• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

TINJAUAN PUSTAKA

2.2.5 Managemen Bencana

a. Pengertian Mangemen Bencana

Managemen bencana adalah suatu proses dinamis, berlanjut, dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan

analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi serta rekonstruksi bencana.

Manjemen Bencana adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengendalikan bencana dan keadaan daruat, sekaligus memberikan kerangka kerja untuk menolong masyarakt dalam keadaan beresiko tinggi agar dapt menghindari ataupun pulih dari dampak bencana (Pancawita, 2006: 47).

b. Tujuan Managemen Bencana

Managemen bencana bertujuan untuk:

1. Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup.

2. Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban.

3. Mengembalikan korban bencana dari daerah penampungan sementara atau pengungsian ke daerah asal bila menungkinkan atau merelokasi ke daerah baru yang layak huni dan aman.

4. Mengembalikan fungsi fasilitas utama seperti komunikasi atau transportasi, air minum, listrik dan telepon termasuk mengembalikan kehidupan ekonomi dan sosial daerah yang terkena bencana.

5. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut.

6. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam konteks pembangunan.

c. Prinsip Managemen Bencana

Drs. Andi Hanindito (Kasubdit Tanggap Darurat Departemen Sosial Republik Indonesia), menguraikan secara mendalam dan ilmiah pada The 5th Asia Crisis

Management Conference di Jakarta tanggal 24 Oktober 2007, bahwa prinsip utama dalam meangemen penanggulangan bencana adalah:

1. Tidak ada dua bencana yang sama walaupun jenis bencana dan lokasinya sama. 2. Efektivitas dan efisiensi managemen bencana ditentukan oleh penguasaan akan

karakteristik setiap bencana serta kejelasan aspek-aspek kunci sebagai berikut: a. Sasaran dan bentuk bahaya yang akan terjadi.

b. Sumber-sumber lokal yang tersedia.

c. Bentuk-bentuk organisasi managemen bencana yang dibutuhkan. d. Perencanaan pemenuhan kebutuhan bila bencana terjadi.

3. Tindakan yang harus dilakukan oleh sektro serta titik masuknya dalam siklus managemen bencana (pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, tanggap darurat, restorasi, rehabilitasi dan rekonstruksi).

4. Pendidikan, pelatihan dan pengembangan personil managemen bencana secara berlanjut.

5. Kesejahteraan personel-personel bencana. d. Aspek-aspek dalam menagemen bencana.

Ada 3 aspek mendasar yang terdapat dalam managemen bencana yaitu: 1. Respon tehadap bencana.

2. Kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Tujuan dari upaya kesiapsiagaan bencana adalah menjamin bahwa sistem, prosedur dan sumber daya yang tepat siap ditempatnya masing-masing untuk memberikan bantuan yang efektif dan segera bagi korban bencana sehingga dapat mempermudah langkah-langkah pemulihan dan rehabilitasi layanan.

3. Minimalisasi (mitigasi atau pencegahan bencana) efek bencana

Kegiatan mtigasi mempunyai dua tujuan, yaitu mengurangi kerentanan sistem (seperti dengan memperbaiki dan mengakkan aturan bangunan) dan untuk mengurangi besarnya bahaya.Istilah pencegahan bencana menyiratkan bahwa eliminasi kerusakan akibat suatu bencana memang dimungkinkan, tetapi hal ini tidak realistis untuk sebagian besar bahaya. Salah satu contohnya adalah relokasi penduduk dari daerah yang terkena dampak erupsi gunung ke daerah yang tidak terkena dampaknya.

4. Situasi yang dialami korban bencana

Secara garis besar, situasi-situasi yang dialami oleh korban bencana cenderung beragam bergantung pada jenis bencana, konteks sosial, geografis dan politik yaitu: a) Korban bencana yang rumah dan hartanya mengalami kerusakan tetapi masih

tinggal di lokasi bencana atau di daerah sekitarnya.

b) Korban bencana yang karena kerusakan parah pada komunitas mereka, harus ditampung untuk sementara waktu, jauh dari tempat tinggal biasa mereka.

c) Orang-orang yang mengungsi dari komunitas mereka (biasanya karena kekerasan) dan yang kepulangannya diragukan.

d) Pengungsi yang meninggalkan Negara mereka karena khawatir akan keselatan

hidup mereka

(https://www.facebook.com/ForumHijauIndonesia/posts/266153556809082, diakses tanggal 23 april 2014 Pukul 19.08 WIB).

e. Pendekatan Managemen Bencana

Pada manajemen bencana khususnya terhadap bantuan darurat yang dikenal dua model pendekatan yaitu:

1. Pendekatan konvensional

Korban dianggap tidak berdaya dan membutuhkan barang yang harus kita berikan. Terhadap kebutuhan itu pun harus ditaksir secara cepat dan umum. Dalam pendekatan ini, kebutuhan dianggap begitu mendesak.

2. Pendekatan Pemberdayaan

Korban merupakan manusia yang aktif dengan berbagai kemampuan dan kapasitas.Dengan demikian, penaksiran kebutuhan dapat dilakukan seksama dengan memperhatikan kapasitas yang ada. Karena itu, pendekatan ini menekankan bahwa sejak awal sudah harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari bantuan luar yang mengalir serta harus menghormati gagasan dan kapasitas yang ada pada masyarakat setempat.

Managemen penanggulangan bencana juga mengenal adanya dua mekanisme. Pertama, mekanisme internal yaitu pola penanggulangan bencana yang dilakukan unsur-unsur masyarakat di lokasi bencana, baik berupa keluarga, organisasi sosial dan masyarakat lokal. Mekanisme itu dikenal sebagai mekanisme penanggulangan bencana secara alamiah. Kedua, mekanisme eksternal yaitu penanggulangan bencana dengan melibatkan unsur-unsur di luar unsur-unsur yang terlibat dalam mekanisme internal. Seperti melibatkan unsur-unsur eksternal seperti pemerintah dan dunia internasional dalam bentuk pelaksanaan berbagai kegiatan kemanusiaan.

Pembangunan dan pemberdayaan pasca bencana alam merupakan bagian dari aktivitas pembangunan yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan dan meningkatakan kualitas, taraf hidup masyarakat pasca bencana alam terjadi. Sebagai

bagian dari pembangunan maka ada beberapa pendekatan yang digunakan oleh lembaga-lembaga non pemerintah baik internasional maupun nasional dalam melaksanakan pemberdayaan bagi masyarakat, yaitu :

1. Pendekatan kebutuhan pokok

Pendekatan kebutuhan pokok terdapat preposisi bahwa kebutuhan pokok tidak dapat terpenuhi dengan baik jika kelompok masyarakat berada dalam keadaan tidak berdaya atau miskin (segala harta benda dan kebutuhan telah diporak-porandakan oleh bencana alam) serta untuk sementara waktu tidak bisa memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang meliputi sandang, pangan dan papan.

2. Pendekatan kemandirian

Pendekatan kemandirian (self reliance) atau juga dikenal dengan self suistained merupakan konsekuensi logis dari berbagai upaya yang dilakukan untuk melepaskan ketergantungan dari berbagai bantuan dari negara-negara industri yang mengalir secara umum dinegara-negara miskin (dunia ketiga) secara spesifik kepada Negara atau daerah yang mengalami disfungsi yang disebabkan oleh peristiwa bencana alam. Konsep kemandirian terfokus kepada dua aspek perpektif yaitu penekanan yang dilebih diutamamakan pada hubungan timbal balik dan saling menguntungkan dalam kegiatan pembangunan dan penekananan pada kemampuan dan sumberdaya sendiri.

3. Pendekatan ketergantungan

Pendekatan ketergantungan menyatakan bahwa munculnya sifat ketergantungan masyarakat kepada berbagai bantuan yang datang dari negara-negara maju dalam bentuk kegiatan kemanusiaan dapat menjadikan masyarakat semakin tidak berdaya dan mengalami keterbelakangan. Jika hal ini terus berlanjut maka pembangunan dalam masyarakat akan mengalami stagnasi dan masyarakat akan

semakin terpuruk dalam masalah yang sama dan tetap dianggap belum mandiri (Susanto, 2001: 212-214).

2.3 Perlindungan Anak

Dokumen terkait