BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS 8
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Melalui model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples, maka keterampilan membaca pemahaman murid Kelas V di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dapat meningkat.
Kondisi Awal
Guru:
Cara penyajian materi yang kurang menarik, hanya berceramah terus.
Murid:
Keterampilan membaca pemahaman rendah
Menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples.
Kondisi akhir Tindakan
Keterampilan Membaca Pemahaman
Meningkat
Siklus I
Siklus II KTSP 2006
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK).
Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2010: 26) menyatakan bahwa PTK diartikan sebagai pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.
Secara singkat penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai proses pengkajian dari berbagai kegiatan pembelajaran, yang bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar pada murid kelas V, yang difokuskan pada dua aspek yaitu:
1. Penerapan model examples non examples dalam pembelajaran Membaca Pemahaman untuk meningkatkan kerjasama dan keaktifan belajar murid sehingga mampu meningkatkan motivasi serta hasil belajarnya.
33
2. Hasil belajar murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Hasil belajar tersebut merupakan implikasi dari kegiatan belajar yang berupa terjadinya perubahan pengetahuan atau kognitif serta keterampilan dan sikap murid setelah terjadinya proses pembelajaran.
C. Setting dan Subjek Penelitian 1. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Alasan pemilihan sekolah ini sebagai lokasi penelitian karena sekolah tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat (objek) dalam penelitian, selain itu juga berdasarkan dari hasil observasi peneliti di lapangan, terdapat permasalahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Sehingga penelitian ini dilaksanakan di ruang kelas V.
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas V serta semua murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dengan jumlah murid sebanyak 24 orang murid yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Tindakan ini dilakukan oleh guru kelas V sedangkan peneliti sendiri bertindak sebagai observer.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terbagi dalam dua siklus dengan empat tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi sebagaimana yang ditunjukkan gambar berikut:
Gambar 3.2. Model Penelitian Tindakan Kelas (Supardi;2006) Penelitian tindakan kelas ini dibagi kedalam dua siklus, yaitu:
1. Siklus I berlangsung selama 2 minggu (3 kali tatap muka) 2. Siklus II berlangsung selama 2 minggu (3 kali tatap muka)
Sesuai dengan hakekat penelitian tindakan kelas, siklus II merupakan perbaikan siklus I selanjutnya secara terperinci penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
PERENCANAAN SIKLUS 1 OBSERVASI/EVALUASI
REFLEKSI PELAKSANAAN
SIKLUS 2 PERENCANAAN
REFLEKSI PELAKSANAAN
OBSERVASI/EVALUASI
SIKLUS N
1. Gambaran Umum Siklus I
Siklus I berlangsung selama 2 minggu atau 3 kali tatap muka dalam 4 tahap sesuai dengan kriteria Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahap ini merupakan suatu tahap persiapan untuk melakukan suatu tindakan.
a. Tahap Perencanaan
Tahap ini merupakan suatu tahap persiapan untuk melakukan suatu tindakan.
Pada tahap ini langkah-langkah yang dilakukan peniliti adalah sebagai berikut:
1) Menelaah kurikulum materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas V di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing dan pihak sekolah mengenai rencana teknis penelitian.
2) Membuat skenario pembelajaran dikelas dalam hal ini pembuatan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi yang akan diajarkan setiap pertemuan.
3) Menentukan model pembelajaran yang akan digunakan.
4) Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan.
5) Membuat lembar observasi untuk mengamati bagaimana kondisi belajar ketika pelaksanaan tindakan berlangsung dengan melakukan kontroling pada saat proses pembelajaran berlangsung.
6) Membuat soal, digunakan untuk mengevaluasi murid sejauh mana murid mengetahui pelajaran yang telah diberikan.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus ini dilakukan selama 3 kali pertemuan.
Pertemuan pertama dan kedua diisi dengan kegiatan proses belajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples. Untuk pertemuan ketiga diisi dengan evaluasi terhadap materi yang telah diberikan pada siklus I. Pada tahap pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan adalah skenario tindakan yang direncanakan yaitu:
1) Pada awal kegiatan pembelajaran, peneliti membangun hubungan yang harmonis untuk memahami karakteristik murid.
2) Sebelum memulai pelajaran, peneliti melakukan perkenalan dengan murid kemudian memberikan motivasi kepada murid.
3) Peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples.
4) Melakukan pengajaran sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun sebelumnya pada tahap perencanaan.
5) Menempelkan gambar di papan tulis atau ditayangkan melalui LCD.
6) Memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar.
7) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
8) Memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
9) Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi, serta mengarahkan dan membimbing proses pembelajaran.
10) Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, peneliti mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
11) Kesimpulan.
12) Memberikan tes untuk mengetahui hasil belajar terkait materi yang telah diajarkan.
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan cara mengidentifikasi keadaaan murid selama proses belajar mengajar berlangsung dan mencatat pada lembar observasi. Observasi ini dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Selanjutnya evaluasi dilakukan pada akhir siklus, dengan memberikan tes tertulis. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur penguasaan murid terhadap materi yang telah diperoleh tiap siklus.
d. Refleksi
Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan kemudian dianalisis, begitu pula evaluasinya. Hal-hal yang masih kurang berusaha diperbaiki dan dikembangkan pada siklus II dengan tetap mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I.
Hasil analisis siklus I inilah yang menjadi acuan penulis untuk merencanakan siklus II sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan dan hendaknya bisa lebih baik dari siklus sebelumnya.
2. Gambaran Umum Siklus II
Pada dasarnya, hal-hal yang dilakukan atas siklus II ini adalah mengulang kembali kegiatan yang telah dilaksanakan pada siklus I. Di samping itu, dilakukan juga rencana baru untuk memperbaiki atau merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dan hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I.
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi
Observasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal yang akan diamati atau diteliti (Sanjaya, 2010: 86).
2. Tes (Evaluasi)
Tes instrumen pengumupulan data dapat diartikan sebagai instrumen pengumpulan data untuk mengukur kemampuan murid dalam aspek kognitif, atau tingkat penguasaan murid terhadap materi pembelajaran (Sanjaya, 2010:
86).
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data nilai rata-rata murid yang diperoleh dari nilai raport, selain itu juga untuk memperoleh data guru dan jumlah murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu proses mengolah dan menginterpretasi data dengan tujuan untuk mendudukkan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya sehingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai dengan tujuan penelitian (Sanjaya, 2010:
86). Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis data kuantitatif digunakan untuk melihat data hasil tes belajar murid, atau digunakan untuk menentukan peningkatan hasil belajar murid sebagai pengaruh dari setiap tindakan yang dilakukan. Sedangkan analisis data kualitatif digunakan untuk menentukan peningkatan proses belajar khususnya berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru. Menurut Miles dan Huberman (Rahmi, 2012: 23) data hasil belajar murid dapat ditafsirkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
NA = Jumlah Skor Perolehan x 100 Jumlah Skor Maksimal
Analisis kuantitatif dapat digunakan teknik kategorisasi dengan berpedoman pada skala angka 0-100 seperti pada Tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel.3.1. Kategori Keberhasilan
No. Nilai Kategori
1 85 – 100 Sangat Tinggi
2 70 – 84 Tinggi
3 55 – 69 Sedang
4 46 – 54 Rendah
5 0 – 45 Sangat Rendah
(Sumber: Depdikbud, 2011: 24)
G. Indikator Keberhasilan
Untuk memberikan gambaran tentang keberhasilan hasil penelitian ini, maka penulis menetapkan indikator keberhasilan hasil penelitian, sebagai berikut:
1. Dalam penelitian ini diterapkan ketuntasan belajar secara individual, dengan kriteria minimal 70.
2. Secara klasikal dinyatakan tuntas apabila nilai murid yang sudah tuntas mencapai 85% dari jumlah keseluruhan murid atau 21 orang dari 24 murid.
Rumus :
Ket:
P= Kemampuan
F= Jumlah jawaban benar N= Jumlah item
Sumber : Tiro (2002 :73)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Proses penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi (pengamatan), dan (4) refleksi tindakan.
1. Siklus 1 a. Perencanaan
Perencanaan disusun dan dikembangkan oleh peneliti yang dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Adapun materi pembelajaran yang dilaksanakan pada tindakan siklus I adalah membaca teks. Dengan standar kompetensi adalah memahami teks agak panjang (150-200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata dalam kamus/ensiklopedi. Dengan kompetensi dasar adalah menjelaskan pokok pikiran dalam teks bacaan. Indikatornya adalah membaca sekilas dan menemukan ide pokok teks yang dibaca dan mendiskusikan dengan teman kelompok tentang ide pokok dalam bacaan.
b. Implementasi Tindakan Siklus I
Pada tahap tindakan dalam siklus I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan yaitu tanggal 16 dan 18 Maret, serta 19 dan 23 Maret 2015 yang diimplementasikan berdasarkan RPP yang telah disusun.
42
Berdasarkan RPP tersebut implementasi tindakan pada semua pertemuan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
1) Pertemuan pertama (Senin, 16 Maret 2015).
Pertemuan pertama dilaksanakan 16 Maret 2015, indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah membaca sekilas dan menemukan ide pokok teks yang dibaca.
Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar-gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/in focus. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Melalui diskusi kelompok 4 -5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Guru bersama murid menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Guru memberikan pekerjaan rumah, memberikan pesan-pesan moral, kemudian guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
2) Pertemuan kedua (Rabu, 18 Maret 2015).
Pertemuan kedua dilaksanakan tanggal 18 Maret 2015, indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah membaca sekilas dan menemukan ide pokok teks yang dibaca.
Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar-gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/in focus. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Melalui diskusi kelompok 4 -5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Guru bersama murid menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Guru memberikan pekerjaan rumah, dan memberikan pesan-pesan moral, kemudian guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
3) Pertemuan ketiga (Kamis, 19 Maret 2015).
Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2015, indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah menuliskan ide pokok yang ada dalam teks bacaan.
Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar-gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/in focus. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Melalui diskusi kelompok 4 -5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.Tiap
kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Guru bersama murid menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Guru memberikan pesan-pesan moral, kemudian guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
4) Pertemuan keempat (Senin, 23 Maret 2015).
Pertama-tama guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam, kemudian mengecek kesiapan murid dan menginstruksikan untuk menyiapkan alat tulis-menulisnya.
Setelah murid siap, guru membagikan tes siklus I yang harus dikerjakan oleh setiap murid, murid tidak diperbolehkan untuk menyontek dan bekerjasama, waktu yang diberikan sampai bel pergantian pelajaran berbunyi.
Kegiatan evaluasi siklus I ini berjalan dengan lancar. Dan hasilnya dikumpulkan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Setelah semua murid mengumpulkan lembar jawabannya, guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
c. Observasi dan Evaluasi
Berikut ini data hasil observasi yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh penerapan model pembelajaran examples non examples pada murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar .
Berdasarkan hasil observasi itulah peneliti menggambarkannya data yang diperoleh sebagai berikut:
Tabel 4.1: Rekapitulasi hasil observasi aktivitas belajar murid kelas V SDN No.
105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar selama penerapan model pembelajaran examples non examples pada siklus I pertemuan I, pertemuan II, dan pertemuan III.
No Aspek yang Diamati Jumlah Murid
Pertemuan Persenta se
1 2 3
1
Murid yang hadir pada saat
pembelajaran. 24 20 20 21 84,6
2
Murid yang memperhatikan penjelasan guru.
24 18 18 18 75
3 Murid yang bertanya 24 14 14 15 59,6
4
Murid yang keluar masuk pada saat proses pembelajaran.
24 10 10 9 40,3
5
Murid yang mempresentasekan
hasil kerja kelompoknya. 24 8 9 8 34,7
6
7 Murid yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompok
24 19 19 19 79,2
Berdasarkan data pada tabel di atas, diperoleh gambaran mengenai aktivitas belajar murid pada siklus I, dimana dari 24 murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar yang di observasi terkait
aspek-aspek aktivitas belajar, hasilnya dapat dijelaskan dalam skala deskriptif sebagai berikut; Murid yang hadir pada saat pembelajaran sebesar 84,6%; Murid yang memperhatikan penjelasan guru sebesar 75%; Murid yang bertanya sebesar 59,6%;
Murid yang keluar masuk pada saat proses pembelajaran 40,3%; Murid yang mempresentasekan hasil kerja kelompoknya sebesar 34,7%; murid yang mengajukan tanggapan / komentar kepada kelompok lain saat mempersentasekan hasil kerjasama mereka sebesar 44,6%; dan Murid yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompok sebesar 79,2%
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada murid kelas V SDN No.
105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, peneliti memperoleh dan mengumpulkan data melalui instrumen tes siklus I. Dari hasil tes Siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2: nilai statistik membaca pemahaman murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar setelah penerapan model pembelajaran examples non examples pada siklus I
Sumber : Hasil Olahan Data (2014)
Statistik Nilai Statistik
Subjek 24
Nilai ideal 100
Nilai tertinggi 85
Nilai terendah 40
Rentang nilai 45
Nilai rata-rata 58,9
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai rata – rata membaca pemahaman murid sebanyak 58,9. Nilai terendah yang diperoleh murid adalah 40 dari nilai yang mungkin dicapai 0-54 dan nilai tertinggi yang diperoleh murid adalah 85 dari nilai ideal yang mungkin dicapai 100. Dengan rentang nilai 40, ini menunjukkan kemampuan murid cukup bervariasi.
Jika nilai Pemahaman dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagaimana berikut ini:
Tabel 4.3: Distribusi frekuensi dan persentase nilai membaca pemahaman murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar setelah penerapan model pembelajaran examples non examples pada siklus I
No Nilai Kategori Frekuensi Persentase
1 85 – 100 Sangat Tinggi 2 8,33%
2 70 – 84 Tinggi 6 25%
3 55 – 69 Sedang 10 41,67%
4 46 – 54 Rendah 6 25%
5 0 – 45 Sangat Rendah 0 0%
Jumlah 24 100
Sumber : Hasil olahan data yang terdapat pada lampiran C
Dari tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa persentase nilai pemahaman murid setelah diterapkan siklus I adalah tidak ada murid atau 0% berada pada kategori sangat rendah, 6 orang murid atau 25% berada pada kategori rendah, 10 orang murid atau 41,67% berada pada kategori sedang, 6 orang murid atau 25% berada pada kategori tinggi, dan 2 orang murid atau 8,33% berada pada kategori sangat tinggi.
Gambar 4.1: Diagram batang hasil evaluasi siklus I
Adapun presentase ketuntasan membaca pemahaman yang diperoleh dari hasil belajar membaca pemahaman murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar setelah penerapan siklus I ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 4.4: Persentase ketuntasan membaca pemahaman murid kelas V setelah penerapan Pembelajaran examples non examples pada siklus I
No Nilai Kategori Frekuensi Persentase
(%)
1 0 – 69 Tidak Tuntas 16 66,67%
2 70 – 100 Tuntas 8 33,33%
Jumlah 24 100
Berdasarkan tabel di atas hasil belajar Membaca Pemahaman yang diperoleh murid dengan nilai rata–rata dan pada ketuntasan hasil belajar Membaca Pemahaman diperoleh 66,67% dikategorikan tidak tuntas dan 33,33% tuntas. Dari hasil yang diperoleh ini, dapat dinyatakan bahwa tidak terjadi ketuntasan dalam proses belajar mengajar karena murid yang mencapai ketuntasan hanya 8 murid dari 24 murid.
Karena itulah, peneliti berusaha untuk mengadakan perbaikan dengan cara melanjutkan penelitian pada siklus II untuk melihat seberapa jauh Membaca Pemahaman murid itu tercapai.
d. Refleksi Tindakan Siklus I
Pada awal pelaksanaan siklus I, murid masih kurang bersemangat dan kurang memperhatikan pelajaran sehingga peneliti berusaha bagaimana dapat menarik perhatian murid dalam mengikuti proses pembelajaran yakni mengarahkan murid dengan memberikan motivasi dan memberikan banyak latihan yang menyenangkan berdasarkan materi yang telah dipelajari. Berdasarkan hasil tes pada siklus I diperoleh rata-rata 58,9 yang berada pada kategori rendah. Dari segi ketuntasan belajar, terdapat 16 murid yang tidak tuntas dalam mengerjakan ujian dan dengan kesalahan yang cukup fatal murid masih kurang teliti dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru. Setelah diterapkan siklus I sebesar 0% berada pada kategori sangat rendah, 25%
berada pada kategori rendah, 41,67% berada pada kategori sedang, 25% berada pada kategori tinggi, 8,33% berada pada kategori sangat tinggi. Hal ini terjadi karena murid masih canggung dengan keberadaan peneliti dan dengan model Examples non examples yang diterapkan peneliti sehingga kondisi murid masih terlihat bingung dengan model tersebut sehingga masih kurang berminat dalam mengikuti proses
pembelajaran. Selain itu murid masih ragu dan malu menjawab pertanyaan lisan ketika diberikan pertanyaan oleh guru, terlebih lagi jika diberikan kesempatan untuk berkomentar atau bertanya dan berpendapat, biasanya hanya didominasi oleh dua sampai tiga orang saja. Hal ini masih terjadi pada pertemuan dua dan tiga.
Berdasarkan hasil yang diperoleh murid pada siklus I mengindikasikan bahwa nilai yang diperoleh oleh murid mayoritas masih dibawah standar ketuntasan belajar yang telah ditetapkan departemen pendidikan nasional nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ) yaitu 70, sehingga peneliti merasa perlu mengadakan siklus II sebagai perbaikan pada siklus I.
2. Siklus II
Penerapan pembelajaran Membaca Pemahaman pada siklus II melalui penerapan model examples non examples adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan
Pelaksanaan tindakan kelas yang akan berlangsung pada siklus II sebagian sama dengan kegiatan pada siklus I. Pembelajaran pada siklus II merupakan tindak lanjut pelaksanaan siklus pertama yang telah ditetapkan 4 x pertemuan yakni Rabu 25 Maret, Kamis 26 Maret, Selasa 31 Maret dan Rabu 1 April.
b. Implementasi Tindakan Siklus II
Tahap pelaksanaan pada siklus II selama 4 kali pertemuan yang diimplementasikan berdasarkan RPP yang telah disusun dan dapat dilihat pada lampiran.
Pelaksanaan tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan tindakan I hanya pada pelaksanaan tindakan II ini terdapat perbaikan yang masih diperlukan dari tindakan I. Materi yang disampaikan pada pelaksanaan tindakan II, yaitu membaca teks.Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Pertemuan Pertama (Rabu, 25 Maret 2015).
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 25 maret 2015. Indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah adalah menuliskan ide pokok yang ada dalam teks bacaan dan mendiskusikan dengan teman kelompok tentang ide pokok dalam bacaan.
Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar-gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/in focus. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Melalui diskusi kelompok 4 -5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Guru bersama murid menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar-gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/in focus. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Melalui diskusi kelompok 4 -5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Guru bersama murid menyimpulkan materi yang telah dipelajari.