BAB III DESKRIPSI LOKASI
III.2 Kondisi Pemerintah Desa
III.2.2 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa (SOPD)
Struktur Organisasi Desa Suka Rende Kecamatan Kutalimbaru menganut system Kelembagaan Pemerintahan Desa dengan Pola Minimal, selengkapnya disajikan dalam gambar sebagai berikut :
Gambar 2 Struktur Pemerintahan Desa Suka Rende
(sumber: Penelitian Lapangan 2014)
SEKRETARIS DESA EFENDI KETAREN UNSUR PELAKSANAN TEKNIS LAPANGAN UNSUR KEWILAYAHAN 1. KEPALA DUSUN 1 = SADA ARIHTA GINTING 2. KEPALA DUSUN 2 = NGADIMIN 3. KEPALA DUSUN 3 RESMA BR BARUS 4. KEPALA DUSUN 4 = MERSIK GINTING 5. KEPALA DUSUN 5 = EFFENDI SINULINGGA 6. KEPALA DUSUN = RUDIANTO SEMBIRING 1. KEPALA URUSAN PEMERINTAHAN = JONI GINTING 2. KEPALA URUSAN PEMBANGUNAN = MASA TARIGAN 3. KEPALA URUSAN UMUM = GUSTIN GINTING 4. KEPALA URUSAN KEUANGAN = RUSMAN SINULINGGA S.SOS KEPALA DESA MANGGIL BPD JONI TARIGAN
BAB IV
PENYAJIAN DATA
IV.1 Latar Belakang Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menetapkan subjek penelitian yang terdiri dari tiga kelompok yang terdiri dari informan kunci, informan utama dan informan tambahan. Informan kunci terdiri dari masyarakat sebagai peneriman program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Sedangkan informan utama merupakan perangkat Desa Suka Rende sebagai perpanjangan tangan terhadap pelaksanaan program BLSM tersebut dan informan tambahan merupakan masyarakat sekitar yang tidak berhasil lulus verifikasi pendataan oleh tim Badan Pusat Statistik.
Dalam penelitian ini, Penulis tidak menentukan jumlah informan kunci, informan utama dan informan tambahan. Penulis menyelesaikan wawancara kepada informan setelah hasil wawancara menemukan titik jenuh. Titik jenuh ditemukan penulis setelah mewawancarai 37 orang informan yang terdiri dari 24 orang masyarakat dan 13 orang perangkat Desa Suka Rende Kecamatan Kutalimbaru.
Berdasarkan pengambilan data dilapangan diperoleh identitas informan yaitu sebagai berikut:
TABEL 8
IDENTITAS INFORMAN
NAMA J. KELAMIN USIA PEKERJAAN DUSUN
Benar Ginting Laki-laki 78 Tahun Petani 2
Perdamenta Barus Laki-laki 38 Tahun Petani 3 Jonias Jahtaria
Sinulingga
Laki-laki 38 Tahun Petani 1 Darwin Ersada
Sinulingga
Laki-laki 40 Tahun Petani 1 Martua Simaremare Laki-laki 43 Tahun Supir Becak 3
Rajin Barus Laki-laki 58 Tahun Petani 3
Minpin Sembiring Laki-laki 54 Tahun Petani 3 Paken Br Ginting Perempuan 53 Tahun Petani 1
Neken Sembiring Laki-laki 59 Tahun Petani 2
Misno Laki-laki 43 Tahun Wiraswasta 2
Pujin Ginting Laki-laki 48 Tahun Petani 2
Baimin Laki-laki 42 Tahun Petani 1
Daswati Perempuan 59 Tahun Petani 6
Hormat Tarigan Laki-laki 51 Tahun Petani 1
Inget Br Ginting Perempuan 62 Tahun Petani 2
Sanmejak Laki-laki 44 Tahun Petani 2
Sunarso Laki-laki 41 Tahun Petani 2
Selasa Sinulingga Laki-laki 58 Tahun Petani 4 Terombo Ginting Laki-laki 61 Tahun Wiraswasta 4
Supriadi Laki-laki 47 Tahun Petani 3
Masa Tarigan Laki-laki 50 Tahun Petani 4
Muliadi Laki-laki 40 Tahun Petani 5
Kaman Ginting Laki-laki 52 Tahun Petani 6
Buyung Sembiring Laki-laki 46 Tahun Petani 5
(sumber: Penelitian Lapangan 2014)
Berdasarkan tabel diatas, subjek penelitian mempunyai usia antara 38-78 Tahun. Jika dilihat dari jenis kelamin terlihat bahwa mayoritas informan adalah laki-laki yang memang menjadi kepala rumah tangga sebagai subjek yang didata oleh tim BPS. Dari segi pekerjaan rata-rata sebagai petani, hanya beberapa informan yang pekerjaannya sebagai wiraswasta. Dengan keadaan tersebut memang menjadi suatu alat ukur dalam proses seleksi. Karena perkerjaan sebagai
petani yang tidak mempunyai penghasilan tetap tentunya selalu membutuhkan bantuan-bantuan dari Pemerintah. Dari penelitian yang dilakukan terdapat beberapa petani yang tidak mempunyai sawah untuk diolah. Mereka hanya bekerja sebagai buruh tani seperti buruh kelapa sawit dan buruh panen bagi petani yang mempunyai sawah.
Sedangkan data mengenai identitas Perangkat Desa Suka Rende adalah sebagai berikut:
TABEL 9
IDENTITAS PERANGKAT DESA
NAMA J. KELAMIN USIA JABATAN DUSUN
Manggil Laki-laki 48 Tahun Kepala Desa 1
Efendi Ketaren Laki-laki 33 Tahun Sekretaris Desa 2
Joni Tarigan Laki-laki 51 Tahun Ketua BPD 1
Joni Ginting Laki-laki 31 Tahun KaUr
Pemerintahan
5 Masa Tarigan Laki-laki 46 Tahun KaUr
Pembangunan
4 Gustin Ginting Laki-laki 48 Tahun KaUr Umum 2 Rusman Sinulingga
S.Sos
Laki-laki 42 Tahun KaUr Keuangan 1 Sada Arihta Ginting Laki-laki 49 Tahun Kadus 1 1
Ngadimin Laki-laki 53 Tahun Kadus 2 2
Resma Br Barus Perempuan 52 Tahun Kadus 3 3
Mersik Ginting Laki-laki 37 Tahun Kadus 4 4
Effendi Sinulingga Laki-laki 38 Tahun Kadus 5 5 Rudianto Sembiring Laki-laki 32 Tahun Kadus 6 6
(sumber: Penelitian Lapangan 2014)
Dari data diatas diketahui bahwa usia Perangkat Desa berada antara 32-53 Tahun, dimana usia tersebut tergolong produktif dalam melakukan tugas-tugas dalam pemerintahan. Hanya terdapat seorang perempuan dalam pemerintahan Desa Suka Rende yaitu kepala dusun tiga. Penelitian di lapangan mendapat hasil
bahwa penyebab terdapatnya seorang perangkat Desa perempuan dikarenakan untuk meneruskan jabatan suami yang telah meninggal dunia yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dusun tiga. Pengangkatan tersebut didasarkan atas persetujuan masyarakat dusun tiga untuk menjadikan Ibu Resma Br Barus sebagai penerus suami yang sebelumnya sebagai kepala dusun tiga.
IV.2 Persepsi Masyarakat Terhadap Program BLSM
Masyarakat sebagai sasaran dari progam BLSM tentunya menjadi suatu tolok ukur dalam menilai apakah pelaksanaan program tersebut terlaksana dengan baik atau tidak. Masyarakat mempunyai berbagai pendapat terhadap program tersebut. Untuk melihat hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menanyakan pertanyaan pertama tentang persepsi masyarakat secara umum tentang program BLSM. Sehingga telah terangkum berbagai hasil wawancara dengan beberapa informan yang mengatakan bahwa program BLSM jelas sangat bermanfaat khususnya bagi dirinya sendiri. Tetapi tidak bergantung dengan jumlah uang yang diterima. Bagaimanapun, sedikit atau banyaknya uang yang akan diterima tergantung pada pribadi masing-masing dan arah dari penggunaannya.29
Sementara itu, jawaban dari informan lain tentang persepsi terhadap program BLSM lebih mengacu kepada kekecewaan pada perencanaan pelaksanaan awal dimana seharusnya tahapan pemberian uang dibagi menjadi lima tahapan. Namun karena biaya operasional maka pemberian uang tersebut
29
dipangkas menjadi empat bulan saja. Sehingga informan Bapak Rajin Barus mengatakan bahwa jumlah uang yang diteriman selama empat bulan program BLSM berlangsung totalnya adalah Rp. 600.000. tidak sesuai dengan perencanaan awal program tersebut dimana seharusnya program BLSM berjalan selama lima bulan dengan total uang yang akan diberikan kepada masyarakat sebanyak Rp. 750.000.30
Ketika peneliti melanjutkan penelitian terhadap persepsi masyarakat, terdapat jawaban yang berbeda terhadap manfaat dari program BLSM tersebut.
Dari hasil yang disampaikan oleh Bapak Rajin Barus bisa dilihat bahwa pelaksanaan program BLSM tergolong kurang baik dalam hal sosialisasi kepada masyarakat. Apa yang dikatakan oleh beliau tersebut merupakan hal yang benar. Karena pada perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah pusat untuk program BLSM ini seharusnya diberikan untuk lima bulan kepada masyarakat dengan total uang Rp. 750.000. Namun karena dalam pelaksanaannya membutuhkan biaya operasional yang cukup besar, maka biaya tersebut diambil dari pengurangan satu bulan jatah bantuan kepada masyarakat.
Namun, data dilapangan terdapat bahwa banyak masyarakat yang tidak tahu akan hal tersebut, karena itu mereka hanya bersifat pasif untuk sekedar menerima uang bantuan dari pemerintah tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya bantuan tersebut yang akan disalurkan.
30
Salah satu informan dalam penelitian ini mengatakan bahwa jumlah uang yang diberikan perbulannya tidak mencukupi. Alasannya karena pemberian bantuan direncanakan karena kenaikan harga BBM yang diikuti dengan naiknya harga bahan makanan lainnya. Sehingga bantuan tersebut tidak seimbang dengan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut menjadikan masyarakat membutuhkan bantuan yang lebih layak guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.31
Kemudian, ketika peneliti mengajukan pertanyaan tentang pilihan masyarakat antara mendapatkan BLSM atau tidak mendapatkannya dengan jaminan tidak naiknya harga BBM. Bapak Neken Sembiring mengatakan bahwa Dia lebih memilih untuk tidak mendapatkan bantuan BLSM. Tapi dengan jaminan bahwa harga-harga kebutuhan pokok tidak naik termasuk harga BBM. Karena dengan jumlah uang yang sedikit tidak mampu untuk menambah dalam memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari, belum dengan kebutuhan anak sekolah yang semakin banyak saja.32
Keinginan masyarakat agar nilai bantuan lebih ditambah atau harga BBM dan bahan pangan tidak naik menjadikan program BLSM tersebut kurang efektif sesuai dengan tujuannya untuk meningkatkan daya beli masyarakat akibat kenaikan dari harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Persepsi yang berkembang lainnya yang diberikan oleh masyarakat mengenai program BLSM ini menyatakan bahwa sebenarnya masih banyak masyarakat di Desa Suka Rende yang lebih layak untuk menerima bantuan tersebut. Mereka menganggap bahwa terdapat
31
wawancara informan Bapak Pujin Ginting pada tanggal 02 Februari 2014 32
beberapa masyarakat yang sekarang sudah tidak layak mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun kenyataannya mereka lulus dalam verifikasi data. Hal tersebut justru menimbulkan kecemburuan sosial antar masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Sunarso bahwa pada umumnya tujuan dari program BLSM tersebut baik karena ingin membantu masyarakat yang kurang mampu. Tetapi kondisi masyarakat di Desa Suka Rende terdapat beberapa masyarakat yang tidak layak untuk mendapatkannya. Beliau mengatakan bahwa terjadi kecemburuan sosial diantara masyarakat yang kurang mampu namun tidak mendapatkan bantuan BLSM dengan masyarakat yang mendapatkan BLSM yang dilihat dari kesehariannya tergolong masyarakat yang mampu. Beliau juga mengatakan dengan keadaan yang seperti itu tentunya membuat perangkat Desa yang menjadi sasaran dari kekecewaan masyarakat akibat situasi yang terjadi di Desa tersebut.33
33
wawancara informan Bapak Sunarso pada tanggal 30 Januari 2014
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti terlihat bahwa persepsi masyarakat terhadap program BLSM sangat bermacam-macam. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor baik dari dalam diri masyarakat ataupun faktor-faktor diluar diri masyarakat yang menyebabkan perbedaan jawaban yang diperoleh dalam penelitian di lapangan.
IV.3 Mekanisme Pelaksanaan Program BLSM dan Kendala yang Dihadapi Masyarakat
Pelaksanaan program BLSM kepada masyarakat dimulai dari tahapan pendataan dengan mengambil data tahun 2011 dan diseleksi oleh BPS pusat melalui tim Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) sehingga nama-nama masyarakat yang lulus verifikasi data diperoleh. Setelah nama dikeluarkan, maka masyarakat secara langsung turut dalam pelengkapan berkas-berkas administrasi yang dibutuhkan. Setelah itu, masyarakat atau rumah tangga sasaran mengikuti tahapan-tahapan pelaksanaan, pencairan dana bantuan yang dilakukan melalui PT. Kantor Pos Indonesia, dan melaksanakan informasi-informasi terkait pada proses pelaksanaan tersebut. Isu yang berkembang bahwa masyarakat pada umumnya tidak terlalu direpotkan dengan proses tertib administrasi yang harus dilakukan.
Oleh karna itu, penulis akan bertanya tentang tahapan proses yang dilakukan oleh masyarakat sehubungan dengan pelaksanaan program BLSM dan rintangan-rintangan yang dihadapi oleh masyarakat itu. Berdasarkan dengan hasil wawancara dengan informan sebagai rumah tangga sasaran Program BLSM, maka peneliti memperoleh data tentang hal diatas yang mengatakan bahwa Bapak Misno merasa mekanisme yang dilakukan cukup ringkas. Hal tersebut dikatakan beliau karena Dia merasa tidak pernah didata secara khusus untuk program BLSM. Tanggapan beliau tentang pendataan tersebut dilakukan pada Tahun 2009 sewaktu pendataan program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Sehingga
kemungkinan data tersebut yang dipergunakan kembali untuk disaring dalam menentukan masyarakat yang akan mendapatkan BLSM.34
Berbeda hal dengan hasil wawancara peneliti dengan Bapak Neken Sembiring. Ketika peneliti bertanya tentang hasil verifikasi data diperoleh dari mana. Beliau mengatakan bahwa pengumuman nama-nama penerima BLSM diketahui bukan dari perangkat Desa ataupun kepala dusun setempat. Beliau juga mengatakan bahwa di dusunnya tidak ada kepala dusun atau perangkat Desa lainnya yang datang kerumah untuk memberitahukan tentang nama-nama masyarakat yang lulus verifikasi penndataan BLSM. Bapak Neken Sembiring mengaku kecewa terhadap hal tersebut, karena beliau memperoleh informasi melalui selebaran pengumuman yang ditempel di warung-warung sekitar dusun tersebut. Dalam pengumuman tersebut nama beliau tertera sebagai salah satu rumah tangga penerima BLSM dan terdapat juga tanggal pengambilan dana yang pertama beserta dengan syarat-syarat pengambilan seperti KTP, Kartu Keluarga untuk dibawa ke kantor Pos pada tanggal yang telah tertera. Pengakuan beliau ketika berada dikantor Pos mengatakan bahwa prosesnya tidak lama karena hanya perlu mengantri sebentar sampai pada giliran beliau dan setelah itu uang sebesar Rp. 300.000 langsung diterima.35
Jumlah uang yang diterima sebesar Rp. 300.000 karena pada tahapan awal pemberian BLSM langsung diberikan dua bulan sekaligus pada jadwal pencairan bulan kedua. Hal ini dilakukan karena tahapan persiapan pelaksanaan yang masih
34
wawancara informan Bapak Misno pada tanggal 02 Februari 2014 35
berlangsung sehingga jadwal pencairan dana bulan pertama ditunda dari perencanaan awal.
Dari hasil wawancara diatas dapat dilihat bahwa proses pelaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah kepada masyarakat cukup ringkas. Karena data yang diolah juga tidak ada yang bermasalah. Perbedaan nama yang tertera di kartu KPS dengan nama di KTP masyarakat tidak ada yang bermasalah. Masyakarat cukup puas dengan tahapan yang ringkas tersebut dan tidak berbelit-belit. Pencairan dana di kantor Pos juga demikian. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengantri sampai nama rumah tangga sasaran dipanggil untuk penyerahan uang tersebut. Hal ini dikarenakan telah ditetapkannya jadwal pengambilan uang yang dibagi menurut Desa masing-masing.
IV.4 Persepsi Masyarakat Terhadap Tanggungjawab Perangkat Desa (Implementor) dan Pelayanan yang Diberikan Kepada Masyarakat
Perangkat Desa sebagai Implementor langsung sekaligus terdekat bagi masyarakat Desa khususnya bagi rumah tangga sasaran sebagai objek penerima program BLSM mempunyai kewajiban dan tanggungjawab yang harus dilaksanakan dalam mensukseskan pelaksanaan BLSM sebagaimana yang tertulis pada Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 541/3150/SJ Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pembagian Kartu Perlindungan Sosial (KPS) dan Penanganan Pengaduan Masyarakat terdapat 10 (sepuluh) Poin penting yang harus dilaksanakan agar pelaksanaan program BLSM tersebut dikatakan berhasil.
Mengenai hal diatas penulis telah memperoleh data terkait dengan tanggungjawab perangkat Desa khususnya di Desa Suka Rende. Wawancara yang dilakukan penulis dengan rumah tangga sasaran sebagai informan telah menggambarkan keadaan sesungguhnya yang terjadi dilapangan. Salah satunya dengan hasil wawancara dari beberapa informan yang mengatakan perkerjaan perangkat Desa cukup bagus, karena pemerintah Desa yang sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah Pusat sebagai penanggungjawab pelaksanaan program BLSM. Bapak Jonias Jahtaria Sinulingga juga mengatakan demikian. Hal tersebut juga ditambah karena mereka turut langsung dalam proses pelaksanaannya. Termasuk dalam pemenuhan persyaratan dan pengambilan uang yang akan diterima.36
Lain hal dengan Bapak Misno, beliau menjawab pertanyaan penulis dengan lebih mendalam terhadap tanggungjawab dan pelayanan yang telah diberikan Perangkat Desa kepada masyarakat yang secara umum sudah bagus. Tapi sempat terjadi permasalahan di Desa Suka Rende dimana masyarakat yang merasa berhak mendapatkan BLSM menuntuk pemerintahan Desa untuk mengeluarkan nama mereka sebagai penerima BLSM. Beliau menuturkan pada waktu itu jalan keluar yang diambil oleh pemerintah Desa yaitu dengan mengambil inisiatif untuk membuat permohonan kembali nama-nama masyarakat yang dianggap layak untuk mendapatkannya. Permohonan tersebut telah disampaikan kepada pemerintahan kecamatan, namun sampai penelitian yang
36
dilakukan peneliti selesai, realisasi permohonan tersebut belum ada sama sekali. Atau mungkin tindakan tersebut hanya sebagai cara untuk meredam emosi masyarakat di Desa tersebut tutur Bapak Misno.37
37
wawancara informan Bapak Misno pada tanggal 02 februari 2014
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa tidak semua masyarakat paham dan tahu mengenai apa-apa saja yang seharusnya menjadi tugas dan tanggungjawab perangkat Desa. Sesuai dengan Instruksi Mendagri, hanya sedikit yang berhasil dilakukan oleh perangkat Desa sebagai implementor dalam mensukseskan pelaksanaan program BLSM tersebut. Sehingga jawaban dari masyarakat hanya sebagai gambaran umum terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan implementor tersebut.
Peneliti sebenarnya berharap jawaban dari informan dapat memberikan informasi mengenai pelayanan yang tertuang pada sepuluh poin yang harus dilakukan oleh pemerintah Desa sebagai implementor dalam pelaksanaan program BLSM. Namun, karena kekurangan informasi yang diterima masyarakat, mereka hanya memberikan jawaban mengenai tanggungjawab dan pelayanan secara umum setelah pelaksanaan program berlangsung.
IV.5 Intensitas Sosialisasi, Metode dan Pengawasan Oleh Implementor Terhadap Rumah Tangga Sasaran
Sosialisasi merupakan bagian terpenting dalam suatu pelaksanaan program. Karena tanpa sosialisasi program tersebut tidak akan berjalan baik. Komunikasi yang kurang dapat menyebabkan pergeseran tujuan awal suatu program. Sosialisasi yang merupakan proses penyampaian yang dilakukan kepada semua pihak terkait mengenai isi, maksud, tujuan, tahapan dan sasaran dari suatu program kebijakan. Semakin baik sosialisasi yang dilakukan, maka semakin sesuai tujuan awal yang direncanakan dengan hasil akhir yang terjadi di lapangan. Peneliti kemudian bertanya tentang sosialisasi yang dilakukan oleh implementor kepada informan sebagai rumah tangga sasaran. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa disetiap dusun terdapat perbedaan metode sosialisasi, intensitas dan pelayanan yang diberikan oleh kepala dusun mereka. Salah satu informan dari dusun 1 (satu) menjawab pertanyaan tersebut bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh kepala dusun dengan mendatangi rumah tangga yang menjadi sasaran BLSM untuk memberikan informasi terkait hal tersebut. Diluar kegiatan itu tidak ada hal lain yang dilakukan oleh kepala dusun. Dan jika mereka membutuhkan informasi dapat dilakukan dengan mendatangi rumah kepala dusun untuk menanyakan secara langsung.38
Keterbatasan sarana yang dimiliki oleh Desa Suka Rende menjadikan kinerja kepala dusun sebagai pelayan masyarakat tidak maksimal. Akses-akses yang tersedia lah yang dapat dimanfaatkan sebagai bentuk pelayanan yang
38
menjadi tanggungjawab para implementor tersebut. Seperti hasil wawancara dengan informan dari dusun 2 (dua) terhadap hal diatas mengatakan bahwa informasi yang diperoleh itu diperoleh dari warung kopi yang ada, kepala dusun menempel pengumuman terkait dengan BLSM. Setelah itu, antar masyarakat penerima BLSM melakukan tukar informasi kepada masyarakat lainnya dari mulut ke mulut.39
Berbeda dengan informan yang berasal dari Dusun 3 (tiga). Ibu Resma Br Barus sebagai kepala Dusun menggunakan metode sosialisasi pintu ke pintu (door to door) dengan mendatangi rumah-rumah warga untuk memberitahukan jadwal pengambilan uang, persyaratan dan informasi lainnya. Seperti pengakuan informan Bapak Martua Simaremare terhadap pengumuman yang lulus verifikasi juga ditempel di Kantor Desa, hal ini dilakukan untuk menjaga kondusif warga agar tidak melakukan aksi demonstrasi lagi.
Hal tersebut dilakukan karena dianggap lebih efektif dan tidak memerlukan waktu dan biaya yang banyak. Dimana, para implementor sama sekali tidak mendapatkan upah/gaji tambahan sebagai pelaksana program BLSM . Sehingga cara yang efektif dan efisien digunakan agar masyarakat tahu informasi-informasi tentang BLSM.
40
Secara keseluruhan jawaban dari informan hampir sama antara satu dengan yang lain. Kepala Dusun sebagai perangkat Desa kurang aktif dalam memberikan sosialisasi dan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat kurang paham mengenai mekanisme yang sebenar-benarnya dari program BLSM
39
wawancara informan Bapak Pujin Ginting pada tanggal 02 februari 2014 40
itu sendiri. Sosialisasi yang dilakukanpun hanya setelah program itu berjalan. Tidak ada musyawarah Desa yang dilakukan untuk menjelaskan kepada warga tentang program tersebut. Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam instruksi mendagri tentang musyawarah Desa untuk memberikan sosialisasi awal kepada masyarakat agar mendapatkan informasi yang baik dalam pelaksanaannya.
Ketika penulis melakukan pencarian data melalui wawancara dengan salah satu informan yang berada di Dusun 5 (lima), penulis menemukan suatu kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat terhadap kinerja kepala Dusun wilayah tersebut. Masyarakat merasa bahwa mereka dilibatkan dalam program tersebut karena pelayanan yang cukup baik yang diberikan oleh kepala Dusun. Ketika penulis bertanya tentang sosialisasi dan media yang digunakan termasuk pelayanan yang diberikan kepada masyarakat terkhusus bagi rumah tangga sasaran BLSM jawaban dari salah satu informan adalah beliau cukup puas dengan sosialisasi yang dilakukan terkhusus oleh kepala dusun. Masyarakat cukup dilibatkan, karena sebelum pengumuman nama-nama masyarakat yang lulus pendataan tersebut kepala dusun mengajak mereka untuk berkumpul di Balai Desa untuk memberikan informasi dimana proses pendataan dilakukan oleh pusat dan kepala dusun juga mengatakan bahwa proses pendataan bukan dilakukan oleh pemerintah Desa, namun kepala dusun juga sudah berusaha untuk mencalonkan hampir semua masyarakat di dusun tersebut sebagai calon penerima BLSM agar tidak ada ketimpangan dan kecemburuan di masyarakat. Kepala dusun juga menyampaikan tentang persyaratan dan kriteria masyarakat yang berhak untuk mendapatkan BLSM tersebut. Sehingga masyarakat di dusun 5 (lima) mengerti bagaimana
tentang proses yang dilakukan dari pusat sampai ke masyarakat Desa. Beliau juga menuturkan jika mempunyai keluhan-keluhan terhadap pelaksanaan tersebut, maka kepala dusun selalu siap untuk melayani kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat. Sehingga untuk memperoleh informasi, sangat mudah didapatkan oleh masyarakat khususnya rumah tangga sasaran di dusun 5 (lima).41
Perbedaan metode sosialisasi dan pelayanan kepala dusun sebagai implementor menyebabkan masyarakat memiliki pengetahuan informasi yang