Aparatur Negeri Sipil mempunyai peran penting dalmrangka menciptakan masyarakat madani yang taat hukum, berperadapan nodern, demokratis, makmur, adil dan bermoral tinggi dalam menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat secara adil dan merata.
Undang-undang no 5 tahun 2014 tentang Apratur Negeri Sipil adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atai diserahi tugas negara lainnya. Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun aparatur sipil negara yang memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu pegawai Asn harus memiliki pemahaman yang lengkap dan menerapkan nilai-nilai dasar ASN serta kedudukan dan peran ASN dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang akan menjadi modal bagi Asn dalan mengembangkan diri untuk menghadapi perubahan dan perkembangan zaman.
Adapun nilai-nilai dasar ASN tersebut adalah akuntabilitas, nasionalisme, etika publik. Komintmen mutu dan anti korupsi. Sedangkan kedudukan dan peran ASN dalam NKRI dyang dipelajari melalui penerapan manajemen ASN, pelayan publik dan whole of goverment (WoG).
2
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) adalah pendidikan dan pelatihan dalam masa prajabatan yang dilakukan secara terintegritas untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangan, dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
Pelatihan dasar CPNS bertujuan untuk mengembangkan kompetensi CPNS yang dilakukan secara terintegritas.kompetensi diukur berdasarkan kemampuan menunjukna sikap prilaku bela negara, mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas jabatannya, mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka Negara Kesatuan republik Indonesia dan menunjukkan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang tugas. Sementara terintegrasi berarti penyelenggaraan Pelatihan Dasar CPNS memadukan antara pelatihan klasikal dan nonklasikal, dan kompetensi sosial kultural dalam kompetensi bidang.
Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) merupakan pegawai yang diberi tugas, tanggung jawab dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup pertanian untuk melakukan kegiatan perlindungan tanaman. Dalam PP nomor 6 tahun 1995 menyebutkan bahwa perlindungan tanaman adalah segala upaya unutk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan. Sebagai seorang CPNS petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di UPT Pelindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau dengan wilayah kerja Kecamatan batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir, penulis memiliki tugas pokok sesuai peraturan Menteri Pertanian Nomor 46/Permentan/OT.140/10/2009 yaitu menyiapkan pengendalian Organiisme Pengganggu Tunbuhan (OPT), melaksanakan pengendalian OPT, menganalisis dan mengevaluasi hasil pengendalian OPT, melaksanakan bimbingan
3
pengendalian OPT, melaksanakan pengamatan dan pemantauan daerah sebar OPT, membuat koleksi visualisasi dan informasi untuk pemenuhan tugasnya sebagai pejabat fungsional.POPT dituntut untuk menguasai perkembangan teknologi pengendalian OPT sehingga tanggap dalam memberikan saran rekomendasi ataupun solusi terhadap permasalahan OPT yang ditemukan diunit kerja.
Untuk menekan tingat serangan organisme pengganggu tumbuhan dan kerugian yang diakibatkannya dalam undang-undang nomor 12 tahun 1992 menyebutkan bahwa kegiatan perlindungan tanaman dilakukan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup.
Dalam PHT terdapat 4 prinsip dalam penerapannya yaitu : 1. Budidaya tanaman sehat
Tanaman yang sehat memiliki kemampuan daya tahan yang baik terhadap serangan hama dan penyakit serta memiliki kemampuab lebih cepat dalam mengatasu dan memulihkan dirinya sendiri dari kerusakan akibat serangan hama dan penyakut
2. Memanfaatkan musuh alami
Musuh alami terbukti mampu menekan pertumbuhan atau pertambahan populasi hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit dengan memanfaatkan musuh alami/predator yang potensial merupakan tolak ukur dalamsistem PHT. Pemanfaatan musuh alami didalam ekosistem diharapkan mampu menjaga keseimbangn antara populasi hama dan populasi musuh alami/predator.
4 3. Pengamatan dan pemantauan OPT
Pengamatan dan pematantauan OPT merupakan kegiatan yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh setiap petani. Pengamatan dan pemantauan harus dilakukab secara rutin dan berkala, sehingga perkembangan populasi hama, kondisi tanaman serta perkembangan populsi musuh alaminya yang dapat diketahui.
4. Petani sebagai ahli PHT
Sistem pengendali hama terpadu (HPT sebaiknya dikembangkan oleh petani sendiri, karena penerapan PHT harus diesuaikan dengan keadaan lingkungan ekosistem setempat, karena setiap daerah atau wilayah memiliki ekosistem yang berbeda-beda, sehingga suatu sistem PHT yang dikembangkab pada wilayah tertentu belum tentu cocok dengan wilayah lainnya.
Terdapat 7 komponen penting dalam pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu sebagai berikut :
1. Pengendalian secara fisik; yaitu upaya pengendalian dengan memanfaatkan atau mengubah faktor lingkungan fisik sehingga dapat menurunkan populasi hama dan penyakit. Tindakan pengendalian hama secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: pemanasan, pembakaran, pendinginan, pembasahan, pengeringan, lampu perangkap, dan lain-lain.
2. Pengendalian secara mekanik; yaitu pengendalian yang dilakukan secara manual oleh manusia.Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara sederhana, membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama, efektif dan efisiensinya rendah, tetapi tidak berpengaruh negatif terhadap lingkungan. Contoh pengedalian secara mekanik yaitu: pengumpulan hama dengan menggunakan tangan, pemotongan bagian tanaman yang
5
terserang penyakit, gropyokan, pemasangan perangkap hama, dan pembungkusa buah.
3. Pengendalian kultur teknik; yaitu pengendalian hama dan penyakit melalui sistem atau cara bercocok tanam yang dapat mengurangi atau menekan populasi dan serangan hama. Seperti pergiliran tanaman, penggunaan tanaman perangkap, rotasi tanaman.
4. Pengendalian dengan varietas tahan, yaitu mengurangi atau menekan populasi hama, serangan dan tingkat kerusakan tanaman dengan menanam varietas yang tahan hama ataupun penyakit.
5. Pengendalian secara hayati, yaitu pengendalian hama atau penyakit dengan memanfaatkan agens hayati (musuh alami) seperti predator, parasitoid, maupun patogen serangga.
6. Pengendalian dengan Peraturan / regulasi / karantina, yaitu pencegahan penyebaran / perpindahan dan penularan organisme pengganggu tanaman melaluinkebijakan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dasar hukum pencegahan dengan peraturan adalah UU no 16 tahun 1995 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan, PP no 6 tahun 1995 tentang perlindungan tanaman, dan PP no 14 tahun 2000 tentang Karantina tumbuhan.
7. Pengendalian secara kimia, yaitu pengendalian dengan menggunakan pestisida sintetis kimia. Ini merupakan pengendalian yang dilakukan sebagai alternatif terakhir apabila cara pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi .
Berdasarkan uraian diatas, penulis mengangkat Judul mengenai
“Penerapan Pengendali Hama Terpadu (PHT) menggunakan pestisida nabati di lahan pertanian kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir”.
6 B. Maksud dan Tujuan
Adapun Maksud dari aktualisasi nilai-nilai dasar ASN adalah sebagai berikut :
1. Mampu melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab sebagai pelayan publik
2. Mampu meningkatkan pandangan kompetensi sebagai POPT yang profesional
3. Mampu merubah pandangan didalam diri menjadi lebih profesional, berkomitmen, beretika dan berintegritas.
Sedangkan tujuan dilaksanakan aktualisasi ini adalah sebagai berikut : 1. Terimplementasinya nilai-nilai dasar ASN, kedudukan dan peran ASN
dalam NKRI
2. Terlaksananya kegiatan penerapan PHT dengan menggunakan pestisida nabati di Kecamatan Batang Tuaka.
3. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petani tentang penerapan PHT.
Tujuan jangka menengah dan panjang :
1. Petani menerapkan prinsip Pengendali hama terpadu (PHT) 2. Meningkatnya penerapan penggunaan pestisida nabati C. Gambaran umum instansi
UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura merupakan salah satu Unit Pelaksana di lingkup Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau yang berada di Jalan Hang Tuang Ujung No 71 Pekanbaru. Gedung UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura berdiri di luas lahan + 3,65 Ha yang dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tahun 2020 total sumber daya manusianya berjumlah 116 orang yang terdiri dari 22 orang di Kantor UPT, 6 orang di Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati, 6 orang di Laboratorium Pestisida, 3 orang di Brigade Proteksi Tanaman, 49 orang petugas POPT (PNS) dan 30
7
orang tenaga harian lepas POPT yang tersebar diberbagai Kecamatan yang ada di Provinsi Riau.
Untuk mendukung terlaksananya tugas pokok dan fungi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura memiliki instalasi pendukung.
Instalasi pendukung tersebut diantaranya Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati (LPHP/LAH), Laboratorium Pengujian Pupuk dan Pestisida kimia, Brigade Proteksi Tanaman (BPT), dan Fungsional Pengendali OPT.
Gambar 1 Gedung UPT Perlindungan Tanaman pangan dan hortikultura Provinsi Riau.
Tugas Pokok :
1. Melaksanakan sebagian dari tugas Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau dalam bidang perlindungan tanaman pangan dan hortikultura.
2. Menyampaikan laporan berkala dan isidentil kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan dan Direktur Perlindugan Hortikultura Kementerian Pertanian atas pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung
8
jawabnya serta tembusan kesatuan organisasi lain yang secara fungsional memiliki hubungan kerja.
Fungsi :
1. Melaksanakan kebijakan di bidang pengelolaan data organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dampak perubahan iklim (DPI), teknologi pengendalian OPT, dan pengelolaan pengendalian hama terpadu (PHT).
2. Melaksanakan kebijakan di bidang monitoring dan analisis data serta evaluasi dan pelaporan data OPT, DPI, teknologi pengendalian OPT, dan pengelolaan PHT.
3. Melaksanakan pengamatan, peramalan, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan pemantauan dampak penggunaan pestisida kimia pada tanaman pangan dan hortikultura.
4. Melakukan pengelolaan sampel pestisida kimia, pupuk dan produk tanaman pangan dan hortikultura.
5. Melaksanakan pemeriksaan dan pengujian mutu pestisida kimia, pupuk dan produk tanaman pangan dan hortikultura.
6. Melaksanakan pemantauan mutu pestisida kimia dan pupuk yang beredar serta produk tanaman pangan dan hortikultura.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, kelembagaan UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap program Pencapaian Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai melalui penekanan kehilangan hasil yang diakibatkan oleh gangguan OPT dan DPI. Keluaran (output) yang harus dicapai adalah luas areal tanaman pangan dan hortiklultura di Provinsi Riau aman dari serangan OPT dan terkena DPI.
9
UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura memiliki nilai-nilai organisasi yang harus diterapkan sebagai acuan dalam berperilaku oleh pegawai ASN di lingkup UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Nilai-nilai organisasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Komitmen
Indikator nilai komitmen, sebagai berikut:
1. Menaati peraturan/kesepakatan;
2. Melakukan internalisasi tujuan dan sasaran organisasi;
3. Menyamakan persepsi dalam langkah kerja;
4. Konsisten dan loyal terhadap pelaksanaan tugas;
5. Menepati janji.
b. Keteladanan
lndikator nilai keteladanan, sebagai berikut:
1. Berperan aktif meningkatkan kinerja;
2. Membangun keterbukaan dan komunikasi;
3. Menghargai pendapat orang lain;
4. Bersikap tegas dan berani;
5. Bersikap peduli.
c. Profesionalisme
lndikator nilai profesional sebagai berikut :
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang tugasnya;
2. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi;
10
3. Melaksanakan tugas sesuai standar operasional prosedur;
4. Menyelesaikan pekerjaan sesuai target kinerja;
5. Melaksanakan pelayanan prima.
d. Integritas
Indikator nilai integritas, sebagai berikut:
1. Bersikap jujur;
2. Bertanggungjawab;
3. Bertindak sesuai nilai dan norma yang berlaku;
4. Melaporkan penyimpangan;
5. Menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.
e. Disiplin
lndikator nilai disiplin, sebagai berikut:
1. Mentaati ketentuan jam kerja;
2. Pemakaian seragam dan atribut kerja sesuai peraturan;
3. Mengikuti upacara;
4. Menggunakan fasilitas kantor sesuai peraturan.
1. Visi dan Misi Organisasi
Berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 42 Tahun 2020 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, visi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu “Terwujudnya Kemandirian Masyarakat Petani Dalam Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Sistem Pembangunan
11
Pertanian Berkelanjutan, Berwawasan Lingkungan, Berbasis Pedesaan dan Berorientasi Agribisnis”.
Adapun misi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau yaitu:
1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan petani tentang PHT;
2. Menciptakan kondisi yang kondusif untuk terbinanya kemandirian petani dalam pengelolaan OPT;
3. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dari hasil usaha taninya;
4. Melindungi petani dan konsumen hasil pertanian dari akibat samping penggunaan sarana perlindungan tanaman;
5. Mengurangi pencemaran lingkungan dan mempertahankan keanekaragamaan hayati di ekosistem pertanian;
6. Melindungi hak dan kewajiban petani.
12 2. Struktur Organisasi
Gambar 2 struktur Organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau
UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura merupakan organisasi unit pelaksana teknis yang berada di bawah Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2020 UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura dipimpin oleh seorang Pejabat Struktural Eselon III dengan nama jabatan Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kepala UPT PTPH dibantu oleh 3 orang pejabat struktural eselon IV yaitu masing-masing 1 Kepala Subbagian (Kasubbag) dan 2 Kepala Seksi (Kasi). Struktur organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura dapat dilihat pada Gambar 2.
13 3. Tugas Seksi Perlindungan Tanaman
Adapun tugas dari Seksi Perlindungan tanaman yaitu sebagai berikut:
1. Menyusun rencana kerja perlindungan tanaman pangan dan hortikultura 2. Menyusun Juklak/Juknis kegiatan tanaman pangan dan hortikultura 3. Melakukan kegiatan pengamatan, peramalan OPT dan penyebarluasan
informasi OPT dan DPI
4. Melakukan persiapan pengendalian OPT dan DPI
5. Melaksanakan pengendalian OPT dan bimbingan pengendalian DPI 6. Melaksanakan bimbingan pengendalian OPT dan DPI
7. Melaksanakan Analisa dan Evaluasi hasil pengendalian OPT dan DPI 8. Melaksanakan pengembangan metode pengamatan dan peramalan OPT
spesifikasi lokasi
9. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tugasnya.
4. Tugas Kelompok Jabatan Fungsinal POPT
Tugas pokok Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sebagai berikut :
1. Menyusun rencana kerja pengamatan dan/atau peramalan dan/atau pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
2. Melakukan pengkajian rencana kerja pengamatan, peramalan, dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
14
3. Melakukan deteksi dan/ atau identifikasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan agens hayati secara biologis (taksonomi) sesuai dengan SOP yang berlaku agar kegiatan berjalan dengan lancar dan efisien
4. Melakuakan analisis faktor yang mempengaruhi perkembangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tingkat kesulitan I (1 faktor) sesuai dengan SOp yang berlaku agar kegiatan berjalan dengan lacar dan efisien
5. Melakukan eksplorasi agen hayati atau pestisida nabati sesuai dengan SOP yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan dan hortikultura 6. Melakukan pengamatan peredaran pestisida/bahan pengendali lainnya
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku untuk organisme pengganggu tumbuhan (OPT)
7. Melakukan taksasi kehilangan hasil sesuai dengan SOP yang berlaku agar kegiatan berjalan dengan lancar dan efisien
8. Melakukan pemasyarakatan pemanfaatan agens hayati/pestisida nabati sesuai dengan SOP untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
9. Melakukan supervisi perlakuan OPT yang dilakukan pihak lain di laboratorium sebagai pelaksanaan perlakuan terhadap tanaman pangan.
10. Melakukan analisis dan evaluasi dampak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan serangan/populasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan kehilangan hasil karena Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tingkat kesulitan I (1 faktor) sesuai dengan IK Analisis dan evaluasi untuk perlindungan tanaman pangan
11. Melakukan pemantauan atas pemanfaatan agens hayati sesuai dengan IK Analisis dan pengkajian untuk pengendalianOrganisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
15
12. Menjadi fasilitator dan melakukan bimbingan penerapan PHT kelompok tani dalam melaksanakan diskusi hasil pengamatan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan/atau faktor iklim sehingga menjamin perlindungan tanaman pangan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
13. Melakukan pengkajian terhadap efikasi pestisida, agens hayati, dan faktor pengendali lainsehingga menjamin perlindungan tanaman pangan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
14. Melakukan kajian RDK/RDKK atau rencana kerja pengamatan kelompok tani sebagai landasan untuk penyusunan RKA tahun yang akan dating 15. Melakukan kajian dan evaluasi kehilangan hasil akibat eksplosi
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di tingkat kelompok tani.
16
BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS
A. Konsep Aktualisasi
Dalam sistem pebelajaran Pelatihan Dasar Calon PNS pada kurikulum yang menekan pada pembentukan karakter PNS, setiap peserta pelatihandituntut untuk mampu mengaktualisasikan substansi materi pembelajaran yang telah dipelajari melalui proses pembiasaan diri. Aktualisasi memiliki pengertian sebagai suatu proses untuk menjadikan pengetahuan dan pemahaman yang telah dimiliki terkait substansi mata pelatihan yang telah dipelajari dapat menjadi akyual/nyata/terjadi/sesungguhnya ada. Proses yang perlu dilakukan berdasarkan pengertian aktualisasi dalamproses pembelajaran atau pelatihan adalah bentuk kemampuan peserta dalam menginternalisasi substansi mata pelatihan kedalam praktik, mengubah konsep menjadi konstruk, menjadi gagasan sebagai kegiatan dengan memperhatikan nilai-nilai dasar ASN, kedudukan ASN dan perasn ASN dalam NKRI. Terdapat enam rangkaian kegiatan aktualisasi yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta Latihan Dasar CPNS, yaitu 1) merancang aktualisasi nilai dasar profesi ASN, 2) mempresentasikan rancangan aktualisasi, 3) mengaktualisasikan nilai dasar ditempat tugas, 4) melaporkan pelaksanaan aktualisasi nilai dasar, 5) mempresentasikan laporan aktualisasi dan 6) menyusun rencana aksi penyempurnaan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN.
Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan salah satu sumber daya pemerintahan. ASN berperan sebagai pelayan publik, pelaksana kebijakan publik, dan perekat serta pemersatu bangsa. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, seorang ASN haruslah bersikap profesional dalam menjalankan perannya sebagai pelayan publik. Oleh karena itu, seorang ASN haruslah
17
memahami mengenai wawasan kebangsaan dan nilai-nilai bela negara serta menanamkan nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi atau yang diakronimkan menjadi ANEKA dan peran dan kedudukan ASN.
Nilai-nilai dasar ASN akan menjadi acuan dan pondasi dasar yang akan membentuk karkter ASN yang berdaya saing dan kompeten untuk menyambut cita-cita ASN berkelas dunia tahun 2045. Melalui kegiatan aktualisasi ini diharapkan nilai-nilai dasar ASN tertanam di dalam diri setiap Calon PNS.
Nilai-nilai dasar ASN yang wajib untuk diimplementasikan terangkum dalam rangkuman sebagai berikut:
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanhnya yaitu menjamin terwujudnya nilai-nilai publik antara lain, mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi; memiliki pemahamahan dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan ASN dalam praktek politik praktis. Untuk mencipatakan lingkungan kerja yang akuntabel, ada beberapa indikator nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan, yaitu tanggung jawab, jujur, kejelasan target, netral, mendahulukan kepentingan publik, adil, transparan, konsisten dan partisipatif.
2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan sikap cinta terhadap bangsa dan negara.
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN, karena dengan jiawa nasionalisme yang kuat pegawai ASN memiliki orientasi
18
berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. Sikap jiwa nasionalisme dapat ditunjukkan dengan cara mengamalkan setiap sila dari Pancasila di kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai dasar dari nasionalisme adalah implementasi nilai-nilai Pancasila, dengan indikator sebagai berikut:
a. Sila pertama: Religius, toleran, etoas kerja, transaparan dan amanah b. Sila kedua: Berempati, humanis, tenggang rasa, persamaan derajat,
saling menghormati dan tidak diskriminatif
b. Sila ketiga: Cintah tanah air, rela berkorban, menjaga ketertiban, mengutamakan kepentingan publik dan gotong royong
c. Sila keempat: musyawarah mufakat, kekeluargaan, mengharagi pendapat dan bijaksana
d. Sila kelima: bersikap adil, tolong menolong, kerja keras dan sederhana
3. Etika Publik
Etika publik merupakan refleksi tentang standar, normal yang menentukan baik buruk, benar salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayana publik. Adapun nilai-nilai dasar etika publik yang harus dimiliki oleh seorang ASN, yaitu: Jujur, bertanggung jawab, berintegritas, cermat, disiplin, hormat, sopan santun, taat pada peraturan perundangundangan, taat perintah dan menjaga rahasia.
4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu merupakan komitmen untuk menampilkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada customer sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, dan bahkan melampui harapannya.
19
Komitemen mutu menjamin tindakan untuk menghargai efektivitas, efisiensi, inovasi dan kinerja yang berorientasi mutu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Peran seorang PNS salah satunya adalah bagaimana memberikan perbaikan mutu layanan dan organisasi. Untuk memberikan mutu pelayanan dan organisasi yang baik, penting bagi pegawai ASN untuk memiliki komitmen mutu dengan indikator nilainya yaitu efektivitas, efisiensi, inovasi, berorientasi mutu, kualitas terjaga, dan profesional. Menurut Zeithmalh et al. (1990) dalam Modul Pelatihan Dasar CPNS terdapat 10 ukuran dalam menilai mutu pelayanan, yaitu tanngible (nyata/berwujud), reliability (keandalan), responsiveness (cepat tanggap), competence (kompetensi), access (kemudahan), courtesy (keramahan), communication (komunikasi), credibillity (kepercayaan), security (kemanan), dan understanding the customer (pemahaman pelanggan).
5. Anti korupsi
Korupsi dapat dikatakan sebagai tindakan penyalahgunaan jabatan resmi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Dampak korupsi tidak hanya sekedar menimbulkan kerugian negara, namun dapat menimbulkan kerusakan kehidupan yang tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Sehingga penting bagi pegawai ASN untuk bertindak anti korupsi. Anti korupsi sendiri merupakan tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan korupsi.
Tindak pidana korupsi yang terdiri dari kerugian negara, suap menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi. Untuk menghindari tindakan korupsi, pegawai ASN harus memiliki nilai-nilai anti korupsi
Tindak pidana korupsi yang terdiri dari kerugian negara, suap menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi. Untuk menghindari tindakan korupsi, pegawai ASN harus memiliki nilai-nilai anti korupsi