BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian.28
Jenis penelitian ini adalah penelitian ilmu hukum normatif, dimana pendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan mengkaji ketentuan perundang-undangan yang berlaku mengenai perkawinan pada umumnya berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan juga Kompilasi Hukum Islam (KHI) serta perjanjian perkawinan pada khususnya dikalangan WNI Islam di Kota Medan. Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis, maksudnya adalah dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dilakukan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh dan akan dilakukan secara cermat bagaimana menjawab permasalahan dalam menyimpulkan suatu solusi sebagai jawaban dari permasalahan tersebut.29
Masalah perkawinan pada umumnya dan juga perjanjian perkawinan pada khususnya dikalangan masyarakat Indonesia yang bersifat pluralisme dimana ketentuan yang memuat tata cara perkawinan dan pembuatan perjanjian perkawinan
28 Lukman Hadi Darmanto, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hal. 9.
29 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Normatif, UI Press, Jakarta, 2001, hal. 30.
berdasarkan kepada Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berlaku bagi WNI Islam pada umumnya dan di Kota Medan pada khususnya. Pelaksanaan perjanjian perkawinan dikalangan WNI Islam di Indonesia pada umumnya dan di Kota Medan pada khususnya jarang digunakan, sehingga perjanjian perkawinan tersebut kurang dikenal keberadaannya.
Perjanjian perkawinan menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, KUH Perdata maupun Kompilasi Hukum Islam dapat dilaksanakan dan tidak dilarang oleh calon suami istri yang hendak melangsungkan perkawinan dimana pembuatan perjanjian perkawinan tersebut dapat dilakukan sebelum atau pada saat perkawinan tersebut berlangsung.
2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research). Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu studi dokumen untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi, dan menganalisa data primer yakni peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang masalah tata cara perkawinan dan pembuatan perjanjian perkawinan di kalangan masyarakat pada umumnya dan masyarakat WNI Islam di Kota Medan pada khususnya yang didasarkan kepada Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, KUH Perdata maupun Kompilasi Hukum Islam.
Pelaksanaan perjanjian perkawinan memiliki dasar hukum yang kuat yang terdapat di dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, KUH
Perdata maupun Kompilasi Hukum Islam (KHI) sehingga perjanjian perkawinan dibenarkan untuk dibuat sebelum atau pada saat perkawinan berlangsung oleh seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) pada umumnya dan WNI Islam pada khususnya.
Masalah tata cara perkawinan maupun pembuatan perjanjian perkawinan dikalangan WNI Islam di Kota Medan dengan segala aspek hukumnya akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini sebagai data primer yang didukung dengan data sekunder berupa buku, artikel, dan karya ilmiah yang berkaitan dengan pelaksanaan pembuatan perjanjian perkawinan sebelum atau pada saat dilaksanakannya perkawinan, maupun data tertier berupa kamus hukum, kamus umum, ensiklopedia dan lain-lain yang berkaitan dengan peneliktian ini.30 Selain itu, penelitian ini juga didukung dengan wawancara terhadap anggota masyarakat calon pasangan suami istri yang beragama Islam di Kota Medan berdasarkan klasifikasi kecamatan, umur dan pendidikan, pegawai pencatatan nikah talak dan rujuk di Kantor Urusan Agama (KUA) Medan, Hakim Pengadilan Agama Medan dan Notaris untuk mengetahui tentang pelaksanaan perjanjian perkawinan di kalangan WNI Islam di Kota Medan, yang dalam penelitian ini memiliki kapasitas sebagai informan dan narasumber.
3. Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
30 Jhonny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Banyu Media, Malang, 2005, hal. 28.
dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.31 Di dalam penelitian hukum normatif, maka maksud pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis, sistematisasi yang berarti membuat klasifikasi terhadap bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.32 Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang dikumpulkan baik melalui studi dokumen. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan dianalisis dan disistematisasikan secara kualitatif yang artinya menjelaskan dengan kalimat sendiri semua kenyataan yang terungkap dari data sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, dengan tujuan untuk memperoleh jawaban terhadap permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu masalah tata cara perkawinan dan juga perjanjian perkawinan dikalangan WNI Islam di Kota Medan berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.
Penarikan kesimpulan dilakukan dimulai dari menganalisa hal-hal yang bersifat umum dari masalah perjanjian perkawinan (deduktif) untuk kemudian menarik kesimpulan secara khusus (induktif) sebagai jawaban atas permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
31 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal.
106.
32 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, hal. 25.
BAB II
PENGATURAN PEMBUATAN AKTA PERJANJIAN PERKAWINAN BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG
BERLAKU DI BIDANG PERKAWINAN
A. Dasar Hukum Perjanjian Perkawinan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perjanjian adalah “persetujuan tertulis atau dengan lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu.”33 Pengertian Perjanjian Perkawinan menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terdapat di dalam Pasal 29 ayat (1) yang menyebutkan bahwa, “Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak atas pesetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis, yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut”. Ketentuan selanjutnya mengenai perjanjian terdapat Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan bahwa, “Perjanjian perkawinan tersebut tidak dapat disahkan bilamana dilanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan”. Pasal 29 ayat (3) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa, “Perjanjian perkawinan tersebut dimulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan”. Selanjutnya Pasal 29 ayat (4) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa, “Selama masa perkawinan berlangsung perjanjian perkawinan tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari
33 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, 2005. hal. 458.
kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tersebut tidak merugikan pihak ketiga”.
Dari ketentuan Pasal 29 ayat (1), (2), (3) dan (4) tersebut di atas dapat dikatakan bahwa: 1. Perjanjian perkawinan dibuat oleh calon suami istri atas persetujuan bersama pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, 2.
Perjanjian perkawinan tersebut wajib disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan dan isi perjanjian perkawinan tersebut berlaku pula terhadap pihak ketiga yang terkait, 3.
Isi dari perjanjian perkawinan tidak boleh melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan dan 4. Masa berlaku perjanjian perkawinan tersebut adalah sejak tanggal perkawinan dilangsungkan.
Pembuatan perjanjian perkawinan oleh pasangan calon suami istri bila ditinjau dari Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan wajib dibuat secara tertulis baik di dalam suatu akta di bawah tangan maupun secara akta autentik notarill. Setelah pasangan suami istri dengan sepakat membuat perjanjian perkawinan baik secara akta di bawah tangan maupun akta autentik maka akta tersebut wajib disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan dengan tidak melanggar ketentuan-ketentuan melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan. Pasal 29 ayat (1) bertujuan untuk melakukan pemisahan harta kekayaan pasangan calon suami istri sebelum berlangsungnya perkawinan dan pada saat terjadinya perkawinan tersebut. Perjanjian yang mengatur sampai dimana batas-batas tanggung jawab pribadi masing-masing seperti yang disebut dalam Pasal 35 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 terhadap hutang yang dibuat oleh suami terhadap pihak ketiga. Dalam pasal ini
banyak menolong pihak istri ataupun suami atas tindakan-tindakan atau hutang yang dibuat oleh suami, maka hak istri tidak ikut tanggung jawab atas hutang tersebut.
Pasal 35 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa ”Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama”. Dalam Pasal 36 UU No.1 Tahun 1974 menyebutkan :
1. Mengenai harta bersama suami istri dapat bertindak atas perjanjian kedua belah pihak;
2. Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.
Sedangkan Pasal 37 UU No. 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa ” bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukum masing-masing”.
Dalam Pasal 35 ayat (2) UU No.1 Tahun 1974 hanya menyebutkan pemisahan harta terhadap harta bawaan masing-masing saja, maka dengan adanya Pasal 29 undang-undang tersebut calon suami dan calon istri dapat membuat perjanjian lain mengenai harta bawaan mereka masing-masing, seperti mengenai tindakan atau hutang yang dibuat suami, harta istri tidak ikut bertanggung jawab atas pelunasannya.
Dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan bahwa untuk sahnya suatu perkawinan disamping harus mengikuti ketentuan-ketentuan agama, para pihak yang akan melangsungkan perkawinan itu harus memenuhi syarat-syarat yang disebutkan dalam undang-undang perkawinan dan penjelasannya. Perjanjian perkawinan yang dibuat suami istri harus ada kesepakatan pada waktu membuat
naskah perjanjian perkawinan sebelum atau setelah perkawinan tersebut dilangsungkan. Karena adanya kesepakatan dalam membuat perjanjian perkawinan, maka tidak menutup kemungkinan dengan memenuhi pedoman Pasal 1320 KUHPerdata.
Menurut Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa, “Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria telah mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun dan pihak wanita telah mencapai umur 16 (enam belas) tahun”. Dalam hal usia perkawinan yang telah ditetapkan oleh Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut telah dipenuhi maka calon pasangan suami istri telah dipandang cakap untuk melangsungkan perkawinan dan juga membuat perjanjian perkawinan. Namun apabila usia perkawinan pasangan calon suami istri tersebut tidak memenuhi syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 di atas maka pasangan suami istri tersebut dipandang tidak cakap dalam melangsungkan perkawinan dan juga dalam hal membuat perjanjian perkawinan. Perjanjian perkawinan yang dibuat oleh pasangan calon suami istri yang belum mencapai usia sebagaimana ditetapkan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut dipandang tidak memiliki kekuatan hukum, dan karena itu batal demi hukum, disebabkan karena pasangan suami istri tersebut masih berada di bawah
umur dan dipandang tidak cakap bertindak secara hukum dalam membuat perjanjian perkawinan tersebut.34
Penyimpangan dari ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dapat dilakukan dengan meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita untuk dapat melangsungkan perkawinan meskipun usia perkawinan belum memenuhi syarat sebagaimana ditetapkan di dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Dalam membuat perjanjian perkawinan perlu dipertimbangkan beberapa aspek yaitu :
1. Keterbukaan;
Dalam mengungkapkan semua detil kondisi keuangan baik sebelum maupun sesudah pernikahan. Berapa jumlah harta bawaaan masing-masing pihak sebelum menikah dan bagaimana potensi pertambahannya sejalan dengan meningkatnya penghasilan atau karena hal lain misalnya menerima warisan. Kemudian berapa jumlah hutang bawaan masing-masing pihak sebelum menikah, bagaimana potensi hutang setelah menikah dan siapa yang bertanggung jawab terhadap pelunasan hutangnya. Tujuannya agar Anda tahu persis apa yang akan
34 Henry Lee A Weng, Beberapa Segi Hukum Dalam Perjanjian Perkawinan, Rimbow, Jakarta, 1986, hal. 107.
diterima dan apa yang akan di korbankan jika perkawinan berakhir, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan nantinya.
2. Kerelaan;
Perjanjian perkawinan harus disetujui dan ditanda tangani oleh ke dua belah pihak secara sukarela tanpa paksaan. Jika salah satu pihak merasa dipaksa, karena diancam atau berada dalam tekanan sehingga terpaksa menandatanganinya, maka perjanjian perkawinan tersebut bisa terancam batal karenanya
3. Pejabat yang objektif;
Pilihlah pejabat berwenang yang yang bereputasi baik dan bisa menjaga obyektifitas, sehingga dalam membuat isi perjanjian perkawinan bisa tercapai keadilan bagi kedua belah pihak.
4. Notariil.
Perjanjian perkawinan sebaiknya tidak dibuat dibawah tangan tetapi harus disahkan oleh notaris. Kemudian harus dicatatkan pula dalam lembaga pencatatan perkawinan. Artinya pada saat pernikahan dilangsungkan perjanjian perkawinan juga harus disahkan pula oleh pegawai pencatat perkawinan (KUA maupun Kantor Catatan Sipil).
Perkawinan yang sah berakibat pada status harta perkawinan yang diatur secara tegas dalam Pasal 35 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, menyatakan bahwa :
1. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
2. Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Perjanjian perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) terdapat dalam Bab VII yang didalamnya mengatur taklik talak sebagaimana terdapat dalam Pasal 45 dan Pasal 46 KHI. Pasal 45 KHI menyebutkan bahwa, “Kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk 1. Taklik talak, 2. Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam”. Selanjutnya dalam Pasal 46 KHI menyebutkan bahwa, “Isi taklik talak tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam, apabila keadaan yang disyaratkan dalam taklik talak betul-betul terjadi kemudian, tidak dengan sendirinya talak jatuh supaya talak sungguh-sungguh jatuh, istri harus mengajukan persoalannya ke Pengadilan Agama”. Perjanjian taklik talak bukan salah satu yang wajib diadakan pada setiap perkawinan, akan tetapi sekali taklil talak sudah diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali.
Taklik talak berasal dari dua kata yaitu taklik dan talak. Pengertian talak atau ithlaq berarti melepaskan atau meninggalkan. Dalam istilah agama talak berarti
melepaskan perkawinan atau bubarnya hubungan perkawinan. Taklik atau muallak atinya bergantung. Dengan demikian pengertian taklik talak adalah talak yang jatuhnya digantungkan kepada suatu syarat atau talak yang digantungkan terjadinya terhadap suatu peristiwa tertentu sesuai dengan perjanjian.
Dasar hukum taklik talak adalah QS. Surat An-Nisa ayat 128 yang bunyinya adalah:
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Isi taklik talak pada umumnya telah ditentukan oleh Menteri Agama yang berisi hal-hal tertentu sebagaimana yang termuat di dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 1990. Meskipun taklik talak adalah suatu bentuk dari perjanjian perkawinan, karena sighat taklik talak berisi perjanjian perkawinan antara suami dan istri, namun pada dasarnya perjanjian perkawinan dalam bentuk taklik talak tidak dapat dirubah dan bahkan tidak dapat dicabut kembali pemberlakuannya. Sedangkan perjanjian perkawinan bisa dirubah sesuai dengan kehendak kedua belah pihak. Selanjutnya, isi dari perjanjian perkawinan dapat meliputi hal apa saja asal tidak bertentangan dengan aturan hukum Islam dan kesusilaan. Sementara perjanjian taklik talak hanya berisi hal-hal tertentu yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Agama RI No. 2 Tahun 1990. Selain itu konsekuensi perjanjian taklik talak adalah perceraian, jika istri mengajukannya ke Pengadilan Agama sebagai alasan perceraian. Sedangkan konsekuensi pelanggaran isi perjanjian perkawinan tidak selalu perceraian.35
Di dalam Pasal 47 KHI mengenai perjanjian perkawinan menyebutkan bahwa,
“Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua calon mempelai dapat membuat perjanjian tertulis yang disahkan pegawai pencatat nikah mengenai kedudukan harta dalam perkawinan. Perjanjian perkawinan tersebut
35 Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, UI Pres, Jakarta, 2002, hal. 68.
dapat meliputi percampuran harta pribadi dan pemisahan harta pencaharian masing-masing sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan hukum Islam”.
Selain itu, boleh juga isi perjanjian perkawinan tersebut menetapkan kewenangan masing-masing untuk mengadakan ikatan hipotik atas harta pribadi dan harta bersama atau harta syarikat. Apabila dibuat perjanjian perkawinan mengenai pemisahan harta bersama atau harta syarikat, maka perjanjian tersebut tidak boleh menghilangkan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apabila perjanjian perkawinan yang dibuat tersebut menghilangkan kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maka dipandang tetap terjadi pemisahan harta bersama atau harta syarikat dengan kewajiban suami menanggung biaya kebutuhan rumah tangga.36
Perjanjian percampuran harta pribadi dapat meliputi semua harta baik yang dibawa masing-masing ke dalam perkawinan maupun yang diperoleh masing-masing selama perkawinan berlangsung. Dalam perjanjian perkawinan dapat juga diperjanjikan bahwa percampuran harta pribadi yang dibawa pada saat perkawinan dilangsungkan sehingga percampuran ini tidak meliputi harta pribadi yang diperoleh selama perkawinan atau sebaliknya. Perjanjian perkawinan mengenai harta mengikat kepada para pihak dan pihak ketiga terhitung sejak tanggal dilangsungkannya perkawinan dihadapan pegawai pencatat nikah. Perjanjian perkawinan mengenai harta dapat dicabut atas persetujuan bersama suami istri dan wajib mendaftarkannya di kantor pegawai pencatat nikah tempat perkawinan dilangsungkan. Sejak
36 Muhammad Idris Ramulyo, Perjanjian Perkawinan Ditinjau dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Kompilasi Hukum Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2009, hal. 11.
pendaftaran pencabutan perjanjian perkawinan tersebut, pencabutan telah mengikat kepada suami istri tetapi terhadap pihak ketiga pencabutan perjanjian perkawinan tersebut baru mengikat sejak tanggal pendaftaran itu diumumkan suami istri dalam suatu surat kabar setempat. Apabila dalam tempo 6 (enam) bulan pengumuman tidak dilakukan oleh yang bersangkutan maka pendaftaran pencabutan dengan sendirinya gugur dan tidak mengikat kepada pihak ketiga. Pencabutan perjanjian perkawinan mengenai harta tidak boleh merugikan perjanjian yang telah diperbuat sebelumnya dengan pihak ketiga. Pelanggaran atas perjanjian perkawinan memberi hak kepada istri untuk meminta pembatalan nikah atau mengajukannya sebagai alasan gugatan perceraian ke pengadilan agama. Pada saat dilangsungkan perkawinan dengan istri kedua, ketiga dan keempat, boleh diperjanjikan mengenai tempat kediaman, waktu giliran dan biaya rumah tangga bagi istri yang akan dinikahi tersebut.37
Perjanjian perkawinan di dalam KUH Perdata diatur di dalam Pasal 139 sampai dengan Pasal 154. Secara garis besar perjanjian perkawinan berlaku mengikat para pihak atau mempelai apabila terjadi perkawinan. Dengan mengadakan perjanjian perkawinan kedua calon suami istri berhak menyiapkan dan menyampaikan beberapa penyimpangan dari peraturan undang-undang sekitar persatuan harta kekayaan, sepanjang perjanjian itu tidak menyalahi tata susila yang baik dalam tertib umum dengan ketentuan antara lain:
1. Tidak boleh mengurangi hak suami sebagai kepala keluarga.
37 Muhammad Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hal. 47.
2. Tanpa persetujuan istri, suami tidak boleh memindahtangankan barang-barang tidak bergerak milik istri.
3. Dibuat dengan akta notaris sebelum perkawinan berlangsung dan berlaku sejak saat perkawinan dilangsungkan.
4. Tidak berlaku pada pihak ketiga sebelum didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri di daerah hukum berlangsungkannya perkawinan itu atau jika perkawinan berlangsung di luar negeri maka pendaftaran dilakukan di Kepaniteraan dimana akta perkawinan dibukukan atau diregister.
Pasal 139 KUH Perdata menyebutkan bahwa, “Para calon suami istri dengan perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan undang-undang mengenai harta bersama sepanjang hal tersebut tidak bertentangan tata susila yang baik atau dengan tata tertib umum dan diindahkan pula ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam perjanjian perkawinan”. Bila dianalisa ketentuan Pasal 139 KUH Perdata tersebut maka pada asasnya perjanjian perkawinan tunduk kepada asas-asas perjanjian yang termuat di dalam Pasal 1320 KUH Perdata yaitu tentang syarat-syarat sahnya suatu perjanjian. Selain itu, ketetuan Pasal 139 KUH Perdata juga memberikan kebebasan kepada calon pasangan suami istri untuk menyimpang dari peraturan undang-undang mengenai harta bersama sepanjang tidak bertentangan dengan tata susila yang baik dan tata tertib umum. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata yang pada intinya membebaskan para pihak dalam membuat perjanjian dalam segala isi dan ketentuan yang termuat di dalamnya sepanjang tidak bertentangan dengan tata susila baik dan ketertiban umum.
Menurut Pasal 140 KUH Perdata dalam membuat suatu perjanjian perkawinan ketentuan yang termuat di dalam perjanjian perkawinan tersebut tidak boleh mengurangi hak-hak yang bersumber pada kekuasaan si suami sebagai suami dan pada kekuasaan sebagai bapak, tidak pula hak-hak yang oleh undang-undang diberikan kepada yang masih hidup paling lama, perjanjian perkawinan juga tidak boleh mengurangi hak-hak yang diperuntukan bagi suami sebagai kepala persatuan
Menurut Pasal 140 KUH Perdata dalam membuat suatu perjanjian perkawinan ketentuan yang termuat di dalam perjanjian perkawinan tersebut tidak boleh mengurangi hak-hak yang bersumber pada kekuasaan si suami sebagai suami dan pada kekuasaan sebagai bapak, tidak pula hak-hak yang oleh undang-undang diberikan kepada yang masih hidup paling lama, perjanjian perkawinan juga tidak boleh mengurangi hak-hak yang diperuntukan bagi suami sebagai kepala persatuan