• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Galeri investasi Bursa Efek Indonesia Unismuh Makassar. Lokasi penelitian ini di Jl. Sultan Alauddin No.259 Makassar 90221. Adapun target waktu pelaksanaan penelitian selama tiga bulan yaitu pada bulan Juni 2021 sampai Agustus 2021.

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Variabel penelitian merupakan simbol/atribut yang di gunakan peneliti dalam suatu objek penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independent variable) yang di lambangkan (X) terdapat di laba perlembar saham.

Sedangkan variabel (dependent variable) yang dilambangkan (Y) terdapat pada deviden perlembar saham.

1. Definisi Operasional Variabel

Untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang variabel yang di kaji dalam penelitian ini, maka penulis memutuskan definisi operasionalnya sebagai berikut:

a) Laba perlembar saham adalah pembagian laba bersih saham biasa dengan jumlah saham yang beredar pada perusahaan PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tujuh tahun terakhir (2014-2020).

b) Dividen perlembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham yang beredar.

27

2. Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Menurut Kasmir (2014:106-107) dengan formulasi yaitu:

a) Laba perlembar saham

b) Dividen perlembar saham

Besarnya dividen perlembar saham dapat dicari dengan rumus:

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2017:80), populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya". Dari pendapat tersebut, maka populasi yang terdapat dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2014-2020.

2. Sampel

Menurut Sugiono (2014:81), sampel adalah “bagian dari jumlah yang dimiliki oleh sebagian populasi tersebut”. Data yang diambil sebagai sampel adalah data yang mewakili keseluruhan populasi, hal ini dimaksudkan

untuk mempermudah penelitian”. Dari pendapat tersebut, maka sampel yang terdapat dalam penelitian ini adalah data laba dan deviden perlembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tujuh tahun terakhir yaitu tahun 2014-2020.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk menganalisis dan menginterpretasikan suatu data dengan baik, diperlukan data yang akurat dan sistematis agar hasil yang didapatkan dapat mendeskripsikan kondisi suatu objek yang sedang diteliti dengan benar.

Berangkat dari hal tersebut, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Metode ini dipilih agar pengumpulan data dapat dilakukan secara maksimal.

Sugiyono (2014) menjelaskan bahwa pada teknik dokumentasi, peneliti dimungkinkan memperoleh informasi dari bermacam-macam sumber tertulis atau dokumen yang tersedia dan relevan dengan topik penelitian.

Proses mendokumentasikan data-data penelitian merupakan sebuah langkah untuk memback-up informasi yang telah didapatkan. Dalam penelitian ini, proses dokumentasi yang dimaksud adalah melakukan tabulasi (perekapan) data berdasarkan kriteria sampel dan jumlah tahun penelitiannya yang nantinya akan diolah.

F. Teknik Analisis

Analisis data dapat diartikan sebagai aktivitas yang di lakukan untuk mengubah data penelitian menjadi informasi baru yang dapat dipahami dengan mudah yang digunakan untuk mendapatkan kesimpulan. Metode

29

yang digunakan meliputi metode uji asumsi klasik dan analisis regresi sederhana.

1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas ialah pengujian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui atau menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, yang apakah sebaran data tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak. Salah satu cara untuk mendeteksi apakah sebaran data tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan uji normalitas Kolmogrov Smirnov.

Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogrov Smirnov ialah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Jadi sebenarnya uji Kolmogrov Smirnov ialah uji beda antara data yng diuji normalitasnya dengan data normal baku. Jika nilai signifikan dari uji Kolmogrov Smirnov > 0,05 maka data distribusi tersebut normal dan sebaliknya jika nilai signifikan dari uji Kolmogrov Smirnov

<0,05 maka data distribusi tersebut tidak normal.

b. Uji Heteroskedastisitas

Menurut (Ghozali,2011: 139) Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas ialah uji glejser. Penelitian ini menggunakan uji

glejser dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen. Jika nilai signifikan hitung lebih besar dari alpha = 5% maka tidak ada masalah heteroskedastisitas. Tetapi sebaliknya jika nilai signifikan hitung kurang dari alpha = 5% maka dapat disimpulkan bahwa model regresi terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Multikolineritas

Uji multikolinearitas untuk menguji apakah dalam persamaan regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen. Untuk menguji ada tidaknya multikolineritas dapat dilihat tolerance>0,1 dan nilai variance inflation factor (VIF) <10.

Pedoman Keputusan Berdasarkan Nilai Tolerance

1. Jika nilai tolerance lebih besar dari 0,10 maka artinya tidak terjadi multikolineritas dalam model regresi.

2. Jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 maka artinya terjadi multikolineritas dalam model regresi.

Pedoman keputusan berdasarkan nilai VIf

a. Jika nilai VIF < 10,00 maka artinya tidak terjadi multikolineritas dalam model regresi

b. Jika nilai VIF > 10,00 maka artinya terjadi multikolineritas dalam model regresi

d. Uji autokorelasi

Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 atau sebelumnya ( Ghozali, 2011 :110 ). Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini

31

menggunakan runs test. Jika nilai asymp.sig (2-tailed) lebih besar dari

0,05 maka dapat dikatakan bahwa model regresi ini tidak terdapat gejala autokorelasi.

2. Uji analisis Regresi Sederhana

Analisis regresi sederhana dilakukan guna mengetahui pengaruh dari (Laba per lembar saham terhadap deviden per lembar saham).

Adapun bentuk umum persamaan regresi sederhana adalah:

y = α +β ×

Dimana :

y : Deviden per share (DPS) α : Konstanta

β : Koefisien Regresi

×

: Variabel earning per share (EPS) 3. Uji Hipotesis

a. Uji t (Persial)

Uji t pada dasarnya menunjukkan bahwa seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual menerangkan variasi variabel terikat (Ghozali 2006:84). Pengujian parsial regresi dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individual mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat dengan asumsi variabel yang lain konstan. Pengujian penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program olah data SPSS.

Dasar pengambilan keputusan : Berdasarkan nilai sigifikan (sig.)

a) Jika probabilitas (signifikan). < 0,05 maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.

b) Jika probabilitas (signifikan). > 0,05 maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.

Berdasarkan perbandingan nilai t hitung dengan t tabel

a) Jika nilai t hitung > t tabel maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.

b) Jika nilai t hitung < t tabel maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.

b. Uji Koefisien Determinasi (R Square)

Uji koefisien determinasi merupakan pengujian untuk mengetahui sejauh mana variabel independen dapat menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel dependen. Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur proporsi atau presentasi dari variasi total pada variabel dependen yang dijelaskan oleh model regresi (Gujarati dan Porter, 2013:97). Menurut Ghozali (2013:95) koefisien determinasi menunjukkan seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berkisar antara 0-1. Nilai koefisien determinasi yang rendah bermakna kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat terbatas, namun ketika nilai koefisien determinasi mendekati 1 bermakna variabel bebas memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Deskripsi Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh laba perlembar saham terhadap deviden perlembar saham untuk nantinya dapat dibandingkan di tahun selanjutnya dan memberikan informasi bagi yang membutuhkannya.

Dalam penelitian ini, data yang digunakan merupakan data yang berasal dari annual report perusahaan yang diperoleh atau dapat diakses melalui website www.idx.co.id. Objek penelitian ini adalah PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2014-2020 yang didapatkan dari laporan tahunan (annual report).

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Geleri Investasi Bursa Efek Indonesia Unismuh Makassar yang ber Alamat di Jalan Sultan Alauddin No.259 Makassar 90221, Penelitian ini dilakukan 3 bulan terhitung bulan Juni 2021 sampai Agustus 2021.

Bursa Efek Indonesia sebagai fasilitator dan regulator pasar modal di Indonesia memiliki komitmen untuk menjadi Bursa Efek yang sehat dan berdaya saing global. Penerapan komitmen CG yang baik atau biasa disebut Good Corporate Governance (GCG) terkandung pada misi Perusahaan yaitu

menciptakan daya saing untuk menarik investor dan emiten melalui pemberdayaan Anggota Bursa dan Partisipan, penciptaan nilai tambah, efisiensi biaya serta penerapan good governance.BEI telah berhasil menerapkan pedoman, kerangka kerja serta prinsip-prinsip CG secara efektif dan efisien dalam kegiatan operasional Perusahaan dan senantiasa memperbaiki praktik CG di masa yang akan datang. Manfaat dari penerapan GCG dapat berdampak positif pada terciptanya akuntabilitas Perusahaan, transaksi yang wajar dan independen, serta kehandalan dan peningkatan kualitas informasi kepada publik,Tujuan BEI menerapkan CG yaitu:

a.

Sebagai pedoman bagi Dewan Komisaris dalam melaksanakan pengawasan dan pemberian saran-saran kepada Direksi dalam pengelolaan Perusahaan.

b.

Sebagai pedoman bagi Direksi agar dalam menjalankan kegiataan sehari-hari Perusahaan dilandasi dengan nilai moral yang tingg dengan memperhatikan Anggaran Dasar, etika bisnis, perundang-undangan dan peraturan yang berlaku lainnya.

c. Sebagai pedoman bagi jajaran manajemen dan karyawan BEI dalam melaksanakan kegiatan maupun tugasnya sehari-hari sesuai dengan prinsip-prinsip CG.

3 Visi & Misi Bursa Efek Indonesia Visi:

“Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia.

Misi:

“Menyediakan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien serta mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).”

35

Struktur Organisasi Galeri Bursa Efek Indonesia

(sumber idx.co.id)

Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Geleri Bursa Efek Indonesia.

Direktur

1. Devisi strategi dan transformasi

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Analisis Data

Analisis data digunakan untuk melihat gambaran atau deskriptif suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum. Deskriptif data dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang distribusi dan perilaku data sampel yang digunakan tersebut. Mean digunakan untuk memperkirakan besar rata-rata populasi yang diperkirakan dari sampel standar deviasi digunakan untuk menilai dispersi rata-rata nilai sampel. Maksimum-minimum digunakan untuk melihat nilai minimum dan maksimum populasi.

Deskriptif data dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan IMB SPSS versi 21. Hasil deskriptif data yang didapatkan adalah sebagai berikut :

Tabel 4. 1 Statistik Deskriptif

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui ada 2 variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Laba per lembar saham (earning per

37

share) dan Deviden per lembar saham (dividend per share). Jumlan data (N) sebanyak 7 untuk masing-masing variabel dimana pada tahun 2014 EPS mengalami penurunan paling besar dengan nilai 0,1509 dan mengalami kenaikan paling tinggi pada tahun 2017 sebesar 1.0433 dengan rata-rata EPS selama 7 tahun sebesar 0,6858 serta standar deviasinya sebesar 0,3311. Sedangkan variabel Deviden per share (deviden per share) mengalami penurunan paling besar pada tahun 2014 sebesar 0,00002 dan mengalami kenaikan paling tinggi pada pada tahun 2019 sebesar 0,00078 dan nilai rata-rata EPS sebesar 0,00046 serta standar deviasinya sebesar 0,00026.

Berdasarkan tabel di atas, maka data tersebut akan diolah dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan melalui beberapa tahapan analisis sehingga mendapatkan kesimpulan.

2. Analisis Asumsi Klasik

Berdasarkan hasil pengujian segala penyimpanan klasik terhadap penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji agar mengetahui apakah model regresi variabel terikat (dependen) memiliki data distribusi data normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal. Penelitian menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dalam melakukan uji normalitas. Hal tersebut dapat dipertegas dengan hasil pengujian Kolmogorov-Smirnov pada tabel 4.2. Berikut dimana hasil output SPSS bahwa nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,2 dan 1.113, maka dapat disimpulkan bahwa data dalam

model regresi ini memiliki distribusi normal karena nilai Sig (2-tailed) lebih besar dari 0,05.

Tabel 4. 2 Uji Normalitas

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi yang akan digunakan terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini dilakukan uji glejser. Dari tabel 4.3 dapat dilihat hasil uji glejser bahwa variabel bebas memiliki nilai sig sebesar 0,809 (sig > 0,05) yang berarti bahwa data penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

39

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah didalam sebuah model regresi ada interkolerasi atau kolinearitas antar variabel bebas (Independen) atau tidak. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi interkolerasi atau kolinearitas di antara variabel bebas (Independen). Uji multikolinearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai Variance Inflution Factor (VIF) dan Tolerance.

Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4. 4

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1

(Constant)

Earning Per Share (EPS) 1.000 1.000

Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai

Variance Inflution Factor (VIF) sebesar 1,000 atau kurang dari 10 dan nilai Tolerance 1,000 atau lebih dari 0,01 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi ini.

d.

Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode 1 dengan kesalahan pengganggu periode t-1. Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Runs tes. Jika nilai asymp.sig (2-tailed) > 0,05 maka tidak terdapat autokorelasi dalam model regresi. Sebaliknya, jika nilai asymp.sig (2-tailed)< 0,05, maka dapat dikatakan bahwa model regresi terdapat gejala autokorelasi.

Hasil analisis autokorelasi dengan runs test adalah sebagai berikut :

Tabel 4. 5 Uji Autokorelasi

Runs Test

Unstandardized Residual

Test Valuea -.00007

Cases < Test Value 3

Cases >= Test Value 4

Total Cases 7

Number of Runs 2

Z -1.637

Asymp. Sig. (2-tailed) .102

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

41

Dari hasil tabel 4.5 di atas, dihasilkan nilai asymp.sig (2-tailed) sebesar 0,102. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi yang akan digunakan dalam penelitian ini tidak terdapat autokorelasi, artinya asumsi autokorelasi terpenuhi.

3. Analisis Regresi Sederhana

Pengujian data dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan variabel dependen deviden per share (DPS) dan variabel independen earning per share (EPS). Persamaan regresi linear sederhana dapat dipengaruhi oleh nilai koefisien β. Nilai koefisien positif dapat diartikan bahwa setiap kenaikan nilai X satu satuan maka akan diikuti kenaikan nilai Y satu satuan. Begitupun sebaliknya jika nilai koefisien negatif maka dapat diartikan bahwa setiap kenaikan nilai X satu satuan maka akan mengurangi nilai Y satu satuan dengan asumsi bahwasanya variabel lain konstan.

Tabel 4. 6 Uji Regresi Sederhana

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

Berdasarkan hasil analisis regresi dari tabel 4.6, diketahui nilai koefisien β sebesar -0.000002466 dengan koefisien variabel earning per share (EPS) sebesar 0.01 sehingga bentuk persamaan regresi linearnya adalah sebagai berikut :

Y = -0.000002466+ 0,001 X

Dari persamaan di atas dapat disimpulkan apabila variabel earning per share (EPS) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka deviden per share (DPS) mengalami penurunan sebesar -0.000002466.

4. Analisis Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan apakah variabel independen yakni earning per share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen deviden per share (DPS) pada perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk periode 2014-2020.

a. Uji t (Persial)

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu laba per lembar saham terhadap variabel dependen deviden per lembar saham. Maka digunakan uji t, dengan tingkat signifikansi 0,05 dimana : df=n-k-1, n=7, k=1 , atau 7-1-1=5 sehingga nilai df=5 maka di peroleh nilai ttabel = 2.01505 ,hasil uji signifikan parameter inividual (uji t) dapat dilihat pada tabel berikut.

43

Tabel 4. 7 Uji t (Parsial)

Model T Sig. Hasil

1

(Constant) -,018 ,987

Earning Per Share (EPS)

3,685 ,014 Hipotesis diterima

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

Berdasarkan nilai signifikan (Sig.)

Nilai signifikan (Sig) variabel laba per lembar saham adalah sebesar 0,014 . Karena nilai Sig. 0,014 < probabilitas 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh variabel bebas laba per lembar saham terhadap variabel terikat deviden per lembar saham atau hipotesis diterima.

Perbandingan nilai t hitung dengan t table (uji t )

Nilai t hitung variabel laba per lembar saham adalah sebesar 3,685. Karena nilai t hitung 3,685 > t table 2,01505, maka ada pengaruh variabel bebas laba per lembar saham terhadap variabel terikat deviden per lembar saham atau hipotesis diterima.

b. Uji Determinasi

Uji koefisien determinasi digunakan untuk menguji agar mengetahui seberapa besar pengaruh antara variabel bebas (independen) terhadap variabel terikat (dependen). Uji koefisien

determinasi dapat dilihat dari nilai R2 . Hasil pengujian regresi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.8 Koefisien Determinasi

Sumber: Output IBM SPSS version 21 yang diolah, 2021

Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa besarnya nilai koefisien determinasi sebesar 0,731 atau 73.1%, yang berarti bahwa secara statistik variabel independen yakni laba per lembar saham mampu menjelaskan variabel dependen yakni deviden per lembar saham sebesar 73.1 % sedang yang 26.9 % sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

C. Pembahasan

Hasil Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh laba perlembar saham dan deviden perlembar saham pada PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan periode pengamatan 2014-2020. Berdasarkan olahan data mengenai laba perlembar saham terlihat bahwa pada tabel 4.7 di atas, hasil penelitian ini menunjukan bahwa Laba Per Lembar Saham berpengaruh positif signifikan Terhadap Deviden Per Lembar saham pada perusahaan PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk periode 2014-2020 yang berarti

45

kenaikan atau penurunan laba juga akan berpengaruh atau berdampak pada pembagian deviden, hal tersebut dapat kita lihat bahwa nilai thitung

sebesar 3,685 lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel sebesar 2,01505. Hal tersebut menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu 3,685 >

2,01505 dengan tingkat signifikansi 0,05 sehingga hipotesis yang diajukan “Diduga bahwa laba per lembar saham berpengaruh signifikan terhadap deviden per lembar saham pada PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk diterima”.

Deviden per lembar saham adalah pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya jumlah saham yang dimiliki. Laba per lembar saham mencerminkan pendapatan dimasa depan. Di dalam perdagangan saham, laba per lembar saham sangat berpengaruh pada harga saham. Semakin tinggi laba per lembar saham, semakin mahal harga suatu saham dan sebaliknya (Widoatmodjo, 1996: 156). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Durbin pada tahun 2004 menunjukkan adanya pengaruh positif perubahan laba per lembar saham terhadap deviden per lembar saham. Sejalan dengan penelitian Kenaikan laba per lembar saham akan terus meningkat apabila laba perusahaan juga meningkat. Apabila laba per lembar saham meningkat dari waktu ke waktu, maka harga saham di pasar modal akan mengalami kenaikan. Peningkatan atau penurunan laba per lembar saham akan mempengaruhi investor untuk membeli, atau menjual saham yang dimilikinya, sehingga akan mempengaruhi harga saham di pasar sekunder. Investor yang membeli suatu saham, kita tentunya

mengharapkan perusahaan tersebut mengalami keuntungan (laba) yang besar. Jika perusahaan membukukan laba yang besar, perusahaan dapat membagikan laba tersebut kepada pemegang sahamnya dalam bentuk dividen.

Dividen per saham menurut Warren et al (1999:643) menyatakan bahwa sumber pembiayaan dividen kas kepada pemegang saham berasal dari saldo laba yang ditentukan, dibagi dengan jurnlah lembar saham yang beredar. Dividen per lembar saham secara umum merupakan distribusi laba secara langsung dari perusahaan kepada pemegang saham yang didasarkan pada jumlah lembar sahamnya.

Hal ini sejalan dengan teori sinyal yang menjelaskan akan pentingnya informasi baik secara keuangan ataupun non keuangan yang diberikan perusahaan kepada pihak yang mempunyai kepentingan. Bahwa investor memerlukan informasi sebagai alat peninjauan atau analisis untuk pengambilan keputusan investasi.

Seorang investor yang melakukan investasi pada perusahaan akan menerima laba atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham (EPS) yang diberikan perusahaan akan memberikan pengembalian yang cukup baik. Sebagai salah satu factor yang mempengaruhi harga saham, maka peningkatan pembagian dividen merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas dividen yang besar adalah yang diinginkan oleh investor, sehingga akan mendorong investor untuk

47

melakukan investasi yang lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan akan meningkat.

48

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Penelitian

Berdasarkan paparan hasil peneitian pada bab sebelumnya maka disimpulkan bahwa penelitian ini yang mengenai pengaruh laba perlembar saham yang diukur dengan earning per share (EPS) terhadap deviden perlembar saham yang diukur dengan deviden per share (DPS) menunjukan bahwa laba per lembar saham secara positif berpengaruh signifikan terhadap deviden per lembar saham. Semakin tinggi laba per lembar saham yang diperoleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk maka akan semakin tinggi pula pembagian dividen yang akan diterima oleh pemegang saham. Dengan kata lain, keduanya memiliki hubungan yang berbanding lurus.

B. Saran

1. Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan lebih meningkatkan dan memperhatikan informasi mengenai perusahaan yang dibutuhkan oleh para investor , sehingga menarik investor untuk melakukan investasi pada

1. Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan lebih meningkatkan dan memperhatikan informasi mengenai perusahaan yang dibutuhkan oleh para investor , sehingga menarik investor untuk melakukan investasi pada

Dokumen terkait