• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksadana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya. Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, rigth, reksadana, dan berbagai instrumen derivatif seperti option, future, dan lain-lain (Herlianto, 2010).

Harga sebuah saham sangat dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan, harga suatu saham juga akan cenderung naik apabila suatu saham tersebut mengalami kelebihan permintaan dan cenderung turun apabila saham terjadi kelebihan penawaran. Dalam suatu perdagangan dan investasi, harga saham mengacu pada harga saham terkini dalam perdagangan saham. Indikator harga saham menggambarkan banyak hal yang terjadi saat ini diantara pembeli dan penjual. Indikator saham juga tidak hanya menggambarkan harga pasar akan tetapi juga menggambarkan pihak yang saat ini sedang memegang kendali didalam pasar modal. Maka dari itu informasi terbaru yang masuk ke pasar modal akan menyebabkan para investor membeli atau menjual saham. Harga saham juga dapat berubah naik atau turun dalam hitungan cepat.

Oleh karena itu setiap negara perlu melakukan pengembangan terhadap pasar modal agar investor semakin tertarik melakukan investasi di pasar modal tersebut, akan tetapi proses pengembangan pasar modal tersebut tidak dapat dibiarkan secara apa adanya tanpa diawasi pemerintah.

Adapun investasi pemerintah justeru berorientasi kepada upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi, hubungan investasi dengan tingkat bunga merupakan fungsi menurun terhadap suku bunga (Nasution, Syahrir Hakim, 2016).

Perkembangan IHSG pada tahun 2012 mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah bursa saham di Indonesia. Tahun 2013, IHSG sempat mencapai level tertinggi diawal tahun, namun akhirnya terkoreksi secara signifikan pada semester II-2013.

Krisis keuangan internasional yang belum stabil akibat menurunnya tingkat kepercayaan investor pada pertengahan tahun 2013 hingga awal tahun 2014 berdampak bagi perekonomian Indonesia. Kemudian nilai IHSG meningkat kembali pada triwulan II 2014 dilevel 2.534 hingga akhir tahun 2014. Hal ini dikarenakan mulai meningkatnya geliat ekonomi yang terjadi di pasar keuangan, baik oleh pelaku asing maupun domestik. Tahun 2015 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki potensi untuk terus berfluktuasi mencapai level tertinggi.

BI Rate merupakan suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. Pemerintah melalui BI akan menaikkan suku bunga guna mengontrol

3

peredaran uang di masyarakat agar peredaran uang di masyarakat tetap terkontrol.

Tingkat bunga yang tinggi merupakan sinyal yang negatif bagi harga saham, tingkat bunga yang meningkat akan menyebabkan peningkatan suku bunga yang disyaratkan atas investasi suatu saham. Disamping itu tingkat suku bunga yang tinggi bisa menyebabkan investor menarik investasinya pada saham dan memindahkannya pada investasi berupa tabungan ataupun deposito (Tandelilin, 2010).

Rapat Dewan Gubernur yang digelar pada 18-19 Juli 2018 memutuskan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan diangka 5,25% setelah tiga kali menaikkan basis points selama semester pertama (https://ekonomi.kompas.com).

Permintaan uang oleh masyarakat dalam perkembangannya dapat dipergunakan untuk berbagai motif, meliputi motif transaksi yang berarti sejumlah uang yang akan digunakan masyarakat untuk transaksi terhadap barang dan jasa.

Permintaan uang untuk motif berjaga-jaga berarti jika sewaktu-waktu uang diperlukan yang sifatnya insidentil. Permintaan uang untuk motif spekulasi dipergunakan masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari tingkat bunga apabila uang digunakan sebagai deposito atau tabungan, dengan demikian akan diperoleh jumlah uang yang beredar untuk berbagai motif (Nasution, Syahrir Hakim, 2016).

Menurut Erlangga Yudha, (2012), Jumlah uang beredar adalah seluruh jumlah mata uang yang telah diedarkan oleh bank sentral. Jumlah uang beredar berpengaruh terhadap IHSG, apabila jumlah uang beredar tinggi harga saham akan diturunkan yang bertujuan supaya investor akan membeli saham yang

diterbitkan. Harga saham di bursa efek tidak selamanya tetap, ada kalanya meningkat ataupun menurun, tergantung pada permintaan dan penawaran, dimana terjadi fluktuasi harga saham tersebut menjadikan bursa efek menarik bagi investor.

Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas m2 tumbuh meningkat pada Juli 2018. Posisi m2 tercatat Rp5.505,6 triliun atau tumbuh 6,3%

(yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,9%

(yoy). Peningkatan pertumbuhan m2 didorong oleh pertumbuhan uang kuasi yang meningkat dari 5,2% (yoy) pada Juni 2018 menjadi 6,2% (yoy) pada Juli 2018.

Disisi lain, pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (m1) pada Juli 2018 tumbuh 7,0% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,2% (yoy).

Menurut Himaniya Ainiyatul, (2008), dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh variabel makro ekonomi terhadap IHSG BEI dengan variabel makro ekonomi (Jumlah Uang Beredar, nilai tukar rupiah) dan IHSG mendapatkan hasil berpengaruh signifikan terhadap IHSG secara simultan.

Menurut penelitian selanjutnya Erlangga Yudha, (2012) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh suku bunga SBI, dan jumlah uang beredar terhadap IHSG mendapatkan hasil bahwa SBI tidak berpengaruh terhadap IHSG periode 2011-2014 dengan nilai koefisien regresi 34,183 dan probabilitas tingkat kesalahan sebesar 0,586 lebih besar dibandingkan dengan nilai signifikansi yang diharapkan yaitu 0,05.Variabel suku bunga SBI tidak berpengaruh terhadap IHSG disebabkan karena periode penelitian yang digunakan terlalu singkat yaitu 4(empat) tahun.

5

Selain sentimen kenaikan suku bunga acuan BI rate, bauran kebijakan bank sentral lainnya juga dapat berdampak positif pada IHSG. Semisal, upaya Bank Indonesia untuk mengontrol jumlah uang yang beredar (https://ekonomi.kompas.c om).

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate) dan Jumlah Uang Beredar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia”.

Dokumen terkait