BAB II PENGATURAN PEMBUATAN AKTA PERJANJIAN
C. Ruang Lingkup Subtansi Perjanjian Perkawinan
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan undang-undang yang berlaku secara nasional yang diundang-undangkan pada tanggal 2 Januari 1974 dan berlaku secara efektif pada tanggal 1 Oktober 1975. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut berlaku untuk semua warga Negara Indonesia yang berusaha memberikan landasan hukum perkawinan yang berlaku untuk semua golongan dalam masyarakat dan sekaligus memberikan landasan hukum perkawinan nasional. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut mencabut ketentuan-ketentuan yang diatur dalam KUH Perdata, ordonansi perkawinan Indonesia Kristen dan peraturan perkawinan campuran Regeling op de Gemendge Huwalijken S. 1898 No. 158), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur
perkawinan sejauh telah diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut.
Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diatur pula tentang perjanjian perkawinan yang termuat di dalam Pasal 29 ayat (1), (2) dan (3) yang intinya menyebutkann bahwa perjanjian perkawinan dapat dilakukan oleh calon pasangan suami istri pada waktu atau sebelum perkawinan yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan yang isinya berlaku terhadap pihak ketiga yang terkait.
Perjanjian perkawinan tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum agama dan kesusilaan, dan perjanjian perkawinan tersebut berlaku mulai sejak tanggal perkawinannya dilangsungkan. Selama perkawinan telah berlangsung
perjanjian tersebut tidak dapat diubah kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan hanya mengatur secara umum tentang perjanjian perkawinan yaitu dalam hal ketentuan tentang waktu pembuatan perjanjian perkawinan, ketentuan mengenai pembatalan perkawinan dan mengenai akibat hukum dari pembuatan perjanjian perkawinan tersebut. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur secara lebih rinci mengenai isi dari perjanjian tersebut dan hal-hal apa saja yang tidak diperbolehkan dimuat dalam perjanjian perkawinan oleh para pihak. Oleh karena itu Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan hanya mengatur secara umum tentang ketentuan dan tata cara pembuatan perjanjian perkawinan oleh calon pasangan suami istri yang hendak melangsungkan perkawinannya.
Perjanjian atau perikatan merupakan suatu kesepakatan manusia dengan manusia atau manusia dengan Tuhan. Eksistensinya dalam masyarakat tentunya memiliki tujuan dan hikmah yaitu perjanjian mengikat sebagai undang-undang dan meningkatkan kepastian hukum. Dalam melaksanakan perkawinan, sebelum pasangan suami istri melangsungkan perkawinan maka dapat dibuat suatu perjanjian perkawinan yang merupakan kehendak dan kesepakatan dari masing-masing calon pasangan suami istri tersebut. Untuk membuat suatu perjanjian perkawinan tidak ada unsur yang sifatnya memaksa, artinya apabila salah satu pihak tidak menghendaki diadakannya perjanjian perkawinan maka pihak lain tidak boleh memaksakan diri
untuk membuatnya. Mengenai isi perjanjian perkawinan diserahkan sepenuhnya kepada kedua belah pihak yaitu pasangan calon suami istri tersebut dengan tetap berpegang pada peraturan yang berlaku. Maksudnya para pihak atau calon suami istri tersebut bebas menentukan isi perjanjian perkawinan dengan melihat batasan-batasan yang telah diatur oleh undang-undang dan tidak menghilangkan hak dan kewajiban suami istri. Para pihak yaitu pasangan suami istri dalam pembuatan perjanjian perkawinan tentunya tidak menginginkan perjanjian perkawinan tersebut cacat hukum. Untuk itu ada syarat khusus agar perjanjian perkawinan yang dibaut mempunyai kekuatan hukum yang pada dasarnya syarat tersebut telah termuat di dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam hal ini adalah Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.46
Seorang calon suami atau calon istri yang belum mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun menurut Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dipandang tidak cakap dalam membuat perjanjian perkawinan. Demikian pula halnya menurut Pasal 15 ayat (2) KHI dimana pasangan calon suami istri yang belum mencapai batas usia 21 (dua puluh satu) tahun belum dapat dikatakan cakap bertindak dalam membuat perjanjian perkawinan, sehingga untuk membuat perjanjian perkawinan harus mendapat izin orang tua atau wali, agar perjanjian perkawinan tersebut berkekuatan hukum. Secara umum perjanjian yang dibuat tidak dapat dimana
46 Arfian Syahril, Status Perjanjian Perkawinan dan Akibat Hukumnya, Liberty, Yogyakarta, 2007, hal. 40.
dibatalkan karena merupakan kesepakatan bersama. Namun pembatalan perjanjian dapat saja terjadi apabila jangka waktu perjanjian telah berakhir.
Dalam perjanjian perkawinan hal tersebut bisa saja terjadi dikarenakan salah satu pihak tidak menginginkan lagi isi perjanjian perkawinan tersebut atau terjadi perceraian yang bukan disebabkan karena melanggar isi perjanjian perkawinan tetapi karena hal lain misalnya melanggar perjanjian taklik talak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status perjanjian perkawinan menjadi penting apabila hal itu benar-benar dilaksanakan oleh suami istri dan apabila perjanjian perkawinan tersebut tidak dilaksanakan dengan baik dan salah satu pihak tidak menerima atas pelanggaran tersebut maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan keberatan dengan mengajukan gugatan kepada hakim, karena perjanjian perkawinan tersebut mengikat kedua belah pihak.
Pasangan calon suami istri yang telah membuat perjanjian perkawinan wajib mematuhi isi dari perjanjian tersebut. Keharusan melaksanakan isi perjanjian tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa, “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuat”.
Perjanjian perkawinan belum terlalu sering dilakukan oleh masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat Indonesia yang beragama Islam. Sebagai pasangan yang hendak menikah para calon pasangan suami istri merasa sungkan untuk membuat perjanjiann perkawinan sebelum mereka melangsungkan perkawinan.
Perjanjian perkawinann yang dimaksud adalah perjanjian yang diadakan oleh calon
suami istri untuk mengatur akibat-akibat dari perkawinan yang akan mereka langsungkan terhadap harta masing-masing.
Ruang lingkup dan subtansi perjanjian perkawinan bagi calon pasangan suami istri pada umumnya adalah untuk melakukan pengaturan hukum yang lebih jelas dan pasti dalam hal pemisahan harta bawaan masing-masing yang di dalam perjanjian perkawinan tersebut diatur berada di bawah pengawasan masing-masing. Dengan demikian ruang lingkup perjanjian perkawinan pagi pasangan calon suami istri adalah untuk melakukan pengaturan atas harta bawaan masing-masing yang akan dibawa ke dalam perkawinan sehingga pengaturan tentang harta bawaan tersebut menjadi jelas dan pasti secara hukum berada di bawah pengawasan dan kekuasan masing-masing pasangan calon suami istri tersebut. Selain itu, ruang lingkup perjanjian perkawinan bagi pasangan calon suami istri adalah juga untuk mengatur tentang pengaturan harta kekayaan bersama selama berlangsungnya perkawinan untuk tujuan-tujuan yang disepakati dan diinginkan oleh pasangan calon suami istri tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ruang lingkup perjanjian perkawinan tersebut pada prinsipnya difokuskan kepada pengaturan harta kekayaan baik harta kekayaan bawaan masing-masing maupun harta kekayaan yang diperoleh selama masa perkawinan berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar pengaturan harta kekayaan tersebut selama masa perkawinan berlangsung dapat menimbulkan kepastian hukum bagi pasangan suami istri termasuk pula apabila di dalam perkawinan tersebut akhirnya menimbulkan perceraian, sehingga pembagian harta bersama dapat diatur secara
musyawarah mufakat sesuai dengan perjanjian perkawinan yang telah dibuat oleh pasangan calon suami istri tersebut.
Tujuan pembuatan perjanjian perkawinan juga adalah sebagai tindakan preventif dalam mengantisipasi terjadinya konflik setelah berlangsungnya perkawinan yang umumnya menyangkut tentang harta benda perkawinan. Dengan membuat perjanjian perkawinan sebelum dilangsungkannya perkawinan calon pasangan suami istri mempunyai kesempatan untuk saling terbuka dan dapat saling berbagi keinginan yang hendak disepakati tanpa harus merugikan salah satu pihak. Dari segi status hukum perjanjian perkawinan ini tidak wajib dilakukan namun cukup bermanfaat bagi pasangan calon suami istri apabila terjadi konflik rumah tangga setelah perkawinan tersebut berlangsung.
Secara umum perjanjian perkawinan memuat tentang pengaturan harta kekayaan calon suami istri dan tujuan dari pembuatan perjanjian perkawinan adalah untuk mengatur akibat-akibat hukum dari perkawinan yang menyangkut harta kekayaan pasangan calon suami istri selama perkawinan berlangsung. Perjanjian perkawinan tidak hanya sebatas memperjanjikan masalah keuangan atau harta namun yang juga penting diperjanjikan adalah tentang sikap dan perilaku calon pasangan suami istri selama perkawinan berlangsung khususnya dalam hal perlakuan masing-masing pihak agar tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga.47
47 Nasrullah Ali Rahman, Perjanjian Perkawinan dan Taklik Taklak, Pradnya Paramitha, Jakarta, 2003, hal. 62.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur secara tegas tentang perjanjian perkawinan, hanya dinyatakan bahwa kedua belah pihak dapat mengadakan perjanjian tertulis yaitu perjanjian perkawinan. Dalam ketentuan ini tidak disebutkan batasan yang jelas, bahwa perjanjian perkawinan itu mengenai hal apa saja secara rinci. Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur lebih lanjut bagaimana tentang perjanjian dimaksud, hanya disebutkan bahwa kalau ada perjanjian perkawinan harus dimuat di dalam akta perkawinan. Dari segi tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan masih sedikit calon pasangan suami istri yang memandang hal ini sebagai sesuatu yang positif. Hal ini disebabkan karena perjanjian perkawinan masih dianggap tabu (pamali) pada masyarakat Indonesia. Ada sebagian masyarakat yang dapat menerima konsep pemikiran tentang pembuatan perjanjian perkawinan, tetapi lebih banyak masyarakat yang belum menerimanya disebabkan adanya pandangan negatif yang menganggap perjanjian perkawinan sebagai sesuatu yang tidak umum, tidak etis, penuh kecurigaan, egois, dan tidak sesuai dengan budaya orang timur yang penuh etika. Sebaliknya perjanjian perkawinan yang dianggap masih tabu dilakukan oleh masyarakat awam, justru menjadi gejala baru dikalangan kelompok tertentu seperti misalnya kaum selebritis, pengusaha dan lain-lain. Kaum selebritis dan pengusaha pada umumnya berpandangan bahwa tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan adalah untuk melindungi harta miliknya apabila terjadi perceraian. Dalam perjanjian perkawinan yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Keterbukaan dalam mengungkapkan semua detail kondisi keuangan baik sebelum maupun sesudah pernikahan. Berapa jumlah harta bawaan masing-masing pihak sebelum menikah dan bagaimana potensi bertambahnya sejalan dengan meningkatnya penghasilan atau karena hal lain misalnya menerima warisan. Kemudian berapa jumlah hutang bawaan masing-masing pihak sebelum menikah, bagaimana potensi hutang setelah menikah dan siapa yang bertanggung jawab terhadap pelunasan hutangnya. Tujuannya agar tahu persis apa yang akan diterima dan apa yang akan dikorbankan jika perkawinan berakhir, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan nantinya.
2. Kerelaan perjanjian pra nikah harus disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak secara sukarela tanpa paksaan. Jika salah satu pihak merasa dipaksa, karena diancam atau berada dalam tekanan sehingga terpaksa menandatanganinya, perjanjian pra nikah bisa diancam batal karenanya.
3. Pejabat yang objektif. Pilihlah pejabat berwenang yang bereputasi baik dan bisa menjaga obyektivitas, sehingga dalam membuat isi perjanjian pra nikah bisa tercapai keadilan bagi kedua belah pihak.
4. Notariil. Perjanjian pra nikah sebaiknya tidak dibuat di bawah tangan tetapi harus disahkan oleh notaris. Kemauan harus dicatatkan pula dalam lembaga pencatatan perkawinan, artinya pada saat pernikahan di langsungkan
perjanjian pra nikah juga harus disahkan pula oleh pegawai pencatat perkawinan (KUA maupun Kantor Catatan Sipil).48
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan adalah sebagai upaya pengaturan harta benda kekayaan pasangan calon suami istri baik harta bawaan masing-masing maupun harta yang diperoleh selama masa perkawinan berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar tercapai suatu kepastian hukum dalam pengaturan harta benda perkawinan diantara pasangan calon suami istri tersebut.
Dari segi manfaat pembuatan perjanjian perkawinan adalah untuk :
1. Memberikan perlindungan hukum terhadap harta benda bahwa dari masing-masing pasangan calon suami istri apabila nantinya perkawinan tersebut mengalami konflik dan berakhir pada perceraian.
2. Memberikan kepastian huku terhadap status harta bersama yang diperoleh selama masa perkawinan bagi pasangan calon suami istri bila dalam perkawinannya tersebut terjadi konflik dan berakhir pada perceraian serta pembagian harta bersama.
3. Memberikan kepastian dan perlindungan hukum terhadap harta bawaan dan harta bersama yang menjadi hak dari masing-masing pasangan calon suami istri maupun hak bersama dari pasangan calon suami istri tersebut apabila terjadi pembagian harta disebabkan terjadinya perceraian.
48 Juarno Darman, Perjanjian Perkawinan dan Unsur-unsurnya, Mitra Ilmu, Surabaya, 2006, hal. 50.
4. Memberikan perlindungan hukum terhadap masing-masing calon pasangan suami istri dalam hal penguasaan dan penggunaan harta bawaan atau pribadi maupun harta bersama selama perkawinan berlangsung sehingga mempermudah terjadinya pembagian harta apabila terjadi perceraian.
5. Memberi perlindungan bagi kaum perempuan karena dengan adanya perjanjian perkawinan maka hak-hak dan keadilan kaum perempuan (istri) dapat terlindungi karena perjanjian perkawinan tersebut dapat dijadikann pegangan agar suami tidak memonopoli harta gono gini dan harta kekayaan pribadi.
6. Membebaskan masing-masing pasangan calon suami istri dari kewajiban ikut membayar hutang pasangannya karena harta bersama tidak hanya mencakup harta bergerak dan tidak bergerak milik masing-masing pasangan, baik yang sudah ada maupun yang akan ada namun berdasarkan Pasal 35 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan harta bersama juga meliputi semua hutang yang dibuat masing-masing suami istri, baik sebelum perkawinan berlangsung bahkan selama perkawinan berlangsung.
7. Menjamin berlangsungnya harta peninggalan keluarga karena berdasarkan Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa, “Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan
berada di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain”.49