• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

E. HIPOTESIS

Hipotesis dari penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara kemandirian dan kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir. Semakin tinggi kemandirian yang dimiliki mahasiswa maka semakin tinggi pula kesiapan kerjanya.

31 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian korelasi adalah penelitian yang melibatkan hubungan satu atau lebih variabel dengan satu atau lebih variabel lain (Purwanto, 2012).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dengan kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir.

B. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemandirian.

2. Variabel Tergantung

Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kesiapan kerja.

C. Definisi Operasional 1. Kemandirian

Kemandirian adalah kemampuan mahasiswa untuk dapat mengambil keputusan, bertindak kritis, menangani masalah, menahan tekanan dari orang lain, bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan, dan bertindak atas keinginannya sendiri tanpa tergantung orang lain.

Kemandirian diukur dengan menggunakan Skala Kemandirian.

Skala tersebut disusun berdasarkan aspek-aspek kemandirian yang meliputi bebas, progresif dan ulet, inisiatif, internal locus of control, dan kemantapan diri. Semakin tinggi skor maka semakin tinggi pula kemandirian mahasiswa semester akhir, sebaliknya semakin rendah skor maka semakin rendah pula kemandirian mahasiswa semester akhir.

2. Kesiapan Kerja

Kesiapan kerja adalah keseluruhan kondisi mahasiswa dalam pencapaian proses perkembangan mental, fisik, sosial, emosional yang meliputi adanya kemampuan, keterampilan, pemahaman, produktivitas, dan sikap kerja yang dapat diterapkan dalam suatu pekerjaan.

Kesiapan kerja diukur dengan menggunakan Skala Kesiapan Kerja. Skala tersebut disusun berdasarkan aspek-aspek kesiapan kerja yang meliputi tanggung jawab, fleksibilitas atau keluwesan, keterampilan, komunikasi, pandangan diri, kebersihan diri dan keselamatan. Semakin tinggi skor maka semakin tinggi pula kesiapan kerja mahasiswa semester akhir, sebaliknya semakin rendah skor maka semakin rendah pula kesiapan kerja mahasiswa semester akhir.

D. Subjek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang memasuki semester akhir. Pada umumnya, mahasiswa memasuki semester akhir yaitu ketika mahasiswa telah memasuki semester 8 keatas. Mahasiswa

tersebut termasuk ke dalam masa dewasa awal dengan rentang usia 20an-30an tahun. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik convenience sampling yang merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena secara kebetulan bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan (Noor, 2011).

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menyebarkan skala. Skala dalam penelitian ini menggunakan model skala Likert yang terdiri dari 4 respon jawaban. Skala Likert merupakan jenis skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2011).

Terdapat 2 skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Skala Kemandirian

Kemandirian diukur dengan menggunakan skala kemandirian.

Skala kemandirian terdiri dari aspek bebas, progresif dan ulet, inisiatif, pengendalian diri dalam (internal locus of control), dan kemantapan diri.

Skala kemandirian ini terdiri dari 4 respon jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).

Kategori penilaian untuk masing-masing item favorable adalah nilai 4 untuk Sangat Sesuai (SS), nilai 3 untuk Sesuai (S), nilai 2 untuk Tidak Sesuai (TS), dan nilai 1 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS).

Sebaliknya, kategori nilai untuk item unfavorable, yaitu nilai 1 untuk Sangat Sesuai (SS), nilai 2 untuk Sesuai (S), nilai 3 untuk Tidak Sesuai (TS), dan nilai 4 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS). Penggunaan jumlah genap opsi jawaban, untuk memaksa subjek memilih antara favorable atau unfavorable. Artinya, tidak memberi kesempatan kepada subjek memberikan jawaban netral (Anderson dalam Supratiknya, 2014).

a. Blue Print Skala Kemandirian

Tabel 1

Blue Print Skala Kemandirian

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah %

1. Bebas 4 4 8 13 %

2. Progresif &

Ulet

6 6 12 20 %

3. Inisiatif 8 8 16 27 %

4. Pengendalian Diri Dalam

6 6 12 20 %

5. Kemantapan Diri

6 6 12 20 %

Total 30 30 60 100 %

b. Distribusi Item Skala Kemandirian Tabel 2

Distribusi Item Skala Kemandirian

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah % 1. Bebas 1, 11, 21, 29 6, 16, 34, 39 8 13 %

2. Skala Kesiapan Kerja

Kesiapan kerja diukur dengan menggunakan skala Kesiapan Kerja.

Skala Kesiapan Kerja terdiri dari aspek tanggung jawab, fleksibilitas, keterampilan, komunikasi, pandangan diri, kebersihan diri dan keselamatan. Skala kesiapan kerja ini terdiri dari 4 respon jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS).

Kategori penilaian untuk masing-masing item favorable adalah nilai 4 untuk Sangat Sesuai (SS), nilai 3 untuk Sesuai (S), nilai 2 untuk Tidak Sesuai (TS), dan nilai 1 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS).

Sebaliknya, kategori nilai untuk item unfavorable, yaitu nilai 1 untuk Sangat Sesuai (SS), nilai 2 untuk Sesuai (S), nilai 3 untuk Tidak Sesuai (TS), dan nilai 4 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS). Penggunaan jumlah genap opsi jawaban, untuk memaksa subjek memilih antara favorable atau unfavorable. Artinya, tidak memberi kesempatan kepada subjek memberikan jawaban netral (Anderson dalam Supratiknya, 2014).

a. Blue Print Skala Kesiapan Kerja

Tabel 3

Blue Print Skala Kesiapan Kerja

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah % 1. Tanggung

Jawab

5 5 10 22 %

2. Fleksibilitas 3 3 6 13 %

3. Keterampilan 3 3 6 13 %

4. Komunikasi 5 5 10 22 %

5. Pandangan Diri

4 4 8 17 %

6. Kebersihan diri dan keselamatan

3 3 6 13 %

Total 23 23 46 100 %

b. Distribusi Item Skala Kesiapan Kerja Tabel 4

Distribusi Item Skala Kesiapan Kerja

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah % 1. Tanggung

F. Metode Analisis Data 1. Validitas

Validitas adalah kualitas esensial yang menunjukkan sejauh mana suatu tes sungguh-sungguh mengukur atribut psikologis yang hendak diukurnya (Supratiknya, 2014). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas isi menyangkut tingkatan di mana butir skala yang mencerminkan domain konsep yang sedang diteliti. Kecocokan isi alat ukur dengan sasaran ukur, artinya

sejauh mana item/butir tes mencakup keseluruhan kawasan sasaran ukur yang hendak diukur (Noor, 2011).

2. Seleksi Item

Sebagai kriteria pemilihan item berdasarkan korelasi item-total, biasanya digunakan batasan rix ≥ 0,30. Semua item yang mencapai koefisien minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan. Item yang memiliki harga rix atau ri(x-i) kurang dari 0,30 dapat diinterpretasikan sebagai item yang memiliki daya diskriminasi rendah (Azwar, 2011).

Uji coba skala dilakukan pada tanggal 14 Januari 2015 sampai dengan tanggal 28 Januari 2015 terhadap mahasiswa semester 8 ke atas dan dalam rentang usia 20an-30an. Terdapat 50 mahasiswa yang mengisi skala kemandirian dan kesiapan kerja.

a. Skala Kemandirian

Setelah dilakukan uji coba dengan 60 item pertanyaan, 21 item pernyataan dinyatakan gugur dan 39 item dinyatakan lolos seleksi item. Item-item yang gugur adalah 2, 6, 7, 8, 9, 20, 21, 22, 26, 28, 31, 34, 36, 38, 39, 44, 45, 47, 50, 54, dan 60.

1) Tabel 5

Distribusi Item Skala Kemandirian Setelah Seleksi Item Aspek Favorable Unfavorable Jumlah %

1. Bebas 1, 11, 29 16 4 10 %

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah %

1. Bebas 3 1 4 10 %

b. Skala Kesiapan Kerja

Setelah dilakukan uji coba dengan 46 item pertanyaan, 9 item pernyataan dinyatakan gugur dan 37 item dinyatakan lolos seleksi item. Item-item yang gugur adalah 7, 20, 22, 34, 35, 37, 40, 44, dan 46.

1) Tabel 7

Distribusi Item Skala Kesiapan Kerja Setelah Seleksi Item

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah % 1. Tanggung Jawab 1, 19, 29, 41 18, 28, 38 7 19 %

2. Fleksibilitas 17, 27 2, 8 4 11 %

3. Keterampilan 3, 9, 21 16, 30, 36 6 16 % 4. Komunikasi 15, 31, 39,

45

4, 10, 26, 42 8 22 %

5. Pandangan Diri 5, 11, 23, 25 14, 32 6 16 % 6. Kebersihan diri

dan keselamatan

13, 33, 43 6, 12, 24 6 16 %

Total 20 17 37 100%

2) Tabel 8

Blue Print Skala Kesiapan Kerja Setelah Seleksi Item

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah % 1. Tanggung

Jawab

4 3 7 19 %

2. Fleksibilitas 2 2 4 11 %

3. Keterampilan 3 3 6 16 %

4. Komunikasi 4 4 8 22 %

5. Pandangan Diri 4 2 6 16 %

6. Kebersihan diri dan

keselamatan

3 3 6 16 %

Total 20 17 37 100%

3. Reliabilitas

Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran jika prosedur pengetesannya dilakukan secara berulangkali terhadap suatu populasi individu atau kelompok (AERA, APA, & NCME dalam Supratiknya, 2014). Reliabilitas menunjukkan kemantapan/ konsistensi hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan mantap dan konsisten, apabila untuk mengukur sesuatu berulang kali, alat pengukur itu menunjukkan hasil yang sama. Jika nilai r > 0,60 skala dikatakan reliabel (Noor, 2011).

a. Skala Kemandirian

Tabel 9

Reliabilitas Try Out Skala Kemandirian Cronbach’s

Alpha

N of Items

0.879 60

Nilai Alpha Cronbach pada skala Kemandirian adalah 0.879. Hal ini menunjukkan bahwa skala Kemandirian dapat dikatakan reliabel.

b. Skala Kesiapan Kerja

Tabel 10

Reliabilitas Try Out Skala Kesiapan Kerja Cronbach’s

Alpha

N of Items

0.914 46

Nilai Alpha Cronbach pada skala Kesiapan Kerja adalah 0.914.

Hal ini menunjukkan bahwa skala Kemandirian dapat dikatakan reliabel.

G. Analisis Data 1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi dengan normal atau tidak. Metode pengambilan keputusan

untuk uji normalitas yaitu p > 0,05 maka data berdistribusi normal dan jika p < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Priyatno, 2010).

2. Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel yang akan dikenai prosedur analisis statistik korelasional menunjukkan hubungan yang linier atau tidak. Hubungan antara dua variabel dinyatakan linier apabila p < 0,05 (Priyatno, 2010).

3. Uji Hipotesis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dengan kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir. Oleh karena itu, teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Product Moment dari Spearman. Uji hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS for windows versi 16.

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2015 sampai 7 April 2015. Pengambilan data dilakukan dengan membagikan skala kemandirian dan skala kesiapan kerja kepada mahasiswa semester akhir dengan rentang usia 20an-30an tahun. Penyebaran skala dilakukan dengan cara mendatangi subjek dengan kriteria yang sesuai dengan ketentuan penelitian. Selain itu, menitipkan skala kepada teman dan juga menggunakan internet untuk memudahkan dalam menjangkau subjek yang berada di luar kota. Jumlah subjek penelitian adalah 100 orang.

B. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 orang.

Pemilihan subjek dilakukan berdasarkan kesesuaian dengan karakteristik mahasiswa semester akhir dengan rentang usia 20an-30an tahun.

Tabel 11

7. Periode Kerja 0 bulan : 50 (50%) 100 (100%)

C. Deskripsi Data Penelitian

Tabel 12

Perbandingan Nilai Mean Teoritik dan Empirik

Variabel Data Teoritik Data Empirik One-Sample t-Test

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, skala kemandirian memiliki nilai mean teoritik sebesar 97,5 dan mean empirik sebesar 122,92. Hasil ini menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kemandirian pada subjek penelitian

cenderung tinggi. Variabel kemandirian memiliki signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empirik dan mean teoritik. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian mahasiswa semester akhir cenderung tinggi.

Skala kesiapan kerja memiliki mean teoritik sebesar 92,5 dan mean empirik sebesar 116,1. Hasil ini menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kesiapan kerja pada subjek penelitian cenderung tinggi. Variabel kesiapan kerja memiliki signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empirik dan mean teoritik. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan kerja mahasiswa semester akhir cenderung tinggi.

D. Hasil Penelitian a) Uji normalitas

Metode pengambilan keputusan untuk uji normalitas yaitu p >

0,05 maka data berdistribusi normal dan jika p < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Priyatno, 2010). Uji normalitas data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov Z Test pada program SPSS 16.0 for windows.

Tabel 13 Hasil Uji Normalitas Variabel Kolmogorov-Smirnov Z

Test

Sig.

Kemandirian 0,991 0,280

Kesiapan Kerja

1,434 0,033

Berdasarkan hasil perhitungan, hasil uji normalitas untuk variabel kemandirian menunjukkan nilai p sebesar 0,280. Hal ini menunjukkan bahwa data pada skala kemandirian memiliki sebaran data yang normal. Hasil uji normalitas untuk variabel kesiapan kerja menunjukkan nilai p sebesar 0,033. Hal ini menunjukkan bahwa data pada skala kesiapan kerja memiliki sebaran data yang tidak normal.

b) Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows. Hubungan antara dua variabel dinyatakan linier apabila p < 0,05 (Priyatno, 2010).

Tabel 14 Hasil Uji Linearitas

F Sig.

Kesiapan Kerja * Kemandirian

Between group (Combined)

4,773 0,000

Linearity 145,711 0,000 Deviation from

Linearity

0,858 0,686

Berdasarkan hasil uji linearitas, kemandirian dengan prokrastinasi memiliki F sebesar 145,711 dengan signifikansi sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kemandirian dan kesiapan kerja memiliki hubungan yang linear karena memiliki signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (p<0,05).

c) Uji Hipotesis

Teknik uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis koefisien korelasi Spearman dalam program SPSS 16.0 for windows. Teknik ini dipilih karena data kemandirian dan kesiapan kerja termasuk ke dalam distribusi tidak normal.

Tabel 15

Berdasarkan hasil perhitungan, kemandirian dan kesiapan kerja memiliki koefisiensi korelasi sebesar 0,767 dengan signifikansi sebesar 0,000. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka terjadi hubungan yang signifikan, sedangkan jika signifikansi > 0,05 maka tidak ada hubungan yang signifikan. Maka dari itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan. Selain itu, hubungan antara kedua variabel memiliki kekuatan yang kuat karena nilai korelasi berada pada rentang 0,60-0,799 (Sugiyono dalam Priyatno, 2012). Hal itu menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemandirian dengan kesiapan kerja. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kemandirian mahasiswa maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan kerjanya. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima.

E. Analisis Data Tambahan

Analisis tambahan dilakukan untuk melihat pengaruh dari pengalaman kerja yang dimiliki subjek pada kesiapan kerja. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik Independent-Sample T Test pada program SPSS 16.0 for windows. Independent-Sample T Test digunakan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok (Trihendradi, 2009). Jika signifikansi > 0,05 maka menunjukkan varian sama dan jika signifikansi < 0,05 maka menunjukkan varian berbeda (Priyatno, 2010).

Jika signifikansi < 0,05 maka menunjukkan bahwa ada beda dan jika signifikansi > 0,05 maka menunjukkan bahwa tidak ada beda. Variabel yang diukur adalah variabel kesiapan kerja dan kategori pengalaman kerja.

Tabel 16

Berdasarkan tabel tersebut, hasil menunjukkan bahwa diperoleh nilai p sebesar 0,444. Hal ini menunjukkan bahwa hasil memiliki varian yang sama. Hasil uji t menunjukkan p sebesar 0,637. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara variabel kesiapan kerja dengan kategori pengalaman kerja.

F. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemandirian dengan kesiapan kerja. Hal ini berdasarkan pada perolehan hasil koefisiensi korelasi sebesar 0,767 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Dengan demikian, semakin tinggi kemandirian mahasiswa maka semakin tinggi pula kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kemandirian maka semakin rendah pula kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Masrun (dalam Pelawi, 2004) bahwa kemandirian merupakan modal dasar bagi manusia dalam menentukan sikap dan perbuatan terhadap lingkungannya.

Kemandirian terbentuk dari adanya interaksi yang kompleks, yang melibatkan unsur-unsur kognisi, afeksi dan konasi melalui proses pengkondisian dan proses belajar yang akhirnya membentuk pengalaman hidup. Kemandirian yang terbentuk pada diri individu membantu individu dalam mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan, dan tidak tergantung pada orang lain.

Kemampuan membebaskan diri dari ketergantungan dengan orang lain yang dimiliki seorang individu membuat individu tersebut mendapatkan kepercayaan pada diri sendiri dan kepercayaan dari orang lain serta meningkatkan tanggung jawab individu akan tugas-tugasnya. Seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan bertindak mandiri dalam membuat pilihan dan

mengambil keputusan sendiri. Dengan percaya diri seseorang merasa dirinya berharga dan mempunyai kemampuan untuk menjalani kehidupan, mempertimbangkan berbagai pilihan dan membuat keputusan sendiri (Asiyah, 2013). Kepercayaan diri yang dimiliki oleh individu membuat individu tidak cemas dalam bertindak, merasa bebas, serta mampu bertanggung jawab atas yang diperbuat (Lauster dalam Asiyah, 2013). Hal ini sesuai dengan arti kemandirian menurut Monk (2006), dimana orang yang mandiri memperlihatkan perilaku yang eksploratif, mampu mengambil keputusan, percaya diri, kreatif, bertindak kritis, bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan, mampu membebaskan diri dari perlindungan orang tua dan mampu menerima realitas kehidupan.

Dalam pencapaian kemandirian, suatu hal yang paling diakui sebagai tanda memasuki masa dewasa adalah ketika seseorang memperoleh pekerjaannya. Hal ini biasanya terjadi pada saat seseorang menyelesaikan sekolah menengah atas dan dari universitas. Ketika individu memasuki sebuah pekerjaan untuk pertama kalinya, mereka mungkin dihadapkan pada masalah dan kondisi yang tidak mereka antisipasi sebelumnya (Santrock, 2002).Bila seseorang memiliki kemandirian yang tinggi, besar kemungkinannya ia tidak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pada umumnya, dan khususnya dengan lingkungan kerja (Kartono, 1985).

Hal ini sejalan dengan pernyataan Erickson (Saputro, 2010) yaitu yang paling menentukan dalam masa dewasa adalah apakah orang tersebut bisa menjadi produktif dan berguna dalam kehidupannya atau tidak. Jika dia

mempunyai sesuatu (kemampuan dan keahlian) yang dia bisa lakukan dan berguna untuk orang lain disekitarnya, dia akan merasa hidupnya berarti. Jika tidak maka mungkin akan muncul perasaan stagnansi dalam hidup.

Kemandirian yang dimiliki individu menambah kesiapan kerja untuk menghadapi dunia kerja yang baru. Hal itu didukung dengan kemampuan individu yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikerjakan, dan siap menghadapi tantangan-tantangan dalam dunia kerja yang baru. Individu yang siap bekerja merupakan individu yang dapat menyesuaikan diri terhadap budaya kerja yang baru, mengetahui keterampilan yang dimiliki, mengetahui kapasitas untuk mempelajari sesuatu yang baru, memiliki fleksibilitas dengan perubahan, mengerti apa yang menjadi harapan diri sendiri, orang lain, dan pekerjaan (Ward & Riddle dalam Utadi, 2012).

Diperkuat dengan pernyataan Pool dan Sewell (dalam Saputro, 2010) mengutarakan bahwa kesiapan kerja ialah memiliki keahlian, ilmu pengetahuan, pemahaman dan kepribadian yang membuat seseorang bisa memilih dan merasa nyaman dengan pekerjaannya sehingga menjadi puas dan akhirnya meraih sukses.

Berdasarkan hasil perhitungan, variabel kemandirian menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kemandirian pada subjek penelitian cenderung tinggi. Kemandirian yang tinggi berarti menunjukkan bahwa subjek memiliki kemampuan yang cenderung tinggi dalam berpikir, menangani masalah, mengendalikan

tindakan, merencanakan serta mewujudkan harapan-harapan, melakukan sesuatu berdasarkan kehendak sendiri tanpa tergantung orang lain. Selain itu adanya rasa percaya terhadap kemampuan sendiri dan memperoleh kepuasan atas usahanya. Hasil pada variabel kesiapan kerja menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kesiapan kerja pada subjek penelitian cenderung tinggi. Kesiapan kerja yang tinggi berarti menunjukkan bahwa subjek memiliki kecenderungan tanggung jawab, fleksibilitas, keterampilan, komunikasi, pandangan diri, kebersihan dan keselamatan diri yang tinggi pada diri individu.

Data lain yang diperoleh yaitu pada variabel kesiapan kerja mean empirik lebih besar dari mean teoritik dengan jumlah sebanyak 50% subjek memiliki pengalaman kerja dan sebanyak 50% subjek tidak memiliki pengalaman kerja. Berdasarkan hasil analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara variabel kesiapan kerja dan kategori pengalaman kerja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kesiapan kerja antara mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja maupun mahasiswa yang tidak memiliki kesiapan kerja.

Hasil penelitian yang menunjukkan tidak adanya perbedaan kesiapan kerja kemungkinan disebabkan karena adanya faktor lain. Dari data yang dimiliki oleh peneliti, dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek yang tidak memiliki pengalaman kerja merupakan subjek yang berasal dari Fakultas Teknik dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dimana terdapat kemungkinan bahwa kedua fakultas tersebut merupakan fakultas yang

memiliki sifat mata kuliah praktik kerja nyata maupun menggunakan sarana pembelajaran praktik.

Praktek Kerja Nyata adalah pekerjaan di luar kelas pada suatu Instansi yang sedang beroperasi, sebagai upaya penerapan dan perbandingan antara pekerjaan yang nyata dengan teori-teori yang di dapat ketika di dalam kelas sebagai bagian dari kurikulum yang diwajibkan kepada mahasiswa (Rahmawati dalam Sudiarta, 2012). Selain itu, menurut Burden (dalam Sudiarta, 2012) diakui beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperoleh media dan peralatan yang tepat: (a) selecting available materials;

(b) modifying existing materials; or (c) cleaning and producing new materials. Oleh karena itu, adanya media dan peralatan yang tepat dapat memberikan kemudahan proses belajar mengajar dan dapat mengembangkan potensi siswa. Praktek kerja nyata dan media pembelajaran yang didapatkan oleh para mahasiswa dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan kesiapan kerja pada diri mahasiswa. Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sudiarta (2012) menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan secara parsial dari praktek kerja nyata dan sarana pembelajaran praktek terhadap kesiapan kerja pada mahasiswa Jurusan Manajemen Perhotelan Sekolah perhotelan Bali pada Industri Pariwisata.

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Utami (2013) menunjukkan bahwa self efficacy juga mempunyai kontribusi positif terhadap kesiapan kerja siswa. Jika siswa memiliki self efficacy tinggi, maka siswa itu akan percaya diri dalam menghadapi situasi yang tidak menentu yang mengandung

kekaburan dan penuh tekanan, yakin akan kemampuan menumbuhkan motivasi, kemampuan kognitif dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil (Bandura dalam Utami, 2013)

58 BAB V

KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemandirian dengan kesiapan kerja pada mahasiwa semester akhir. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kemandirian mahasiswa maka semakin tinggi pula kesiapan kerjanya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kemandirian mahasiswa maka semakin rendah pula kesiapan kerjanya.

B. KETERBATASAN PENELITIAN

Dalam penelitian ini, penulis memiliki keterbatasan yang harus dipertimbangkan untuk penelitian mendatang. Keterbatasan pada penelitian ini meliputi jumlah komposisi item pada distribusi item skala kemandirian dan skala kesiapan kerja yang tidak merata. Terdapat perbedaan jumlah yang cukup jauh antar item-item pada setiap aspeknya. Selain itu, terdapat kelemahan pada skala dikarenakan penentuan jumlah item dibuat berdasarkan indikator yang dibuat sendiri.

C. SARAN

1. Bagi Subjek

Berdasarkan hasil penelitian, subjek memiliki kemandirian yang cenderung tinggi dan kesiapan kerja yang cenderung tinggi. Walaupun begitu, subjek diharapkan untuk tetap mempertahankan kemandiriannya

sehingga subjek akan selalu memiliki kesiapan kerja dan dapat bekerja dengan maksimal.

2. Bagi Universitas

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan positif antara kemandirian dan kesiapan kerja. Maka dari itu, diharapkan universitas

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan positif antara kemandirian dan kesiapan kerja. Maka dari itu, diharapkan universitas

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 48-0)

Dokumen terkait