• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMABARAN LOKASI PENELITIAN

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Simalungun merupakan salah satu daerah otonom tingkat II yang berada di wilayah Provonsi Sumatera Utara.Kabupaten Simalungun secara demografi berada di tepi Danau Toba yang tidak terkenal hanya di Indonesia saja melainkan sampai mancanegara.Kondisi tanah di Kabupaten Simalungun terkenal sangat subur untuk pertanian, sehingga pertanian sangat baik di Simalungun dan keadaan ini mengundang banyak pendatang sejak dulunya.Sejak awal terbentuknya, ibukota Simalungun adalah Pematangsiantar. Tetapi sejak tahun 2008 ibukota Simalungun dipindahkan ke Pematang Raya dan Pematangsiantar tetap menjadi daerah otonom dengan status sebagai kota, dengan nama Kota Pematangsiantar.

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kabupaten Simalungun adalah sebanyak 818.104 orang.Angka tersebut terdiri atas 407.771 laki-laki dan 410.333 perempuan1

1

Diperoleh dari: Saodoran, Tim Lima. 2013. Mengenal Nusantara Kabupaten Simalungun. Medan: Cv. Mitra

. Dari survei tersebut tercatat juga bahwa yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Bandar sebanyak 63.561 jiwa atau setara dengan 7,77 persen dari total penduduk Kabupaten Simalungun. Kabupaten Simalungun dengan luas wilayah 4.386,6 kilometer persegi yang didiami oleh 818.104 orang, berarti rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Simalungun adalah sebanyak 186 orang perkilometer

persegi. Penduduk Simalungun sebagian besar bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan.Kemudian ada yang berprofesi sebagai wiraswasta, karyawan dan sebagian lagi adalah pegawai negeri sipil.

Dalam mendefinisikan kelompok masyarakat Simalungun, Etnis Simalungun merupakan salah satuEtnis dengan identitas dan budayanya yang terbentuk dalam proses sejarah perkembangannya sendiri.Secara identitas, Etnis Simalungun dapat dibedakan dari etnis-etnis lainnya.Baik dalam hal adat, budaya, kebiasaan, sejarah dan segala aspek kehidupannya. Demikianlah sehingga orang dapat mengenal Etnis Simalungun dari yang lain maupun keberadaannya dari etnis-etnis lain2

Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Etnis Simalungun pada beberapa puluh tahun lalu masih merupakan salah satu etnis yang memiliki indentitas dan pengaruh yang besar bagi daerah sekitar batas wilayah

.

Dari segi bahasa, Simalungun mempunyai bahasa asli yang merupakan satu sub bahasa daerah yang terdapat di Sumatera Utara dan bahasa ibu yang dituturkan oleh etnis yang mendiami daerah Kabupaten Simalungun juga sebagian daerah Kabupaten Deli Serdang.Menurut fakta dan historis, pengaruh dan penyebaran bahasa Simalungun pada hakekatnya hampir ke seluruh daerah di Sumatera Utara terutama di wilayah bagian timur bahkan sampai ke Riau. Pernyataan ini didasari oleh banyaknya bukti-bukti yang mengindikasikan hal tersebut, antara lain banyaknya nama-nama atau tempat daerah yang berbahasakan Simalungun, seperti Parbaungan, Pamatang Ganjang, Parhutaan Silou, dan sebagainya.

2 Diperoleh dari: Saodoran, Tim Lima. 2013. Mengenal Nusantara Kabupaten Simalungun. Medan: Cv. Mitra (hal.37-39)

adatnya.Namun keadaan ini tidak bertahan lama dikarenakan migrasi yang terjadi di daerah Simalungun itu sendiri. Pembauran dengan etnis-etnis lain menyebabkan keberadaan dan identitas Etnis Simalungun menjadi semakin memudar, terkhusus dengan suku-suku tetangga dari pulau Samosir, Silalahi, Karo dan Pakpak yang menyababkan timbulnya kelompok-kelompok (marga) baru di Simalungun.

Kemudian peran penyebaran agama juga sangat mempengaruhi pergeseran budaya dan identitas Etnis Simalungun, ditambah lagi dengan masuknya berbagai pendatang dari luar Simalungun dengan misi Agama dan juga mencari peruntungan kehidupan untuk bekerja di Simalungun.Hal ini tentunya menyebabkan Etnis Simalungun menjadi sangat toleran dan bahkan nyaris “hilang” karena terlalu terbukanya dengan para pendatang.

Belum lagi dengan beberapa Etnis Simalungun yang masuk islam sejak abad ke XV di daerah perbatasan Asahan seperti daerah Sei Mangkei, tempat penelitian ini dan Deli Serdang yang mengaku dirinya adalah “melayu dan menghilangkan “Ahap” Simalungun, identitas aslinya sebagai Suku Simalungun”3

Daerah Sei Mangkei merupakan salah satu daerah perbatasan wilayah Simalungun. Pada zaman kerajaan dahulu hingga saat ini, Sei Mangkei termasuk dalam daerah kekuasaan Raja Sinaga (Tuan Sinaga) yang oleh Raja pada saat itu diberikan kepada Koloni Belanda untuk dijadikan daerah perkebunan. Perjanjian

.

3

dengan Koloni tersebut mengakibatkan banyaknya pendatang dari luar Etnis Simalungun untuk mengisi posisi pekerja di perkebunan.

Saat ini terjadi pembangunan besar-besaran di daerah Sei Mangkei, yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Simalungun.Daerah Sei Mangkei saat ini dalam tahap menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang pastinya mengundang minat migrasi dari berbagai daerah untuk bekerja di KEK tersebut.

Jadi alasan saya mengambil topik ini adalah untuk melihat bagaimana Etnis Simalungun mengatur strategi adaptasi, komunikasi dan sosialisasi kelompok masyarakat Etnis Simalungun dengan pendatang. Ditambah lagi dalam proses pembauran dan persaingan di era globalisasi4 saat ini. Dalam hal ini saya ingin melihat dan mengamati Boundeed System5

Dari kedekatan peneliti dengan lingkungan lokasi penelitian tersebut membuat peneliti semakin tertarik untuk melakukan penelitian.Mencari tahu sedikit lebih dalam tentang penyebab kekalahan atau tersingkirnyaEtnis Simalungun dari daerah tersebut sekaligus melihat eksistensi Etnis Simalugun saat ini. Apakah hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor acuan yang sebelumnya sudah didapatkan peneliti dari beberapa pendapat kelompok masyarakat atau ada hal lain yang menjadi penyebabnya. Melalui penelitian ini, peneliti berusaha mencari titik terang akan keadaan yang berlangsung sudah cukup lama ini.

yang terjadi di Desa Sei Mangkei serta melihat peran politik masyarakat Etnis Simalungun di salah satu daerah perbatasan di Simalungun.

4

Globalisasi adalah Suatu proses dimana batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit karena kemudahan interaksi antara negara baik berupa pertukaran informasi, perdagangan, teknologi, gaya hidup dan berbagai bentuk interaksi yang lain.