BAB II PENGATURAN PEMBUATAN AKTA PERJANJIAN
B. Pandangan Hukum Islam Terhadap Perjanjian Perkawinan 84
1. Pandangan Al-Qur‟an dan Hadits Tentang Perjanjian
Perjanjian perkawinan atau disebut juga dengan perjanjian pra nikah adalah budaya barat yang diadopsi oleh sebagian masyarakat Islam di negara-negara Islam, dan semakin lama kelihatannya akan semakin terus berkembang. Ini disebabkan karena nilai-nilai luhur budaya terutama nilai-nilai agama sudah luntur dan jauh dari pengalaman oleh masyarakat yang beragama Islam itu sendiri. Ada beberapa hal yang mendasari terjadinya perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah diantaranya adalah :
75 Ibid, hal. 295.
a. Karena nikah beda agama, maka diantara perjanjiannya tentang hak asuh anak dan keyakinan agamanya.
b. Tentang harta yang diperoleh kedua belah pihak baik laki-laki maupun perempuan sebelum dan setelah terjadinya pernikahan.
c. Hak dan kewajiban dalam rumah tangga dan hutang-piutang ketika atau sebelum perkawinan dan setelah perkawinan berlangsung.76
Dalam Al-Qur‟an dan hadits tidak diatur secara tegas tentang pelaksanaan perjanjian perkawinan namun demikian Al-Qur‟an dan hadits tidak melarang dilaksanakannya perjanjian perkawinan sepanjang muatan perjanjian perkawinan tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an dan hadits. Apabila isi dari perjanjian perkawinan tersebut bertentangan dengan Al-Qur‟an dan hadits yang merupakan hukum Allah, meskipun 100 syarat hukumnya adalah batal. Demikian pula halnya dengan perjanjian yang tidak bertujuan menghalakan yang haram atau mengharamkan yang halal. Al-Qur‟an dan hadits telah memandang perkawinan sebagai suatu perjanjian yang kuat antara pasangan suami istri. Al-Qur‟an dan hadits juga memandang sebuah perkawinan adalah suatu ikatan suci lahir batin yang dilandaskan kepada rasa cinta yang semata-mata karena Allah SWT. Oleh karena itu maka perkawinan tersebut merupakan suatu ikatan lahir batin yang suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam suatu ikatan perkawinan yang bertujuan untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahma atas dasar ridho Allah
76 Muhammad Basyir Khatamsi, Perjanjian Perkawinan Dalam Pandangan Hukum Islam, Hukum Islam, Fiqih, PSW IAIN Sunan Kalijaga dan CIDA, Yogyakarta, 2010, hal. 56.
SWT. Oleh karena itu dalam perkawinan dapat saja dilakukan suatu perjanjian sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan berlangsung antara pasangan suami istri untuk mengatur secara baik hal-hal yang menjadi tugas kewajiban hak dan kewenangan di antara pasangan suami istri tersebut agar mencapai tujuan yang diinginkan dalam menempuh bahtera rumah tangga.77 Oleh karena itu Al-Qur‟an tidak melarang diadakannya suatu perjanjian perkawinan dengan catatan bahwa isi dari perjanjian perkawinan tersebut tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah SWT yang termuat di dalam Al-Qur‟an dan hadits.
Namun demikian menurut pandangan ulama bahwa perjanjian perkawinan bukan budaya Islam dan oleh karena itu hukumnya adalah haram, karena di dalam perjanjian tersebut rentan terjadi kecurangan, penipuan, khianat, kelicikan, ketidakadilan, keterpaksaan, melepaskan tanggung jawab dan ada kecenderungan melanggar syariat.78 Pandangan lain ulama tentang perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah bahwa perjanjian perkawinan dipandang tidak etis diterapkan di dalam suatu pernikahan yang seharusnya dilakukan secara tulus dan ikhlas. Perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah dalam pandangan ulama tersebut adalah suatu perbuatan yang melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam hukum Islam karena telah memperjanjikan suatu harta benda perkawinan diantara suami istri baik yang telah ada (harta bawaan) maupun yang akan ada (saat perkawinan telah berlangsung) yang mengakibatkan suatu perkawinan yang seharusnya sakral menjadi
77 Ibid, hal. 57.
78 Ali Rahmad Hasbullah,Pandangan Ulama dan Hukum Islam Tentang Perjanjian Pranikah, Lentera Ilmu, Semarang, 2013, hal. 25.
memiliki maksud-maksud dan pamrih tertentu.79
Dalam hubungan perkawinan menurut hukum Islam sudah ada dan jelas ada aturannya. Akad nikah dalam Islam adalah sebuah perjanjian atas dasar adanya kerelaan („Antaraadhin). Dari kedua belah pihak yang tidak melanggar aturan dan norma syariah Islam yang tidak diikat dengan bentuk sebuah perjanjian yang dibuat berdasarkan hawa nafsu manusia. Suatu perjanjian yang dibuat berdasarkan hawa nafsu manusia jika bertentangan dengan syariat Allah SWT mutlak hukumnya adalah
“haram” dan “mardud” (tertolak), sebagaimana Allah SWT berfirman barang siapa yang tidak memutuskan (hukum, aturan atau undang-undang) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (Qur‟an.
Almaidah:5(44))80
Bila dianalisa secara lebih mendasar mengenai 81perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah di dalam hukum Islam dapat dikatakan bahwa pembuatan perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah oleh calon pasangan suami istri adalah suatu bentuk kekhawatiran pasangan tersebut terhadap harta benda yang dimiliki baik harta bawaan sebelum berlangsungnya pernikahan maupunn harta yang diperoleh selama masa perkawinan berlangsung. Kekhawatiran ini didasarkan kepada sesuatu hal yang belum terjadi yakni suatu konflik rumah tangga sehingga mengakibatkan terjadinya perceraian. Kekhawatiran terjadinya konflik dalam rumah
79 Ibid, hal. 27.
80 Bahruddin Rachmad, Perjanjian Pra Nikah Ditinjau dari Fiqih Islam, Qalam Murni, Yogyakarta, 2012, hal. 51.
81 Ibid, hal. 56.
tangga yang mengakibatkan terjadinya perceraian dalam suatu perkawinan yang pada akhirnya memperebutkan harta benda perkawinan yang merupakan harta duniawi tersebut merupakan suatu keinginan atau hawa nafsu manusia yang tidak sejalan dengan syariat Allah SWT. Oleh karena itu perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah yang dibuat oleh pasangan calon suami istri tersebut dipandang bertentangan dengan syariat Islam yang berpedoman kepada syariat Allah SWT.
Berdasarkan uraian tersebut di atas beberapa ulama yang ada di Kota Medan berpandangan bahwa, perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah yang dibuat oleh calon pasangan suami istri sebelum dilangsungkannya perkawinan dipandang suatu perbuatan yang haram hukumnya menurut Islam. Perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah merupakan suatu perbuatan yang mencemari ketulusan atau kekhilasan dan kesakralan suatu perkawinan yang seharusnya dilaksanakan tanpa pamrih oleh pasangan suami istri.82
Perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah juga dipandang sebagai suatu perbuatan yang beritikad tidak baik bagi pasangan calon suami istri tersebut dalam hal membentuk suatu bahtera perkawinan yang sakinah, mawaddah dan warahmah.
Oleh karena itu pasangan calon suami istri yang melakukan pembuatan perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah sebelum berlangsungnya perkawinan dipandang tidak memiliki keyakinan dalam membentuk keluarga yang berbahagia berdasarkan syariat Allah SWT, sehingga dapat dikatakan telah mendahului hal-hal yang belum
82 Wawancara dengan Idris Kamal Malik Pemuka Agama di Kecamatan Medan Barat Kota Medan, pada hari Selasa, tanggal 7 Juli 2015 pukul, 16.30 WIB di tempat kediamannya.
terjadi dan belum digariskan oleh Allah SWT. Oleh karena itu perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah yang dilakukan oleh pasangan calon suami istri yang beragama Islam tersebut dipandang sebagai suatu perbuatan yang haram.83
Namun demikian ada juga ulama yang berpandangan bahwa perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah memang bertentangan dengan etika dan budaya orang timur, namun secara hukum Islam hal tersebut sah dan dapat dilaksanakan oleh calon pasangan suami istri tersebut untuk melindungi diri masing-masing apabila dikemudian hari terjadi konflik dalam rumah tangganya yang berakhir dengan perceraian. Manfaat dari perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah tersebut merupakan suatu prices bagi masing-masing pasangan dalam mengatur harta benda perkawinannya secara hukum apabila terjadi perceraian tersebut.84
Pandangan ulama terhadap perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah menurut hukum Islam berbeda antara satu dengan yang lain. Sebagian ulama berpandangan bahwa perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah yang dilakukan oleh pasangan calon suami istri yang berbagama Islam di Kota Medan adalah haram hukumnya karena hal tersebut bertentangan dengan kaidah dan syariat hukum Islam yang bersumber pada syariat Allah SWT. Namun ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah sah secara hukum Islam untuk dilaksanakan meskipun secara etika dan budaya atau adat
83 Wawancara dengan Muchrianto Rahmad Pemuka Agama di Kecamatan Medan Timur Kota Medan, pada hari Kamis, tanggal 9 Juli 2015 pukul, 09.30 WIB di tempat kediamannya.
84 Wawancara dengan Fadli Hasan Pemuka Agama di Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan, pada hari Sabtu, tanggal 11 Juli 2015 pukul, 17.00 WIB di tempat kediamannya.
ketimuran hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang tidak lazim untuk dilakukan.
Ada dua pandangan besar ulama terhadap perjanjian perkawinan dimana sebagian ulama menyatakan bahwa perjanjian perkawinan tersebut merupakan budaya barat dan bukan merupakan budaya Islam sehingga perjanjian perkawinan itu haram hukumnya. Sebagian ulama lainnya berpandangan bahwa perjanjian perkawinan dihalalkan dalam sebuah perkawinan sepanjang isi dari perjanjian perkawinan tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan hukum Allah yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan hadits.