Lembar Kuesioner
Lampiran 3 : Perhitungan Hasil Kuesioner
1.1 Latar Belakang
Melihat dari segi sejarahnya, perpustakaan bukan merupakan hal baru di kalangan masyarakat. Hal tersebut karena keberadaan perpustakaan yang saat ini berada di tengah-tengah masyarakat, ”antara perpustakaan dan masyarakat terdapat hubungan kausal, yakni hubungan sebab dan akibat. Artinya, adanya perpustakaan karena ada masyarakat yang membutuhkan, dan keberadaan perpustakaan adalah untuk melayani masyarakat” Sutarno (2006). Banyak orang memberikan definisi yang keliru atau salah terhadap perpustakaan. Sebagian besar orang mengasosiasikan perpustakaan dengan buku, sehingga setiap tumpukan ataupun kumpulan buku pada suatu tempat tertentu dapat disebut perpustakaan. Padahal tidak semua tumpukan itu dapat dikatakan sebagai perpustakaan. Adapun pengertian perpustakaan menurut Sulistyo Basuki (1991) adalah sebagai berikut:
“Perpustakaan ialah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susun tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual”.
Seperti diketahui perpustakaan selain bertugas untuk meyajikan informasi kepada pemustaka, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi itu sendiri. Informasi tersebut baik yang tercetak maupun yang terekam dikelola oleh perpustakaan. Menurut Pawit (2007) Perpustakaan mempunyai arti sebagai salah satu tempat yang di dalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan penyebarluasan (pelayanan) segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain. Pengertian lain tentang perpustakaan yaitu unit kerja yang mengelola koleksi dan informasi untuk di pergunakan masyarakat pemakai. (Sutarno; 2008).
Pendapat lain mengemukakan bahwa perpustakaan adalah lembaga yang menghimpun pustaka dan menyediakan sarana bagi orang untuk memanfaatkan
koleksi pustaka tersebut. (Sakri; 1992). Milburga, dkk (1991) mengatakan Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan secara berkesinambungan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.
Pendapat tersebut memiliki satu kesamaan bahwa perpustakaan adalah sebagai pusat informasi yang mempunyai peranan penting dalam proses pengadaan, pengolahan, dan pelayanan informasi yang diperlukan oleh pemustaka, serta berfungsi sebagai mata rantai komunikasi ilmiah antara pemustaka dengan sumber informasi. Adapun fungsi perpustakaan menurut Sulistyo Basuki (1991) adalah sebagai berikut:
(1) Sebagai sarana simpan karya manusia
Perpustakaan berfungsi sebagai tempat menyimpan karya manusia, khususnya karya cetak seperti buku, majalah, dan sejenisnya serta karya rekam seperti kaset, piringan hitam, dan sejenisnya. Salah satu jenis perpustakaan yang benar-benar berfungsi sebagai sarana simpan adalah Perpustakaan Nasional.
(2) Fungsi informasi
Bagi anggota masyarakat yang memerlukan informasi dapat memintanya ataupun menanyakannya ke perpustakaan. Dengan koleksi yang tersedia, perpustakaan harus berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan ke perpustakaan.
(3) Fungsi rekreasi
Masyarakat dapat menikmati rekreasi dengan cara membaca di perpustakaan. Fungsi rekreasi nyata pada perpustakaan umum yaitu perpustakaan yang dikelola dengan dana umum serta terbuka untuk umum. (4) Fungsi pendidikan
Perpustakaan merupakan sarana pendidikan nonformal dan informal, artinya perpustakaan merupakan tempat belajar diluar bangku sekolah maupun juga tempat belajar dalam lingkungan pendidikan sekolah. Dalam hal ini yang berkaitan dengan pendidikan nonformal adalah perpustakaan umum, sedangkan yang berkaitan dengan pendidikan informal adalah perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi.
(5) Fungsi kultural
Perpustakaan merupakan tempat untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat. Pendidikan ini dapat dilakukan dengan cara menyelenggarakan pertunjukan kesenian, ceramah, pemutaran film, pameran buku bahkan bercerita untuk anak-anak. Dengan cara demikian masyarakat dididik mengenal budayanya melalui buku.
Seiring dengan kemajuan zaman, perpustakan tidak hanya menyelenggarakan layanan perpustakaan dalam gedung tetapi juga ikut aktif mengunjungi pemustaka dengan layanan perpustakaan kelilingnya yang dapat berupa mobil pintar, motor pintar, sepeda pintar, kapal pustaka dan bus perpustakaan elektronik keliling dengan koleksi digitalnya. Totterdell (2005) menyatakan bahwa perpustakaan yang ada saat ini memiliki “dual format” artinya koleksi yang dimiliki ada dua jenis, yaitu koleksi tercetak dan koleksi non- buku, dan kedua jenis koleksi tersebut dapat dipinjamkan kepada pemustaka. Pendapat tersebut dikuatkan oleh pernyataan Cummings (2009) bahwa koleksi digital memberikan pelayanan yang sama pentingnya dengan perpustakaan keliling. Secara tidak langsung hal tersebut menyebabkan kenapa tidak hanya terdapat perpustakaan keliling yang berisi buku teks, tetapi juga perpustakaan elektronik keliling di mana koleksinya berupa materi elektronik.
Di Indonesia lahirnya Perpustakaan Elektronik Keliling (Pusteling) diawali dari adanya kebijakan pemerintah untuk menjadikan internet agar dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat dalam rangka menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa berinformasi (well-informed). Perpustakaan Nasional RI turut berpartisipasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia antara lain dengan memberikan layanan Pusteling. Keberhasilan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menerapkan TIK menjadi sebuah “proyek percontohan” bagi perpustakaan-perpustakaan Indonesia yang merupakan binaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (Salmubi; 2008). Pernyataan tersebut dapat dikaitkan dengan layanan perpustakaan elektronik keliling yang merupakan contoh layanan yang diberikan PNRI untuk mengenalkan TIK kepada masyarakat.
Visi Perpustakaan Nasional RI adalah modernisasi perpustakaan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa, sedangkan misinya adalah mencerdaskan bangsa. Visi dan misi tersebut telah diturunkan serta dijalankan ke dalam berbagai program peningkatan minat baca dan layanan perpustakaan dan informasi bagi masyarakat Indonesia, salah satunya adalah program E-Mobile
Library atau Perpustakaan Elektronik Keliling. Perpustakaan Elektronik Keliling
selanjutnya disingkat Pusteling merupakan layanan perpustakaan keliling yang dilaksanakan langsung oleh Perpustakaan Nasional RI pada Pusat Layanan Jasa dan Informasi bagian unit kerja bidang layanan umum. Layanan Pusteling dapat dikatakan sebagai pengganti dari kegagalan layanan perpustakaan keliling yang lebih dahulu diadakan oleh Perpustakaan Nasional RI.
Pelaksanaan layanan Pusteling, menemui banyak kendala baik dari segi teknis layanan, sarana dan prasarana maupun dari pemustaka Pusteling itu sendiri. Kendala yang dialami diantaranya kurangnya jumlah bus Pusteling. Sejak mulai diluncurkannya layanan Pusteling oleh Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2007, jumlah bus yang dimiliki sampai dengan saat ini masih tergolong minim, yaitu hanya terdapat 3 (tiga) unit, hal ini mengingat cakupan wilayah operasi maupun lokasi yang dilayani cukup luas. Jumlah bus tersebut dimungkinkan dapat bertambah apabila layanan Pusteling tersebut telah berhasil mewujudkan tujuan dari awal pengadaannya yaitu meningkatkan pengetahuan pemustaka dalam penggunaan informasi berbasis teknologi informasi khususnya untuk pemustaka dari kalangan pelajar Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir (SLTA) serta mengatasi permasalahan yang dipandang dari sisi faktor internal dan eksternal yang ada pada layanan Pusteling.