang berlaku. Ia juga dituntut pengetahuan yang memadai tentang accounting dan hukum, begitu pula pengetahuan tentang ekonomi moneter dan pegetahuan manajemen serta pengetahuan-pengetahuan teknis lainnya yang erat hubungannya dengan kegiatan perbankan. Sedangkan syarat-syarat moralitas yang diperlukan auditor harus mempunyai dedikasi dan loyalitas pada profesinya yang cukup tinggi, disamping itu juga dituntut sifat-sifat kritis, supel tetapi dapat memegang prinsip. (Teguh Pudjo Muljono, 1987: 32).

B. Motivasi Auditor Internal

Dokumen terkait