• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS PEMBACAAN AL-QUR’AN LANGGAM JAWA DAN ORCHESTRA

DAFTAR TABEL

A. Latar Belakang Masalah

Membaca al-Qur’an dengan memperhatikan hukum-hukum bacaan tajwid adalah wajib. Menurut Syekh Muhammad Al-Mahmud rahimahullah, tujuan mempelajari Ilmu Tajwīd ialah agar dapat membaca ayat-ayat al-Qur’an secara betul (fasih) sesuai dengan yang diajarkan oleh nabi SAW.

Dengan kata lain, agar dapat memelihara lisan dari kesalahan-kesalahan ketika membaca kitab Allah Ta’ālā.1

Hukum membaca al-Qur’an dengan menggunakan aturan tajwid atau Tartil ialah far u ‘ain atau merupakan kewajiban pribadi, karenanya apabila seseorang membaca al-Qur’an dengan tidak menggunakan ilmu tajwīd maka hukumnya berdosa.2

Menurut Ahmad Fathoni dalam bukunya Metode Maisura mengatakan bahwa Allah menjelaskan dalam al-Qur’an dalam surah al-Muzzammil ayat 4, yang mengisyaratkan akan hal ini3:

ﹺﻞﺗﺭﻭ ﺎﹰﻠﻴﺗﺮﺗ ﹶﻥﺁﺮﹸﻘﹾﻟﺍ .

﴿ ﺳ ﻞﻣﺰﳌﺍ ﺓﺭﻮ :

4

Artinya: “Dan bacalah Qur’an dengan tartil yang optimal.” (Q.S. al-Muzzammil/73: 4)

Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al- ‘A im menerangkan bahwa maksud ayat ini adalah agar kita membaca al-Qur’an dengan perlahan-lahan

1 Acep Iim Abdurrohim, Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2003), h. 5.

2 Moh Wahyudi, Ilmu Tajwid Plus (Surabaya: Halim Jaya 2008) c. II, h. 6.

3 Ahmad Fathani, Petunjuk Praktis Tahsīn Tartīl Al-Quran: Metode Maisura (Jakarta:

Fakultas Usuluddin Institut PTIQ Jakarta dan Pesantren Takhasus IIQ Jakarta 2014) h. 1.

sehingga membantu pemahaman dan perenungan terhadap al-Qur’an demikian cara Nabi membaca al-Qur’an sebagaimana di jelaskan ‘ isyah Ra bahwa Rasulullah saw. membaca al-Qur’an dengan tartīl sehingga bacaan yang seharusnya di baca panjang memang dibaca panjang.4 Sayyidina Alī ibn Abī ālib Ra berkata: Tartīl itu membaguskan huruf dan mengenal tentang waqaf. Maksudnya: tartīl dalam makna yang lebih khusus adalah tajwid atau berarti membaguskan hukum-hukum dalam membaca al-Qur’an. 5

Selain tartīl dalam hadis Rasūlullah menganjurkan agar memperindah bacaan al-Qur’an:

ﹺﻦﺑ ﹺﻦﻤﺣﺮﻟﺍ ﺪﺒﻋ ﻦﻋ ﹶﺔﺤﹾﻠﹶﻃ ﻦﻋ ﹺﺶﻤﻋَﻷﺍ ﹺﻦﻋ ﺮﻳﹺﺮﺟ ﺎﻨﹶﺛﺪﺣ ﹶﺔﺒﻴﺷ ﻰﹺﺑﹶﺃ ﻦﺑ ﹸﻥﺎﻤﹾﺜﻋ ﺎﻨﹶﺛﺪﺣ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﹴﺏﹺﺯﺎﻋ ﹺﻦﺑ ِﺀﺍﺮﺒﹾﻟﺍ ﹺﻦﻋ ﹶﺔﺠﺳﻮﻋ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹸﻝﻮﺳﺭ

-ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ

» ﹶﻥﺁﺮﹸﻘﹾﻟﺍ ﺍﻮﻨﻳﺯ

ﻢﹸﻜﺗﺍﻮﺻﹶﺄﹺﺑ

« .

﴾ ﺩﺅﺩ ﻮﺑﺃ ﻩﺍﻭﺭ﴿

Artinya: “Telah menceritakan kepada Kami Utsman bin Abū Syaibah, telah menceritakan kepada Kami Jarīr, dari Al-Amasy, dari Thalhah, dari Abdurrahmān bin ‘Ausajah, dari Al-Bara’ bin ‘Āzib, ia berkata; Rasūlullāh Saw bersabda: “Perindahlah al-Qur’an dengan suara kalian”. (H.R. Abū Dāud)6

Berdasarkan hadist tersebut pengajaran tentang memperindah bacaan al-Qur’an berkembang pesat, ada beberapa lagu yang berkembang di Indonesia dan merupakan lagu popular di dunia yaitu: ijāzi (Mekah dan Madinah), Menurut para ahli lagu ijāzi ada tujuh macam, yaitu: Banjakah, Hirāb, Mayyā, Rakbī, Jiharkah, Sikah, dan Dukkāh.dan aliran Mi rī (Mesir),

4 Abū Al-Fida Ismaīl Ibn Amir Ibn Katsīr, Tafsir Al-Quran Al-Adzim juz 8 (Kairo: Dār abiah Li An-Nasyr Wa At-Tauzi’ 1999), h. 250.

5 Supain, Ilmu-Ilmu Al-Quran Praktis (Jakarta: Gaung Persada Press 2012), h. 85.

6 Abū Dāwūd Sulaiman Ibn Asy’ats As-Sijistani, Sunan Abū Dāwūd juz 1 (Beirut: Dār Al-Kitab Al-‘Arabi t.t), h. 548 .

lagu Mi rī seperti : Bayyātī, abā, Nahāwand, ijāz, Rast, Sikah, dan Jiharka.7

Perkembangan tersebut juga terjadi di Negara-negara lain salah satunya adalah Indonesia. Langgam yang tersebar dan populer di masyarakat Indonesia adalah langgam Mesir atau Mi rī. Kuatnya pengaruh budaya masyarakat Indonesia juga mempengaruhi perkembangan langgam bacaan al-Qur’an di Indonesia. Langgam yang tersebar di Indonesia adalah langgam Jawa .

Pada peringatan Isra Mi’raj di Istana Negara Jakarta Jumat, 15 Mei 2015 Muhammad Yaser Arafat melantunkan bacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa. Hal tersebut menuai beberapa komentar dan perdebatan dari masyarakat mengenai kesalahan pelafalan tajwid pada ayat yang dibacakan oleh Yaser Arafat.8

Sebelum langgam Jawa di lantunkan, al-Qur’an di bacakan ke dalam lagu Orchestra, Orchestra adalah sekelompok pemain berbagai macam alat musik, yang bergabung untuk memberikan pagelaran. Jumlah instrumen setiap kelompok tergantung pada komposisi.9 terjadi pada acara konser

"Symphony of my life" 20 tahun Avip Priatna berkarya diselenggarakan di Aula Simfonia Kemayoran Jakarta Pusat pada 3 Desember 2011 oleh Tenor, Tenor adalah Suara pria yang paling tinggi.10 Farman Purnama dan di

7 Ahmad Syahid, Sejarah dan Pengantar Ilmu Naghām dalam Muhaimin Zen dan Ahmad Mustafid ed,. Bunga Rampai Mutiara al-Qur’an (Jakarta: Pimpinan Pusat Jamiyatul Qara Wal Huffadzh, 2006), h. 27-32.

8 Saiful Bahri, “Baca Alquran Langgam Jawa, MUI: Jangan Nekat,”artikel di akses pada 18 Mei 2015 dari http: http://www.dakwatuna.com/2015/05/18/68773/baca-alquran-langgam-jawa-mui-jangan-nekat/#axzz3iZ6XqoQm.

9 Latifah Kodijat Marzuki, Istilah- Istilah Musik (Jakarta: Jambatan 2004), h. 70.

10 Marzuki, Istilah- Istilah Musik , h. 101.

iringi oleh Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singer, Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan yang berdurasi 11:51 detik, Di uploud oleh orang yang mempunyai akun youtube Al faedah dengan tema “ Kesesatan Ummah : Bila al quranul karim di “Koir”kan” di terbitkan tanggal 14 Mei 2014. Terdapat 66 komentar pada awal komentar menyebutkan Pencabulan atas Surah al-Hujurāt (49) Ayat 13.11

Abdul Aziz Muslim dalam artikelnya “Hukum Melagukan Al-Quran”

yang dimuat pada buku “Bunga Rampai Mutiara al-Qur’an” mengatakan bahwa melagukan al-Qur’an tidak pernah lepas dari tajwid. Hukum-hukum tajwid yang digunakan untuk membaca al-Qur’an tentunya memiliki tujuan yaitu agar al-Qur’an dibaca dengan bagus. Bagus dalam hal ini memiliki beberapa arti: 1. Bagus bacaannya, 2. Bagus tajwidnya, 3. Bagus suaranya, 4.

Bagus lagu dan variasinya, 5. Bagus pengaturan nafasnya, 6. Bagus mimik mukanya (penyesuaian makna dari ayat yang dibaca). Menurut Abdul Aziz bacaan bagus seperti yang telah disebutkan termasuk pada kategori bacaan yang mujawaad dan tartil.12

Pada umumnya kaum muslim di seluruh dunia membaca al-Qur’an dengan qirāat imam ‘Ashim riwayat af arīq as-sya ībiyyah begitupun di Indonesia. Namun kaum Muslimin di Indonesia khususnya, bacaan imam af yang menjadi sandaran masih perlu adanya perbaikan. Karena fenomena yang ada masih tumpang tindih dalam arīq (tarqīb a - urūq), salah satu contoh, bacaan mad jāiz munfa il dua harakat, tiga harakat, empat

11 Komentar selangkapnya bisa di lihat di: https: //www.youtube.com/ watch?v=xKgfkk 5QTGU.

12 Abdul Aziz Muslim, Hukum Melagukan Al-Qur‘an dalam Muhaimin Zen dan Ahmad

Mustafid ed,. Bunga Rampai Mutiara al-Qur’an (Jakarta: Pimpinan Pusat Jamiyatul Qara Wal Huffadzh, 2006), h. 11-12.

harakat, lima harakat bahakan enam harakat.tanpa memperhatikan qirā ‘at, riwayat, dan arīq dari bacaan itu sendiri. Walaupun secara garis besar bacaan tersebut tidak salah (boleh) diperaktekan, namun jangan lupa bahwa disana terdapat pola tertentu yang wajib difahami.13

Atas dasar itu maka jelaslah bahwa perintah membaca al-Qur’an tidak hanya indah saja tapi penting juga membaca dengan tartīl yaitu dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh ahli qirā ‘at. Maka pada skripsi ini penulis akan menganalisa bacaan al-Qur’an dengan langgam jawa dan orchestra, dan ingin mengetahui langgam baca al-Qur ‘an yang sesuai dengan al-Qur ‘an dan hadis.

Berangkat dari permasalahan di atas, dalam rangka mengatasi masalah serta mengantisipasi agar lebih semangat membaca al-Qur ‘an dengan baik, benar dan berkualitas serta tidak mengandung kerancuan dikalangan muslim khususnya muslim Indonesia. maka penulis tertarik untuk meneliti permaslahan-permaslahan tersebut dalam bentuk Skripsi dengan judul

“Membaca Al-Qur’an Dengan Langgam Jawa Dan Orchestra (Analisis Penerapan Ilmu Tajwid Pada Pelantunan Pembacaan Al-Qur’an )”.

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi, Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah, diantaranya:

1. Adanya ketidak sesuaian dalam pembacaan al-Qur’an dalam langgam Jawa dan langgam Orchestra. Apakah bacaan al-Qur’an

13 Supain, Ilmu-Ilmu Al-Qur‘an Praktis (Jakarta: Gaung Persada Press 2012), h. 1.

dalam langgam Jawa dan langgam Orchestra sesuai dengan kaidah tajwid ?

2. Adanya langgam Jawa dan langgam Orchestra yang tidak sesuai dengan langgam Mu’tabarah yang tersebar diberbagai belahan dunia Muslim yang disepakati oleh para qari. Apakah orang Indonesia harus mengikuti tujuh langgam yang telah disepakati?

Apakah orang Arab juga harus mengikuti langgam tersebut?

Sedangkan langgam tersebut datang bukan dari arab.

3. Adanya ayat al-Qur’an yang dilagukan dengan senandung lagu pop dan jazz merujuk pada hadis “

ﻥﺁﺮﹸﻘﹾﻟﺎﹺﺑ ﻦﻐﺘﻳ ﻢﹶﻟ ﻦﻣ ﺎﻨﻣ ﺲﻴﹶﻟ

”.

Apakah melagukan al-Qur`an dengan lagu pop atau jazz termasuk yang diperbolehkan atau tidak?

Pada Proposal Skripsi ini Penulis hanya akan membatasi penelitian pada point pertama yaitu langgam Jawa dan orchestra pada hukum Mad saja dalam kaidah tajwid.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka terbentuklah rumusan masalah :“Bagaimana penerapan ilmu tajwid dalam pembacaan al-Qur’an dengan menggunakan langgam Jawa dan Orchestra” ?