• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Penelitian 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Laporan Penelitian 2021"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

Kluster Penelitian : Penelitian Pembinaan/

Peningkatan Kapasitas (PPK)

DASAR – DASAR MATEMATIKA ASTRONOMI PERHITUNGAN ARAH KIBLAT DAN WAKTU SALAT

DALAM NALAR AYAT - AYAT SEMESTA DAN IMPLEMENTASINYA DI PESANTREN SAINS (TRENSAINS)

Pengusul:

Nama : Agus Solikin, S.Pd., M.S.I.

NIP : 198608162015031003

NIDN : 0716088604

ID LITAPDIMAS : 071608860407826

PRODI ILMU FALAK

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

Laporan Penelitian 2021

(2)

JURNAL BIMBINGAN PENULISAN LAPORAN PENELITIAN

Nama Peneliti : Agus Solikin, S.Pd., M.S.I.

Judul Penelitian : Dasar – Dasar Matematika Astronomi Perhitungan Arah Kiblat Dan Waktu Salat Dalam Nalar Ayat - Ayat Semesta Dan Implementasinya Di Pesantren Sains (Trensains)

No. Tanggal Materi Bimbingan Paraf

Pembimbing

Catatan Pembimbing :

______________________________________________________________________________

______________________________________________________________

Surabaya, Oktober 2021 Reviewer/ Pembimbing,

Prof. Dr. Kusaeri, M.Pd.

NIP 197206071997031001

(3)

LEMBAR PENILAIAN LAPORAN PENELITIAN

Nama Peneliti : Agus Solikin, S.Pd., M.S.I.

Judul Penelitian : Dasar – Dasar Matematika Astronomi Perhitungan Arah Kiblat Dan Waktu Salat Dalam Nalar Ayat - Ayat Semesta Dan Implementasinya Di Pesantren Sains (Trensains)

No. Aspek Penilaian Nilai

(Skala 0-4) 1. Kelengkapan Laporan :

Halaman Judul, Daftar Isi, Kata Pengantar, Izin Penelitian, Pedoman Transliterasi, Nota Bimbingan dan Ujian, Daftar Isi, Abstrak dua Bahasa (Bahasa Inonesia dengan Bahasa Arab atau Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris), Isi, Daftar Pustaka, dan Lampiran Lain

2. Teknik Penulisan :

Penggunaan Transliterasi, Numbering, Penggunaan Huruf Kapital, Cetak Miring/Tebal, Penulisan Catatan Kaki, Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

3. Isi Laporan :

a. Abstrak Berisi Penjelasan Singkat Mengenai Focus Penelitian, Metode yang digunakan dan Hasil/Temuan Penelitian dilengkapi dengan Kata Kunci.

b. Isi Penelitian : Kesesuaian Rumusan Masalah, Landasan Teori/Kerangka Konseptual, Penyajian dan Analisis Data serta Kesimpulan.

c. Draft Artikel untuk Jurnal berisi: Abstrak Dan Kata Kunci, Permasalahan, Metodologi, Paparan Data, Analisis Dan Hasil Penelitian, Khusus Penelitian Lanjutan disertai Temuan Teori.

d. Dummi Buku (Bagi kluster yang mempersyaratkan) Rata-rata

Rekomendasi Reviewer/Pembimbing

1. Luaran penelitian sesuai dengan ketentuan Ya Tidak 2. Blokir 30 % dana penelitian dapat dibuka Ya Tidak

Surabaya, 2021 Reviewer/ Pembimbing,

Prof. Dr. Kusaeri, M.Pd.

NIP 197206071997031001 Konversi Nilai :

0,00 – 1,50 : Tidak Layak 1,51 – 2,50 : Cukup 2,51 – 3,50 : Baik

3,51 – 4,00 : Sangat Baik

(4)

NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING LAPORAN HASIL PENELITIAN

Setelah diadakan pembimbingan dan pengujian terhadap laporan hasil penelitian : N a m a : Agus Solikin, S.Pd., M.S.I.

NIP. : 198608162015031003 Fakultas : Fakultas Syariah dan Hukum Kategori : Peningkatan Kapasitas

Judul : Dasar – Dasar Matematika Astronomi Perhitungan Arah Kiblat Dan Waktu Salat Dalam Nalar Ayat - Ayat Semesta Dan Implementasinya Di Pesantren Sains (Trensains)

Bahwa laporan hasil penelitian tersebut di atas sudah sesuai dengan ketentuan Petunjuk Teknis Program Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2021.

Surabaya, Oktober 2021 Reviewer/ Pembimbing

Prof. Dr. Kusaeri, M.Pd.

NIP 197206071997031001

(5)

Abstrak

Salat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, dalam menjalankannya tidak bisa dipisahkan dengan ketentuan untuk menghadap kiblat dan waktu untuk melaksanakannya.

Penentuan arah kiblat dan waktu salat yang tidak bisa dipisahkan dari perhitungan terkait arah kiblat dan waktu salat tersebut dikaji dalam ilmu falak. Kajian ilmu falak, dalam prakteknya melibatkan ilmu fiqh, matematika, dan astronomi. Sehingga, terkait arah kiblat dan waktu salat dapat disimpulkan adalah contoh nyata tentang integrasi keilmuan antara agama dan sains.

Integrasi agama dan sains ini yang juga menjadi pembahasan dalam buku nalar ayat ayat semesta yang ditulis oleh Agus Purwanto penggagas pesantren sains. Selaras dengan itu, penelitian ini direncanakan bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan tentang dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta serta implementasinya di pesantren sains (trensains).

Berangkat dari tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dalam penelitian kualitatif, dengan sumber data terdiri dari sumber data primer dan skunder. Tehnik pengumpulan data yang direncanakan yaitu melalui wawancara dan dokumentasi. Wawancara yang telah dilakukan yaitu dengan penulis nalar ayat - ayat semesta. Dokumentasi dilakukan untuk mendokumentaikan pelaksanaan implemntasi nalar ayat - ayat semesta di pondok tersebut. Tehnik analisis data yang akan digunakan yaitu diskriptif analisis induktif.

Berdsarkan penelitian yang telah dilakukan dapat dismpulkan bahwa dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta yaitu meliputi pengertian titik, garis, sudut, system koordinat, dan arah. Selanjutnya yaitu materi terkait dengan segitiga, lingkaran, trigonometri, aturan sinus dan cosinus segitiga datar, segitiga bola, aturan sinus dan cosinus segitiga bola, dan ditutup dengan perhitungan arah kiblat.

Kesimpulan yang kedua Implementasi dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta di pesantren sains (trensains) dapat dilihat dalam praktek pengukuran arah kiblat dengan memanfaatkan posisi matahari saat di atas ka’bah, atau dalam kajian ilmu falak disebut dengan rasydul qiblat global. Implementasi juga terliaht ketika dilaksanakannya praktikum hari tanpa bayangan.

Selaras dengan kesimpulan tersebut, penulis memberikan saran Dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta teruraikan secara jelas, namun terkait dengan ketentuan menghadap kiblat yang dilihat dari bujur teempat daerah yang dihitung belum ada penjelasan, penjelasan arah kiblat sebatas untuk wilayah Indonesia, sehingga perlu memasukkan di penjelasan yang lain terkait dengan materi ketentuan menghadap kiblat yang dilihat dari bujur teempat daerah.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobil’alamin segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan nikmat berupa iman, Islam, dan atas rahmat hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini tepat waktu. Sholawat serta salam, penulis haturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw, yang telah menjadi penuntun kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang melalui Islam. Penelitian berjudul “Dasar – Dasar Matematika Astronom Perhitungan Arah Kiblat Dan Waktu Salat Dalam Nalar Ayat - Ayat Semesta Dan Implementasinya Di Pesantren Sains (Trensains)” ini disusun untuk memenuhi salah satu dari tri dharma perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian,dan pengabdian.

Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis memperoleh bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara moril maupun materiil. Untuk itu, tiada kata yang layak penulis sampaikan selain ucapan terima kasih, khususnya kepada:

1. Bapak Prof. Masdar Hilmy, MA, Ph, D. Selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya.

2. Bapak Dr. Phil. Khoirun Niam Selaku Kepala Penelitian dan penerbitan LP2M Universitas

Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

3. Bapak Prof. DR. Kusaeri, M.Pd. Selaku Pembimbing penulis dalam menyelesaikan laporan

penelitian ini

4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang secara langsung maupun

tidak langsung membantu penulis dalam menyusun skripsi ini.

(7)

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak mengandung kekurangan, baik secara teknik maupun jangkauan materi. Oleh karena itu, kritik dan saran dari seluruh pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penelitian ini.

Harapan penulis, semoga skripsi ini bermanfaat bagi dunia pendidikan dan bias memberi sumbangan pemikiran bagi yang memerlukannya.

Surabaya, Oktober 2021 Penulis

(8)

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Berdasarkan SKB Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158/1987 dan no. 0543 b/U/1987. Tertanggal 22 Januari 1988

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

ا Alif - -

ب bā‘ B be

ت tā' t te

ث Śā ś es dengan titik di atas

ج Jim j je

ح Ha h ha dengan titik di bawah

خ Khā kh Ka - ha

د Dāl d de

ذ Żal ż zet dengan titik di atas

ر Ra r er

ز Zai z zet

س Sīn s es

ش Syīn sy Es - ye

ص Sād ş es dengan titik di bawah

ض Dād d de dengan titik di bawah

ط Tā’ ţ te dengan titik di bawah

ظ Zā' z zet dengan titik di bawah

ع ‘ain ‘ koma terbalik di atas

غ Gain g ge

(9)

ف fā‘ f ef

ق Qāf q qi

ك Kāf k ka

ل Lām l el

م Mīm m em

ن Nūn n en

و Wau w we

ﻫ hā’ h h

ء Hamzah ' apostrof

ي yā' y ye

B. Vokal

1. Vokal Tunggal:

Tanda Vokal Nama Huruf Latin Nama

َ fathah A A

ِ kasrah I I

ِ dammah U U

2. Vokal Rangkap

Tanda Vokal Nama Huruf Latin Nama

ي َ fathah dan ya Ai A-i

و َ fathah dan wau Au A-u

Contoh: فيك : kaifa لوح : haula 3. Vokal Panjang (maddah):

Tanda Nama Huruf Latin Nama

ا fathah dan alif ā a dengan garis di atas

ي fathah dan ya ā a dengan garis di atas

ي kasrah dan ya ī i dengan garis di atas

و dammah dan wau ū u dengan garis di atas

Contoh:

(10)

لاق : qāla ليق : qīla

ىمر : ramā لوقي : yaqūlu

C. Ta’ Marbūtah

a. Transliterasi Ta’ Marbūtah hidup adalah “t”.

b. Transliterasi Ta’ Marbūtah mati adalah “h”.

c. Jika Ta’ Marbūtah diikuti kata yang menggunakan kata sandang “ _” (“al-”), dan bacaannya terpisah, maka Ta’ Marbūtah tersebut ditransliterasikan dengan “h”.

Contoh:

لافطلأا ةضور : raudah al-atfāl

ةرونملا ةنيدملا : al-Madīnah al-Munawwarah ةحلط : talhah

D. Huruf Ganda (Syaddah atau Tasydid)

Transliterasi syaddah atau tasydīd dilambangkan dengan huruf yang sama, baik ketika berada di awal atau di akhir kata.

Contoh:

ل ّزن : nazzala ّربلا : al-birru E. Kata Sandang “ لا “

Kata sandang “لا “ ditransliterasikan dengan “al” diikuti dengan tanda penghubung “-“ baik ketika bertemu dengan huruf qamariyah maupun huruf syamsiyah.

Contoh:

ملقلا : al-qalamu سمشلا : al-syamsu F. Huruf Kapital

Meskipun tulisan Arab tidak mengenal hurup kapital, tetapi dalam transliterasi huruf kapital digunakan untuk awal kalimat, nama diri, dan sebagainya seperti ketentuan EYD. Awal kata sandang pada nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital, kecuali jika terletak pada permulaan kalimat.

Contoh:

الادمحمامو

لوسر : Wa mā Muhammadun illā rasūl

(11)

DAFTAR ISI

jurnal Bimbingan Penulisan Laporan Penelitian... ii

Lembar Penilaian Laporan Penelitian ... iii

Nota Persetujuan Pembimbing ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar ... vi

Pedoman Transliterasi Arab-Latin ... viii

daftar isi ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang. ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kajian Pustaka ... 6

E. Kerangka Toeri ... 11

F. Metode Penelitian ... 15

G. Sistematika Penulisan ... 17

BAB II ARAH KIBLAT DAN WAKTU SALAT ... 18

A. Arah Kiblat... 18

1. Pengertian Kiblat Menurut Bahasa Dan Istilah ... 18

2. Dalil–Dalil Yang Berkenaan Dengan Arah Kiblat ... 18

3. Segitiga Bola Arah Kiblat ... 21

4. Rumus Arah Kiblat ... 23

(12)

5. Pengukuran Arah Kiblat ... 26

B. Waktu Salat ... 28

1. Waktu Salat Menurut Al-Quran ... 30

2. Waktu Salat Menurut Hadits ... 33

3. Waktu Salat Ditinjau Dari Astronomis... 35

BAB III ARAH KIBLAT DAN WAKTU SALAT DALAM NALAR NALAR AYAT AYAT SEMESTA ... 42

A. Penulis Nalar Ayat Ayat Semesta ... 42

B. Sekilas Tentang Nalar Ayat Ayat Semesta ... 43

C. Arah Kiblat Dalam Nalar Ayat Ayat Semesta ... 45

D. Waktu Salat Dalam Nalar Ayat Ayat Semesta ... 55

BAB IV DASAR – DASAR MATEMATIKA ASTRONOMI PERHITUNGAN ARAH KIBLAT DAN WAKTU SALAT DALAM NALAR AYAT - AYAT SEMESTA DAN IMPLEMENTASINYA DI TRENSAINS ... 62

A. Dasar – Dasar Matematika Astronomi Perhitungan Arah Kiblat Dan Waktu Salat Dalam Nalar Ayat - Ayat Semesta ... 62

1. Pengertian Kiblat ... 62

2. Dalil–Dalil Yang Berkenaan Dengan Arah Kiblat ... 63

3. Kaidah Matematika ... 65

A. Pengertian Titik, Garis, Sudut, Dan Sistem Koordinat ... 65

B. Pengertian Arah ... 73

C. Segitiga Bidang Datar ... 75

D. Lingkaran ... 78

E. Trigonometri ... 79

(13)

F. Geometri Bola... 85

G. Kalkulator ... 95

4. Kaidah Astronomi ... 98

A. Bentuk Bumi ... 98

B. Sistem Koordinat Bumi ... 98

5. Perhitungan Arah Kiblat ... 101

6. Ketentuan Perhitungan Selisih Bujur Dan Kemungkinan Arah Kiblat ... 106

7. Metode Perhitungan Arah Kiblat Dengan Menggunakan Aturan Sinus Kosinus ... 107

8. Contoh Perhitungan Arah Kiblat ... 109

B. Implementasinya Dasar – Dasar Matematika Astronomi Perhitungan Arah Kiblat Dan Waktu Salat Dalam Nalar Ayat - Ayat Semesta Di Pesantren Sains (Trensains) ... 112

BAB V PENUTUP ... 118

A. Kesimpulan ... 118

B. Saran ... 118

Daftar Pustaka ... 120

Lampiran Ijin Penelitian Dari LP2M UINSA ... 123

Lampiran Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 124

Lampiran Bukti Zoom... 125

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Salat merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dalam menjalankan kewajiban tersebut senantiasa tidak bisa lepas dari aturan yang mengikatnya. Diantara aturan yang mengikat tersebut yaitu berkenaan dengan ketentuan arah menghadap dan waktu ketika menjalankannya. Arah menghadap ketika salat dalam kajian ilmu falak disebut dengan istilah kiblat1, sedangkan waktu menjalankan salat biasa dikenal dengan sebutan waktu salat.

Kajian tentang arah kiblat dan waktu salat dalam khazah Islam dibahas dan dipelajari dalam ilmu falak2. Ilmu falak sendiri ada yang menyebutnya dengan nama astronomi, ada pula yang menyebutnya dengan ilmu perhitungan atau ilmu hisab yang berarti perhitungan (arithmatic)3, Selaras dengan penyebutan nama – nama Ilmu falak tersebut, sebenarnya ilmu falak merupakan ilmu yang sangat erat kaitannya dengan perhitungan astronomis tentang posisi Bulan dan Matahari, yang semuanya diorientasikan relasinya dengan ibadah dan salah satu pokok bahasannya adalah penentuan arah kiblat dan waktu salat4.

Seirama dengan peyebutan nama-nama ilmu falak tersebut, maka jika direlasikan dengan arah kiblat dan waktu salat maka akan terjadi sebuah segitiga emas hubungan keilmuan. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini:

1 Kiblat menurut bahasa berarti arah, yang dimaksud dengan arah yaitu ka’bah ( Hambali, 2011 : 167). Hal ini selaras dengan dengan penjelasan Khazin (2005:69) bahwa kiblat adalah arah ka’bah di Makkah yang harus dituju oleh orang yang sedang melakukan salat, sehingga semua gerakan salat, baik ketika berdiri, ruku’, maupun sujud senantiasa berimpit dengan arah itu

2 Slamet Hambali, Ilmu falak 1(Semarang, Program pasca sarjana 2011), 5.

3 Ibid, 2-3

4 Ibid, 5

(15)

Berdasarkan bagan tersebut di atas dapat diperoleh gambaran bahwa jika ingin melakukan perhitungan arah kiblat atau waktu salat ada tiga keilmuan yang berperan, yaitu fiqih, matematika dan astronomi. Fiqih memiliki fungsi untuk mengakji tentang hukum mengahdap arah kiblat atau waktu salat berdasarkan dasar hukum ajaran agama. Matematika memiliki fungsi untuk menentukan tata cara perhitungannya, sedangkan astronomi secara sederhana yaitu memiliki fungsi menyiapkan data-data perhitungan.

Keintegrasian ilmu antara agama dan sains, ini yang kemudian melahirkan kemudahan bagi umat islam untuk menentukan arah kiblat dan jadwal waktu salat. Sebagai contoh tentang penentuan waktu salat dzuhur, salat dzuhur dalam fiqih dijelaskan yaitu dimulai dari tergelincirnya matahari ke arah barat sampai panjang bayangan suatu benda sama dengan panjang aslinya. Andaikan tidak ada matematika dan astronomi, guna memastikan sudah masuk atau belum waktu salat dzuhur, maka seorang muslim akan melihat posisi matahari sudah tergelincir atau belum. Sudah barang tentu, ini akan menyulitkan. Hadirnya matematika dan astronomi yang diintegrasikan dengn fiqih maka dapat dibuat jadwal salat yang membuat umat islam lebih mudah untuk menjalankannya.

(16)

Terkait dengan keintegrasian ilmu ini, Agus Purwanto seorang penggagas konsep Pesantren Sains (Trensains) yang sekaligus ilmuwan di bidang fisika teoritik dari ITS Surabaya5 dalam bukunya nalar ayat - ayat semesta menjelaskan bahwa pola integrasi yang ideal antara sains dan Islam adalah ketika sains sepenuhnya dibangun atas fondasi wahyu dan tradisi, al-Qur’an dan Sunnah6.

Lebih lanjut Agus Purwanto dalam pengantarnya menjelaskan bahwa spirit buku nalar ayat - ayat semesta itu sendiri adalah untuk memperkuat kedudukan al-Qur’an sebagai basis ilmu pengetahuan7. Hal ini selaras dengan yang diuraikan oleh khoirudin bahwa Nalar Ayat-Ayat Semesta (AAS) dalam melakukan integrasi agama dan sains tidak menggunakan cara atau langkah pembeberan ayat-ayat dengan menggunakan sains yang sudah ada, juga tidak melakukan langkah atau cara hanya berusaha menjelaskan Islam dengan terminologi sains. Akan tetapi Nalar AAS menggunakan cara atau langkah yaitu sains dikonstruksi berdasarkan Al-Qur’an. Sains Islam tidak hanya menggabungkan atau mencocokkan Sains dan Wahyu, tetapi berserta interaksinya dengan menggunakan filsafat8.

Nalar ayat-ayat semesta terdiri dari enam bab, yang meliputi Islam dan sains, kosmologi, astronomi, biologi, kuantum, estetika dan teknologi. Terkait dengan arah kiblat dan waktu salat yang menjadi tema awal dalam latar belakang ini, dalam buku nalar ayat-ayat semesta dibahas dalam bagian astronomi. Pada bab astronomi, dalam buku tersebut terdiri dari sub bab pembahasan yang meliputi Bumi melayang diruang angkasa, dua timur dan dua barat, salat di permukaan Bumi, spin Bumi, struktur interior Bumi, gempa Bumi dan tsunami, hari

5 http://www.laduni.id/post/read/55956/sma-trensains-pesantren-sains-tebuireng-jombang

6 Agus Purwanto, Nalar ayat-ayat semesta (Jakarta:mizan, 2015 ). 175

7 Ibid, vii

8 Azaki khoriudin, Sains Isalam berbasis nalar ayat-ayat semesta,(Ponorogo: At-Ta’dib. Vol. 12. No. 1, June 2017).215-216

(17)

tanpa malam, satuan waktu hari dan tahun, musim dan kalender, wajah Bulan, Bulan sabit, Bulan purnama, kalender tahun 1431-1440, balap antara Bulan dan Matahari, langit dan hiasannya, dada sesak saat mendaki langit9

Salat di permukaan bumi dalam buku tersebut dibahas mulai halaman 324 -334.

Pembahasan terkait dengan salat di permukaan bumi ini, dalam pembahasannya tidak ada sub bab, melainkan langsung secara utuh satu bab. Hal ini jika direlasikan dengan yang penulis sampaikan dalam bagan sebelumnya bahwa dalam kaitannya dengan perhitungan arah kiblat dan awal waktu salat ada tiga keilmuan yang terkandung di dalamnya yaitu fiqih, matematika, dan astroomi, maka diperlukan sebuah penelitian lebih lanjut terkait dengan buku nalar ayat- ayat semesta tersebut, sehingga akan diperoleh sebuah pemetaan tentang fiqih, matematikam dan astronominya.

Sisi yang lain, Agus Purwanto bukan hanya menulis buku, melainkan juga menggagas beridirinya pesantren sains (Trensains). Terkait dengan trensains ini, Agus Purwanto memiliki sebuah harapan yaitu

Bisa melahirkan kembali sosok Ibnu Sina yang ahli dalam bidang keilmuan agama tapi juga tidak buta akan ilmu kedokteran dan filsafat. Begitu juga Ibnu Rusyd yang mahir akan keintelektualan ilmu fikih tapi tidak buta akan filsafat dan ilmu umum lainnya. Penemuan angka nol, pemetaan geografi bumi, optik, kedokteran itu semua mempunyai rahim dari keintelektualan kaum muslim yang harus kita raih kembali. Sebagaimana Allah Swt memerintahkan manusia untuk merenungi kejadian-kejadian alam semesta. Ini berarti ketika seseorang mempelajari Biologi, Fisika, Kimia, Geografi dan Astronomi, sejatinya orang tersebut sedang memahami pikiran, keagungan dan kehadiran sang Maha Pencipta, Allah Swt.10

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik sebuah benang merah antara buku Nalar ayat-ayat semesta dengan pesantren sains yaitu sama-sama buah pikir dari agus purwanto.

9 Op.cit. xv-xvi

10 Op.cit 214

(18)

asumsi awal penulis, buku nalar ayat-ayat semesta berisi tentang teori-teori, sedangkan trensains adalah bagian terkecil dari cara untuk melakukan sebuah implementasi dari teori tersebut. Selaras dengan itu, penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian terhadap buku Nalar ayat-ayat semesta terkait dengan arah kiblat dan waktu salat, serta implementasinya di pesantren sains (trensains).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan yang telah dipaparkan dalam latar belakang, rumusan maslah yang penulis tetapkan dalam proposal penelitian ini ada dua yaitu

1. Bagaimanakah dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta ?

2. Bagaimanakah implementasinya dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta di pesantren sains (trensains)?

C. Tujuan Penelitian

Selaras dengan rumusan masalah yang terdiri dari dua hal, maka tujuan dalam penelitian ini juga ditetapkan dua hal, yaitu untuk :

1. Mengetahui dan mendiskripsikan tentang dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat yang ada dalam nalar ayat - ayat semesta.

2. Mengetahui dan mendiskripsikan tentang implementasi dari dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat - ayat semesta di pesantren sains (trensains).

(19)

D. Kajian Pustaka

Guna mempermudah mengetahui kajian pustaka yang terkait dengan penelitian terdahulu, maka penulis akan uraikan kajian terdahulu dari beberapa kelompok, yaitu

1. Kajian terdahulu berdasarkan topik matematika astronomi dalam kajian falak

Sejauah penelusuran penulis, kajian terdahulu baik berupa buku, hasil penelitian dan artikel dalam jurnal terkait dengan topik matematika astronomi dan falak antara lain a. Anis Oktriawardani11, Karya ilmiah berupa skripsi dengan judul “Konsep Trigonometri

pada Segitiga Bola dan Aplikasinya dalam Menentukan Arah Kiblat.” Dalam penelitian ini fokus kajian yang dilakukan oleh Anis Oktriawardani yaitu mendiskripsikan tentang trigonometri bola dalam memahami perhitungan arah kiblat. Hal ini berbeda dengan kajian yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini yaitu mengkaji tentang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

b. Fajar Setiawati12, karya ilmiah berupa skripsi dengan judul “Aplikasi Trigonometri Pada Penentuan Waktu Shalat”. Skripsi ini fokus penelitian yaitu membahas tentang aplikasi dari trigonometri dalam penentuan waktu salat. Hal ini berbeda dengan dengan penelitian penulis yang akan dilakukan yaitu mengkaji tentang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

11 Skripsi Sarjana Pendidikan pada Universitas Muhammadiyah Malang, 2008

12 Skripsi Sarjana Pendidikan pada Universitas Muhammadiyah Malang, 2005

(20)

c. Agus Solikin13. Karya ilmiah berupa tesis penulis sendiri ini berjudul “Perhitungan Arah Kiblat Menurut Susiknan Azhari(Tinjauan Matematika Dan Astronomi Dalam Buku Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam Dan Sains Modern). Penelitian penulis dalam menyelesaikan study s2 ini, memfokuskan untuk merekonstruksi rumus-rumus perhitungan yang ada dalam buku Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam Dan Sains Modern karya Susiknan Azhari. Hal ini berbeda fokus kajian dengan penelitian penulis yang akan dilakukan yaitu mengkaji tentang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

d. Lutfi Adnan Muzamil14. Karya ini berupa buku dengan judul “Studi Falak Dan Trigonometri Cara Cepat Dan Praktis Memhami Trigonomteri Dalam Ilmu Falak”.

Buku ini fokus kajiannya yaitu trigonometri pada hisab awal bulan, sedangkan fokus kajian dengan penelitian penulis yang akan dilakukan yaitu mengkaji tentang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

Berdasarkan empat kajian terdahulu tersebut, secara umum dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa fokus penelitian penulis, berbeda dengan kajian-kajian yang ada sebelumnya.

2. Kajian terdahulu berdasarkan topik buku nalar-nalar ayat smeseta dan trensains

13 Tesis Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, 2011

14 Buku yang diterbitkan oleh di Yogyakarta : CV.Pustaka Ilmu Group, 2015

(21)

Sejauh penelusuran penuls, kajian terdahulu yang menitikfokuskan kajian terkait dengan nalar-nalar ayat smeseta dan trensains, antar lain

a. Nurul Ummatun15. Karya ilmiah berupa tesis ini berjudul “Pemikiran Islamisasi Ilmu Pengetahuan Agus Purwanto Dalam Buku Ayat-Ayat Semesta Dan Nalar Ayat-Ayat Semesta”. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis rencanakan dalam proposal ini, yaitu terkait obyek penelitian yaitu buku nalar ayat ayat semesta.

Namun, penelitian ini berbeda pada fokus penelitian, penelitian Nurul Ummatun memfokuskan pada pemikiran islamisasi ilmu pengetahuan, sedangkan fokus penelitian penulis yaitu mengkaji tentang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

b. Fauzi Annur16. Karya ilmiah berupa tesis ini berjudul “Integrasi-Interkoneksi Sains Dan Agama Pemikiran Agus Purwanto Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Islam”. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis rencanakan dalam proposal ini, yaitu terkait obyek penelitian yaitu Agus Purwanto penulis buku nalar ayat ayat ayat semesta. Namun, penelitian ini berbeda pada fokus penelitian, penelitian Fauzi Annur memfokuskan pada pemikiran Agus Purwanto tentang integrasi dan interkoneksi sains dan agama serta implikasinya dalam pendidikan Islam, sedangkan fokus penelitian penulis yaitu mengkaji tentang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

15 Tesis Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta : 2015

16 Tesis Pascasarjana IAIN Salatiga: 2017

(22)

c. Azaki Khoirudin17, berupa artikel dengan judul “Sains Islam Berbasis Nalar Ayat-Ayat Semesta”. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel tersebut bahwa fokus kajiannya yaitu untuk mengungkapkan tentang epistemologi yang dibangun dari Nalar Ayat Ayat Semesta. Hal ini menunjukkan bahwa, walaupun objek kajiannnya sama dengan penulis yaitu terkait dengan buku nalar ayat ayat semesta, namun memiliki fokus kajian yang berbeda. Azaki fokus kajian pada sudut pandang epistomologi,sedangkan penulis pada sudut pandang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat- ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

d. Mu’ammar Zayn Qadafy18, berupa artikel dengan judul “Nalar Ayat-Ayat Semesta Dan Meningkatnya Posisi Bahasa Arab Dalam Tafsir Al-Qur’an (Q. 76: 17)”. fokus kajian artikel tersebut yaitu terkait dengan metode tafsir. Hal ini menunjukkan bahwa.

meskipun objek kajiannnya sama dengan penulis yaitu terkait dengan buku nalar ayat ayat semesta, namun memiliki fokus kajian yang berbeda. Mu’ammar Zayn Qadafy fokus kajian pada sudut pandang tafsir, sedangkan penulis pada sudut pandang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

e. Mohamad Yasin Yusuf dkk19, berupa artikel dengan judul “Epistemologi Sains Islam Perspektif Agus Purwanto”. Artikel ini sebagaimana dijelaskan oleh penulisnya bahwa

17 Artikel yang dimuat dan diterbitkan di Ponorogo dalam jurnal: At-Ta’dib. Vol. 12. No. 1, June 2017

18 Artikel yang dimuat dan diterbitkan di STAI Al-Anwar Sarang dalam jurnal: Al-Itqan. AL-ITQĀN, Volume 3, No.1 Januari – Juli 2017

19 Artikel yang dimuat dan diterbitkan di IAIN Raden Intan Lampung dalam jurnal: Analisis, Volume 17, Nomor 1, Juni 2017

(23)

fokus kajiannya yaitu mengkaji pemikiran Agus Purwanto tentang epistemologi sains Islam sebagaimana yang dituangkannya dalam buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat- Ayat Semesta. Hal ini menunjukkan bahwa. walaupun objek kajiannnya sama dengan penulis yaitu terkait dengan buku nalar ayat ayat semesta, namun memiliki fokus kajian yang berbeda. Mohamad Yasin Yusuf dkk fokus kajian pada sudut pandang epistomologi Islam, sedangkan penulis pada sudut pandang dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

f. Ahmad Muttaqin20, berupa artikel dengan judul” Konstruksi Kurikulum Sains Islam Keindonesiaan (Integrasi Islam, Sains Kealaman, Sains Humaniora Dan Keindonesiaan)”. Sebagaiamana dijelaskan dalam artikel tersebut, yaitu penelitian ini mengambil lokasi penelitian di SMA Trensains Tebuireng Jombang. Hal ini menunjukkan kesamaan obyek lokasi penulis yang direncanakan, namun memiliki perbedaan yaitu artikel ini fokus kajian pada kurikulum, sedangkan penulis dalam penelitiannya memfokuskan pada dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

g. Hermawan21 , berupa artikel dengan judul “Interaksi Islam dan Sains: Studi Historis- Fenomenologis di SMA Trensains Sragen”. Artikel ini memfokuskan kajian pada interaksi yang ada di SMA Trensains Sragen antar Islam dan Sains. Hal ini menunjukkan

20 Artikel yang dimuat dan diterbitkan di Kementerian Agama (Kkemenag) RI di Jakarta dalam jurnal: EDUKASI:

Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, p-ISSN: 1693-6418, e-ISSN: 2580-247X tahun 2018

21 Artikel yang dimuat dan diterbitkan di Universitas Muhammadiyah Magelang di CAKRAWALA: Jurnal Studi Islam, Vol. XII, No. 2, 2017

(24)

kesamaan obyek lokasi penulis yang direncanakan, namun memiliki perbedaan yaitu artikel ini fokus pada interaksi yang ada di trensains anatar islam dan Sains, sedangkan penulis dalam penelitiannya memfokuskan pada dasar - dasar matematika dan astronomi yang ada dalam buku nalar ayat-ayat semeseta terkait dengan perhitungan arah kiblat dan waktu salat beserta implementasinya di pesantren sains (Trensains).

Berdasarkan tujuh kajian terdahulu terkait dengan buku nalar ayat ayat semesta.

Penulisnya, maupun trensains tersebut, secara umum dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa fokus penelitian penulis, berbeda dengan kajian-kajian yang ada sebelumnya.

E. Kerangka Toeri

Kerangka teori yang penulis tetapkan dalam penelitian ini meliputi 1. Matematika

Matematika secara umum dapat dipahami bahwa dalam kajiannya tidak bisa dilepaskan dengan operasinya yaitu dalam bahasa jawa disebut pipolondo yaitu sebuah adagium dari Ping yang berarti perkalian (X), poro yang memiliki arti pembagian (:), lan yang memberikan makna penjumlahan (+), dan sudo yang bermakna penguranga (-)22

Selaras dengan pemahaman tersebut Andriyani23 memberikan penjelasan tentang pengertian matematika, bahwa juga menjelaskan pengertian matematika yang hampir sama dengan penjelasan tersebut di atas

“Pengertian matematika dapat dijawab secara berbeda–beda tergantug kapan pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab, siapa yang menjawab dan apa saja yang dipandang, berbagai pendapat muncul tentang apa itu matematika sebagai ilmu tentang bilangan dan ruang: matematika adalah ilmu tentang struktur yang terorganisasikan: matematika adalah ilmu deduktif: matematika adalah ratunya ilmu

22 Penjelasan ini terdapat dalam http://ayuasnantia.student.umm.ac.id/artikel-pendidikan/,

23 Andiriyani, Melly, Matematika Sebagai Bahasa At-Tarbawi Vol VII No 1 tahun 2008

(25)

dan sekaligus pelayannya: matematika adalah bahasa simbol: matematika adalah bahasa numerik”

Berangkat dari penegrtian yang disampaikan oleh Andriyani tersebut, maka pada penelitian ini matematika penulis tetapkan memiliki pengertian yaitu suatu bahasa simbol yang terogrganisir dan terstruktur terkait dengan fokus penelitian tentang dasar-dasar perhitungan arah kiblat dan waktu salat yang ada dalam buku nalar ayat ayat semesta.

2. Astronomi

Astronomi secara umum dipahami yaitu ilmu yang terkait dengan perbintangan atau benda langit, sedangkan Susiknan Azhari dalam bukunya memberikan penjelasan tentang pembagian astronomi berdasarkan obyek Astronomi24 yaitu:

a. Astrometry

Astrometry adalah Astronomi yang membahas tentang posisi gerak diri, presisi, paralaks dan sebagainya.

b. Spektroskopi

Spektroskopi adalah Astronomi yang membahas atau fokus kajiannya pada unsur kimia, proses fisika tempat meteri berada.

c. Fotometri

Fotometri adalah Astronomi yang menjelaskan tentang pengukuran kuat cahaya, variasi kuat cahaya, dan warna.

Berdasarkan pengelompokan tersebut,maka astronomi yang ada dalam penelitian ini yaitu astronomi dalam kelompok astronometry, dikarenakan kajian yang akan dilakukan terkait dengan fokus penelitian yaitu dasar-dasar perhitungan arah kiblat dan waktu salat yang ada dalam buku nalar ayat ayat semesta, tidak bisa dilepaskan dengan pembahasa tentang posisi tempat yang akan dijadikan contoh perhitungan terkait dengan arah kiblat dan waktu salat, selain juga akan dibahas tentang posisi matahari terkait waktu salat.

24 Susiknan Azhari, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.), 2007

(26)

3. Perhitungan Arah kiblat dan waktu salat

Perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam kajian Islam dipelajari dan dikaji dalam kajian ilmu falak. sehingga terkait degan teori teori yang ada dalam pehitungan arah kiblat dan waktu salat akan merujuk pada literatur-literatur falak.

Perhitungan arah kiblat dalam kajian ilmu falak, sebagaimana dituliskan oleh Abdus Salam Nawawi25,Akh. Mukarram26 yaitu menggunakan rumus

Rumus cosinus dan sinus di definisikan sebagai berikut:

Cotan B= 𝑐𝑡𝑔 𝑏 sin 𝑎 + cos a cos C sin 𝐶

Atau

Cotan B= 𝑐𝑡𝑔 𝑏 sin 𝑎

sin 𝐶 - cos a ctg C Dimana,

B : Sudut arah kiblat untuk daerah di timur ka’bah C : Selisih bujur tempat dengan bujur ka’bah a : Busur (900− ɸ)

B : Busur (900− ɸk)

ɸ : Lintang tempat pengamat, dengan ketentuan ɸ < 00 (negatif) untuk selaatan ekuator, ɸ = 00 untuk ekuator, ɸ ˃ 00 (positif) untuk utara ekuator

ɸ𝑘 : Lintang ka’bah

Sedangkan terkait dengan perhitungan waktu salat, kedua buku tersebut meberikan penjelasan yang sama bahwa waktu salat sangat erat kaitannya dengan posisi Matahari27.

4. Nalar ayat ayat semesta

25 Abdus Salam Nawawi, Ilmu falak cara praktis menghitung waktu salat, arah kiblat, dan awal bulan, (Sidoarjo:Aqaba) 2010. 36

26 Akh. Mukarram, Ilmu falak Dasar Dasar hisab praktis, (Sidoarjo:Grafika Media) 2011, 96

27 Op.Cit., 23, lihat pula Akh. Mukarram, Ilmu falak Dasar Dasar hisab praktis, (Sidoarjo:Grafika Media) 2011, 69

(27)

Nalar ayat ayat semesta adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Agus Purwanto, seorang ahli fisika teoritis, lulusan universitas Hiroshima, Jepang. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Mizan.

5. Pesantren Sains (tresnsains).

Pesantren sains (trensains) sebagaimana dijelaskan oleh hermawan adalah Pesantren Sains yang merupakan sintetis dari pesantren dan sekolah umum bidang sains.

Trensains merupakan lembaga pendidikan setingkat SMA yang merupakan proyek baru di Indonesia, karena kegiatan utamanya adalah mengkaji dan meneliti ayat-ayat semesta yang terkandung di dalam Al Quranu’l Karim dan Hadis Nabawi dengan Kreatornya yakni Agus Purwanto, D. Sc, penulis Nalar-Nalar Ayat Semesta 28

Trensains saat ini ada dua tempat, yaitu di Sragen dan Jombang. Trensains di Sragen bernama SMA Trensains Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen atau disingkat “SMA Trensains Dimsa29. Sedangkan trensains di Jombang bernama SMA Trensains Tebuireng30. Selaras dengan ini, trensains yang penulis maksud dalam penelitian ini yaitu trensains yang ada di sragen Jawa tengah, pemilihan lokasi trensains Jawa tengah ini dikarenakan trensains ini yang lebih dulu di dirikan oleh penulis nalar – nalar ayat semesta.

28 Hermawan, Interaksi Islam dan Sains: Studi Historis-Fenomenologis di SMA Trensains Sragen, (Magelang : CAKRAWALA: Jurnal Studi Islam, Vol. XII, No. 2) 2017

29 ibid

30 http://www.laduni.id/post/read/55956/sma-trensains-pesantren-sains-tebuireng-jombang

(28)

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sumber data Penelitian a. Jenis Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yaitu mengetahui dan mendiskripsikan tentang dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat yang ada dalam buku nalar ayat - ayat semesta dan implementasinya di pesantren sains (trensains).

Maka, dalam proses pengumupulan data pada penelitian ini sangat terkait dengan kata- kata dan tindakan. Sehingga, sebagaimana dijelaskan oleh Selaras dengan hal tersebut di atas, maka penelitian ini sebagaimana dijelaskan oleh Moleong31 termasuk dalam penelitian kualitatif.

b. Sumber Data Penelitian

Penelitian ini, sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya yaitu termasuk dalam jenis penelitian kualitatif, sehingga sumber data pada penelitian ini ada dua yaitu data yang berasal dari kata-kata dan tindakan. Sumber data yang kedua yaitu data yang bersumber dari sumber tertulis32.

Selaras dengan itu, sumber data tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu33 1) Sumber data primer

Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada penulis. Terkait dengan penelitian ini, sumber data primer yaitu buku nalar ayat – ayat semesta dan penulisya.

31 Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2005

32 Ibid

33 Sugiyono, Metode penelitian kombindasi (mixed methods), (Bandung:Alfabeta CV), 2014, 308

(29)

2) Sumber data skunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data pada penulis, terkait dengan penelitian ini, sumer data sekunder diantaranya yaitu dokumen-dokumen yang terkait dengan fokus penelitian ini.

2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini ada beberapa cara, diantaranya a. Telaah Dokumentasi

penelaahan dokumen–dokumen yang terkait dengan obyek penelitian. Penelaahan dokumen dilakukan dengan secermat mungkin dan diupayakan diambil dari sumber dokumen aslinya.

b. Wawancara

Wawancara menjadi yang utama sebagai cara penulis untuk mengumpulkan data.

Wawancara yang penulis lakukan diantaranya wawancara ke Agus Purwanto sebagai penulis buku nalar ayat-ayat semesta dan penggagas trensains. Sedangkan Wawancara yang penulis rencanakan yaitu kepada kepala SMA Trensains Sragen terkait implementas dasar – dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat yang ada dalam buku nalar ayat - ayat semesta di trensains tidak bisa penulis lakukan karena bersamaan dengan adanya pandemic.

dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat yang ada dalam buku nalar ayat - ayat semesta di trensains.

3. Metode Analisis Data

Langkah awal penulis untuk menganalisis data yaitu dengan cara memilah dan memilih data untuk dikelompokkan dalam data primer atau sekunder. Kemudian data

(30)

dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitis induktif. metode deskriptif analitis induktif yaitu menganalisis dengan mendiskripsikan dari data – data yang bersiafat khusus ke yang bersifat umum.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini direncanakan terdiri dalam lima bab yang meliputi bab pertama pendahuluan yang terdiri dari sub sub bab yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan dari hasil penelitian.

Bab II, berisi tentang arah kiblat dan waktu salat dalam kajian ilmu falak. pada bab ini sub – sub bab meliputi arah kiblat dan waktu salat. Arah kiblat akan diuraikan mulai pengertian, dasar-dasar arah kiblat, perhitungan arah kiblat. Sedangkan waktu salat, akan diuraikan mulai dasar hukum waktu salat, waktu salat dalam kajian fiqih, waktu salam dalam kajian astronomi, perhitungan waktu salat.

Bab III berisi tentang arah kiblat dan waktu salat dalam nalar ayat-ayat semesta.

Sub bab pada bab ini meliputi, biografi penulis nalar-nalar ayat semesta, arah kiblat dan waktu salat dalam nalar-nalar ayat semesta, trensains.

Bab IV berisi tentang dasar-dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar-nalar ayat semesta serta implementasinya. Sub bab pada bab ini ada dua yaitu dasar-dasar matematika astronomi perhitungan arah kiblat dan waktu salat dalam nalar-nalar ayat semesta dan implementasinya di trensains. Bab V yaitu penutup, terdiri dari dua sub bab yaitu kesimpulan dan saran.

(31)

BAB II ARAH KIBLAT DAN WAKTU SALAT

A. ArahKiblat

1. Pengertian Kiblat menurut Bahasa dan Istilah

Secara harfiah kiblat mempunyai pengertian arah kemana orang menghadap, karena dalam salat orang harus menghadap ka’bah maka ka’bah identik disebut dengan kiblat.

Pengertian tersebut seirama dengan penjelasan bahwa kiblat adalah arah ka’bah di Makkah yang harus dituju oleh orang yang sedang melakukan salat, sehingga semua gerakan salat, baik ketika berdiri, ruku’, maupun sujud senantiasa berimpit dengan arah itu1.

.

2. Dalil–Dalil Yang Berkenaan Dengan Arah Kiblat a. Al-Qur’an

1) Surat Al-Baqarah ayat 144

دَق ىَرَ ن َبُّلَقَ ت َكِه جَو ِف ِءاَمَّسلا َكَّنَ يِ لَوُ نَلَ ف ةَل بِق

اَﻫاَض رَ ت ِ لَوَ ف َكَه جَو َر طَش ِدِج سَم لا ِماَرَ لْا

ُث يَحَو اَم

مُت نُك اوُّلَوَ ف مُكَﻫوُجُو ُهَر طَش

َّنِإَو َنيِذَّلا اوُتوُأ َباَتِك لا َنوُمَل عَ يَل

ُهَّنَأ ُّقَ لْا نِم مِِ بَّر اَمَو َُّللّا لِفاَغِب اَّمَع

َنوُلَم عَ ي

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Departemen Agama, 2005:23)

1 Khazin, Muhyidin, , Ilmu Falak ; Dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Buana Pustaka)2005, 69.

(32)

2) Surat Al-Baqarah ayat 149

نِمَو ُث يَح َت جَرَخ ِ لَوَ ف

َكَه جَو َر طَش ِدِج سَم لا ِماَرَ لْا

ُهَّنِإَو ُّقَح لَل نِم َكِ بَر اَمَو َُّللّا لِفاَغِب اَّمَع َنوُلَم عَ ت

“Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu.

Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Departemen Agama,2005:24)

3) Surat Al-Baqarah ayat 150

نِمَو ُث يَح َت جَرَخ ِ لَوَ ف

َكَه جَو َر طَش ِد ِج سَم لا ِماَرَ لْا

ُث يَحَو اَم مُت نُك اوُّلَوَ ف مُكَﻫوُجُو ُهَر طَش

َّلَّئِل َنوُكَي

ِساَّنلِل مُك يَلَع ةَّجُح َّلِّإ َنيِذَّلا اوُمَلَظ مُه نِم َلَّف مُﻫ وَش َتَ

ِن وَش خاَو َِّتُِلَِو

ِتَم عِن مُك يَلَع مُكَّلَعَلَو َنوُدَت َتَ

“Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang lalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (Departemen Agama,2005:24)

b. Hadis

1) Hadis Muslim dari Abu Hurairah r.a. yakni

اَنَ ثَّدَح وبَأ ر كَب ُن ب ِبَأ َةَب يَش اَنَ ثَّدَح وُ بَأ َةَمَاسُأ ُد بَعَو ِِِالله ُن ب يَُنُ

اَنَ ثَّدَح ُد يَ بُع َِّللّا نَع ِديِعَس ِن ب ِبَأ ديِعَس

ِ يُِبُ قَم لا نَع ِبَأ َةَر يَرُﻫ َيِضَر َُّللّا ُه نَع َلاَق ُلوُسَر َِّللّا ىَّلَص َُّللّا ِه يَلَع َمَّلَسَو اَذِإ َت مُق َلِإ ِة َلَّّصلا غِب سَأَف َءوُضُو لا

َُّث لِب قَ ت سا َةَل بِق لا ِ بَُكَف ( هاور ملسلما (

2

“Abu Bakar bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Abu Usamah dan Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, Ubaidullah menceritakan dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburiyi dari Abi Hurairah r.a berkata Rasulullah SAW. bersabda: “ Bila kamu hendak shalat maka sempurnakanlah wudlu lalu menghadap kiblat kemudian bertakbirlah” (HR. Muslim).

2 Maktabah Syamilah, Imam Muslim, Shahih Muslim, hadis no. 912, juz 2, hlm. 11.

(33)

2) Hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik r.a.

َانَثَّدَح رَكَب وُ بَأ ُن با ةَب يَش َانَثَّدَح نَا فَع َانَثَّدَح داََّحَ

ن ب ةَمَلَس نَع تِبَثا نَع ِسَنَأ ِن ب كِلَام َيِضَر ُالله ُه نَع َلَاق :

َّنِا َل وُسَر ِالله ىَّلَص ُالله ِه يَلَع َمَّلَسَو َناَك يِ لَصُي َو َنَ

َت يَ ب ِسِد قَم لا تَلَزَ نَ ف

"

دَق ىَرَ ن َبُّلَقَ ت َكِه جَو ِف ِءاَمَّسلا

َكَّنَ يِلَوُ نَلَ ف ةَل بِق

اَهض رَ ت ِ لَوَ ف َكَه جَو ِدِج سَم لاَر طَش ِماَرَ لْا

"

َّرَمَف لُجَر نِم ِنَب َةَمَلَس مُﻫَو ع وُكُر ِف ِةَلَّص ِر جَف لا

دَقَو ا وُّلَص ةَع كَر ىَداَنَ ف َلَّا َّنَأ َةَل بِق لا دَق تَلَّوَح ا وُلاَمَف اَمَك مُﻫ َو َنَ

ِةَل بِق لا ( . هاور ملسم )

3

“Bahwa Rasulullah saw (pada suatu hari) sedang shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, kemudian turunlah ayat; sungguh kami sering melihat mukamu menengadah ke langit (sering melihat ke langit seraya berdo’a agar turun wahyu yang memerintahkan Beliau menghadap ke Baitullah). Sungguh kami palingkan mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Kemudian ada dua orang dari Bani Salamah sedang mereka melakukan ruku’ pada rakaat kedua.

Lalu diserukan : Sesungguhnya kiblat telah dirubah. Lalu mereka berpaling ke arah kiblat.”

3) Hadis riwayat at-Turmudzi dari Abu Hurairah r.a.:

اَنَ ثَّدَح ُدَّمَُمُ

ُن ب ِبَأ رَش عَم اَنَ ثَّدَح ِبَأ نَع ِدَّمَُمُ

ِن ب َرَمُع نَعَو ِبَأ َةَمَلَس نَع ِبَأ َةَر يَرُﻫ َيِضَر ُالله ُه نَع َلاَق :

َلاَق ُل وُسَر ِالله ىَّلَص ُالله ِه يَلَع َمَّلَسَو "

اَم َ يَب ِقِر شَم لا ِبِر غَم لاَو ةَل بِق

( ."

هاور يذمترلا )

4

“Bercerita Muhammad bin Abi Ma’syarin, dari Muhammad bin Umar, dari Abi Salamah, dari Abu Hurairah r.a berkata : Rasulullah saw bersabda: antara Timur dan Barat terletak kiblat ( Ka’bah )”.

4) Hadis riwayat Imam Bukhari dari Jabir

اَنَ ثَّدَح مِل سُم َلاَق اَنَ ثَّدَح : ماَشِﻫ َلاَق اَنَ ثَّدَح : َي َيَ

ُن ب ِبَأ يِثَك نَع ِدَّمَُمُ

ِن ب ِد بَع ِنَ حََّرلا نَع رِباَج َلاَق َناَك : ُلوُسَر

ِالله ىَّلَص ُالله ِهيَلَع َمَّلَسَو يِ لَصُي ىَلَع ِهِتَلِحاَر ُث يَح ، تَهَّجَوَ ت اَذِإَف

َداَرَأ َةَض يِرَفلا َلَزَ ن ِلِب قَ ت ساَف َةِل بِقلا ( . هاور ىراخبلا )

5

“Bercerita Muslim, bercerita Hisyam, bercerita Yahya bin Abi Katsir dari Muhammad bin Abdurrahman dari Jabir berkata : Ketika Rasulullah SAW shalat (sunnah) di atas kendaraan (tunggangannya) beliau menghadap ke arah sekehendak tunggangannya, dan ketika beliau hendak melakukan shalat fardlu beliau turun kemudian menghadap Kiblat.” (HR. Bukhari)

3 Maktabah Syamilah, Imam Muslim, Shahih Bukhari, hadis no. 1208, juz 2, hlm. 66.

4Maktabah Syamilah, Imam at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Abwab al-Shalah), Juz. II, hlm.171; Imam Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, Juz I, hlm. 323 (Kitab Iqamah al-Shalah); Imam Malik, al-Muwaththa, Juz I, hlm. 197 (Bab Ma Ja’a fi al-Qiblah).

5 Maktabah Syamilah, Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hadis no. 400, juz 1, hlm. 89.

(34)

Dari dasar hukum yang telah disebutkan di atas, maka dapat diketahui bahwa:

pertama, menghadap kiblat (Ka’bah) merupakan suatu kewajiban seseorang dalam melaksanakan shalat. Kedua, jika ingin melaksanakan shalat sunnah di dalam perjalanan, maka boleh menghadap ke arah mana saja, mengikuti kendaraan. Akan tetapi, jika akan melaksanakan shalat fardhu, maka harus menghadap kiblat, artinya wajah dan badan diupayakan harus benar-benar menghadap kiblat.

3. Segitiga bola arah kiblat

Sebagaimana disebutkan di muka, penentuan arah kiblat adalah penentuan arah di permukaan bumi. Karena bumi berbentuk bola berarti menentukan arah di permukaan bola.

Jika titik Kakbah dan titik tempat salat dihubungkan dengan titik Kutub Utara (KU) melalui busur-busur lingkaran besar, maka akan terbentuklah sebuah segitiga dengan tiga titik sudutnya: Kutub Utara, tempat salat, dan Kakbah; sedang sisi-sisinya adalah busur meridian Kakbah, meridian tempat salat, dan busur arah kiblat. Segitiga yang terbentuk itu adalah segitiga bola karena ketiga sisinya merupakan busur dari lingkaran besar. Karena segitiga bola ini terkait dengan arah kiblat maka katakanlah Segitiga Bola Arah Kiblat.

Perhatikan gambar berikut,

(35)

Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, arah kiblat dimaksud adalah arah busur BA. Bagaimana cara mengetahui arah busur BA tersebut? Caranya adalah dengan mengetahui terlebih dahulu sudut ABC. Sudut ABC ini adalah sudut Arah Kiblat.

Perhatikan gambar di bawah

(36)

4. Rumus arah kiblat

Rumus-rumus perhitungan arah kiblat dalam bab ini yaitu rumus-rumus perhitungan arah kiblat yang ada dalam buku Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. Sebagaimana disebutkan dalam latar belakang, bahwa kelebihan buku Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern dibanding dengan literatur-literatur falak yang lain, yaitu perhitungan arah kiblat dalam buku tersebut ada empat rumus yang meliputi:

a. Rumus cosinus dan sinus6

Rumus cosinus dan sinus di definisikan sebagai berikut:

Cotan B= 𝑐𝑡𝑔 𝑏 sin 𝑎 + cos a cos C sin 𝐶

Atau

Cotan B= 𝑐𝑡𝑔 𝑏 sin 𝑎

sin 𝐶 - cos a ctg C Dimana7,

B : Sudut arah kiblat untuk daerah di timur ka’bah C : Selisih bujur tempat dengan bujur ka’bah A : Busur (900− ɸ)

B : Busur (900− ɸk)

6 Susiknan Azhari. Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, (Yogyakarta:Suara Muhammadiyah).2007:32-33 7 Keterangan ini diambil sesuai dengan apa yang tertulis daalm buku Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam Dan Sains Modern.

(37)

ɸ : Lintang tempat pengamat, dengan ketentuan ɸ < 00 (negatif) untuk selaatan ekuator, ɸ = 00 untuk ekuator, ɸ ˃ 00 (positif) untuk utara ekuator

ɸ𝑘 : Lintang ka’bah

b. Menggunakan analogi Napier8

Analaogi napier didefiniskan sebagai berikut:

Tan 1

2 (A + B) = cos

1 2 (𝑎−𝑏) cos 1

2 (𝑎+𝑏) cotan 1

2 C Tan 1

2 (A - B) = sin

1 2 (𝑎−𝑏)

sin 2 1 (𝑎+𝑏) cotan 1

2 C B = 1

2 (A + B) - 1

2 (A - B)

Dimana, B adalah arah kiblat dari utara ke barat.

Dengan ketentuan9

a. Tempat di timur ka’bah Dimana,

B : Sudut arah kiblat untuk daerah di timur ka’bah C : Selisih bujur tempat dengan bujur ka’bah A : Busur (900− ɸ)

B : Busur (900− ɸk)

8 Op.cit

9 Ketentuan-ketentuan ini juga sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam Dan Sains Modern.

(38)

ɸ : Lintang tempat pengamat, dengan ketentuan ɸ < 00 (negatif) untuk selaatan ekuator, ɸ = 00 untuk ekuator, ɸ ˃ 00 (positif) untuk utara ekuator

ɸ𝑘 : Lintang ka’bah b. Tempat di barat ka’bah

Dimana,

B : Sudut arah kiblat untuk daerah di timur ka’bah C : Selisih bujur tempat dengan bujur ka’bah A : Busur (900− ɸ)

B : Busur (900− ɸk)

ɸ : Lintang tempat pengamat, dengan ketentuan ɸ < 00 (negatif) untuk selaatan ekuator, ɸ = 00 untuk ekuator, ɸ ˃ 00 (positif) untuk utara ekuator

ɸ𝑘 : Lintang ka’bah

c. Menggunakan Rumus Coxinus Dan Sudut Bantu10 Rumus sudut bantu yang di definisikan Tan P = tan b cos C

Cotan B = 𝑐𝑜𝑡𝑎𝑛 𝐶 sin (𝑎−𝑃) sin 𝑃

10 Ibid. 34

(39)

d. Haversine11

Rumus haversine didefinisikan Hav = hav (a – b) + sin a sin b hav C S = 1

2 (a+b+c)

Hav B = sin (s-a) sin (s-c) cossec a cossec C

5. Pengukuran arah kiblat

Secara historis cara penentuan arah kiblat di Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan kualitas dan kapasitas intelektual di kalangan kaum muslimin.

Perkembangan penentuan arah kiblat ini dapat dilihat dari perubahan besar yang dilakukan Muhammad Arsyad al-Banjari7 dan K.H. Ahmad Dahlan8 atau dapat dilihat pula dari alat- alat yang dipergunakan untuk mengukurnya, seperti miqyas, tongkat istiwa’, rubu’

mujayyab, kompas, dan teodolit. Selain itu sistem perhitungan yang dipergunakan mengalami perkembangan pula, baik mengenai data koordinat maupun mengenai sistem ilmu ukurnya.

Pada saat ini metode yang sering digunakan dalam pengukuran arah kiblat ada tiga macam, yakni: (1) memanfaatkan bayang-bayang kiblat, (2) memanfaatkan arah utara geografis (true north), dan (3) mengamati/ memperhatikan ketika matahari tepat berada di atas Kakbah. Bila menggunakan metode bayang-bayang kiblat maka langkah-langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (a) menghitung sudut arah kiblat suatu tempat, (b) menghitung saat kapan matahari membuat bayang-bayang setiap benda (tegak) mengarah persis ke Kakbah,

11 Ibid

(40)

dan (c) mengamati bayang-bayang benda tegak pada saat seperti dimaksud poin (b).

Kemudian mengabadikan bayang-bayang tersebut sebagai arah kiblat.

Adapun jika menggunakan metode memanfaatkan arah utara geografis langkah- langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (a) menghitung sudut arah kiblat suatu tempat, (b) menentukan arah utara geografis (baca: true north) dengan bantuan kompas, tongkat istiwa’ atau teodolit, dan (c) mengukur/ menarik arah kiblat berdasarkan arah geografis seperti dimaksud pada poin (b) dengan menggunakan busur derajat, rubu’, segitiga, atau teodolit.

Data yang dibutuhkan dalam proses perhitungan arah kiblat, antara lain: lintang tempat (φt), bujur tempat (ℷt), lintang Kakbah (φk) dan bujur Kakbah (ℷk). Untuk lintang dan bujur tempat telah tersedia. Hanya saja daftar tersebut perlu diverifikasi dengan alat kontemporer.

Sementara itu, metode ketiga dapat dilakukan oleh setiap orang dan merupakan cara yang paling sederhana dan bebas hambatan.9 Metode ketiga ini dapat dilakukan, tanpa harus mengetahui koordinat (lintang dan bujur) tempat yang akan dicari arah kiblatnya, tetapi cukup menunggu kapan saatnya posisi matahari tepat berada di atas Kakbah.

Posisi matahari tepat berada di atas Kakbah akan terjadi ketika lintang Kakbah sama dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi tepat di atas Kakbah.

Kesempatan tersebut datang pada setiap tanggal 28 Mei (Kadang-kadang terjadi pada tanggal 27 Mei untuk tahun kabisat) pukul 12.18 waktu Mekah atau 09.18 UT dan tanggal 16 Juli (tahun pendek) atau 15 Juli (tahun kabisat) pukul 12.27 waktu Mekah atau 09.27 UT.

(41)

Bila waktu Mekah dikonversi menjadi waktu Indonesia Barat (WIB) maka harus ditambah dengan 4 jam sama dengan pukul 16.18 WIB dan 16.27 WIB.10 Oleh karena itu, setiap tanggal 28 Mei (untuk tahun pendek) atau 27 Mei (untuk tahun kabisat) pukul 16.18 WIB arah kiblat dapat dicek dengan mengandalkan bayangan matahari yang tengah berada di atas Kakbah. Begitu pula setiap tanggal 16 Juli (untuk tahun pendek) atau 15 Juli (untuk tahun kabisat) juga dapat dilakukan pengecekan arah kiblat dengan metode tersebut.

Dalam praktiknya, tidak perlu langkah yang rumit untuk menentukan arah kiblat berdasar jatuhnya bayangan benda yang disinari matahari. Pengamat (observer) cukup menggunakan tongkat atau benda lain sejenis untuk diletakkan di tempat yang memperoleh cahaya matahari. Permukaan yang akan ditempati bayangan harus datar dan rata. Cahaya matahari yang menyinari benda tersebut akan menghasilkan bayangan. Arah bayangan ini merupakan arah kiblat.

B. Waktu Salat

Salat adalah ibadah yang tidak bisa ditinggalkan, baik dalam keadaan apapun dan tidak ada istilah depensasi. Salat merupakan kewajiban bagi seluruh umat muslim dan

(42)

merupakan perintah langsung dari Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad ketika melaksanakan misi suci yaitu Isra Miraj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 12 sesudah kenabian12. Dalam perisiwa tersebut Allah memberikan tanggung jawab kepada manusia khususnya umat Muhammad untuk melaksanakan salat lima waktu dalam sehari semalam.

Sebenarnya pelaksanaan ibadah salat sudah ada sejak zaman nabi-nabi terdahulu hanya saja dalam jumlah rakaat dan waktu berbeda-beda.

Adapun yang dimaksud dengan waktu-waktu salat disini adalah sebagaimana yang biasa diketahui oleh masyarakat, yaitu waktu-waktu salat lima waktu, yakni dhuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh ditambah waktu imsak, terbit Matahari dan waktu dhuha. Hanya saja waktu-waktu salat yang ditunjukkan oleh al-Quran maupun hadits Nabi hanya berupa fenomena alam, yang kalau tidak menggunakan ilmu falak tentunya akan mengalami kesulitan dalam menentukan awal waktu salat. Untuk menentukan awal waktu dhuhur misalnya kita harus keluar rumah melihat Matahari berkulminasi. Demikian pula untuk menentukan awal waktu ashar kita harus keluar rumah dengan membawa tongkat kemudian mengukur dan membandingkan antara panjang tongkat itu dengan panjang bayangannya dan seterusnya. Karena perjalanan semu Matahari itu relative tetap, maka waktu posisi Matahari pada awal waktu salat setiap hari sepanjang tahun mudah dapat diperhitungkan. Dengan demikian orang yang akan melakukan salat pada awal waktunya menemui kemudahan13.

Dalam menentukan awal waktu salat tentunya kita harus mengetahui dasar yang termaktub dalam al-Quran dan hadits Nabi serta pendapat para ahli fiqh tentang awal waktu

12 Slamet Hambali, Ilmu Falak, (Semarang: Program pascasarjana IAIN Walisongo Semarang). 2011.103

13 Khazin, Muhyidin, , Ilmu Falak ; Dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Buana Pustaka). 2005, 79.

Gambar

Gambar 2.1 Posisi Matahari dalam waktu salat. (Arkanuddin, 2010: 8)
Gambar  di  atas  diberi  nama  garis  PQ,  tanda  panah  di  kedua  ujungnya  menunjukkan  bahwa  garis  tersebut  tidak  berujung  dan  tidak  berpangkal,  artinya,  dapat  diperpanjang  pada  kedua  arahnya
Gambar segitiga sembarang ABC di atas didefinisikan ketentuan  bahwa:
Foto  tersebut  di  atas,  sebagaimana  terlihat  dalam  latar  foto  tersebut  tertulis  tema

Referensi

Dokumen terkait

Perhekontekstissa isän asema voidaan joissain tapauksissa kuitenkin kokea vain näennäisesti äidin asemaan rinnastettuna tasavertaisena vanhempana (Lammi-Taskula &amp;

Separuh Aku karya band Noah dengan berdasar beberapa konsep maupun definisi dari teori-teori tokoh yang membahas kajian musik pop, diantaranya adalah Adorno, Frith dan

Strategi yang dilakukan Filipina dalam penanggulangan TOC, Cyber Crime dan Terrorism adalah dengan melakukan kerja sama dengan berbagai negara, contohnya negara

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas bahwa penderita DM dapat mengalami gangguan kualitas tidur akibat dari gejala yang ditimbulkan karena perjalanan penyakit

Pada percobaan pertama yang bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan gas nitrogen di laboratorium dan mengetahui sifat-sifat gas nitrogen, langkah yang dilakukan

Mmendapatkan informasi analisis kinerja Puskesmas dan bahan masukan dalam penyusunan rencana kegiatan Puskesmas dan Dinkes Kab/Kota untuk tahun yang akan datang.. 2

Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a bersama V Alat/Bahan/Sumber Belajar:.. A Kerja logam,

Narasi adalah bentuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu