A. Sejarah singkat perjalanan UUD 1945
2. Periode 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950 (RIS)
Beberapa saat setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, pihak Belanda berusaha untuk menguasai kembali bekas jajahannya dengan “mendompleng” Angkatan Perang Inggris yang diberi tugas oleh pihak Sekutu untuk menduduki daerah-daerah yang dikuasai oleh angkatan Perang Jepang. Usaha Belanda kembali ke Indonesia membawa
akibat terjadinya konflik antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda
(Soemantri,1985;5). Bahkan, berbagai usaha berupa percobaan untuk kemudian menghapuskan Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan. Sehingga dengan demikian Belanda sangat berharap untuk dapat menjajah kembali Indonesia. Usaha pertama yang sebelumnya dilakukan oleh Belanda untuk menguasai Indonesia, yaitu berupa Agresi Militer pertamanya pada tanggal 21 Juli 1947 yang tentunya telah menghianati perjanjian Linggarjati (Rindjin,2009;302). Kemudian disusul dengan peristiwa selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1948, dimana pada saat Pemerintah Belanda melancarkan aksi militer kedua (Agung,1995). Keinginan Belanda yang bertujuan untuk menjajah kembali bangsa Indonesia, tentunya mendapat perlawanan yang sengit dari segenap komponen bangsa Indonesia. Dengan penuh keyakinan, disertai cinta dan semangat yang tinggi untuk tetap mempertahankan tanah air (nationalism), segenap komponen bangsa dengan sadar mengadakan perlawanan, baik dengan senjata maupun dengan jalur diplomasi untuk menghadapi keinginan Belanda tersebut. Bahkan, di berbagai daerah telah meletus pertempuran antara Belanda di satu pihak dengan Indonesia dipihak lain, yang berakibat telah menimbulkan korban yang tidak sedikit daripada kedua belak pihak tersebut. Dari pihak Belanda, yaitu Van Mook mempunyai ide untuk menghancurkan negara NKRI secara perlahan-lahan, yaitu dengan cara memecah belahnya menjadi negara-negara kecil. Taktik ini bisa kemudian dikatakan dengan istilah devide et impera, sehingga dengan hancurnya negara republik Indonesia otomatis Belanda akan dapat kembali menjajah Indonesia. Dalam hal ini, Kansil (1985;129) menyatakan bahwa di samping kekerasan senjata yang dilancarkan terhadap RI, Belanda menjalankan politik federalismus, sebagai politik “devide
et impera” untuk memecah-belah persatuan bangsa. Hal tersebut telah memicu terjadinya
berbagai pertempuran antara Indonesia dan Belanda, yang pada akhirnya mengundang perhatian dunia khususnya PBB yang merasa prihatin terhadap terjadinya peristiwa
I Gusti Ngurah Santika, SPd
tersebut, sehingga atas desakannya agar Indonesia dan Belanda kemudian sesegera mungkin melakukan perundingan untuk mengakhir konflik antara Indonesia dan Belanda. Paling tidak untuk sementara waktu, tidak terjadi insiden tembak menembak di antara kedua bela pihak dengan tujuan untuk mengurangi korban. Dari berbagai usaha yang kemudian dilakukan oleh Indonesia dan Belanda baik yang dilakukan atas usaha kedua negara tersebut maupun atas tekanan dari dunia internasional, akhirnya disepakatilah suatu perundingan yang selanjutnya dinamakan dengan Konperensi Meja Bundar. Terkait dengan hasil dari konperensi tersebut, terutama yang menyangkut dalam bidang ketatanegaraan, Djamali (2008;114) kemdian menyatakan pendapatnya bahwa.
Salah satu hasil konferensi yang menyangkut bidang ketatanegaran adalah berubahnya bentuk negara republik Indonesia dari bentuk negara kesatuan menjadi negara serikat atau berbentuk federal. Dengan Undang-Undang Republik Indonesia Serikat sebagai konstitusinya. Menurut sejarahnya, pembentukan konstitusi RIS dilakukan sejak Konperensi antar Indonesia berlangsung dan pertemuan Jakarta tanggal 31 Juli -2 Agustus 1949 yang kemudian dilanjutkan di Belanda selama Konperensi Meja Bundar berlangsung.
Setelah adanya perjanjian Meja Bundar antara Belanda dengan Indonesia, maka disetujui bahwa negara Indonesia tidak lagi berbentuk kesatuan, melainkan akan berbentuk federal. Negara federal mulai berdiri, yang ditandai dengan disahkan Konstitusi RIS, yaitu pada tanggal 27 Desember 1949. Menurut Pasal 2 konstitusi RIS, Republik Indonesia Serikat meliputi seluruh daerah Indonesia, yaitu daerah bersama dari :
a.Negara Republik Indonesia dengan daerah menurut status quo seperti tersebut
dalam persetujuan Renvile tanggal 14 Januari 1948, yaitu
Negara Indonesia Timur.
Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta.
Negara Jawa Timur.
Negara Madura.
Negara Sumatra Timur, dengan pengertian bahwa status quo Asahan Selatan
I Gusti Ngurah Santika, SPd
b. Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri adalah sebagai berikut:
Jawa Tengah.
Bangka.
Riau
Kalimantan Barat (daerah istimewa).
Dayak Besar.
Daerah Banjar
Kalimantan Tenggara.
Kalimantan Timur.
a dan b adalah daerah-daerah bagian yang dengan kegembiraan menentukan nasib sendiri bersatu dalam ikatan federasi Republik Indonesia Serikat, berdasarkan yang ditetapkan dalam konstitusi ini.
c.Daerah–daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.
Pemerintah Indonesia di Yogyakarta sebagai negara bagian dari Republik Indonesia Serikat mempunyai program kabinet, yang terpenting adalah : meneruskan perjuangan untuk mencapai Negara Kesatuan yang meliputi seluruh kepulauan Indonesia dan dimaksudkan dalam Proklamasi 17 Agustus 1945 (Prodjodikoro, 2008;10-11). Jika kita ingat kembali, dapat dikatakan bahwa Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah sebuah negara federal, yang menggabungkan lima belas negara bagian yang telah didirikan Belanda selama tiga tahun sebelumnya di wilayah yang didudukinya, sebagai bagian usaha melawan Republik Indonesia (RI) yang revolusioner itu. Namun, Republik revolusioner yang menjadi anggota keenam belas RIS inilah yang mendominasi struktur federal. Sehingga yang mereka yang naik ke tampuk kekuasaan pada bulan Desember 1949 adalah para pemimpin yang berkuasa dari masa revolusi. Soekarno menjadi presiden dan Hatta menjadi perdana menteri Republik baru itu (Feit,2001;10). Walaupun bentuk negara adalah serikat, pada dasarnya tidaklah kemudian dapat mengurangi semangat juang bangsa Indonesia dalam membentuk negara kesatuan sebagaimana saat diproklamasikan.
I Gusti Ngurah Santika, SPd
Dengan demikian, kedudukan UUD 1945 setelah keluarnya Konstitusi RIS sebagai hasil daripada KMB, menurut Rato (2009;145-146) bahwa UUD 1945 tidak diberlakukan sejak berlakunya Konstitusi RIS (pada saat itu UUD 1945 hanya berlaku di Republik Indonesia), sebagai negara bagian RIS dengan ibu kotanya Jogyakarta. Otomatis kekuatan mengikatnya UUD 1945 tidak seperti sebelumnya, yang mana tentunya mengikat seluruh wilayah NKRI, sedangkan untuk sekarang RI hanyalah merupakan sebuah negara bagian belaka, yang mana tentunya UUD 1945 hanya mengikat negara bagian tersebut saja. Bahkan dalam hal ini, Kansil (1986;54) berpendapat bahwa pada masa Republik Indonesia Serikat, UUD 1945 menjadi “turun derajatnya” dan berkurang wilayah berlakunya, oleh karena UUD 1945 hanya berlaku di negara bagian Republik Indonesia.
Kesediaan bangsa Indonesia untuk menerima hasil konferensi di atas adalah, hanya sebuah taktik saja daripada bangsa Indonesia, untuk selanjutnya dapat membentuk negara kesatuan, sebagaimana pada saat diproklamasikan, seperti apa yang sebelumnya dinyatakan oleh Prodjodikoro tersebut di atas. Dengan demikian sasaran yang harus dicapai dengan KMB ialah mengakhiri segala pertikaian dan pertentangan dengan pihak Belanda di segala lapangan kenegaraan: politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan…(Purbopranoto,1981;78). Dapat dikatakan kemudian bahwa Konperensi Meja Bundar merupakan sebuaah taktik dari pihak Indonesia, agar dapat terlepas dari berbagai pertikaian yang berkepanjangan dikedua belah pihak. Langkah ini merupakan sebuah kebijakan yang kemudian diambil oleh pendiri negara pada waktu, yang pada dasarnya kebijakan tersebut lebih mendahulukan kepentingan rakyat, agar dikemudian hari tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan akibat konflik tersebut. Lagipula dalam hal ini, Konstitusi RIS adalah hasil maksimal yang bisa dicapai oleh pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang berjuang di pihak Republik, guna mewujudkan keutuhan dan kesatuan bangsa dan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke (Damal,1986;35). Bagi bangsa Indonesia bentuk negara serikat hanyalah merupakan bentuk kesepakatan politik yang hanya berlaku untuk sementara waktu saja, yang nantinya akan diperjuangkan kembali dengan jalur konstitusional yang telah disediakan. Sehingga sampai pada tujuan akhir, yaitu untuk mencapai negara kesatuan sebagaimana perjuangan awal bangsa Indonesia, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, yaitu untuk membentuk negara kesatuan yang dilandasi rasa persatuan. Artinya, dengan terbentuknya RIS melalui Konperensi Meja Bundar, belumlah berarti bahwa perjuangan bangsa Indonesia berakhir sampai di sini. Bahkan dengan terbentuknya RIS merupakan titik tolak awal daripada perjuangan untuk kembalinya Indonesia dalam menyatukan bagian-bagian wilayah Indonesia sehingga menjadi negara yang berbentuk kesatuan, sebagaimana
I Gusti Ngurah Santika, SPd
yang sebelumnya telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal mana adalah sesuai dengan pernyataan dari Budiardjo (2008;281) yang menyatakan karena bentuk negara federal ini hanya dianggap sebagai suatu adempauze, saat bernapas, dalam perjuangan kita untuk menyelenggarakan terwujudnya negara kesatuan yang merdeka.
Hal ini terlihat jelas ketika pada awal permulaan tahun 1950 timbul desakan-desakan rakyat untuk membubarkan negara-negara bagian (Attamimi,1990;258). Dan akhirnya tidak lebih dari 8 bulan perjalanannya, bentuk negara serikat dengan dasar hukumnya KRIS dinyatakan tidak berlaku. Tidak lain dikarenakan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, dengan UUD Sementara 1950 sebagai dasar hukumnya. Konstitusi Republik Indonesia Serikat tidaklah dimaksudkan sebagai konstitusi yang bersifat tetap, melainkan merupakan konstitusi yang pada dasarnya hanya bersifat sementara, ketentuan tersebut dapatlah kemudian dilihat dari ketentuan Pasal 186 KRIS. Intinya dalam ketentuan tersebut menyatakan, bahwa konstitusi Republik Indonesia Serikat bersifat sementara, yang kemudian akan diganti dengan konstitusi yang bersifat tetap, sedangkan konstitusi tetap tersebut dibuat oleh sebuah badan yang bernama Konstituante. Namun, pada kenyataan sampai dengan berakhirnya KRIS, badan sebagaimana dimaksudkan oleh KRIS yang nantinya akan membuat konstitusi baru, yang selanjutnya akan menggantikan KRIS belumlah dapat dibentuk.
Sistem pemerintahan yang dianut oleh KRIS adalah sistem pemerintahan parlementer, di mana tanggungjawab utama pemerintahan terletak pada pundak perdana menteri dan menteri sebagai kabinet. Namun, dalam sistem pemerintahan berdasarkan KRIS, tidak ada kabinet yang jatuh dikarenakan mosi tidak percaya dari parlemen. Hal ini tidak lain dikarenakan, belum adanya lembaga perwakilan rakyat yang anggota-anggotanya benar-benar dipilih melalui pemilihan umum, untuk dapat mewakili kehendak rakyat, sehingga dengan demikian tidaklah kemudian berhak untuk membubarkan kabinet.