• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoritis

a. Bagi peneliti berikutnya, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian sejenis dan sebagai pengembangan penelitian lebih lanjut.

b. Bagi pembaca merupakan bahan informasi tentang pengaruh laba perlembar saham terhadap deviden per lembar saham PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk.

2. Praktis

a. Bagi perusahaan, sebagai bahan masukan dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan kebijakan finansial guna meningkatkan kinerja perusahaan.

b. Bagi investor, sebagai bahan masukan bagi investor dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan sehubungan dengan investasi saham yang telah atau akan ditanamkan.

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Laba Perlembar Saham (Earning Per Share) a. Definisi Laba Per Lembar Saham

Menurut Robbert Angg dalam (Datu dan Maradesa, 2017:1239), EPS merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak pada suatu tahun buku dengan jumlah saham yang diterbitkan. Di dalam perhitungan EPS, terdapat dua jenis EPS, yaitu:

a)

EPS Historis yaitu EPS yang dihitung berdasarkan kinerja perusahaan pada tahun buku yang telah lampau. EPS historis merupakan nilai yang telah terjadi pada masa lampau.

b)

EPS Proyektif EPS yang diperkirakan akan terjadi dengan asumsi sesuai dengan proyeksi kinerja emiten.

Laba per lembar saham (earning per share) Menurut Brealy dan Stewart dalam (Datu dan Maradesa, 2017:1239), menyatakan bahwa para penanam modal (investor) sering menggunakan istilah income stock and growth stock. Mereka kelihatannya membeli saham yang sedang tumbuh terutama dengan pengharapan memperoleh keuntungan modal dan mereka lebih berminat pada pertumbuhan pendapatan pada masa mendatang daripada dalam dividen tahun berikutnya.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa laba perlembar saham merupakan jumlah laba bersih perusahaan yang tersedia untuk setiap laba per lembar saham biasa yang dimiliki oleh para pemegang saham. Pada dasarnya laba perlembar saham adalah gambarang yang baik bagi pemusatan emiten. Karena laba yang meningkat akan menguntungkan emiten maupun investor sehingga memungkinkan pembagian deviden yang tinggi. Selain dari itu, kinerja yang baik akan membangung sentimen positif di masyarakat sehingga harga saham akan naik, ini akan memberikan capital gain bagi investor dan juga mendorong kenaikan laba per lembar saham.

b. Jenis-Jenis Laba Per Lembar Saham

Dalam pernyataan standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 56 yang menyatakan ada dua jenis laba per lembar saham yaitu:

a) Laba per lembar saham dasar adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk setiap saham biasa yang beredar dalam priode pelaporan.

b) Laba per lembar saham dilusian adalah jumlah pada suatu priode yang tersedia untuk setiap saham biasa yang beredar selama priode pelaporan dan efek lain yang asumsinya diterbitan selama priode pelaporan dan efek lain yang asumsinya diterbitkan bagi semua efek berpotensi saham biasa yang sifatnya dilufit (penurunan) yang beredar selama periode pelaporan.

Menurut Dykman et al (2000:496), laba perlembar saham dapat dibagi menjadi dua format penyajian yang berdasarkan atas skruktur modal pada perusahaan yaitu struktur modal sederhana (penyajian laba perlembar

9

saham tunggal) dan struktur modal rumit/sulit (penyajian laba perlembar saham ganda). Perusahaan akan memiliki struktur modal sederhana (simple capital structure) jika ekuitas pemegang saham hanya terdiri dari saham biasa atau jika tidak ada sekuritas dilutif yang potensial atas konversi atau penggunaan akan mendulasi (menurunkan) laba per lembar saham. Perusahaan akan memiliki struktur modal rumit (complex capital structure) jika memiliki sekuritas dilutive potensial yang beredar termaksud saham preferen konvertibel, obligasi konvertibel, penerbitan saham biasa kontinjen, hak saham, opsi saham, dan sekuritas lainnya yang memberikan konversi atau pembelian saham biasa. Paa struktur modal rumit, diperlukan penyajian laba per lembar saham ganda yang melaporkan pengaruh dilufit.

Dua jumlah laba per lembar saham yang dilaporkan adalah laba per lembar saham dasar dan laba per lembar saham dilusin.

c. Perhitungan Laba Per Lembar Saham a) Laba per lembar saham dasar

Kalkulasi laba per lembar saham di dasaran atas laba bersih yang diperoleh perusahaan selama priode akuntansi dikuragi jumlah dividen yang harus dibayarkkan kepada pemegang saham preferen.

Berdasarkan PSAK No. 56 (2015:56.3), “laba per lembar saham dihitung dengan membagi laba rugi yang diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk (laba bersih residual) dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa beredar (penyebut) dalam suatu priode”. Laba bersih residual merupakan laba bersih (setelah dikurangi beban pajak, pos luar biasa dan hak pemegang saham minoritas) dikurangi dengan dividen saham preferen yang meliputi:

Rumus laba per saham dasar sebagaimana yang dikemukakan oleh K.R. Subramanyam (2017:419) adalah:

Apabila perusahaan tidak memiliki saham preferen, laba per lembar saham dapat dihitung dengan rumus yang di kemukakan oleh Kasmir (2017:207) yaitu:

Apabila terdapat transaksi yang mengubah jumlah saham biasa, maka jumlah rata-rata saham tertimbang saham biasa harus disesuaikan. Contoh transaksi yang mengubah jumlah saham biasa adalah pembagian dividen saham biasa dan bonus. Penerbitan hak memesan lebih dulu dan penggabungan saham.

b) Laba Per Saham Dilusian

Berdasarkan PSAK No. 56 (2015:56.6) “Untuk tujuan perhitungan laba per lembar saham dilusian, entitas menyesuaikan laba rugi yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa entitas induk dan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar, atas dampak dari seluruh instrumen berpotensi saham biasa yang bersifat dilutive”.

d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Laba Per Lembar Saham

Menurut Weston dan Brigham dalam (Datu dan Maradesa, 2017:1237), faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham adalah : a) Laba per lembar saham (Earning Per Share/EPS). Seorang investor

yang melakukan investasi pada perusahaan akan menerima laba atas

11

saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham (EPS) yang diberikan perusahaan akan memberikan pengembalian yang cukup baik. Ini akan mendorong investor untuk melakukan investasi yang lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan akan meningkat.

b) Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara:

1) Mempengaruhi persaingan di pasar modal antar saam dengan obligasi, apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk ditukarkan dengan obligasi. Hal ini akan menurunkan harga saham, sebaliknya juga akan terjadi apabila tingkat bunga mengalami penurunan.

2) Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan. Suku bunga juga mempengaruhi kegiatan ekonomi yang juga akan mempengaruhi laba perusahaan.

c) Dividend Per Share (DPS). Kebijakan pembagian dividen dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagian dibagikan dalam bentuk deviden dan sebagian lagi disisihkan sebagai laba ditahan. Sebagai salah satu factor yang mempengaruhi harga saham, maka peningkatan pembagian dividen merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas dividen yang besar adalah yang diinginkan oleh investor sehingga harga saham naik.

d) Jumlah laba yang didapat perusahaan Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yang mempunyai profit yang

cukup baik karena menunjukan prospek yang cerah sehingga investor tertarik untuk berinvestasi, yang nantinya akan mempengaruhi harga saham perusahaan

e) Tingkat Resiko dan Pengembalian. Apabila tingkat resiko dan proyeksi laba yang diharapkan perusahaan meningkat maka akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Biasanya semakin tinggi resiko maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian saham yang diterima.

Adapun faktor penyebab kenaikan dan penurunan laba per lembar saham menurut Weston & Eugene (2015:23) adalah:

Faktor-faktor penyebab kenaikan laba per lembar saham:

1) Laba bersih naik dan jumlah lembar saham biasa yang beredar tetap.

2) Laba bersih tetap dan jumlah laba lembar saham biasa yang beredar turun.

3) Laba bersih naik dan jumlah lembar saham biasa yang beredar turun.

4) Peresentase kenaikan laba bersih lebih besar daripada presentase kenaikan jumlah lembar saham biasa yang beredar.

5) Peresentase penurunan jumlah lembar saham biasa beredar lebih besar daripada presentase penurunan laba bersih.

Sedangkan penurunan laba per lembar saham dapat disebabkan karena:

1) Laba bersih tetap dan jumlah lembar saham biasa yang beredar naik.

13

2) Laba bersih turun dan jumlah lembar saham biasa yang beredar tetap.

3) Laba bersih turun dan jumlah lembar saham biasa yang beredar naik.

4) Persentase penurunan laba bersih lebih besar daripada persentasi penurunan jumlah lembar saham biasa yang beredar.

5) Persentasi kenaikan jumlah lembar saham biasa beredar lebih besar daripada persentase kenaikan laba bersih.

2. Deviden

a) Pengertian Deviden

Menurut Irawati dalam (Baharuddin, 2018:12) dividen per lembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar. Menurut Syamsuddin dalam (Baharuddin, 2018:12) Dividend Per Share (DPS) menggambarkan berapa jumlah pendapatan per lembar saham yang akan didistribusikan. Dari beberapa pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dividen per lembar saham (DPS) merupakan total semua dividen yang dibagikan kepada para pemilik saham secara proporsional. Gallagher dan Andrew dalam (Datu dan Maradesa, 2017:1236) mengartikan dividen yaitu

“dividends are the cash payment that corporations make to their common stockholders”. Stice et al dalam (Datu dan Maradesa, 2017:1237) menyatakan bahwa “dividen adalah pembagian kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah lembar saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik.”

Deviden pada umumnya dibayarkan dalam bentuk uang tunai atau saham yang biasanya dibagikan dengan interval waktu yang tetap oleh pihak perusahaan emiten. Menurut Halim (2015:16) “deviden dalah bagian dari profit/keuntungan yang dibagikan emiten kepada para pemegang sahamnya”. Menurut Baridwan (2004:430)” deviden merupakan pembagian saham PT yang sama dengan jumlah lembar saham yang dimiliki”.

Biasanya deviden dibagikan dengan interval waktu yang tetap, tetapi biasanya juga dilakukan pembagian deviden tambahan pada waktu yang bukan biasannya. Menurut Skousen et al (2001:757) “deviden adalah pendistribusian laba secara proporsional kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya”.

b) Jenis-Jenis Dividen Per Lembar Saham

Adapun beberapa jenis dividen menurut Baridwan (2004:429):

1) Dividen Kas atau Dividen Tunai (cash dividend) yaitu suatu dividen yang dibayarkan dengan uang tunai, atau lebih kerapkali terjadi, dengan cek yang segera dapat ditukarkan dengan uang tunai.

Terkadang perusahaan membayar deviden 2 sampai 4 kali untuk membayar deviden dalam setahun. Dana dari pembayaran deviden tunai ini diambilkan dari laba ditahan yang dimiliki oleh perusahaan sehingga secara otomatis laba ditahan dank as perusahaan akan berkurang. Ini adalah cara yang biasa mengenai pembayaran dividen.

2) Dividen Properti atau dividen dalam bentuk harta benda (property dividend) adalah suatu dividen yang terdiri atas suatu bagian dari harta milik perseroan yang dibayarkan kepada para pemegang saham, sebagai ganti uang tunai atau saham perseroan. Ini dapat

15

berupa surat-surat efek atau tanggungan dari perseroan-perseroan lainnya, seperti cabang perseroan, obligasi-obligasi pemerintah yang dikuasai, dan lain-lain.

3) Dividen atas surat saham sementara (scrip dividend) yaitu suatu dividen yang dibayarkan dalam skrip, atau dengan perkataan lain, dalam suatu promissorynote, yang harus dibayarkan pada suatu waktu tertentu di kemudian hari. Jadi,ini adalah suatu bentuk deferred dividend (dividen yang ditangguhkan).

4) Dividen Likuidasi (liquidating dividend) adalah suatu dividen yang dibayarkan dari aktiva, kepada para pemilik suatu perseroan yang dibubarkan,atau kepada para kreditur suatu maskapai yang dilikuidir, atau dalam keadaan bangkrut, atau kepada para ahli waris suatu warisan yang sedang diselesaikan. Pembayaran seperti itu dapat terjadi apabila suatu perusahaan jatuh bangkrut atau apabila manajemen memutuskan untuk menjual aktiva perusahaan dan hasilnya didistribusikan kepada para pemegang saham.

5) Dividen Saham (stock dividend) adalah suatu dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham perseroan itu, bukan dengan uang tunai. Dividen Saham dapat berupa saham tambahan dalam perusahaan atau saham anak perusahaan yang didistribusikan kepada para pemegang saham.

c) Kebijakan deviden per lembar saham

Kebijakan dividen merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan

pada akhir tahun akan di bagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa yang akan datang. Rasio pembayaran dividen menentukan pendanaan. Rasio ini menunjukan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham biasa perusahaan berupa dividen kas. Apabila laba perusahaan yang ditahan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan dibayarkan sebagai dividen menjadi lebih kecil. Dengan demikian aspek penting dari kebijakan dividen adalah menentukan alokasi laba yang sesuai diantara pembayaran laba sebagai dividen dengan laba yang ditahan di perusahaan.

Pembayaran dividen dikaitkan dengan pembagian dividen yang dimana laba yang di dapatkan perusahaan tersedia bagi pemegang saham. Laba tersebut dilihat dari laporan laba rugi yang disebut sebagai laba setelah pajak. Karna jika semua dana dibagikan sebagai dividen maka perusahaan tidak dapat melakukan penggantian aktiva tetap dimasa yang akan datang. Jika terjadi maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dimasa berikutnya akan kurang. Jumlah dana yang dapat di bagikan sebagai deviden per lembar saham menurut K.R.

Subramanyam (2017:419) adalah:

d) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Deviden Per Lembar Saham

Ada sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap dividen yaitu set kesempatan investasi, dana yang tersedia, serta preferensi para pemegang saham untuk pendapatan saat ini jika dibandingkan dengan

17

masa mendatang. Masing-masing faktor diduga akan berpengaruh terhadap dividen perusahaan. Disamping itu, faktor-faktor tersebut diduga saling berinteraksi dalam mempengaruhi kebijakan pemberian dividen.

Faktor lain yang turut mempengaruhi deviden per lembar saham yaitu likuiditas, profitabilitas, dan ukura perusahaan.

1) Likuiditas

Sitanggang (2017) mengemukakan bahwa lukuiditas menjadi ukuran kinerja dari kemampuan perusahaan guna memenuhi kewajiban keuangan lancer yang segera harus dilunasi yaitu kewajiban keuangan dengan jatuh tempo hingga satu tahun.

Perusahaan di katakana dalam likuid pada saat perusahaan mampu untuk memengaruhi kewajiban keuangan tepat waktu. Hanya perusahaan dengan kondisi likuid yang mampu membayarkan deviden kepada para pemegang saham dalam bentuk pembayaran tunai. Manajemen perusahaan pada umumnya menggunakan likuiditas untuk membayar kewajiban jangka pendeknya.

2) Profitabilitas

Profitabilitas diartikan sebagai rasio untuk penilaian kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari proses pengelolaan aset dari saham tertentu. Sehingga rasio ini memberikan gambaran atau sebagai ukuran tingkat efektivitas manajemen perusahaan. Maka penggunaan rasio profitabilitas menjadi gambaran efisiensi pada perusaaan (Munawir, 2017).

3) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah salah satu indikator yang berpengaruh terhadap rasio bisnis dengan pengukuran menggunakan total dari aset perusahaan (Yanti, 2015). Perusahaan yang besar serta memiliki akses pasar yang lebih luas akan mampu membayar deviden kepada pemegang saham dikarenakan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan dana dalam waktu yang relatif cepat. Perusahaan dengan ukuran yang besar mengindikasikan kemampuan dalam menghasilkan laba yang tinggi sehingga mampu membayarkan deviden yang tinggi kepada pemegang saham.

4) Tingkat Pertumbuhan Perusahaan

Brigham dan Houston (2009) tingkat pertumbuhan perusahaan adalah perubahan (peningkatan atau penurunan) total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Pertumbuhan sebuah perusahaan juga akan mempengaruhi besar kecil dan kebijakan deviden yang akan di ambil oleh sebuah perusahaan. Semakin pesat sebuah pertumbuhan perusahaan, maka semakin efektif juga perusahaan tersebut dalam mengelola dana yang dimiliki untuk diinvestasikan sehingga akan mengurangi pembagian deviden kepada para pemegang saham.

19

B. Tinjauan Empiris

Penelitian ini tidak terlepas dari penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi diantaranya sebagai berikut: harga saham. Hal ini juga tergambar dari hasil koefisien determinasi di perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia.

Lanjutan tabel 2.1 harga saham, di mana EPS berkontribusi dividen, laba bersih dan pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham.

21 share, laba bersih dan pertumbuhan penjualan menunjukkan bahwa secara simultan menunjukkan bahwa Profitabilitas (ROA) dan Solvabilitas (DER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kebijakan Dividen (DPR). Secara parsial menunjukkan bahwa Profitabilitas (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan Dividen Per Share (DPS).

Lanjutan tabel 2.1 3.203 lebih besar dari ttabel 2.018 dan tidak terdapat pengaruh arus kas operasi terhadap dividen kas dengan perolehan nilai thitung 1.811 lebih kecil dari ttabel 2.018.

23

C. Kerangka Konsep

Pada penelitian ini penulis meneliti pengaruh laba perlembar saham terhadap deviden perlembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Untuk dapat mengetahui laba perlembar saham dan deviden perlembar saham, maka penulis terlebih dahulu melakukan analisis laporan pada PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk tujuh tahun terakhir (2014-2020) sebelum tahun yang diteliti. Dari laporan keuangan tersebutlah dapat diketahui laba perlembar saham dan deviden perlembar saham.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat skema karangka konsep gambar 2.1

Gambar 2. 1 Kerangka Konsep D. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis dikembangkan berdasarkan gap research yang diperoleh dari berbagai referensi yang dirujuk.

Penelitian Nurhayati (2016) mengungkapkan bahwa Earning Per Share (Laba Per Lembar Saham) berpengaruh positif dan signifikan dan mampu berkontribusi sebesar 92% terhadap harga saham PT. Charoen Pokphan Indonesia Tbk pada periode 2005-2009. Hal ini sejalan dengan penelitian Deviden perlembar sahham (Y)

 Total dividen yang dibayarkan

 Jumlah saham yang beredar Laba Perlemar Saham (X)

 Laba bersih saham biasa

 Jumlah saham yang beredar

Indah dan Parlia (2017) yang mengungkapkan bahwasanya Earning Per Share (Laba Per Lembar Saham) berpengaruh positif dan signifikan dan mampu berkontribusi terhadap harga saham PT. Bank Mega Tbk selama kurun periode 2009-2014. Merujuk pada dua penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa laba per lembar saham mempengaruhi harga saham, yang bisa diproyeksikan jika laba per lembar saham tinggi maka harga saham kumulatif juga akan meningkatkan jumlah deviden per lembar saham yang akan dibagikan nantinya.

Hasil penelitian berbeda diungkapkan oleh Suryani (2018) yang menemukan bahwa laba per lembar saham tidak berpengaruh terhadap perubahan harga saham pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang listing di BEI 2012-2016. Dalam penjelasannya, meskipun laba per lembar saham tinggi hal itu tidak sama sekali membuat harga saham berubah sebab harga saham ditentukan oleh harga pasar saham itu sendiri.

Hal ini jika dianalisis maka juga tidak akan berdampak pada dividen per lembar saham yang tetap harus melihat berapa porsi atau persentase pembagian deviden yang disepakati. Berdasarkan analisa terhadap gap research yang telah diuraikan, maka peneliti kemudian merumuskan hipotesis sebagai berikut: “Diduga bahwa laba per lembar saham berpengaruh signifikan terhadap dividen per lembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.”

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menganalisa data-data sekunder. Penelitian kuantitatif merupakan metode ilmiah atau scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yang meliputi konkrit (empiris), obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode kuantitatif juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru (Sugiyono, 2014:7). Sedangkan menurut V. Wiratna Sujarweni (2014:39) penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-enemuan yang dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Metode penelitian ini menggunakan penelitian assosiatif yang memiliki bentuk hubungan kausalitas. Menurut Sugiyono (2014:37) pendekatan kuantitatif yang berbentuk kausalitas digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antardua variabel atau lebih, yakni veriabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi.

Terkait dengan hal tersebut, dapat ditafsirkan bahwasanya metode asosiatif bertujuan untuk melihat bagaimana seberapa kuat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Jenis penelitian ini dipilih karena peneliti mencoba untuk melihat pengaruh laba per lembar saham terhadap deviden per lembar saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Galeri investasi Bursa Efek Indonesia Unismuh Makassar. Lokasi penelitian ini di Jl. Sultan Alauddin No.259 Makassar 90221. Adapun target waktu pelaksanaan penelitian selama tiga bulan yaitu pada bulan Juni 2021 sampai Agustus 2021.

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Variabel penelitian merupakan simbol/atribut yang di gunakan peneliti dalam suatu objek penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independent variable) yang di lambangkan (X) terdapat di laba perlembar saham.

Sedangkan variabel (dependent variable) yang dilambangkan (Y) terdapat pada deviden perlembar saham.

1. Definisi Operasional Variabel

Untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang variabel yang di kaji dalam penelitian ini, maka penulis memutuskan definisi operasionalnya sebagai berikut:

a) Laba perlembar saham adalah pembagian laba bersih saham biasa dengan jumlah saham yang beredar pada perusahaan PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tujuh tahun terakhir (2014-2020).

b) Dividen perlembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham yang beredar.

27

2. Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Menurut Kasmir (2014:106-107) dengan formulasi yaitu:

a) Laba perlembar saham

b) Dividen perlembar saham

Besarnya dividen perlembar saham dapat dicari dengan rumus:

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2017:80), populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

Menurut Sugiyono (2017:80), populasi adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

Dokumen terkait