• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen Laporan Penelitian 2021 (Halaman 14-18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salat merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dalam menjalankan kewajiban tersebut senantiasa tidak bisa lepas dari aturan yang mengikatnya. Diantara aturan yang mengikat tersebut yaitu berkenaan dengan ketentuan arah menghadap dan waktu ketika menjalankannya. Arah menghadap ketika salat dalam kajian ilmu falak disebut dengan istilah kiblat1, sedangkan waktu menjalankan salat biasa dikenal dengan sebutan waktu salat.

Kajian tentang arah kiblat dan waktu salat dalam khazah Islam dibahas dan dipelajari dalam ilmu falak2. Ilmu falak sendiri ada yang menyebutnya dengan nama astronomi, ada pula yang menyebutnya dengan ilmu perhitungan atau ilmu hisab yang berarti perhitungan (arithmatic)3, Selaras dengan penyebutan nama – nama Ilmu falak tersebut, sebenarnya ilmu falak merupakan ilmu yang sangat erat kaitannya dengan perhitungan astronomis tentang posisi Bulan dan Matahari, yang semuanya diorientasikan relasinya dengan ibadah dan salah satu pokok bahasannya adalah penentuan arah kiblat dan waktu salat4.

Seirama dengan peyebutan nama-nama ilmu falak tersebut, maka jika direlasikan dengan arah kiblat dan waktu salat maka akan terjadi sebuah segitiga emas hubungan keilmuan. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini:

1 Kiblat menurut bahasa berarti arah, yang dimaksud dengan arah yaitu ka’bah ( Hambali, 2011 : 167). Hal ini selaras dengan dengan penjelasan Khazin (2005:69) bahwa kiblat adalah arah ka’bah di Makkah yang harus dituju oleh orang yang sedang melakukan salat, sehingga semua gerakan salat, baik ketika berdiri, ruku’, maupun sujud senantiasa berimpit dengan arah itu

2 Slamet Hambali, Ilmu falak 1(Semarang, Program pasca sarjana 2011), 5.

3 Ibid, 2-3

4 Ibid, 5

Berdasarkan bagan tersebut di atas dapat diperoleh gambaran bahwa jika ingin melakukan perhitungan arah kiblat atau waktu salat ada tiga keilmuan yang berperan, yaitu fiqih, matematika dan astronomi. Fiqih memiliki fungsi untuk mengakji tentang hukum mengahdap arah kiblat atau waktu salat berdasarkan dasar hukum ajaran agama. Matematika memiliki fungsi untuk menentukan tata cara perhitungannya, sedangkan astronomi secara sederhana yaitu memiliki fungsi menyiapkan data-data perhitungan.

Keintegrasian ilmu antara agama dan sains, ini yang kemudian melahirkan kemudahan bagi umat islam untuk menentukan arah kiblat dan jadwal waktu salat. Sebagai contoh tentang penentuan waktu salat dzuhur, salat dzuhur dalam fiqih dijelaskan yaitu dimulai dari tergelincirnya matahari ke arah barat sampai panjang bayangan suatu benda sama dengan panjang aslinya. Andaikan tidak ada matematika dan astronomi, guna memastikan sudah masuk atau belum waktu salat dzuhur, maka seorang muslim akan melihat posisi matahari sudah tergelincir atau belum. Sudah barang tentu, ini akan menyulitkan. Hadirnya matematika dan astronomi yang diintegrasikan dengn fiqih maka dapat dibuat jadwal salat yang membuat umat islam lebih mudah untuk menjalankannya.

Terkait dengan keintegrasian ilmu ini, Agus Purwanto seorang penggagas konsep Pesantren Sains (Trensains) yang sekaligus ilmuwan di bidang fisika teoritik dari ITS Surabaya5 dalam bukunya nalar ayat - ayat semesta menjelaskan bahwa pola integrasi yang ideal antara sains dan Islam adalah ketika sains sepenuhnya dibangun atas fondasi wahyu dan tradisi, al-Qur’an dan Sunnah6.

Lebih lanjut Agus Purwanto dalam pengantarnya menjelaskan bahwa spirit buku nalar ayat - ayat semesta itu sendiri adalah untuk memperkuat kedudukan al-Qur’an sebagai basis ilmu pengetahuan7. Hal ini selaras dengan yang diuraikan oleh khoirudin bahwa Nalar Ayat-Ayat Semesta (AAS) dalam melakukan integrasi agama dan sains tidak menggunakan cara atau langkah pembeberan ayat-ayat dengan menggunakan sains yang sudah ada, juga tidak melakukan langkah atau cara hanya berusaha menjelaskan Islam dengan terminologi sains. Akan tetapi Nalar AAS menggunakan cara atau langkah yaitu sains dikonstruksi berdasarkan Al-Qur’an. Sains Islam tidak hanya menggabungkan atau mencocokkan Sains dan Wahyu, tetapi berserta interaksinya dengan menggunakan filsafat8.

Nalar ayat-ayat semesta terdiri dari enam bab, yang meliputi Islam dan sains, kosmologi, astronomi, biologi, kuantum, estetika dan teknologi. Terkait dengan arah kiblat dan waktu salat yang menjadi tema awal dalam latar belakang ini, dalam buku nalar ayat-ayat semesta dibahas dalam bagian astronomi. Pada bab astronomi, dalam buku tersebut terdiri dari sub bab pembahasan yang meliputi Bumi melayang diruang angkasa, dua timur dan dua barat, salat di permukaan Bumi, spin Bumi, struktur interior Bumi, gempa Bumi dan tsunami, hari

5 http://www.laduni.id/post/read/55956/sma-trensains-pesantren-sains-tebuireng-jombang

6 Agus Purwanto, Nalar ayat-ayat semesta (Jakarta:mizan, 2015 ). 175

7 Ibid, vii

8 Azaki khoriudin, Sains Isalam berbasis nalar ayat-ayat semesta,(Ponorogo: At-Ta’dib. Vol. 12. No. 1, June 2017).215-216

tanpa malam, satuan waktu hari dan tahun, musim dan kalender, wajah Bulan, Bulan sabit, Bulan purnama, kalender tahun 1431-1440, balap antara Bulan dan Matahari, langit dan hiasannya, dada sesak saat mendaki langit9

Salat di permukaan bumi dalam buku tersebut dibahas mulai halaman 324 -334.

Pembahasan terkait dengan salat di permukaan bumi ini, dalam pembahasannya tidak ada sub bab, melainkan langsung secara utuh satu bab. Hal ini jika direlasikan dengan yang penulis sampaikan dalam bagan sebelumnya bahwa dalam kaitannya dengan perhitungan arah kiblat dan awal waktu salat ada tiga keilmuan yang terkandung di dalamnya yaitu fiqih, matematika, dan astroomi, maka diperlukan sebuah penelitian lebih lanjut terkait dengan buku nalar ayat-ayat semesta tersebut, sehingga akan diperoleh sebuah pemetaan tentang fiqih, matematikam dan astronominya.

Sisi yang lain, Agus Purwanto bukan hanya menulis buku, melainkan juga menggagas beridirinya pesantren sains (Trensains). Terkait dengan trensains ini, Agus Purwanto memiliki sebuah harapan yaitu

Bisa melahirkan kembali sosok Ibnu Sina yang ahli dalam bidang keilmuan agama tapi juga tidak buta akan ilmu kedokteran dan filsafat. Begitu juga Ibnu Rusyd yang mahir akan keintelektualan ilmu fikih tapi tidak buta akan filsafat dan ilmu umum lainnya. Penemuan angka nol, pemetaan geografi bumi, optik, kedokteran itu semua mempunyai rahim dari keintelektualan kaum muslim yang harus kita raih kembali. Sebagaimana Allah Swt memerintahkan manusia untuk merenungi kejadian-kejadian alam semesta. Ini berarti ketika seseorang mempelajari Biologi, Fisika, Kimia, Geografi dan Astronomi, sejatinya orang tersebut sedang memahami pikiran, keagungan dan kehadiran sang Maha Pencipta, Allah Swt.10

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik sebuah benang merah antara buku Nalar ayat-ayat semesta dengan pesantren sains yaitu sama-sama buah pikir dari agus purwanto.

9 Op.cit. xv-xvi

10 Op.cit 214

asumsi awal penulis, buku nalar ayat-ayat semesta berisi tentang teori-teori, sedangkan trensains adalah bagian terkecil dari cara untuk melakukan sebuah implementasi dari teori tersebut. Selaras dengan itu, penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian terhadap buku Nalar ayat-ayat semesta terkait dengan arah kiblat dan waktu salat, serta implementasinya di pesantren sains (trensains).

Dalam dokumen Laporan Penelitian 2021 (Halaman 14-18)

Dokumen terkait