BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Rencana pemerintah menaikkan harga BBM yang dipublikasikan pada 12 Juni 2013 lalu oleh orang nomor satu di Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Rencana tersebut menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Penolakan pun terjadi, ini terlihat dari maraknya demo yang dilakukan oleh masyarakat khususnya para mahasiswa dan buruh di Indonesia. Aksi penolakan kenaikan BBM ini dilakukan serentak pada tanggal 17 Juni 2013, hampir seluruh pelosok di Indonesia melakukan aksi penolakan kenaikan BBM. Aksi tersebut banyak diantaranya berakhir dengan ricuh. Para pendemo berontak dan terlibat aksi dorong-mendorong, tolak-menolak dengan pihak keamanan. Para pendemo kesal karena aspirasi mereka tidak diterima dengan baik oleh pihak yang berkait. Aksi tersebut berbarengan dengan rapat paripurna pengesahan RAPBN-P 2013 di Gedung Parlemen, Jakarta. Rapat tersebut berjalan alot, pasalnya dari sembilan fraksi ada lima fraksi yang mendukung kenaikan BBM yaitu Fraksi Demokrat, Fraksi PKB, Fraksi PPP, Fraksi PAN, dan Fraksi Partai Golkar. Selain itu empat fraksi yang menolak yaitu Fraksi PKS, Fraksi Hanura, Fraksi Gerindra dan Fraksi PDI-P. Para fraksi tersebut mempunyai argumen sendiri tentang kenaikan BBM. Dalam rapat paripurna pengesahan APBN itu dimenangkan oleh fraksi yang mendukung kenaikan BBM. Dengan demikian, kenaikan BBM akan menjadi boomerang bagi masyarakat khususnya masyarakat miskin. Walaupun dari
kenaikan BBM ini ada kompensasi dana sebesar 40 persen yang dipersiapkan untuk pelaksanaan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), namun tetap saja meresahkan masyarakat. Akibat kenaikan BBM ini premium yang semula seharga Rp. 4.500,- naik menjadi Rp. 6.500,- dan solar dari harga Rp. 4.500,- naik menjadi Rp.
5.500,-Oleh karena dasar tersebut, maka Pemerintah memberikan suatu solusi yang dianggap tepat sebagai jalan pintas dalam meredam dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), dengan membuat program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diharapkan mampu menjadi solusi untuk mencegah meningkatnya angka kemiskinan masyarakat Indonesia. Sehingga dengan pengurangan subsidi untuk Bahan Bakar Minyak tidak mempengaruhi kesejahteraan ekonomi Rumah tangga khususnya mereka yang berada dibawah garis kemiskinan.
Rencananya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat atau BLSM akan dicairkan sehari setelah kenaikan BBM diumumkan, bentuk pencairan dana tersebut diberikan kepada masyarakat yang telah di data oleh tim khusus dengan menggunakan Kartu Pelindung Sosial (KPS) yang telah diberikan sebelum diadakannya rapat paripurna pengesahan RAPBN-P 2013. Dana dapat dicairkan dengan mendatangi ke kantor pos masing-masing, setiap orang mendapatkan Rp. 150.000, per bulan selama empat bulan. Bantuan Langsung Sementara untuk Masyarakat, yang selanjutnya disebut BLSM adalah program pemberian bantuan
tunai kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang ditetapkan Pemerintah dalam rangka kompensasi atas kenaikan harga BBM.1
Melalui Kementrian Sosial, ada tiga program BLSM yang dirancang untuk mencegah peningkatan angka kemiskinan pasca kenaikan BBM:
Selanjutnya, Masyarakat penerima Bantuan Langsung Tunai (BLSM) yang telah diberi tanda identitas yang disebut Kartu Perlindungan Sosial (KPS) merupakan hasil pendataan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Tahun 2011 yang dilakukan oleh tim Pendataan Program Perlindungan Sosial atau disebut PPLS. Berdasarkan hasil Pendataan tersebut diputuskan bahwa Kartu Perlindungan Sosial (KPS) diberikan kepada 25% Rumah Tangga dengan status sosial ekonomi terendah. Sebagaimana diketahui, bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan pada bulan September 2012 adalah 11,66%. Maka, pemberian Kartu Perlindungan Sosial (KPS) tidak hanya mencakup masyarakat yang miskin namun juga mencakup masyarakat yang rentan.
2
1
http://www.antaranews.com/berita/378755/blsm-pertolongan-pertama-pada-kenaikan-bbm diakses pada tanggal 07 September 2013 pukul 20:00Wib
2
Antaranews.com, Jum’at 10/05/2013 diakses pada tanggal 06 September 2013 pukul 21:45 Wib •Pertama, Program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), yaitu bantuan tunai sebesar Rp 150.000 selama 4 (empat) bulan untuk sekitar 15,5 juta Rumah Tangga miskin dan rentan yang akan dibayarkan sebanyak 2 (dua) kali, atau Rp300.000 per pembayaran.
•Program kedua, Tambahan alokasi beras dari program Beras untuk Masyarakat Miskin (RASKIN) sebanyak 15 kg per rumah tangga selama 3 (tiga) bulan, yaitu Juni, Juli, dan September 2013. Sehingga untuk bulan-bulan tersebut alokasi beras per rumah tangga menjadi 30 kg.
•Ketiga, Tambahan nilai bantuan dan jumlah cakupan siswa penerima Bantuan Siswa Miskin (BSM) sehingga dari cakupan sebelumnya sebesar 8,7 juta anak usia sekolah menjadi 16,6 juta anak usia sekolah.
Pelaksanaan program BLSM tentu menghasilkan pro dan kontra di masyarakat. Karena tidak semua masyarakat mendukung pelaksanaan program tersebut, dikarenakan tujuan dari Bantuan Langsung Sementara Masyarakat kurang efektif mengingat disertai dengan kenaikan BBM. Ditambah dengan laporan hasil pelaksanaan yang tidak pernah ditunjukkan kepada publik membuat kepercayaan masyarakat akan program-program yang dicanangkan oleh pemerintah menjadi berkurang.
Salah satu tanggapan dari masyarakat yang dikutip penulis yaitu “Kalau pemerintah yakin program BLSM itu efektif, pemerintah seharusnya berani membeberkan hasil dari program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dihentikan selepas Pemilihan Presiden 2009 itu. Berapa banyak warga miskin yang bisa atau sudah keluar dari selimut kemiskinan berkat BLT itu”.3
3
Disamping itu banyak keluhan-keluhan yang terjadi di dalam masyarakat terhadap program tersebut. Masyarakat kurang merasakan adanya manfaat yang besar dari bantuan
tersebut karena diseimbangi oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan pokok lainnya. Hal ini ditambah dengan kondisi pelaksanaan yang terjadi diluar perencanaan. Permasalahan-permasalahan dalam sosialisasi maupun penyaluran dana BLSM menjadi sesuatu yang kompleks di masyarakat. Proses pelaksanaan merupakan salah satu penilaian penting untuk mengukur keberhasilan berjalannya program tersebut. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan program ini mempunyai kendala masing-masing, seperti banyaknya Rumah Tangga Sasaran yang ternyata sudah meninggal dunia, pindah tanpa ada pemberitahuan, Kartu Perlindungan Sosial yang ganda, serta alamat yang tidak diketahui. Berikut dengan indikator yang telah ditetapkan ternyata tidak sesuai dengan kondisi yang sering ditemukan di lapangan.
Masyarakat sering menjadi kelinci percobaan atau korban dari kegagalan pelaksanaan suatu program yang telah dibuat oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan pada tahapan pelaksanaan atau implementasi sering di anggap sebagai bagian yang sepele atau tidak terlalu penting. Sebenarnya tahapan pelaksanaan menjadi bagian terpenting dalam mencapai tujuan dan target dari program atau kebijakan yang telah ditetapkan. Bila pelaksanaan berjalan mulus, bisa dikatakan kebijakan tersebut berhasil mencapai tujuan utamanya. Namun sebaliknya, bila pelaksanaan dari suatu program terdapat banyak masalah atau mendapat banyak kekurangan maka kebijakan yang dilaksanakan tersebut dapat dikatakan gagal.
Kegagalan-kegagalan tersebut sering terjadi pada tahapan pelaksanaannya (implementasi). Dimana terdapat banyak pelaksana yang terkait dengan program BLSM yang menjadi sumber permasalahan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Bilamana tahapan pelaksanaan gagal, maka keseluruhan tujuan dari suatu program tersebut menjadi tidak terlaksana sesuai dengan perencanaan awal suatu kebijakan. Pada umumnya tahapan pelaksanaan suatu kebijakan sering diabaikan mengingat tahapan perencanaanlah yang sering dianggap menjadi kunci keberhasilan suatu program. Anggapan pemerintah bahwa bila perencanaan yang dilakukan benar-benar sempurna, maka tujuan dari program tersebut pasti tercapai. Hal tersebut seringkali tidak didukung dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Keberagaman masyarakat sangat sulit disatukan bila hanya mengandalkan suatu perencanaan yang dianggap terbaik.
Angka penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di Indonesia dapat kita lihat berdasarkan tabel data berikut :
TABEL 1
ANGKA PENERIMA BLSM DI INDONESIA
NO NAMA PROVINSI JUMLAH RUMAH
TANGGA SASARAN (RTS)
1 NANGGROE ACEH DARUSSALAM 356,720
2 SUMATERA UTARA 746,220 3 SUMATERA BARAT 275,431 4 RIAU 227,656 5 JAMBI 162,779 6 SUMATERA SELATAN 419,579 7 BENGKULU 121,574 8 LAMPUNG 573,954
9 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 41,635
10 KEPULAUAN RIAU 64,732 11 DKI JAKARTA 226,462 12 JAWA BARAT 2,615,790 13 JAWA TENGAH 2,482,157 14 D I YOGYAKARTA 288,391 15 JAWA TIMUR 2,857,469 16 BANTEN 526,178 17 BALI 151,924
18 NUSA TENGGARA BARAT 471,566
19 NUSA TENGGARA TIMUR 421,799
20 KALIMANTAN BARAT 233,922 21 KALIMANTAN TENGAH 83,711 22 KALIMANTAN SELATAN 161,592 23 KALIMANTAN TIMUR 147,718 24 SULAWESI UTARA 161,089 25 SULAWESI TENGAH 201,239 26 SULAWESI SELATAN 484,617 27 SULAWESI TENGGARA 158,716 28 GORONTALO 89,918 29 SULAWESI BARAT 75,453 30 MALUKU 119,825 31 MALUKU UTARA 55,531 32 PAPUA BARAT 90,547 33 PAPUA 435,003
TOTAL RUMAH TANGGA SASARAN (RTS)
15,530,897
Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Sumatera Utara mencapai 746.220. Sasaran utama dalam pelaksanaan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) merupakan masyarakat yang tinggal di Desa atau Kelurahan yang secara ekonomis masih tertinggal dari masyarakat perkotaan. Masyarakat-masyarakat Desa yang umumnya bermatapencaharian sebagai petani menjadi penyumbang terbesar dalam persentase tingkat kemiskinan dan masyarakat rentan. Terkhusus di Desa Suka Rende yang berada di Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang yang terdiri dari 6 (enam) Dusun yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani terdiri dari kurang lebih 920 kepala keluarga (KK) sekaligus sebagai lokasi penelitian terdapat sekitar 150 Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang telah lulus dalam pendataan oleh tim yang dibentuk Badan Pusat Statistik (BPS) yang tergolong dari masyarakat miskin dan masyarakat rentan kemiskinan. Desa Suka Rende sebagai salah satu sasaran dari program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat tidak terlepas dari masalah pelaksanaan di lapangan. Berdasarkan wawancara ringan yang peneliti lakukan dengan Pemerintah Desa Suka Rende terlihat bahwa kurangnya sosialisai yang dilakukan kepada masyarakat, sehingga ketika pengumuman Rumah Tangga Sasaran (RTS) yang lolos verifikasi oleh Badan Pusat Satistik yang dikeluarkan oleh PT. Pos Indonesia, banyak masyarakat atau RTS yang tidak lolos verifikasi data melakukan orasi atau demonstrasi ke kantor Pemerintahan Desa Suka Rende. Hal ini jelas merupakan kesalahan pada sosialisasi yang kurang baik yang dilakukan oleh Pemerintahan Desa Suka Rende
sehingga masyarakat tidak mengerti bagaimana proses pelaksanaan dari Bantuan Langsung Sementara Masyarakat tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah dalam pelaksanaan program pemerintah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebagai tema dari penelitian ini dan menjadikannya judul “Persepsi Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) Studi pada Desa Suka Rende, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang Sumatera Utara”.