BAB V ANALISIS DATA
Bagan 2.1 Bagan Alir Pemikiran
1.1 Latar Belakang Masalah
Hampir sepanjang waktu Gunung Sinabung memberikan manfaat bagi alam dan makhluk yang ada di sekitarnya. Lereng dan wilayah sekitar Gunung Sinabung terkenal dengan kesuburan tanahnya karena guyuran abu vulkanis Gunung Sinabung, tanaman jeruk, kopi dan tanaman lainnya dapat tumbuh subur. Selain itu di sekitar lereng ataupun kawasan lainnya terdapat beberapa kawasan rekreasi diantaranya objek wisata Danau Lau Kawar serta wisata pendakian Gunung Sinabung yang memberikan pesona alam tersendiri.
Disisi lainnya Gunung Sinabung yang telah tertidur 400 tahun lamanya memberikan ancaman yang dapat menyebabkan bencana di wilayah lereng dan sekitarnya pada waktu-waktu tertentu. Ancaman Gunung Sinabung yang menimbulkan bencana misalnya pada beberapa peristiwa erupsi terakhir pada tahun 2010-2013 mengguncang dunia yang dapat dilihat secara jelas karena terdokumentasi dengan baik. Ancaman erupsi Gunung Sinabung berupa awan panas, lahar panas, lahar dingin serta abu vulkanik, sehingga memberi dampak terhadap masyarakat desa yang berada disekitar kaki Gunung Sinabung harus diungsikan ke tempat yang aman. Masyarakat desa yang berada pada jarak 2-3 kilometer dan terjauh 4-6 kilometer. Pada bulan Januari 2014 awan panas mencapai radius 4,5 kilometer, lahar dingin yang mengalir mengikuti aliran sungai yang berasal dari mata air Gunung Sinabung serta abu vulkanik yang menutupi lahan pertanian dan wilayah pemukiman di lerengnya, selain itu menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.
Serangkaian erupsi Gunung Sinabung yang diawali pada tahun 2010, letusan Gunung Sinabung pada 27 Agustus 2010 dikategorikan tipe letusan freatik (letusan terjadi karena tekanan gas) yang diikuti jatuhan abu vulkanik Gunung Sinabung hingga menutupi Desa
Sukameriah, Gungpintu, Sigarang-garang, Sukadebi, Bekerah dan Simacem. Tanggal 27-28 Agustus letusan abu atau freatik dari kawah puncak. Pada 29-30 Agustus 2010 letusan abu dari puncak disertai suara dentuman dan kolom abu berkisar 1500-2000 meter. Pada 3 dan 7 September letusan abu dengan tinggi kolom abu berkisar 2000-5000 meter (http://www.Ini riwayat erupsi dan letusan Gunung Sinabung _ merdeka.com.htm, diakses tanggal 25 april 2014 Pukul 14.35 WIB).
Selanjutnya serangkaian aktivitas Gunung Sinabung menunjukkan aktivitas signifikannya pertengahan September 2013 yang ditandai dengan getaran-getaran yang cukup intensive atau sering. Disusul dengan setiap 20 menit terjadi gempa dimana puncaknya yaitu pertengahan Desember 2013. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutpo Purwo Nugroho membenarkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Sinabung. Tertanggal 12 Desember 2013 perkembangan aktivitas Gunung Sinabung terjadi 2 kali gempa vulkanik 1 kali gempa vulkanik dangkal, 41 kali gempa frekuensi rendah, 187 kali gempa hybrid (berkekuatan tinggi), 8 kali gempa hembusan dan terus menerus dengan amplitude maksimum 2 mm, longsoran material yang mengarah ke tiga desa seperti desa Bekerah, Mardinding dan Simacem, tercatat pengungsi mencapai 17.844 jiwa yang terdiri dari 5.513 kepala keluarga yang tersebar di 31 titik posko pengungsian. Dengan pola kegempaan vulkanik seperti itu, diramalkan Gunung Sinabung bisa saja meletus dengan frekuensi yang besar sekali. Bisa dibuktikan berapa hari tanda-tanda seperti meluncurnya awan panas dan abu vulkanik yang menganggu jarak pandang serta pernapasan warga di desa sekitar Gunung Sinabung mengakibatkan pengungsi kian bertambah menjadi 18.186 jiwa (http://www.koran-sindo.com/node/351882, diakses tanggal 29 maret 2014 pukul 20.45 WIB).
Pada tanggal 19-21 Desember 2014 tanda-tanda Gunung Sinabung meletus semakin kuat gunung setinggi 2.460 meter dari permukaan laut mengeluarkan guguran material sejauh
5 km ke arah tenggara. Dari seluruh gunung api yang berada di atas kondisi normal di Indonesia dimana Gunung Sinabung satu-satunya yang memiliki status awas (level IV). Sehingga ditetapkanlah tidak diperbolehkan aktivitas warga di radius 5 kilometer (zona merah) dari kaki gunung tersebut. Perubahan yang signifikan pada kondisi struktur Gunung Sinabung menyebabkan terjadinya longsoran di sekitar badan gunung di wilayah puncak gunung teramati bentuk kubah magma yang kapan saja dapat menyemburkan lava pijar. Selanjutnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan masyarakat di 17 desa dan 2 dusun seperti desa Gurukinayan, Sukameriah, Berastepu, Bekerah, Gamber, Simacem, Perbaji, Mardinding, Kuta Gugung, Kuta Rakyat, Sigarang-Garang, Sukanalu, Temberun, Kuta Mbaru, Kuta Tonggal, Tiganderket, Selandi dan Dusun Sibintun serta Dusun Lau Kawar harus diungsikan (http://.www.chirpstory.com/li/187097, diakses tanggal 30 maret 2014 pukul 23.15 WIB)
Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tanggal 08 januari 2014 mengumumkan bahwa pengungsi terus bertambah yaitu 22.708 jiwa (7.079 KK). Tertanggal 15 januari 2014, jumlah pengungsi makin bertambah dimana tercatat 26.174 pengungsi (8.161 KK) tersebar di 39 titik pengungsian. Terdapat titik pengungsi baru yaitu di Maka Jl. Samura sebanyak 122 jiwa (42 KK) yang berasal dari Desa Gung Pinto. 9 Februari 2014 tercatat jumlah pengungsi erupsi Gunung Sinabung mencapai 33.126 jiwa (10.297 KK) yang terletak di 41 titik pengungsian yang statusnya masih skala bencana kabupaten, dimana artinya Pemerintah Daerah Karo masih mampu mengatasi bencana tersebut yang dibantu Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara yang didampingi oleh pemerintah pusat. Adanya usulan agar dijadikan skala bencana nasional tidak memenuhi persyaratan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 51 ayat 2, dimana disebutkan penetapan skala nasional ditetapkan oleh presiden, skala provinsi oleh gubernur dan skala kabupaten/kota oleh bupati/walikota dimana pmerintahan
Kabupaten Karo masih berjalan normal. Selain itu juga tidak ada korban jiwa banyak dan terjadi eskalasi bencana yang luas. Berbeda dengan erupsi Gunung Merapi tahun 2010, dimana presiden memerintahkan kendali operasi tanggap darurat dalam satu komando berada di tangan kepala BNPB dibantu Gubernur DIY, Gubernur Jawa Tengah, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jawa tengah dan DIY pada 05 sepetemper 2010. Keputusan Presiden saat itu didasarkan bertambahnya korban dan pengungsi. Pada 4 september 2010 korban jiwa 44 tewas, 119 luka-luka, 82.701 mengungsi, kemudian ketika erupsi besar 5 september 2010 korban meningkat 114 tewas, 218 luka-luka dan 300 ribu mengungsi (Pusat Data Imformasi dan Humas BNPB).
Adanya informasi peningkatan aktivitas Gunung Sinabung kerugian yang ditimbulkan makin besar. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo menyatakan kerugian di sektor pertanian dan perkebunan sejak Gunung Sinabung erupsi 6 januari 2014 diperkirakan Rp 712,2 milyar dari 10.406 ha lahan pertanian dan perkebunan. Luas lahan pertanian dan perkebunan ini meliputi tanaman pangan (1.837 Ha), holtikultura (5.716 Ha), tanaman buah (1.630 Ha), biofarmaka (1,7 Ha) dan perkebunan (2.856 Ha). Dimana dampak kerugian terbesar terdapat di 4 kecamatan seperti Nemanteran, Simpang Empat, Payung dan Tigandreket (http://www.Mari Meringankan Beban Pengungsi Sinabung _ Kompasiana.com.htm diakses tanggal 03 april 2014 pukul 21.56 WIB).
Penanganan korban bencana gunung meletus yang baik selama ini dilakukan oleh berbagai instansi, namun tidak didukung dengan kebutuhan minimum bagi para korban bencana. Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 26 ayat 2 menyatakan bahwa setiap orang yang menjadi korban bencana berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar artinya kebutuhan untuk menyambung hidup dan kehidupannya selama berada di tenda-tenda pengungsian. Sementara menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana
pasal 28 ayat 1 bahwa bantuan pemenuhan kebutuhan dasar harus diberikan kepada korban bencana alam dalam bentuk penampungan sementara, bantuan pangan dan sandang, mendapatkan air bersih dan sanitasi lingkungan dan pelayanan kesehatan (Sudibyakto, 2011: 121).
Konteks bencana erupsi Gunung Sinabung bantuan darurat bencana untuk pemenuhan kebutuhan dasar tentunya harus menganut prinsip standar minimal kebutuhan dasar. Oleh karena itu sangat diperlukan pendampingan pengungsi korban bencana Gunung Sinabung khususnya bagi kelompok yang rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu hamil atau menyusui, penyandang cacat (disabilitas), orang sakit dan manula yang menjadi korban erupsi Gunung Sinabung agar kriteria kebutuhan minimal dapat dilaksanakan sebagaimana semestinya. Dengan demikian azas pemberian bantuan harus berdasarkan pada prioritas untuk kelompok rentan ini dan harus adil. Hal yang sangat penting adalah adanya Tim Rapid Need Assesment dalam rangka membantu pemerintah daerah setempat dalam memantau dan memberikan saran dan jalan keluar tentang jenis kebutuhan yang diperlukan korban bencana secara proposional (Sudibyakto, 2011: 122).
Salah satu poin pembelajaran yang dapat diambil dari erupsi Gunung Sinabung adalah bahwa anak-anak merupakan kelompok yang sering terabaikan dan tidak tertangani dengan baik. Trauma dan dampak terhadap kesehatan anak kurang mendapat perhatian dan sering tidak tepat dalam penanganannya. Kondisi lain yang juga mengancam anak-anak dalam situasi darurat pasca bencana adalah eksploitasi ekonomi, keterpisahan dari keluarga dan kehilangan arena dimana mereka biasa beraktivitas dan bermain dengan teman-teman sebaya. Anak-anak dalam keadaan darurat atau bencana berada dibawah resiko dan ancaman karena tingkat ketergantungan mereka yang tinggi terhadap orang dewasa. Karena belum memiliki banyak pengalaman hidup, kemampuan anak untuk melindungi diri sendiri terbatas dan mereka tidak dalam posisi yang dapat mengambil keputusan atas dirinya sendiri.
Anak terutama saat mereka berusia sangat dini sangat rentan dan membutuhkan dukungan khusus agar dapat menikmati hak mereka sepenuhnya. Bagaimana anak dapat diberikan nilai setara dan bersamaan diberikan perlindungan yang diperlukan? Sebagian dari jawabannya terletak pada prinsip “demi kepentingan anak” sebagaimana yang dirumuskan dalam pasal 3 ayat 1 Konvensi Hak Anak (KHA) yang hendaknya dijadikan pertimbangan utama dalam langkah-langkah yang berhubungan dengan anak. Kapan saja keputusan resmi yang berdampak pada anak diambil, kepentingan anak hendaknya dipandang sebagai hal yang penting. Kepentingan orang tua atau Negara hendaknya bukan merupakan pertimbangan yang benar-benar penting. Hal ini memang merupakan salah satu pesan utama yang terkandung di dalam Konveksi Hak Anak. Bilamana menafsirkan prinsip ini, komite hak anak menekankan pentingnya prosedur ini untuk pengambilalihan keputusan yang memberikan perhatian pada kepentingan anak (Hammaberg, 2001: 378-379).
Berkaca pada bencana terdahulu seperti pasca tsunami di Aceh dan Nias tahun 2004, anak-anak yang selamat dari bencana alam tidak serta merta aman dari ancaman. Ratusan anak-anak menjadi korban penculikan dan perdagangan manusia (human trafficking) yang disebabkan keterpisahan dari keluarga, selain itu munculnya kemiskinan baru pasca bencana. Ratusan anak-anak di Nias menjadi pekerja konstruksi dan penggali tambang pasir untuk memenuhi kebutuhan material bangunan dimasa rehabilitasi dan rekonstruksi. Pasca gempa bumi di Yogyakarta dan Sumatera Barat, anak-anak dijadikan pengemis untuk mencari bantuan dijalanan.
Berdasarkan kondisi itulah maka banyak sekali pemangku kepentingan (stakeholder) baik dari unsur pemerintah dan non-pemerintah seperti lembaga swadaya masyarakat (lokal maupun internasional), perusahaan, organisasi massa dan masyarakat selalu mengambil bagian dalam upaya penanggulangan bencana khususnya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang menjadi koban bencana. Perhatian dan bantuan dalam masa tanggap darurat
bencana tersebut dari sisi jumlah dan jenis bantuan sangat banyak dan seringkali jika tidak diorganisir dengan baik akan mengakibatkan tidak meratanya distribusi bantuan sehingga bantuan yang sifatnya temporer seperti makanan menjadi rusak dan tidak dapat dimanfaatkan. Bantuan tanggap darurat bencana alam tersebut dari sisi jenis bantuannya lebih banyak diprioritaskan pada bantuan logistik dan jika sasarannya anak-anak, program-program yang ditawarkan lebih banyak bersifat permainan-permainan yang bertujuan untuk mencegah sekaligus mengatasi trauma yang dihadapi anak akibat bencana alam. Bantuan dan maksud baik dari semua pemangku kepentingan tersebut akan menjadi lebih komprehensif (menyeluruh) dan efektif jika setiap program dan bantuan yang diberikan untuk anak berangkat dari sebuah landasan konsep yang kuat yang untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai panduan dalam melakukan aksi-aksi nyata untuk membantu anak yang menjadi korban bencana. Bantuan logistik dan program permainan adalah salah satu upaya perlindungan anak dan upaya perlindungan anak dalam konteks bencana alam sangat luas sekali (http//:www.penanganan-anakdalammasatanggapdaruratbencana.htm , diakses tanggal 2 april 2014 pukul 13.45 WIB).
Berbicara tentang penanganan anak berbasis perlindungan anak dalam tanggap darurat bencana erupsi Gunung Sinabung perlu dipahami tentang konsep hak dan anak. Hak sering didefinisikan sebagai kebutuhan yang paling mendasar bagi setiap manusia dan ketika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup dan keberfungsian sosial manusia tersebut. Sedangkan konsep anak dengan mengacu pada definisi Undang-Undang Perlindungan anak dan Konvensi Hak Anak yaitu setiap individu yang berada dibawah usia 18 tahun. Jadi berangkat dari kedua konsep bahwa hak anak merupakan kebutuhan mendasar yang melekat pada anak agar terpenuhi sedangkan aktivitas dan kegiatan untuk menjamin serta melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi optimal sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan
serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi adalah perlindungan anak. Jadi upaya penanganan anak yang berdampak bencana dalam masa tanggap darurat secara khusus adalah termasuk aktivitas perlindungan anak.
Penanganan anak korban bencana erupsi Gunung Sinabung telah digalakkan beberapa bentuk penanganannya antara lain mengoptimalkan kebijakan yang telah ditetapkan presiden dalam penanganan korban dampak erupsi Gunung Sinabung mengupayakan terpenuhinya standar minimum dalam pemenuhan dasar para pengungsi mempercepat pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah pasca bencana erupsi Gunung Sinabung mendorong keluarnya Perpres (Peraturan Presiden) tentang penetapan status dan tingkatan bencana serta membangun ketangguhan dalam menghadapi bencana di masa mendatang. Selain itu anak harus segera kembali memperoleh pendidikan yang layak. Kegiatan pendidikan diselenggarakan di sekolah-sekolah darurat. Dalam banyak peristiwa bencana, kondisi ini berlangsung dalam waktu lama. Situasi ini jelas kurang menguntungkan bagi anak-anak yang harus belajar dengan fasilitas yang serba terbatas yang pada akhirnya proses belajar mengajar tidak bisa berlangsung secara optimal. Terlebih lagi Kabupaten Karo belum memiliki metode pendidikan standar yang dapat diterapkan pada kondisi pasca bencana.
Posko Pengungsian Universitas Karo (UKA) 1 yang berlokasi di Desa Ketaren Kecamatan Kabanjahe merupakan salah satu posko aktif menerima pengungsi yang berasal dari desa terparah dampak erupsi Gunung Sinabung antara lain berasal dari desa Simacem, Bekerah dan Kuta Tunggal. Data yang didapat dari Assesment KKSP terdapat 990 jiwa total pengungsi yang berada di Posko UKA 1 antara lain jumlah balita terdapat 77 balita dan anak usia sekolah 279 anak, selebihnya dewasa dan lansia.
Banyak pengungsi kini mengeluhkan berbagai jenis penyakit. Dari 10 jenis penyakit yang berhasil ditemukan tim medis relawan medan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan kasus menonjol dan jenis penyakit yang peling banyak diderita para pengungsi.
Buruknya sanitasi air, lingkungan dan kondisi udara bercampur abu vulkanik mungkin merupakan salah satu penyebab banyaknya pengungsi yang menderita ISPA. Jenis penyakit menonjol lainnya yang ditemukan adalah depresi karena lahan pertanian milik pengungsi
yang mati dikarenakan abu erupsi gunung
sinabung(http://medanmediacenter.or.id//=news&life=detail&id=524, diakses tanggal 05 april 2014 pukul 23.08 WIB).
Hidup di barak pengungsian memang serba kurang baik itu berupa pemenuhan kebutuhan pokok (sembako), air bersih, selimut, listrik, pakaian ganti, sarana pendidikan bagi anak-anak serta fasilitas lainnya yang mereka butuhkan juga sangat terbatas. Kesulitan-kesulitan ini juga sering terjadi pada anak-anak yang masih sekolah disebabkan karena jarak dari posko ke sekolah mereka sangat jauh dari tempat pengungsian. Bagi anak-anak pengungsi korban bencana erupsi Gunung Sinabung dalam upaya penanganannya perlu mendapat perlindungan khusus supaya terjamin terpenuhinya hak-hak anak untuk mereka hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan usianya, termasuk yang terpenting kebutuhan penyembuhan trauma pada anak akibat bencana selain itu pendidikan formal ataupun informal diperlukan secara memadai.
Pada tanggal 30 April 2014 erupsi Gunung Sinabung terjadi namun saat ini masih banyak pengungsi yang tinggal di barak pengungsian terutama anak-anak. Mereka tetap bertahan dengan terus mengharapkan bantuan dari berbagai pihak. Di Posko Pengungsian Universitas Karo (UKA) I sekitar 382 kepala keluarga yang masih berada di tempat penampungan sementara yang terus bertahan hidup sembari menunggu bantuan relokasi rumah baru dan bantuan logistik dari berbagai lembaga. Keadaan di posko pengungsi asal Desa Bekerah dan Simacem yang masih bertahan saat ini mulai jenuh akan janji relokasi dari pemerintah bahkan ada dari beberapa orang yang mengalami stress akibat tanaman mereka raib begitu saja. Namun selain dampak negatif dari bencana mereka juga bersyukur masih
diberi kehidupan anak-anak mereka masih tertolong dengan berbagai upaya yang dilakukan banyak pihak dalam memenuhi kebutuhan anak mereka. Khusus dalam penanganan anak korban bencana erupsi Gunung Sinabung yang terdapat di Posko Pengungsian Universitas Karo (UKA) 1 sejauh ini penanganan anak-anak korban bencana erupsi Gunung Sinabung dinilai baik karena banyak hiburan yang diberikan relawan atau mahasiswa yang mendampingi mereka untuk keluar dari trauma akibat bencana yang dialami.
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari para pengungsi setiap pekannya selalu memperoleh bantuan dari berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah maupun lembaga lokal ataupun luar seperti bantuan obat-obatan, makanan, susu dan biskuit bagi anak-anak atau bumil (ibu hamil), masker, makanan ringan serta peralatan-peralatan lainnya yang dijatah per kepala keluarga. Terutama bagi anak-anak penanganan yang diberikan oleh mahasiswa dan tim relawan memberikan hiburan-hiburan dalam metode belajar bermain seperti permainan tradisional, mendatangkan tokoh-tokoh animasi kartun berbentuk badut, selain itu melukis bersama anak dengan dunia khayalnya, penanganan psikososial juga terdapat di Posko Pengungsian Universitas Karo (UKA) I ini seperti bernyanyi, permainan dinamika kelompok anak-anak. Kegiatan psikososial anak ini bertujuan sebagai langkah pemulihan fisik dan psikis anak pasca bencana erupsi Gunung Sinabung.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar belakang maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul Tinjauan Penanganan Anak Korban Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Posko Pengungsian Universitas Karo (UKA) 1 Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo yang Berbasis Perlindungan Anak.