BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
G. Analisis Data
3. Uji Hipotesis
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dengan kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir. Oleh karena itu, teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Product Moment dari Spearman. Uji hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS for windows versi 16.
44 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2015 sampai 7 April 2015. Pengambilan data dilakukan dengan membagikan skala kemandirian dan skala kesiapan kerja kepada mahasiswa semester akhir dengan rentang usia 20an-30an tahun. Penyebaran skala dilakukan dengan cara mendatangi subjek dengan kriteria yang sesuai dengan ketentuan penelitian. Selain itu, menitipkan skala kepada teman dan juga menggunakan internet untuk memudahkan dalam menjangkau subjek yang berada di luar kota. Jumlah subjek penelitian adalah 100 orang.
B. Deskripsi Subjek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 orang.
Pemilihan subjek dilakukan berdasarkan kesesuaian dengan karakteristik mahasiswa semester akhir dengan rentang usia 20an-30an tahun.
Tabel 11
7. Periode Kerja 0 bulan : 50 (50%) 100 (100%)
C. Deskripsi Data Penelitian
Tabel 12
Perbandingan Nilai Mean Teoritik dan Empirik
Variabel Data Teoritik Data Empirik One-Sample t-Test
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, skala kemandirian memiliki nilai mean teoritik sebesar 97,5 dan mean empirik sebesar 122,92. Hasil ini menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kemandirian pada subjek penelitian
cenderung tinggi. Variabel kemandirian memiliki signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empirik dan mean teoritik. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian mahasiswa semester akhir cenderung tinggi.
Skala kesiapan kerja memiliki mean teoritik sebesar 92,5 dan mean empirik sebesar 116,1. Hasil ini menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kesiapan kerja pada subjek penelitian cenderung tinggi. Variabel kesiapan kerja memiliki signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empirik dan mean teoritik. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan kerja mahasiswa semester akhir cenderung tinggi.
D. Hasil Penelitian a) Uji normalitas
Metode pengambilan keputusan untuk uji normalitas yaitu p >
0,05 maka data berdistribusi normal dan jika p < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Priyatno, 2010). Uji normalitas data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov Z Test pada program SPSS 16.0 for windows.
Tabel 13 Hasil Uji Normalitas Variabel Kolmogorov-Smirnov Z
Test
Sig.
Kemandirian 0,991 0,280
Kesiapan Kerja
1,434 0,033
Berdasarkan hasil perhitungan, hasil uji normalitas untuk variabel kemandirian menunjukkan nilai p sebesar 0,280. Hal ini menunjukkan bahwa data pada skala kemandirian memiliki sebaran data yang normal. Hasil uji normalitas untuk variabel kesiapan kerja menunjukkan nilai p sebesar 0,033. Hal ini menunjukkan bahwa data pada skala kesiapan kerja memiliki sebaran data yang tidak normal.
b) Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows. Hubungan antara dua variabel dinyatakan linier apabila p < 0,05 (Priyatno, 2010).
Tabel 14 Hasil Uji Linearitas
F Sig.
Kesiapan Kerja * Kemandirian
Between group (Combined)
4,773 0,000
Linearity 145,711 0,000 Deviation from
Linearity
0,858 0,686
Berdasarkan hasil uji linearitas, kemandirian dengan prokrastinasi memiliki F sebesar 145,711 dengan signifikansi sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kemandirian dan kesiapan kerja memiliki hubungan yang linear karena memiliki signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (p<0,05).
c) Uji Hipotesis
Teknik uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis koefisien korelasi Spearman dalam program SPSS 16.0 for windows. Teknik ini dipilih karena data kemandirian dan kesiapan kerja termasuk ke dalam distribusi tidak normal.
Tabel 15
Berdasarkan hasil perhitungan, kemandirian dan kesiapan kerja memiliki koefisiensi korelasi sebesar 0,767 dengan signifikansi sebesar 0,000. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka terjadi hubungan yang signifikan, sedangkan jika signifikansi > 0,05 maka tidak ada hubungan yang signifikan. Maka dari itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan. Selain itu, hubungan antara kedua variabel memiliki kekuatan yang kuat karena nilai korelasi berada pada rentang 0,60-0,799 (Sugiyono dalam Priyatno, 2012). Hal itu menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemandirian dengan kesiapan kerja. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kemandirian mahasiswa maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan kerjanya. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima.
E. Analisis Data Tambahan
Analisis tambahan dilakukan untuk melihat pengaruh dari pengalaman kerja yang dimiliki subjek pada kesiapan kerja. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik Independent-Sample T Test pada program SPSS 16.0 for windows. Independent-Sample T Test digunakan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok (Trihendradi, 2009). Jika signifikansi > 0,05 maka menunjukkan varian sama dan jika signifikansi < 0,05 maka menunjukkan varian berbeda (Priyatno, 2010).
Jika signifikansi < 0,05 maka menunjukkan bahwa ada beda dan jika signifikansi > 0,05 maka menunjukkan bahwa tidak ada beda. Variabel yang diukur adalah variabel kesiapan kerja dan kategori pengalaman kerja.
Tabel 16
Berdasarkan tabel tersebut, hasil menunjukkan bahwa diperoleh nilai p sebesar 0,444. Hal ini menunjukkan bahwa hasil memiliki varian yang sama. Hasil uji t menunjukkan p sebesar 0,637. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara variabel kesiapan kerja dengan kategori pengalaman kerja.
F. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemandirian dengan kesiapan kerja. Hal ini berdasarkan pada perolehan hasil koefisiensi korelasi sebesar 0,767 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Dengan demikian, semakin tinggi kemandirian mahasiswa maka semakin tinggi pula kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kemandirian maka semakin rendah pula kesiapan kerja pada mahasiswa semester akhir.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Masrun (dalam Pelawi, 2004) bahwa kemandirian merupakan modal dasar bagi manusia dalam menentukan sikap dan perbuatan terhadap lingkungannya.
Kemandirian terbentuk dari adanya interaksi yang kompleks, yang melibatkan unsur-unsur kognisi, afeksi dan konasi melalui proses pengkondisian dan proses belajar yang akhirnya membentuk pengalaman hidup. Kemandirian yang terbentuk pada diri individu membantu individu dalam mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan, dan tidak tergantung pada orang lain.
Kemampuan membebaskan diri dari ketergantungan dengan orang lain yang dimiliki seorang individu membuat individu tersebut mendapatkan kepercayaan pada diri sendiri dan kepercayaan dari orang lain serta meningkatkan tanggung jawab individu akan tugas-tugasnya. Seseorang yang memiliki rasa percaya diri akan bertindak mandiri dalam membuat pilihan dan
mengambil keputusan sendiri. Dengan percaya diri seseorang merasa dirinya berharga dan mempunyai kemampuan untuk menjalani kehidupan, mempertimbangkan berbagai pilihan dan membuat keputusan sendiri (Asiyah, 2013). Kepercayaan diri yang dimiliki oleh individu membuat individu tidak cemas dalam bertindak, merasa bebas, serta mampu bertanggung jawab atas yang diperbuat (Lauster dalam Asiyah, 2013). Hal ini sesuai dengan arti kemandirian menurut Monk (2006), dimana orang yang mandiri memperlihatkan perilaku yang eksploratif, mampu mengambil keputusan, percaya diri, kreatif, bertindak kritis, bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan, mampu membebaskan diri dari perlindungan orang tua dan mampu menerima realitas kehidupan.
Dalam pencapaian kemandirian, suatu hal yang paling diakui sebagai tanda memasuki masa dewasa adalah ketika seseorang memperoleh pekerjaannya. Hal ini biasanya terjadi pada saat seseorang menyelesaikan sekolah menengah atas dan dari universitas. Ketika individu memasuki sebuah pekerjaan untuk pertama kalinya, mereka mungkin dihadapkan pada masalah dan kondisi yang tidak mereka antisipasi sebelumnya (Santrock, 2002).Bila seseorang memiliki kemandirian yang tinggi, besar kemungkinannya ia tidak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pada umumnya, dan khususnya dengan lingkungan kerja (Kartono, 1985).
Hal ini sejalan dengan pernyataan Erickson (Saputro, 2010) yaitu yang paling menentukan dalam masa dewasa adalah apakah orang tersebut bisa menjadi produktif dan berguna dalam kehidupannya atau tidak. Jika dia
mempunyai sesuatu (kemampuan dan keahlian) yang dia bisa lakukan dan berguna untuk orang lain disekitarnya, dia akan merasa hidupnya berarti. Jika tidak maka mungkin akan muncul perasaan stagnansi dalam hidup.
Kemandirian yang dimiliki individu menambah kesiapan kerja untuk menghadapi dunia kerja yang baru. Hal itu didukung dengan kemampuan individu yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikerjakan, dan siap menghadapi tantangan-tantangan dalam dunia kerja yang baru. Individu yang siap bekerja merupakan individu yang dapat menyesuaikan diri terhadap budaya kerja yang baru, mengetahui keterampilan yang dimiliki, mengetahui kapasitas untuk mempelajari sesuatu yang baru, memiliki fleksibilitas dengan perubahan, mengerti apa yang menjadi harapan diri sendiri, orang lain, dan pekerjaan (Ward & Riddle dalam Utadi, 2012).
Diperkuat dengan pernyataan Pool dan Sewell (dalam Saputro, 2010) mengutarakan bahwa kesiapan kerja ialah memiliki keahlian, ilmu pengetahuan, pemahaman dan kepribadian yang membuat seseorang bisa memilih dan merasa nyaman dengan pekerjaannya sehingga menjadi puas dan akhirnya meraih sukses.
Berdasarkan hasil perhitungan, variabel kemandirian menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kemandirian pada subjek penelitian cenderung tinggi. Kemandirian yang tinggi berarti menunjukkan bahwa subjek memiliki kemampuan yang cenderung tinggi dalam berpikir, menangani masalah, mengendalikan
tindakan, merencanakan serta mewujudkan harapan-harapan, melakukan sesuatu berdasarkan kehendak sendiri tanpa tergantung orang lain. Selain itu adanya rasa percaya terhadap kemampuan sendiri dan memperoleh kepuasan atas usahanya. Hasil pada variabel kesiapan kerja menunjukkan bahwa mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal ini berarti rata-rata kesiapan kerja pada subjek penelitian cenderung tinggi. Kesiapan kerja yang tinggi berarti menunjukkan bahwa subjek memiliki kecenderungan tanggung jawab, fleksibilitas, keterampilan, komunikasi, pandangan diri, kebersihan dan keselamatan diri yang tinggi pada diri individu.
Data lain yang diperoleh yaitu pada variabel kesiapan kerja mean empirik lebih besar dari mean teoritik dengan jumlah sebanyak 50% subjek memiliki pengalaman kerja dan sebanyak 50% subjek tidak memiliki pengalaman kerja. Berdasarkan hasil analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara variabel kesiapan kerja dan kategori pengalaman kerja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kesiapan kerja antara mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja maupun mahasiswa yang tidak memiliki kesiapan kerja.
Hasil penelitian yang menunjukkan tidak adanya perbedaan kesiapan kerja kemungkinan disebabkan karena adanya faktor lain. Dari data yang dimiliki oleh peneliti, dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek yang tidak memiliki pengalaman kerja merupakan subjek yang berasal dari Fakultas Teknik dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dimana terdapat kemungkinan bahwa kedua fakultas tersebut merupakan fakultas yang
memiliki sifat mata kuliah praktik kerja nyata maupun menggunakan sarana pembelajaran praktik.
Praktek Kerja Nyata adalah pekerjaan di luar kelas pada suatu Instansi yang sedang beroperasi, sebagai upaya penerapan dan perbandingan antara pekerjaan yang nyata dengan teori-teori yang di dapat ketika di dalam kelas sebagai bagian dari kurikulum yang diwajibkan kepada mahasiswa (Rahmawati dalam Sudiarta, 2012). Selain itu, menurut Burden (dalam Sudiarta, 2012) diakui beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperoleh media dan peralatan yang tepat: (a) selecting available materials;
(b) modifying existing materials; or (c) cleaning and producing new materials. Oleh karena itu, adanya media dan peralatan yang tepat dapat memberikan kemudahan proses belajar mengajar dan dapat mengembangkan potensi siswa. Praktek kerja nyata dan media pembelajaran yang didapatkan oleh para mahasiswa dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan kesiapan kerja pada diri mahasiswa. Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sudiarta (2012) menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan secara parsial dari praktek kerja nyata dan sarana pembelajaran praktek terhadap kesiapan kerja pada mahasiswa Jurusan Manajemen Perhotelan Sekolah perhotelan Bali pada Industri Pariwisata.
Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Utami (2013) menunjukkan bahwa self efficacy juga mempunyai kontribusi positif terhadap kesiapan kerja siswa. Jika siswa memiliki self efficacy tinggi, maka siswa itu akan percaya diri dalam menghadapi situasi yang tidak menentu yang mengandung
kekaburan dan penuh tekanan, yakin akan kemampuan menumbuhkan motivasi, kemampuan kognitif dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil (Bandura dalam Utami, 2013)
58 BAB V
KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemandirian dengan kesiapan kerja pada mahasiwa semester akhir. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kemandirian mahasiswa maka semakin tinggi pula kesiapan kerjanya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kemandirian mahasiswa maka semakin rendah pula kesiapan kerjanya.
B. KETERBATASAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini, penulis memiliki keterbatasan yang harus dipertimbangkan untuk penelitian mendatang. Keterbatasan pada penelitian ini meliputi jumlah komposisi item pada distribusi item skala kemandirian dan skala kesiapan kerja yang tidak merata. Terdapat perbedaan jumlah yang cukup jauh antar item-item pada setiap aspeknya. Selain itu, terdapat kelemahan pada skala dikarenakan penentuan jumlah item dibuat berdasarkan indikator yang dibuat sendiri.
C. SARAN
1. Bagi Subjek
Berdasarkan hasil penelitian, subjek memiliki kemandirian yang cenderung tinggi dan kesiapan kerja yang cenderung tinggi. Walaupun begitu, subjek diharapkan untuk tetap mempertahankan kemandiriannya
sehingga subjek akan selalu memiliki kesiapan kerja dan dapat bekerja dengan maksimal.
2. Bagi Universitas
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan positif antara kemandirian dan kesiapan kerja. Maka dari itu, diharapkan universitas dapat lebih mengembangkan kemandirian yang ditujukan pada mahasiswa baru dengan mengadakan pelatihan sehingga akan meningkatkan kesiapan kerja pada mahasiswa nantinya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk dapat lebih memperluas ruang lingkup pengambilan sampel dari populasi mahasiswa tingkat akhir agar bisa lebih merepresentasikan populasi.
b. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah refrensi dalam menentukan indikator untuk pembuatan item sehingga item skala dapat lebih kuat dalam pengukuran variabel.
c. Berdasarkan hasil analisa tambahan menunjukkan bahwa pengalaman kerja yang dimiliki subjek tidak memiliki pengaruh bagi kesiapan kerja mahasiswa. Peneliti disarankan untuk melihat faktor apa lainnya yang dapat memberikan pengaruh pada kesiapan kerja misalnya jenjang pendidikan (strata/diploma).
60
DAFTAR PUSTAKA
Agnew, R. (1984). Autonomy and Delinquency. Jurnal Sociological Perspectives, 27 (2). Diunduh pada tanggal 24 Oktober 2014 dari http://www.jstor.org/stable/1389019.
Ardini, R. F. & Hendriani, W. (2012). Proses Berhenti Merokok Secara Mandiri Pada Mantan Pecandu Rokok Dalam Usia Dewasa Awal. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Juni 2012.1 (2). Diunduh
tanggal 24 Juli 2015 dari http://journal.unair.ac.id/filerPDF/
110511160_2v.pdf
Antono, B. (2013). Rata-rata Lulusan PT Belum Siap Kerja. Di unduh tanggal 18 Juni 2014 dari http://daerah.sindonews.com/read/792146/22/rata-rata-lulusan-pt-belum-siap-kerja.
Asiyah, N. (2013). Pola Asuh Demokratis, Kepercayaan Diri dan Kemandirian Mahasiswa Baru. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia Mei 2013, 2 (2).
Azwar, S. (2011). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Badan Pusat Statistik. (2014). Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2004 – 2013. Diunduh pada tanggal 21 Juli 2014 dari http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/972.
Brady, R. P., (2010). Work Readiness Inventory Administrator’s Guide. Booklet.
Diunduh tanggal 14 April 2014 dari http://www.jist.com/shop/web/
workreadinessinventory administrator guide.pdf.
Clarke, D.M. (1999). Autonomy, rationality and the wish to die. Jurnal of medical ehtics. Diunduh pada 11 September 2014 dari http://europepmc.org/
backend/ptpmcrender.fcgi?accid=PMC479293&blobtype=pdf Dariyo, A. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Grasindo.
Hamalik, O. (2013). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hidayat. A. S. (2013). Merah: Goresan Cendekiawan Muda Untuk Indonesia.
Yogyakarta: Departemen Media dan Jaringan BEM FIS UNY.
Hurlock, E. B. (1990). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
Iskandar, M. (2013). Menakertrans Targetkan Akhir Tahun Ini Pengangguran Turun Pada Kisaran 5,5 – 5,8 Persen. Diunduh pada tanggal 18 Juni 2014 dari http://www.setkab.go.id/berita-9266-menakertrans- targetkan-akhir-tahun-ini-pengangguran-turun-pada-kisaran-55-58-persen.html.
Kartono, K. (1985). Menyiapkan Dan Memandu Karier. Jakarta : Rajawali.
Kristiani, B. D. (2013). Hubungan Antara Kemandirian Dengan Prokrastinasi Pada Mahasiswa. Skripsi tidak diterbitkan. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Latief. (2011). Soft Skill Rendah, Perusahaan Gerah. Dipungut 22 Juli 2015 dari http://edukasi.kompas.com/read/2011/02/11/10124915/.Soft.Skill.Re ndah.Perusahaan.Gerah.
Masrun, M., Haryanto, Harjito, H., Utami, Muhara, M.S., Buwani, N. A., Aritonang, L., & Sutjipto, H. (1986). Studi mengenai kemandirian di tiga suku bangsa (Jawa, Batak, Bugis). Laporan Penelitian. Tidak Diterbitkan. Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Fakultas Psikologi, UGM.
Monk, F. J., Knoers, A. M. P., & Haditono, S. R. (2006). Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Musdalifah. (2007). Perkembangan Sosial Remaja Dalam Kemandirian (Studi Kasus Hambatan Psikologis Dependensi terhadap Orangtua). Jurnal IQRA’ Volume 4 Juli – Desember 2007. Diunduh 11 November 2014 dari
Ninawati, F. I. (2013). Gambaran Kesejahteraan Psikologis Pada Dewasa Muda Ditinjau Dari Pola Attachment. Jurnal Psikologi, 3(01).
Noor, Juliansyah. (2011). Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R.D. (2009). Human Development:
Perkembangan Manusia. Edisi 10. Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Pasek, A. D. (2012). Lulus Kuliah, Mahasiswa Dituntut Siap Kerja. Diunduh pada tanggal 20 Juni 2014 dari http://www.jpnn.com/read/2012/05/10/126 984/LulusKuliah,Mahasiswa –Dituntut-Siap-Kerja-.
Patriana, P. (2007). Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi.
Di unduh pada tanggal 2 April 2014 dari http://core.ac.uk/
download/pdf/11710669.pdf.
Pelawi, R. P. S. (2004). Kemandirian Ditinjau Dari Gaya Kelekatan Pada Remaja Akhir. Skripsi tidak diterbitkan. Universitas Sanata Dharma:
Yogyakarta.
Priyatno, D. (2010). Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitian dengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian Pendadaran.
Yogyakarta: Gava Media.
Purwanto. (2012). Metodologi Penelitian Kuantitatif Untuk Psikologi dan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Robbins, P. S., & Judge, A. T. (2007). Perilaku organisasi (Ed. 12). Jakarta: Salemba Empat.
Robbins, S. P., & Judge, T.A. (2008). Perilaku Organisasi: Organizational Behavior. Jakarta: Salemba Empat.
Santrock, J. W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup.
Edisi 5. Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (Edisi 6). Jakarta:
Erlangga.
Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup.
Edisi Ketigabelas. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Saputro, N. D., & Suseno, M. N. (2010). Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Employability pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi [serial online], 3(1). Di unduh pada tanggal 27 Maret 2014 dari http://setiabudi.ac.id/jurnalpsikologi/images/files/jurnal%202%283%
29.pdf.
Setyaningrum, A. (2007). Hubungan Konformitas Dengan Kemandirian Dalam Pengambilan Keputusan Pada Mahasiswa. Skripsi. Di unduh tanggal 15 Juli 2014. Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.
Steinberg, L. (2002). Adolescence. 6th ed. Boston: McGraw-Hill.
Steinberg, L., & Silverberg, S. B. (1986). The Vicissitudes of Autonomy in Early Adolescence. Jurnal Child Development, 57 (4). Diunduh pada tanggal 30 Oktober 2014.
Sudiarta, I. N. (2012). Pengaruh Praktek Kerja Nyata dan Sarana Pembelajaran Praktek terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Jurusan Manajemen Perhotelan Sekolah Perhotelan Bali pada Industri Pariwisata. Jurnal Tahun 2012, 2(2). Di unduh 6 Juni 2014.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
Sukardi, D. K. (1993). Psikologi Pemilihan Karier: Suatu Uraian Teoritis Tentang Tipe Kepribadian Dan Model Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta.
Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Trihendradi, C. (2009). Step by Step SPSS 16 Analisis Data Statistik. Yogyakarta:
Andi Offset.
Turner, H. A., & Turner, R. J. (1999). Gender, Social Status, and Emotional Reliance. Journal of health and social behavior, 40 (4).
Utadi, I. (2012). Perbedaan Kesiapan Kerja Antara Mahasiswa Yang Ikut Organisasi dan Mahasiswa Yang Tidak Ikut Organisasi. Skripsi Tidak Diterbitkan. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003. Ketenagakerjaan.
Universitas St. Andrew. (2005). Employability Strategy 2005 – 2011. April 2005.
http://www.st‐andrews.ac.uk/media/Employability%20Strategy%202 005‐2011.pdf. Di unduh Tanggal 25 Oktober 2014.
Utami, Y. G. D., & Hudaniah. (2013). Self Efficacy Dengan Kesiapan Kerja Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(01).
Wijayanti, R. T. (2008). Hubungan Antara Efikasi Core Skill dengan Kesiapan Kerja pada Mahasiswa Semester Akhir. Di unduh tanggal 27 Maret 2014. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Zarrett, N., & Eccles, J. (2006). The passage to Adulthood: Challenges of late adolescence. New directions for youth development, 2006(111).
64
LAMPIRAN 1
(SKALA TRY OUT)
SKALA PENELITIAN
Disusun oleh:
Tista Dara Ayuningtyas 109114069
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2014
Yogyakarta, Desember 2014
Yth. Mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini
Sehubungan degan penelitian tugas akhir yang sedang saya kerjakan, perkenankan saya untuk memohon bantuan dan kesediaan dari teman mahasiswa meluangkan waktu untuk mengisi angket ini.
Angket ini berisi beberapa pernyataan. Dalam angket ini tidak ada penilaian jawaban benar atau salah, sehingga saya berharap anda menjawab dengan sejujur-jujurnya dan sesuai dengan kondisi anda. Usahakan jangan sampai ada jawaban yang terlewatkan.
Saya akan menjamin kerahasiaan dari identitas dan jawaban anda dalam angket ini. Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kesediaan dalam mengisi angket ini.
Hormat saya, Tista Dara Ayuningtyas 109114069/PSI/Universitas Sanata Dharma
Identitas dan Pernyataan Kesediaan
Nama/Inisial :
Usia :
Jenis kelamin :
Fakultas/ prodi/ Universitas :
Semester :
Apakah sudah mengambil skripsi? Sudah/ Belum*)
Periode Skripsi : satu semester/ dua semester/ tiga semester/ empat semester/
>empat semester*)
*)coret yang tidak perlu
Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala penelitian ini dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri saya.
Tanda tangan
( )
SKALA A
PETUNJUK PENGISIAN
Berikut ini terdapat beberapa pernyataan yang berhubungan dengan kondisi anda yang anda alami dalam kehidupan sehari-hari. Anda diminta kesediaannya untuk memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda. Berikan tanda Checklist (√) pada kotak pilihan yang anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri Anda.
Berikut ini terdapat beberapa pernyataan yang berhubungan dengan kondisi anda yang anda alami dalam kehidupan sehari-hari. Anda diminta kesediaannya untuk memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan Anda. Berikan tanda Checklist (√) pada kotak pilihan yang anda anggap paling sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada diri Anda.