Info Pertanyaan
DAFTAR PUSTAKA
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi, telekomunikasi, media, dan informatika (TELEMATIKA) yang semakin cepat, telah berdampak nyata pada perubahan sikap dan perilaku masyarakat pengguna dalam mencari atau bertukar informasi. Seiring dengan penggunaan TELEMATIKA yang berkembang dengan perjalanan waktu, berbagai aplikasi telah atau sedang dikembangkan untuk memudahkan manusia dalam memecahkan berbagai permasalahan (problem solving) di segala bidang. Persaingan yang terjadi di era globalisasi, menumbuhkan kompetisi antar bangsa, sehingga menuntut adanya pengembangan kualitas sumber daya manusia. Fenomena globalisasi ini ditandai oleh kekuatan konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semestinya menjadi faktor mendasar untuk ditransformasikan ke lembaga pendidikan.
Pentingnya lembaga pendidikan membangun teknologi dan sistem informasi, mendukung untuk terwujudnya lingkungan pembelajaran yang dinamis, dengan cara memanfaatkan TIK dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, administrasi, serta interaksi dan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat (Mukhtar & Iskandar 2010). Sejumlah pakar teknologi berperan mengembangkan sistem yang mampu mengatur, mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, menganalisis dan mengintegrasikan serta menampilkan berbagai informasi (data). Trend teknologi informasi dalam pengajaran dan pendidikan terkini banyak bermunculan sebagai suatu wahana komputer pendidikan seperti e-academic, e-learning, e-authoring and learning, e-finance, e-business, e-management, e-goverment dan e-commerce.
Dunia pendidikan sebagai wadah tempat menimba ilmu pengetahuan dan teknologi dituntut untuk peka dan penyesuaian (adaptif) dengan perkembangan teknologi. Salah satu kebutuhan guru terhadap teknologi informasi di berbagai jenjang pendidikan yaitu dengan adanya sistem pendukung bagi guru dalam penyusunan lesson plan atau rencana pelaksanaan pembelajaran. Ketersediaan sistem
Online Lesson Plan (OLP) dapat membantu kinerja guru sehingga peningkatan kompetensi guru diharapkan dapat terwujud.
Kebutuhan akan sistem, muncul seiring dengan adanya tuntutan penguasaan materi pembelajaran maupun ilmu pedagogik (As‟ari 2006), guna peningkatan kompetensi guru (Unsyiah 2007). Upaya kebutuhan ini terus ditingkatkan melalui serangkaian kegiatan pendampingan dan pelatihan yang diberikan untuk guru oleh stakeholder pendidikan (akademisi atau pakar). Namun, hal ini masih belum merata diperoleh guru terutama menyangkut penyusunan lesson plan. Pemantauan dan evaluasi terhadap guru oleh institusi pendidikan juga masih terbatas dan kurang terbuka. Untuk itu keterlibatan stakeholder pendidikan sangat diperlukan agar dapat memberikan kontribusi yang memadai dalam meningkatkan kinerja profesionalitas guru (Gambar 1).
Stakeholders
Praktisi Pendidikan (Guru)
Institusi Pendidikan Daerah (Dinas Pendidikan/MPD) Akademisi Pendidikan (LPTK/FKIP) Institusi Pendidikan Pusat (LPMP) Komite Sekolah/ Masyarakat Kepala Sekolah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Gambar 1 Keterlibatan stakeholders dalam sistem pendidikan.
Lesson plan adalah suatu rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus (Rusman 2010). Lesson plan merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, melalui lesson plan yang baik, guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Lesson plan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, sekolah, dan mata pelajaran.
Penyusunan lesson plan mata pelajaran terutama matematika di SMA menimbulkan banyak kendala baik pada proses maupun mekanismenya. Dalam hal ini stakeholder pendidikan kurang berperan dalam memberikan penyelesaian terhadap masalah tersebut.
Berdasarkan penelusuran penulis dari hasil dokumen portofolio sertifikasi guru (Unsyiah 2009) dan wawancara dengan sejumlah guru di Aceh pada awal tahun 2011, diperoleh beberapa fakta terkait penyusunan lesson plan matematika di antaranya:
a. Banyak guru yang belum mengetahui komponen penting dalam penyusunan lesson plan matematika,
b. Tingkat penguasaan guru matematika terhadap aspek pembelajaran matematika dan strategi pembelajaran masih rendah (Hidayat 2004),
c. Sosialiasi terkait cara-cara atau metode pembuatan lesson plan yang baik belum dilaksanakan secara optimal,
d. Ketidakteraturan dalam pembuatan lesson plan baik secara operasional dan sistematis,
e. Evaluasi hasil pembuatan lesson plan tidak dilaksanakan secara maksimal, f. Kurangnya kedisiplinan waktu menyerahkan laporan lesson plan dalam setiap
pertemuan,
g. Kemudahan mendapatkan lesson plan matematika yang dikomersilkan oleh beberapa provider.
h. Penyusunan lesson plan matematika masih dibuat secara manual dengan informasi yang terbatas.
Sejauh ini sistem OLP matematika belum pernah dikembangkan di Indonesia dan ini menjadi perhatian utama penulis untuk membangun sistem tersebut. Berdasarkan penelusuran penulis di berbagai website universitas terkemuka, terdapat beberapa peneliti yang di antaranya telah merancang sistem penyusunan lesson plan untuk guru seperti yang dilakukan di Nanyang Technological University (Singapore), Massachusetts Institute of Technology (Amerika Serikat) dan University of Missouri (Columbia). Seperti halnya penelitian tentang studi kemunculan praktek guru dalam pengembangan lesson plan berbasis internet (Battle & Hawkins 1996), sistem lesson
plan berbasis web untuk spesifikasi pendidikan di Missouri (Wang & Lin 2002), rancangan dan evaluasi sistem penyusunan lesson plan berbasis web (Wang & Wedman 2003), dan sistem online lesson plan menggunakan model pembelajaran 5E (He & Wang 2008).
Dengan adanya penelitian pendukung dari beberapa jurnal dan informasi permasalahan lokal, maka penulis sangat tertarik untuk mendalami dan merencanakan dalam merancang serta mengembangkan sistem OLP matematika berbasis computer assisted instructional (CAI). Sistem pengajaran berbantuan komputer (CAI) merupakan suatu bentuk pemanfaatan komputer sebagai alat bantu pembelajaran terutama dalam pembuatan lesson plan matematika. Oleh karena proses pembelajaran yang dilakukan secara mandiri menggunakan komputer. Hal ini didasarkan dan didukung kuat dari teori-teori pembelajaran terdahulu yang terus berkembang pesat seperti teori behavioristik, teori kognitif dan teori konstruktivis (Sudjana 1991).
Di Indonesia, perkembangan CAI secara kuantitas maupun kualitas masih belum banyak mendapat perhatian (Surdjono & Utomo 1997). Dengan semakin meningkatnya jumlah kepemilikan komputer di beberapa lembaga pendidikan (untuk kota-kota besar) serta tuntutan kebutuhan, maka diperlukan pengembangan program pembelajaran secara interaktif baik online maupun offline. Kecenderungan inilah yang menjadi pemicu semangat dan motivasi bagi guru dalam membuat lesson plan matematika secara efektif dan efisien. Integrasi model CAI sangat bervariasi karena metode penyajian komputer berperan seperti pengajar dengan menerapkan beberapa model di dalamnya seperti tutorial, drill and practice, simulasi dan problem solving (Yahya & Humairo, 2010).
1.2 Perumusan Masalah
Masalah penelitian yang telah dikemukakan pada latar belakang belum dirumuskan secara spesifik atau belum operasional. Agar masalah tersebut dapat dipecahkan secara tepat seperti yang dikehendaki, maka perlu disajikan secara operasional sehingga menggambarkan pula pendekatan sistem yang akan digunakan. Penelitian ini difokuskan pada pengembangan sistem OLP matematika berbasis CAI.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana mengembangkan OLP matematika berbasis CAI?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengembangkan OLP matematika berbasis CAI.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
a. OLP matematika diharapkan mampu menjadi suatu alternatif model penyusunan lesson plan yang efektif.
b. OLP matematika merupakan pilot project untuk dapat dikembangkan pada bidang studi dan jenjang pendidikan lainnya.
c. OLP matematika dapat membantu kinerja guru dan sebagai tools dalam memberikan kemudahan penyusunan lesson plan matematika.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Pengembangan online lesson plan matematika berbasis CAI memiliki batasan atau ruang lingkup yang harus dilakukan dengan cakupan sebagai berikut :
a. Penyusunan lesson plan diujicoba pada mata pelajaran matematika untuk tingkat SMA.
b. Komponen penyusunan lesson plan lebih menitikberatkan pada beberapa model pembelajaran kooperatif dalam matematika.
c. Aspek pembelajaran matematika yang dipilih adalah aljabar.
d. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam CAI disajikan menggunakan 2 model penyajian yaitu tutorial dan drill and practice (Yahya & Humairo, 2010).
II TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian dalam pengembangan Online Lesson Plan (OLP) matematika berbasis Computer Assisted Instructional (CAI) didasari pada beberapa konsep yang saling berkaitan, serta temuan hasil penelitian terdahulu yang melandasi penelitian ini. Uraian tersebut akan dijelaskan dalam bab ini.
2.1Keterkaitan Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain terhadap sistem informasi penyusunan lesson plan menunjukkan adanya perbedaan dan keterbatasan area penelitian. Hal ini memungkinkan untuk dikembangkan sesuai kebutuhan wilayah setempat serta penggunaan teknik komputasi tertentu. Penelitian tersebut di antaranya:
a. Battle dan Hawkins (1996), melakukan penelitian dengan topik a study of emerging teacher practices in internet-based lesson plan development. Topik ini menjelaskan tentang dua aspek dari project pengembangan lesson plan berbasis internet yaitu Science On-Line (SOL) dan earth and space science for the clasroom. Dari hasil penelitian ini diperoleh 5 implikasi yakni relevansi pengembangan lesson plan pada internet, pengaruh langsung, penyesuaian materi internet bagi setiap guru, metodologi handal untuk partisipasi peneliti, dan konektivitas di dalam kelas.
b. Wang dan Lin (2002), melakukan penelitian tentang Missouri-specific web-based lesson planning system. Topik ini menjelaskan bahwa pendekatan tradisional penyusunan lesson plan berbasis kertas sangatlah rumit dan akibatnya merugikan efektifitas dan efisiensi guru. Hasil penelitian ini meningkatkan kualitas guru dengan dua upaya penting yakni pada fase awal dapat mengembangkan, menerapkan dan menguji fungsi pilot project dari sistem dan fase akhir mendukung komunikasi melalui web dalam model lesson plan.
c. Wang dan Wedman (2003) dengan penelitian designing and evaluating a web-based lesson planning system yang merupakan penelitian lanjutan dari Wang dan
Lin (2002). Hasil studi memberikan informasi penilaian sistem terhadap guru, sistem dapat menyimpan waktu, manfaat supervisi, komunikasi dengan orang tua dan administrasi sekolah serta perhatian dan kemungkinan sistem untuk ditingkatkan.
d. He dan Wang (2008) dengan topik penelitian an online lesson planning system using the 5e instructional model. Tujuan penelitian ini berbagi pengalaman praktis dalam merancang sistem lesson plan yang berpusat pada siswa sehingga memberdayakan fakultas untuk mengembangkan, mencari, beradaptasi dan berbagi lesson plan dalam sistem tanpa inefisiensi dan inkonsitensi dalam menyiapkan lesson plan. 5E yang dimaksud yaitu engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate.
2.2Atmosfer Sistem Pendidikan Indonesia
Kehidupan di abad 21 menghendaki dilakukannya perubahan pendidikan yang bersifat mendasar. Bentuk perubahan-perubahan tersebut adalah: (i) perubahan dari pandangan kehidupan masyarakat lokal ke masyarakat dunia (global), (ii) perubahan dari kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis (utamanya dalam pendidikan dan praktek berkewarganegaraan), dan (iii) perubahan dari pertumbuhan ekonomi ke perkembangan kemanusiaan. UNESCO (1998) menjelaskan bahwa untuk melaksanakan empat perubahan besar di pendidikan tersebut, dipakai dua basis landasan berupa: a). empat pilar pendidikan: (i) learning to know, (ii) learning to do yang bermakna pada penguasaan kompetensi dari pada penguasaan ketrampilan menurut klasifikasi ISCE (International Standard Classification of Education) dan ISCO (International Standard Classification of Occupation), dematerialisasi pekerjaan dan kemampuan berperan untuk menanggapi bangkitnya sektor layanan jasa, dan bekerja di kegiatan ekonomi informal, (iii) learning to live together (with others), dan (iv) learning to be, serta b). belajar sepanjang hayat (learning throughout life).
Perubahan mendasar pendidikan di Indonesia yang berlangsung saat ini, akan meletakkan kedudukan pendidikan sebagai: (i) lembaga pembelajaran formal dan sumber pengetahuan, (ii) pelaku, sarana dan wahana interaksi antara pendidikan
formal dengan perubahan pasaran kerja, (iii) lembaga pendidikan formal sebagai tempat pengembangan budaya dan pembelajaran terbuka untuk masyarakat, dan (iv) pelaku, sarana dan wahana kerjasama internasional (Balitbang 2003).
Namun demikian, sistem pendidikan nasional kita sekarang ini masih mengedepankan pada pencapaian berbasis nilai bukan pada keterampilan (karakter) dan kompetensi. Sistem pendidikan yang baik didukung oleh beberapa unsur yang baik pula, antara lain : (1) organisasi yang sehat; (2) pengelolaan yang transparan dan akuntabel; (3) ketersediaan lesson plan dalam bentuk dokumen kurikulum yang jelas dan sesuai kebutuhan pasar kerja; (4) kemampuan dan ketrampilan sumberdaya manusia di bidang akademik dan non akademik yang handal dan profesional; (5) ketersediaan sarana-prasarana dan fasilitas belajar yang memadai, serta lingkungan akademik yang kondusif (Ahmadi 1997). Dengan didukung kelima unsur tersebut, maka pendidikan akan dapat mengembangkan iklim akademik yang sehat, serta mengarah pada ketercapaian masyarakat akademik yang professional.
Dalam upaya mendukung sistem pendidikan nasional tersebut, penulis berupaya membangun satu teknologi komputer pendidikan dengan mengedepankan azas manfaat bagi kelangsungan pendidikan di Indonesia. Upaya ini dibutuhkan banyak tenaga dan ide agar teknologi dan sistem informasi penyusunan lesson plan matematika dapat terwujud.
2.3Keberadaan Lesson Plan dalam Sistem Pendidikan Indonesia
Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran, karena kurikulum digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan sebagai salah satu indikator mutu pendidikan. Perubahan kurikulum di Indonesia dari waktu ke waktu senantiasa mengalami revisi yang bertujuan untuk mewujudkan kurikulum yang ideal dan optimal dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
Dalam menunjang kesinambungan pendidikan yang berkualitas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang dibuat sebagai pedoman dan acuan yang diciptakan bagi peran praktisi pendidikan terutama
guru agar lebih profesional dalam pendidikan dan pengajaran. Hal ini mengacu pada landasan dan acuan penyusunan dan pengembangan KTSP dengan berprinsip pada Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), PP nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan PP nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Untuk menciptakan guru yang profesional, mereka dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru).
Peningkatan profesionalitas guru harus didukung oleh stakeholders seperti kepala sekolah dan pengawas/penilik sekolah (praktisi pendidikan), akademisi pendidikan (LPTK/FKIP di PTN/PTS), instansi pendidikan (Dinas Pendidikan, LPMP, MPD) dan masyarakat umum (komite sekolah) serta pemerintah. Pihak yang terlibat sebagai stakeholders mempunyai peran dan tangung jawab masing-masing, sehingga keterikatan satu sama lain saling berelasi dan berinteraksi dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.
Pada pengelolaan pendidikan sekolah, stakeholder berperan dan bertanggungjawab untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan berkesinambungan, sehingga mekanisme yang dilakukan sesuai dengan kontribusi yang diberikan seperti aspek pendanaan, prasarana dan sarana, pengelolaan dan standardisasi, serta perawatan. Aspek ini penulis namakan dengan aspek 4P, dimana keluaran dari aspek ini terciptanya pendidikan dengan dua objek utama yaitu proses (berkenaan dengan efektifitas dan efisiensi) dan produk (berkenaan dengan kualitas dan kuantitas). Apabila kontribusi ini didukung dan diberikan dengan maksimal, maka akan berdampak positif terutama meningkatnya profesionalitas guru. Seluruh rangkaian dari peran stakeholder pendidikan dalam pengelolaan pendidikan, digambarkan penulis sebagai arsitektur model konseptual pengelolaan pendidikan sekolah (Gambar 2).
Ko m ite S eko lah (O ran g T u a/M as ya ra ka t) Akademisi Pendidikan (LPTK/FKIP) Perangkat Sekolah (Kepsek, Guru, Siswa, Staf Adm.)
Orga nis asi K egu ruan (PG RI/ ISP I/K OB AR -GB ) In st it u si P em er in ta h (D in as P en d id ik an /D ep ag ) In st itu si P en d id ik an (L P M P /M P D )
Pengelolaan & Standarisasi
S a ra n a & P ra sa ra n a Pendanaan P e ra wa ta n
PENDIDIKAN
Proses (Efektif & Efisien)Produk (kualitas & Kuantitas)
Gambar 2 Arsitektur model konseptual pengelolaan pendidikan sekolah. Perubahan dalam pola pendidikan dan pengajaran harus diawali dari guru sebagai agent of change. Perubahan yang dimaksud adalah kinerja guru dalam mempersiapkan proses pembelajaran yang bersifat integratif menggunakan teknologi informasi dan tidak kaku dengan mengikuti aturan normatif yang bersifat konvensional. Penekanan dalam hal ini lebih terfokus yaitu pada proses penyusunan lesson plan matematika di sekolah. Lesson plan merupakan suatu arah dan tujuan (landasan) guru dalam mengajar sesuai dengan undang-undang (PP nomor 19 tahun 2005 tentang SNP, Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses).
Selama ini, hasil uji kompetensi guru secara nasional tidak terungkap secara detail di media, hanya saja data kompetensi siswa yang dipublikasikan secara nasional. Sejumlah daerah di beberapa provinsi banyak mengungkap kelemahan dari kompetensi guru yang secara update dapat diperoleh di dinas pendidikan setempat. Berdasarkan paparan tersebut, maka sangat dibutuhkan suatu sistem yang membantu guru terutama dalam penyusunan lesson plan matematika, sehingga akan bermanfaat untuk meningkatkan peran dan kinerja guru dalam pembelajaran.
2.4Lesson Plan (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan
proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran,
sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa lesson plan dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun lesson plan secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Lesson plan adalah suatu rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu KD yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup lesson plan paling luas mencakup satu KD yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih.
Lesson plan merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Melalui lesson plan yang baik, guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Lesson plan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, sekolah, mata pelajaran.
Perlunya lesson plan dimaksudkan untuk mencapai perbaikan pembelajaran yang dilakukan dengan asumsi sebagai berikut (Uno 2008):
a) untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan lesson plan yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran,
b) untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem (konvensional atau komputerisasi),
d) lesson plan harus mengacu pada tujuan dan diarahkan dengan kemudahan belajar e) lesson plan melibatkan variabel pembelajaran yakni variabel kondisi, variabel
metode dan variabel hasil pembelajaran.
Lesson plan disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih (Gambar 3). Guru merancang penggalan lesson plan untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. Komponen lesson plan terdiri atas tujuan pembelajaran, materi ajar, metode dan model pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Beberapa kriteria ini masih dibuat secara tradisional (manual letter) dengan mengisi format baku yang telah ditentukan oleh sebuah institusi. Oleh karenanya, perlu dirancang dalam bentuk sistem komputasi untuk mengoptimalkan kinerja seorang pengajar dalam menyusun lesson plan.
Standar Kompetensi & Kompetensi Dasar
Silabus
Lesson Plan
Gambar 3 Hirarki lesson plan.
Pendekatan sistem yang sangat dipengaruhi pada penyusunan lesson plan yakni dengan sistem perancangan berbasis lingkungan pendidikan, dimana diperlukan suatu aplikasi pendidikan (educational application) dalam format elektronik melalui CD ROM atau internet untuk menunjang kebutuhan pengajar secara optimal. Pembuatan aplikasi penyusunan lesson plan secara elektronik memberikan kesempatan yang luas kepada pengajar dalam meningkatkan inovasi dan kreatifitas pembelajaran (Mai and Neo, 1998).
Ketentuan format (template) baku penyusunan lesson plan matematika telah dicantumkan dalam berbagai penjelasan KTSP. Namun format baku terkadang tidak bersifat umum, karena setiap guru hanya berpegang pada Buku Pegangan Guru (BPG) dari setiap penerbit buku ajar matematika. Berikut ini format baku lesson plan matematika yang penulis ambil dalam penjelasan KTSP (Gambar 4).
Gambar 4 Format baku lesson plan. 2.4.1 Lesson Plan terhadap Kompetensi Guru
Peranan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan formal. Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan pendidikan. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan. Oleh karena itu, guru perlu dikembangkan
sebagai profesi yang bermartabat. Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menegaskan bahwa guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib memiliki syarat tertentu, salah satu di antaranya adalah kompetensi yang meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Kompetensi guru merupakan tingkat kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban dan tanggungjawab dalam proses pembelajaran. Kompetensi guru merupakan salah satu aspek penilaian terhadap kinerja guru, sehingga dapat terampil dan profesional dalam bekerja. Klasifikasi keterampilan tersebut dapat berupa keterampilan membuat lesson plan, melaksanakan dan menilai pembelajaran.
Pembuatan lesson plan oleh guru, tidak hanya sekedar merencanakan aktivitas pembelajaran saja. Namun lesson plan harus dapat mengakomodir secara lengkap dan sistematis pembelajaran, di antaranya baik interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk berpartisipasi aktif, kreatif, mandiri dan berkesinambungan. Dengan demikian, pembuatan lesson plan sangat erat kaitannya dengan tingkat kompetensi guru.
Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku seseorang. Menurut Lefrancois (1995) kompetensi merupakan kapasitas untuk melakukan sesuatu, yang dihasilkan dari proses belajar. Selama proses belajar stimulus akan bergabung dengan isi memori dan menyebabkan terjadinya perubahan kapasitas untuk melakukan sesuatu. Apabila individu sukses mempelajari cara melakukan satu pekerjaaan yang kompleks dari sebelumnya, maka pada diri individu tersebut pasti sudah terjadi perubahan kompetensi. Jadi secara lengkap kompetensi diartikan sebagai satu kesatuan yang utuh yang menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dinilai, yang terkait dengan profesi tertentu berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan dan diujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tertentu (Yuhetty & Miarso 2008).
Menurut Danielson (1996), standar kompetensi guru ditentukan dalam tiga fase yang merupakan suatu kontinum dalam praktek pembelajaran. Secara lengkap ketiga fase tersebut dikemukakan dalam Tabel 1. Fase tersebut bukan merupakan sesuatu yang dinamik dan bukan merupakan suatu bentuk penjenjangan atau lama