• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN HUKUM ACARA PIDANA DALAM

D. Penggunaan Alat Berteknologi Tinggi Untuk

Perluasan Alat Bukti Sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Dalam tingkat penyelidikan dan penyidikan, terkait dengan pengambilan informasi elektronik dari provider belum ada peraturan pelaksanaannya. Jika, berangkat dari Pasal 184 KUHAP, maka informasi elektronik tidak termasuk ke dalam alat bukti yang sah. Namun, apabila berangkat dari Pasal 5 ayat (2) UU ITE dan Penjelasannya, maka informasi elektronik dikategorikan sebagai “perluasan alat bukti yang sah”. Informasi elektronik (dhi. Cell Data Record) yang didapat dari provider, selanjutnya pegawai dari provider tersebut akan diperiksa sebagai ahli yang menerangkan Cell Data Record tersebut sebagai informasi elektronik. Terkait dengan informasi elektronik berupa hasil cloning handphone dari Cellebrite UFED 4PC dapat dicetak menjadi alat bukti surat yang dalam perspektif UU ITE disebut “data elektronik”.

Data elektronik ini yang didapat tersebut juga harus dijelaskan oleh ahli digital forensik agar menjadi bukti yang sah berdasarkan Pasal 184 KUHAP dan Pasal 5 ayat (2) UU ITE beserta Penjelasannya. Ahli yang menjelaskan alat bukti digital (digital evidence) tersebut, harus membuat laporan terhadap analisis yang dilakukannya. Laporan inilah yang dilampirkan menjadi bukti surat berdasarkan Pasal

184 KUHAP. Selain itu, laporan ahli digital forensik ini juga dapat digunakan di depan persidangan, jika perkara sudah memasuki tahap penuntutan di pengadilan.

Dalam hal bukti-bukti yang digunakan adalah bukti digital (digital evidence), maka dibutuhkan ahli forensik untuk memaparkannya di hadapan majelis hakim.

Kegiatan yang dilakukan penyidik untuk membeberkan hasil temuannya kepada pihak berwajib atau di pengadilan. Biasanya presentasi data dilakukan oleh seorang ahli forensik untuk menjelaskan hal-hal yang sulit dipahami oleh kalangan umum, sehingga data-data tersebut dapat membantu proses penyidikan untuk menemukan tersangkanya.114

Presentasi ini ini secara umum dibagi menjadi beberapa bagian penjelasan, sebagai berikut115 :

1. “Judul: Memuat judul pemeriksaan yang dilengkapi dengan nomor pemeriksaan di laboratorium.

2. Pendahuluan: Memuat nama-nama analisis forensik yang melakukan pemeriksaan dan analisis secara digital forensik terhadap barang bukti eletronik. Di samping itu, bab ini juga memuat tanggal/waktu pemeriksaan.

3. Barang Bukti: Memuat jumlah dan jenis barang bukti eletronik yang diterima untuk dilakukan pemeriksaan dan analisis. Ini juga termasuk data tentang spesifikasi teknis dan barang bukti tersebut seperti merek, model, serial/product number, serta ukuran kapasitas dari media penyimpanan seperti harddisk dan flashdisk. Nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity) untuk jenis barang bukti berupa handphone/smartphone, dan nomor ICCID (Integrated Circuit Card ID) untuk barang bukti berupa simcard yang merupakan data administrasi yang berasal dari provider seluler.

4. Maksud Pemeriksaan: Memuat nama lembaga pengirim barang bukti eletronik berikut surat tertulis yang berisikan maksud permintaan untuk pemeriksaan dana analisis barang bukti tersebut secara digital forensik.

114 Ibid., hlm. 67.

115 Ibid.

Maksud permintaan ini harus dimintakan kembali penjelasan secara detail oleh analisis forensik kepada investigator, sekaligus analisis forensic meminta investigator untuk memaparkan secara singkat dan jelas fakta-fakta kasus yang diinvestigasi.

5. Prosedur Pemeriksaan: Menjelaskan tahapan-tahapan yang dilakukan selama proses pemeriksaan dan analisis barang bukti tersebut secara digital forensic. Sebaiknya penjelesan panjang mengenai tahapan tersebut yang akan ditulis dalam laporan, diringkas menjadi SOP (Standard Operasional Prosedur) yang baku dan lengkap. Misalnya DFAT (Digital Forensic Analyst Team) Puslabfor Bareskrim Polri memiliki sejumlah SOP, antara lain :

a. SOP 1 tentang Prosedur Analisa Forensik Digital;

b. SOP 2 tantang Komitmen Jam Kerja;

c. SOP 3 tentang Pelaporan Forensik Digital;

d. SOP 4 tentang Menerima Barang Bukti Elektronik Dan/Atau Digital;

e. SOP 5 tentang Penyerahan Kembali Barang Bukti Elektronik Dan/Atau Digital;

f. SOP 6 tentang Triage Forensik (Penanganan Awal Barang Bukti Komputer di TKP);

g. SOP 7 tentang Akuisisi Langsung;

h. SOP 8 tentang Akuisisi Harddisk, Flashdisk dan Memory Card;

i. SOP 9 tentang Analisa Harddisk, Flashdisk dan Memory Card;

j. SOP 10 tentang Akuisisi Ponsel dan Simcard;

k. SOP 11 tentang Analisa Ponsel dan simcard;

l. SOP 12 tentang Analisa Forensik Audio;

m. SOP 13 tentang Analisa Forensik Video;

n. SOP 14 tentang Analisa Gambar Digital;

o. SOP 15 tentang Analisa Forensik Jaringan;

6. Kendala: Menjelaskan masalah dalam kasus tersebut dan kendala hukum untuk memeriksa bukti yang tersedia. Jaksa harus memastikan bahwa ahli memahami bagaimana aturan bukti dan prosedur mempengaruhi diterimanya, discoverability, dan kegunaan dari pengamatan ahli dan kesimpulan.

7. Hasil Pemeriksaan: Memuat data digital yang berhasil di-recovery dari image file yang kemudian di analisis lebih detail dan dikonfirmasi dengan investigator untuk memastikan sesuai dengan investigasi yang sedang berlangsung.

8. Kesimpulan: Memuat ringkasan yang disarikan dari hasi pemeriksaan diatas.

9. Penutup: Menjelaskan bahwa proses pemeriksaan dan analisis dilakukan dengan sebenar-benarnya tanpa ada rekayasa dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah”.

Hasil pemeriksaan untuk tiap-tiap barang bukti tersebut dalam suatu laporan teknis. Bentuk dari laporan tersebut adalah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Laboratoris Kriminalistik yang bersifat “pro-justisia” sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti hukum yang sah di pengadilan. Dikarenakan sifatnya resmi, maka BAP tersebut dapat dikeluarkan jika ada permintaan secara tertulis dari satuan kerja yang menyerahkan barang bukti elektronik untuk diperiksa, dimana surat tersebut ditujukan kepada Kepala Puslabfor (Pusat Laboratorium Forensik). Karena BAP tersebut pada akhirnya akan dibawa ke persidangan/pengadilan, maka gaya bahasa yang digunakan dalam laporan harus sesederhana mungkin tanpa menghilangkan makna esensialnya. Hal ini dimaksudkan agar majelis hakim, jaksa penuntut umum dan/atau penasihat hukum terdakwa dapat memahami secara benar proses dan hasil pemeriksaan/analisa digital forensik. Mereka bukan seorang ahli digital forensik yang bisa memahami tentang digital forensik secara menyeluruh.

Dengan demikian, digital forensik merupakan teknik ilmiah yang meneliti perangkat digital dalam membantu pengungkapan berbagai macam kasus kejahatan.

Tahapan-tahapan yang dilakukan pada digital forensik, meliputi : 1. Penanganan di awal TKP

2. Penanganan di Laboratorium 3. Pembuatan Laporan

4. Presentasi di Pengadilan

Pada dasarnya penggunaan data elektronik maupun informasi elektronik sebagai bukti digital (digital evidence) dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana adalah untuk pemenuhan 2 (dua) alat bukti yang cukup sesuai dengan Pasal 184 KUHAP. Hal ini agar pelaku dapat diajukan ke depan persidangan peradilan pidana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Terkait dengan penggunaan alat bukti digital dalam perkara pembunuhan berencana adalah untuk membuat terang dan jelas suatu peristiwa pidana.

Kegunaannya adalah untuk menemukan otak pelaku pembunuhan yang biasanya, penyidik kesulitan untuk membuktikan keterkaitan antara eksekutor dengan otak pelaku (orang yang menyuruh melakukan).

BAB III

PROSEDUR PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM PROSES PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN KASUS PEMBUNUHAN

A. Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Pembunuhan

Adapun tujuan dari Peraturan Kepala Kepolisian RI No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana dan Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini :

Tabel 3

Tujuan dan Prinsip-Prinsip Peraturan Kepala Kepolisian RI No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana dan Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun

2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana PERKAP NO. 14/2012 PERKABARESKRIM NO. 3/2014 TUJUAN a. Sebagai pedoman dalam

b. agar penyidik dan tim/unit kerja terkait mengetahui tentang tugas, fungsi dan

PRINSIP a. legalitas, yaitu proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan sesuai

fungsi, peran dan tanggung jawabnya;

8. asas kepatutan, kecuali dalam hal diatur dalam undang-undang lain;

9. memperhatikan etika profesi kepolisian.

Sumber : Peraturan Kepala Kepolisian RI No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana dan Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

Dalam pelaksanaan penyidikan tindak pidana pembunuhan berencana oleh Sat.Reskrim Polrestabes Medan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku. Jika, tidak sesuai prosedur maka terdapat ancaman dari pihak pelapor maupun terlapor berupa gugatan pra-peradilan.116

Dengan demikian, dasar hukum pelaksanaan penyidikan tindak pidana pembunuhan berencana di Polrestabes Medan adalah : KUHAP, UU Polri, Perkap No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, dan Perkap Bareskrim No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan

116 Menurut Pasal 1 angka 10 KUHAP, bahwa : “Praperadilan adalah wewenang hakim untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang tentang : a. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka; b. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan; c. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan”.

Penyidikan Tindak Pidana. Dalam hal Polrestabes Medan menangani perkara tindak pidana pembunuhan berencana, berdasarkan ketentuan SOP Lidik Sidik Tindak Pidana yang berlaku dimulai dari : penerimaan laporan polisi s.d. pelimpahan berkas perkara berikut tersangka dan barang bukti kepada Kejaksaan Negeri Medan. Tolok ukur dari keberhasilan penanganan perkara tindak pidana pembunuhan berencana adalah dinyatakannya berkas perkara lengkap (P-21) oleh Jaksa Peneliti Pada Kejaksaan Negeri Medan.117

1. Penerimaan Laporan Polisi

Berdasarkan Pasal 1 angka 24 KUHAP, laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana. Laporan merupakan suatu bentuk pemberitahuan kepada pejabat yang berwenang bahwa telah ada atau sedang atau diduga akan terjadinya sebuah peristiwa pidana/kejahatan. Artinya, peristiwa yang dilaporkan belum tentu perbuatan pidana, sehingga dibutuhkan sebuah tindakan penyelidikan oleh pejabat yang berwenang terlebih dahulu untuk menentukan perbuatan tersebut merupakan tindak pidana atau bukan.118

117 Wawancara dengan AKP. Rafles Langgak Putra, S.Ik., Kanit Ekonomi Sat.Reskrim Polrestabes Medan di Medan pada hari Selasa, tanggal 17 September 2019.

118 Pasal 1 angka 5 KUHAP.

Tabel 4

Terbatas jangka waktu 6 bulan, apabila waktu kejadian korban berada di Dalam Negeri.

Jangka waktu 9 bulan, apabila korban berada di Luar Negeri (sesuai Pasal 74 KUHP). Pidana Disertai Pembahasan Beberapa Perbuatan Pidana Yang Penting, (Djakarta : Tiara Limited, 1959); dan Website Resmi HukumOnline.com, “Perbedaan Pengaduan

Dengan Pelaporan”,

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4f8ead4dd8558/penggelapan-sudah-1-tahun., diakses pada hari Selasa, tanggal 17 September 2019.

Laporan Polisi atau disebut juga Laporan Pengaduan, terdiri dari : Laporan Polisi Model A dan Laporan Polisi Model B. Laporan Polisi Model A adalah Laporan Polisi yang dibuat oleh anggota Polri yang mengalami, mengetahui atau menemukan langsung peristiwa yang terjadi. Laporan Polisi Model B adalah Laporan Polisi yang dibuat oleh anggota Polri atas laporan/pengaduan yang diterima dari masyarakat.

Standar Operasional Prosedur Penerimaan Laporan Polisi tercantum dalam lampiran

“A” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Perkap Bareskrim No. 3 Tahun

2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.119

2. Melakukan Penyelidikan

Penyelidikan dalam rangka penyidikan tindak pidana, dilakukan sebelum dan setelah adanya laporan polisi dan/atau pengaduan. Penyidik setelah menerima laporan/pengaduan segera mencari keterangan dan barang bukti yang terkait dengan tindak pidana yang dilaporkan/diadukan. Penyelidikan harus menjunjung tinggi objektivitas, berdasarkan fakta. Penyidik dalam melaksanakan tugas penyelidikan, wajib dilengkapi dengan surat perintah.

Penyidik dalam melaksanakan pengolahan dan pengamanan TKP wajib dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memberdayakan fungsi pendukung. Dalam melaksanakan penyelidikan harus dibuat rencana penyelidikan sebagai pendukung dan pedoman dalam pelaksanaan penyelidikan.120

Penyelidikan dilakukan melalui kegiatan121 : 1) “Pengolahan TKP;

2) Pengamatan;

3) Wawancara;

4) Pembuntutan;

5) Penyamaran;

6) Pelacakan;

7) Penelitian dan analisa dokumen”.

119 Pasal 4 Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

120 Pasal 5 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

121 Pasal 5 ayat (7) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

Hasil penyelidikan disampaikan kepada pimpinan yang memuat analisa ada tidaknya tindak pidana dalam laporan atau pengaduan. Pelaksanaan penyelidikan lebih rinci diatur dalam Standar Operasional Prosedur penyelidikan tercantum dalam Lampiran “B” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.122

3. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP)

SPDP merupakan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan dari penyidik kepada Jaksa Penuntut Umum, yang dibuat dan dikirimkan setelah terbit surat perintah penyidikan. Dalam hal, SPDP telah dikirimkan ke Jaksa Penuntut Umum dan batas waktu kewajiban penyidik mengirim berkas perkara tahap pertama tidak terpenuhi, maka penyidik menyampaikan pemberitahuan perkembangan kasus kepada jaksa penuntut umum. SPDP sekurang-kurangnya memuat123 :

a. “Dasar penyidikan berupa laporan polisi dan surat perintah penyidikan;

b. Waktu dimulainya penyidikan;

c. Jenis perkara, pasal yang dipersangkakan dan uraian singkat tindak pidana yang disidik;

d. identitas penyidik yang menandatangani SPDP”.

122 Pasal 5 ayat (8) dan (9) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

123 Pasal 6 Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

4. Upaya Paksa

Upaya paksa yang dilakukan meliputi124 : 1) “Pemanggilan;

2) Penangkapan;

3) Penahanan;

4) Penggeledahan;

5) Penyitaan dan pemeriksaan surat”.

Tindakan upaya paksa wajib dilengkapi dengan surat perintah kecuali dalam hal kasus tertangkap tangan. Sebelum melakukan upaya paksa, penyidik membuat rencana tindakan sebagai pendukung dan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan upaya paksa dan setelah pelaksanaan membuat berita acara serta melaporkan kepada pimpinan. Upaya paksa yang dilakukan, memperhatikan asas dan prinsip hukum acara pidana. Untuk menghindari adanya penyimpangan dalam upaya paksa, maka wajib dilakukan pengawasan oleh pimpinan. Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan pemanggilan, penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan tercantum dalam lampiran “C”, “D”, “E”, “F”, “G” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.125

124 Pasal 7 ayat (1) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

125 Pasal 7 ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

5. Pemeriksaan

Dalam melaksanakan pemeriksaan, penyidik memperhatikan norma hukum, antara lain126 :

1) “Etis, humanis, dan memegang prinsip etika profesi penyidikan;

2) Hak dan kewajiban hukum bagi yang diperiksa (saksi, ahli, tersangka);

3) Berdasarkan fakta hukum”.

Kegiatan pemeriksaan, meliputi127 : 1) “Pemeriksaan saksi;

2) Pemeriksaan ahli;

3) Pemeriksaan tersangka;

4) Pemeriksaan dan penelitian dokumen dan surat-surat;

5) Pemeriksaan terhadap alat bukti digital, dan sebagainya”.

Sebelum melakukan pemeriksaan penyidik membuat rencana pemeriksaan.

Pemeriksaan terhadap ahli diperlukan dalam kasus tertentu. Untuk menghindari penyimpangan dalam pemeriksaan, wajib dilakukan pengawasan oleh pimpinan.

Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Pemeriksaan saksi, Pemeriksaan ahli, Pemeriksaan tersangka, Pemeriksaan dan penelitian dokumen dan surat – surat, Pemeriksaan alat bukti digital tercantum dalam lampiran “H” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.128

126 Pasal 8 ayat (1) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

127 Pasal 8 ayat (2) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

128 Pasal 8 ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

6. Gelar Perkara

Pelaksanaan Gelar perkara terdiri dari : a. gelar perkara Biasa; dan b. gelar perkara Khusus. Gelar perkara dilaksanakan dalam rangka mendukung efektivitas penyidikan dan pengawasan penyidikan. Gelar perkara dilaksanakan dalam rangka mengefektifkan tugas dan peran pengawas penyidik dan atasan penyidik. Gelar perkara dilaksanakan dalam rangka klarifikasi pengaduan masyarakat (public complain) sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat (public trush) terhadap penegak hukum dan adanya kepastian hukum. Gelar perkara dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dalam proses penyidikan dan bukan intervensi pimpinan.

Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan gelar perkara tercantum dalam lampiran

“I” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Bareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.129

7. Penyelesaian Berkas Perkara

Penyelesaian berkas perkara meliputi dua tahapan yaitu pembuatan resume berkas perkara dan pemberkasan. Resume berkas perkara harus diselesaikan dengan sistematika yang baku dan memuat antara lain dasar penyidikan, uraian perkara dan fakta, analisa kasus dan yuridis serta kesimpulan. Berkas perkara diselesaikan sesuai dengan waktu dan tingkat kesulitan perkara. Dalam hal penyidik mengalami hambatan sangat sulit dalam penyidikan maka ketentuan waktu dapat diabaikan.

129 Pasal 9 Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

Untuk kepentingan administrasi penyidikan, resume berkas perkara ditandatangani oleh penyidik dan pengantar berkas perkara ditanda-tangani oleh atasan penyidik.130

Penyidikan yang dilakukan oleh PPNS wajib dikirimkan ke penyidik Polri untuk diteliti aspek formil dan materiil yuridis serta pengembangan kasusnya sebelum dilimpahkan ke JPU sesuai Perkap No. 6 Tahun 2008 tentang Manajemen Penyidikan PPNS dan SOP terlampir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana. Untuk kepentingan tertib administrasi penyidikan secara nasional dan kepentingan akses informasi publik maka penyidik wajib menginput data administrasi penyidikannya yang ditangani ke Sistem Pusat Informasi Kriminal Nasional (Sispiknas) dengan mempedomani Perkap No. 15 Tahun 2010 tentang Piknas dan SOP terlampir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana. Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Ketentuan tentang sistematika berkas, isi dan lampirannya serta waktu penyelesaian tercantum dalam lampiran “J” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.131

130 Pasal 10 Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

131 Pasal 10 Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

8. Penghentian Penyidikan

Penyidikan dapat dihentikan jika tidak cukup bukti, bukan tindak pidana, demi hukum (kadaluarsa, nebis in idem, tersangka meninggal dunia, pengaduan dicabut dalam kasus delik aduan). Pengambilan keputusan penghentian penyidikan didasarkan hasil penyidikan dan telah digelar sesuai ketentuan. Pelaksanaan penghentian penyidikan, penyidik menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penyidikan (SKP2) dan ditindaklanjuti dengan mengirimkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) kepada jaksa penuntut umum, tersangka dan pelapor.

SKP2 dapat dibuka kembali melalui putusan sidang praperadilan dan/atau ditemukan bukti baru melalui gelar perkara dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pencabutan Penghentian Penyidikan (SKP3). Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Ketentuan tentang penghentian penyidikan tercantum dalam lampiran “K” yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.132

Penghentian penyidikan merupakan kewenangan dari penyidik yang diatur dalam Pasal 109 ayat (2) KUHAP. Alasan-alasan penghentian penyidikan diatur secara limitatif dalam pasal tersebut, yaitu :

1) “Tidak diperoleh bukti yang cukup, yaitu apabila penyidik tidak memperoleh cukup bukti untuk menuntut tersangka atau bukti yang diperoleh penyidik tidak memadai untuk membuktikan kesalahan tersangka.

2) Peristiwa yang disangkakan bukan merupakan tindak pidana.

132 Pasal 11 Peraturan Kabareskrim Polri No. 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana.

3) Penghentian penyidikan demi hukum. Alasan ini dapat dipakai apabila ada alasan-alasan hapusnya hak menuntut dan hilangnya hak menjalankan pidana, yaitu antara lain karena nebis in idem, tersangka meninggal dunia, atau karena perkara pidana telah kedaluwarsa”.

SP3 diberikan dengan merujuk pada Pasal 109 ayat (2) KUHAP, yaitu : 1) “Jika yang menghentikan penyidikan adalah penyidik Polri,

pemberitahuan penghentian penyidikan disampaikan pada penuntut umum dan tersangka/keluarganya

2) Jika yang menghentikan penyidikan adalah penyidik PNS, maka pemberitahuan penyidikan disampaikan pada:

a) Penyidik Polri, sebagai pejabat yang berwenang melakukan koordinasi atas penyidikan; dan

b) Penuntut umum”.

Dalam hal terjadi perdamaian antara pelapor dengan terlapor pada saat penyidikan terkait penanganan perkara tindak pidana pembunuhan berencana, maka perjanjian perdamaian yang dibuat harus ditindaklanjuti dengan permohonan pencabutan laporan pengaduan. Lalu diambil keterangan pelapor dan terlapor untuk konfirmasi apakah benar terjadi perdamaian, bentuknya bagaimana, dan pelaksanaannya bagaimana. Setelah keterangan pelapor dan terlapor tersebut dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan, lalu pelapor juga menyatakan mencabut seluruh keterangannya pada saat pemeriksaan awal sebagai saksi korban. Sehingga hal ini dapat mengurangi bukti berupa kesaksian dari korban.133

Dalam hal bukti berupa kesaksian korban dikurangi, maka alat bukti menjadi berkurang dan lalu dilaksanakan gelar perkara untuk menghentikan penyidikannya

133 Wawancara dengan AKP. Rafles Langgak Putra, S.Ik., Kanit Ekonomi Sat.Reskrim Polrestabes Medan di Medan pada hari Selasa, tanggal 17 September 2019.

dengan mengeluarkan SP3. SP3 tersebut dikeluarkan dengan dasar tidak cukup bukti.134

9. Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP)

Adapun maksud dan tujuan dari dibuatnya SOP SP2HP di Sat.Reskrim Polrestabes Medan adalah untuk penyederhanaan Standar Operasional Prosedur SP2HP yang bertujuan untuk menyamakan persepsi dan pola tindak dalam mekanisme pelaksanaan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan di kalangan penyidik Sat Reskrim Polrestabes Medan dan Polsek Jajaran.135

Adapun tata cara pelaksanaan SP2HP di Sat.Reskrim Polrestabes Medan,

Adapun tata cara pelaksanaan SP2HP di Sat.Reskrim Polrestabes Medan,