BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Kerangka Konsep
Pada penelitian ini penulis meneliti pengaruh laba perlembar saham terhadap deviden perlembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Untuk dapat mengetahui laba perlembar saham dan deviden perlembar saham, maka penulis terlebih dahulu melakukan analisis laporan pada PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk tujuh tahun terakhir (2014-2020) sebelum tahun yang diteliti. Dari laporan keuangan tersebutlah dapat diketahui laba perlembar saham dan deviden perlembar saham.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat skema karangka konsep gambar 2.1
Gambar 2. 1 Kerangka Konsep D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis dikembangkan berdasarkan gap research yang diperoleh dari berbagai referensi yang dirujuk.
Penelitian Nurhayati (2016) mengungkapkan bahwa Earning Per Share (Laba Per Lembar Saham) berpengaruh positif dan signifikan dan mampu berkontribusi sebesar 92% terhadap harga saham PT. Charoen Pokphan Indonesia Tbk pada periode 2005-2009. Hal ini sejalan dengan penelitian Deviden perlembar sahham (Y)
Total dividen yang dibayarkan
Jumlah saham yang beredar Laba Perlemar Saham (X)
Laba bersih saham biasa
Jumlah saham yang beredar
Indah dan Parlia (2017) yang mengungkapkan bahwasanya Earning Per Share (Laba Per Lembar Saham) berpengaruh positif dan signifikan dan mampu berkontribusi terhadap harga saham PT. Bank Mega Tbk selama kurun periode 2009-2014. Merujuk pada dua penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa laba per lembar saham mempengaruhi harga saham, yang bisa diproyeksikan jika laba per lembar saham tinggi maka harga saham kumulatif juga akan meningkatkan jumlah deviden per lembar saham yang akan dibagikan nantinya.
Hasil penelitian berbeda diungkapkan oleh Suryani (2018) yang menemukan bahwa laba per lembar saham tidak berpengaruh terhadap perubahan harga saham pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang listing di BEI 2012-2016. Dalam penjelasannya, meskipun laba per lembar saham tinggi hal itu tidak sama sekali membuat harga saham berubah sebab harga saham ditentukan oleh harga pasar saham itu sendiri.
Hal ini jika dianalisis maka juga tidak akan berdampak pada dividen per lembar saham yang tetap harus melihat berapa porsi atau persentase pembagian deviden yang disepakati. Berdasarkan analisa terhadap gap research yang telah diuraikan, maka peneliti kemudian merumuskan hipotesis sebagai berikut: “Diduga bahwa laba per lembar saham berpengaruh signifikan terhadap dividen per lembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.”
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menganalisa data-data sekunder. Penelitian kuantitatif merupakan metode ilmiah atau scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yang meliputi konkrit (empiris), obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode kuantitatif juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru (Sugiyono, 2014:7). Sedangkan menurut V. Wiratna Sujarweni (2014:39) penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-enemuan yang dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Metode penelitian ini menggunakan penelitian assosiatif yang memiliki bentuk hubungan kausalitas. Menurut Sugiyono (2014:37) pendekatan kuantitatif yang berbentuk kausalitas digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antardua variabel atau lebih, yakni veriabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi.
Terkait dengan hal tersebut, dapat ditafsirkan bahwasanya metode asosiatif bertujuan untuk melihat bagaimana seberapa kuat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Jenis penelitian ini dipilih karena peneliti mencoba untuk melihat pengaruh laba per lembar saham terhadap deviden per lembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Galeri investasi Bursa Efek Indonesia Unismuh Makassar. Lokasi penelitian ini di Jl. Sultan Alauddin No.259 Makassar 90221. Adapun target waktu pelaksanaan penelitian selama tiga bulan yaitu pada bulan Juni 2021 sampai Agustus 2021.
C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
Variabel penelitian merupakan simbol/atribut yang di gunakan peneliti dalam suatu objek penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independent variable) yang di lambangkan (X) terdapat di laba perlembar saham.
Sedangkan variabel (dependent variable) yang dilambangkan (Y) terdapat pada deviden perlembar saham.
1. Definisi Operasional Variabel
Untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang variabel yang di kaji dalam penelitian ini, maka penulis memutuskan definisi operasionalnya sebagai berikut:
a) Laba perlembar saham adalah pembagian laba bersih saham biasa dengan jumlah saham yang beredar pada perusahaan PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tujuh tahun terakhir (2014-2020).
b) Dividen perlembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham yang beredar.
27
2. Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Menurut Kasmir (2014:106-107) dengan formulasi yaitu:
a) Laba perlembar saham
b) Dividen perlembar saham
Besarnya dividen perlembar saham dapat dicari dengan rumus:
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2017:80), populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya". Dari pendapat tersebut, maka populasi yang terdapat dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2014-2020.
2. Sampel
Menurut Sugiono (2014:81), sampel adalah “bagian dari jumlah yang dimiliki oleh sebagian populasi tersebut”. Data yang diambil sebagai sampel adalah data yang mewakili keseluruhan populasi, hal ini dimaksudkan
untuk mempermudah penelitian”. Dari pendapat tersebut, maka sampel yang terdapat dalam penelitian ini adalah data laba dan deviden perlembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tujuh tahun terakhir yaitu tahun 2014-2020.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk menganalisis dan menginterpretasikan suatu data dengan baik, diperlukan data yang akurat dan sistematis agar hasil yang didapatkan dapat mendeskripsikan kondisi suatu objek yang sedang diteliti dengan benar.
Berangkat dari hal tersebut, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Metode ini dipilih agar pengumpulan data dapat dilakukan secara maksimal.
Sugiyono (2014) menjelaskan bahwa pada teknik dokumentasi, peneliti dimungkinkan memperoleh informasi dari bermacam-macam sumber tertulis atau dokumen yang tersedia dan relevan dengan topik penelitian.
Proses mendokumentasikan data-data penelitian merupakan sebuah langkah untuk memback-up informasi yang telah didapatkan. Dalam penelitian ini, proses dokumentasi yang dimaksud adalah melakukan tabulasi (perekapan) data berdasarkan kriteria sampel dan jumlah tahun penelitiannya yang nantinya akan diolah.
F. Teknik Analisis
Analisis data dapat diartikan sebagai aktivitas yang di lakukan untuk mengubah data penelitian menjadi informasi baru yang dapat dipahami dengan mudah yang digunakan untuk mendapatkan kesimpulan. Metode
29
yang digunakan meliputi metode uji asumsi klasik dan analisis regresi sederhana.
1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas ialah pengujian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui atau menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, yang apakah sebaran data tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak. Salah satu cara untuk mendeteksi apakah sebaran data tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan uji normalitas Kolmogrov Smirnov.
Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogrov Smirnov ialah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Jadi sebenarnya uji Kolmogrov Smirnov ialah uji beda antara data yng diuji normalitasnya dengan data normal baku. Jika nilai signifikan dari uji Kolmogrov Smirnov > 0,05 maka data distribusi tersebut normal dan sebaliknya jika nilai signifikan dari uji Kolmogrov Smirnov
<0,05 maka data distribusi tersebut tidak normal.
b. Uji Heteroskedastisitas
Menurut (Ghozali,2011: 139) Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas ialah uji glejser. Penelitian ini menggunakan uji
glejser dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen. Jika nilai signifikan hitung lebih besar dari alpha = 5% maka tidak ada masalah heteroskedastisitas. Tetapi sebaliknya jika nilai signifikan hitung kurang dari alpha = 5% maka dapat disimpulkan bahwa model regresi terjadi heteroskedastisitas.
c. Uji Multikolineritas
Uji multikolinearitas untuk menguji apakah dalam persamaan regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen. Untuk menguji ada tidaknya multikolineritas dapat dilihat tolerance>0,1 dan nilai variance inflation factor (VIF) <10.
Pedoman Keputusan Berdasarkan Nilai Tolerance
1. Jika nilai tolerance lebih besar dari 0,10 maka artinya tidak terjadi multikolineritas dalam model regresi.
2. Jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 maka artinya terjadi multikolineritas dalam model regresi.
Pedoman keputusan berdasarkan nilai VIf
a. Jika nilai VIF < 10,00 maka artinya tidak terjadi multikolineritas dalam model regresi
b. Jika nilai VIF > 10,00 maka artinya terjadi multikolineritas dalam model regresi
d. Uji autokorelasi
Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 atau sebelumnya ( Ghozali, 2011 :110 ). Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini
31
menggunakan runs test. Jika nilai asymp.sig (2-tailed) lebih besar dari
0,05 maka dapat dikatakan bahwa model regresi ini tidak terdapat gejala autokorelasi.
2. Uji analisis Regresi Sederhana
Analisis regresi sederhana dilakukan guna mengetahui pengaruh dari (Laba per lembar saham terhadap deviden per lembar saham).
Adapun bentuk umum persamaan regresi sederhana adalah:
y = α +β ×
Dimana :
y : Deviden per share (DPS) α : Konstanta
β : Koefisien Regresi
×
: Variabel earning per share (EPS) 3. Uji Hipotesisa. Uji t (Persial)
Uji t pada dasarnya menunjukkan bahwa seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual menerangkan variasi variabel terikat (Ghozali 2006:84). Pengujian parsial regresi dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individual mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat dengan asumsi variabel yang lain konstan. Pengujian penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program olah data SPSS.
Dasar pengambilan keputusan : Berdasarkan nilai sigifikan (sig.)
a) Jika probabilitas (signifikan). < 0,05 maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.
b) Jika probabilitas (signifikan). > 0,05 maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.
Berdasarkan perbandingan nilai t hitung dengan t tabel
a) Jika nilai t hitung > t tabel maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.
b) Jika nilai t hitung < t tabel maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.
b. Uji Koefisien Determinasi (R Square)
Uji koefisien determinasi merupakan pengujian untuk mengetahui sejauh mana variabel independen dapat menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel dependen. Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur proporsi atau presentasi dari variasi total pada variabel dependen yang dijelaskan oleh model regresi (Gujarati dan Porter, 2013:97). Menurut Ghozali (2013:95) koefisien determinasi menunjukkan seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berkisar antara 0-1. Nilai koefisien determinasi yang rendah bermakna kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat terbatas, namun ketika nilai koefisien determinasi mendekati 1 bermakna variabel bebas memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.
33
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Deskripsi Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh laba perlembar saham terhadap deviden perlembar saham untuk nantinya dapat dibandingkan di tahun selanjutnya dan memberikan informasi bagi yang membutuhkannya.
Dalam penelitian ini, data yang digunakan merupakan data yang berasal dari annual report perusahaan yang diperoleh atau dapat diakses melalui website www.idx.co.id. Objek penelitian ini adalah PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2014-2020 yang didapatkan dari laporan tahunan (annual report).
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Geleri Investasi Bursa Efek Indonesia Unismuh Makassar yang ber Alamat di Jalan Sultan Alauddin No.259 Makassar 90221, Penelitian ini dilakukan 3 bulan terhitung bulan Juni 2021 sampai Agustus 2021.
Bursa Efek Indonesia sebagai fasilitator dan regulator pasar modal di Indonesia memiliki komitmen untuk menjadi Bursa Efek yang sehat dan berdaya saing global. Penerapan komitmen CG yang baik atau biasa disebut Good Corporate Governance (GCG) terkandung pada misi Perusahaan yaitu
menciptakan daya saing untuk menarik investor dan emiten melalui pemberdayaan Anggota Bursa dan Partisipan, penciptaan nilai tambah, efisiensi biaya serta penerapan good governance.BEI telah berhasil menerapkan pedoman, kerangka kerja serta prinsip-prinsip CG secara efektif dan efisien dalam kegiatan operasional Perusahaan dan senantiasa memperbaiki praktik CG di masa yang akan datang. Manfaat dari penerapan GCG dapat berdampak positif pada terciptanya akuntabilitas Perusahaan, transaksi yang wajar dan independen, serta kehandalan dan peningkatan kualitas informasi kepada publik,Tujuan BEI menerapkan CG yaitu:
a.
Sebagai pedoman bagi Dewan Komisaris dalam melaksanakan pengawasan dan pemberian saran-saran kepada Direksi dalam pengelolaan Perusahaan.b.
Sebagai pedoman bagi Direksi agar dalam menjalankan kegiataan sehari-hari Perusahaan dilandasi dengan nilai moral yang tingg dengan memperhatikan Anggaran Dasar, etika bisnis, perundang-undangan dan peraturan yang berlaku lainnya.c. Sebagai pedoman bagi jajaran manajemen dan karyawan BEI dalam melaksanakan kegiatan maupun tugasnya sehari-hari sesuai dengan prinsip-prinsip CG.
3 Visi & Misi Bursa Efek Indonesia Visi:
“Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia.
Misi:
“Menyediakan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien serta mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).”
35
Struktur Organisasi Galeri Bursa Efek Indonesia
(sumber idx.co.id)
Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Geleri Bursa Efek Indonesia.
Direktur
1. Devisi strategi dan transformasi
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Analisis Data
Analisis data digunakan untuk melihat gambaran atau deskriptif suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum. Deskriptif data dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang distribusi dan perilaku data sampel yang digunakan tersebut. Mean digunakan untuk memperkirakan besar rata-rata populasi yang diperkirakan dari sampel standar deviasi digunakan untuk menilai dispersi rata-rata nilai sampel. Maksimum-minimum digunakan untuk melihat nilai minimum dan maksimum populasi.
Deskriptif data dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan IMB SPSS versi 21. Hasil deskriptif data yang didapatkan adalah sebagai berikut :
Tabel 4. 1 Statistik Deskriptif
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui ada 2 variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Laba per lembar saham (earning per
37
share) dan Deviden per lembar saham (dividend per share). Jumlan data (N) sebanyak 7 untuk masing-masing variabel dimana pada tahun 2014 EPS mengalami penurunan paling besar dengan nilai 0,1509 dan mengalami kenaikan paling tinggi pada tahun 2017 sebesar 1.0433 dengan rata-rata EPS selama 7 tahun sebesar 0,6858 serta standar deviasinya sebesar 0,3311. Sedangkan variabel Deviden per share (deviden per share) mengalami penurunan paling besar pada tahun 2014 sebesar 0,00002 dan mengalami kenaikan paling tinggi pada pada tahun 2019 sebesar 0,00078 dan nilai rata-rata EPS sebesar 0,00046 serta standar deviasinya sebesar 0,00026.
Berdasarkan tabel di atas, maka data tersebut akan diolah dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan melalui beberapa tahapan analisis sehingga mendapatkan kesimpulan.
2. Analisis Asumsi Klasik
Berdasarkan hasil pengujian segala penyimpanan klasik terhadap penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji agar mengetahui apakah model regresi variabel terikat (dependen) memiliki data distribusi data normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal. Penelitian menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dalam melakukan uji normalitas. Hal tersebut dapat dipertegas dengan hasil pengujian Kolmogorov-Smirnov pada tabel 4.2. Berikut dimana hasil output SPSS bahwa nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,2 dan 1.113, maka dapat disimpulkan bahwa data dalam
model regresi ini memiliki distribusi normal karena nilai Sig (2-tailed) lebih besar dari 0,05.
Tabel 4. 2 Uji Normalitas
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
b. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi yang akan digunakan terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini dilakukan uji glejser. Dari tabel 4.3 dapat dilihat hasil uji glejser bahwa variabel bebas memiliki nilai sig sebesar 0,809 (sig > 0,05) yang berarti bahwa data penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
39
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
c. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah didalam sebuah model regresi ada interkolerasi atau kolinearitas antar variabel bebas (Independen) atau tidak. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi interkolerasi atau kolinearitas di antara variabel bebas (Independen). Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai Variance Inflution Factor (VIF) dan Tolerance.
Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4. 4
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1
(Constant)
Earning Per Share (EPS) 1.000 1.000
Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai
Variance Inflution Factor (VIF) sebesar 1,000 atau kurang dari 10 dan nilai Tolerance 1,000 atau lebih dari 0,01 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi ini.d.
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode 1 dengan kesalahan pengganggu periode t-1. Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Runs tes. Jika nilai asymp.sig (2-tailed) > 0,05 maka tidak terdapat autokorelasi dalam model regresi. Sebaliknya, jika nilai asymp.sig (2-tailed)< 0,05, maka dapat dikatakan bahwa model regresi terdapat gejala autokorelasi.
Hasil analisis autokorelasi dengan runs test adalah sebagai berikut :
Tabel 4. 5 Uji Autokorelasi
Runs Test
Unstandardized Residual
Test Valuea -.00007
Cases < Test Value 3
Cases >= Test Value 4
Total Cases 7
Number of Runs 2
Z -1.637
Asymp. Sig. (2-tailed) .102
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
41
Dari hasil tabel 4.5 di atas, dihasilkan nilai asymp.sig (2-tailed) sebesar 0,102. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang akan digunakan dalam penelitian ini tidak terdapat autokorelasi, artinya asumsi autokorelasi terpenuhi.
3. Analisis Regresi Sederhana
Pengujian data dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan variabel dependen deviden per share (DPS) dan variabel independen earning per share (EPS). Persamaan regresi linear sederhana dapat dipengaruhi oleh nilai koefisien β. Nilai koefisien positif dapat diartikan bahwa setiap kenaikan nilai X satu satuan maka akan diikuti kenaikan nilai Y satu satuan. Begitupun sebaliknya jika nilai koefisien negatif maka dapat diartikan bahwa setiap kenaikan nilai X satu satuan maka akan mengurangi nilai Y satu satuan dengan asumsi bahwasanya variabel lain konstan.
Tabel 4. 6 Uji Regresi Sederhana
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
Berdasarkan hasil analisis regresi dari tabel 4.6, diketahui nilai koefisien β sebesar -0.000002466 dengan koefisien variabel earning per share (EPS) sebesar 0.01 sehingga bentuk persamaan regresi linearnya adalah sebagai berikut :
Y = -0.000002466+ 0,001 X
Dari persamaan di atas dapat disimpulkan apabila variabel earning per share (EPS) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka deviden per share (DPS) mengalami penurunan sebesar -0.000002466.
4. Analisis Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan apakah variabel independen yakni earning per share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen deviden per share (DPS) pada perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk periode 2014-2020.
a. Uji t (Persial)
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu laba per lembar saham terhadap variabel dependen deviden per lembar saham. Maka digunakan uji t, dengan tingkat signifikansi 0,05 dimana : df=n-k-1, n=7, k=1 , atau 7-1-1=5 sehingga nilai df=5 maka di peroleh nilai ttabel = 2.01505 ,hasil uji signifikan parameter inividual (uji t) dapat dilihat pada tabel berikut.
43
Tabel 4. 7 Uji t (Parsial)
Model T Sig. Hasil
1
(Constant) -,018 ,987
Earning Per Share (EPS)
3,685 ,014 Hipotesis diterima
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
Berdasarkan nilai signifikan (Sig.)
Nilai signifikan (Sig) variabel laba per lembar saham adalah sebesar 0,014 . Karena nilai Sig. 0,014 < probabilitas 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh variabel bebas laba per lembar saham terhadap variabel terikat deviden per lembar saham atau hipotesis diterima.
Perbandingan nilai t hitung dengan t table (uji t )
Nilai t hitung variabel laba per lembar saham adalah sebesar 3,685. Karena nilai t hitung 3,685 > t table 2,01505, maka ada pengaruh variabel bebas laba per lembar saham terhadap variabel terikat deviden per lembar saham atau hipotesis diterima.
b. Uji Determinasi
Uji koefisien determinasi digunakan untuk menguji agar mengetahui seberapa besar pengaruh antara variabel bebas (independen) terhadap variabel terikat (dependen). Uji koefisien
determinasi dapat dilihat dari nilai R2 . Hasil pengujian regresi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.8 Koefisien Determinasi
Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021
Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa besarnya nilai koefisien determinasi sebesar 0,731 atau 73.1%, yang berarti bahwa secara statistik variabel independen yakni laba per lembar saham mampu menjelaskan variabel dependen yakni deviden per lembar saham sebesar 73.1 % sedang yang 26.9 % sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
C. Pembahasan
Hasil Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh laba perlembar saham dan deviden perlembar saham pada PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan periode pengamatan 2014-2020. Berdasarkan olahan data mengenai laba perlembar saham terlihat bahwa pada tabel 4.7 di atas, hasil penelitian ini menunjukan bahwa Laba Per Lembar Saham berpengaruh positif signifikan Terhadap Deviden Per Lembar saham pada perusahaan PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk periode 2014-2020 yang berarti