• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang, Dasar Pemikiran Amandemen UUD 1945

A. Sejarah singkat perjalanan UUD 1945

6. Latar Belakang, Dasar Pemikiran Amandemen UUD 1945

Akhirnya kekuasaan yang hanya dipertahankan dengan kekuatan semata disertai dengan tekanan-tekanan yang cukup intensif, baik sifatnya tersembunyi maupun terbuka, tidak mungkin akan mampu untuk bertahan lama, ‘kekuasaan dengan kekerasan’ hanyalah mungkin dapat dipertahankan untuk sementara waktu saja, yang mana kemudian hanya tinggal menunggu waktu untuk kemudian ditumbangkan oleh rakyat. Kemudian ketertindasan tersebut akan mencoba untuk terus mencari jalannya sendiri, terutama untuk melawan ketidakadilan yang kemudian pada akhirnya akan berhenti, hanya dengan hapusnya semua bentuk penindasan. Seperti apa yang pernah dilakukan sebelumnya oleh penguasa Orde Baru terhadap rakyatnya sendiri pada masa pemerintahannya. Jalan untuk mengakhiri ketertindasan tersebut, akhirnya terbuka dengan lebarnya yang dimulainya pergerakan oleh rakyat Indonesia, yang sebenarnya dimotori oleh mahasiswa telah membuka lebar-lebar keran reformasi, sehingga kedaualtan rakyat dapat mengalir kembali sampai kemudian ke hilirnya untuk selanjutnya dapat mencapai keadilan dan kesejahteraan. Arus reformasi telah bergulir di Indonesia mulai tahun 1998 (Muntoha,2008;260, Ryacudu,2011;58). Dalam cerita sejarahnya, dapatlah kemudian ketahui bahwa peristiwa sebenarnya tentang pergerakan rakyat Indonesia untuk melawan penguasa Orde Baru yang

I Gusti Ngurah Santika, SPd

otoriter sudah dimulai sebelum tahun 1998. Hanya saja gerakan berupa perlawanan yang dilakukan oleh rakyat tersebut tidak bersifat terbuka, karena sebelum dapat muncul kepermukaan saja, Orde Baru akan segera menumpas dengan mengambil tindakan yang dipandang sifatnya sangat represif. Bahkan, penguasa tidaklah segan-segan untuk segera memadamkan semua gerakan perlawanan yang sebelumnya dilakukan oleh para penentang Orde Baru, yang kemudian disiram dengan kekuatan bersenjata, sehingga sampai benar-benar padam serta tidak mungkin dapat untuk hidup kembali. Hal tersebut baru berakhir, dengan timbulnya arus reformasi yang merupakan manifestasi dari bentuk kekecewaan rakyat terhadap sistem pemerintahan Orde Baru, yang dapat dipandang sangatlah tidak demokratis sifatnya disertai dengan pengekangan terhadap kebebasan rakyat dalam mengekspresikan hak-hak asasinya, terutama dalam kebebasannya untuk kemudian mengemukakan pendapatnya di depan umum. Tuntutan demikian akhirnya berujung pada aksi yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa untuk melakukan unjuk rasa ke DPR (Surajiwo, 2010;34). Mungkin dapatlah dikatakan, bahwa dengan rasa ketidakpuasan yang mendalam terhadap jalannya pemerintahan Orde Baru selama ini, terutama dengan jalan melakukan berbagai bentuk penindasan terhadap rakyat. Telah menyebabkan sebagian besar rakyat Indonesia untuk tergerak hatinya, kemudian menentang ketidakadilan dan kekerasan yang terjadi selama ini, dengan melakukan unjuk rasa sebagai bentuknya yang dimotori oleh mahasiswa dengan kesadarannya sebagai kaum intelektual serta tentunya paling menyadari akan hal tersebut di atas. Dengan besarnya jumlah mahasiswa yang melakukan unjuk rasa, telah menyebabkan mereka sulit untuk diusir dari gedung MPR dan DPR, bahkan berhasil menduduki gedung MPR dan MPR yang menurut mereka merupakan stempel daripada Orde Baru. Terjadinya persitiwa tersebut, kemudian telah berhasil mendorong Ketua MPR/DPR Harmoko untuk mendukung gerakan mahasiswa yang meminta kepada Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Dengan adanya berbagai gerakan protes dalam bentuk unjuk rasa yang semakin meluas, bahkan tidak saja terjadi di Ibu Kota Negara, namun sampai kedaerah-daerah, yang dalam kenyataannya tidak saja menimbulkan kerusakan berupa harta dan benda, tetapi juga jatuhnya banyak korban jiwa. Kemudian Soeharto menyatakan kesetujuannya untuk memenuhi tuntutan rakyat dengan meninggalkan jabatannya sebagai seorang Presiden. Dengan demikian peristiwa berdarah tersebut, merupakan usaha perjuangan rakyat dan mahasiswa dengan penuh semangat, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga, sehingga berujung pada jatuhnya Soeharto dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998. Dengan jatuhnya Orde Baru dari tampuk kekuasaannya, Sinaga (2010;7) kemudian menyatakan bahwa sejarah baru telah dimulai. Tentu saja, sejarah sebagaimana dimaksudkan oleh Sinaga tersebut di atas adalah terkait

I Gusti Ngurah Santika, SPd

dengan sejarah ketatanegaraan. Dimana mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan yang sebelumnya berusaha untuk kemudian memenuhi tuntutan daripada rakyat dan mahasiswa, sekaligus telah menegaskan bahwa rakyat Indonesia secara tegas menolak bentuk sistem pemerintahan yang sifatnya otoriter. Oleh karena itu, Zuriah (2008;7) kemudian berpendapat bahwa gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan dan menjungjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan pada awal mulanya di era reformasi, berkembang dan popular di masyarakat banyaknya mengenai tuntutan reformasi, yang terutama didesakan oleh segenap komponen bangsa, termasuk mahasiswa sebagai pelopor bangsa yang berada digaris depan perjuangan reformasi. Adapun yang kemudian menjadi agenda utama daripada reformasi, bahkan merupakan tuntutan komponen bangsa Indonesia di era reformasi itu, yaitu sebagai berikut.

a.Amandemen UUD 1945;

b. Penghapusan Dwifungsi ABRI (ABRI kini TNI dan Polri tidak boleh lagi

berpolitik dan menduduki atau menjadi anggota legislatif dan eksekutif, pokoknya tidak boleh menduduki jabatan sipil);

c.Penegakan supremasi hukum, penghormatan Hak Asasi Manusia (HAM), dan

pemberantasan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme);

d. Otonomi Daerah yang seluas-luasnya (Desentralisasi dan hubungan yang adil

antara pusat dan daerah); dan

e.Mewujudkan kehidupan demokrasi termasuk kebebasan pers (Atmadja, 2006;70,

Santika,2012;4-5).

Dari berbagai agenda reformasi yang menjadi tuntutan komponen bangsa tersebut di atas, adalah sangat menarik dengan adanya tuntutan untuk kemudian mengadakan perubahan terhadap UUD 1945, yang mana pada dasarnya merupakan hukum dasar Indonesia. Di mana selama ini tidak mungkin bisa disampaikan di depan umum, dikarenakan bisa saja terancam oleh kekuasaan pemerintah. Maka untuk sekarang, setelah jatuhnya Soeharto kemudian menjadi suatu wacana yang tidak mungkin dapat untuk ditunda-tunda kembali. Bahkan dapat dikatakan telah menjadi agenda yang utama, dalam rangka membangun demokratisasi terhadap kehidupan bangsa ini. Adanya tuntutan Perubahan UUD Tahun 1945, pada waktu era reformasi tersebut, merupakan suatu langkah

I Gusti Ngurah Santika, SPd

serta terobosan yang sifatnya sangat mendasar. Karena dapat diketahui pada era sebelumnya tidaklah dikehendaki adanya suatu perubahan terhadap UUD Tahun 1945.

Apa yang sebenarnya mendasari adanya tuntutan untuk mengadakan perubahan terhadap UUD 1945, sehingga memang dipandang betul-betul perlu untuk kemudian diadakan suatu perubahan konstitusional, yaitu sebagai berikut.

a.Memuat ketentuan-ketentuan yang memfokuskan kekuasaan pada lembaga

eksekutif (executive heavy) yang dipimpin oleh Presiden. Selain sebagai kepala eksekutif secara praktis Presiden menjadi ketua lembaga legislatif karena jika presiden tidak mau menandatangani sebuah rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Pemerintah maka rancangan undang-undang tersebut tidak dapat berlaku.

b. Memuat ketentuan-ketentuan yang berwayuh arti, multi tafsir (multi interpretable)

yang karena sistemnya yang executive heavy itu maka penafsiran konstitusi yang harus diterima sebagai kebenaran adalah penafsiran yang dibuat atau dianut oleh Presiden.

c.Terlalu banyak memberi atribusi kewenangan kepada lembaga-lembaga legislatif

untuk mengatur hal-hal yang sangat penting dengan undang-undang tanpa adanya limitasi yang tegas di dalam UUD padahal Presiden sangat dominan dalam proses pembentukan undang-undang. Banyaknya atribusi kewenangan yang diolah di dalam sistem executive heavy inilah yang menyebabkan isi undang-undang lebih banyak didominasi oleh kehendak-kehendak Presiden secara terus menerus mengakumulasikan kekuasaannya.

d. Terlalu percaya pada semangat orang sebagaimana dinyatakan sendiri dalam

Penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen. Di dalam Penjelasan UUD tersebut dinyatakan bahwa Undang-Undang Dasar (Konstitusi tertulis) tidaklah terlalu penting sebab yang lebih penting adalah semangat penyelenggara negara, jika semangat penyelenggara negara baik maka negara akan baik. Pernyataan itu benar untuk sebagian, tetapi kurang benar untuk seluruhnya (Mahmud MD,2011;378-379).

Terkait dengan adanya Perubahan UUD 1945, menurut MPR (2011;9-12) yang kemudian menjadi dasar pemikiran yang sebenarnya melatarbelakangi dilakukan suatu

I Gusti Ngurah Santika, SPd

perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, antara lain sebagai berikut.

a.Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 membentuk struktur

ketatanegaraan yang bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat. Hal itu berakibat pada tidak terjadinya saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances) pada institusi-institusi ketatanegaraan. Penyerahan kekuasaan tertinggi kepada MPR merupakan kunci yang menyebabkan kekuasaan pemerintahan negara seakan-akan tidak memiliki hubungan dengan rakyat.

b. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan

kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (Presiden). Sistem yang dianut oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah dominan eksekutif (excutive heavy,) yakni kekuasaan dominan berada di tangan Presiden. Pada diri Presiden terpusat kekuasaan menjalankan pemerintahan (chief excutive) yang dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang lazim disebut hak prerogative (antara lain memberi grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasaan membentuk undang-undang. Hal itu tertulis jelas dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi Presiden ialah penyelenggara pemerintah Negara tertinggi di bawah Majelis. Dua cabang kekuasaan negara yang seharusnya dipisahkan dan dijalankan oleh lembaga negara yang berbeda tetapi nyatanya berada di satu tangan (Presiden) yang menyebabkan tidak bekerjanya prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi (checks and balances) dan berpotensi mendorong kekuasaan yang otoriter.

c.Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengandung

pasal-pasal yang terlalu “luwes” sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu tafsiran (multitafsir), misalnya Pasal 7 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (sebelum diubah) yang berbunyi “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali”. Rumusan pasal itu dapat ditafsirkan lebih dari satu, yakni tafsir pertama bahwa Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih berkali-kali dan tafsir kedua adalah bahwa Presiden dan Wakil Presiden hanya boleh memangku jabatan maksimal dua kali dan sesudah itu tidak boleh dipilih kembali. Contoh lain adalah Pasal 6

I Gusti Ngurah Santika, SPd

ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (sebelum diubah) yang berbunyi “Presiden ialah orang Indonesia asli”. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak memberikan penjelasan dan memberikan arti apakah yang dimaksud dengan orang Indonesia asli. Akibatnya rumusan itu membuka tafsiran beragam, antara lain, orang Indonesia asli adalah warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia atau warga negara Indonesia yang orang tuanya Indonesia.

d. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terlalu banyak

memberikan kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan undang-undang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menetapkan bahwa Presiden juga memegang kekuasaan legislatif sehingga Presiden dapat merumuskan hal-hal penting sesuai dengan kehendaknya dalam undang-undang. Hal itu menyebabkan pengaturan mengenai MPR, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), HAM, dan pemerintah daerah disusun oleh kekuasaan Presiden dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang ke DPR.

e.Rumusan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang

semangat penyelenggara negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan hak asasi manusia (HAM), dan otonomi daerah.Hal itu membuka peluang bagi berkembangnya praktik penyelenggaraan negara yang tidak sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, antara lain, sebagai berikut.

1. Tidak adanya saling mengawasi dan saling mengimbangi (checks and

balances) antar lembaga negara dan kekuasaan terpusat pada Presiden.

2. Infrastruktur politik yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi

masyarakat, kurang mempunyai kebebasan berekspresi sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Pemilihan umum (pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan

demokrasi formal karena seluruh proses dan tahapan pelaksanaannya dikuasai oleh pemerintah.

I Gusti Ngurah Santika, SPd

4. Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 UndangUndang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 tidak tercapai, justru yang berkembang adalah sistem monopoli, oligopoli, dan monopsoni.

Kemudian ditambah adanya lagi alasan lainnya tentang perubahan UUD 1945, menurut Atmadja (2006;71) yang merupakan suatu alasan politis, bahwa UUD 1945 belumlah cukup memuat landasan bagi kehidupan politik yang demokratis, pemberdayaan rakyat, dan penghormatan terhadap HAM. Perlunya diadakan suatu perubahan terhadap UUD 1945 ternyata disampaikan kembali oleh Harun Kamil, selaku Ketua PAH III pada waktu itu, yang kemudian memberikan pandangannya berupa pendapat tentang Undang-Undang Dasar 1945. Pada intinya ia menyatakan bahwa.

Kita menyadari bahwa betapa pentingnya Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 ini karena merupakan salah satu agenda reformasi, juga kita mengetahui latar belakang daripada keinginan untuk merubah ini adalah karena dianggap Undang-Undang Dasar 1945 ini sementara juga terlalu heavy executive, jadi ada pengaturan tentang masalah-masalah lembaga-lembaga tertinggi negara dan banyak hal mengenai masalah HAM yang perlu diperluas yang membuat latar belakang dan tujuannya adalah bagaimana supaya nanti dapat terciptanya suatu sistem politik demokratis yang kuat dan memberikan kesempatan adanya kedaulatan rakyat dan wujud demokrasi dan juga supremasi hukum dan terselenggarakan pemerintahan yang baik, untuk mewujudkan cita-cita kita untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur (Sekjen MPR,1999;2)

Kemudian lebih lanjut kita menelusuri sejarah pembahasan Undang-Undang Dasar 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, jelaslah ketentuan pasal 3 itu memberikan suatu tugas kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk menyusun suatu Undang-Undang Dasar baru karena Undang-Undang Dasar yang disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan pada tanggal 18 Agustus 1945 itu memangnya dimaksudkan suatu Undang-Undang Dasar yang sifatnya sementara (Hadjon,1987;5). Oleh karena itu, perlunya UUD 1945 untuk dirubah, hal mana adalah sesuai sekali dengan fakta sejarah tentang pernyataan Soekarno sebagai ketua PPKI pada saat itu, yang menyatakan bahwa:

...Undang-Undang Dasar yang buat sekarang ini, adalah Undang-Undang Dasar Sementara. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah Undang-Undang Dasar kilat. Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat

I Gusti Ngurah Santika, SPd

Undang-Undang Dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna. Tuan-tuan tentu mengerti, bahwa ini adalah sekedar Undang Dasar Sementara, Undang-Undang Dasar kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grondwet (Mahkamah Konstitusi Jilid I,2010;38).

Penggalan pernyataan Soekarno tersebut acapkali digunakan sebagai dasar pembenaran, bahwa para Perumus UUD 1945 (the framers of 1945 Constitution) menyatakan UUD 1945 bersifat sementara (Soemantri,2006;74). Untuk lebih meyakinkan pernyataan tentang perlunya perubahan terhadap UUD 1945, maka dalam hal ini Machmmudin (2003;19) menyatakan bahwa pada UUD 1945 itu, para pendiri bangsa ini sebenarnya telah memprediksi pergantian zaman. Mereka menciptakan landasan dasar UUD 1945 itu agar bisa mengikuti pergantian jaman dengan mempersiapkan salah satu pasal dan ayat sedemikian rupa sehingga dapat sebagai sarana untuk menyesuaikan isi Undang-Undang Dasar tersebut dengan kebutuhan dan keadaan jaman. Dengan demikian, UUD 1945 dapat mengikuti perkembangan dan perubahan zaman sehingga dapat menampung dinamika kehidupan bangsa yang berjalan dinamis. Dengan demikian, nampak sekali dalam konsep amandemen tersebut, bahwa usul amandemen itu sangat dilatar belakangi oleh peristiwa-peristiwa terakhir (Rahardjo,2000;xvi).

Namun, perlulah diingat kembali bahwa tidak semua yang tercantum di dalam UUD 1945 dikatakan kemudian sebagai penyebab jalannya pemerintahan menjadi tidak demokratis. Tetapi harus benar-benar dicermati dengan cara yang lebih saksama apakah yang sebenarnya menyebabkan tidak baiknya sistem pemerintahan selama ini yang dianut. Sehingga kemudian tidak sepenuhnya hanya dapat menyalahkan UUD 1945, dikarenakan di samping adanya kelemahan yang memang melekat padanya, ternyata UUD 1945 dapat berlaku dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga ia telah mampu membuktikan kelebihannya. Hal senada juga dinyatakan oleh Nasriyah (2007;118) yang mengakui tidak hanya adanya kelemahan yang melekat pada UUD 1945, tetapi juga mengakui kelebihan yang menyertainya berkaitan dengan apa saja yang kemudian diatur dalam UUD 1945. Berikut ini merupakan kutipan pernyataan lengkapnya.

Tetapi harus diakui, bahwa di samping mempunyai kelemahan, UUD 1945 memuat ketentuan yang baik, karena itu wajar untuk dipertahankan seperti prinsip kedaulatan rakyat, prinsip negara berdasarkan atas hukum, prinsip kesejahteraan sosial, prinsip penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya

I Gusti Ngurah Santika, SPd

yang menguasai hajat hidup orang banyak untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Selain didasari oleh berbagai pemikiran tersebut di atas yang memang menjadi latar belakang untuk perlunya UUD 1945 dirubah. Maka berikut ini, merupakan tujuan utama daripada dilakukannya perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu sebagai berikut.

1. Menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara dalam mencapai tujuan

nasional yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila;

2. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminanan dan pelaksanaan kedaulatan

rakyat serta memperluas partisipasi rakyat agar sesuai dengan perkembangan paham demokrasi;

3. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi

manusia agar sesuai dengan perkembangan paham hak asasi manusia dan peradaban umat manusia yang sekaligus merupakan syarat bagi suatu negara hukum yang dicita-citakan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

4. Menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan negara secara demokratis dan

modern, antara lain melalui pembagian kekuasaan yang lebih tegas, sistem saling mengawasi dan mengimbangi (cheks and balances) yang lebih ketat dan transparan, dan pembentukan lembaga-lembaga negara yang baru untuk mengakomodasi perkembangan kebutuhan bangsa dan tantangan zaman;

5. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan kewajiban

negara mewujudkan kesejahteraan sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa, menegakan etika, moral dan solidaritas dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan bernegara sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan dalam perjuangan mewujudkan negara sejahtera;

I Gusti Ngurah Santika, SPd

6. Melengkapi aturan dasar yang sangat penting dalam penyelenggaraan negara bagi

eksistensi negara dan perjuangan negara mewujudkan demokrasi, seperti pengaturan wilayah negara dan pemilihan umum;

7. Menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan berbangsa

sesuai dengan perkembangan aspirasi, kebutuhan, serta kepentingan bangsa dan negara Indonesia dewasa ini sekaligus mengakomodasi kecendrungannya untuk kurun waktu yang akan datang (MPR,2011;12-13).

Perubahan terhadap UUD 1945 memang harus segera dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda lagi, agar momentum semangat reformasi yang membakar tidak padam oleh gerusan waktu yang kian lama semakin berlalu. Namun, untuk melakukan perubahan terhadap UUD 1945 tentunya tidak dapat langsung dilakukan, hal mana dikarenakan bahwa sebelumnya, telah ada berbagai bentuk peraturan perundang-undangan yang sebelumnya merupakan warisan daripada Orde Baru, yang berpeluang menjadi penghambat utama untuk dapat melakukan perubahan terhadap UUD 1945. Untuk mencapai tujuan dalam melakukan perubahan terhadap UUD 1945, maka dipandang perlu terlebih dahulu untuk mencabut beberapa ketentuan peraturan perundangan yang dulunya merupakan penghalang, untuk dapat dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945. Seperti adanya Tap MPR RI No. IV/MPR/1983 yang kemudian dicabut dengan Tap MPR RI No. VIII/MPR/1998, lalu disusul kemudian dengan adanya pencabutan terhadap UU No. 5 Tahun 1998 dengan kemudian diganti dengan UU No. 6 Tahun 1999. Setelah dilakukannya pembaharuan terhadap ketentuan yang sebelumnya menghalangi perubahan UUD 1945, maka terbukalah peluang kembali untuk melakukan perubahan terhadap UUD 1945.

Sebenarnya, mau tidak mau haruslah diakui bahwa dalam perjalanannya UUD 1945 sebenarnya telah pula mengalami perubahan dalam berbagai bentuk, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung perubahan UUD 1945 sebagai dimaksudkan tersebut, adalah perubahan terhadap UUD 1945 yang terjadi dalam praktek ketatanegaraan, tidak lama berselang setelah ditetapkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 untuk menjadi konstitusi pertama bagi negara Republik Indonesia. Selanjutnya dalam perjalanan sejarah selama periode Orde Baru berkuasa, haruslah diakui kembali bahwa sebenarnya UUD 1945 secara langsung telah dirubah dengan berbagai bentuk peraturan tertulis yang notabene kedudukannya berada di bawah UUD 1945, sehingga bunyinya maupun maknanya menjadi berubah. Perubahan sebagaimana dimaksudkan tersebut di atas, yaitu.

I Gusti Ngurah Santika, SPd

1. Penambahan kriteria telah berusia 40 tahun bagi Presiden maupun Wakil Presiden

dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1973 tentang Tata Cara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia mengubah Pasal 6 UUD 1945;

2. Pengutamaan tata cara pengambilan keputusan dengan musyawarah untuk

mufakat dalam Ketetapan MPR No. 1/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib MPR mengubah Pasal 2 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa segala putusan MPR ditetapkan dengan suara terbanyak;

3. Penetapan wewenang MPR untuk memberhentikan Presiden dalam Ketetapan

MPR No. 1/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib MPR mengubah Pasal 8 UUD 1945;

4. Penetapan untuk mengisi kekosongan hukum dalam UUD 1945 pengisian jabatan

Wakil Presiden melalui Ketetapan MPR No. VIII/MPR/1973 tentang Keadaan Presiden dan Wakil Presiden Berhalangan telah mengubah UUD 1945 dengan membuat ketentuan bahwa dalam hal Wakil Presiden berhalangan tetap, maka MPR mengadakan Sidang Istimewa Khusus untuk memilih dan mengangkat Wakil Presiden apabila Presiden dan/atau DPR memintanya (Pasal 4 ayat (1);

5. Pemasukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) –yang sebelumnya

bernama Angkatan Kepolisian Republik Indonesia – kedalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) – yang sebelumnya bernama Angkatan Perang Republik Indonesia telah mengubah Pasal 10 UUD 1945 (Alrasid dalam Chaidir,2007;74-75).

Selain telah terjadinya perubahan terhadap 1945 sebagaimana dimaksudkan oleh Alrasid di atas, maka Arinanto menyatakan bahwa UUD 1945 memang telah mengalami