• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Latar Belakang Narasumber

Latar belakang meliputi pembelajaran yang ada di kelas, agar peneliti dapat mengetahui mengenai implementasi pendekatan saintifik pembelajaran kurikulum 2013. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Tujuan peneliti melaksanakan observasi pembelajaran di kelas ini adalah untuk mengetahui bagaimana guru mengimplementasikan pendekatan saintifik pada saat proses pembelajaran. Proses pengimplementasian pendekatan saintifik meliputi aspek mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Peneliti melakukan observasi di tingkatan kelas atas dan kelas bawah yaitu kelas II dan kelas IV.

Seperti penjabaran peneliti diatas bahwa narasumber yang memberikan informasi dalam penelitian ini terdapat 3 narasumber. Narasumber tersebut terdiri dari kepala sekolah, guru kelas IV dan guru kelas II. Narasumber yang pertama yaitu Guru kelas atas yaitu Wali kelas IV. Beliau seorang Bapak yang berinisial VG. Beliau telah menjadi guru selama 9 tahun. Namun, untuk di jenjang Sekolah Dasar beliau sudah 8 tahun mengajar. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara berikut.

“Mengajar kalo di SD sejak 2011, tapi kalo dengan yang non SD dulu sempat satu tahun mengajar SMK.” (W:1, G:1, B: 1-3)

Saat ini beliau dipercaya sebagai Wali Kelas IV dan sebagai bidang kurikulum di sekolah. Pemahaman beliau tentang Kurikulum 2013 sudah baik dikarenakan beliau selalu mengikuti perkembangannya. Dari awal diluncurkan beliau sudah diberi tanggung jawab oleh kepala sekolah yang lama untuk mengurusi masalah kurikulum. Beliau juga sempat ikut menyusun buku kurikulum dan beberapa kali mengikuti bedah kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah dan yang dilakukan oleh yayasan. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara berikut.

“Sejak awal diluncurkan dan diresmikan kurikulum 13 sudah mulai diterapkan dan kebetulan waktu itu saya di tunjuk saya dan rekan-rekan

56 yang lain ditunjuk oleh kepala sekolah yang lama untuk tugas tambahannya dibidang kurikulum jadi sempat menyusun buku kurikulumnya.” (W:1, G:1, B 9-13)

Selain itu, narasumber berikutnya juga merupakan guru kelas. Guru muda ini seorang perempuan yang berinisial YB. Dikatakan guru muda karena ibu ini baru saja menyelesaikan studinya di tahun 2018. Dan langsung bergabung dengan SD yang digunakan peneliti sebagai tempat penelitian. Dalam pemahaman tentang Kurikulum 2013 sendiri guru mengatakan bahwa telah memiliki bekal dari pembelajaran saat kuliah dan dalam kegiatan praktiknya. Selain itu, guru juga mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh pihak yayasan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti.

“Ada pelatihan menggunkan aplikasi rapot penggunaan kurikulum 2013 itu ada pelatihan 3 hari jadi dulu saya dengan guru bahasa inggris jadi matematika parallel dengan guru bahasa inggris semua satu kanisius di jogja ada pelatihan seperti itu jadi pembuatan apanamanya awal-awal sebelum pembelajaran anak-anak masih libur itu kita udah pelatihan terus masuk disini lihat RPPnya ternyata RPPnya berbeda lagi belajar RPP lagi cara nyusunya seperti apa walaupun waktu penelitian kita dapat tugas membuat rpp silabus yang disesuaikan kelompok masing-masing kan di KSK dibagi dulu dah pernah terus rapat lagi di KSK suruh buat RPP lagi berbeda lagi. Untuk kurikulum 2013nya memang sudah dapat materinya jaman kuliah terus tinggal mnyesuaikan gimana caranya aja.” (W:2, G:2 B: 165-178)

SD tersebut dikepalai oleh seorang wanita. Ibu ini berinisial AM. Dimana ibu kepala sekolah tersebut mulai bekerja di SD Swasta ini dari tahun 2009. Namun, untuk mengabdi sebagai kepala sekolah baru satu tahun terakhir. Sebelumnya menjadi walikelas terutama kelas atas yaitu kelas IV. Selain menjadi kepala sekolah beliau juga membantu mengajar dan memberikan tambahan pelajaran di kelas VI. Kepala sekolah tersebut juga membantu mengupayakan untuk mengembangkan penerapan kurikulum 2013, misalnya saja dengan menganalisis kebutuhan untuk pengajaran, setelah mengetahui apa saja yang kurang dari pihak sekolah mencoba untuk melengkapi kekurangan tersebut. Selain itu sekolah juga memberikan akses untuk guru dapat lebih memahami tentang kurikulum 2013 dengan kegiatan-kegiatan. Hal tersebut ditegaskan pada kutipan wawancara di bawah ini.

57

“Kita untuk pembekalah guru K 13 itu kebetulan kita ada KKG guru meliputi yang dinas itu meliputi koordinator wilayah kecamatan guru-guru se Banguntapan itu ada 33 sekolah yang dibedakan menjadi 3 zona wilayah. Kita termasuk dalam gugus II namanya kita ada KKG perkelas itu biasanya diadakan minggu kedua dan keempat nah itu salah satunya dari pemateri dan juga itu juga akan membekali tentang implementasi K 13. Kemudian yang kedua juga KKG guru Kanisius kita secara kedinasan masuk di wilayah Bantul tetapi kalau untuk kekanisiusan kita masuk wilayah KSK kota disitu ada 9 sekolah. Disitu juga diadakan KKG guru sebulan sekali untuk bagaimana kita merancang prangkat pembelajaran mulai dikatakan itu ada buku kerja I, II, III, dan IV seluruh perangkat pembelajaran yang dikerjakan dengan pembagian tugas bersama-sama.” (W:3 G:3 B: 49-63)

Ketiga narasumber tersebut merupakan narasumber terpenting pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Terutama yaitu guru kelas IIB dan IVB yang membantu dalam proses penelitian di kelas tentang bagaimana implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran serta informasi-informasi tambahan yang mereka sampaikan lewat wawancara.

3. Hasil Penelitian

Penelitian yang dilakukan peneliti tentang ragam implementasi Pendekatan Saintifik dalam pembelajaran Kurikulum 2013 di salah satu SD Swasta di Kecamatan Banguntapan yang meliputi proses pelaksanaan pembelajaran dan hambatan yang ditemui guru serta upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti melalui hasil observasi dan wawancara adalah sebagai berikut ini.

a. Deskripsi berdasarkan hasil angket

Untuk memperkaya dan mendukung hasil dari observasi dan wawancara yang dilakukan. Peneliti memberikan angket respon terhadap pelaksanaan pendekatan siantifik kepada guru kelas II dan kelas IV serta seluruh guru kelas II dan IV. Diagram data angket respon ini disajikan dengan menggunakan persentase. Terdapat tiga diagram yang akan disajikan oleh peneliti yaitu (1) grafik data hasil angket respon siswa kelas II dan IV, (2) grafik data hasil angket respon guru kelas II dan kelas IV, serta (3) grafik data hasil angket respon guru dan siswa kelas II dan IV.

58 Berikut ini adalah Diagram I yaitu dari hasil angket yang diisi oleh siswa:

Gambar 4.1 Diagram Persentase Respon Siswa

Berdasarkan diagram di atas, hasil yang didapatkan peneliti dari siswa yaitu kegiatan mengamati memiliki persentase yang lebih tingggi dibandingkan kegiatan lainnya yaitu sebesar 89,09%. Kegiatan kedua yaitu kegiatan menanya dalam kegiatan ini persentase yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan kegiatan lainnya yaitu sebesar 84,707%. Kegiatan ketiga yaitu kegiatan mengumpulkan informasi yang memiliki persentase sebesar 87,50%. Kegiatan keempat yaitu kegiatan menalar yang memiliki persentase sebesar 86,436%. Kemudian kegiatan yang terakhir yaitu kegiatan mengomunikasikan yang memiliki persentase sebesar 85,505%.

Dari hasil yang dipaparkan dalam diagram, dapat disimpulkan persentase respon siswa terhadap proses pembelajaran dalam pengimplementasian pendekatan saintifik bisa dikatakan sudah baik. Hal tersebut terlihat dari hasil persentase setiap aspeknya yang memiliki besar hasil dari 84% sampai 89%.

Sehingga dari angket respon siswa kelas II dan IV implementasi pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran sudah terlaksana dengan baik.

89,095%

84,707%

87,50%

86,436%

85,505%

82,000%83,000%84,000%85,000%86,000%87,000%88,000%89,000%90,000%

Mengamati Menanya Mengumpulkan Informasi Menalar Mengkomunikasikan

PERSENTASE SISWA

DIAGRAM I

59 Selanjutnya adalah Diagram II yaitu dari hasil angket yang diisi oleh guru:

Gambar 4.2 Diagram Persentase Respon Guru

Berdasarkan diagram di atas, hasil yang didapatkan peneliti dari guru melalui angket yaitu dalam kegiatan mengamati memiliki persentase yaitu sebesar 78,125%. Kegiatan kedua yaitu kegiatan menanya dalam kegiatan ini persentase yang dihasilkan sama yaitu 78,125%. Kegiatan ketiga yaitu kegiatan mengumpulkan informasi yang memiliki persentase yang sama sebesar 78,125%.

Kegiatan keempat yaitu kegiatan menalar yang memiliki persentase yang juga sama sebesar 78,125%. Persentase yang didapatkan dari kegiatan pertama hingga keempat memiliki hasil yang sama. Kemudian yang terakhir yaitu kegiatan mengomunikasikan yang memiliki persentase sebesar 75,00% lebih kecil jika dibandingkan dengan persentase empat kegiatan lainnya di atas.

Dari hasil yang dipaparkan dalam diagram, dapat disimpulkan bahwa persentase angket guru dalam implementasi pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran dapat dikatakan cukup. Hal tersebut dikarenakan besar hasil persentase yang didapatkan pada setiap aspeknya mulai dari 75% sampai 78%.

Dimana hasil persentase 4 aspek didalamnya memiliki besar yang sama yaitu 78,125%. Dikatakan cukup karena rentan yang didapatkan tidak melebihi 80%

seperti pada respon siswa.

78,125%

78,125%

78,125%

78,125%

75,00%

73,000%73,500%74,000%74,500%75,000%75,500%76,000%76,500%77,000%77,500%78,000%78,500%

Mengamati Menanya Mengumpulkan Informasi Menalar Mengkomunikasikan

PERSENTASE GURU

DIAGRAM II

60 Kemudian berikutnya yaitu Diagram III yaitu hasil rata-rata yang diperoleh dari guru dan siswa :

Gambar 4.3 Diagram Rata-rata Respon Guru dan Siswa Berdasarkan diagram di atas, hasil yang didapatkan peneliti dari hasil rata-rata point guru dan siswa. Pertama kegiatan mengamati memiliki rata-rata-rata-rata yang lebih tingggi dibandingkan kegiatan lainnya yaitu sebesar 3,54. Kegiatan kedua yaitu kegiatan menanya dalam kegiatan ini rata-rata yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan kegiatan lainnya yaitu sebesar 3,37. Kegiatan ketiga yaitu kegiatan mengumpulkan informasi yang memiliki persentase sebesar 3,48. Kegiatan keempat yaitu kegiatan menalar yang memiliki rata-rata sebesar 3,44. Kemudian yang terakhir yaitu kegiatan mengomunikasikan yang memiliki persentase sebesar 3,41.

Dari hasil rata-rata guru dan siswa yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran sudah terlaksana dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari rentan yang didapatkan yaitu sekitar 3,37 sampai 3,54 dari hasil makmimal 4. Oleh karena itu, maka kesimpulan dari rata-rata guru dan siswa dari respon angket dalam implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran sudah diposisi baik.

b. Deskripsi pelaksanaan pembelajaran

Berdasarkan hasil observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh data bahwa kegiatan inti yang dilakukan guru menonjolkan kegiatan 5M. Kegiatan dalam Pendekatan Saintifik merupakan

3,54 3,37

3,48 3,44 3,41

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4

Mengamati Menanya Mengumpulkan Informasi Menalar Mengkomunikasikan

RATA-RATA GURU DAN SISWA

DIAGRAM III

61 kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Penjelasan untuk masing-masing kegiatan adalah sebagai berikut.

1. Mengamati

Kegiatan mengamati diawali dengan guru meminta siswa untuk mengamati buku cerita yang ditunjukkan oleh guru di depan kelas. Setelah siswa memperhatikan buku-buku tersebut, guru menjelaskan beberapa penjelasan terkait buku cerita yang dibawa. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan observasi di bawah ini.

“Guru mengambil 2 buku di belakang kelas dan nunjukkan buku-buku tersebut di depan kelas” (Mengamati B 3-4 K: IV O: 1)

Dari hasil observasi yang dilaksanakan peneliti selama proses pembelajaran di kelas, guru menggunakan benda konkrit seperti buku yang ditunjukkan kepada siswa. Kegiatan ini dilakukan di kelas IV di awal memasuki Sub Tema Pembiasaan Literasi pada pembelajaran pertama. Dalam kegiatan mengamati ini siswa terlihat semangat dan aktif dalam merespon guru.

Penggunaan media tersebut juga bertujuan agar siswa semakin tertarik untuk melakukan kegiatan mengamati. Briggs (dalam Sudrajat, 2008) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, video, film, dan sebagainya. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti, siswa menjadi lebih tertarik untuk mengamati penjelasan guru di depan kelas dengan menggunakan benda konkrit. Penggunaan media dengan benda konkret yang dilakukan oleh guru ini juga diperkuat dengan hasil angket respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang menyatakan bahwa hampir seluruh siswa setuju bahwa guru menggunakan media/alat pembelajaran. Namun, kegiatan ini hanya dilakukan satu kali saja oleh guru.

Kegiatan mengamati berikutnya, guru meminta siswa untuk mengamati teks bacaan yang ada di buku paket. Setelah guru selesai membaca bacaan tersebut secara pribadi, guru meminta siswa membaca kembali teks atau bacaan tersebut secara bersama dengan guru. Selesai membaca bacaan, guru menjelaskan isi dari bacaan tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan observasi di bawah ini.

62

“Siswa diminta memperhatikan dan membaca teks bacaan pada halaman 159 tentang Aku Cinta Membaca.” (Mengamati B 13-14 K:IV O:1)

“Selanjutnya siswa diminta membuka halaman selanjutnya dan membaca teks cerita secara bergantian tiap kalimat dari mulai siswa yang paling depan sebelah kiri.” (Mengamati B 18-19 K:IV O:1)

“Siswa memilih salah satu teks bacaan yang terdapat pada pembelajaran hari ini dan membaca secara pribadi di dalam hati.” (Mengamati B: 10-11 K:IV O:2)

“Siswa diminta mengamati dan membaca teks Kebaikan Hati Pohon Jati.”

(Mengamati B 27-28 K:IV O:2)

“Siswa diminta untuk membaca teks bacaan dengan senyap (membaca dalam hati) selama 5 menit. Pada kesempatan ini guru juga membaca teks yang sama” (Mengamati B 5-6 K:IV O:3)

“Siswa membaca teks literasi yang disajikan di buku siswa” (Mengamati B 22 K:IV O:3)

“Siswa memilih salah satu teks bacaan yang terdapat pada pembelajaran hari ini dan membaca secara pribadi di dalam hati.” (Mengamati B 11-12 K:IV O:4)

“Kegiatan selanjutnya yaitu siswa mencermati teks literasi 4.” (Mengamati B 26 K:IV O:4)

“Siswa diminta untuk membaca teks dengan senyap (membaca dalam hati) selama 5 menit. Pada kesempatan ini guru juga membaca teks yang sama.”

(Mengamati B 5-6 K:IV O:5)

“Kegiatan selanjutnya yaitu siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan pada kegiatan literasi 5.” (Mengamati B 20-12 K:IV O:5)

“Siswa memilih salah satu teks bacaan yang terdapat pada pembelajaran hari ini dan membaca secara pribadi di dalam hati.” (Mengamati B 4-5 K:IV O:6)

“Kegiatan selanjutnya yaitu siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan pada kegiatan literasi 6.” (Mengamati B 14-15 K:IV O:6)

“Guru melanjutkan meminta siswa membuka buku temanya melihat gambar dan teks bacaan yang terdapat pada halaman 105.” (Mengamati B 7-8 K:II O:7)

“Guru meminta siswa untuk membaca secara pribadi terlebih dahulu kemudian membaca secara bersamaan bacaan yang terdapat pada halaman tersebut tentang “Olahraga Pagi.” (Mengamati B 31-33 K:IV O:7)

“Guru meminta siswa untuk membuka halaman selanjutnya pada buku siswa dan meminta siswa membaca terlebih dahulu bacaannya secara pribadi.” (Mengamati B 43-45 K:IV O:7)

“Siswa membuka halaman selanjutnya untuk kembali melakukan kegiatan mengamati yaitu mengamati teks percakapan yang terdapat dalam buku tersebut.” (Mengamati) B 21-23 K:IV O:8)

“Pada halaman selanjutnya terdapat teks bacaan, siswa membaca teks tersebut secara bersama-sama.” (Mengamati B 38 K:IV O:8)

“Siswa mendengarkan teks yang dibacakan oleh guru. Setelah guru membacakan, guru meminta siswa secara bersama-sama membacakan kembali teks bacaan tersebut. (Mengamati B 5-7 K:IV O:10)”

63

“Siswa diminta berdiskusi untuk membaca soal cerita dan bagaimana cara mengerjakannya menggunakan langkah-langkah dengan temannya. Setelah siswa membaca guru pun menjelaskan maksud dari bacaan tentang soal cerita matematika yaitu mengubah bentuk satuan dalam satuan berat.”

(Mengamati B 15-18 K:IV O:10)

“Siswa mengamati teks bacaan dan membacakannnya bersama-sama.”

(Mengamati B 7-8 K:IV O:12)

Hasil observasi yang dilaksanakan peneliti selama proses pembelajaran di kelas, guru di setiap pembelajaran selalu meminta siswa untuk mengamati teks bacaan atau membaca teks bacaan yang ada di buku paket. Di kelas II guru sering mengajak siswa untuk membacakan bacaan tersebut secara bersamaan setelah membaca secara pribadi, sehingga seluruh guru memperhatikan pembelajaran yang dilakukan dan membantu siswa lain yang masih belum bisa membaca. Teks bacaan dalam Sub Tema Tumbuhan di Sekitarku di kelas II ini berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Namun, kegiatan mengamati teks bacaan di kelas II selalu menggunakan teks bacaan yang ada dibuku paket tidak pernah menggunakan teks bacaan lain dari luar buku paket. Sehingga siswa cenderung bosan dan ketika diminta untuk membaca terlihat beberapa siswa asyik sendiri dengan kegiatannya seperti bercerita dengan teman disampingnnya atau pun berjalan disekitar tempat duduknya. Berbeda dari kelas II, di kelas IV guru meminta siswa untuk membaca sendiri teks bacaan yang ada di buku paket, jenis bacaan yang ada di kelas IV berupa teks bacaan yang berisi tentang berbagai macam cerita. Siswa pada pembelajaran pertama di Sub Tema Pembiasaan Literasi membacakan salah satu cerita rakyat dari buku yang dibawanya. Di kelas IV saat guru meminta siswa untuk membaca teks bacaan dan mengamati bacaan, peneliti melihat bahwa siswa ada yang tidak melaksanakan instruksi dengan baik.

Ada beberapa guru yang asik membaca buku lain yang tidak sesuai intruksi, serta ada satu siswa laki-laki yang mengganggu teman sebelahnya. Namun ada beberapa siswa lainnya yang melaksanakan instruksi guru untuk membaca dan mengamati bacaan yang ada di buku dengan baik. Fungsi dari media menurut Sagala yaitu lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar (2014: 129).

Oleh karna itu penggunaan teks yang terlalu monoton tidak sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Sagala.

64 Selain itu, pada kegiatan mengamati yang sering dilakukan yaitu guru juga meminta siswa untuk mengamati gambar-gambar yang ada di buku paket. Setelah itu guru menjelaskan mengenai gambar tersebut. Selain dari buku paket, guru juga menampilkan gambar melalui bantuan gambar yang ditempelkan di papan tulis yang sudah disediakan oleh guru. Sebagai gambar tambahan untuk menjelaskan pelajaran. Hal tersebut ditegaskan oleh kutipan observasi di bawah ini.

“Sebelum mengerjakan guru sedikit menjelaskan dengan sambil bertanya jawab dengan guru tentang apa itu judul, pokok pikiran, dan beberpa hal lain dengan menempelkan beberapa gambar dan menuliskan pertanyaan terkait gambar tersebut di papan tulis.” (Mengamati B 21-24 K: IV O:1)

“Kegiatan selanjutnya yaitu siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan pada kegiatan literasi 5.”(Mengamati B 20-12 K:IV O:5)

“Guru meminta siswa untuk mencermati gambar yang disajikan pada buku siswa.” (Mengamati B 21-22 K:IV O:5)

“Kegiatan selanjutnya yaitu siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan pada kegiatan literasi 6.” (Mengamati B 14-15 K:IV O:6)

“Guru meminta siswa untuk mencermati gambar yang disajikan pada buku siswa.”(Mengamati B 16-18 K:IV O:6)

“Guru melanjutkan meminta siswa membuka buku temanya melihat gambar dan teks bacaan yang terdapat pada halaman 105.” (Mengamati B 7-8 K:II O:7)

“Siswa membuka buku untuk melakukan kegiatan mengamati yaitu dengan membuka buku siswa dan melihat gambar yang terdapat pada buku tersebut.” (Mengamati B 3-4 K:IV O:8)

“Siswa diminta untuk mengamati gambar yang terdapat pada halaman 125.” (Mengamati B 8 K:IV O:9)

“Siswa diminta untuk mengamati gambar.” (Mengamati B 4-5 K:IV O:11) “Siswa kembali ditunjukkan dengan 1 gambar pada buku siswa untuk diamati.” (Mengamati B 16-17 K:IV O:12)

Gambar 4.4 Guru Menempelkan Gambar dalam Kegiatan Mengamati

65 Selain menggunakan gambar untuk diamati, guru di kelas IV juga menggunakan gambar yang ditempelkan di papan tulis. Gambar yang ditempelkan juga sesuai dengan materi. Guru bisa menyajikan media berupa gambar, video, benda nyata, miniatur, dll (Hosnan, 2014: 40). Siswa lebih terlihat antusias dan lebih dapat konsentrasi saat kegiatan mengamati dengan bantuan gambar-gambar yang ditempelkan. Namun ada satu siswa yang masih belum memperhatikan dengan baik karena asyik bermain sendiri. Sedangkan di kelas II guru hanya menggunakan gambar yang ada di buku paket. Terkadang untuk menunjukkan gambar yang dimaksud, guru harus berdiri di depan kelas sembari menjukkan gambar yang terdapat di buku. Setelah selesai mengamati gambar, guru kemudian menjelaskan dan terkadang bertanya jawab mengenai gambar tersebut.

Peneliti mengonfirmasi dengan kegiatan wawancara yang peneliti lakukan kepada guru kelas, menyatakan bahwa pemahaman guru mengenai kegiatan mengamati sudah dilaksanakan guru saat proses kegiatan pembelajaran. Kegiatan mengamati menurut guru kelas IV dan guru kelas II adalah suatu proses pembelajaran dengan melihat sesuatu, selain itu guru juga berpendapat bahwa kegiatan mengamati itu beragam, kegiatan mengamati bisa dilakukan dengan mengamati teks bacaan, mengamati gambar ataupun mengamati benda konkret seperti tumbuhan, binatang yang ada. Hal tersebut ditegaskan dengan dibuktikan dalam kegiatan wawancara berikut ini.

“Menurut saya mengamati itukan wujudnya macam-macam bisa hanya dengan mengamati sebuah teks bisa dengan mengamati sebuah benda binatang tumbuhan atau yang lain memang hampir selalu saya awali dengan mengamati” (W: 1, G: 1, B 105-108)

“Mengamati itu melihat sesuatu apa yang ada digambar bisa lalu di media yang pembelajaran itu bisa gitu kalau mengamati seperti itu. Ya kadang disetiap pembelajaran tergantung misalnya di gambar diawal pembelajaran ada mengamatinya apa misalnya kayak kemaren itu di tentang tanaman bunga yang ada di halaman rumah misalnya” (W:2, G:2, B 59-65)

Kegiatan mengamati yang dilaksanakan di kelas IV dan kelas II cenderung dengan mengamati gambar dan teks serta bacaan yang ada di buku paket. Selain menggunakan gambar dan bacaan, di kelas IV guru juga menggunakan bantuan gambar yang ditempelkan dan buku cerita. Kegiatan dengan menggunakan gambar yang ditempelkan dan buku sebagai benda konkrit cenderung lebih membuat siswa lebih tertaik dan lebih memperhatikan dalam kegiatan mengamati.

66 Dalam kegiatan mengamati di kelas II guru hanya menggunakan gambar dan bacaan yang ada di buku paket untuk kegiatan mengamati.

Kegiatan mengamati yang dilaksanakan oleh guru di kelas IV dan II sudah sesuai dengan pendapat dari Winarni (2012:21) bahwa keterampilan mengobservasi (mengamati) merupakan keterampilan yang dikembangkan dengan menggunakan segenap indera/panca indera dan alat bantu indera untuk memperoleh informasi serta mengidentifikasi nama/karakteristik dari objek atau kejadian. Siswa mengamati objek/media yang akan dipelajari atau digunakan saat pembelajaran. Karena itu mengamati bukan hanya berarti melihat. Mengamati bisa juga dengan menggunakan telinga (mendengarkan dengan saksama), hidung (membau dengan cermat) dan lain-lain. Hanya saja media/benda yang digunakan di kelas II belum optimal. Bacaan dan gambar yang diberikan kepada siswa dengan materi pembelajaran sudah tersedia di buku paket siswa. Selain menggunakan bacaan dan gambar, berbeda di di kelas IV guru juga menggunakan

Kegiatan mengamati yang dilaksanakan oleh guru di kelas IV dan II sudah sesuai dengan pendapat dari Winarni (2012:21) bahwa keterampilan mengobservasi (mengamati) merupakan keterampilan yang dikembangkan dengan menggunakan segenap indera/panca indera dan alat bantu indera untuk memperoleh informasi serta mengidentifikasi nama/karakteristik dari objek atau kejadian. Siswa mengamati objek/media yang akan dipelajari atau digunakan saat pembelajaran. Karena itu mengamati bukan hanya berarti melihat. Mengamati bisa juga dengan menggunakan telinga (mendengarkan dengan saksama), hidung (membau dengan cermat) dan lain-lain. Hanya saja media/benda yang digunakan di kelas II belum optimal. Bacaan dan gambar yang diberikan kepada siswa dengan materi pembelajaran sudah tersedia di buku paket siswa. Selain menggunakan bacaan dan gambar, berbeda di di kelas IV guru juga menggunakan

Dokumen terkait