PENGARUH WORD OF MOUTH TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA PRODUK-PRODUK ONLINE DI SHOPEE
(Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara)
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara
Disusun Oleh :
RIKA REHULINA BR GINTING 130907004
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
ABSTRAK
PENGARUH WORD OF MOUTH TERHADAP KEPUTUSAN
PEMBELIAN PRODUK-PRODUK ONLINE DI SHOPEE DIKALANGAN MAHASISWA FISIP USU ANGKATAN 2013
Nama : Rika Rehulina Br Ginting
NIM : 130907004
Program Studi : Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dosen Pembimbing : Hosianna Ayu Hidayati,S.AB,M.AB
Fenomena penggunaan internet begitu merak terjadi di Indonesia, membuat orang Indonesia sangat membutuhkan internet, dengan peluang fenomena di atas untuk pertukaran informasi menjadi begitu mudah sehingga hal ini menjadi kesempatan bagi bisnis untuk mendapatkan pelanggan baru.
Pelanggan kemudian akan melakukan proses keputusan pembelian.
Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah Shopee. Yang merupakan bisnis di bidang toko online yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli.
Dimana Shopeee membuat aplikasi berbasis android untuk pengguna jasanya.
Dari fenomena diatas penulis mengangkat judul “Pengaruh Word Of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Produk-Produk Online di Shopee”.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknologi Komunikasi, Word Of Mouth, Keputusan Pembelian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh word of mouth terhadap keputusan pembelian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menyebar kuesioner pada mahasiswa FISIP USU angkatan 2013 yang pernah berbelanja di Shopee, maka peneliti menganalisis data dari kuesioner dengan menggunakan teknik analisis data dan analisis regresi linear sederhana.
Berdasarkan hasil penelitian, responden dengan variabel word of mouth dan keputusan pembelian pada Shopee memiliki krirtteria yang baik. Melalui hasil uji parsial, tiga indikator word of mouth terbukti memiliki pengaruh positif dan pengaruh yang signifikan terhadap proses keputusan pembelian. Indikator word of mouth memiliki pengaruh pada keputusan pembelian pada Shopee sebesar 71,2 %, sedangkan 28,8 % sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
Kata Kunci : Word Of Mouth Communication, keputusan pembelian, Shopee
ABSTRACT
PENGARUH WORD OF MOUTH TERHADAP KEPUTUSAN
PEMBELIAN PRODUK-PRODUK ONLINE DI SHOPEE DIKALANGAN MAHASISWA FISIP USU ANGKATAN 2013
Nama : Rika Rehulina Br Ginting
NIM : 130907004
Program Studi : Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dosen Pembimbing : Hosianna Ayu Hidayati,S.AB,M.AB
The phenomenon of the use Internet is so rife in Indonesia, making Indonesia the very need of the internet, with the above phenomenon opportunities for the exchange of information becomes so easy that it becomes an opportunity for businesses to acquire new customers. Customers will then purchase decision process.
Objects were observed in this study is Shopee. Which is a business in the field of online stores are becoming an intermediary between sellers and buyers.
Where Shopeee make android based applications to users of its services. Author of the above phenomenon lifted the title "Word Of Mouth Influence Buying Decision Against Products Online in Shopee".
The theory used in this research are: Communication Technologies, Word Of Mouth, Purchase Decision. The purpose of this study was to determine how the word of mouth influence on purchasing decisions. The method used in this research is quantitative with spreading questionnaires to students FISIP 2013 USU force ever shopped at Shopee, the researchers analyzed data from questionnaires using data analysis techniques and simple linear regression analysis.
Based on the results of the research, respondents with variable word of mouth and purchase decisions on Shopee have krirtteria good. Through the partial test results, the three indicators of word of mouth proved to have a positive influence and a significant influence on the purchase decision process. Indicators word of mouth has an influence on purchasing decisions on Shopee by 71.2%, while 28.8% were influenced by other factors not discussed in this study.
Keywords: Word Of Mouth Communications, purchasing decisions, Shopee
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat beriringkan salam tidak lupa penulis hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menjadi tauladan bagi umat Islam dan sebagai penyempurna akhlak umat manusia dan membawa kabar bahagia bagi orang-orang yang beriman.
Adapun skripsi ini berjudul “PENGARUH WORD OF MOUTH TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA PRODUK-PRODUK ONLINE DI SHOPEE (Studi Pada Mahasiswa FISIP USU angkatan 2013)”.
Skripsi ini disusun untuk menyelesaikan program Strata 1 (S-1) di Program Studi Administrasi Niaga/Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Dalam menulis skripsi ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin dan tentu saja tidak terlepas dari kekurangan. Oleh karena itu penulis tidak menutup diri atas kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Selanjutnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa segala upaya yang penulis lakukan dalam penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orangtua tercinta dan tersayang. Cucuran keringat dan air mata kalian
menyadari tiada satupun yang dapat saya berikan untuk membalas cucuran keringat dan air mata kalian selain daripada doa yang selalu saya panjatkan.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Marlon Sihombing, MA selaku Ketua Program Studi S-1 Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Dra. Beti Nasution, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
5. Kak Hosiannya Ayu Hidayati, S.AB,M.AB selaku dosen pembimbing skripsi yang telah rela mengorbankan waktunya untuk membimbing, mengarahkan dan membina sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Kak Siswati Saragi, S.Sos, M.SP selaku Bagian Administrasi yang telah banyak memberikan waktu dan dukungan kepada penulis.
7. Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si yang selalu membantu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
8. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu, motivasi dan bimbingan selama penulis menjalani perkuliahan.
9. Bang Farid dan seluruh Staff/karyawan Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis yang telah memberikan kemudahan dalam persiapan berkas- berkas selama perkuliahan.
10. Abang saya Ardiansyah dan kedua adik saya Mey Wita Sari dan Sri Ulina yang telah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini dan memerikan semngat untuk mengerjainya.
11. Sahabatku tersayang dan tercinta dari Pon. Pes. Ar-Raudhatul Hasanah : Annisa Tarigan, Elma Wisovi, Nurul Hayati, Putri Imanda, Fauziah Nst, Fatma Sari, Vina Liptari, Pramesco Wiranta, Ahmad Vani, Ave Avrian, Reza Sembiring, Selvira Chairani Putri, Sri Muliani Barat, Zikra Fitriwa, Nur Eliana Ritonga, Shafira Yasmin, Nurul Farah, Bunga Dian Dini, Novida Ismaul Husna, Dinni Fadhilah Ujung, Tryana Dewi, Desy Girsang, Mahbub Budiman, Rony Nardi, Danil Rizal, Miftahul Fajri, Rini Ruslan yang selalu menjadi motivator buat saya sampai detik ini dan selalu ada untuk saya.
Terima kasih tanpa kalian skripsiku tidak mungkin selesai, kalian tidak pernah lelah memberikan semangat untuk kelulusanku, terima kasih buat waktu dan informasinya.
12. Teman-teman Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis angkatan 2013 khususnya kelas A kalian selalu dihati, terima kasih atas kekompakkan, persaudaraan, dan dukungannya.
13. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terimakasih atas doa, dukungan dan bantuan yang telah diberikan.
Akhir kata, penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan, waktu, dan pengalaman. Oleh karena itu, dengan segala rendah hati penulis sangat mengharapkan tanggapan dan saran dari
pembaca yang sifatnya membangun dalam rangka kesempurnaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Amin Ya Rabbal Alamin
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Medan, 22 Maret 2017 Penulis
Rika Rehulina Br Ginting
DAFTAR ISI
Halaman SURAT PERNYATAAN
HALAMAN PERSETUJUAN/ PENGESAHAN
ABSTRAK ...i
ABSTRACT ...ii
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI ...vii
DAFTAR TABEL ...x
DAFTAR GAMBAR ...xi
DAFTAR LAMPIRAN ...xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian... 6
1.4. Manfaat Penelitian... 6
BAB II KERANGKA TEORI ... 8
2.1. Teknologi Komunikasi ... 8
2.1.1. Teknologi dalam Komunikasi Bisnis ... 8
2.1.2. Pengaruh Teknologi Terhadap Komunikasi... 10
2.2. Word of Mouth ... 13
2.2.1. Pengertian Word of Mouth... 13
2.2.2. Elemen-Elemen Word Of Mouth ... 14
2.2.3.Indikator Word of Mouth ... 16
2.2.4. Karakteristik Word of Mouth Marketing ... 16
2.2.5. Strategi Word of Mouth Marketing... 18
2.3. Keputusan Pembelian ... 20
2.3.1. Pengertian Keputusan Pembelian ... 20
2.3.2. Pengaruh Keputusan Pembelian ... 22
2.3.3. Proses Keputusan Pembelian ... 24
2.4. Hubungan Word of Mouth dengan Keptusan Pembelian... 26
2.5. Penelitian Terdahulu ... 27
2.6. Kerangka Konseptual ... 28
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
3.1. Bentuk Penelitian ... 30
3.2. Lokasi Penelitian ... 30
3.3. Populasi dan Sampel ... 30
3.3.1. Populasi ... 30
3.3.2. Sampel ... 31
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel... 32
3.4. Hipotesis ... 33
3.5. Definisi Konsep ... 33
3.6. Definisi Operasional ... 33
3.7. Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.8. Teknik Pengumpulan Skor ... 36
3.9. Teknik Analisis Data ... 37
3.9.1. Metode Uji Instrumen ... 37
3.9.2.Metode Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 41
4.2. Analisis Deskriptif Variabel ... 43
4.2.1. Deskriptif Data Identitas Responden ... 43
4.2.2. Analisis Deskripsi Variabel Word Of Mouth... 46
4.2.3. Analisis Deskripsi Variabel Keputusan Pembelian... 50
4.3. Uji Instrumen... 54
4.3.1. Uji Validitas ... 54
4.3.2. Uji Reliabilitas ... 57
4.4 Analisis Regresi Linier Sederhana ... 58
4.5. Uji Hipotesis ... 60
4.5.1. Uji Signifikan Parsial (Uji T) ... 60
4.5.2. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 61
4.6. Pembahasan ... 62
BAB V PENUTUP ... 65
5.1 Kesimpulan... 65
5.2 Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Contoh Beberapa Keputusan yang Harus dilakukan Konsumen ... 21
Tabel 3.1 Pembagian Jumlah Sampel ... 32
Tabel 3.2 Definisi Operasional ... 34
Tabel 4.1 Jenis Kelamin ... 43
Tabel 4.2 Jurusan ... 44
Tabel 4.3 Pendapatan atau Uang Saku Bulanan... 45
Tabel 4.4 Membeli ... 45
Tabel 4.5 Mengetahui Shopee ... 46
Tabel 4.6 Analisis Deskripsi Variabel (X) ... 47
Tabel 4.7 Analisis Deskripsi Variabel (Y) ... 50
Tabel 4.8 Hasil Uji Validitas Word Of Mouth ... 55
Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas Keputusan Pembelian ... 56
Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas Word Of Mouth ... 57
Tabel 4.11 Hasil Uji Reliabilitas Keputusan Pembelian ... 58
Tabel 4.12 Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana ... 59
Tabel 4.13 Hasil Uji T ... 60
Tabel 4.14 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 61
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1. : Hubungan Word of Mouth dengan Keputusan Pembelian ... 26
Gambar 2.2. : Kerangka Berfikir ... 29
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Kuesioner Penelitian
Lampiran 2 Tabulasi Jawaban Responden Lampiran 3 Hasil Uji Instrumen
Lampiran 4 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Lampiran 5 Hasil Pengujian Hipotesis
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia mengalami perkembangan teknologi yang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir ini, terutama teknologi di bidang komunikasi seperti internet dan telepon genggam. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku konsumen secara signifikan. Peningkatan dalam teknologi komunikasi menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi akan kebutuhan untuk komunikasi, seperti pulsa telepon.
Internet merupakan teknologi yang berkembang pesat. Hampir setiap individu memiliki akses internet. Situs-situs jejaring sosial menjadi situs yang paling banyak diminati, sehingga gerai-gerai internet dapat enggan mudah ditemukan. Teknologi internet pun kini dapat lebih mudah diakses melalui telepon genggam. Berkembangnya teknologi internet membuat masyarakat lebih mudah dalam menjalankan komunikasi sekunder. Sumarwan (2011 :356) mengatakan Indonesia mengalami peningkatan pengguna internet dalam 10 tahun terakhir sebanyak 1400% atau 14 kali lipat dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Tingginya frekuensi komunikasi melalui media internet menjadikan internet sebagai salah satu alat pemasaran yang efektif dan efisien. Kini banyak toko-toko online yang menawarkan produknya melalui berbagai blog, web, aplikasi yang mendukung untuk berbelanja online ataupun situs jejaring sosial seperti facebook, instagram, dan twitter.
Masyarakat kini menjadi sangat bergantung pada segala kemudahan dari kecanggihan teknologi yang ada. Salah satu industri yang tengah bersaing ketat di Indonesia adalah industri e-commerce. Kemudahan berbelanja online membuat semakin banyak masyarakat mempertimbangkan untuk beralih menjadi online shopper. Tidak hanya itu, masyarakat di kota-kota besar yang telah memiliki perilaku belanja online pun mulai beralih dari desktop ke mobile. Hal inilah yang kemudian menjadi peluang Shopee sebagai mobile marketplace untuk ikut bersaing dalam industri e-commerce.
Promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa. Tujuan promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan, meyakinkan calon konsumen, dan selanjutnya memberi pengaruh meningkatnya penjualan. Suatu kegiatan promosi jika dilaksanakan dengan baik dapat mempengaruhi konsumen mengenai dimana dan bagaimana konsumen membelanjakan pendapatnya. Promosi berusaha agar demand tidak elastis. Promosi dapat membawa keuntungan baik bagi produsen maupun konsumen.
Promosi pada zaman sekarang ini tidak dapat diabaikan. Promosi yang mengeluarkan biaya sedikit dan dapat menciptakan image yang baik terhadap perusahaan ialah word of mouth communication atau yang dikenal sebagai komunikasi dari mulut ke mulut. Word of Mouth Communication adalah upaya memberikan alasan agar orang berbicara tentang merek, produk maupun jasa dan membuat berlangsungnya pembicaraan itu lebih mudah. Tamas (Hasan, 2010:32).
Word of mouth communication sangat membantu dalam meningkatkan penjualan. Seorang konsumen akan lebih yakin jika mendengar komentar dari konsumen yang sudah pernah mencoba produk atau jasa tersebut. Namun, tidak sedikit juga word of mouth communication juga dapat berisfat negatif jika konsumen yang mencoba suatu produk atau jasa merasa kecewa atau tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan konsumen. Hal ini akan membuat word of mouth berdampak negatif bagi perusahaan.
Cara smart dan “murah” berkomunikasi dan rekomendasi dengan dukungan media teknologi sosial menjadi pilihan marketer dalam merespons kompetisi dan kompetitornya serta melakukan kerjasama dengan mitra bisnis untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu pertumbuhan dan kepuasan stakeholder (pelanggan, karyawan anggota organisasi, dan pemegang saham) secara berkesinambungan. Word Of Mouth ini sangat besar pengaruhnya. Sikap konsumen yang menunjukkan bahwa WoM efektif akan cepat membangun kepercayaan konsumen terhadap suatu produk, yang berujung pada rekomendasi oleh konsumen satu ke konsumen lain.
Schiffman dan Kanuk (Mamang, 2013:120) mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alternatif atau lebih. Seorang konsumen yang hendak memilih harus memiliki pilihan alternatif. Suatu keputusan tanpa pilihan disebut “pilihan Hobson”. Seorang konsumen memutuskan untuk melakukan pembelian dikarenakan telah dapat memenuhi kebutuhannya. Konsumen memilih melakukan keputusan pembelian dikarenakan kelebihan dari perusahaan itu sendiri.
Pasar e-commerce di Tanah Air kembali diramaikan oleh pemain baru.
Kini sebuah market place bernama Shopee asal negeri tetangga Singapura coba mengepakkan sayap bisnisnya mencari peruntungan di Indonesia. Keputusan membuka cabang di Indonesia sendiri tak terlepas dari potensi yang dipunyai negara ini. CEO Shopee Chris feng mengatakan Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dengan angka 250 juta. Selain itu, penetrasi internet di Tanah Air makin tinggi dengan lebih dari 80 juta pengguna internet.
Perkembangan Online Shop atau toko online melalui media internet sudah menjamur di Indonesia, bahkan sudah sangat dikenal baik oleh khalayak ramai.
Banyaknya beragam kemudahan dalam berbelanja dan bermacam jenis produk dan jasa yang ditawarkan, membuat masyarakat Indonesia menjadikan online shop yang berlomba-lomba menawarkan produknya dengan berbagai cara untuk menarik konsumen berbelanja, mereka memanfaatkan keadaan dimana Online Shopping sedang saaat diminati oleh masyarakat Indonesia sampai saat ini.
Shopee menyediakan fitur chat untuk membantu para penjual atau pembeli berkomunikasi satu sama lain tentang produk yang diperdagangkan. Shopee berusaha menjembatani keinginan pembeli yang mungkin tertarik untuk melakukan tawar menawar atau bertanya lebih jauh tentang sebuah produk.
Consumer to Consumer (C2C) merupakan kegiatan pertukaran barang dan informasi secara online antara konsumen akhir dengan konsumen akhir. C2C terjadi pada situs antara dua pihak pembeli yang berminat atas produk dan subjek beraneka ragam. C2C melibatkan pertukaran informasi melalui forum internet yang menarik bagi kelompok kepentingan tertentu seperti blog. Seseorang dapat memberikan atau menanyakan informasi mengenai suatu produk atau jasa
melalui social media kapan saja dan dimana saja. Belanja online dapat memudahkan kita ketimbang belanja secara manual. Kita tidak perlu meluangkan waktu untuk pergi belanja, cukup hanya dengan membuka aplikasi toko online seperti Shopee melalui telepon genggam kita sudah dapat belanja. Mencari banyak informasi mengenai produk yang ingin kita cari menjadi lebih mudah.
Kita dapat berbelanja tanpa meninggalkan pekerjaan kita, mencari produk yang kita inginkan bahkan kita juga dapat berkomunikasi dengan konsumen lainnya yang sudah pernah melakukan pembelian untuk menanyakan informasi mengenai produk yang kita inginkan. Bukan hanya memudahkan pembeli, toko online juga memudahkan penjual dalam menjual produknya tanpa memakan banyak biaya dan tempat untuk melakukan penjualan.
Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosioal dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara angkatan 2013 yang terdiri dari 9 jurusan diantaranya Administrasi Perpajakan, Antropologi Sosial, Ilmu Politik, Sosiologi, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, Ilmu Administrasi Niaga / Bisnis. Peneliti mengamati bahwa sebagian besar mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berbelanja online shop karena memudahkan dan lebih menghemat biaya.
Berdasarkan fenomena maka melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Word Of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Produk-Produk Online Di Shopee (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara)”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui analisis data. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian ini adalah: “Bagaimana pengaruh Word of Mouth terhadap Keputusan Pembelian Produk-Produk Online di Shopee (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara)?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah “Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Word of Mouth terhadap Keputusan Pembelian Produk-Produk Online di Shopee (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara)”.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi akademis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan pengaplikasian ilmu pengetahuan dibidang pemasaran, khususnya bidang administrasi bisnis.
2. Bagi teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan rujukan bagi peneliti selanjutnya mengenai word of mouth terhadap keputusan pembelian produk-produk online dalam membentuk kolaborasi antara produsen dan konsumen.
3. Bagi peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai pemasaran khususnya yang menyangkut word of mouth terhadap keputusan pembelian produk-produk online.
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Teknologi Komunikasi
2.1.1 Teknologi dalam Komunikasi Bisnis
Haryani menjelaskan teknologi merupakan alat, teknik, atau cara yang dapat membantu manusia dalam melakukan pekerjaan sehingga pekerjaan lebih ringan, lebih cepat, lebih baik, atau lebih banyak hasilnya (Dewi, 2007:41).
Teknologi telah menyusup ke dalam setiap praktik bisnis serta menciptakan keunggulan dan kemampuan komunikasi yang semakin canggih. Perkembangan teknologi komputer yang cukup dramatis telah menyebabkan perubahan dalam teknologi komunikasi tanpa harus mengubah unsur-unsur dasar proses komunikasi.
Kemajuan teknologi dalam komunikasi telah memungkinkan terciptanya kerja sama dengan berbagai pihak, kapan pun dan di mana pun berada.
Penggunaan internet, e-mail, voice mail, dan faks memudahkan para pihak konvensional, tetapi bisa di rumah, di jalan, atau di berbagai negara. Komputer suku dan telepon genggam saat ini sudah cukup dijadikan ruang kerja yang mudah dibawa ke mana saja. Teknologi tidak hanya mengubah cara-cara berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kerja.
Walaupun demikian, ada beberapa kelemahan dari kemajuan teknologi yang mesti diwaspadai. Menggunakan teknologi komunikasi ketika berada jauh dari kantor menimbulkan kesulitan untuk memisahkan antara kehidupan di kantor dengan kehidupan di rumah. Lebih lanjut lagi, teknologi internet bisa
menghasilkan informasi yang berlebihan. Akibatnya pelaku bisnis dibanjiri oleh informasi yang jauh lebih banyak daripada yang dapat diperoses secara efektif.
Teknologi memberikan berbagai pilihan dalam melakukan komunikasi bisnis. Untuk membantu pemilihan teknologi komunikasi, Bovee dan Thill (Dewi, 2001:42) memberikan pedoman sebagai berikut:
1. Harapan penerima pesan
Setelah mengetahui siapa penerima pesan, perlu dipertimbangkan lebih lanjut harapan penerima terhadap teknologi yang dipergunakan untuk mengirim pesan.
Ada yang cukup puas menerima pesan melalui telepon dan faks saja, tetapi ada pula yang mengehendaki agar pesan dikirim melalui e-mail.
2. Waktu dan biaya
Waktu menjadi faktor penting dalam memilih teknologi yang dipergunakan.
Pesan yang mendesak biasanya dikirim melalui telepon, faks, atau internet dengan biaya yang relatif lebih mahal daripada pengiriman melalui pos.
Sementara itu, pesan yang tidak mendesak dan kurang penting bisa dikirim melalui pos saja.
3. Sifat pesan
Pesan-pesan tertentu yang memerlukan penjelasan rumit dan kompleks akan lebih baik bila disampaikan secara langsung melalui tatap muka. Sementara pesan yang memerlukan gambar tentu tidak tepat bila dikirim melalui telepon.
4. Perlunya penampilan
Teknologi yang dipergunakan dalam berkomunikasi seringkali dijadikan salah satu indikator untuk menilai kemajuan perusahaan. Demikian pula untuk tujuan tertentu, pesan bisnis akan lebih baik bila dicetak dengan printer laser di atas
kertas yang bermutu daripada dicetak di atas continuous form dengan printer dotmtrix.
Pelaku bisnis diharapkan memiliki keterampilan dalam memanfaatkan teknologi agar dapat berkomunikasi secara efektif. Kemampuan untuk menangani tantangan teknologi (misalnya kelebihan informasi dan keamanan data) juga sangat diperlukan. Teknologi hendaknya dipergunakan secara bijaksana. Penggunaan teknologi yang berlebihan akan merugikan perusahaan.
2.1.2 Pengaruh Teknologi Terhadap Komunikasi Manfaat Teknologi Komunikasi
Menurut Bovee dan Thill (Dewi, 2007:46), manfaat teknologi dalam komunikasi adalah:
1. Meninggalkan aliran komunikasi
Dengan teknologi, informasi mengalir lebih cepat dari sumber yang lebih banyak.
2. Mempermudah komunikasi
Individu dan organisasi semakin mudah melakukan komunikasi akibat adanya teknologi. Teknologi mampu mempersempit bahkan menghilangkan perbedaan jarak dan waktu.
3. Mengubah struktur organisasi
Struktur organisasi banyak mengalami perubahan akibat teknologi komunikasi. Berkomunikasi dengan atasan dan rekan tidak perlu dilakukan di satu lokasi dalam pertemuan formal. Komunikasi bisa terjadi antara orang yang sedang berada di kantor dengan orang lain yang berada di lapangan, perjalanan, atau di rumah.
4. Menurunkan biaya komunikasi
Teknologi mempermudah pembuatan dan pendistribusian informasi.
Mudahnya pembuatan dan pendistribusian informasi akan mengakibatkan menurunnya biaya komunikasi.
Kelemahan Teknologi Komunikasi 1. Kelebihan Informasi
Kemajuan teknologi telah memampukan pekerja untuk mengakses semua informasi yang diinginkan. Informasi mengalir dengan cepat melalui faks, telepon, voice-mail, radio, televisi, koran, dan Internet. Sementara itu, manusia memiliki kapasitas yang terbatas untuk menerima informasi.
Akibatnya, terjadi kesulitan dalam membedakan antara informasi yang berguna dengan yang tidak berguna dan semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menangani informasi yang diterima.
Ketidakmampuan dalam menangani kelebihan informasi justru dapat mengakibatkan turunnya produktivitas.
2. Keamanan Data
Sebelum menggunakan komputer, file dan dokumen perusahaan biasanya dibuat dalam bentuk kertas dan disimpan di suatu ruangan yang terkunci.
Tidak sembarang orang dapat mengakses data perusahaan. Pengambilan dan penyimpanan file dilakukan dengan satu sistem pengamanan yang sangat ketat. Kini, data perusahaan mulai beralih dari kertas-kertas ke bentuk elektronik. Jaringan global memperbesar kemungkinan jatuhnya data rahasia perusahaan ke tangan orang yang keliru. Cyberterrorisme yang dilakukan dengan cara merusak atau mencuri data untuk tujuan
politik dan ekonomi, bisa menjadi ancaman serius bagi keamanan data perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan diharapkan terus meningkatkan sistem keamanan data elektronik. Misalnya, dengan kata kunci(password), mematikan komputer bila tidak digunakan, atau menggunakan sandi untuk alamat e-mail rahasia.
3. Privasi Informasi dan Produktivitas Karyawan
Menganggap bahwa e-mail bersifat amat pribadi merupakan hal yang keliru. Teknologi telah memungkinkan berpindahnya e-mail secara cepat.
E-mail yang dikirim kepada penerima sangat mudah untuk diteruskan lagi kepada orang lain. Bahkan, e-mail seringkali terkirim pada orang yang tidak tepat.
Internet dapat dipergunakan untuk mengakses berbagai informasi dengan sangat mudah. Internet menyediakan banyak situs yang menarik untuk dijelajah, baik berhubungan dengan kegiatan perusahaan maupun yang tidak berhubungan sama sekali.
4. Kurangnya Hubungan Antarindividu
Alat bantu memberikan banyak kemudahan dalam berkomunikasi.
Frekuensi berkomunikasi secara langsung atau tatap muka menjadi semakin berkurang. Hal itu mengakibatkan berkurangnya kepuasan hubungan sosial antarindividu.
2.2 Word of Mouth
2.2.1 Pengertian Word of Mouth (WoM)
Menurut Hasan (2010 :96) WoM atau word of mouth merupakan aspek penting program pemasaran dalam mengembangkan ekspresi konsumen terhadap merek. Word of mouth marketing adalah upaya memberikan alasan agar orang berbicara tentang merek, produk maupun jasa dan membuat berlangsungnya pembicaraan itu lebih mudah Tamas (Hasan, 2010:32).
Perusahaan memicu minat konsumen dengan cara menyebabkan konsumen berbagi pengalaman dengan orang lain. Agar perosesnya dapat berjalan dengan sempurna marketer perlu mencari orang-orang yang sangat terkesan dan sangat puas atau bahagia karena produk, atau jasa yang ia terima, orang semacam ini akan menjadi rekomender yang besar pengaruhnya terhadap orang lain.
Word of Mouth adalah suatu bentuk pemasaran di mana konsumen memegang kendali dan berpartisipasi sebagai pemasar untuk mempengaruhi dan mempercepat pesan pemasaran. Word Of Mouth Marketing adalah sebuah bentuk tertua dari periklanan, di mana orang-orang memberikan informasi dan membuat rekomendasi jujur kepada orang lain tentang merek, produk (barang/jasa) dan layanan. WoM terutama didorong oleh “influencer”, dari orang-orang yang telah berhasil menggunakan produk dan pelayanan yang secara alami terinspirasi untuk berbicara positif baik secara online maupun offline. Proses word of mouth marketing berlangsung dengan cara “memberi orang-orang suatu alasan untuk memperbincangkan tentang produk dan jasa, dan membuat percakapan itu berlangsung lebih mudah.
Word of mouth marketing (WoM) adalah sebuah percakapan yang di desain secara online maupun offline memiliki multiple effect, non-hiearchi, horizontal dan mutasional. Struktur dialog percakapan yang baik bersumber dari advokasi merek aktual dan orang-orang (rekomender) bersedia pergi dari satu tempat ke tempat lain (offline) untuk berbagi pendapat, pengalaman, atau antusiasme mereka tentang suatu produk. Word of mouth menjadi media paling kuat dalam mengomunikasikan produk atau jasa kepada dua atau lebih konsumen. Dalam word of mouth, konsumenlah yang memutuskan tentang sesuatu yang sangat berharga untuk dibicarakan. Perusahaan (CEO, marketer, usahawan) harus bekerja keras untuk dapat memposisikan produk sedemikian rupa agar semua konsumen merasa bahwa produk itu berharga untuk didiskusikan dan kemudian mereka rekomendasikan kepada orang lain.
2.2.2 Elemen-Elemen Word Of Mouth
Menurut Sernovitz (2009 :31) terdapat lima elemen yang dibutuhkan agar Word of Mouth dapat menyebar yakini :
1. Talkers
Yaitu yang pertama dalam elemen adalah kita harus tahu siapa pembicara dalam hal ini pembicara adalah konsumen kita yang telah mengkonsumsi produk atau jasa yang telah kita berikan, terkadang orang lain cenderung dalam memilih atau memutuskan suatu produk tergantung kepada konsumen yang telah berpengalaman menggunakan produk atau jasa tersebut atau biasa disebut dengan referral pihak yang merekomendasikan suatu produk atau jasa.
2. Topics
Yaitu adanya suatu word of mouth karena tercipta suatu pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai produk atau jasa, seperti halnya pelayanan yang diberikan, karena produk kita mempunyai keunggulan tersendiri, tentang perusahaan kita, lokasi yang strategis.
3. Tools
Yaitu setelah kita mengetahui pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai produk atau jasa tersebut dibutuhkan suatu alat untuk membantu agar pesan tersebut dapat berjalan, seperti website game yang diciptakan untuk orang-orang bermain, contoh produk gratis, postcards, brosur, spanduk, melalui iklan diradio apa saja alat yang bisa membuat orang mudah membicarakan atau menularkan produk anda kepada temannya.
4. Talking
Part atau partisipasi perusahaan yaitu suatu partisipasi perusahaan seperti halnya dalam menanggapi respon pertanyaan-pertanyaan mengenai produk atau jasa dan terperinci mengenai produk atau jasa tersebut, melakukan follow up ke calon konsumen sehingga mereka melakukan suatu proses pengambilan keputusan.
5. Tracking
Pengawasan akan hasil word of mouth marketing perusahaan setelah suatu alat tersebut berguna dalam proses word of mouth dan perusahaan pun cepat tanggap dalam merespon calon konsumen, perlu pula pengawasan akan Word Of Mouth yang telah ada tersebut yaitu dengan melihat hasil seperti dalam kotak saran sehingga terdapat informasi banyaknya Word Of Mouth positif atau Word Of Mouth negatif dari para konsumen.
2.2.3 Indikator Word Of Mouth
Dalam word of mouth communication terdapat beberapa hal yang digunakan untuk mengukur Word Of Mouth Communication tersebut berhasil atau tidak Menurut Babin, Barry Modeling Consumer Satisfaction And Word Of Mouth Communication dalam Journal of Servive Marketing Vol. 19 pp 133-139 indikator Word Of Mouth Communication adalah sebagai berikut:
1. Membicarakan
Kemauan seseorang untuk membicarakan hal-hal positif tentang kualitas produk kepada orang lain. Konsumen berharap mendapatkan kepuasan yang maksimal dan memiliki bahan menarik untuk dibicarakan dengan orang.
2. Merekomendasikan
Konsumen menginginkan produk yang bisa memuaskan dan memilki keunggulan dibandingkan dengan yang lain, sehingga bisa di rekomendasikan kepada orang.
3. Mendorong
Dorongan terhadap teman atau relasi untuk melakukan transaksi atas produk dan jasa. Konsumen menginginkan timbal balik yang menarik pada saat mempengaruhi orang lain untuk memakai produk atau jasa yang telah diberitahukan.
2.2.4 Karakteristik Word of Mouth Marketing
WoM adalah iklan gratis. Jika iklan konvensional segala bentuk presentasinya nonpersonal (media komersial), ide, barang atau jasa harus dibayar oleh sponsor. WoM tidak demikian. Promosi – iklan produk, atau ide pribadi dilakukan secara transparan oleh komunikator atau talker, atau diucapkan oleh
sumber-sumber yang diasumsikan oleh receiver sebagai orang yang independen.
Karakteristik WoM terdiri dari sebagai berikut:
1. Valence
Dari sudut pandang pemasaran, WoM dapat bersifat positif atau negatif.
Positif WoM terjadi ketika baik testimonial dan dukungan yang dikehendaki oleh perusahaan yang diucapkan. WoM negatif adalah bayangan cermin.
2. Focus
Pemasaran yang berorientasi pasar, fokus marketer WoM adalah konsumen, membangun dan memilihara hubungan yang saling menguntungkan dalam berbagai peran utama pelanggan. Fokus WoM adalah pelanggan yang puas, mereka akan berkomunikasi dengan calon pelanggan.
3. Timing
Rekomendasi WoM mungkin dilakukan baik sebelum atau setelah pembelian. WoM dapat beroperasi sebagai sumber penting informasi pada prapembelian, yang umunya dikenal sebagai masukan WoM. Pelanggan dapat menjadi WoM setelah atau pengalaman konsumsi atau dikenal sebagai output WoM.
4. Intervention
Meskipun WoM dapat secara spontan dihasilkan, semakin banyak perusahaan melakukan intervensi proaktif dalam upaya mendorong mengelola aktivitas WoM. Mengatur WoM agar dapat beroperasi pada individu atau tingkat organisasi.
2.2.5 Strategi Word of Mouth Marketing 1. Mendorong komunikasi
a. Mengembangkan alat-alat untuk membuat menceritakan teman mudah.
b. Menciptakan forum dan alat-alat umpan balik.
c. Bekerja dengan jaringan sosial.
d. Menyediakan voice yang layak dibicarakan
e. Menyediakan alat yang memudahkan bagi mereka untuk berbagi pendapat orang lain.
2. Meneliti dan mendengarkan
a. Melibatkan mereka secara terbuka, tanpa filter percakapan.
b. Segera dan jujur menanggapi keprihatinan mereka.
c. Mendengarkan dan menghargai pendapat pelanggan secara online maupun offline, apakah positif, negatif, atau netral.
3. Memberikan orang sesuatu untuk dibicarakan a. Informasi yang dapat dibagi atau diteruskan.
b. Adverstising, dan publicity yang mendorong percakapan.
c. Membangun elemen tertentu dari produk sehingga layak dibicarakan.
4. Menghubungkan orang
a. Menciptakan kelompok pengguna dan penggemar klub tertentu.
b. Mendukung kelompok-kelompok independen yang membentuk sekitar produk Anda.
c. Hosting diskusi dan pesan papan tentang produk.
d. Mengaktifkan organisasi akar rumput seperti pertemuan lokal dan nyata partisipasi.
5. Transparansi percakapan
a. Mendorong dua arah percakapan with interestedpartie dengan pihak yang berkepentingan.
b. Membuat blog dan peralatan lainnya untuk berbagi informasi.
c. Berpartisipasi secara terbuka tentang online blog dan diskusi.
6. Menciptakan kelompok dan berbagi informasi
a. Melibatkan konsumen dalam pemasaran dan kreatif (menganalisis umpan balik, untuk menciptakan iklan, dll).
b. Membiarkan pelanggan untuk memiliki akses ke informasi pertama 7. Comumunities
a. Menemukan orang-orang yang cenderung kembali spend pesan Anda.
b. Mengidentifikasi orang yang mampu memengaruhi terget pelanggan Anda.
c. Memberitahu orang-orang ini tentang apa yang Anda lakukan dan mendorong mereka untuk menyebarkan.
d. Selamat iman upaya untuk mendukung isu-isu dan penyebab yang penting orang ini.
8. Program advokasi
a. Memberikan pengakuan dan alat untuk pendukung aktif.
b. Merekrut pendukung baru, memberi tahu mereka tentang manfaat dari produk, dan mendorong mereka untuk membicarakannya.
9. Umpan balik pelanggan
a. Pelacakan online dan offline conversations oleh para pendukung, pengecam, dan netral.
b. Mendengarkan dan menanggapi kedua positif dan negatif percakapan.
10. Melibatkan masyarakat
a. Menemukan orang yang tepat dan connecting mereka satu sama lain.
b. Membantu mereka untuk membentuk masyarakat baru.
c. Berpartisipasi dalam dan mendukung adat masyarakat dan percakapan.
2.3 Keputusan Pembelian
2.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian
Schiffman dan Kanuk (Sumarwan, 2011:357) mendefiniskan suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif.
Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan alternatif. Seorang konsumen yang ingin membeli sebuah sedan, ia dihadapkan kepada beberapa merek kendaraan, misalnya: Toyota, Suzuki, Hyundai, dan Honda. Dengan demikian, ia harus mengambil keputusan merek apa yang akan dibelinya, atau ia harus memilih satu dan beberapa pilihan merek.
Jika konsumen tidak memiliki pilihan alternatif, seperti pada pembelian obat menurut resep dokter, ini bukanlah suatu situasi konsumen melakukan keputusan.
Setiadi (2003) mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengitegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih, dan memilih salah satu di antaranya. Menurut George R.Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua atau lebih alternatif yang ada, sedangkan Jmaes A.F Stoner mendefinisikan sebagai suatu proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah Djohan (2016 :45).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semua perilaku sengaja dilandaskan pada keinginan yang dihasilkan ketika konsumen secara sadar memilih salah satu di antara tindakan alternatif yang ada.
Tabel 2.2
Contoh Beberapa Keputusan yang Harus dilakukan Konsumen Kategori keputusan Alternatif A Alternatif B
Keputusan Membeli atau Mengkonsumsi
Membeli rumah Menyewa rumah
Keputusan Pembelian/
Konsumsi merek
Makan di Kentucky Fried Chicken
Makan di McDonald
Membeli Tiket Kelas Ekonomi
Membeli Tiket Kelas Bisnis
Membeli Sedan Baleno
Membeli Sedan Soluna
Keputusan Saluran Penjualan
Belanja di Hero supermarket
Belanja di Makro Hypermarket
Keputusan Cara Pembayaran
Membayar Tunai Membayar dengan Kredit
Sumber: Sumarwan, 2011:357
Banyak dasar-dasar yang digunakan dalam pengambilan keputusan, seperti : emosional, intuisi, pengalaman, wewenang, fakta. Dalam praktek sehari-hari cukup banyak pembelian berdasarkan emosional, seperti : senang dengan penjual, kemasan menarik, tertarik dengan taktik bujukan penjual. Keputusan berdasarkan intuisi, pengalaman, dan fakta relatif lebih baik daripada berdasarkan emosional semata. Dasar pengambilan keputusan pembelian dalam organisasi baiknya berdasarkan rasionalitas. Keputusan yang berdasar rasional bersifat objektif, logis, transparan, koheren, dan konsisten,
sehingga keputusan tersebut bermutu dan dapat dipertangungjawabkan. Untuk membuat suatu keputusan yang rasional diperlukan :
a. Kejelasan masalah atau kebutuhan b. Tujuan yang ingin dicapai
c. Informasi mengenai alternatif, jenis, dan konsekuensinya
d. Kriteria-kriteria yang jelas menyangkut : reputasi produk, reputasi penjual/distributor, populasi alat/mesin, ketersediaan suku cadang, servis purna jual, kemudahan operasional.
2.3.2 Pengaruh Keputusan Pembelian 1. Kebudayaan (Culture)
Kebudayaan sangat berpengaruh terhadap nilai-nilai dan pola perilaku seseorang anggota kebudayaan tertentu. Kebudayaan ini diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian selera seseorang individu akan mengikuti pola selera yang dilakukan oleh nenek moyangnya, misalnya terhadap perbedaan dalam makanan khas suku- suku bangsa Indonesia.
2. Kelas Sosial (Sosial Class)
Ini merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai tingkat tertentu, yang memiliki nilai dan sikap yang berbeda dari kelompok tingkatan lain.
Di India banyak ditemui kelas-kelas sosial. Di negara kita, sudah tidak ada kelas-kelas masyarakat demikian, namun terlihat pola perbedaan kelas begitu kentara dan tidak boleh dipertajam perbedaan-perbedaan ini.
Orang – orang dalam kelas sosial tertentu cenderung memiliki perilaku, kebiasaan tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Pengelompokkan
seseorang termasuk dalam kelas sosial tertentu dapat dari Engel et al (Alma, 2011:98)
a. Prestise jabatannya.
b. Penampilannya didalam kelompok sendiri.
c. Kepemilikannya.
d. Orientasi nilai-nilai yang dianutnya.
Namun banyak pula yang menggunakan indeks status untuk melihat status sosial. Indekx of Status Characteristic (ISC) yang sering digunakan ialah penilaian terhadap faktor-faktor jabatan, sumber penghasilan, tipe rumah, lokasi tempat tinggal.
3. Keluarga (Family)
Keluarga adalah lingkungan terdekat dengan individu dan sangat mempengaruhi nilai-nilai serta perilaku seseorang dalam mengkonsumsi barang tertentu. Di masyarakat ada keluarga kecil (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu, anak satu atau dua dan keluarga besar (exetended family) yang terdiri dari ayah,ibu, anak banyak, kakek, nenek, keponakan, yang berdiam di bawah satu atap. Masyarakat kita cenderung membentuk nuclear family dengan program Keluarga berencana, terutama bagi penduduk yang berdomisili di kota-kota besar.
Pola dan barang yang dikonsumsi sehari-hari bebrbeda jumlah dan mutunya antara keluarga kecil dan keluarga besar namun sangat tergantung atas jumlah anggaran belanja rumah tangga yang tersedia.
4. Klub-klub (Referensi Group)
Klub-klub seperti ini ialah klub arisan ibu-ibu, klub olah raga, klub rekreasi, klub profesi,dsb. Individu sering menerima advice, pengarahan, pemikiran dari anggota kelompok ini yang mempengaruhi pola konsumsi mereka. Engel et al (Alma, 2011:99) memberi definisi “A reference group is any interacting aggregation of people that influences an individual’s attitudes or behavior”. Reference group ini bisa merupakan group primer, sekunder atau pemberi aspirasi. Group primer adalah para anggota yang saling berkomunikasi satu sama lain. Group sekunder adalah organisasi yang tidak terlalu banyak berinteraksi tatap muka dengan individu, seperti organisasi serikat pekerja, organisasi keagamaan, organisasi profesi dan sebagainya yang membuat aturan- aturan, kebiasaan-kebiasaan tertentu. Grup aspirasi adalah seseorang yang memberi aspirasi pada individu untuk memiliki sesuatu.
2.3.3 Proses Keputusan Pembelian
Ada beberapa tahap dalam pengambilan keputusan membeli yaitu:
1. Need Recogmition. Dalam pengenalan kebutuhan, atau pengenalan masalah, maka seseorang merasakan adanya stimuli untuk membeli sesuatu. Stimuli ini biasa datang dari dalam (internal), misalnya seseorang merasa lapar atau dorongan dari luar (eksternal), misalnya ingin mentraktir teman, atau karena faktor iklan makanan tertentu.
2. Information Search. Pencarian informasi mengenai mau membeli apa, model bagaimana, dimana, dsb, maka seseorang mencari informasi yang dapat diperoleh dari sumber pribadi seperti famili, teman, tetangga. Dari
sumber komersial seperti iklan, tenaga penjual, melihat display. Dari sumber publik seperti media masa, koran, televisi, radio. Dan dari pengalaman masa lalu, pernah menggunakan suatu produk, atau melihat produk tersebut.
3. Evaluation of alternatives. Evaluasi alternatif, dalam hal ini konsumen sangat berbeda evaluasinya karena tergantung pada pilihan atribut produk, sesuai atau tidak dengan keinginan mereka. Juga konsumen berbeda tingkat pemenuhan kebutuhan mereka, ada yang sangat mendesak, ada yang tidak begitu mendesak, masih bisa ditunda lain kali. Kemudian faktor merek juga sangat menentukan alternatif, karena ada konsumen yang sudah fanatik terhadap suatu merek, sulit beralih ke merek lain.
Akhirnya pertimbangan konsumen ialah kepuasan total terhadap alternatif yang ia ambil. Misalnya terhadap produk TV dinilai gambar, warna, harga. Hotel dinilai lokasi, kebersihan, kenyamanan, harga dsb.
4. Purchase Decision. Keputusan membeli, ini adalah tahap yang harus diambil setelah melalui tahapan di atas. Bila konsumen mengambil keputusan, maka ia akan mempunyai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, merek, kualitas, model, waktu, harga, cara pembayaran, dsb.
5. Postpurchase Behavior, ini sangat ditentukan oleh pengalaman konsumen dalam mengkonsumsi produk yang ia beli. Apakah ia akan puas atau kecewa, jadi tergantung pada jarak ekepektasi dengan kenyataan yang dihadapi. Jika kenyataannya tidak puas, maka ia akan kecewa, jika sesuai antara apa yang ia harapkan dengan yang dialami, berarti puas, dan jika kenyataannya lebih bagus dari diharapkan maka ia akan sangat gembira.
Biasanya ekspektasi konsumen makin besar, karena mendengar cerita penjual, atau karena komentar teman-temannya tentang produk itu sangat bagus, dan apabila tidak benar, maka ia akan sangat kecewa. Oleh sebab itu tidak perlu penjual terlalu berlebihan menyatakan keunggulan produknya, agar jarak antara harapan dan kenyataan yang dialami konsumen tidak terlalu jauh, sehingga konsumen merasa puas, akhirnya terjalin hubungan / relationship yang baik. Kotler & Amstrong, (Alma, 2011:104).
2.4 Hubungan Word of Mouth dengan Keputusan Pembelian
Word of Mouth yang dilakukan perusahaan baik untuk promosi atau memudahkan konsumen seperti mengetahui lebih banyak informasi mengenai produk atau jasa dari seseorang kerabat dekat atau seseorang yang pernah menggunakan produk atau jasa tersebut.
Konsumen memilih Word of Mouth sebagai alat komunikasi untuk mempermudah dalam mengambil keputusan untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk atau jasa.
Adapun gambar antara hubungan Word of Mouth dengan keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Hubungan Word of Mouth dengan Keputusan Pembelian
Sumber : Penulis, 2016
Word Of Mouth Keputusan
Pembelian
2.5 Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu mengenai Pengaruh Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian sebagai berikut:
1. Asia Virani dan Farah Oktafani (Universitas Telkom)
Penelitian ini berjudul Pengaruh Word of Mouth Terhadap Proses Keputusan Pembelian Pada Cafe Roti Gempol Dan Kopi Anjis Cabang Suryasumantri Bandung menyatakan bahwa word of mouth mempengaruhi proses keputusan pembelian dan word of mouth berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap proses keputusan pembelian.
2. Octaviantika Benazir Kumala (Universitas Indonesia : 2012)
Penelitian ini berjudul pengaruh Word of Mouth Terhadap Minat Beli Konsumen Pada Tune Hotels Kuta-Bali menunjukkan bahwa Word of Mouth memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli. Word of Mouth mempengaruhi minat beli sebesar 56.3%, dan sisanya sebesar 43.7% dipengaruhi oleh faktor lain.
3. Abizar Giffari, Jusni dan Andi Ratna Saridewi (Universitas Hasanuddin) Penelitian ini berjudul Pengaruh Komunikasi Pemasaran Melalui Word of MouthTerhadap Keputusan Nasabah Dalam Mengambil Kredit pada Al-Giffari Finance menunjukkan bahwa pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa variabel organic Word of Mouth X1) dan amplified Word of Mouth (X2) mempunyai pengaruh positif terhadap keputusan nasabah dalam mengambil kredit (Y).
4. Puji Rahavu dan Muhammad Edward (Universitas Negeri Surabaya) Penelitian ini berjudul Pengaruh Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Produk Smartfren Andromax menunjukkan bahwa variabel word of mouth terbukti secara signifikan mempengaruhi variabel dependen keputusan pembelian.
5. Rini Andari dan Della Maghfira Napu
Penelitian ini berjudul Pengaruh Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Tiket Maskapai Penerbangan Domestik di Davina Tour And Travel Gorontalo menunjukkan bahwa secara simultan dan pengaruh secara parsial antara firman keputusan mulut dan pembelian.
2.6 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan penjelasan ilmiah mengenai preposisi antarkonsep / antarkonstruk atau pertautan/ hubungan antarvariabel penelitian (Juliandi dan Irfan, 2013:114). Pertautan atau hubungan antarvariabel ini penting dikemukakan sebagai landasan untuk merumuskan hipotesis.
Agar kerangka konseptual tersebut dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas (X)
Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai sebab munculnya variabel lain. Yang termasuk variabel bebas dalam penelitian ini adalah Word of Mouth dengan indikator Membicarakan, Merekomendasikan dan Mendorong.
2. Variabel terikat (Y)
Variabel terikat adalah variabel respons atau output yang muncul sebagai akibat manipulasi suatu variabel yang dimanipulasikan dalam penelitian (variabel bebas). Yang termasuk variabel terikat dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian dengan indikator Pengenalan kebutuhan, Pencarian informasi, Evaluasi alternatif, Keputusan membeli, Perilaku pasca pembelian.
Gambar 2.2
Kerangka Berfikir Penulis
Sumber : Penulis, 2016 Word of Mouth (Variabel Independen, X)
Proses Keputusan Pembelian (Variabel Dependen, Y)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lain yaitu dari variabel word of mouth (variabel independen) terhadap variabel keputusan pembelian (variabel dependen). Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Yaitu penelitian yang berupaya untuk mengkaji bagaimana suatu variabel memiliki keterkaitan atau hubungan dengan variabel lain. Apakah suatu variabel di pengaruhi oleh variabel lainnya, atau apakah suatu variabel menjadi sebab perubahan variabel lainnya.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Jl. Dr. A. Sofyan Nomor 1, Universitas Sumatra Utara, Padang Bulan Medan.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Menurut Juliandi (2013:50), populasi merupakan totalitas dari seluruh unsur yang ada dalam sebuah wilayah penelitian. Pada penelitian ini, populasi yang diambil adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara angkatan 2013 yaitu 1036 mahasiswa.
3.3.2 Sampel
Menurut Sugiono (2012:116) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik yang dipilih dalam penelitian ini adalah teknik Nonprobability sampling yang dalam pengambilan sampel tidak semua anggota atau elemen populasi berpeluang sama untuk dijadikan sampel (Juliandi, 2013: 52). Teknik Nonprobability sampling yang digunakan adalah teknik accidental sampling, yaitu dengan cara mencari objek yang akan diteliti. Objek yang kebetulan bertemu pada saat pengumpulan data dan sesuai untuk diteliti, maka dijadikan sebagai sampel penelitian.
Menurut Umar (Juliandi, 2013: 59) dengan menggunakan tingkat presisi sebesar 10%, besaran sampel yang diambil dari populasi yang berjumlah 1036 mahasiswa dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus Slovin.
𝑛𝑛 = 𝑁𝑁 1 + 𝑁𝑁𝑒𝑒2 Keterangan :
n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi
e =Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih di tolerir atau diinginkan 10%
Pada penelitian ini diketahui : N = 1036 dan e = 0,1
𝑛𝑛 = 1036
1 + 1036(0,1)2 𝑛𝑛 = 1036
11,36 𝑛𝑛 = 91
Tabel 3.1
Pembagian Jumlah Sampel
Jurusan Populasi Sampel
Administrasi Perpajakan
41 41
1036 . 91 = 3 Antropologi
Sosial
104 104
1036 . 91 = 9
Ilmu Politik 111 111
1036 . 91 = 10
Sosiologi 116 116
1036 . 91 = 11 Ilmu
Kesejahteraan Sosial
116 116
1036 . 91 = 11 Ilmu Administrasi
Negara
185 185
1036 . 91 = 16
Ilmu Komunikasi 164 164
1036 . 91 = 14 Imu Administrasi
Niaga/ Bisnis
199 199
1036 . 91 = 17
Jumlah 1036 91
Sumber : www. Dirmahasiswa.usu.ac.id(2016) 3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara non probabilitas sampling, meliputi:
1. Accidental sampling yaitu suatu penarikan sampel kepada mahasiswa yang secara kebutulan ditemui peneliti.
2. Snowbal / network sampling yaitu menentukan sampel secara berantai pada suatu populasi yang sangat spesifik. Peneliti dapat menentukan siapa sampel pertama, dan kemudian dari sampel tersebut diminta untuk menyebutkan calon sampel lainnya yang dikenal.
Karakteristik populasi yang telah ditetapkan adalah a. Mahasiswa FISIP angkatan 2013
b. Mahasiswa yang pernah menggunakan Shopee.
3.4 Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara dari pertanyaan yang ada pada perumusan masalah penelitian.
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara Word of Mouth terhadap keputusan pembelian pada produk-produk online di Shopee.
Ha : Terdapat pengaruh antara Word of Mouth terhadap keputusan pembelian pada produk-produk online di Shopee.
3.5 Definisi Konsep
Peneliti menjelaskan variabel-variabel yang sudah di identifikasi, maka diperlukan definisi konseptual dari masing-masing variabel tersebut, antara lain:
Word of Mouth
Menurut Hasan (2010 :96) WoM merupakan aspek penting program pemasaran dalam mengembangkan ekspresi konsumen terhadap merek. Word of mouth marketing adalah upaya memberikan alasan agar orang berbicara tentang merek, produk maupun jasa dan membuat berlangsungnya pembicaraan itu lebih mudah Tamas (Hasan, 2010:32).
Keputusan Pembelian
Schiffman dan Kanuk (Sumarwan,2011:357) mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alternatif atau lebih. Seorang konsumen yang hendak memilih harus memiliki pilihan altenatif. Suatu keputusan tanpa pilihan disebut “Hobson’s choise”.
3.6 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara untuk mengukur suatu variabel. Definisi operasional adalah
pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur variabel-varibel. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:
Tabel 3.2 Definisi Operasional
Variabel Definisi Indikator Skala
Variabel Bebas (X) Word Of Mouth
Word Of Mouth adalah penyebaran berita dari mulut-ke-mulut dimana, seseorang
membicarakan suatu produk kepada orang
lain dan
merekomendasikannya serta mendorong karena pengaruh positif yang didapatkan.
1. Membicarakan 2. Merekomendasikan 3. Mendorong
Likert
Variabel
Terikat (Y) Keputusan
Pembelian
Keputusan Pembelian adalah sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi seberapa baik masing-masing
alternatif dapat memecahkan
masalahnya, yang kemudian mengarah
kepada keputusan pembelian.
1. Pengenalan Kebutuhan
2. Pencarian Informasi 3. Evaluasi Alternatif 4. Keputusan
Pembelian
5. Perilaku pasca Pembelian Kotler dan Amstrong (Alma 2011:104)
Likert
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan 2 macam data yakni :
1. Pengumpulan data primer, adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Data primer tersebut dilakukan dengan instrument sebagai berikut:
a. Angket (kuisioner)
Menurut (Juliandi & Irfan, 2013:71) Kuisioner adalah pertanyaan- pertanyaan yang disusun peneliti untuk mengetahui pendapat atau persepsi responden penelitian tentang suatu variabel yang diteliti.
b. Wawancara (interview)
Pengumpulan data berdasarkan dialog yang dibuat oleh peneliti untuk mengetahui sesuatu yang lebih mendalam dengan cara tanya jawab dengan pihak yang mempunyai wewenang untuk memberikan data yang dibutuhkan.
2. Pengumpulan data sekunder, adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui studi kepustakaan yang terdiri dari :
a. Pengumpulan kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh melalui buku-buku, dokumen, majalah dan berbagai bahan yang berhubungan dengan objek penelitian.
b. Studi dokumentasi yakni pengumpulan data yang diperoleh melalui pengkajian dan penelahaan terhadap catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
3.8 Teknik Penentuan Skor
Untuk membantu dalam menganalisi data, maka peneliti menggunakan teknik penentuan skor yang digunakan adalah melalui penyebaran angket yang berkaitan dengan beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada responden, di tentukan skor pada setiap pernyataan. Penentuan ini dihitung berdasarkan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS) dan diberi skor sebagai berikut:
Untuk alternatif jawaban SS diberi skor 5 Untuk alternatif jawaban S diberi skor 4 Untuk alternatif jawaban KS diberi skor 3 Untuk alternatif jawaban TS diberi skor 2 Untuk alternatif jawaban STS diberi skor 1
Untuk menemukan kategori jawaban apakah tergolong sangat kuat, kuat, sedang, rendah dan sangat rendah terlebih dahulu ditentukan intervalnya sebagai berikut:
𝐼𝐼𝑛𝑛𝐼𝐼𝑒𝑒𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼 =skor tertinggi − skor terendah Banyak Bilangan
𝐼𝐼𝑛𝑛𝐼𝐼𝑒𝑒𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼 =5 − 1 45
= 0,8
Dengan interval 0,8 maka kategori jawaban responden masing-masing variabel dapat diklasifikasikan menurut Sugiyono (2007) sebagai berikut:
1. Skor untuk kategori sangat kuat : 0,80-1,00 2. Skor untuk kategori kuat :0,60-0,79
3. Skor untuk kategori sedang :0,40-0,59 4. Skor untuk kategori rendah :0,20-0,39 5. Skor untuk kategori sangat rendah :0,00-0,19
Untuk menentukan jawaban responden tersebut tergolong sangat setuju, setuju, kurang setuju, dan tidak setuju, sangat tidak setuju maka dari jumlah skor variabel yang akan ditentukan rata-ratanya dengan membagi jumlah pernyataan dari hasil pembagian maka dapat diketahui jawaban responden termasuk kedalam kategori yang mana.
3.9 Teknik Analisis Data 3.9.1 Metode Uji Instrumen 1. Uji Validitas
Menurut Juliandi (2013:79) uji validitas yakni dengan cara menguji sejauh mana ketepatan atau kebenaran suatu instrumen sebagai alat ukur variabel penelitian. Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan paket program statistic SPSS (Studi Product and Service Solution) versi 21.0. Kriteria pengambilan keputusan dalam pengujian validitas dan instrumen adalah sebagai berikut:
a. Jika r hitung > r tabel, maka pernyataan dikatakan valid.
b. Jika r hitung < r tabel, maka pernyataan dikatakan tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Menurut Juliandi (2013:83), tujuan pengujian reabilitas adalah untuk melihat apakah instrumen penelitian merupakan instrumen yang handal dan dapat dipercaya. Karena instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila
digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Kriteria pengujian dari reliabilitas adalah sebagai berikut :
1. Jika nilai koefisien reliabilitas yakni ≥ 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas yang baik.
2. Jika nilai koefisien reliabilitas yakni ≤ 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas yang kurang baik.
Uji realibilitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Suatu variabel dinyatakan riliabel jika memberikan nilai Cronbach alpha> 0,06.
3.9.2 Metode Analisis Data
1. Metode Regresi Linier Sederhana
Untuk mengetahui bagaimana variabel dependen (Y) dapat diprediksikan melalui variabel independen (X). Secara individual dan seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat maka setelah data di ubah dari ordinal ke interval, maka dimasukkan kedalam rumus:
Y= a + bX Dimana:
Y = subjek/nilai variabel dependen yang di prediksi a = harga Y bila X = 0 (harga konstan)
b = koefisien regresi yang menunjukkan penigkatan / penurunan variabel dependen yang di dasarkan pada variabel independen
X = subjek pada variabel independen mempunyai nilai tertentu maka nilai a dan b dapat di cari dengan rumus :
a =
(∑𝑦𝑦)(∑𝑥𝑥2)−(∑𝑦𝑦)(∑𝑥𝑥𝑦𝑦 ) 𝑛𝑛∑𝑥𝑥2−(∑𝑥𝑥)2b =
𝑛𝑛∑𝑥𝑥𝑦𝑦 −(∑𝑥𝑥)(∑𝑦𝑦) 𝑛𝑛∑𝑥𝑥2−(∑𝑥𝑥)22. Pengujian hipotesis
a. Uji Signifikan Individu/ Uji Persial (Uji-t)
Uji-t menunjukkan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat. Adapun uji-t menggunakan langkah- langkah sebagai berikut:
Ho : b1 = 0
Artinya, secara parsial tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel independent yaitu Word of Mouth terhadap keputusan pembelian (Y).
Ho : b1 ≠ 0
Artinya, secara parsial terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel independent yaitu Word of Mouth terhadap keputusan pembelian (Y).
Kriteria Pengambilan Keputusan:
Ho diterima jika t hitung < t tabel pada α = 5%
Ho diterima jika t hitung > t tabel pada α = 5%
b. Koefisien Korelasi (R2) / independent determinan (R2)
Identifikasi determinan digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel-variabel independent terhadap variabel dependen. Identifikasi determinan (R2) berfungsi untuk mengetahui signifikan variabel, maka harus dicari koefisien determinan menunjukkan besarnya variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Jika determinan (R2) semakin besar (mendekati 1) maka dapat dikatakan bahwa pengaruh yang signifikan dari variabel dependen
(Y) yaitu keputusan pembelian semakin besar. Sebaliknya (R2) semakin kecil (mendekati 0) maka dapat dikatakan pengaruh yang signifikan dari variabel independen yaitu Word of Mouth serta variabel (Y) yaitu Keputusan Pembelian perusahaan semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan variabel independent (X) yaitu budaya Word of Mouth serta variabel dependen (Y) yaitu Keputusan Pembelian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Meningkatnya penetrasi pengguna ponsel pintar membuat PT Shopee Internasional Indonesia melihat peluang baru di dunia e-commerce. Meskipun pasar e-commerce di Indonesia bisa dikategorikan ramai, hal ini tidak membuat Shopee patah arang. Shopee adalah mobile-platform pertama di Asia Tenggara (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand , Vietnam dan Taiwan) yang menawarkan transaksi jual beli online yang menyenangkan, gratis, dan terpercaya via ponsel. Chief Executive Officer Shopee, Chris Feng, mengatakan bahwa Shopee merupakan platfrom belanja online yang mengusung konsep sosial , di mana penggunanya tak hanya berfokus jual beli saja, tetapi juga bisa berinteraksi sesama pengguna lewat fitur pesan instan secara langsung. Platfrom ini menawarkan berbagai macam produk, dilengkapi dengan metode pembayaran yang aman, layanan pengiriman yang terintegrasi dan fitur sosial yang inovatif untuk menjadikan jual beli saja, tetapi juga bisa berinteraksi sesama pengguna lewat fitur pesan instan langsung.
Shopee , aplikasi mobile commerce berbasis marketplace, akhirnya tiba di Indonesia pada hari, Selasa 1 Desember 2015. Aplikasi ini diklaim sebagai aplikasi mobile marketplace pertama bagi konsumen-ke-konsumen (C2C), aplikasi ini merupakan wadah belanja online yang lebih fokus pada platform mobile sehingga orang-orang lebih mudah mencari, berbelanja, dan berjualan langsung di ponselnya saja.