NUSANTARA IV KEBUN ADOLINA
TUGAS SARJANA
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Penulisan Tugas Sarjana
Oleh :
MUHAMMAD ACHYA HABIBI DALIMUNTHE
NIM : 140403114
D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N
2 0 1 8
NUSANTARA IV KEBUN ADOLINA
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Penulisan Tugas Sarjana
Oleh :
MUHAMMAD ACHYA HABIBI DALIMUNTHE
NIM : 140403114Disetujui Oleh : Dosen Pembimbing
Dr. Eng. Ir Listiani Nurul Huda, MT.
D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N
2 0 1 8
The work environment greatly affects workers in carrying out work. Thermal environment is one of the factors of the work environment that affects work performance. Decreasing the performance of boiling station workers at PT.
Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina, one of the results of the extreme thermal physical work environment, was 37.0oC. The reduction in performance was marked by non-productive time of 25.66% to 74.34%.
The purpose of this research is to improve the work performance of boiling station workers by providing work clothes repair designs. The design of the proposal aims to increase the exposure time recommendation or duration limited exposure (DLE) given to the existing thermal conditions. Work clothes design designed using the method of quality function deployment (QFD) designed based on the needs of workers.
Thermal analysis of the work environment was carry out by looking at the value of the Heat Stress Index (HSI), the value (Wet Bulb Globe Temperature) of the WBGT and calculating the recommended time for maximum exposure to workers duration limited exposure (DLE). The results of the heat exposure analysis obtained an average value of HSI of 94.63% which was categorized as a very severe heat pressure level. While the average value of WBGT received is 32.9oC exceeding the average threshold value of the average WBGT of workers at 25.9oC. The maximum time workers are allowing to work at the boiling station is 34.63 minutes in one hour work.
Repair of work facilities at the boiling station by providing work clothes designs includes the upper protective cloth and the lower protective cloth. The work clothes design is carried out with the design ergonomics approach and product design method. The design of the work clothes proposal was found that product comfort and dimensional accuracy were the priorities of the workers. The design of the work clothes proposal increased the maximum exposure time of the recommended worker to 92.99 minutes.
Keywords: Heat Stress, Personal Protective Clothing, HSI, DLE, Anthropometry, QFD
Lingkungan termal merupakan salah satu faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi performansi kerja. Penurunan performansi pekerja stasiun perebusan di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina, salah satu akibat dari faktor lingkungan kerja fisik termal yang bersuhu ekstrim, sebesar 37,0oC.
Penurunan peformansi ditandai dengan waktu non produktif sebesar 25,66%
sampai 74,34%.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan performansi kerja pekerja stasiun perebusan dengan memberikan rancangan perbaikan baju kerja. Desain usulan bertujuan untuk meningkatkan waktu paparan rekomendasi atau duration limited eksposure (DLE) yang diberikan terhadap kondisi termal yang ada. Desain baju kerja yang dirancang menggunakan metode quality function deployment (QFD) yang dirancang berdasarkan kebutuhan pekerja.
Analisa termal lingkungan kerja dilakukan dengan melihat nilai Heat Stress Index (HSI), nilai (Wet Bulb Globe Temperature) WBGT dan menghitung waktu rekomendasi paparan maksimal pekerja duration limited exsposure (DLE). Hasil analisa paparan panas didapatkan nilai rata-rata HSI sebesar 94,63% yang dikategorikan pada level tekanan panas sangat parah. Sedangkan nilai WBGT rata- rata yang diterima adalah sebesar 32,9oC melebihi rata-rata nilai ambang batas rata- rata WBGT pekerja sebesar 25,9oC. Waktu maksimal pekerja diizinkan bekerja di stasiun perebusan sebesar 34,63 menit dalam satu jam kerja.
Perbaikan fasilitas kerja di stasiun perebusan dengan memberikan rancangan pakaian kerja yang meliputi upper protective cloth dan lower protective cloth.
Rancangan baju kerja dilakukan dengan pendekatan ergonomi desain dan metode perancangan produk. Hasil rancangan usulan baju kerja didapatkan bahwa kenyamanan produk dan akurasi dimensi menjadi prioritas pekerja. Desain usulan baju kerja meningkatkan waktu paparan rekomendasi maksimal pekerja menjadi 92,99 menit.
Kata Kunci : Heat Stress, Personal Protective Clothing, HSI, DLE, Antropometri, QFD
Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas sarjana ini dengan baik. Laporan tugas sarjana merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi penulis untuk dapat menyelesaikan program studi Reguler S-1.
Penulis melaksanakan Tugas Sarjana di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina yang bergerak dalam minyak kelapa sawit atau CPO. Tugas Sarjana ini berjudul Analisis Paparan Panas dan Desain Pakaian Pelinding Diri Pada Pekerja Stasiun Perebusan di PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina.
Besar harapan penulis penyusunan laporan penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, karena pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih terbatas. Oleh sebab itu, penulis menerima secara terbuka setiap kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan tulisan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENULIS
OKTOBER 2018
Selama penulis berada dibangku perkuliahan di Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara, penulis mendapatkan pendidikan sarjana teknik hingga dapat menyelesaikan tugas sarjana untuk memperoleh gelar sarjana teknik yang merupakan proses terintegrasi untuk menjadikan penulis sebagai lulusan yang terdidik, berguna dan memiliki integritas moral serta berakhlak dan mampu mencapai kehidupan yang lebih baik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua tercinta, Mukhlis Dalimunthe dan Wizni Eliza Nasution yang telah mengizinkan penulis untuk menempuh pendidikan sarjana dan memberikan dukungan dan motivasi baik dari segi moril, doa, maupun materil. Penulis juga tidak akan dapat menyelesaikan tugas sarjana ini jika tidak mendapatkan bimbingan, bantuan dan doa dari berbagai pihak sehingga penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Eng. Ir. Listiani Nurul Huda, MT. sebagai Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis, memberikan ilmu, dan memberikan saran dalam penyelesaian laporan tugas sarjana.
2. Ibuk Minar dari pihak PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di pabrik dan memberikan data yang mendukung penelitian tugas sarjana.
3. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama perkuliahan sebagai bekal dalam penulisan tugas sarjana.
Neneng, Bu Aniaty, Kak Rahmaini, dan Kak Mia sebagai yang telah membantu segala urusan administrasi dan peminjaman buku di perpustakaan selama kegiatan perkuliahan dan penyelesaian tugas sarjana.
5. Kedua saudari tercinta, Siti Maulina Dalimunthe dan Siti Maufifah Wiliza Dalimunthe yang selalu memberikan dukungan dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas sarjana ini.
6. Jesica Utaminingrum yang telah memberikan motivasi, saran dan dukungan selama penyelesaian tugas sarjana.
7. Rekan seperjuangan kerja peraktek yaitu Emmanuella Carolina, Glaret Yola Herdia dan Jerricho Medion Haryono Sillalahi dalam di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina.
8. Sahabat terbaik, Afia Akmalia, Jesica Utaminingrum, Gemilang Safira Erdia, yang telah memberikan semangat dan mendukung serta mendoakan penulis.
9. Sahabat-sahabat ku tercinta, Dian Artikosari, Strie Anggih, Elisa Dora Manurung, Mutia Irani, Allessiatitisa, Syafiah Khairunnisa, Noviandri, Ahmad Wahyudi, Khairul Imam, Jerricho Medion Haryono Sillahi, Emmanuaella Carolina, Glaret Yola Herdita, dan Aulia Badrul Fath yang telah memberikan dukungan motivasi dan dorongan semangat kepada penulis dalam penyelesaian tugas sarjana ini.
10. Sahabat-sahabat penulis di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU khususnya teman-teman angkatan 2014 “ELASTIS” yang tidak dapat
11. Seluruh pihak yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dalam penyelesaian tugas sarjana ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA, MEDAN PENULIS
OKTOBER 2018
BAB HALAMAN
LEMBAR JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
SERTIFIKAT EVALUASI TUGAS SARJANA ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xxiii
I PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Perumusan Masalah ... I-12 1.3. Tujuan Penelitian ... I-12 1.4. Manfaat Penelitian ... I-13 1.5. Batasan Masalah dan Asumsi ... I-14 1.6. Sistematika Penulisan Laporan ... I-14
II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1 2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1
BAB HALAMAN 2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha ... II-2 2.3. Lokasi Perusahaan ... II-3 2.4. Daerah Pemasaran ... II-3 2.5. Organisasi dan Manajemen ... II-4 2.5.1. Struktur Organisasi Perusahaan ... II-4 2.5.2. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-6 2.6. Bahan yang Digunakan ... II-7 2.6.1. Bahan Baku ... II-7 2.6.2. Bahan Tambahan ... II-8 2.7. Proses Produksi ... II-9 2.7.1. Stasiun Penerimaan Buah (Reception Station) ... II-10 2.7.2. Stasiun Perebusan (Sterilizing Station) ... II-11 2.7.3. Stasiun Penebah (Thresher Station) ... II-12 2.7.4. Stasiun Pengempa (Pressing Station) ... II-12 2.7.5. Stasiun Klarifikasi (Clarification Station) ... II-13 2.7.6. Stasiun Pengolahan Inti/Biji (Kernel Station) ... II-17
III LANDASAN TEORI ... III-1 3.1. Paparan Panas ... III-1 3.2. Suhu Radiasi ... III-2
BAB HALAMAN 3.3. Suhu Udara (T) ... III-3 3.4. Kecepatan Udara (v) ... III-4 3.5. Kelembaban Udara (RH) ... III-5 3.6. Keseimbangan Panas ... III-5 3.7. Kenyamanan Termal ... III-10 3.8. Pakaian (Clothing) ... III-11 3.9. Sifat-Sifat Termal Pakaian ... III-13 3.10. Model Pakaian Sederhana ... III-15 3.10.1. Transfer Panas dari Tubuh ke Kulit ... III-16 3.10.2. Instrinsic Clothing Insulation (Icl ) ... III-17 3.10.3. Tahanan Panas dari Lingkungan- Udara (Ia) ... III-18 3.10.4. Insulasi Total (It) dan Insulasi Efektiv (Icle) ... III-19 3.10.5. Efisiensi Faktor Panas Burton (Fcl ) ... III-20 3.11. Metode Penentuan Insulasi Termal Kering Pakaian ... III-20 3.12. Model Paparan Panas ... III-25 3.13. Prinsip Pakaian ... III-25 3.14. Heat Stress Index (HSI) ... III-26 3.15. Wet Bulb Globe Temperatur (WBGT) ... III-27 3.16. Penilaian Beban Kerja Fisik ... III-27 3.16.1. Metode Penilaian Secara Langsung ... III-28
BAB HALAMAN 3.17. QFD (Quality Function Deployment) ... III-29
IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV-1 4.2. Jenis Penelitian ... IV-1 4.3. Subjek Penelitian ... IV-1 4.4. Kerangka Konseptual Penelitian ... IV-1 4.5. Variabel Penelitian ... IV-2 4.6. Prosedur Penelitian ... IV-3 4.7. Instrumen Penelitian ... IV-4 4.8. Pengumpulan Data ... IV-9 4.8.1. Sumber Data ... IV-9 4.8.2. Metode Pengumpulan Data ... IV-10 4.9. Prosedur Penelitian ... IV-11 4.10. Instalasi Peralatan Pengukuran di stasiun perebusan ... IV-12 4.11. Populasi ... IV-14 4.12. Pengolahan Data ... IV-14 4.13. Kesimpulan dan Saran ... IV-17
BAB HALAMAN V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1
5.1. Pengumpulan dan Pengolahan Data Temperatur Kulit ... V-1 5.1.1. Data Pekerja ... V-1 5.1.2. Data Sensasi Termal dan Tingkat Kenyamanan .... V-2 5.1.3. Temperatur Permukaan Kulit ... V-3
5.1.3.1. Nilai Slope Temperatur Permukaan
Kulit ... V-3 5.1.4. Perhitungan Beban Kerja Pekerja ... V-4 5.2. Tingkat Paparan Panas ... V-6 5.2.1. Perhitungan Nilai Heat Stress Index ... V-6 5.2.1.1. Data Temperatur Udara (Ta) ... V-6 5.2.1.2. Pengumpulan Data Kecepatan Angin
(V) ... V-9 5.2.1.3. Pengumpulan Data Kelembapan Udara
(RH) ... V-11 5.2.1.4. Pengumpulan Data Temperatur Kering
(0C) ... V-14 5.2.1.5. Pengumpulan Data Temperatur Globe
(0C) ... V-16
BAB HALAMAN 5.2.1.6. Pengumpulan Data Temperatur Basah
(0C) ... V-19 5.2.1.7. Pengumpulan Data Insulasi Pakaian
Pekerja ... V-22 5.3. Perhitungan Heat Stress Index (HSI) ... V-24 5.4. Nilai WBGT ... V-26 5.4.1. Nilai WBGT Existing ... V-28 5.4.2. Nilai Ambang Batas WBGT ... V-28 5.4.3. Proporsi Work-Idle ... V-29 5.5. Perhitungan Duration Limited Exsposure (DLE) ... V-35 5.6. Perancangan Antropometri ... V-36
5.6.1. Perhitungan Rata-rata, Standar Deviasi, Nilai
Maksimum dan Minimum ... V-40 5.6.2. Uji Keseragaman Data ... V-41 5.6.3. Uji Kecukupan Data ... V-57 5.6.4. Uji Kenormalan Data ... V-59 5.6.5. Penetapan Data Antropometri dengan Prinsip
Ekstrim ... V-62 5.6.6. Penetapan Data Antropometri dengan Prinsip
Rata-rata ... V-64
BAB HALAMAN 5.7. Penentuan Spesifikasi Atribut Produk ... V-68
5.7.1. Kuesioner Tertutup ... V-70 5.7.2. Uji Validitas Data Hasil Kuesioner Tertutup ... V-71 5.7.3. Uji Reliabilitas Data Hasil Kuesioner Tertutup ... V-72 5.8. Membangun Matriks Quality Function Deployment
(QFD) ... V-75 5.8.1. Identifikasi Kebutuhan Pekerja ... V-75 5.8.2. Menentukan Tingkat Kepentingan / Customer
Importance (CI) ... V-75 5.8.3. Menetapkan Karakteristik Teknik terhadap
Kebutuhan Pekerja ... V-80 5.8.4. Menetapkan Hubungan Antara Karakteristik
Teknis ... V-81 5.8.5. Menetapkan Tingkat Hubungan Antara
Karakteristik Teknis Produk Dengan Keinginan
Pekerja ... V-82 5.8.6. Membangun Matriks House of Quality (HOQ)
Desain Personal Protective Clothing ... V-84
BAB HALAMAN VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... VI-1
6.1. Analisis Kondisi Lingkungan Kerja Akibat Paparan
Panas ... VI-1 6.1.1. Analisis Persepsi Paparan Panas Operator ... VI-2 6.1.2. Analisis Heat Stress Index (HSI) ... VI-2 6.1.3. Analisis Indeks Suhu Bola Basah (Wet Bulb
Globe Temperature) ... VI-3 6.1.4. Analisis DLE ... VI-4 6.1.5. Analisis Antropometri dan QFD ... VI-5 6.1.5.1. Analisa Antopometri ... VI-5 6.1.5.2. Analisis Kuesioner Tertutup ... VI-5 6.2. Pembahasan ... VI-8 6.2.1. Pembahasan Keterkaitan Antar Variabel Termal ... VI-8 6.2.2. Pembahasan Usulan Perbaikan Personal
Protective Clothing ... VI-10 6.2.3. Pembahasan Perbandingan Kondisi Aktual
dengan Desain Usulan ... VI-13
VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan ... VII-1
BAB HALAMAN 7.2. Saran ... VII-2
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
TABEL HALAMAN 1.1. Nilai Termal di Setiap Stasiun Produksi Kebun Adolina ... I-9 1.2. Rekapitulasi Keluhan Pekerja Stasiun Perebusan ... I-11 2.1. Jam Kerja Karyawan Kantor ... II-6 2.2. Jam Kerja Karyawan Pabrik ... II-6 2.3. Jumlah Pekerja dalam Dua Shift di PKS PTPN IV Kebun
Adolina ... II-7 3.1. Urutan Pakaian Kerja : Nilai Insulasi Panas Kering ... III-22 3.2. Individual Clothing Garments: Dry Thermal Insulation
Value ... III-22 3.3. NIOSH Rekomendasi WBGT Limit, dalam oC, untuk
Tekanan Panas pada Aklimasi Pekerja ... III-25 3.4. Arti Rentang Nilai HIS ... III-26 3.5. Konsumsi Energi dan Kategori Beban Kerja Berdasarkan
Energi Expenditur ... III-28 3.6. Simbol dan Nilai Matriks Interaksi ... III-34 3.7. Simbol Interaksi Parameter Teknik ... III-34 4.1. Spesifikasi 4 in 1 Environmental ... IV-5 4.2. Spesifikasi Black Globe Thermometer ... IV-6 4.3. Spesifikasi Anemometer ... IV-6 4.4. Gradien Temperatur ... IV-12
TABEL HALAMAN 4.5. Legenda Stasiun Sterilizer ... IV-14 5.1. Data Pribadi Pekerja Stasiun Perebusan ... V-1 5.2. Data Rata-Rata Temperatur Kulit Pekerja (Tsk) ... V-3 5.3. Rekapitulasi Nilai Slope Temperatur Permukaan Kulit ... V-4 5.4. Data Denyut Nadi Pekerja ... V-5 5.5. Perhitungan Konsumsi Energi Pekerja Stasiun Perebusan ... V-5 5.6. Data Temperatur Udara Pada Ketinggian 0,1 1,1 1,7 (Ta) ... V-6 5.7. Data Rata–Rata Ketinggian Temperatur Udara ... V-8 5.8. Data Kecepatan Angin Pada Ketinggian 0,1 1,1 1,7 (m/s) ... V-9 5.9. Data Rata–Rata Ketinggian Pengukuran Kecepatan Angin ... V-10 5.10. Data Kelembaban Udara Pada Ketinggian 0,1 1,1 0,7 (RH) .. V-11 5.11. Data Rata–Rata Gradien Ketinggian Pengukuran
Kelembaban Udara ... V-13 5.12. Data Temperatur Kering Pada Ketinggian 0,1 1,1 1,7 (0C) ... V-14 5.13. Data Rata–Rata Gradien Ketinggian Temperatur Kering ... V-15 5.14. Data Temperatur Globe Pada Ketinggian 0,1 1,1 1,7 ... V-17 5.15. Data Rata–Rata Gradien Ketinggian Temperatur Globe ... V-18 5.16. Data Temperatur Basah Pada Ketinggian 0,1 1,1 1,7 ... V-19 5.17. Data Rata–Rata Gradien Ketinggian Temperatur Basah ... V-21 5.18. Data Insulasi Pakaian Pekerja ... V-23
TABEL HALAMAN 5.19. Rekapitulasi Hasil Pengukuran Termal ... V-24 5.20. Rekapitulasi Perhitungan HSI ... V-24 5.21. Kategori HSI ... V-25 5.22. Data Suhu Basah, Temperatur Globe, dan Temperatur
Kering ... V-26 5.23. Rekapitulasi Nilai WBGT pada Semua Titik ... V-27 5.24. Faktor Koreksi WBGT ... V-28 5.25. Nilai Ambang Batas Ketetapan ... V-29 5.26. Akurasi Work dan Idle Perkerja Stasiun Perebusan ... V-30 5.27. Proporsi Work dan Idle Pekerja Stasiun Perebusan ... V-30 5.28. Rekapitulasi Nilai Ambang Batas WBGT ... V-32 5.29. Rekapitulasi Perbandingan Nilai WBGT Existing dengan
Ambang Batas WBGT ... V-34 5.30. Kriteria Nilai dari Tekanan Panas dari ISO 7933 (1989) ... V-35 5.31. Rekapitulasi Perhitungan Duration Limit Exposure (DLE) ... V-36 5.32. Data Antropometri untuk Merancang Baju Kerja ... V-38 5.33. Nilai Rata-Rata Standar Deviasi, Nilai Maksimum dan Nilai
Minimum Tiap Dimensi Tubuh ... V-41 5.34. Tabel Uji Keseragaman Dimensi Tinggi Bahu Duduk
(TBD) ... V-42
TABEL HALAMAN 5.35. Tabel Uji Keseragaman Revisi Akhir Dimensi (TBD) ... V-43 5.36. Tabel Uji Keseragaman Dimensi Lebar Pinggul (LP) ... V-45 5.37. Tabel Uji Keseragaman Revisi Akhir Dimensi (LP) ... V-46 5.38. Tabel Uji Keseragaman Dimensi Lebar Pinggul (LB) ... V-48 5.39. Tabel Uji Keseragaman Revisi Akhir Dimensi (LB) ... V-49 5.40. Tabel Uji Keseragaman Dimensi Lebar Pinggul (JT) ... V-51 5.41. Tabel Uji Keseragaman Revisi Akhir Dimensi (JT) ... V-52 5.42. Tabel Uji Keseragaman Dimensi Lebar Pinggul (TSB-
TMK) ... V-54 5.43. Tabel Uji Keseragaman Revisi Akhir Dimensi
(TSB–TMK) ... V-55 5.44. Perhitungan Uji Kecukupan Dimensi Tinggi Bahu Duduk .... V-57 5.45. Uji Kecukupan Data ... V-58 5.46. Dimensi Tinggi Bahu Duduk (TBD) ... V-63 5.47. Dimensi Lebar Pinggul (LP) ... V-64 5.48. Dimensi Lebar Pinggul (LB) ... V-65 5.49. Dimensi Jangkauan Tangan (JT) ... V-66 5.50. Dimensi Tingggi Siku Berdiri (TSB)–Tinggi Mata Kaki
(TMK) ... V-67 5.51. Rekapitulasi Ukuran Desain Baju Kerja ... V-68
TABEL HALAMAN 5.52. Karakteristik Kain untuk Hight Visibility ... V-70 5.53. Atribut Produk ... V-70 5.54. Rekapitulasi Kuisioner Tertutup ... V-71 5.55. Rekapitulasi Nilai X dan Y ... V-71 5.56. Rekapitulasi Validitas Setiap Pertanyaan Kuesioner
Tertutup ... V-72 5.57. Varians Untuk Setiap Pertanyaan ... V-74 5.58. Hasil Identifikasi Kebutuhan Pekerja ... V-75 5.59. Customer Importance (CI) ... V-76 5.60. Tingkat Kepuasan Pekerja untuk Setiap Variabel ... V-76 5.61. Keterangan Nilai Sales Point ... V-77 5.62. Nilai Sales Point Variabel Kebutuhan Pekerja ... V-78 5.63. Rasio Perbaikan Setiap Variabel Kebutuhan ... V-78 5.64. Bobot Absolut setiap Variabel Kebutuhan ... V-79 5.65. Bobot Relatif untuk Setiap Variabel ... V-80 5.66. Karakteristik Teknis yang Dibutuhkan untuk Memenuhi
Kebutuhan Pekerja ... V-80 5.67. Kategori Tingkat Kesulitan ... V-84 5.68. Matriks Target yang Ingin Dicapai ... V-86 5.69. Kesimpulan Desain Berdasarkan Pengolahan QFD ... V-88
TABEL HALAMAN 6.1. Hasi Rekapan Heat Stress Index (HSI) ... VI-2 6.2. Hasil Rekapitulasi Perhitungan WBGT pada Semua Titik ... VI-3 6.3. Hasil Perbandingan DLE ... VI-4 6.4. Data Hasil Antropometri ... VI-5 6.5. Atribut Produk ... VI-5 6.6. Rekapitulasi Validitas Setiap Pertanyaan Kuesioner
Tertutup ... VI-6 6.7. Nilai Net Sales, Importance Weight dan Relatife Weight ... VI-7 6.8. Hasil Rekapitulasi Perhitungan DLE Usulan Perbaikan ... VI-13 6.9. Perbandingan Insulasi Pakaian Aktual dengan Desain
Usulan ... VI-13
GAMBAR HALAMAN 1.1. Pakaian Aktual Pada PT. Perkebunan Nusantara IV
Kebun Adolina ... I-10 2.1. Struktur Organisasi IV PTPN Kebun Adolina ... II-5 2.2. Urutan Klarifikasi ... II-14 3.1. Thermal Comfort ... III-2 3.2. Keseimbangan Panas Antara Panas yang Dihasilkan
dengan Panas yang Dikeluarkan ... III-6 3.3. Skema Hubungan Kondisi Lingkungan dengan
Performansi ... III-11 3.4. Model Termal Sederhana dari Panas Tubuh dengan
Lapisan dari Insulasi Pakaian ... III-16 3.5. Insulasi ‘Lapisan Udara’ Area Tubuh dalam 0,05 Clo ... III-24 3.6. Struktur House of Quality (HOQ) ... III-31 4.1. Kerangka Konseptual Penelitian ... IV-2 4.2. 4 in 1 Environment ... IV-4 4.3. Black Globe Thermometer ... IV-5 4.4. Anemometer ... IV-6 4.5. Antropolometer ... IV-7 4.6. Kuesioner Termal Penelitian ... IV-8 4.7. Bagan Prosedur Pengumpulan Data ... IV-11
GAMBAR HALAMAN 4.8. Layout Stasiun Perebusan ... IV-13 4.9. Layout 3D Stasiun Perebusan ... IV-13 4.10. Flowchart Penelitian ... IV-16 5.1. Diagram Persepsi Sensasi Termal dan Kenyamanan
Termal Pekerja Stasiun Perebusan di PT. Perkebunan
Nusantara IV Kebun Adolina ... V-2 5.2. Grafik Temperatur Udara Terhadap Waktu dan
Ketinggian ... V-8 5.3. Grafik Kecepatan Angin Terhadap Waktu dan
Ketinggian ... V-11 5.4. Grafik Kelembaban Udara Terhadap Waktu ... V-13 5.5. Grafik Temperatur Kering Terhadap Waktu dan
Ketinggian ... V-16 5.6. Grafik Temperatur Globe Terhadap Waktu dan
Ketinggian ... V-19 5.7. Grafik Temperatur Basah Terhadap Waktu dan
Ketinggian ... V-21 5.8. Grafik HSI Tiap Titik Area Kerja Operator ... V-25 5.9. Grafik Hubungan Persen Work dengan Nilai Ambang
WBGT ... V-31
GAMBAR HALAMAN 5.10. Grafik Hubungan Persentase Work dengan Nilai Ambang
Batas ISBB ... V-33 5.11. Digram Perbandingan Nilai WBGT Existing dengan
WBGT Ambang Batas Pekerja ... V-34 5.12. Dimensi Untuk Upper Protective Cloting ... V-39 5.13. Dimensi Untuk Lower Protective Clothing ... V-39 5.14. Grafik Uji Keseragaman Dimensi Tinggi Bahu Duduk ... V-43 5.15. Grafik Revisi Akhir Uji Keseragaman Dimensi TBD ... V-44 5.16. Grafik Uji Keseragaman Dimensi Lebar Pinggul ... V-46 5.17. Grafik Revisi Akhir Uji Keseragaman Dimensi LP ... V-47 5.18. Grafik Uji Keseragaman Dimensi Lebar Bahu ... V-49 5.19. Grafik Revisi Akhir Uji Keseragaman Dimensi LB ... V-50 5.20. Grafik Uji Keseragaman Dimensi Jangkauan Tangan ... V-52 5.21. Grafik Revisi Akhir Uji Keseragaman Dimensi JT ... V-53 5.22. Grafik Uji Keseragaman Dimensi Jangkauan Tangan ... V-55 5.23. Grafik Revisi Akhir Uji Keseragaman Dimensi TSB-
TMK ... V-56 5.24. Tampilan Output Uji Kenormalan Data TBD dengan
Software Minitab 16.0 ... V-59
GAMBAR HALAMAN 5.25. Tampilan Output Uji Kenormalan Data LP dengan
Software Minitab 16.0 ... V-60 5.26. Tampilan Output Uji Kenormalan Data LB dengan
Software Minitab 16.0 ... V-60 5.27. Tampilan Output Uji Kenormalan Data JT dengan
Software Minitab 16.0 ... V-61 5.28. Tampilan Output Uji Kenormalan Data TSB – TMK
dengan Software Minitab 16.0 ... V-61 5.29. Hubungan Antar Karakteristik Teknik Rancangan
Perancangan Baju Pelindung Diri ... V-82 5.30. Matriks Antara CR dengan Karakteristik Teknis
Perancangan Baju Pelindung Diri ... V-83 5.31. QFD Desain Personal Protective Clothing ... V-87 6.1. Ukuran Kinerja QFD ... VI-7 6.2. Skema Pembahasan Keterkaitan Antar Variabel Termal ... VI-9 6.3. Spesifikasi Baju Pelindung Diri Atas ... VI-11 6.4. Spesifikasi Baju Pelindung Diri Bawah ... VI-11 6.5. Bahan Inner Layer dan Outer Layer Baju Pelindung
Diri ... VI-12 6.6. Perbandingan DLE Minimum Aktual dengan Usulan ... VI-14
GAMBAR HALAMAN 6.7. Perbandingan DLE Maksimum Aktual dengan Usulan ... VI-14
LAMPIRAN
L-1 Form Kuesioner Pribadi dan Kondisi Termal L-2 Form Kuesioner Tertutup
L-3 Form Kuesioner Keluhan Operator L-4 Instrinsic Clothing Fabrics
L-5 Nilai Insulation Clothing L-6 Form Tugas Akhir
L-7 Surat Penjajakan Perusahaan L-8 Surat Balasan Perusahaan L-9 Surat Keputusan Tugas Akhir L-10 Form Asistensi Dosen Pembimbing
1.1 Latar Belakang
Kondisi termal tempat kerja merupakan suatu kondisi lingkungan kerja yang dipengaruhi oleh beberapa aspek lingkungan kerja fisik. Adapun aspek-aspek tersebut dapat berupa temperatur, kelembaban relatif, pergerakan udara serta aspek personal seperti insulasi pakaian dan jenis kegiatan. Kondisi termal dapat mengakibatkan kenyamanan dan juga ketidaknyamanan dalam bekerja.
Ketidaknyamanan kerja dapat disebabkan oleh adanya paparan panas di tempat kerja. Paparan panas terjadi ketika tubuh menyerap atau memproduksi panas yang lebih besar dari pada yang diterima melalui proses regulasi termal. Paparan panas akibat adanya temperatur yang tinggi dalam ruangan kerja bisa ditimbulkan oleh kondisi ruangan, mesin-mesin ataupun alat yang mengeluarkan panas serta panas yang bersumber dari sinar matahari yang memanasi atap pabrik yang kemudian menimbulkan radiasi kedalam ruangan kerja produksi.1
Paparan panas dari lingkungan sekitar pekerja ditambah dengan metabolisme tubuh yang meningkat akibat adanya tekanan panas disekeliling tempat kerja tersebut dapat menyebabkan permasalahan kesehatan yang disebut
1 Huda, Listiani Nurul. 2012. “Kajian Termal Akibat Paparan Panas dan Perbaikan Lingkungan Kerja”. Jurnal Teknik Industri, Vol. 14, No. 2
(heat strain). Heat strain dapat berawal dari yang sangat ringan seperti heat rash, heat syncope, heat cramps, heat exhaustion hingga yang serius yaitu heat stroke.2
Paparan panas timbul disekeliling tempat kerja disebabkan karena adanya aliran udara panas disekitar tempat pekerja yang disebut sebagai aliran udara lokal.
Menurut L Nurul Huda, aliran udara lokal memberikan sensasi yang berbeda di lokasi yang berbeda pada tubuh manusia karena ketebalan konveksi alami tidak sama di atas permukaan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh aliran udara lokal horizontal dengan suhu dan kecepatan yang berbeda pada sensasi termal, persepsi aliran udara. Hasilnya menunjukkan bahwa aliran udara lokal menyebabkan sensasi termal yang lebih kuat dan persepsi aliran udara di leher daripada di pergelangan kaki di hasil musim panas. Hanya persepsi aliran udara dalam percobaan perubahan kecepatan adalah sama di musim dingin dan musim panas. Hasil ditunjukan pada presentasi lebih kecil pada leher daripada pergelangan kaki.3
Udara lokal tersebut dapat mempengaruhi reseptor termal pada tubuh pengaruh tersebut dapat disebabkan karena transfer panas. Menurut L Nurul Huda, rangsangan reseptor panas atau kontak pada permukaan tubuh, aliran udara lokal harus melewati konveksi alami yang naik disekitar tubuh, panas pada metabolismenya akan naik sendirinya. Efek aliran udara lokal pada perpindahan panas konvektif lokal secara statistik diperiksa menggunakan hasil eksperimen
2 Yenita Riski Nover, Januari 2017. “Higiene Industri”, `Cetakan Pertama, Sleman, CV BUDI UTAMA
3 Huda, Listiani Nurul. 2005. “Thermal Sensation of Local Airflows with Different Temperatures and Velocities: Comparison between Summer and Winter”. American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers, Part 1
termal menggunakan manikin. Meskipun perubahan suhu lapisan batas berbeda tidak teratur antara bagian belakang leher dan pergelangan kaki, perubahan fluks panas permukaan secara signifikan lebih besar di pergelangan kaki daripada di bagian belakang leher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran udara lokal mempengaruhi pergelangan kaki lebih kuat daripada leher.4
Paparan panas sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang dimana terdapat sumber panas, dari kondisi fisik disekeliling tubuh seperti pakaian.
Analisis terhadap paparan panas membutuhkan pengetahuan tentang penggunaan pakaian sebagai pelindung fisik tubuh dan sumber panas yang mempengaruhi keadaan fisik lingkungan. Kulit dapat melepaskan panas baik jika insulasi reduksi pakaian bekerja dengan baik. Pekerja yang telah terbiasa bekerja pada lingkungan panas dapat bekerja secara maksimal dengan aklitimasi 20% dan menggunakan pakaian kerja yang memiliki cairan pendingin khusus (ice vest), sehingga memberikan sensasi tetap dingin selama bekerja dan dapat b ekerja lebih lama.5
Paparan panas sangat berpengaruh pada metabolisme tubuh terutama di bagian kulit karena respon terutama terhadap thermoreceptor. Menurut N.
Moallemi Kviavi, dibawah lingkungan yang tidak seragam, persepsi termal tubuh manusia bergantung pada respons termal dari thermoreceptors kulit (TRs) di berbagai bagian tubuh. Namun, respons termal TRs kulit mencakup bagian statis dan dinamis, masing-masing bergantung pada suhu TRs dan laju perubahannya.
4 Huda, Listiani Nurul. 2005. “An Experimental Study of Convective Heat Transfer on a Body Disturbed by Local Airflow Part 2 Stimulation Structure of Local Airflow Thorough Natural Convection”. American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers, Part 2
5 Flouris, A. D. 2006. “Design and Control Optimization of Microclimate Liquid Cooling Systems Underneath Protective Clothing”. Annals of Biomedical Engineering, Vol 34, No. 3
Dengan demikian, perlu untuk mengevaluasi suhu tergantung waktu TR kulit di bagian tubuh yang berbeda. Persamaan Pennes adalah salah satu persamaan bioheat yang paling penting untuk menghitung suhu tubuh biologis, tetapi, persamaan ini telah digunakan untuk mengevaluasi suhu rata-rata seluruh tubuh, dengan mempertimbangkan sifat rata-rata untuk semua bagian tubuh. Dalam penelitian ini, persamaan Pennes diselesaikan untuk 16 bagian tubuh dengan mempertimbangkan sifat termal / fisiologis yang tepat untuk setiap segmen. Suhu kulit yang tergantung waktu dari 16 segmen tubuh diperoleh dengan memecahkan persamaan bioheat termoregulasi lokal.6
Referensi yang menunjukkan mengenai pakaian yang mempengaruhi tubuh dilakukan oleh beberapa peneliti yang akan diuraikan berikut. Menurut Juhani Smolander, ice vest (Flexi ICE Cold Vest®, Interspiro, Sweden) terbuat dari katun.
Bagian dalamnya terdiri dari dua pemegang plastik rata, yang memiliki beberapa kantong kecil untuk air. Lima rompi berbeda digunakan dalam tes, dan berat badan mereka sedikit bervariasi (1,0-1,1 kg). Di dua rompi, bagian dalamnya ditutupi jaring, sedangkan tiga rompi lainnya memiliki kain katun. Tidak ada efek lingkungan yang diperhatikan selama pengujian karena insulasi yang dapat diabaikan dari jenis lapisan apa pun dibandingkan dengan isolasi total paket garmen dan gradien suhu tinggi dari es terhadap tubuh dan lingkungan. Ice vest menutupi sebagian besar area badan, dan itu dikenakan di atas celana dalam. Rompi itu disimpan dalam freezer pada -20 ° C semalam sebelum percobaan.7
6 Khiavi, Negin Moallemi. “A new local thermal bioheat model for predicting the temperature of skin thermoreceptors of individual body tissues”. Journal of Thermal Biology, Vol 74.
7 Smolander, Juhani. “Effectiveness of a Light-Weight Ice-Vest for Body Cooling While Wearing Fire Fighter’sProtective Clothing in the Heat”. International Journal of Occupational Safety and
Menurut Tomonori SAKOI, pada pekerja pabrik industri manufaktur, pakaian permeabel uap umum dan pakaian pelindung kedap uap yang berlaku untuk penghuni yang terlibat dalam pekerjaan intensitas sedang dengan nilai produksi panas metabolis sekitar 174 W / m2. WBGTeff * memungkinkan konversi tekanan panas ke dalam skala yang dialami oleh penghuni yang mengenakan ensemble pakaian dasar (baju kerja) berdasarkan keseimbangan panas untuk tubuh manusia.
Kami mengkonfirmasi bahwa WBGTeff * efektif untuk mengekspresikan lingkungan termal kritis untuk zona preskriptif bagi penghuni yang mengenakan pakaian pelindung uap yang tidak tembus cahaya.8
Menurut Nurlaili, Marsidi dan Ch. Desi Kusmindari mengatakan, lingkungan kerja merupakan salah satu kajian dalam bidang ergonomi industri, di mana lingkungan kerja memperhatikan interaksi yang terjadi antara manusia (man), tugas/pekerjaan (task), dan lingkungan (environment). Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja secara optimal dan produktif. Oleh karena itu, lingkungan kerja harus ditangani atau didesain sedemikian rupa sehingga menjadi kondusif terhadap pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman. Salah satu indikator yang bisa diperhitungkan dalam upaya mendapatkan kenyamanan dalam bekerja adalah kondisi termal dari ruang kerja. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi thermal dalam ruang kerja, antara lain temperatur dan kelembaban udara. Faktanya suhu
Ergonomics, Vol 10, No. 2
8 SAKOI Tomonori. 2017. “Expansion of Effective Wet Bulb Globe Temperature for Vapor Impermeable Protective Clothing”. Journal of Thermal Biology, Institute of Textile Science and Technology, hal 3.
yang terlalu panas dan suhu yang terlalu dingin akan memberikan efek yang sama- sama tidak baik bagi kesehatan dan produktivitas pekerja.9
Menurut Prof.Yi Li PhD, untuk mereduksi proses aklimatisasi diperlukan suatu solusi perbaikan yaitu perancangan baju pelindung bahwa perancangan baju pelindung panas harus mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi panas yang dirasakan yaitu metabolisme tubuh dalam hal mekanisme panas dalam tubuh, proses transfer panas bahan pakaian, dan faktor luar seperti temperature, kelembaban (kecepatan dan arah angin). Faktor-faktor tersebut merupakan hal yang harus mempertimbangkan dalam perancangan baju pelindung.10
Stam menyatakan bahwa lingkungan kerja yang panas akan mempengaruhi kesehatan tenaga kerja akibat suhu yang tinggi seperti miliaria, heat cramps, heat stroke, heat exhaustion yang ditandai dengan penderita berkeringat banyak, suhu tubuh normal dan sub normal, tekanan darah menurun dan denyut nadi bergerak cepat. Selain itu panas dapat menyebabkan terjadinya dilatasi pembuluh darah perifer, sehingga keseimbangan peredaran darah akan terganggu. Dengan terjadinya keringat yang berlebihan, volume plasma berkurang sehingga volume darah juga berkurang, akibatnya tekanan darah turun dan pasokan O2 (Oksigen) ke otak akan berkurang, dengan demikian orang akan kehilangan kesadarannya.11
9 Nurlaili. 2013. “Optimalisasi Kualitas Kenyamanan Thermal di Ruang Kantor dan Aula Islamic Centre UIN SUSKA Riau”. Sosial Budaya, Vol 10, No 2
10 Li, Prof.Yi PhD. 2011. “Computer–Aided Clothing Ergonomic Design For Thermal Comfort”.
Institute of Textiles and Clothing, Vol 53, No. 1
11 Suwondo, Ari. 2008. “Perbedaan Tekanan Darah Pada Pekerja Yang Terpapar Panas Di Industri Sale Pisang Suka Senang Kabupaten Ciamis”. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, Vol 03, No 1
Penelitian pendahulu yang dilakukan oleh Rajkishore, yang meneliti tentang baju kerja pada pemadam kebakaran. Pakaian yang digunakan untuk melindungi petugas pemadam kebakaran selama proses pemadaman berlangsung harus nyaman untuk di pakai. Pemilihan material yang tepat dan desain pakaian mempunyai peran penting dalam mendukung proses kinerja pakaian dan kenyamanan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini bahan yang digunakan adalah polybenzimidazole yang mampu menahan panas hingga 700 0C dan low UV resistance.12
Berdasarkan dengan uraian diatas mengenai permasalah paparan panas dan berkaiatan dengan pakaian kerja maka peneliti melakukan penelitian masalah paparan panas dan berkaitan dengan pakaian kerja. Penelitian ini dilakukan di PT.
Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina. PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina adalah sebuah perusahan yang bergerak dibidang manufaktur yang menghasilkan minyak CPO yang memiliki beberapa stasiun yaitu, stasiun penerimaan buah (fruit reception station), stasiun penimbunan buah (loading ramp), stasiun rebusan (sterilizing station), stasiun penebah (thressing station), stasiun kempah (pressing station), stasiun pemurnian minyak (clarification station). Keenam Stasiun tersebut memiliki karakteristik lingkungan berbeda, salah satu lingkungan kerja yang terkait paparan panas yang terbesar difokuskan pada Stasiun Perebusan. Stasiun Perebusan adalah tempat perebusan tandan buah segar, dimana pada stasiun ini akan menentukan hasil produksi.
12 Nayak, Rajkishore. 2014. “Recent trends and future scope in the protection and comfort of fire fighters’ pakaian pelindung diri”. http://www.firesciencereviews.com/content/3/1/4, Vol 3 No. 4
Permasalahan paparan panas yang terbesar diakibatkan pada stasiun perebusan yang diakibatkan oleh mesin sterilizer. Paparan tersebut berpengaruh terhadap pekerja yang disebabkan pekerja mengalami keringat yang berlebih dan pekerja sering melepas baju kerja. Untuk mengetahui hasil wawancara yang dilakukan terhadap 6 pekerja merasa panas selain dari sumber panas dan pekerja merasa panas. Akibat dari paparan panas tersebut yang tidak dapat menguap pada udara sekeliling. Hal ini disebabkan karena baju kerja yang digunakan tidak mampu menyerap keringat dan menguap ke udara sekeliling.
Oleh karena itu studi kasus penelitian ini difokuskan pada stasiun perebusan. Sedangkan yang lain dapat dilihat pada Tabel 1.1. Stasiun Perebusan adalah tempat perebusan Tandan Buah Segar dengan menggunakan energi panas uap, dimana pada stasiun ini akan menentukan hasil produksi. Berdasarkan pengamatan di stasiun kerja PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina, alur stasiun produksi yang dilalui Tandan Buah Segar (TBS) untuk diolah menjadi CPO (Crued Palm Oil) di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina terdiri dari Berikut ini adalah kondisi dari parameter-parameter termal yang terdapat pada masing-masing stasiun.
Tabel 1.1 Nilai Termal di Setiap Stasiun Poduksi Kebun Adolina
Stasiun Suhu
Udara (Celcius )
Velocity ( M/S )
Relative Humidity
(%)
Metabolic Rate M (Wm-2)*
Penerimaan Buah 35 1.5 56,4 100
Stasiun Penimbunan
Buah 35 1.1 55 100
Stasiun Perebusan 37,0 0.1 67.95 168
Stasiun Penebah 34,0 1 70,1 100
Stasiun Kempah 34,0 0.5 70,1 100
Stasiun Pemurnian
Minyak 33,0 0.5 71,3 100
Sumber: Penelitian Pendahuluan
Berdasarkan Tabel 1.1 suhu ruangan pada bagian stasiun perebuasan sebesar 37,00C menunjukkan bahwa melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) dari Kementrian Tenaga Keja, dan menurut standar SNI 16-7063-2004 suhu yang ditetapkan pada beban kerja berat 25,90C. Selain data temperatur udara iklim kerja panas disebabkan oleh kombinasi antara kecepatan angin dan kelembaban udara.
Berdasarkan hal tersebut dilakukan pengukuran awal terhadap kecepatan angin dan kelembaban udara. Hasil pengukuran didapatkan bahwa kecepatan angin sebesar 0,1 m/s dan kelembaban rata-rata didapatkan adalah sebesar 87,6%. Hal ini menunjukan bahwa tidak sesuai dengan ketetapan Kementrian Kesehatan No 1405/Menkes/SK/XI/2002 yang menetapkan kelembaban yang diizinkan adalah sebesar 40-60% untuk kesehatan lingkungan kerja industri.
Gambar 1.1 Pakaian Aktual Pada PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina
Pada Gambar 1.1 dapat diketahui bahwa operator menggunakan seragam kerja yang terdiri dari kemeja pendek, celana panjang, dan sepatu boots. Bahan seragam terbuat dari bahan teteron cotton yang tidak dapat menyerap keringat.
Bahan ini Teteron Cotton ini sering dikenal sebagai bahan kawin-silang antara Polyester dan Cotton. Umumnya komposisi untuk membuat bahan TC ialah 65% (cotton) dan 35% (polyester) dan nilai Iclu(clo) 0,25, bahan tersebut menyebabkan ketidaknyamanan pekerja saat melakukan aktivitas dikarenakan bahan tersebut tidak dapat melepaskan panas tubuh dengan baik dan kurang bisa menyerap keringat sehingga panas dikenakan pada operator.
Kondisi lingkungan yang sangat panas dan kondisi fisik tubuh yaitu pakaian yang tidak dapat melepaskan panas dengan baik menyebabkan paparan panas bagi pekerja. Kondisi tersebut mengakibatkan performansi pada operator stasiun
perebusan yang tidak optimal. Oleh karena paparan panas yang dialami pekerja melewati ambang batas maka pekerja mengalami ketidaknyamanan saat bekerja di stasiun perebusan dalam 1 shift. Para pekerja hanya mampu bekerja didalam rentang waktu 20 sampai 30 menit. Setelah itu pekerja akan keluar dan mendinginkan badan selama 20 sampai 50 menit untuk melakukan aklitimasi tubuh.
Kondisi tersebut terjadi secara berulang-ulang setiap hari pada pekerja. Proses aklimatisasi ini merupakan kegiatan yang bersifat non produktif bagi perusahaan.
Berdasarkan penelitan pendahuluan ini mendapatkan bahwa persentase pekerja bekerja secara produktif dalam satu shift yaitu 25,66% sampai 74,34%. Hal ini menunjukkan bahwa waktu non produktif pekerja yang relatif besar dibandingkan dengan waktu produktif pekerja. Hal ini diindikasikan sebagai penyebab dari ketidaknyamanan pekerja distasiun perebusan dikarenakan panas dari lingkungan sekitar dan baju pekerja yang kurang baik dalam melepaskan panas dalam tubuh.
Berdasarkan permasalahan di pabrik mengenai ketidaknyamanan pekerja terhadap pakaian dan lingkungan kerja maka harus dilakukan perbaikan. Keluhan – keluhan pekerja mengenai pakaian kerja pabrik pada PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina di stasiun perebusan telah direkapitulasi berdasarkan kuesioner pendahuluan yang telah diberikan. Rekapitulasi dapat dilihat pada tabel 1.2. Berikut adalah hasil kuesioner dari keseluruhan operator distasiun perebusan:
Tabel 1.2 Rekapitulasi Keluhan Pekerja Stasiun Perebusan
No Jenis Keluhan Jumlah Responden
1 Tidak melindungi keseluruhan tubuh 1
2 Tidak menyerap keringat dengan baik 4
3 Kain tidak nyaman 1
Jumlah 6
Lingkungan termal disekitar pekerja distasiun perebusan terlalu tinggi, sehingga operator terkena paparan panas. Disisi lain baju yang digunakan tidak mendukung penyerapan keringat yang dikeluarkan oleh tubuh, sehingga tidak terjadi keseimbangan antara produksi panas yang dihasilkan oleh tubuh dengan panas yang dikelurkan oleh tubuh.
1.2 Perumusan Masalah
Akibat paparan panas yang terjadi disekeliling pekerja yang mengakibatkan naiknya proses metabolisme tubuh. Tingginya proses metabolisme tubuh mengakibatkan banyaknya keringat yang keluar dan keringat yang keluar tidak mampu menguap dengan baik disebabkan oleh baju kerja yang tidak mampu menyerap keringat dengan baik sehingga perlu dilakukan analisis paparan panas dan pengaruh baju kerja. Maka permasalahan yang terdapat pada perusahaan adalah tingginya temperatur ruangan yang mencapai 370C sampai 42,80C, di PT.
Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap pakaian kerja yang diharapkan mampu memberikan kenyaman termal terhadap pekerja.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian yang dilakukan adalah menganalisis paparan panas yang terjadi di lantai produksi stasiun perebusan, dalam upaya mereduksi paparan panas yang terjadi dan desain usulan pakaian pekerja, untuk meningkatkan ketahanan pekerja untuk berada dilingkungan panas.
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian tugas akhir ini adalah:
1. Mengetahui nilai Heat Stress Index yang terdapat pada stasiun perebusan.
2. Mengetahui nilai Indeks Suhu Bola Basah pada stasiun perebusan.
3. Mengetahui performansi kerja pekerja melalui metode Activity Sampling.
4. Mengetahui batas waktu maksimal paparan pekerja pada stasiun perebusan.
5. Memberikan rancangan usulan pakaian pekerja pada stasiun perebusan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi mahasiswa
Memperoleh peluang untuk dapat memecahkan dan mencari solusi untuk permasalahan-permasalahan yang terdapat pada suatu pabrik dari sudut pandang akademis.
2. Manfaat bagi perusahaan
Sebagai masukan bagi perusahaan dalam mengatasi permasalahan heat stress di divisi stasiun perebusan PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina.
3. Bagi Departemen Teknik Industri USU
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengatasi masalah suhu lingkungan kerja yang belum nyaman dalam suatu perusahaan.
1.5 Batasan Masalah dan Asumsi
Batasan-batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagian lantai produksi yang diteliti adalah pekerja yang berada di sekitar mesin sterilizer.
2. Metode yang digunakan untuk menghitung tingkat paparan panas adalah HSI (Heat Stress Index) dan WBGT (Wet Bulb Glope Temperature).
3. Usulan rancangan perbaikan masalah hanya untuk mengurangi tingkat heat stress melalui desain pakaian kerja.
4. Usulan desain pakaian pekerja dilakukan hanya pada upper protective cloth (pakaian pelindung bagian atas) dan lower protective cloth (pakaian pelindung bagian bawah).
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian adalah : 1. Pengukuran termal hanya diakukan pada kondisi cuaca normal.
2. Pengukuran kondisi termal dilakukan pada lima titik pengukuran yang dianggap mewakili.
3. Alat yang digunakan dalam keadaan baik dan sesuai standar.
1.6 Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika penulisan tugas sarjana dapat dilihat sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, menguraikan latar belakang permasalahan yang mendasari penelitian dilakukan, perumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian dan sistematika penulisan tugas sarjana.
Bab II gambaran umum PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Adolina, ruang lingkup perusahaan, lokasi, struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, jumlah tenaga kerja dan jam kerja karyawan, dan sistem pengupahan,
Bab III sebagai landasan teori, menguraikan teori-teori yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang dikaji dalam tugas akhir ini, rumus, metode dan pendekatan yang digunakan sebagai dasar pemecahan masalah. Landasan teori ini mencakup tentang teori-teori yang mendukung permasalahan, teori mengenai konsep lingkungan termal, keseimbangan panas dan heat stress index.
Bab IV Metodologi Penelitian, menguraikan tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian yaitu persiapan penelitian meliputi penentuan lokasi penelitian, jenis penelitian, objek penelitian, kerangka berpikir, defenisi operasional, identifikasi variabel penelitian, instrumen pengumpulan data, populasi, teknik sampling, sumber data, metode pengolahan data, blok diagram prosedur penelitian dan pengolahan data, analisis pemecahan masalah sampai kesimpulan dan saran.
Bab V Pengumpulan dan Pengolahan Data, memuat data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran yang dilakukan berupa pengumpulan data primer yaitu temperatur, kecepatan udara, kelembaban udara, data psikologi pekerja, dan data sekunder yaitu data spesifikasi bangunan.
Bab VI analisis dan pembahasan, meliputi analisis yaitu HSI dan WBGT, duration limit exposure (DLE), analisis desain pakaian pelindung panas, pembahasan keterkaitan antar variabel termal, pembahasan usulan perbaikan baju kerja, pembahasan perbandingan kondisi aktual dengan desain usulan.
Bab VII Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil pemecahan masalah dan saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan.
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Perusahaan
Kebun unit Adolina didirikan oleh Pemerintah Belanda sejak tahun 1926 dengan nama “ NV Cultuur Maatschappy Onderneming (NV CMO)” yang bergerak dalam budidaya tembakau. Pada tahun 1938 budidaya tembakau diubah menjadi kelapa sawit dan karet dengan nama “ NV Serdang Maatschappy (SCM)”. Sejak tahun 1973 budidaya karet diganti menjadi kakao, sedangkan kelapa sawit tetap dipertahankan. Pada tahun 1942 diambil alih oleh pemerintah Jepang dari Pemerintah Belanda. Pada tahun 1946 diambil kembali oleh Pemerintah Belanda dengan nama tetap NV SCM. Maka pada tahun 1958 perusahaan ini diambil oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), tahun 1960 PPN diganti nama menjadi PPN Baru SUMUT V. Pada tahun 1936 PPN Baru SUMUT V dipisah menjadi dua kesatuan yaitu:
1. PPN Karet III Kebun Adolina Hulu, Kantor Kesatuan di Tanjung Morawa 2. PPN Aneka Tanaman II Kebun Hilir, Kantor Kesatuan di Pabatu
Pada tahun 1968 PPN Antan II diganti menjadi PNP VI dengan penggabungan kembali PPN Karet III Kebun Adolina Hulu dengan PPN Aneka Tanaman II Kebun Adolina Hilir. Pada tahun 1978 PNP VI dirubah menjadi bentuk Persero dengan nama PT. Perkebunan VI ( Persero ). Tahun 1994 PTP VI, PTP VII dan PTP VIII digabung dan dipimpin oleh Direktur Utama PTP VII. Sejak tanggal 11 Maret 1996 sampai dengan saat ini gabungan PTP VI, PTP VII dan PTP VIII
diberi nama PTP Nusantara IV (PERSERO). Kebun Adolina merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) dengan Hak Guna Usaha Kebun Adolina sebesar 8.965,69 Ha. Pada tahun 1994 PTP VI, PTP VII dan PTP VIII bergabung dan dipinjam oleh Direktur Utama PTP VIII. Sejak tanggal 11 Maret 1996 sampai dengan saat ini gabungan PTP VI, PTP VII dan PTP VIII diberi nama PTP Nusantara IV (Persero). Adolina merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan luas areal Hak Guna Usaha Kebun Adolina adalah seluas 8.965,69 Ha. Dalam proses pengolahan, PTPN IV memiliki 16 Unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan kapasitas total 635 ton Tandan Buah Segar (TBS) perjam, 2 unit Pabrik Teh dengan kapasitas total 155 ton Daun Teh Basah (DTB) perhari, dan 2 unit Pabrik Pengolahan Inti Sawit dengan kapasitas 405 ton perhari.
Dalam perkembanganya PKS Adolina terus melakukan pembenahan dan pelayanan demi meningkatkan keunggulan produksi. Pelayanan - pelayanan ini meliputi:
1. Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000
2. Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000 : 2004
3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
2.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha
Ruang Lingkup Bidang Usaha PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Adolina adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan kelapa sawit.
PTPN IV Adolina memperoleh TBS dari kebun PTPN IV unit Adolina sendiri dan sebagian diperoleh dari kebun rakyat dan dari sektor swasta yang berada
disekitarnya. Selain memproduksi CPO (Crude Palm Oil) PTPN IV Adolina juga memproduksi PKO (Palm Kernel Oil) yang selanjutnya tidak dipasarkan melainkan akan diproses lebih lanjut ke pabrik pengolahan inti sawit di Pabatu.
Berikut adalah ruang lingkup bidang usaha pada perusahaan PTPN IV Adolina yaitu:
1. Tandan Buah Segar menjadi Crude Palm Oil / CPO (Minyak Sawit) 2. Tandan Buah Segar menjadi Kernel (Inti Sawit)
2.3 Lokasi Perusahaan
PTPN IV Kebun Adolina berada di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara tepatnya dipinggiran jalan raya Medan – Pematang Siantar dengan jarak 38 Km dari Medan. Berada di Enam Kecamatan yaitu Kecamatan Perbaungan, Pantai Cermin, Galang, Bangun Purba, STM Hilir dan Gajahan yang dikelilingi oleh 21 Desa. Luas hak guna PTPN IV Kebun Adolina seluas 8.965,69 Ha dimana 8.636 Ha untuk lahan kelapa sawit dan 329,69 untuk pondok, bibitan, pabrik dan lain lain.
2.4 Daerah Pemasaran
PTPN IV Kebun Adolina melakukan kegiatan pemasaran dan penjualannya yang di lakukan dalam negeri dan di luar negeri. Konsumen yang dituju untuk pemasaran dalam negeri, adalah perusahaan-perusahaan yang mengolah lebih lanjut minyak mentah hasil pengolahan Tandan buah segar dan palm kernel, sedangkan
untuk pemasaran luar negeri, CPO yang dihasilkan diekspor ke beberapa Negara seperti Belanda, Jepang, Belgia.
Proses pemasaran dan penjualan yang dilakukan untuk daerah Sumatra Utara maupun diluar daerah Sumatra Utara akan di atur oleh Kantor Pusat PT.
Perkebunan Nusantara IV.
2.5 Organisasi dan Manajemen 2.5.1 Struktur Organisasi Perusahaan
Manajemen dan organisasi yang baik akan memberikan pendelegasian tugas, wewenang dan tanggung jawab yang seimbang. Dengan mengetahui tugas, wewenang dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya maka diarapkan setiap personil akan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik sehingga organisasi dapat berjalan dengan efisien, sistematis dan terkoordinir. Ditinjau dari segi struktur, organisasi merupakan gambaran skematis hubungan-hubungan kerjasama dari orang-orang dalam mencapai suatu tujuan.
Struktur organisasi yang digunakan oleh PTPN IV Unit Usaha Adolina adalah struktur yang berbentuk fungsional berdasarkan fungsi, yaitu pembagian atas unit-unit organisasi didasarkan pada spesialisasi tugas yang dilakukan dan juga wewenang dari pimpinan dilimpahkan pada unit-unit organisasi di bawahnya pada bidang tertentu secara langsung. Pimpinan tertinggi dipengang oleh seorang Manajer Unit. Adapun struktur organisasi PTPN IV Unit Usaha Adolina.
Adapun struktur organisasi PTPN IV Kebun Adolina dapat dilihat pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Struktur Organisasi IV PTPN Kebun Adolina Manager
Unit
Ka. Dis Tanaman Rayon A
Ka. Dis Tanaman
Rayon B Rayon basasBBB
Ka. Dis Tanaman
Rayon C
Ka. Dis Teknik / Pengolahan
Ka. Dis Tata Usaha
Asst.
SDM &
Umum Asst. Afd.
1
Asst. Afd.
2
Asst. Afd.
3
Asst. Afd.
4
Asst. Afd.
5
Asst. Afd.
6
Asst. Afd. 7
Asst. Afd. 8
Asst. Afd. 9
Asst.
Teknik Pabrik / T.
Sipil Transfort
Asst.
Pengolaha n Shift 1
Asst.
Pengolaha n Shift 2
Pa. Pam
2.5.2 Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja
Berikut Atutran jam kerja pada karyawan yang berlaku di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Adolina dibagi atas dua bagian, yaitu :
Bagian Kantor Untuk bagian kantor hanya ada satu shift dengan 7 jam kerja per hari dan 40 jam kerja per minggu dengan bagian dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jam Kerja Karyawan Kantor
No Hari Waktu Kerja Istirahat
1 Senin - Kamis 06.30 - 09.30 09.30-10.30
10.30 – 15.00
2 Jumat 06.30 – 09.30 09.30-10.30
10.30 – 12.00
3 Sabtu 06.30 – 09.30 09.30-10.30
10.30 – 13.00 Sumber : PTPN IV Adolina
1. Bagian Pabrik Untuk bagian pabrik pekerja dibagi atas dua shift yang dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Jam Kerja Karyawan Pabrik
No Shift Waktu Kerja
1 I 08.00 - 17.00
2 II 17.00 – 08.00
Sumber : PTPN IV Adolina
3. Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan pada PTPN IV Kebun Adolina dalam dua shift dapat ditunjukkan pada tabel 2.3.
Tabel 2.3 Jumlah Pekerja dalam dua shift di PKS PTPN IV Kebun Adolina No. Stasiun Jumlah Tenaga Kerja Jumlah Shift
1 Mandor shift 2 2
2 Wacht Tukang 2 2
3 Loading Ramp 8 2
4 Rebusan 12 2
5 Thresher 2 2
6 Hoisting Crane 4 2
7 Pressan 4 2
8 Klarifikasi 6 2
9 Refericarfing & Kernel 6 2
10 Boiler Operator 8 2
11 Kamar Mesin 4 2
12 Water Treatment 2 2
13 Laboratoriumm/ Demin Plant
6 2
14 Limbah 4 2
Jumlah 70
Sumber : PTPN IV Adolina
2.6 Bahan yang Digunakan 2.6.1. Bahan Baku
Bahan baku yang diolah oleh PTP Nusantara IV PKS Adolina adalah Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang diperoleh dari kebun-kebun PTP Nusantara IV unit Adolina dan sebagian lagi diperoleh dari kebun-kebun rakyat disekitarnya. Kelompok varietas tertentu memiliki mutu buah tertentu yang sudah dikenal baik dalam seleksi. Kelompok-kelompok tersebut diklarifikasikan berdasarkan ketebalan relatif dari perikarp, cangkang dan inti dari tandan buah segar. Adapun jenis kelapa sawit yang dibudidayakan adalah :
1. Kongo : Perikrap tipis 30-40 % dari bobot buah, tebal cangkang 0,4-0,85 cm, inti tipis hingga tebal.
2. Dura (Dura Deli di Sumatera) : Perikrap 40-70 % dari bobot buah, tebal cangkang 0,2-0,5 cm
3. Tenera : Perikrap agak tebal ± 60 % dari bobot buah, tebal cangkang 0,1-0,25 cm, , ketebalan initi bervariasimenurut tebal cangkang.
4. Pisifera : Buah tanpa cangkang, memiliki serat mengelilingi cangkang yang sangat tipis, jarang terdapat diperkebunan.
5. Diwakkawakka : Buah ditandai oleh mantel yang terdiri dari 6 carpel sekeliling buah.
2.6.2 Bahan Tambahan
Adapun bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi adalah:
1. Air
Air yang digunakan oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV Kebun Adolina bersumber dari sungai ular yang berjarak sekitar 1600 m dari lokasi pabrik. Air digunakan untuk proses produksi, boiler ataupun untuk keperluan domestik.
Air sungai tidak langsung digunakan, namun diolah terlebih dahulu agar air yang digunakan bebas dari endapan mineral dan lebih jernih sehingga layak untuk digunakan untuk proses produksi.
2. Tenaga Uap (Steam)
Uap dihasilkan oleh boiler yang mengubah air hingga menjadi steam (uap panas). PKS PTPN IV Kebun Adolina menggunakan ketel uap tipe pipa air (Water Tube Boiler) dengan produksi uap 20 ton uap/jam.
Uap digunakan untuk:
a. Pembangkitan daya listrik b. Pemanasan
c. Perebusan TBS dalam sterilizer
d. Pemanas minyak sawit pada stasiun penjernih minyak
e. Pemanas sludge untuk mempermudah memisahkan antara minyak dan sludge
2.7 Proses Produksi
Pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit dilakukan dengan melalui beberapa proses. PTPN IV Kebun Adolina memiliki kapasitas 30 ton/jam.
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pengolahan TBS menjadi minyak dan inti sawit dibagi dalam beberapa stasiun, yaitu:
1. Stasiun Penerimaan Buah (Fruit Reception Station).
2. Stasiun Perebusan (Sterilizer Station) 3. Stasiun Penebah (Threshing Station) 4. Stasiun Pengempa (Pressing Station)
5. Stasiun Pemurnian Minyak (Clarification Station) 6. Stasiun Pengolahan Inti/Biji (Kernel Station)
2.7.1 Stasiun Penerimaan Buah (Reception Station)
Stasiun penerimaan buah terdiri dari weight bridge (tempat penimbangan) dan loading ramp.
1. Weight Bridge (Jembatan Timbang)
Truk yang mengangkut tandan buah segar (TBS) yang berasal dari kebun ditimbang terlebih dahulu untuk memperoleh berat sebelum dibongkar (bruto) dan sesudah dibongkar (tarra). Selisih antara bruto dan tarra adalah jumlah TBS yang diterima di PKS PTPN IV Kebun Adolina (netto). Kapasitas jembatan timbang yang digunakan PKS adalah 50 ton. Truk yang keluar masuk jembatan timbang harus berjalan perlahan-lahan karena jembatan timbang ini menggunakan mekanikal hybrid yang terkomputasi yang sangat sensitif terhadap beban kejut. Pada saat penimbangan, posisi truk harus berada di tengah agar beban yang dipikul rata.
2. Loading Ramp
Loading ramp adalah tempat penimbunan buah sementara dan pemindahan tandan buah ke dalam lori rebusan. TBS dari truk setelah ditimbang di jembatan timbang kemudian dituang loading ramp, dimana terlebih dahulu dilakukan sortiran buah untuk mengetahui/menentukan kualitas dan kwantitas minyak kelapa sawit yang akan diproses. . Sortasi TBS sebagai alat untuk menilai mutu panen dilaksanakan terhadap setiap truk yang mpengangkut buah sawit ke sortasi dilakukan dengan sistem contoh (sampling) di pabrik yang dianggap mewakili untuk setiap afdeling kebun per hari. Untuk TBS dari pihak ketiga (kebun swasta maupun kebun warga), maka sortasi dilakukan terhadap semua truk. Hasil sortasi
panen digunakan untuk menghitung rendemen distribusi tiap-tiap afdeling pemasok dan membuat analisa tandan untuk setiap fraksi, tahun tanam dan setiap afdeling kebun.
Tandan buah dituang pada tiap-tiap sekat dan diatur dari pintu ke pintu lainnya dengan isian sesuai kapasitas kemudian dimasukkan kedalam lori dengan kapasitas 2,5 ton/lori.
2.7.2 Stasiun Perebusan (Sterilizing Station)
Sterilizer adalah bejana uap bertekanan yang berfungsi untuk merebus TBS dengan uap (steam). Steam yang digunakan adalah saturated steam (uap basah) dengan tekanan 2,8 – 3,0 kg/cm2 dan suhu 120 – 130 0 C yang diinjeksi dari Back Pressure Vessel ( BPV ). Sistem perebusan yang dipakai adalah sistem tiga puncak (triple peak). Triple peak adalah jumlah puncak dalam proses perebusan ditunjukan dari jumlah pembukaan atau penutupan dari uap masuk atau keluar selama proses perebusan berlangsung yang diatur secara manual atau otomatis dengan menggunakan mikro kontroler ATMEL AT89S51 yang mengatur pembuangan uap dengan waktu yang sudah ditentukan untuk mencapai tekanan yang dibutuhkan, yaitu :
1. Puncak I : 1,5 kg/cm² 2. Puncak II : 2,3 kg/cm² 3. Puncak III : 2,8 kg/cm²