• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan masukan bagi otoritas moneter dalam menjaga kestabilan indeks harga saham gabungan,

2. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi penulis,

3. Sebagai tambahan informasi dan tambahan literatur bagi masyarakat dan mahasiswa/i yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pasar Modal

2.1.1 Definisi Pasar Modal

Pasar modal menurut Mohamad Samsul (2006) adalah sarana bertemunya permintaan dan penawaran instrumen keuangan berjangka panjang, dikatakan berjangka panjang karena waktunya lebih dari satu tahun. Menurut Undang- Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 1 dalam (Mohamad Samsul, 2006) disebutkan pasar modal sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”.

Menurut Fakhruddin (2001), pasar modal merupakan pasar dengan berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang ataupun modal sendiri.

Instrumen yang diperjualbelikan di pasar modal disebut efek, yaitu surat berharga berupa saham, obligasi, bukti right, bukti waran, produk turunan atau derivative.

2.1.2 Jenis-Jenis Pasar Modal

Menurut Mohamad Samsul (2006), pasar modal dapat dibedakan menjadi empat jenis pasar, yaitu:

1. Pasar Pertama / Perdana

Pasar pertama merupakan sarana bagi perusahaan untuk pertama kalinya menawarkan saham atau obligasi ke masyarakat, karena sebelumnya perusahaan milik perorangan atau beberapa pihak saja, dan kini ditawarkan kepada masyarakat.

Penawaran pertama ini disebut initial public offering (IPO), dan telah mengubah status perseroan tertutup menjadi perseroan terbuka (Tbk). Bersifat terbuka karena perseroan dapat dimiliki masyarakat, dan berkewajiban membuka informasi kepada pemegang saham dan masyarakat, kecuali informasi yang bersifat rahasia untuk menjaga persaingan.

Dalam pasar pertama jika terjadi kelebihan pesanan atau oversubscribed, dimana jumlah saham yang diminta lebih besar daripada jumlah saham yang ditawarkan maka akan dilakukan penjatahan pesanan secara proposional dengan jumlah pesanan atau dengan metode lain yang sesuai dalam buku Prospektus.

Dan apabila jumlah saham yang diminta lebih kecil daripada jumlah saham yang ditawarkan ini berarti penawaran umum kekurangan pesanan akibatnya seluruh pesanan dapat dipenuhi.

Ciri-ciri pasar pertama / perdana :

 Emiten menjual saham kepada masyarakat melalui penjamin emisi dengan harga yang telah disepakati oleh kedua pihak

 Pembeli tidak dipungut biaya transaksi

 Terdapat ketidakpastiaan bagi pembeli untuk memperoleh jumlah saham yang diinginkan jika terjadi oversubscribed

9

 Investor dapat membeli saham dari penjamin emisi atau agen penjual

 Waktu pemesanan saham terbatas

 Penawaran melibatkan akuntan publik, notaris, konsultan hukum dan perusahaan penilai

 Pasar perdana disebut juga pasar primer dan pasar kesatu.

2. Pasar Kedua/ Sekunder

Pasar kedua/sekunder merupakan sarana transaksi jual-beli antar investor dan harga yang dibentuk melalui perantara efek. Harga pasar dibentuk oleh tawaran jual dan tawaran beli dari para investor.

Ciri-ciri pasar kedua/sekunder:

 Harga dibentuk oleh investor melalui perantara efek (anggota bursa) yang berdagang di Bursa Efek

 Terdapat biaya jual dan biaya beli dalam transaksi

 Jumlah pesanan dapat berjumlah tak terbatas

 Anggota bursa memasukkan tawaran jual/beli investor ke dalam komputer perdagangan yang disediakan pihak bursa

 Anggota bursa beli menyelesaikan pembayaran dana kepada sentral kliring kemudian menerima saham dengan cara pemindahbukuan oleh sentral kustodian dengan menunjukkan bukti pembayaran dari sentral kliring

 Anggota bursa jual menyelesaikan penyerahan saham kepada sentral kustodian, kemudian menerima dana dengan cara pemindahbukuan oleh

sentral kliring dengan menunjukkan bukti penyerahan efek dari sentral kustodian

 Pasar kedua disebut juga bursa efek 3. Pasar Ketiga

Pasar ketiga adalah sarana transaksi efek antara market maker dan investor dimana harga dibentuk oleh market maker. Para investor dapat memilih market maker yang memberi harga terbaik, karena satu jenis saham dapat dipasarkan oleh beberapa market maker. Pasar ketiga bukan bursa efek berskala kecil, tetapi berskala sangat besar. Dengan menggunakan teknik perdagangan paling canggih.

Ciri-ciri pasar ketiga:

Harga dibentuk oleh market maker

Para investor dapat menjual dan membeli saham dari dan ke market maker

Jumlah market maker yang banyak dapat membantu investor dalam memilih harga terbaik

Market maker berdagang dari kantor masing-masing melalui jaringan komputer

Mesin utama ada di OTC Market Pusat yang terhubung dengan mesin di kantor market maker lainnya

Mesin OTC terintegrasi dengan mesin di sentral kliring atau sentral kustodian

Market maker menyelesaikan pembayaran dengan sentral kliring dan menyelesaikan penyimpanan efek dengan sentral kustodian

Pasar ketiga disebut juga Over The Counter (OTC) market.

11

4. Pasar Keempat

Pasar keempat yaitu sarana transaksi jual-beli antara investor jual dan investor beli tanpa melalui perantara efek. Mekanisme ini terjadi melalui electronic communication network (ECN) apabila para pelaku memenuhi syarat yaitu memiliki efek dan dana di sentral kustodian dan sentral kliring. Pasar keempat ini hanya dilaksanakan oleh investor besar karena dapat menghemat biaya transaksi daripada dilakukan di pasar kedua/sekunder.

Ciri-ciri pasar keempat :

Para investor bertransaksi lewat ECN

 Harga terbentuk dari proses tawar menawar antara investor beli dan investor jual

Investor menjadi anggota ECN, sentral kustodian dan sentral kliring

ECN terdaftar sebagai bursa efek

2.1.3 Manfaat Pasar Modal

Pasar modal memberikan manfaat baik bagi emiten, investor, lembaga penunjang maupun pemerintah. (Pandji Anoraga, 2001)

 Manfaat bagi emiten :

 Dana yang dapat dihimpun bisa berjumlah besar

 Dana tersebut dapat diterima sekaligus saat pasar pertama selesai

Tidak ada covenant manajemen dapat lebih bebas dalam pengelolaan dana

Solvabilitas perusahaan tinggi sehingga memperbaiki citra perusahaan

 Kecilnya ketergantungan emiten terhadap bank

 Cash flow hasil penjualan saham biasanya lebih besar dari harga nominal perusahaan

 Profesionalisme dalam manajemen meningkat

 Manfaat bagi investor :

 Nilai investasi cenderung berkembang mengikuti pertumbuhan ekonomi

 Memperoleh dividen bagi pemegang saham dan bunga bagi pemegang obligasi

 Mudah mengganti instrumen investasi untuk meningkatkan keuntungan ataupun menghindari risiko

 Dapat sekaligus melakukan investasi dalam beberapa instrumen

 Manfaat bagi lembaga penunjang :

 Semakin profesional dalam memberikan pelayanan

 Sebagai pembentuk harga dalam bursa paralel

 Likuiditas efek semakin tinggi

 Memberi variansi pada jenis lembaga penunjang

 Manfaat bagi pemerintah :

 Mendorong laju pembangunan

 Mendorong investasi

 Menciptakan lapangan kerja

 Mengurangi beban anggaran bagi BUMN

2.2 Saham

Menurut Pandji Anoraga, (2001), saham merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas. Faktor makro merupakan faktor yang berada di luar

13

perusahaan tetapi memberi pengaruh terhadap kenaikan atau penurunan kinerja perusahaan. Faktor makro ekonomi seperti tingkat bunga umum domestik, tingkat inflasi, peraturan perpajakan, kebijakan khusus pemerintah, kurs valuta asing, tingkat bunga pinjaman luar negeri, kondisi perekonomian internasional, siklus ekonomi, faham ekonomi, peredaran uang secara langsung dapat mempengaruhi kinerja saham maupun kinerja perusahaan (Mohamad Samsul, 2006).

Saham memiliki beberapa karakteristik antara lain, dividen akan dibayar selama perusahaan memperoleh laba, adanya hak suara dalam rapat umum pemegang saham, memiliki hak terakhir dalam hal pembagian kekayaan perusahaan jika perusahaan tersebut dilikuidasi, memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya dan memiliki hak mengalihkan kepemilikan sahamnya. (Fakhruddin, 2001).

Pemegang saham akan mendapatkan keuntungan yang bersifat finansial ataupun non-finansial. Dividen, capital gain dan saham bonus merupakan keuntungan yang bersifat finansial (Fakhruddin, 2001). Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen akan diberikan jika pemegang saham telah memegang saham tersebut dalam waktu yang relatif lama dan dividen inilah yang menjadi daya tarik bagi pemegang saham dengan orientasi jangka panjang.

Dividen dapat diberikan secara tunai dalam jumlah rupiah ataupun berupa saham sehingga jumlah saham yang dimiliki pemegang saham akan bertambah.

Selain itu adanya capital gain yaitu keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli. Capital gain terbentuk di pasar kedua/sekunder dan merupakan

keuntungan yang berorientasi pada jangka pendek. Dan terakhir adalah saham bonus yang merupakan pembagian saham yang diambil dari agio saham. Agio saham adalah selisih harga jual dengan harga nominal. Keuntungan lainnya bersifat non-finansial berupa adanya rasa kebanggaan dan kekuasaan karena pemegang saham memperoleh hak suara dalam perusahaan (Pandji Anoraga, 2001).

Prinsip saham yang high risk – high return memiliki arti bahwa saham memberi peluang keuntungan yang tinggi tetapi berpotensi memiliki risiko yang tinggi pula. Gagal mendapat dividen merupakan risiko yang diperoleh, kegagalan ini disebabkan jika perusahaan sedang mengalami kerugian. Risiko selanjutnya adalah capital loss, ini terjadi karena harga jualnya berada di bawah harga beli.

Investor akan menjual sahamnya dengan harga rendah dengan tujuan untuk menghindari kerugian yang semakin besar jika harga saham terus menurun.

Jika perusahaan yang bangkrut maka saham-saham perusahaan tersebut akan dikeluarkan dari bursa atau disebut delist. Dalam kondisi ini pemegang saham akan diberi bagian jika masih ada sisa dari penjualan aset perusahaan, yang mana pembagian akan diberikan terlebih dahulu kepada kreditur dan pemegang obligasi.

Proses dikeluarkannya saham dari bursa bukan hanya karena perusahaan penerbit saham tersebut bangkrut tetapi disebabkan juga karena kinerjanya yang buruk misalnya saham tersebut tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian dan tidak dapat membagikan dividen selama beberapa tahun. Tentunya saham tersebut tidak bisa dijual di bursa tetapi di luar bursa hanya saja jika di luar bursa patokan harga menjadi tidak jelas dan harga jual akan jauh dari harga sebelumnya.

15

Risiko lainnya adalah jika saham itu disuspend oleh bursa efek. Suspend atau pemberhentian perdagangan saham tersebut dalam beberapa sesi perdagangan.

Suspend dilakukan oleh otoritas bursa efek jika saham mengalami kenaikan harga yang luar biasa (Fakhruddin, 2001).

2.2.1 Jenis- Jenis Saham

Menurut Fakhruddin (2001), saham dibedakan atas beberapa hal :

 Berdasarkan cara peralihan hak, yaitu :

 Saham Atas Unjuk, yang berarti saham itu mudah dipindahtangankan ke investor lain karena pada saham itu tidak tertulis nama pemiliknya.

 Saham Atas Nama, merupakan saham yang nama pemiliknya ditulis dengan jelas.

 Berdasarkan hak tagihan atau klaim, yaitu :

 Saham Biasa, pemilik saham biasa akan ditempatkan paling terakhir dalam pembagian dividen jika perusahaan tersebut dilikuidasi.

 Saham Preferen, merupakan gabungan antara obligasi dan saham biasa.

Karena merupakan penggabungan antara obligasi dan saham biasa, maka saham preferen mempunyai kesamaan dengan obligasi dan saham biasa. Persamaannya dengan saham biasa karena mewakili kepemilikan modal dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo dan membayar dividen. Persamaan dengan saham yaitu adanya klaim atas laba dan aktiva sebelumnya, dividennya tetap, dan dapat ditebus atau ditukar dengan saham biasa.

 Berdasarkan kinerja saham, yaitu :

Blue-Chip Stocks, yaitu saham biasa yang memiliki reputasi tinggi, menjadi pemimpin di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

Income Stocks, yaitu saham yang memiliki kemampuan membayar dividen diatas rata-rata.

Growth Stocks, yaitu saham dari perusahaan yang tidak menjadi pemimpin di dalam industri sejenis tetapi memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi.

Speculative Stocks, yaitu saham yang tidak konsisten dalam memperoleh pendapatan, tetapi mempunyai kemampuan memperoleh pengahasilan tinggi dimasa mendatang walaupun masih dalam ketidakpastian.

Counter Cyclical Stocks, yaitu saham yang tidak dipengaruhi kondisi makro ataupun situasi bisnis. Dalam kondisi resesi sekalipun, harga saham tetap tinggi dan mampu memberikan dividen yang tinggi.

Perusahaan yang memiliki saham ini biasanya bergerak dalam produk yang selalu dibutuhkan masyarakat, contohnya adalah rokok.

Strategi yang dilakukan para investor dalam pengambilan keputusan investasi yang tepat adalah dengan melakukan penilaian terhadap saham yang akan dipilih. Terdapat tiga jenis penilaian terhadap saham antara lain : (1) nilai buku yang merupakan nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan penerbit saham, (2) nilai pasar yaitu harga saham di pasar, (3) nilai intrinsik adalah nilai saham yang sebenarnya (Tandelilin, 2001). Investor yang cerdik

17

akan membeli saham yang memiliki nilai intrinsik lebih besar dari harga pasar (undervalued) dan akan menjual saham saat nilai intrinsik lebih kecil dari harga pasar (overvalued).

2.2.2 Indeks Harga Saham Gabungan

Indeks harga saham gabungan (composite stock price index) merupakan indeks gabungan dari seluruh jenis saham yang tercatat di bursa efek (Mohamad Samsul, 2006). IHSG mengalami perubahan setiap hari, hal ini dikarenakan adanya perubahan harga pasar yang terjadi setiap hari dan karena bertambahnya saham.

Jika terjadi kenaikan IHSG, tidak semua jenis saham mengalami kenaikan harga juga. Tetapi hanya sebagian saham saja yang mengalami kenaikan harga.

Begitu juga jika terjadi penurunan IHSG, maka hanya sebagian saham saja yang mengalami penurunan.

Rumus penghitungan IHSG :

Dimana : ∑H1 = Total harga semua saham pada waktu yang belaku

∑H0 = Total harga semua saham pada waktu dasar

Jika angka indeks berada diatas 100 berarti kondisi pasar sedang ramai dan sebaliknya jika angka indeks berada dibawah 100 berarti kondisi pasar sedang lesu. IHSG bernilai 100 berarti pasar dalam kondisi stabil.

Selain IHSG, ada beberapa jenis indeks harga saham. Pertama indeks harga saham individual yaitu dengan menggunakan indeks harga saham terhadap harga dasarnya. Kedua indeks harga saham sektoral, dimana indeks ini menggunakan

saham dari masing-masing sektor. Indeks ini terbagi atas sembilan sektor yang terdiri dari :

 Sektor-sektor Primer (ekstraktif)

 Pertanian

 Pertambangan

 Sektor-sektor Sekunder (industri manufaktur)

 Industri Dasar dan Kimia

 Aneka Industri

 Industri Barang Konsumsi

 Sektor-sektor Tersier (jasa)

Properti dan Real Estate

 Transportasi dan Infrastruktur

 Keuangan

 Perdagangan, Jasa dan Investasi

Ketiga adalah indeks LQ 45, indeks ini terdiri dari 45 saham dengan tingkat likuiditas yang tinggi dan juga kapitalisasi pasar saham. Pemilihan saham dilakukan setiap enam bulan (awal Februari dan Agustus) sehingga saham yang tergabung dalam indeks LQ 45 dapat berubah-ubah (Fakhruddin, 2001).

2.3 Teori Jumlah Uang Beredar 2.3.1 Definisi Uang

Uang Dalam arti sempit dinyatakan bahwa uang adalah alat tukar terhadap barang dan jasa. Apabila ditinjau dari aspek administratif bahwa uang dapat pula sebagai mata uang domestik dan mata uang yang berasal dari negara lain (mata

19

uang asing). Mata uang domestik berarti bahwa uang sebagai alat tukar resmi terhadap barang dan jasa di suatu negara seperti layaknya rupiah, sedangkan mata uang asing merupakan mata uang negara lain yang terdapat dan beredar di suatu negara namun keberadaannya bukan alat tukar resmi (Nasution, Syahrir Hakim, 2016),

Menurut Nasution, Syahrir Hakim (2016), permintaan uang oleh masyarakat dalam perkembangannya dapat dipergunakan untuk berbagai motif, yang meliputi :

1. Permintaan uang yang akan digunakan untuk motif transaksi (transaction motive), yang berarti sejumlah uang yang akan digunakan oleh masyarakat untuk transaksi terhadap barang dan jasa.

2. Permintaan uang untuk motif berjaga-jaga (precautionary motive), yang berarti sejumlah uang yang akan digunakan oleh masyarakat untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu uang diperlukan sifatnya insidentil.

Layaknya seseorang menyimpan uang di suatu tempat dan tiba-tiba sakit dan memerlukan uang, maka uang yang tersedia tersebut dapat dipergunakan.

3. Permintaan uang untuk motif spekulasi (speculation motive), uang yang akan dipergunakan oleh masyarakat untuk berspekulasi mendapatkan keuntungan, apakah mendapat keuntungan dari tingkat bunga apabila uang digunakan sebagai tabungan atau deposito dan mendapatkan keuntungan yang diperoleh dari kenaikan nilai uang ditinjau sebagai uang asing.

2.3.2 Kriteria Uang (Iswardono, 1990)

Iswardono menjelaskan kriteria uang sebagai berikut : 1. Acceptability dan Cognizability

Persyaratan utama dari sesuatu menjadi uang adalah diterimanya secara umum dan diketahuinya secara umum. Diterima secara umum serta penggunaannya sebagai alat tukar, penimbun kekayaan, standar cicilan utang tumbuh secara luas karena kegunaan dari uang untuk ditukarkannya dengan barang dan jasa.

2. Stability of Value

Manfaat dari sesuatu yang menjadi uang memberikan adanya nilai uang maka diperlukan menjaga nilai uang agar tetap stabil ataupun berfluktuasi secara kecil karena jika tidak uang tidak akan diterima secara umum karena masyarakat mencoba menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang-barang yang nilainya stabil. Jika mata uang suatu negara berfluktuasi nilainya secara tajam, maka masyarakat negara tersebut akan mengurangi fungsinya sebagai alat penukar dan satuan hitung.

3. Elasticity of Supply

Jumlah uang yang beredar harus mencukupi kebutuhan perekonomian.

Ketidakmampuan penyediaan uang untuk mengimbangi kegiatan akan mengakibatkan perdagangan terhambat dan pertukaran dilakukan seperti pada perekonomian barter, dimana barang ditukar dengan barang yang lain secara langsung. Karena itu bank sentral sebagai pencipta uang tunggal harus mampu melihat perkembangan perekonomian yang selanjutnya harus mampu

21

menyediakan uang yang cukup bagi perkembangan perekonomian tersebut, dan sebaliknya bank sentral harus bertindak dengan cepat seandainya uang beredar dirasa terlalu banyak dibandingkan dengan kegiatan perekonomian.

Dalam hal ini bank sentral harus mengurangi jumlah uang yang beredar, jadi kemampuan bank sentral dan lembaga-lembaga keuangan yang lain dalam hal penyediaan uang harus dijamin tetap baik atau elastis.

4. Portability

Uang harus mudah dibawa untuk urusan setiap hari, bahkan transaksi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan uang dalam jumlah (fisik) yang kecil jika nilai nominalnya besar.

5. Durability

Dalam pemindahan uang dari tangan yang satu ke tangan yang lain mengharuskan uang tersebut dijaga nilai fisiknya. Jika tidak akan terjadi kerusakan sehingga menyebabkan penurunan nilainya dan mengurangi kegunaan moneter dari uang tersebut.

6. Divisibility

Uang digunakan untuk memantapkan transaksi dari berbagai jumlah, sehingga uang dari berbagai nominal harus dicetak untuk mencukupi atau melancarkan transaksi jual beli. Untuk menjamin dapat ditukarkannya uang satu dengan yang lainnya, semua jenis uang harus dijaga agar tetap nilainya.

2.3.3 Fungsi Uang (Nasution, Syahrir Hakim, 2016)

Apabila ditinjau dari fungsinya maka uang dapat berfungsi sebagai :

1. Medium of exchange, yang berarti bahwa uang dapat dipergunakan sebagai alat tukar terhadap barang dan jasa.

2. Unit of account, bahwa uang dapat dipergunakan sebagai alat tukar terhadap barang dan jasa; seperti 1 Kg gula pasir Rp 10.000,- atau berobat ke dokter sekali kunjungan dikenakan biaya jasa dokter Rp 50.000,-

3. Store of value, bahwa uang dapat dipergunakan sebagai penumpuk kekayaan

4. Standard deferred of payment, bahwa uang dapat dipergunakan untuk menunda pembayaran yang akan dilunasi pada masa yang akan datang (contohnya: kartu kredit).

2.3.4 Nilai Uang (Nopirin, 1992)

Nilai uang diukur dari kemampuannya membeli barang dan jasa (internal value) serta valuta asing (external value). Dengan kata lain besar kecilnya nilai uang ditentukkan oleh harga barang dan jasa. Jika harga barang dan jasa naik maka nilai uang akan turun, begitu pula sebaliknya.

Terdapat tiga metode dalam mengukur nilai uang, metode tersebut antara lain, indeks biaya hidup, indeks harga barang-barang perdagangan besar dan juga GNP deflator. Indeks biaya hidup mencakup harga beberapa barang kebutuhan pokok.

Di Indonesia dikenal indeks harga sembilan bahan pokok, indeks harga 62 jenis barang.

Sedangkan indeks harga perdagangan besar merupakan harga barang-barang yang dipakai oleh perusahaan untuk menghasilkan barang lain. GNP deflator

23

meliputi harga-harga barang yang lebih luas dibanding indeks biaya hidup maupun indeks harga perdagangan besar. Cara menghitungnya adalah dengan membagi GNP nominal dengan GNP riil pada harga konstan. Ketiga indeks ini cenderung bergerak bersamaan meskipun pada tingkat yang berbeda-beda.

2.3.5 Klasifikasi Uang

Menurut Nopirin, (1992), uang dapat diklasifikasikan atas beberapa dasar yang berbeda-beda, misalnya:

1. Dilihat dari sifat fisik dan bahan yang dipakai untuk membuat uang

2. Dilihat dari instansi yang mengeluarkannya seperti pemerintah, bank sentral atau bank komersial

3. Dilihat dari hubungan antara nilai uang sebagai uang dengan nilai uang sebagai barang.

Full bodied money merupakan uang yang nilainya sebagai barang sama dengan nilainya sebagai uang. Pada zaman dahulu uang itu berupa barang seperti beras, ternak, atau kain. Jenis uang seperti ini nilainya sebagai barang akan sama dengan nilainya sebagai uang. Dan sekarang di zaman modern ini, jenis uang full bodied money ini berupa emas dan perak.

Dalam memahami jenis uang full bodied money sering terjadi kesalahpahaman, oleh karena ada dua hal penjelasan untuk menjawab kesalahpahaman tersebut.

Full bodied money dikatakan uang yang nilainya sebagai barang sama dengan nilainya sebagai uang tidak berarti bahwa nilai sebagai uang tersebut akan tetap/konstan. Misalnya harga dari satu unit emas dinyatakan tetap dalam mata uang, maka tenaga beli (purchasing power) akan berbanding terbalik

dengan harga barang lain. Tenaga beli uang emas akan turun separuh apabila harga barang lain naik dua kali. Jadi meskipun harga sebagai emas tetap, tenaga belinya dapat berubah-ubah tergantung pada harga barang lain.

 Tidak selalu benar bahwa nilai uang (tenaga beli) ditentukan oleh jumlah barang (emas dan perak) yang dipergunakan untuk membuat uang tersebut serta permintaan untuk penggunaan barang tersebut sebagai non uang yang sebenarnya adalah nilai uang ditentukan oleh jumlah barang serta permintaan total (penggunaan barang sebagai uang dan non uang). Penggunaan barang sebagai uang merupakan bagian terbesar dari permintaan total tersebut.

 Tidak selalu benar bahwa nilai uang (tenaga beli) ditentukan oleh jumlah barang (emas dan perak) yang dipergunakan untuk membuat uang tersebut serta permintaan untuk penggunaan barang tersebut sebagai non uang yang sebenarnya adalah nilai uang ditentukan oleh jumlah barang serta permintaan total (penggunaan barang sebagai uang dan non uang). Penggunaan barang sebagai uang merupakan bagian terbesar dari permintaan total tersebut.

Dokumen terkait