• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen Oleh : MUHAMMAD ACHYA HABIBI DALIMUNTHE (Halaman 30-41)

Kondisi termal tempat kerja merupakan suatu kondisi lingkungan kerja yang dipengaruhi oleh beberapa aspek lingkungan kerja fisik. Adapun aspek-aspek tersebut dapat berupa temperatur, kelembaban relatif, pergerakan udara serta aspek personal seperti insulasi pakaian dan jenis kegiatan. Kondisi termal dapat mengakibatkan kenyamanan dan juga ketidaknyamanan dalam bekerja.

Ketidaknyamanan kerja dapat disebabkan oleh adanya paparan panas di tempat kerja. Paparan panas terjadi ketika tubuh menyerap atau memproduksi panas yang lebih besar dari pada yang diterima melalui proses regulasi termal. Paparan panas akibat adanya temperatur yang tinggi dalam ruangan kerja bisa ditimbulkan oleh kondisi ruangan, mesin-mesin ataupun alat yang mengeluarkan panas serta panas yang bersumber dari sinar matahari yang memanasi atap pabrik yang kemudian menimbulkan radiasi kedalam ruangan kerja produksi.1

Paparan panas dari lingkungan sekitar pekerja ditambah dengan metabolisme tubuh yang meningkat akibat adanya tekanan panas disekeliling tempat kerja tersebut dapat menyebabkan permasalahan kesehatan yang disebut

1 Huda, Listiani Nurul. 2012. “Kajian Termal Akibat Paparan Panas dan Perbaikan Lingkungan Kerja”. Jurnal Teknik Industri, Vol. 14, No. 2

(heat strain). Heat strain dapat berawal dari yang sangat ringan seperti heat rash, heat syncope, heat cramps, heat exhaustion hingga yang serius yaitu heat stroke.2

Paparan panas timbul disekeliling tempat kerja disebabkan karena adanya aliran udara panas disekitar tempat pekerja yang disebut sebagai aliran udara lokal.

Menurut L Nurul Huda, aliran udara lokal memberikan sensasi yang berbeda di lokasi yang berbeda pada tubuh manusia karena ketebalan konveksi alami tidak sama di atas permukaan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh aliran udara lokal horizontal dengan suhu dan kecepatan yang berbeda pada sensasi termal, persepsi aliran udara. Hasilnya menunjukkan bahwa aliran udara lokal menyebabkan sensasi termal yang lebih kuat dan persepsi aliran udara di leher daripada di pergelangan kaki di hasil musim panas. Hanya persepsi aliran udara dalam percobaan perubahan kecepatan adalah sama di musim dingin dan musim panas. Hasil ditunjukan pada presentasi lebih kecil pada leher daripada pergelangan kaki.3

Udara lokal tersebut dapat mempengaruhi reseptor termal pada tubuh pengaruh tersebut dapat disebabkan karena transfer panas. Menurut L Nurul Huda, rangsangan reseptor panas atau kontak pada permukaan tubuh, aliran udara lokal harus melewati konveksi alami yang naik disekitar tubuh, panas pada metabolismenya akan naik sendirinya. Efek aliran udara lokal pada perpindahan panas konvektif lokal secara statistik diperiksa menggunakan hasil eksperimen

2 Yenita Riski Nover, Januari 2017. “Higiene Industri”, `Cetakan Pertama, Sleman, CV BUDI UTAMA

3 Huda, Listiani Nurul. 2005. “Thermal Sensation of Local Airflows with Different Temperatures and Velocities: Comparison between Summer and Winter”. American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers, Part 1

termal menggunakan manikin. Meskipun perubahan suhu lapisan batas berbeda tidak teratur antara bagian belakang leher dan pergelangan kaki, perubahan fluks panas permukaan secara signifikan lebih besar di pergelangan kaki daripada di bagian belakang leher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran udara lokal mempengaruhi pergelangan kaki lebih kuat daripada leher.4

Paparan panas sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang dimana terdapat sumber panas, dari kondisi fisik disekeliling tubuh seperti pakaian.

Analisis terhadap paparan panas membutuhkan pengetahuan tentang penggunaan pakaian sebagai pelindung fisik tubuh dan sumber panas yang mempengaruhi keadaan fisik lingkungan. Kulit dapat melepaskan panas baik jika insulasi reduksi pakaian bekerja dengan baik. Pekerja yang telah terbiasa bekerja pada lingkungan panas dapat bekerja secara maksimal dengan aklitimasi 20% dan menggunakan pakaian kerja yang memiliki cairan pendingin khusus (ice vest), sehingga memberikan sensasi tetap dingin selama bekerja dan dapat b ekerja lebih lama.5

Paparan panas sangat berpengaruh pada metabolisme tubuh terutama di bagian kulit karena respon terutama terhadap thermoreceptor. Menurut N.

Moallemi Kviavi, dibawah lingkungan yang tidak seragam, persepsi termal tubuh manusia bergantung pada respons termal dari thermoreceptors kulit (TRs) di berbagai bagian tubuh. Namun, respons termal TRs kulit mencakup bagian statis dan dinamis, masing-masing bergantung pada suhu TRs dan laju perubahannya.

4 Huda, Listiani Nurul. 2005. “An Experimental Study of Convective Heat Transfer on a Body Disturbed by Local Airflow Part 2 Stimulation Structure of Local Airflow Thorough Natural Convection”. American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers, Part 2

5 Flouris, A. D. 2006. “Design and Control Optimization of Microclimate Liquid Cooling Systems Underneath Protective Clothing”. Annals of Biomedical Engineering, Vol 34, No. 3

Dengan demikian, perlu untuk mengevaluasi suhu tergantung waktu TR kulit di bagian tubuh yang berbeda. Persamaan Pennes adalah salah satu persamaan bioheat yang paling penting untuk menghitung suhu tubuh biologis, tetapi, persamaan ini telah digunakan untuk mengevaluasi suhu rata-rata seluruh tubuh, dengan mempertimbangkan sifat rata-rata untuk semua bagian tubuh. Dalam penelitian ini, persamaan Pennes diselesaikan untuk 16 bagian tubuh dengan mempertimbangkan sifat termal / fisiologis yang tepat untuk setiap segmen. Suhu kulit yang tergantung waktu dari 16 segmen tubuh diperoleh dengan memecahkan persamaan bioheat termoregulasi lokal.6

Referensi yang menunjukkan mengenai pakaian yang mempengaruhi tubuh dilakukan oleh beberapa peneliti yang akan diuraikan berikut. Menurut Juhani Smolander, ice vest (Flexi ICE Cold Vest®, Interspiro, Sweden) terbuat dari katun.

Bagian dalamnya terdiri dari dua pemegang plastik rata, yang memiliki beberapa kantong kecil untuk air. Lima rompi berbeda digunakan dalam tes, dan berat badan mereka sedikit bervariasi (1,0-1,1 kg). Di dua rompi, bagian dalamnya ditutupi jaring, sedangkan tiga rompi lainnya memiliki kain katun. Tidak ada efek lingkungan yang diperhatikan selama pengujian karena insulasi yang dapat diabaikan dari jenis lapisan apa pun dibandingkan dengan isolasi total paket garmen dan gradien suhu tinggi dari es terhadap tubuh dan lingkungan. Ice vest menutupi sebagian besar area badan, dan itu dikenakan di atas celana dalam. Rompi itu disimpan dalam freezer pada -20 ° C semalam sebelum percobaan.7

6 Khiavi, Negin Moallemi. “A new local thermal bioheat model for predicting the temperature of skin thermoreceptors of individual body tissues”. Journal of Thermal Biology, Vol 74.

7 Smolander, Juhani. “Effectiveness of a Light-Weight Ice-Vest for Body Cooling While Wearing Fire Fighter’sProtective Clothing in the Heat”. International Journal of Occupational Safety and

Menurut Tomonori SAKOI, pada pekerja pabrik industri manufaktur, pakaian permeabel uap umum dan pakaian pelindung kedap uap yang berlaku untuk penghuni yang terlibat dalam pekerjaan intensitas sedang dengan nilai produksi panas metabolis sekitar 174 W / m2. WBGTeff * memungkinkan konversi tekanan panas ke dalam skala yang dialami oleh penghuni yang mengenakan ensemble pakaian dasar (baju kerja) berdasarkan keseimbangan panas untuk tubuh manusia.

Kami mengkonfirmasi bahwa WBGTeff * efektif untuk mengekspresikan lingkungan termal kritis untuk zona preskriptif bagi penghuni yang mengenakan pakaian pelindung uap yang tidak tembus cahaya.8

Menurut Nurlaili, Marsidi dan Ch. Desi Kusmindari mengatakan, lingkungan kerja merupakan salah satu kajian dalam bidang ergonomi industri, di mana lingkungan kerja memperhatikan interaksi yang terjadi antara manusia (man), tugas/pekerjaan (task), dan lingkungan (environment). Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja secara optimal dan produktif. Oleh karena itu, lingkungan kerja harus ditangani atau didesain sedemikian rupa sehingga menjadi kondusif terhadap pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman. Salah satu indikator yang bisa diperhitungkan dalam upaya mendapatkan kenyamanan dalam bekerja adalah kondisi termal dari ruang kerja. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi thermal dalam ruang kerja, antara lain temperatur dan kelembaban udara. Faktanya suhu

Ergonomics, Vol 10, No. 2

8 SAKOI Tomonori. 2017. “Expansion of Effective Wet Bulb Globe Temperature for Vapor Impermeable Protective Clothing”. Journal of Thermal Biology, Institute of Textile Science and Technology, hal 3.

yang terlalu panas dan suhu yang terlalu dingin akan memberikan efek yang sama-sama tidak baik bagi kesehatan dan produktivitas pekerja.9

Menurut Prof.Yi Li PhD, untuk mereduksi proses aklimatisasi diperlukan suatu solusi perbaikan yaitu perancangan baju pelindung bahwa perancangan baju pelindung panas harus mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi panas yang dirasakan yaitu metabolisme tubuh dalam hal mekanisme panas dalam tubuh, proses transfer panas bahan pakaian, dan faktor luar seperti temperature, kelembaban (kecepatan dan arah angin). Faktor-faktor tersebut merupakan hal yang harus mempertimbangkan dalam perancangan baju pelindung.10

Stam menyatakan bahwa lingkungan kerja yang panas akan mempengaruhi kesehatan tenaga kerja akibat suhu yang tinggi seperti miliaria, heat cramps, heat stroke, heat exhaustion yang ditandai dengan penderita berkeringat banyak, suhu tubuh normal dan sub normal, tekanan darah menurun dan denyut nadi bergerak cepat. Selain itu panas dapat menyebabkan terjadinya dilatasi pembuluh darah perifer, sehingga keseimbangan peredaran darah akan terganggu. Dengan terjadinya keringat yang berlebihan, volume plasma berkurang sehingga volume darah juga berkurang, akibatnya tekanan darah turun dan pasokan O2 (Oksigen) ke otak akan berkurang, dengan demikian orang akan kehilangan kesadarannya.11

9 Nurlaili. 2013. “Optimalisasi Kualitas Kenyamanan Thermal di Ruang Kantor dan Aula Islamic Centre UIN SUSKA Riau”. Sosial Budaya, Vol 10, No 2

10 Li, Prof.Yi PhD. 2011. “Computer–Aided Clothing Ergonomic Design For Thermal Comfort”.

Institute of Textiles and Clothing, Vol 53, No. 1

11 Suwondo, Ari. 2008. “Perbedaan Tekanan Darah Pada Pekerja Yang Terpapar Panas Di Industri Sale Pisang Suka Senang Kabupaten Ciamis”. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, Vol 03, No 1

Penelitian pendahulu yang dilakukan oleh Rajkishore, yang meneliti tentang baju kerja pada pemadam kebakaran. Pakaian yang digunakan untuk melindungi petugas pemadam kebakaran selama proses pemadaman berlangsung harus nyaman untuk di pakai. Pemilihan material yang tepat dan desain pakaian mempunyai peran penting dalam mendukung proses kinerja pakaian dan kenyamanan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini bahan yang digunakan adalah polybenzimidazole yang mampu menahan panas hingga 700 0C dan low UV resistance.12

Berdasarkan dengan uraian diatas mengenai permasalah paparan panas dan berkaiatan dengan pakaian kerja maka peneliti melakukan penelitian masalah paparan panas dan berkaitan dengan pakaian kerja. Penelitian ini dilakukan di PT.

Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina. PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina adalah sebuah perusahan yang bergerak dibidang manufaktur yang menghasilkan minyak CPO yang memiliki beberapa stasiun yaitu, stasiun penerimaan buah (fruit reception station), stasiun penimbunan buah (loading ramp), stasiun rebusan (sterilizing station), stasiun penebah (thressing station), stasiun kempah (pressing station), stasiun pemurnian minyak (clarification station). Keenam Stasiun tersebut memiliki karakteristik lingkungan berbeda, salah satu lingkungan kerja yang terkait paparan panas yang terbesar difokuskan pada Stasiun Perebusan. Stasiun Perebusan adalah tempat perebusan tandan buah segar, dimana pada stasiun ini akan menentukan hasil produksi.

12 Nayak, Rajkishore. 2014. “Recent trends and future scope in the protection and comfort of fire fighters’ pakaian pelindung diri”. http://www.firesciencereviews.com/content/3/1/4, Vol 3 No. 4

Permasalahan paparan panas yang terbesar diakibatkan pada stasiun perebusan yang diakibatkan oleh mesin sterilizer. Paparan tersebut berpengaruh terhadap pekerja yang disebabkan pekerja mengalami keringat yang berlebih dan pekerja sering melepas baju kerja. Untuk mengetahui hasil wawancara yang dilakukan terhadap 6 pekerja merasa panas selain dari sumber panas dan pekerja merasa panas. Akibat dari paparan panas tersebut yang tidak dapat menguap pada udara sekeliling. Hal ini disebabkan karena baju kerja yang digunakan tidak mampu menyerap keringat dan menguap ke udara sekeliling.

Oleh karena itu studi kasus penelitian ini difokuskan pada stasiun perebusan. Sedangkan yang lain dapat dilihat pada Tabel 1.1. Stasiun Perebusan adalah tempat perebusan Tandan Buah Segar dengan menggunakan energi panas uap, dimana pada stasiun ini akan menentukan hasil produksi. Berdasarkan pengamatan di stasiun kerja PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina, alur stasiun produksi yang dilalui Tandan Buah Segar (TBS) untuk diolah menjadi CPO (Crued Palm Oil) di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina terdiri dari Berikut ini adalah kondisi dari parameter-parameter termal yang terdapat pada masing-masing stasiun.

Tabel 1.1 Nilai Termal di Setiap Stasiun Poduksi Kebun Adolina

Berdasarkan Tabel 1.1 suhu ruangan pada bagian stasiun perebuasan sebesar 37,00C menunjukkan bahwa melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) dari Kementrian Tenaga Keja, dan menurut standar SNI 16-7063-2004 suhu yang ditetapkan pada beban kerja berat 25,90C. Selain data temperatur udara iklim kerja panas disebabkan oleh kombinasi antara kecepatan angin dan kelembaban udara.

Berdasarkan hal tersebut dilakukan pengukuran awal terhadap kecepatan angin dan kelembaban udara. Hasil pengukuran didapatkan bahwa kecepatan angin sebesar 0,1 m/s dan kelembaban rata-rata didapatkan adalah sebesar 87,6%. Hal ini menunjukan bahwa tidak sesuai dengan ketetapan Kementrian Kesehatan No 1405/Menkes/SK/XI/2002 yang menetapkan kelembaban yang diizinkan adalah sebesar 40-60% untuk kesehatan lingkungan kerja industri.

Gambar 1.1 Pakaian Aktual Pada PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina

Pada Gambar 1.1 dapat diketahui bahwa operator menggunakan seragam kerja yang terdiri dari kemeja pendek, celana panjang, dan sepatu boots. Bahan seragam terbuat dari bahan teteron cotton yang tidak dapat menyerap keringat.

Bahan ini Teteron Cotton ini sering dikenal sebagai bahan kawin-silang antara Polyester dan Cotton. Umumnya komposisi untuk membuat bahan TC ialah 65% (cotton) dan 35% (polyester) dan nilai Iclu(clo) 0,25, bahan tersebut menyebabkan ketidaknyamanan pekerja saat melakukan aktivitas dikarenakan bahan tersebut tidak dapat melepaskan panas tubuh dengan baik dan kurang bisa menyerap keringat sehingga panas dikenakan pada operator.

Kondisi lingkungan yang sangat panas dan kondisi fisik tubuh yaitu pakaian yang tidak dapat melepaskan panas dengan baik menyebabkan paparan panas bagi pekerja. Kondisi tersebut mengakibatkan performansi pada operator stasiun

perebusan yang tidak optimal. Oleh karena paparan panas yang dialami pekerja melewati ambang batas maka pekerja mengalami ketidaknyamanan saat bekerja di stasiun perebusan dalam 1 shift. Para pekerja hanya mampu bekerja didalam rentang waktu 20 sampai 30 menit. Setelah itu pekerja akan keluar dan mendinginkan badan selama 20 sampai 50 menit untuk melakukan aklitimasi tubuh.

Kondisi tersebut terjadi secara berulang-ulang setiap hari pada pekerja. Proses aklimatisasi ini merupakan kegiatan yang bersifat non produktif bagi perusahaan.

Berdasarkan penelitan pendahuluan ini mendapatkan bahwa persentase pekerja bekerja secara produktif dalam satu shift yaitu 25,66% sampai 74,34%. Hal ini menunjukkan bahwa waktu non produktif pekerja yang relatif besar dibandingkan dengan waktu produktif pekerja. Hal ini diindikasikan sebagai penyebab dari ketidaknyamanan pekerja distasiun perebusan dikarenakan panas dari lingkungan sekitar dan baju pekerja yang kurang baik dalam melepaskan panas dalam tubuh.

Berdasarkan permasalahan di pabrik mengenai ketidaknyamanan pekerja terhadap pakaian dan lingkungan kerja maka harus dilakukan perbaikan. Keluhan – keluhan pekerja mengenai pakaian kerja pabrik pada PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina di stasiun perebusan telah direkapitulasi berdasarkan kuesioner pendahuluan yang telah diberikan. Rekapitulasi dapat dilihat pada tabel 1.2. Berikut adalah hasil kuesioner dari keseluruhan operator distasiun perebusan:

Tabel 1.2 Rekapitulasi Keluhan Pekerja Stasiun Perebusan

No Jenis Keluhan Jumlah Responden

1 Tidak melindungi keseluruhan tubuh 1

2 Tidak menyerap keringat dengan baik 4

3 Kain tidak nyaman 1

Jumlah 6

Lingkungan termal disekitar pekerja distasiun perebusan terlalu tinggi, sehingga operator terkena paparan panas. Disisi lain baju yang digunakan tidak mendukung penyerapan keringat yang dikeluarkan oleh tubuh, sehingga tidak terjadi keseimbangan antara produksi panas yang dihasilkan oleh tubuh dengan panas yang dikelurkan oleh tubuh.

Dalam dokumen Oleh : MUHAMMAD ACHYA HABIBI DALIMUNTHE (Halaman 30-41)

Dokumen terkait