• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

6. Analisis Data

Analisa data yang akan dilakukan secara kualitatif diharapkan akan dapat memudahkan dalam menganalisa permasalahan yang diajukan, menafsirkan dan kemudian menarik kesimpulan. Analisa kualitatif dilakukan terhadap paradigma hubungandinamis antara teori, konsep-konsep dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan. Sehubungan data yang dianalisis beraneka ragam, memiliki sifat dasar yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Metode analisis data digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang sudah terkumpul dimana pada penelitian ini digunakan metode normatif kualitatif. Normatif, karena penelitian ini bertitik tolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai normatif hukum positif sedangkan kualitatif, dimaksudkan analisis data yang bertolak pada usaha penemuan asas-asas dan informasi-informasi dalam penerapan sanksi tindakan terhadap anak pelaku sebagai upaya penanggulangan tindak pidana narkotika. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika deduktif-induktif sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan yang dirumuskan.48

48 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta : Kencana, 2009), hlm. 26. Lihat juga Imron Mustofa, “Jendela Logika Dalam Berfikir : Deduksi dan Induksi Sebagai Dasar Penalaran Ilmiah”, Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam El-Banat, Vol. 6, No. 2, Juli-Desember 2016, hlm. 114, menyatakan bahwa : : Menurut Imron Mustafa, “Penalaran deduktif merupakan salah satu cara berfikir logis dan analistik, yang tumbuh dan berkembang dengan adanya pengamatan yang semakin intens, sistematis, dan kritis. Juga didukung oleh pertambahan pengetahuan yang diperoleh manusia, yang akhirnya akan bermuara pada suatu usaha untuk menjawab permasalahan secara rasional sehingga dapat dipertanggung jawabkan kandungannya, tentunya dengan mengesampingkan hal-hal yang irasional. Adapun penyelesaian

BAB II

PENGATURAN HUKUM ACARA PIDANA DALAM PROSES PENGAMBILAN DATA ELEKTRONIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI

ALAT BUKTI

A. Tindak Pidana

1. Pengertian Tindak Pidana

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) istilah tindak pidana lebih sering dikenal dengan istilah strafbaarfeit dan dalam kepustakaan tentang hukum pidana sering menggunakan istilah delik, sedangkan pembuat undang-undang merumuskan suatu undang-undang menggunakan istilah peristiwa pidana dan perbuatan pidana atau tindakan pidana.49 Istilah “strafbaarfeit” merupakan istilah dari bahasa Belanda yang terdiri dari 3 (tiga) suku kata, yakni : straf, baar dan feit.

Berbagai istilah yang digunakan sebagai terjemahan dari strafbaarfeit itu, ternyata straf diterjemahkan sebagai pidana dan hukum. Perkataan baar diterjemahkan dengan dapat dan boleh, sedangkan untuk kata feit diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan.50 Maka dari penerjamahan tersebut dapat disimpulkan bahwa strafbaarfeit adalah suatu perbuatan yang dapat dikenai hukuman pidana.

Pidana berasal dari kata straf (belanda) atau yang disebut dengan istilah hukuman. Namun istilah pidana lebih tepat dibandingkan istilah hukuman karena

masalah secara rasional bermakna adanya tumpuan pada rasio manusia dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Dan paham yang mendasarkan dirinya pada proses tersebut dikenal dengan istilah paham rasionalisme. Metode deduktif dan paham ini saling memiliki keterikatan yang saling mewarnai, karena dalam menyusun logika suatu pengetahuan para ilmuan rasionalis cenderung menggunakan penalaran deduktif”.

49 Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana : Memahami Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan, (Yogyakarta : Rengkang Education Yogyakarta dan Pukap Indonesia, 2012), hlm. 20.

50 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, (Malang : Rajagrafindo Persada, 2001), hlm.

67.

hukuman merupakan terjemahan dari recht. Pidana lebih tepat didefinisan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan oleh Negara kepada seseorang atau beberapa orang sabagai akibat hukum (sanksi) baginya atas pembunuhan yang telah melanggar larangan hukum pidana. Sedangkan menurut Soedarto, pidana adalah penderitaan yang sengaja diberikan kepada seseorang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

Strafbaarfeit juga diartikan oleh Pompe dalam buku karya E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, sebagai berikut51:

“Suatu pelanggaran kaidah (pengggangguan ketertiban hukum), terhadap mana pelaku mempunyai kesalahan untuk mana pelaku mempunyai kesalahan untuk mana pemidanaan adalah wajar untuk menyelenggarakan ketertiban hukum dan menjamin kesejahteraan umum”.

Adapun Simons masih dalam buku yang sama merumuskan strafbaarfeit adalah52:

“Suatu handeling (tindakan/perbuatan) yang diancam dengan pidana oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum (onrechtimag) dilakukan dengan kesalahan (schuld) oleh seseorang yang mampu bertanggungjawab”.

Berbagai pendapat ahli mendefinisikan mengenai strafbaarfeit dengan istilah delik, antara lain Zainal Abidin Farid yang mengartikan strafbaarfeit dengan kata delik dengan alasan bahwa istilah yang paling tepat karena dianggap lebih singkat efisien dan bersifat universal. Sedangkan Moelijanto beralasan menggunakan istilah

51 E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta : Alumni AHM-PTHM, 1982), hlm. 205.

52 Ibid., hlm. 205.

“perbuatan pidana” karena kata “perbuatan” lazim dipergunakan dalam percakapan sehari-hari seperti kata perbuatan cabul, kata perbuatan jahat, dan kata perbuatan melawan hukum.53

Menurut Amir Ilyas dalam bukunya, mengelompokkan ke dalam 5 (lima) kelompok istilah yang lazim digunakan oleh beberapa sarjana hukum, sebagai berikut54:

1. “Peristiwa pidana” digunakan oleh Andi Zainal Abidin Farid (1962: 32), Rusli Efendi (1981: 46), Utrecht (Sianturi 1986: 206) dan lain-lainya;

2. “Perbuatan pidana “ digunakan oleh Moejanto(1983 : 54) dan lain-lain;

3. “Perbuatan yang boleh di hukum” digunakan oleh H.J.Van Schravendijk (Sianturi 1986 :206) dan lain-lain;

4. “Tindak pidana” digunakan oleh Wirjono Projodikoro (1986 : 55), Soesilo (1979 :26) dan S.R Sianturi (1986 : 204) dan lain-lain;

5. “Delik”digunakan oleh Andi Zainal Abidin Farid (1981 : 146 dan Satochid Karta Negara (tanpa tahun : 74) dan lain-lain.

Berbagai pendapat-pendapat ahli mengenai tindak pidana dapat disimpulkan bahwa tindak pidana adalah suatu perbuatan yang diatur didalam undang-undang dan dapat dikenakan sanksi pidana. Dari definisi tersebut perbuatan yang dapat dikenakan sanksi pidana adalah perbuatan yang sebelumnya diatur dalam undang-undang.

Mengenai dapat atau tidaknya suatu perbuatan dikenakan sanksi pidana dalam ilmu hukum pidana dikenal dengan “Asas Legalitas”. Dalam prinsip asas legalitas tidak ada suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan sanksi pidana apabila belum diatur dalam undang-undang terlebih dahulu. Dalam hukum belanda asas legalitas dikenal dengan istilah nullum delictum, nulla poena sine praevia lege seperti yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP adalah sesuatu peristiwa tidak dapat dikenai

53 Amir Ilyas, Op.cit., hlm. 21.

54 Ibid.

hukuman, selain atas kekuatan peraturan undang-undang pidana yang mendahuluinya”.55

Dari penjelasan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP mengandung tiga pokok pengertian yakni56:

1. “Tidak ada suatu perbuatan yang dapat dipidana (dihukum) apabila perbuatan tersebut tidak diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan sebelumnya/terlebih dahulu, jadi harus ada aturan yang mengaturnya sebelum orang tersebut melakukan perbuatan;

2. Untuk menentukan adanya peristiwa pidana (delik/tindak pidana) tidak boleh menggunakan analogi; dan

3. Peraturan-peraturan hukum pidana/perundang-undangan tidak boleh berlaku surut”.

1. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Dari istilah strafbaarfeit yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa untuk mengetahui suatu tindak pidana, pada umumnya perbuatan tersebut telah dirumuskan dalam perundang-undangan sebagai perbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Dalam perundang-undangan tersebut, terdapat syarat-syarat tertentu yang mengatur tentang perbuatan itu sehingga dengan jelas membedakannya dengan perbuatan-perbuatan lain yang tidak dilarang.

KUHP merumuskan mengenai subjek yang menjadikan manusia sebagai oknum dari suatu tindak pidana dengan kualifikasi-kualifikasi tertentu. Jadi status dari kualifikasi seorang petindak harus ditentukan apakah ia salah seorang dari

“barangsiapa”, atau seseorang dari golongan tertentu. Penentuan kualifikasi subjek dalam unsur tindak pidana ini sangat penting mengingat penetapan jenis pidana

55 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP, (Bogor : Politeia, 1995), hlm.

27.

56 Amir Ilyas, Op.cit., hlm. 13.

sesuai dengan kapasitas yang dimiliki si pelaku tindak pidana dapat dibagi menjadi 2 (dua) unsur, yaitu unsur subyektif dan unsur objektif.57 Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau berhubungan dengan diri si pelaku termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur subyektif dari suatu tindak pidana adalah58:

a. “Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus dan culpa);

b. Maksud dan voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP;

c. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnnya di dalam kejahatan pencurian, pemerasan dan lain-lain;

d. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedchteraad seperti misalnya dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP;

e. Perasaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP”.

Unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubunganya dengan keadaan-keadaan dimana tindakan-tindakan dari pelaku itu harus dilakukan. Unsur objektif dari suatu tindak pidana itu adalah59 :

a. “Sifat melawan hukum atau weddrechtelijkheid;

b. Kualitas dan pelaku, misalnya keadaan sebagai pegawai negeri didalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP;

c. Kualitas, yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat dari tindak pidana”.

Selain dari sudut pandang subjektif dan objektif tersebut, beberapa sarjana hukum mengemukakan pendapatnya mengenai unsur-unsur tindak pidana, antara lain Loebby Luqman yang merumuskan unsur-unsur tindak pidana meliputi60:

57 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta : Rineka Cipta, 2008), hlm. 69.

58 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Jakarta : Citra Aditya Bakti, 1997), hlm. 193.

59 Ibid.

a. “Perbuatan manusia baik aktif maupun pasif.

b. Perbuatan itu dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang.

c. Perbuatan itu dianggap melawan hukum.

d. Perbuatan tersebut dapat dipersalahkan.

e. Pelakunya dapat dipertanggungjawabkan”.

2. Jenis Tindak Pidana

Kejahatan dan pelanggaran adalah merupakan suatu jenis tindak pidana.

Pendapat mengenai pembedaan 2 (dua) delik tersebut antara lain pembedaan kualitatif, perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, dan terlepas apakah perbuatan tersebut diancam oleh undang-undang atau tidak dan perbuatan yang dirasakan oleh masyarakat. Pelanggaran adalah suatu tindakan dimana orang baru menyadari hal tersebut merupakan tindak pidana karena perbuatan tersebut tercantum dalam undang-undang. Istilahnya disebut wetsdelict (delik undang-undang dianut dalam Buku III KUHP Pasal 489 s.d. Pasal 569). Contoh pencurian (Pasal 362 KUHP), pembunuhan (Pasal 338 KUHP), perkosaan (Pasal 285 KUHP).

Kejahatan meskipun perbuatan tersebut tidak dirumuskan dalam undangundang menjadi tindak pidana tetapi orang tetap menyadari perbuatan tersebut adalah kejahatan dan patut dipidana. Istilah disebut rechtdelict (delik hukum) dimuat didalam Buku II KUHP Pasal 104 s.d. Pasal 447. Contohnya mabuk ditempat umum (Pasal 492 KUHP dan Pasal 536 KUHP) dan lain-lain.

3. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana

Manusia merupakan mahluk yang tidak lepas dari perbuatan penyimpangan terhadap norma-norma terutama norma hukum. Banyaknya kejahatan yang terjadi

60 Amir Ilyas, Op.cit., hlm. 47.

merupakan suatu permasalahan yang harus diselesaikan oleh pemerintah sehingga asas kedamaian dalam suatu Negara dapat terwujud. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya suatu tindak pidana adalah adanya faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam diri si pelaku, maksudnya bahwa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan suatu kejahatan timbul dari dalam diri si pelaku yang didasari oleh faktor keturunan dan kejiwaan (penyakit jiwa)

b. Faktor yang berasal dari luar pribadi si pelaku. Maksudnya adalah bahwa yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan sebuah kejahatan itu timbul dari luar diri si pelaku itu sendiri. Contohnya adanya tekanan keuangan dan faktor rumah tangga, dan lain-lain.

Pembunuhan merupakan suatu tindakan kejahatan yang dilakukan terhadap nyawa. Tindak Pidana Pembunuhan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Dengan kata lain, tindak pidana ini melihat terpenuhinya akibat yang dilarang atau yang tidak dikehendaki undang-undang untuk dapat dikatakan selesainya delik ini. Delik pembunuhan adalah suatu tindakan untuk menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang melanggar hukum, pembunuhan biasanya dilatarbelakangi oleh macam-macam motif misalnya politik, kecemburuan, dendam, membela diri dan sebagainya. KUHP mengatur mengenai pembunuhan dalam Buku ke-II Bab ke-XIX yang terdiri dari 13 (tiga belas) pasal, yakni dari Pasal 338 hingga Pasal 350 dan jika dilihat dari obyeknya, kejahatan

terhadap nyawa orang pada umumnya dimuat dalam Pasal 338, Pasal 339, Pasal 340, Pasal 344, dan Pasal 345 KUHP.61

B. Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana

Dalam penegakan hukum, pembuktian merupakan hal yang mendasar perlu dikumpulkan oleh penegak hukum untuk melengkapi pemberkasannya dan selanjutnya bagi JPU untuk membuktikan dakwaannya. Fungsi dari barang bukti dalam sidang pengadilan adalah :

1. Menguatkan kedudukan alat bukti yang sah;

2. Mencari dan menemukan kebenaran materiil atas perkara sidang yang ditangani;

3. Setelah barang bukti menjadi penunjang alat bukti yang sah, maka barang bukti tersebut dapat menguatkan keyakinan hakim atas kesalahan yang didakwakan JPU.

1. Barang Bukti Yang Digunakan Dalam Acara Pidana di Indonesia

Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) memang tidak menyebutkan secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan barang bukti. Namun dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, yaitu :

a. “Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;

61 R. Soesilo, Op.cit., hlm. 241.

b. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;

c. Benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana;

d. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;

e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan”.

Menurut Ratna Nurul Afiah, benda-benda yang dapat disita seperti yang disebutkan dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP dapat disebut sebagai barang bukti.62 Selain itu di dalam Het Herziene Inlandcsh Reglement (“HIR”) juga terdapat perihal barang bukti. Dalam Pasal 42 HIR disebutkan bahwa : “Para pegawai, pejabat atau pun orang-orang berwenang diharuskan mencari kejahatan dan pelanggaran kemudian selanjutnya mencari dan merampas barang-barang yang dipakai untuk melakukan suatu kejahatan serta barang-barang yang didapatkan dari sebuah kejahatan”. Penjelasan Pasal 42 HIR menyebutkan : “Barang-barang yang perlu di-beslag di antaranya63 :

a. “Barang-barang yang menjadi sasaran tindak pidana (corpora delicti);

b. Barang-barang yang terjadi sebagai hasil dari tindak pidana (corpora delicti);

c. Barang-barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana (instrumenta delicti);

d. Barang-barang yang pada umumnya dapat dipergunakan untuk memberatkan atau meringankan kesalahan terdakwa (corpora delicti)”.

Selain dari pengertian-pengertian yang disebutkan oleh kitab undang-undang di atas, pengertian mengenai barang bukti juga dikemukakan dengan doktrin oleh

62 Ratna Nurul Afiah, Op.cit., hlm. 14.

63 Het Herziene Inlandsch Reglement (HIR) / Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui (RIB), Staatsblad 1848 No. 16, Staatsblad 1941 No. 44.

beberapa sarjana hukum. Andi Hamzah mengatakan : “Barang bukti dalam perkara pidana adalah barang bukti mengenai mana delik tersebut dilakukan (objek delik) dan barang dengan mana delik dilakukan (alat yang dipakai untuk melakukan delik), termasuk juga barang yang merupakan hasil dari suatu delik”.64 Ciri-ciri benda yang dapat menjadi barang bukti65 :

a. “Merupakan objek materiil;

b. Berbicara untuk diri sendiri;

c. Sarana pembuktian yang paling bernilai dibandingkan sarana pembuktian lainnya;

d. Harus diidentifikasi dengan keterangan saksi dan keterangan terdakwa”.

Menurut Martiman Prodjohamidjojo, “barang bukti atau corpus delicti adalah barang bukti kejahatan”.66 Dalam Pasal 181 KUHAP, “Majelis hakim wajib memperlihatkan kepada terdakwa segala barang bukti dan menanyakan kepadanya apakah ia mengenali barang bukti terebut”. Jika dianggap perlu, hakim sidang memperlihatkan barang bukti tersebut. Ansori Hasibuan berpendapat barang bukti adalah barang yang digunakan oleh terdakwa untuk melakukan suatu delik atau sebagai hasil suatu delik, disita oleh penyidik untuk digunakan sebagai barang bukti pengadilan.67

64 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi ke-2, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006), hlm. 254.

65 Ibid.

66 Martiman Prodjohamidjojo, Pemerataan Keadilan Penangkapan dan Penahanan, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988), hlm. 161.

67 Ansori Hasibuan dan Ruben Ahmad, Hukum Acara Pidana, (Bandung : Angkasa, 1990), hlm. 184.

Berdasarkan pendapat beberapa sarjana hukum di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan barang bukti adalah68 :

a. “Barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana;

b. Barang yang dipergunakan untuk membantu melakukan suatu tindak pidana;

c. Benda yang menjadi tujuan dari dilakukannya suatu tindak pidana;

d. Benda yang dihasilkan dari suatu tindak pidana;

e. Benda tersebut dapat memberikan suatu keterangan bagi penyelidikan tindak pidana tersebut, baik berupa gambar ataupun berupa rekaman suara;

f. Barang bukti yang merupakan penunjang alat bukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu perkara pidana. Tetapi kehadiran suatu barang bukti tidak mutlak dalam suatu perkara pidana, karena ada beberapa tindak pidana yang dalam proses pembuktiannya tidak memerlukan barang bukti, seperti tindak pidana penghinaan secara lisan (vide : Pasal 310 ayat [1] KUHP)”.

Bila dibandingkan dengan sistem Common Law seperti di Amerika Serikat, alat-alat bukti tersebut sangat berbeda. Dalam Criminal Procedure Law Amerika Serikat, yang disebut forms of evidence atau alat bukti adalah : real evidence, documentary evidence, testimonial evidence dan judicial notice. Dalam sistem Common Law ini, real evidence (barang bukti) merupakan alat bukti yang paling bernilai. Padahal real evidence atau barang bukti ini tidak termasuk alat bukti menurut hukum acara pidana di Indonesia.69

68 Ratna Nurul Afiah, Op.cit., hlm. 19.

69 Andi Hamzah, Op.cit.

2. Alat Bukti Dalam Hukum Acara Pidana

Pembuktian merupakan bagian yang sangat penting dalam hukum acara terutama hukum acara pidana.70 Hal itu disebabkan karena pembuktian sangat berkaitan erat dengan benar atau tidak perbuatan seorang terdakwa yang disangkakan melakukan tindak pidana. Pembuktian dalam hukum acara pidana dianggap sebagai proses yang bernilai sejati karena kebenaran yang menjadi tujuannya ialah kebenaran materil. Artinya, hakim harus aktif dalam melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa sehingga peristiwanya harus terbukti (beyond reasonable doubt).71

Alat bukti yang sah untuk diajukan di depan persidangan, sebagaimana diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah :

a. “Keterangan saksi;

b. Keterangan ahli;

c. Surat;

d. Petunjuk;

e. Keterangan terdakwa”.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan sebuah pengertian alat bukti adalah sebuah atau beberapa jenis benda atau alat yang dapat digunakan untuk membuktikan peristiwa atau tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang atau lebih bahkan oleh korporasi.

Selanjutnya, terkait alat bukti dalam hukum acara pidana telah ada dipaparkan di atas untuk penjelasannya akan diuraikan, sebagai berikut :

70 Eddy O.S. Hiariej, Teori & Hukum Pembuktian, (Jakarta : Erlangga, 2012), hlm. 16.

71 Andi Sofyan dalam Parlindungan T. Saragih, “Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”, USU Law Journal, Vol. 6, No. 2, April 2018, hlm. 22.

a. Keterangan saksi

Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang merupakan keterangan saksi atas suatu peristiwa yang ia (saksi)kan dengar sendiri, ia lihat sendiri,ia alami sendiri ,dengan menyebut alasan daripada pengetahuannya itu.72 Keterangan saksi supaya dapat di pakai sebagai alat bukti yang sah harus memiliki dua syarat:

1) Syarat formil yaitu bahwa keterangan saksi baru dapat di anggap sah apabila ia di berikan di bawah sumpah.

2) Syarat materil yaitu bahwa keterangan seorang saksi saja tidak dapat di pakai sebagai alat pembuktian yang sah, akan tetapi keterangan seorang saksi adalah cukup untuk alat membuktikan salah satu unsur kejahatan yang di tuduhkan.

Saksi dalam perkara pidana adalah menjadi kewajiban daripada setiap orang.

Oleh karena itu orang yang menolak memberikan keterangan sebagai seorang saksi dalam suatu perkara pidana dapat di hadapkan ke sidang pengadilan.73

b. Keterangan ahli

Keterangan ahli adalah keterangan yang di berikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang di perlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.74 Sedangkan, menurut Pasal 166 KUHAP keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan. Keterangan ahli itu dapat juga diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum

72 Pasal 185 KUHAP.

73 Pasal 159 ayat (2) KUHAP.

74 Pasal 1 angka 26 KUHAP.

yang dituangkan dalam bentuk laporan dan dibuat mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan.

c. Surat

Tentang alat bukti surat di atur dalam Pasal 187 KUHAP sebagai berikut : 1) “Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat

umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangan itu.

2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-uandangan atau surat yang di buat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggungjawabnya dan diperuntukkan bagi pembuktian.

3) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal yang atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.

4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain”.

d. Petunjuk

Tentang petunjuk sebagai alat bukti di atur dalam Pasal 198 KUHAP sebagai berikut: “Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuainnya, baik antara satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri”.

1) Petunjuk sebagaimana hanya dapat di peroleh dari : a) Keterangan saksi

b) Surat

c) Keterangan terdakwa

2) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu di lakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah

2) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu di lakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah