• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Keputusan Pembelian

BAB II KERANGKA TEORI

2.3. Keputusan Pembelian

2.3.3. Proses Keputusan Pembelian

Ada beberapa tahap dalam pengambilan keputusan membeli yaitu:

1. Need Recogmition. Dalam pengenalan kebutuhan, atau pengenalan masalah, maka seseorang merasakan adanya stimuli untuk membeli sesuatu. Stimuli ini biasa datang dari dalam (internal), misalnya seseorang merasa lapar atau dorongan dari luar (eksternal), misalnya ingin mentraktir teman, atau karena faktor iklan makanan tertentu.

2. Information Search. Pencarian informasi mengenai mau membeli apa, model bagaimana, dimana, dsb, maka seseorang mencari informasi yang dapat diperoleh dari sumber pribadi seperti famili, teman, tetangga. Dari

sumber komersial seperti iklan, tenaga penjual, melihat display. Dari sumber publik seperti media masa, koran, televisi, radio. Dan dari pengalaman masa lalu, pernah menggunakan suatu produk, atau melihat produk tersebut.

3. Evaluation of alternatives. Evaluasi alternatif, dalam hal ini konsumen sangat berbeda evaluasinya karena tergantung pada pilihan atribut produk, sesuai atau tidak dengan keinginan mereka. Juga konsumen berbeda tingkat pemenuhan kebutuhan mereka, ada yang sangat mendesak, ada yang tidak begitu mendesak, masih bisa ditunda lain kali. Kemudian faktor merek juga sangat menentukan alternatif, karena ada konsumen yang sudah fanatik terhadap suatu merek, sulit beralih ke merek lain.

Akhirnya pertimbangan konsumen ialah kepuasan total terhadap alternatif yang ia ambil. Misalnya terhadap produk TV dinilai gambar, warna, harga. Hotel dinilai lokasi, kebersihan, kenyamanan, harga dsb.

4. Purchase Decision. Keputusan membeli, ini adalah tahap yang harus diambil setelah melalui tahapan di atas. Bila konsumen mengambil keputusan, maka ia akan mempunyai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, merek, kualitas, model, waktu, harga, cara pembayaran, dsb.

5. Postpurchase Behavior, ini sangat ditentukan oleh pengalaman konsumen dalam mengkonsumsi produk yang ia beli. Apakah ia akan puas atau kecewa, jadi tergantung pada jarak ekepektasi dengan kenyataan yang dihadapi. Jika kenyataannya tidak puas, maka ia akan kecewa, jika sesuai antara apa yang ia harapkan dengan yang dialami, berarti puas, dan jika kenyataannya lebih bagus dari diharapkan maka ia akan sangat gembira.

Biasanya ekspektasi konsumen makin besar, karena mendengar cerita penjual, atau karena komentar teman-temannya tentang produk itu sangat bagus, dan apabila tidak benar, maka ia akan sangat kecewa. Oleh sebab itu tidak perlu penjual terlalu berlebihan menyatakan keunggulan produknya, agar jarak antara harapan dan kenyataan yang dialami konsumen tidak terlalu jauh, sehingga konsumen merasa puas, akhirnya terjalin hubungan / relationship yang baik. Kotler & Amstrong, (Alma, 2011:104).

2.4 Hubungan Word of Mouth dengan Keputusan Pembelian

Word of Mouth yang dilakukan perusahaan baik untuk promosi atau memudahkan konsumen seperti mengetahui lebih banyak informasi mengenai produk atau jasa dari seseorang kerabat dekat atau seseorang yang pernah menggunakan produk atau jasa tersebut.

Konsumen memilih Word of Mouth sebagai alat komunikasi untuk mempermudah dalam mengambil keputusan untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk atau jasa.

Adapun gambar antara hubungan Word of Mouth dengan keputusan pembelian adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1

Hubungan Word of Mouth dengan Keputusan Pembelian

Sumber : Penulis, 2016

Word Of Mouth Keputusan

Pembelian

2.5 Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu mengenai Pengaruh Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian sebagai berikut:

1. Asia Virani dan Farah Oktafani (Universitas Telkom)

Penelitian ini berjudul Pengaruh Word of Mouth Terhadap Proses Keputusan Pembelian Pada Cafe Roti Gempol Dan Kopi Anjis Cabang Suryasumantri Bandung menyatakan bahwa word of mouth mempengaruhi proses keputusan pembelian dan word of mouth berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap proses keputusan pembelian.

2. Octaviantika Benazir Kumala (Universitas Indonesia : 2012)

Penelitian ini berjudul pengaruh Word of Mouth Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Tune Hotels Kuta-Bali menunjukkan bahwa Word of Mouth memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli. Word of Mouth mempengaruhi minat beli sebesar 56.3%, dan sisanya sebesar 43.7% dipengaruhi oleh faktor lain.

3. Abizar Giffari, Jusni dan Andi Ratna Saridewi (Universitas Hasanuddin) Penelitian ini berjudul Pengaruh Komunikasi Pemasaran Melalui Word of MouthTerhadap Keputusan Nasabah Dalam Mengambil Kredit pada Al-Giffari Finance menunjukkan bahwa pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa variabel organic Word of Mouth X1) dan amplified Word of Mouth (X2) mempunyai pengaruh positif terhadap keputusan nasabah dalam mengambil kredit (Y).

4. Puji Rahavu dan Muhammad Edward (Universitas Negeri Surabaya) Penelitian ini berjudul Pengaruh Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Produk Smartfren Andromax menunjukkan bahwa variabel word of mouth terbukti secara signifikan mempengaruhi variabel dependen keputusan pembelian.

5. Rini Andari dan Della Maghfira Napu

Penelitian ini berjudul Pengaruh Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Tiket Maskapai Penerbangan Domestik di Davina Tour And Travel Gorontalo menunjukkan bahwa secara simultan dan pengaruh secara parsial antara firman keputusan mulut dan pembelian.

2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan penjelasan ilmiah mengenai preposisi antarkonsep / antarkonstruk atau pertautan/ hubungan antarvariabel penelitian (Juliandi dan Irfan, 2013:114). Pertautan atau hubungan antarvariabel ini penting dikemukakan sebagai landasan untuk merumuskan hipotesis.

Agar kerangka konseptual tersebut dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel bebas (X)

Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai sebab munculnya variabel lain. Yang termasuk variabel bebas dalam penelitian ini adalah Word of Mouth dengan indikator Membicarakan, Merekomendasikan dan Mendorong.

2. Variabel terikat (Y)

Variabel terikat adalah variabel respons atau output yang muncul sebagai akibat manipulasi suatu variabel yang dimanipulasikan dalam penelitian (variabel bebas). Yang termasuk variabel terikat dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian dengan indikator Pengenalan kebutuhan, Pencarian informasi, Evaluasi alternatif, Keputusan membeli, Perilaku pasca pembelian.

Gambar 2.2

Kerangka Berfikir Penulis

Sumber : Penulis, 2016 Word of Mouth (Variabel Independen, X)

Proses Keputusan Pembelian (Variabel Dependen, Y)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lain yaitu dari variabel word of mouth (variabel independen) terhadap variabel keputusan pembelian (variabel dependen). Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Yaitu penelitian yang berupaya untuk mengkaji bagaimana suatu variabel memiliki keterkaitan atau hubungan dengan variabel lain. Apakah suatu variabel di pengaruhi oleh variabel lainnya, atau apakah suatu variabel menjadi sebab perubahan variabel lainnya.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Jl. Dr. A. Sofyan Nomor 1, Universitas Sumatra Utara, Padang Bulan Medan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Menurut Juliandi (2013:50), populasi merupakan totalitas dari seluruh unsur yang ada dalam sebuah wilayah penelitian. Pada penelitian ini, populasi yang diambil adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara angkatan 2013 yaitu 1036 mahasiswa.

3.3.2 Sampel

Menurut Sugiono (2012:116) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik yang dipilih dalam penelitian ini adalah teknik Nonprobability sampling yang dalam pengambilan sampel tidak semua anggota atau elemen populasi berpeluang sama untuk dijadikan sampel (Juliandi, 2013: 52). Teknik Nonprobability sampling yang digunakan adalah teknik accidental sampling, yaitu dengan cara mencari objek yang akan diteliti. Objek yang kebetulan bertemu pada saat pengumpulan data dan sesuai untuk diteliti, maka dijadikan sebagai sampel penelitian.

Menurut Umar (Juliandi, 2013: 59) dengan menggunakan tingkat presisi sebesar 10%, besaran sampel yang diambil dari populasi yang berjumlah 1036 mahasiswa dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus Slovin.

𝑛𝑛 = 𝑁𝑁 1 + 𝑁𝑁𝑒𝑒2 Keterangan :

n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi

e =Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih di tolerir atau diinginkan 10%

Pada penelitian ini diketahui : N = 1036 dan e = 0,1

𝑛𝑛 = 1036

1 + 1036(0,1)2 𝑛𝑛 = 1036

11,36 𝑛𝑛 = 91

Tabel 3.1

Pembagian Jumlah Sampel

Jurusan Populasi Sampel

Administrasi

Sosiologi 116 116

1036 . 91 = 11

Ilmu Komunikasi 164 164

1036 . 91 = 14

Sumber : www. Dirmahasiswa.usu.ac.id(2016) 3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara non probabilitas sampling, meliputi:

1. Accidental sampling yaitu suatu penarikan sampel kepada mahasiswa yang secara kebutulan ditemui peneliti.

2. Snowbal / network sampling yaitu menentukan sampel secara berantai pada suatu populasi yang sangat spesifik. Peneliti dapat menentukan siapa sampel pertama, dan kemudian dari sampel tersebut diminta untuk menyebutkan calon sampel lainnya yang dikenal.

Karakteristik populasi yang telah ditetapkan adalah a. Mahasiswa FISIP angkatan 2013

b. Mahasiswa yang pernah menggunakan Shopee.

3.4 Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara dari pertanyaan yang ada pada perumusan masalah penelitian.

H0 : Tidak terdapat pengaruh antara Word of Mouth terhadap keputusan pembelian pada produk-produk online di Shopee.

Ha : Terdapat pengaruh antara Word of Mouth terhadap keputusan pembelian pada produk-produk online di Shopee.

3.5 Definisi Konsep

Peneliti menjelaskan variabel-variabel yang sudah di identifikasi, maka diperlukan definisi konseptual dari masing-masing variabel tersebut, antara lain:

Word of Mouth

Menurut Hasan (2010 :96) WoM merupakan aspek penting program pemasaran dalam mengembangkan ekspresi konsumen terhadap merek. Word of mouth marketing adalah upaya memberikan alasan agar orang berbicara tentang merek, produk maupun jasa dan membuat berlangsungnya pembicaraan itu lebih mudah Tamas (Hasan, 2010:32).

Keputusan Pembelian

Schiffman dan Kanuk (Sumarwan,2011:357) mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alternatif atau lebih. Seorang konsumen yang hendak memilih harus memiliki pilihan altenatif. Suatu keputusan tanpa pilihan disebut β€œHobson’s choise”.

3.6 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara untuk mengukur suatu variabel. Definisi operasional adalah

pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur variabel-varibel. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

Tabel 3.2 Definisi Operasional

Variabel Definisi Indikator Skala

Variabel Bebas

2. Pencarian Informasi 3. Evaluasi Alternatif 4. Keputusan

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan 2 macam data yakni :

1. Pengumpulan data primer, adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Data primer tersebut dilakukan dengan instrument sebagai berikut:

a. Angket (kuisioner)

Menurut (Juliandi & Irfan, 2013:71) Kuisioner adalah pertanyaan-pertanyaan yang disusun peneliti untuk mengetahui pendapat atau persepsi responden penelitian tentang suatu variabel yang diteliti.

b. Wawancara (interview)

Pengumpulan data berdasarkan dialog yang dibuat oleh peneliti untuk mengetahui sesuatu yang lebih mendalam dengan cara tanya jawab dengan pihak yang mempunyai wewenang untuk memberikan data yang dibutuhkan.

2. Pengumpulan data sekunder, adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui studi kepustakaan yang terdiri dari :

a. Pengumpulan kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh melalui buku-buku, dokumen, majalah dan berbagai bahan yang berhubungan dengan objek penelitian.

b. Studi dokumentasi yakni pengumpulan data yang diperoleh melalui pengkajian dan penelahaan terhadap catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.8 Teknik Penentuan Skor

Untuk membantu dalam menganalisi data, maka peneliti menggunakan teknik penentuan skor yang digunakan adalah melalui penyebaran angket yang berkaitan dengan beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada responden, di tentukan skor pada setiap pernyataan. Penentuan ini dihitung berdasarkan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS) dan diberi skor sebagai berikut:

Untuk alternatif jawaban SS diberi skor 5 Untuk alternatif jawaban S diberi skor 4 Untuk alternatif jawaban KS diberi skor 3 Untuk alternatif jawaban TS diberi skor 2 Untuk alternatif jawaban STS diberi skor 1

Untuk menemukan kategori jawaban apakah tergolong sangat kuat, kuat, sedang, rendah dan sangat rendah terlebih dahulu ditentukan intervalnya sebagai berikut:

𝐼𝐼𝑛𝑛𝐼𝐼𝑒𝑒𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼 =skor tertinggi βˆ’ skor terendah Banyak Bilangan

𝐼𝐼𝑛𝑛𝐼𝐼𝑒𝑒𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼 =5 βˆ’ 1 45

= 0,8

Dengan interval 0,8 maka kategori jawaban responden masing-masing variabel dapat diklasifikasikan menurut Sugiyono (2007) sebagai berikut:

1. Skor untuk kategori sangat kuat : 0,80-1,00 2. Skor untuk kategori kuat :0,60-0,79

3. Skor untuk kategori sedang :0,40-0,59 4. Skor untuk kategori rendah :0,20-0,39 5. Skor untuk kategori sangat rendah :0,00-0,19

Untuk menentukan jawaban responden tersebut tergolong sangat setuju, setuju, kurang setuju, dan tidak setuju, sangat tidak setuju maka dari jumlah skor variabel yang akan ditentukan rata-ratanya dengan membagi jumlah pernyataan dari hasil pembagian maka dapat diketahui jawaban responden termasuk kedalam kategori yang mana.

3.9 Teknik Analisis Data 3.9.1 Metode Uji Instrumen 1. Uji Validitas

Menurut Juliandi (2013:79) uji validitas yakni dengan cara menguji sejauh mana ketepatan atau kebenaran suatu instrumen sebagai alat ukur variabel penelitian. Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan paket program statistic SPSS (Studi Product and Service Solution) versi 21.0. Kriteria pengambilan keputusan dalam pengujian validitas dan instrumen adalah sebagai berikut:

a. Jika r hitung > r tabel, maka pernyataan dikatakan valid.

b. Jika r hitung < r tabel, maka pernyataan dikatakan tidak valid.

2. Uji Reliabilitas

Menurut Juliandi (2013:83), tujuan pengujian reabilitas adalah untuk melihat apakah instrumen penelitian merupakan instrumen yang handal dan dapat dipercaya. Karena instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila

digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.

Kriteria pengujian dari reliabilitas adalah sebagai berikut :

1. Jika nilai koefisien reliabilitas yakni β‰₯ 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas yang baik.

2. Jika nilai koefisien reliabilitas yakni ≀ 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas yang kurang baik.

Uji realibilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Suatu variabel dinyatakan riliabel jika memberikan nilai Cronbach alpha> 0,06.

3.9.2 Metode Analisis Data

1. Metode Regresi Linier Sederhana

Untuk mengetahui bagaimana variabel dependen (Y) dapat diprediksikan melalui variabel independen (X). Secara individual dan seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat maka setelah data di ubah dari ordinal ke interval, maka dimasukkan kedalam rumus:

Y= a + bX Dimana:

Y = subjek/nilai variabel dependen yang di prediksi a = harga Y bila X = 0 (harga konstan)

b = koefisien regresi yang menunjukkan penigkatan / penurunan variabel dependen yang di dasarkan pada variabel independen

X = subjek pada variabel independen mempunyai nilai tertentu maka nilai a dan b dapat di cari dengan rumus :

a =

(βˆ‘π‘¦π‘¦)(βˆ‘π‘₯π‘₯2)βˆ’(βˆ‘π‘¦π‘¦)(βˆ‘π‘₯π‘₯𝑦𝑦 ) π‘›π‘›βˆ‘π‘₯π‘₯2βˆ’(βˆ‘π‘₯π‘₯)2

b =

π‘›π‘›βˆ‘π‘₯π‘₯𝑦𝑦 βˆ’(βˆ‘π‘₯π‘₯)(βˆ‘π‘¦π‘¦) π‘›π‘›βˆ‘π‘₯π‘₯2βˆ’(βˆ‘π‘₯π‘₯)2

2. Pengujian hipotesis

a. Uji Signifikan Individu/ Uji Persial (Uji-t)

Uji-t menunjukkan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat. Adapun uji-t menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

Ho : b1 = 0

Artinya, secara parsial tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel independent yaitu Word of Mouth terhadap keputusan pembelian (Y).

Ho : b1 β‰  0

Artinya, secara parsial terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel independent yaitu Word of Mouth terhadap keputusan pembelian (Y).

Kriteria Pengambilan Keputusan:

Ho diterima jika t hitung < t tabel pada Ξ± = 5%

Ho diterima jika t hitung > t tabel pada Ξ± = 5%

b. Koefisien Korelasi (R2) / independent determinan (R2)

Identifikasi determinan digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel-variabel independent terhadap variabel dependen. Identifikasi determinan (R2) berfungsi untuk mengetahui signifikan variabel, maka harus dicari koefisien determinan menunjukkan besarnya variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Jika determinan (R2) semakin besar (mendekati 1) maka dapat dikatakan bahwa pengaruh yang signifikan dari variabel dependen

(Y) yaitu keputusan pembelian semakin besar. Sebaliknya (R2) semakin kecil (mendekati 0) maka dapat dikatakan pengaruh yang signifikan dari variabel independen yaitu Word of Mouth serta variabel (Y) yaitu Keputusan Pembelian perusahaan semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan variabel independent (X) yaitu budaya Word of Mouth serta variabel dependen (Y) yaitu Keputusan Pembelian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Meningkatnya penetrasi pengguna ponsel pintar membuat PT Shopee Internasional Indonesia melihat peluang baru di dunia e-commerce. Meskipun pasar e-commerce di Indonesia bisa dikategorikan ramai, hal ini tidak membuat Shopee patah arang. Shopee adalah mobile-platform pertama di Asia Tenggara (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand , Vietnam dan Taiwan) yang menawarkan transaksi jual beli online yang menyenangkan, gratis, dan terpercaya via ponsel. Chief Executive Officer Shopee, Chris Feng, mengatakan bahwa Shopee merupakan platfrom belanja online yang mengusung konsep sosial , di mana penggunanya tak hanya berfokus jual beli saja, tetapi juga bisa berinteraksi sesama pengguna lewat fitur pesan instan secara langsung. Platfrom ini menawarkan berbagai macam produk, dilengkapi dengan metode pembayaran yang aman, layanan pengiriman yang terintegrasi dan fitur sosial yang inovatif untuk menjadikan jual beli saja, tetapi juga bisa berinteraksi sesama pengguna lewat fitur pesan instan langsung.

Shopee , aplikasi mobile commerce berbasis marketplace, akhirnya tiba di Indonesia pada hari, Selasa 1 Desember 2015. Aplikasi ini diklaim sebagai aplikasi mobile marketplace pertama bagi konsumen-ke-konsumen (C2C), aplikasi ini merupakan wadah belanja online yang lebih fokus pada platform mobile sehingga orang-orang lebih mudah mencari, berbelanja, dan berjualan langsung di ponselnya saja.

Shopee diceritakan oleh Feng juga didesain agar mudah bagi para penjual menjual barangnya. Shopee menawarkan fitur yang dapat menintegrasi media sosial. Dengan aplikasi Shopee pengguna dapat menyebarkan produk yang jual ataupun barang favoritnya ke sosial media dengan satu sentuhan saja. Pembayaran pun dibuat aman dan terjamin. Fitur chat sangat membantu para penjual atau pembeli berkomunikasi satu sama lain tentang produk yang diperdagangkan.

Shopee berusaha menjembatani keinginan pembeli yang mungkin tertarik untuk melakukan tawar menawar atau bertanya lebih jauh tentang sebuah produk.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang mobile application untuk online shopping, Shopee memberi pilihan para penggunanya untuk bisa membeli barang dari luar negeri tanpa khawatir pajak dan biaya shopping free seluruh Indonesia. Kelebihan mereka sebagai perusahaan global adalah dapat memfasilitasi para penjual tidak hanya di Indonesia tapi juga dari Tiongkok dan Korea untuk dapat memasarkan barang dagangannya di Indonesia. Item import melalui aplikasi Shopee.

Menurut Chris Shopee ingin mendukung pertumbuhan Indonesia dalam e-commerce ritel global dengan membawa pengalaman berbelanja yang terintegrasi media sosial dan online shopping agar terjadi interaksi antara penjual dan pembeli. Selain itu, Shopee juga berkomitmen untuk mengembangkan β€œjiwa”

kewirausahaan bagi para penjualnya. Sebagai informasi, para pengusaha diberdayakan untuk menjadi penjual yang lebih efektif dengan menyediakan akses kepada jutaan konsumen tanpa biaya dan dapat mengelola ketersediaan barang dan hubungan dengan pelanggan lebih baik.

4.2 Analisis Deskriptif Variabel

Analisis deskriptif dalam penelitian ini merupakan uraian atau penjelasan hasil pengelolahan data primer berupa kuesioner yang telah diisi oleh responden yang terpilih.

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui atau mendiskripsikan variabel bebas (indipenden) dan variabel terikat (dependen). Yang mana variabel bebasnya adalah word of mouth (X), sedangkan variabel terikat adalah keputusan pembelian (Y). Selain itu dari kuesioner tersebut juga dapat diperoleh gambaran umum responden pada penelitian ini.

4.2.1 Deskriptif Data Identitas Responden

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis kelamin

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran umum responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1

Karakteristik jenis kelamin responden terdiri dari dua kategori. Kategori pertama laki-laki dan kedua adalah perempuan. Dari tabel 4.1, 91 data yang dikumpulkan, kategori terbanyak adalah perempuan dengan jumlah 75 orang (82,4%) dan laki-laki berjumlah 16 orang (17,6%). Dari hasil analisa peneliti menyimpulkan bahwa hal ini terjadi dikarenakan kebutuhan perempuan lebih

banyak dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu responden perempuan pada umumnya lebih suka berbelanja ketimbang laki-laki.

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jurusan

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran umum responden berdasarkan jurusan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.2 Jurusan

Frekuensi Percent (%) Administrasi Perpajakan

Antropologi Sosial Politik

Sosiologi

Valid Ilmu Kesejahteraan Sosial Ilmu Administrasi Negara

3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran umum responden berdasarkan pendapatan / pemasukan / uang saku per bulan dari responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Pendapatan atau Uang Saku Bulanan

Frekuensi Percent (%)

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa pendapatan dari responden pada penelitian ini frekuensi yang tertinggi adalah <Rp 1.000.000 yaitu 47 orang (51,6%). Menurut analisa peneliti hal ini terjadi karena responden pada penelitian ini adalah mahasiswa, dimana rata-rata mahasiswa tidak memlikiki pendapatan yang tetap.

4. Karakteristik Responden Berdasarkan Membeli

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran umum responden berdasarkan membeli produk di Shopee dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.4 Membeli

Frekuensi Percent (%) Sumber : Data diolah dengan statistic softwere

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pembelian yang dilakukan di Shopee

hal ini terjadi karena banyaknya pesaing e-commerce atau toko-toko online di Indonesia.

5. Karakteristik Responden Berdasarkan Mengetahui Shoopee

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran umum responden berdasarkan mengetahui Shopee dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.5

Mengetahui Shopee

Frekuensi Percent (%)

Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa pihak yang paling banyak mengetahui Shoopee adalah dari teman. Menurut analisa peneliti ini dikarenakan teman adalah orang yang sering ditemui di kampus.

4.2.2 Analisisis Deskripsi Variabel Word Of Mouth

Berikut tabel dibawah disajikan data hasil pernyataan responden terhadap keseluruhan variabel Word Of Mouth (X) yang indikatornya adalah membicarakan, merekomendasikan, dan mendorong.

Tabel 4.6

Analisis Deskripsi Variabel (X)

N

Sumber : Data diolah dengan statistic softwere

1. Tabel 4.6 hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 44%

responden mahasiswa FISIP USU menyatakan setuju terhadap pernyataan β€œsering mendengarkan rekan-rekan berbicara mengenai Shopee sehingga memutuskan untuk belanja online di Shopee”.

2. Tabel 4.6 hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 44%

responden mahasiswa FISIP USU menyatakan setuju terhadap pernyataan β€œmendengarkan keunggulan Shopee setiap kali dibicarakan oleh rekan-rekan”.

3. Tabel 4.6 hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 45%

responden mahasiswa FISIP USU menyatakan setuju terhadap pernyataan β€œdisarankan rekan-rekan untuk belanja online di Shopee”.

4. Tabel 4.6 hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 50%

responden mahasiswa FISIP USU menyatakan setuju terhadap pernyataan β€œmeminta pendapat dari rekan-rekan tentang belanja

responden mahasiswa FISIP USU menyatakan setuju terhadap pernyataan β€œmeminta pendapat dari rekan-rekan tentang belanja