Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan suatu hal yang sangat penting dan menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan karena disamping kesadaran masyarakat akan hidup sehat masih diragukan, sarana untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat pun dirasa masih sangat terbatas. Era Otonomi Daerah saat ini menuntut Pemerintah Daerah memberikan peningkatan pelayanan kepada masyarakat di semua sektor pembangunan. Salah satu bentuk pelayanan dasar yang menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah daerah Kabupaten/Kota adalah penyediaan kebutuhan air minum dan sanitasi yang sangat berkaitan erat dengan kondisi kesehatan masyarakat.
Melihat berbagai tantangan yang dihadapi untuk memberikan pelayanan air minum dan sanitasi yang memadai maka tercetuslah program third water supply and sanitation for low income community (WSLIC) yang kemudian dikenal sebagai PAMSIMAS (Peyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) dalam rangka menciptakan masyarakat hidup bersih dan sehat melalui penyediaan pelayanan air bersih dan sanitasi. Pelaksanaan program PAMSIMAS dilandasi dengan kebijakan Pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. RPJPN mengamanatkan pada akhir periode RPJM 2015-2019 layanan dasar air minum dan sanitasi dapat dinikmati
6
oleh seluruh rakyat indonesia. Di dukung dengan beberapa payung hukum utama yang berkaitan dengan pengelolaan program PAMSIMAS antara lain :
1. PP No. 122 Tahun 2015 tentang sistem penyediaan air minum.
2. PP No. 69 Tahun 2014 tentang hak guna air.
3. Perpres No. 185 Tahun 2014 tentang percepatan penyediaan air minum dan sanitasi.
4. Permenkes No. 3/2014 tentang sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).
Ada 5 (lima) komponen program dalam program PAMSIMAS yaitu;
1) Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan daerah;
2) Peningkatan perilaku higienis dan pelayanan sanitasi;
3) Penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum;
4) Insentif Desa/Kelurahan Dan Kabupaten/Kota; dan 5) Dukungan manajemen pelaksanaan program.
Program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan pinggiran Kota.
Program PAMSIMAS bertujuan untuk meningkatkan jumlah warga masyarakat yang kurang terlayani termasuk masyarakat berpendapatan rendah diwilayah perdesaan dan pinggiran agar dapat mengakses pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan, meningkatkan penerapan nilai dan perilaku hidup bersih dan sehat dalam rangka pencapaian target sektor air minum dan sanitasi melalui pengarusutamaan dan perluasan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat.
Adapun Kelurahan yang menjadi lokasi penerima Program PAMSIMAS di Kecamatan Kawangkoan Utara tahun 2014 adalah Kelurahan Talikuran.
Kelurahan Talikuran termasuk daerah yang kebanyakan masyarakatnya berpenghasilan menengah kebawah, rata-rata masyarakat bekerja sebagai petani
7
dan buruh. Kebanyakan masyarakat setempat sangat sulit mendapatkan air bersih.
dengan adanya program PAMSIMAS ini diharapkan masyarakat mendapatkan pelayanan air bersih dengan harga yang murah dan sanitasi yang baik dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaan dan keberlangsungannya.
Setelah adanya program PAMSIMAS, pada awalnya masyarakat merasa sangat terbantu karena memperoleh sarana air bersih yang lebih murah, akan tetapi terdapat masalah-masalah di dalam pelaksanaan dan pemeliharaanya, maka dari ovservasi awal peneliti, permasalahan yang muncul antara lain :
1. Dari lima lingkungan yang ada dikelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara belum seluruhnya mendapatkan program penyediaan air bersih yang ada dan sudah beroperasi yaitu lingkungan 1, 3 dan 4 sedangkan lingkungan 2 dan 5 belum mendapatkan program tersebut.
2. Dengan adanya dua lingkungan yaitu lingkungan 2 dan 5 belum mendapatkan program tersebut maka kedua lingkungan ini terpaksa harus mengambil air dari lingkungan terdekat dengan cara menyambungkan selang dari pipa yang sudah dialiri air kerumah masing – masing dan hal ini menimbulkan permasalahan karena masyarakat harus bergilir untuk mendapatkan aliran air karena pipa yang tersedia untuk menyambungkan selang ke rumah – rumah penduduk hanya satu sehingga harus bergantian untuk memasang selang. Hal ini banyak dikeluhkan masyarakat sehingga mereka berharap agar pemerintah dapat lagi memprogramkan penyediaan air bersih seperti ini dimasa yang akan datang.
8
Permasalahan di atas tidak lepas dari peran pemerintah Kelurahan Talikuran yang merupakan representase pemerintah di tingkat Kelurahan/desa.
Pemerintah kelurahn berperan dalam program mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengoperasian dan pemeliharaan serta dukungan keberlanjutan kegiatan program sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Menurut asumsi awal peneliti Permasalahan di atas di latar belakangi oleh beberapa hal baik itu yang berasal dari masyarakat maupun dari lembaga pelaksana/pengelola. Pertama, prinsip kebutuhan manusia yang tidak terbatas sementara sumber daya untuk memenuhinya adalah terbatas merupakan salah satu latar belakang terjadinya pemasalahan-permasalahan di atas. Tidak bisa dipungkiri populasi yang semakin banyak menuntut pelayanan sarana yang semakin besar pula. Kedua, kurang koordinasi antara pihak pelaksana program dengan masyarakat dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada, sehingga sulit mencarikan solusi yang tepat dan diterima seluruh masyarakat. Ketiga, sebelum pelaksanaan program pihak pelaksana kurang melakukan pengamatan mengenai geografis daerah yang diberikan bantuan, sehingga konsep pembagian air secara adil tidak dirasakan sama oleh seluruh masyarakat.
Berdasarkan penjelasan dan fenomena di atas, maka Penulis tertarik untuk membahas sebuah skripsi yang berjudul “Implementasi Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara”.
9 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu “Bagaimanakah Implementasi Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara Kabupaten Minahasa?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, yakni: Untuk mengetahui Implementasi Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara Kabupaten Minahasa
1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta dapat menemukan teori baru juga dapat digunakan untuk kepentingan penelitian dimasa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat serta pemerintah dalam melaksanakan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) serta dapat bermanfaat bagi peneliti lain dimasa yang akan datang yang berminat melakukan penelitian dalam rangka peningkatan kinerja aparatur sipil negara.
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
1. Peneliti Pertama oleh Christopher Monintja dibawah bimbingan Femmy M.G.
Tulusan dan Novva Plangiten dengan judul Implementasi Pelayanan Publik di Dinas Parwisata Kota Manado yang diterbitkan pada tahun 2017. Pelayanan publik pada dasarnya adalah tentang aspek kehidupan yang luas. Dalam kehidupan bernegara, pemerintah mempunyai fungsi menyediakan berba-sai pelayanan publik yang dibutuhkan masyarakat. Salah satu hal yang sampai saat ini masih sering menjadi permasalahan dalam hubungan masyarakat dengan pemerintah di daerah adalah dalam bidang pelayanan publik khususnya dalam hal kualitas atau kualitas pelayanan aparatur pemerintah kepada masyarakat.
Pariwisata saat ini sedang gencar digencarkan di Kota Manado.
Banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke kota Manado. Namun dengan tingkat pelayanan yang dikatakan kurang dari dinas terkait membuat proses pariwisata tidak berjalan dengan baik. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pelayanan publik yang tersedia di Dinas Pariwisata Kota Manado membuat proses pariwisata menjadi kurang baik.
Dengan tingkat SDM yang belum mumpuni dengan keterbatasan kemampuan berbahasa asing membuat para wisatawan khususnya wisatauan asing merasa tidak nyaman. Program pariwisata yang dibuat oleh penrerintah sendiri belum
11
sepenuhnya dirasakan langsung oleh masyarakat, kurangnya sosialisasi tentang adanya program pariwisata dari pemerintah membuat masyarakat kurang sadar akan pentingnya pariwisata yang ada.
2. Penelitian terdahulu selanjutnya oleh Juliana Sonda dibawah Bimbingan Burhanuddin Kiyai dan Helly Kolondam dengan judul Implementasi Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Desa Koka Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana Implementasi Kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Desa Koka Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang berpacu pada teori Edward III sebagai fokus penelitian dalam mengukur keberhasilan Implementasi Kebijakan yang dibuat Pemerintah Desa Koka dalam Pelaksanaan program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat berdasarkan Aspek komunikasi, Sumber daya, Disposisi/Sikap pelaksana dan struktur birokrasi.
Keempat aspek ini merupakan aspek yang sangat berpengaruh yang dapat menentukan berhasil tidaknya suatu implementasi kebijakan. Hasil penelitian yang dilakukan melalui pengumpulan data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Koka sampai saat ini terealisasi atau berjalan dengan baik.Penelitian terdahulu ketiga dengan judul Implementasi Program Keluarga Harapan Di Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan 3. Penelitian terdahulu ketiga disusun oleh Yosua A. Mandolang dibawah
bimbingan Florence Daicy Lengkong dan Salmin Dengo. Pelaksanaan
12
Program Keluarga Harapan di Kabupaten Ranoyapo Minahasa Selatan.
Pelaksanaan Program Keluarga Harapan bertujuan untuk meningkatkan, mensejahterakan Keluarga Penerima Manfaat melalui akses pendidikan, pelayanan kesehatan, kesejahteraan sosial, dan mengurangi beban pengeluaran serta meningkatkan keluarga pendapatan masyarakat miskin dan rentan, menciptakan perubahan perilaku dan kemandirian Keluarga Penerima Manfaat dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan serta mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan, mempromosikan manfaat produk dan layanan keuangan formal kepada Keluarga Penerima Manfaat.
Dalam pelaksanaan program, belum bisa berjalan dengan maksimal.
Oleh karena itu, penelitian yang diusulkan adalah untuk menjawab pertanyaan tentang pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan. Di penelitian ini peneliti menggunakan model implementasi dari George c. Edward III, implementasi dari kebijakan dilihat dari 4 variabel yang mempengaruhi implementasi kebijakan. Komunikasi itu penting faktor keberhasilan suatu kebijakan, termasuk komando dan pengambilan keputusan. Sumber daya yang memadai juga sumber daya manusia atau sumber daya keuangan akan berdampak pada tingkat keberhasilan suatu kebijakan. Itu disposisi adalah sikap yang dimiliki oleh penerapan kebijakan etika dan komitmen untuk membuat ini kerja kebijakan.
Struktur birokrasi, yaitu sejauh mana rentang kendali antara pimpinan dan bawahan dalam melaksanakan struktur organisasi. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, deskriptif, yaitu melalui wawancara kepada 12 informan dalam observasi langsung, dan pencarian
13
dokumen terkait untuk program, bahkan sebelum pedoman studi membantu wawancara, dan alat tulis untuk menulis.
4. Penelitian terdahulu keempat dengan judul Pengaruh Implementasi Program Bumdes Terhadap Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Desa Tonsewer Selatan Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa oleh Ayu Enjelia Patrisia Suoth dibawah bimbingan Florence D. J. Lengkong dan Salmin Dengo.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh pelaksanaan program BUMDES terhadap perekonomian pemberdayaan masyarakat di Desa Tonsewer Selatan, Kecamatan Tompaso Barat, Kabupaten Minahasa. Oleh menggunakan metode penelitian kuantitatif.
Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu program BUMDES pelaksanaan (x) dan pemberdayaan ekonomi masyarakat (y). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 terdiri dari 8 orang pengelola BUMDES, 14 perangkat desa, 3 tokoh agama, dan 50 kepala keluarga. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala likert dan pedoman wawancara untuk mendapatkan skor pelaksanaan program BUMDES dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Uji yang digunakan adalah uji validitas dan reliabilitas serta teknik digunakan teknik analisis regresi linier sederhana dan teknik analisis korelasi produk.
5. Penelitian terdahulu yang terakhir dengan judul Implementasi Program Aplikasi Sistem Pemantauan Masyarakat (Sitasya) Di Kota Manado disusun oleh Regita Jeniver Sangala di bawah bimbingan oleh Florence D. J.
Lengkong dan Helly F. Kolondam.
14
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi dari Aplikasi Community Monitoring System Program di Kota Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. deskriptif kualitatif Penelitian adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan mendeskripsikan peristiwa dan fenomena yang terjadi di lapangan. Data pengumpulan dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan teori implementasi kebijakan ada tiga kegiatan yang mempengaruhi proses implementasi kebijakan, yaitu:
Organisasi, Interpretasi, dan Aplikasi, dilihat dari ketiga kegiatan tersebut, pelaksanaan program aplikasi sistem monitoring masyarakat di kota manado tidak berjalan dengan baik dan sedang dalam proses masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan program yang dilaksanakan oleh Kota Manado Kantor Informasi dan Komunikasi.
2.2 Konsep Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan dalam sebuah kebijakan yang didalamnya terdapat tindakan tindakan dan proses kegiatan dalam hal ini implementasi merupakan sisi penting dalam sebuah proses kebijakan dalam pelaksanaannya tingkat keberhasilan suatu progam dapat ditinjau menurut implementasinya. Tujuan implementasi adalah mensukseskan suatu progam seperti pengertian implementasi menurut Grindle dalam (Akib, 2012) menjabarkan bahwa: “implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu dan proses implementasinya baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan,
15
program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap serta disalurkan untuk mencapai sasaran”.
Menghubungkan antara tujuan kebijakan dan realisasinya dengan hasil kegiatan pemerintah. Ini sesuai dengan pandangan Meter dan Horn bahwa tugas implementasi adalah membangun jaringan yang memungkinkan tujuan kebijakan publik direalisasikan melalui aktivitas instansi pemerintah yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (Grindle, 1980).
Implementasi adalah memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan negara yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat atau dampak nyata pada masyarakat atau kejadiankejadian (Wahab, 2008).
Grindle menyatakan, implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. (Grindle, 1980) menambahkan bahwa proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran kebijakan telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap, serta telah disalurkan untuk mencapai sasaran. (Grindle, 1980).
Model tersebut menggambarkan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh beragam aktor, dimana keluaran atau hasil keputusan baik berupa materi program yang telah dicapai melalui interaksi-interaksi antar aktor tersebut akhirnya ditentukan oleh para pembuat keputusan dalam konteks politik administratif. Proses politik dapat terlihat melalui proses pengambilan keputusan
16
yang melibatkan berbagai aktor kebijakan, sedangkan proses administrasi terlihat melalui proses umum mengenai aksi administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu (Akib, 2012).
Implementasi kebijakan berjalan secara linier dari kebijakan publik, implementor dan kinerja kebijakan publik menurut Meter dan Horn (Nugroho, 2009). Karena itu pada model ini dimasukkan empat variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi, yakni:
a) Aktifitas Pengamatan dan Komunikasi Interorganisasional
Implementasi yang efektif memerlukan standar dan tujuan program dipahami oleh individu-individu yang bertanggung jawab agar implementasi tercapai.
Maka perlu melibatkan komunikasi yang konsisten dengan maksud mengumpulkan informasi. Komunikasi antara organisasi merupakan hal yang kompleks. Penyampaian informasi kebawah pada suatu organisasi atau organisasi yang satu ke organisasi yang lain, mau atau tidak komunikator baik secara sengaja atau tidak.
b) Karakteristik Pelaksana
Struktur birokrasi dianggap karakteristik, norma dan pola hubungan dalam eksekutif yang memiliki aktual atau potensial dengan apa yang dilakukan dalam kebijakan, lebih jelasnya karakteristik berhubungan dengan kemampuan dan kriteria staf tingkat pengawas (kontrol) hirarkis terhadap keputusan-keputusan sub unit dalam proses implementasi.
17 c) Kondisi Ekonomi, Sosial dan Politik
Pada waktu implementasi kebijakan tidak terlepas dari pengaruh ekonomi, sosial dan politik (ekosospol). Pengaruh faktor ini memiliki efek yang menonjol terhadap keberhasilan aktivitas pelaksana.
d) Disposisi atau Sikap Pelaksana
Variabel ini menyangkut masalah persepsi-persepsi pelaksana dalam juridis di mana kebijakan disampaikan.
Ada tiga unsur yang mempengaruhi pelaksanaan dalam implementasi kebijakan :
1) Kognisi (pemahaman dan pengetahuan)
2) Arah respon pelaksana terhadap implementasi menerima atau menolak.
3) Intensitas dari respon pelaksana.
Model implementasi Edwards III (1980) mempertimbangkan empat faktor kritis atau variabel di dalam mengimplementasikan kebijakan publik, yaitu:
faktor-faktor internal organisasi ini berpengaruh secara langsung terhadap implementasi, tetapi juga saling tergantung satu dengan yang lainnya. Edward menilai bahwa masalah utama administrasi publik rendahnya perhatian terhadap implementasi. Secara tegas dikatakan bahwa “without effective implementation the decision of policymakers will not bee carried out successfully‟. Edward III melihat empat isu pokok (faktor penentu) yang perlu mendapatkan perhatian agar implementasi kebijakan menjadi efektif.
Model implementasi dari Edward III menggunakan faktor yang berfokus di dalam struktur pemerintah untuk menjelaskan proses implementasi. Penekanan pada proses ini dilandasi asumsi bahwa kalau para implementor mengikuti
18
sepenuhnya standar pelaksanaan yang telah ditentukan oleh pembuat kebijakan maka dengan sendirinya output dan outcomes kebijakan yang diinginkan akan tercapai. Kenyataan menunjukkan bahwa kebanyakan kebijakan yang dibuat pemerintah tidak pernah sempurna, dan tidak bebas dari kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi dan politik yang melengkapinya.
Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis implementasi kebijakan tentang konservasi energy adalah teori yang dikemukakan oleh George C.
Edwards III. implementasi dapat dimulai melalui kondisi abstrak dan sebuah pertanyaan tentang apakah syarat agar implementasi kebijakan dapat berhasil, menurut George C. Edwards III ada empat variabel dalam kebijakan public yaitu komunikasi (Communicattions), sumber daya (Resources), sikap (dispositions atau attitudes) dan struktur birokrasi (bureaucratic structure).
Keempat faktor diatas harus dilaksanakan secara simultan karena antar satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan yang kuat. Tujuan kita adalah meningkatkan pengetahuan tentang implementasi kebijakan. Penyederhanaan pengertian dengan dengan cara diturunkan (membreakdown) melalui eksplanasi implementasi kedalam komponen prinsip. Implementasi kebijakan merupakan suatu proses dinamis yang dimana meliputi interaksi banyak faktor. Sub kategori dari faktor-faktor yang mendasar ditampilkan sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap implementasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam implementasi menurut George C. Edwards III sebagai beikut:
1) Komunikasi
Faktor ini dalam Implementasi akan berjalan efektif dan efisien apabila ukuran dan tujuan kebijakan yang dipahami oleh individu-individu yang
19
bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Keseragaman serta Konsistensi terhadap ukuran dasar dan tujuan perlu adanya komunikasi yang baik sehingga implementors dapat memahami secara tepat terhadap ukuran maupun tujuan kebijakan tersebut.
Komunikasi dalam suatu organisasi adalah suatu proses yang amat kompleks.
Seseorang biasa menggunakannya atau menyebarluaskannya hanya untuk kepentingan tertentu. Disamping itu adanya informasi yang berbeda juga akan menghasilkan interpretasi yang berbeda pula. Agar implementasi dapat terlaksana dengan efektif, tentunya ada yang bertanggung jawab dalam mengambil sebuah keputusan dan harus memahami apakah mereka dapat melaksanakannya.
Bahwasanya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua pihak dan personel agar dapat memahami secara jelas dan akurat terkait dengan maksud dan tujuan kebijakan. Jika ada aktor pembuat kebijakan telah melihat adanya ketidakjelasan dalam spesifikasi kebijakan maka tentunya mereka tidak memahami tentang apa yang sesungguhnya yang akan diarahkan. Para implementor kebijakan akan merasa bingung dengan apa yang mereka lakukan sehingga jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang efektif dan optimal. kurangnya komunikasi kepada para implementor secara serius akan berdampak pada implementasi kebijakan.
2) Sumber daya
Komponen sumber daya ini terdiri jumlah staf, keahlian dari para pelaksana atau staf tersebut, informasi yang jelas dan relevan agar cukup untuk
20
mengimplementasikan kebijakan dan pemenuhan sumbersumber terkait dalam pelaksanaan program, adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan kepada sebagaimana yang diharapkan, serta adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana.
Bukan suatu masalah jika adanya sikap konsisten dalam implementasi program dan akuratnya komunikasi yang dikirim,apabila personel yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan program mengalami kekurangan sumberdaya dalam melakukan tugasnya, maka sumberdaya manusia yang tidak memadai baik dari segi jumlah maupun kemampuan akan berdampak pada tidak terlaksananya program secara efektif dikarenakan mereka tidak mampu melakukan pengawasan dengan baik.
Dengan demikian, Jika jumlah personil pelaksana kebijakan terbatas maka upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan para pelaksana untuk menjalankan program kebijakan tersebut. Oleh sebab itu perlu adanya peningkatan manajemen sumber daya manusia yang baik agar dapat meningkatkan kinerja program kebijakan. Kurangnya kemampuan pelaksana program ini disebabkan karena kebijakan konservasi energi merupakan hal yang baru bagi mereka dimana dalam melaksanakan program ini membutuhkan skill yang khusus, paling tidak mereka harus menguasai teknik-teknik tentang kelistrikan.
Informasi merupakan bagian sumberdaya yang sangat penting bagi pelaksanaan kebijakan. Ada dua bentuk informasi yaitu informasi yang terkait bagaimana cara menyelesaikan kebijakan/program serta bagi pelaksanaan
21
harus mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dan informasi tentang data pendukung kepatuhan kepada peraturan pemerintah dan undang-undang.
Bukti dilapangan menunjukkan bahwa tingkat pusat kebutuhan yang diperlukan para pelaksana di lapangan. Kurangnya informasi dan pemahaman tentang bagaimana melaksanakan kebijakan memiliki konsekuensi langsung seperti para oknum pelaksana tidak bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, kemudian pelaksana tidak ada di tempat kerja sehingga menimbulkan masalah baru. Implementasi kebijakan membutuhkan ketaatan
Bukti dilapangan menunjukkan bahwa tingkat pusat kebutuhan yang diperlukan para pelaksana di lapangan. Kurangnya informasi dan pemahaman tentang bagaimana melaksanakan kebijakan memiliki konsekuensi langsung seperti para oknum pelaksana tidak bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, kemudian pelaksana tidak ada di tempat kerja sehingga menimbulkan masalah baru. Implementasi kebijakan membutuhkan ketaatan